Rabu, 20 Februari 2013

"Lihatlah...mereka juga punya keluarga.", katanya di tengah gerimis hujan, perlahan-lahan menembus keruwetan jalan di tengah jam sibuk lalu lalang kendaraan bermotor di pusat kota Solo. Ada yang istimewa di kota batik ini yang belum pernah aku temukan di kota lain. Di setiap persimpangan jalan yang padat, ada sosok berseragam dengan peluit di mulut, dan kedua tangan bergerak-gerak mengatur lalu lintas. Keberadaan mereka sangat membantu terutama untukku yang hingga saat ini masih saja kesulitan alias tak  berani menembus lalu lalang kendaraan bermotor. Namun tak sedikit juga dari pengguna jalan yang memaki karena tak sabar menunggu antrian merayap menuju tujuan.
"Saya kalau sudah dimaki-maki, lebih baik saya berhenti. Biar mereka mengatur sendiri", kata bapak usia paruh baya yang merupakan salah satu dari sukarelawan pengatur arus lalu lintas di sela-sela waktu istirahatnya. Sukarelawan ? Ya benar sekali, alih-alih menerima gaji tetap bulanan mengingat tugasnya yang menguras tenaga dan emosi, bapak-bapak yang berseragam dengan rompi hijau muda layaknya polantas tersebut ternyata bekerja secara sukarela. Upah yang diterima mereka hanya dari pemberian pengguna jalan yang tidak tentu. "Jika sedang rejeki, ada mobil yang memberi Rp.50.000,-", kata bapak yang aku lupa menanyakan namanya itu lagi ^^. Betapa terenyuhnya aku mendengar cerita bapak itu. Pagi-pagi sekali mereka datang ke pos masing-masing, menempatkan diri di tengah padatnya kendaraan, menahan emosi jika dimaki oleh mereka yang tak mau diatur. Penghasilan tak menentu namun bisa mencukupi kebutuhan keluarga.
Pekerjaan yang sarat sukarela itu tentu saja lebih banyak menimbulkan empati dari masyarakat. Sukarelawan yang bergabung dalam satu paguyuban tersebut kerap mendapat bantuan dari berbagai ormas dan kelompok masyarakat. Aparat yang tugasnya telah digantikan mereka pun tak ketinggalan memberi perhatian. "Kami dibina langsung oleh polisi", kata si bapak sambil sesekali memberikan arahan pada juniornya yang sedang mengatur lalu lintas. Ternyata, mereka tidak hanya asal-asalan dalam bekerja, mereka telah diberi pendidikan informal oleh kepolisian tentang cara-cara mengatur lalu lintas yang baik dan benar. Hmmm....sore itu menjadi perbincangan menarik yang sedikit banyak membuka pikiranku yang masih dihantui kekhawatiran akan masa depan. "Mereka pun bisa, masa kita tak bisa ?", tanyanya dalam kalimat retoris disertai senyum tipisnya

Tidak ada komentar: