"Wes gedhe kok jik seneng kartun, payah " komentarnya dengan menggelegar, membuat wajah-wajah yang semula sibuk dengan pekerjaan masing-masing berpaling menatapku. Ugh...sontak emosiku melonjak ( akhir-akhir ini aku memang cepat sekali tersinggung), dan kalimat bernada tinggi pun terlontar dariku. Komentar nyinyir tentang hobiku yang satu itu memang sering kudengar sejak aku beranjak dewasa. Biasanya komentar semacam itu muncul dari mereka yang asing dengan komik, kartun, gambar colek, manga atau apapun istilah untuk cerita bergambar yang mengisi sebagian besar rak bukuku. Aku yang enggan berdebat pun hanya tersenyum menanggapi, tak mau membuang energi menjelaskan hal yang tak mau mereka mengerti. Meskipun demikian, semakin lama kuterima komentar nyinyir tersebut rasa dongkol yang selalu kusimpan akhirnya meluap juga. Entah berapa kali aku menulis tentang dunia komik, menjelaskan perkembangan komik yang telah bergeser dari bacaan anak-anak menjadi bacaan universal sesuai dengan genre dan rating. Sayangnya, sebagian dari mereka yang awam dengan komik tak mau mengikuti perkembangan meskipun hanya sekedar tahu tanpa harus menjadikan membaca komik sebagai hobi. Tetap berpegang pada wawasan sempit dan pengetahuan yang cetek tersebut dijadikan senjata untuk berkomentar yang baik sengaja atau tidak telah menyinggung orang lain. Apesnya (^_^) sekarang ini aku berada di lingkungan yang personelnya tergolong awam dengan komik. Jangankan komik, sekedar toko buku lengkap pun tak ada di tempatku sekarang ini. Budaya membaca rupanya masih jauh dari kebiasaan sehari-hari mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tak heran jika kolegaku masih menganggap bahwa komik adalah bacaan anak-anak, dan orang dewasa yang membaca komik dianggap tak wajar dan cenderung ditertawakan. Okelah kalau begitu, hanya saja aku berharap mereka bisa melihat situasi ketika berkomentar, mempelajari dulu sebelum menertawakan orang di depan umum. Aku sangat berterimakasih pada mereka yang melihat isi bacaanku dan mengangguk-angguk maklum meskipun mungkin dalam hati merasa aneh dengan hobiku ini namun tak sampai ikut-ikutan berkomentar nyinyir. Yups, aku mengakui sejak mulai bisa mengeja huruf, aku menjadikan membaca sebagai hobi. Dan aku menjatuhkan pilihan pada komik sebagai salah satu bacaan favoritku. Doraemon, adalah komik pertama yang kubaca ketika aku pertama kali mendaftar sebagai anggota taman bacaan Mutiara Hitam (ups kangen dengan MH, sayang sekarang sudah tutup tergilas dengan arus game online). Sebagai anak sekolah dasar, aku terpesona dengan berbagai benda yang keluar dari kantung ajaib Doraemon. Sebagai seorang anak yang membaca tanpa didampingi orang dewasa, saat itu aku hanya menikmati komik sebagai hiburan di sela-sela kesibukan belajar. Aku selalu larut dalam cerita komik yang kubaca yang waktu itu komik masih terbatas pada cerita anak-anak dan remaja. Terhanyut dan bermimpi menjadi balerina seperti Mari Chan, tergelak dan mendambakan bertemu dengan pangeran seperti Pansy, bercita-cita menjadi ahli Wushu seperti Kenji dan Chinmi si Kungfu Boy dari Kuil Dairin. Seiring dengan bertambahnya usiaku, komik pun mengalami perkembangan dalam plot, karakter dan teknik gambar. Saat ini komik (terutama komik Jepang) telah berkembang pesat dan telah diterima dunia sebagai bacaan dewasa. Aku belajar tentang sebuah penerimaan dan pemahaman akan penderitaan dalam Fruit Basket, mengerti makna persahabatan sejati dari Luffy Si Topi Jerami, Nakki dan geng anak badung yang terjut indah dalam Popcorn, mengerti bahwa anak-anak pun bisa bijaksana dalam konteksnya yang tercermin dalam diri Sana (Kodocha Child's Play), belajar berpikir secara filosofi dari karya-karya Akemi Yoshimura Sensei, menggali informasi dari detektif anak-anak Conan, Kindaichi, Qyu, mengenal dunia olahraga dari Harlem Beat, Prince of Tennis dan karya-karya Adachi Mitsuru, membaca sejarah lewat C.M.B, Rose of Versailles, Cesare, Eroica, Samurai X, belajar dunia kedokteran lewat Dr Koto, Godhand Teru, Wild Life, semakin mencintai musik dengan Nodame, Piano Hutan, Diva, menyayangi keluarga seperti Baby And I dan jika jenuh dengan rutinitas cukup membalik lembar demi lembar dan tertawa-tawa bersama Kobo Chan dan Kariage Kun ataupun ikut dalam petualangan seru Kyo, Beelzebub dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya dalam dunia fantasi yang penuh warna. Meskipun akhir-akhir ini judul yang kubaca semakin sedikit, kesukaanku akan komik tak jua berkurang. Aku hanya berharap jika mereka mau memahami, andaikan tidak pun tak perlulah untuk mentertawakan, menghakimi bahwa komik sama dengan anak kecil.
Tempatku berbagi cerita dan peristiwa dari kacamataku yang mungkin sederhana, subyektif, tak berbobot bahkan skeptis. Namun inilah yang selalu membantuku untuk berbicara saat bibir tak diberi kesempatan untuk berucap.
Tampilkan postingan dengan label great perfomance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label great perfomance. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 April 2013
Selasa, 25 Oktober 2011
Goodbye The Next Doctor
Setelah sekian lama absen mengikuti serunya ajang adu cepat memacu kuda besi di sirkuit lantaran situasiku yang tak memungkinkan alias bertepatan dengan jam tayang balapan motor tersebut aku sedang melakukan aksi balap versiku sendiri menempuh jarak yang lumayan membuat badan pegal, akhirnya di hari Minggu yang cerah aku bisa menyempatkan diri untuk menikmati salah satu acara televisi favoritku. Rebahan santai di depan televisi usai merampungkan tugas wajib perempuan di dapur ^^, aku pun dengan setengah serius mendengarkan ulasan awal dari komentator favoritku mengenai race yang akan berlangsung. Tak lama kemudian pertarungan yang kutunggu-tunggu pun dimulai. Masih dengan santai sambil bercakap-cakap dengan sesama penonton membahas aksi-aksi rider favoritku (siapa lagi kalau bukan VR46 ^^) tanpa disadari kami melewatkan putaran warm up hingga lap pertama dan selanjutnya. Aku yang masih asyik dengan bacaan rutin di tangan seketika mengalihkan perhatian ke layar kaca ketika mendegar seruan keras. Seketika aku ikut berseru menyaksikan adegan yang terpampang, mengkhawatirkan keselamatan penunggang motor dengan dominasi warna merah itu. Nafas yang sempat tertahan pun kembali berhembus melihat The Doctor hanya keluar lintasan. Namun kelegaan itu hanya sekejap dengan cepat berubah lagi menjadi kekhawatiran begitu melihat nomor motor yang tergeletak di tengah lintasan, dan sosok yang tersungkur tak bergerak, disusul dengan dikibarkannya bendera merah pertanda balapan dihentikan untuk sementara. Dan adegan pun berganti menjadi wajah-wajah rider yang nampak cemas, seraut wajah ayu yang menangis dan gerak cekatan kru yang menyiapkan motor pengganti. Siaran pun langsung kembali ke studio yang dengan segera membahas insiden tersebut. Mengingatkanku akan insiden serupa yang menimpa rider muda asal Jepang Shoya Tomizawa. Dan aku pun mengamini komentar Mateo yang berharap balapan tidak dibatalkan karena itu menunjukkan bahwa pembalap yang terluka baik-baik saja. Aku pun gembira ketika diumumkan bahwa balapan akan dimulai kembali setengah jam kemudian waktu setempat. "Ah, rider kribo selamat", demikian pikirku saat itu. Tayangan pun kembali dengan siaran langsung dari sirkuit Sepang, merekam situasi di paddock. Menit demi menit berlalu, aku masih dengan sabar menanti balapan dimulai kembali. Tak lama kemudian mataku terpaku pada kalimat berjalan di bagian bawah layar. Kuartikan dalam hati kalimat yang tertera, dan aku pun kecewa sekaligus cemas. Sontak aku teringat pernyataan Mateo beberapa saat lalu. Dengan dibatalkannya race, acara pun berakhir. Tak puas aku mengakses internet untuk mencari berita terkini tentang insiden Sepang. Tapi tak satupun berita di situs-situs mengabarkan kondisi terakhir rider yang sedang mendapat pertolongan medis.
Menjelang petang hari, aku pun sejenak melupakan insiden tersebut. Perhatianku sepenuhnya teralihkan pada kasus-kasus berbasic matematika dari seri terbaru komik QED. Lamat-lamat kudengar suara apik pembawa berita sore membacakan peristiwa-peristiwa aktual di tanah air dan mancanegara. Dan lagi-lagi aku tersentak dan berseru keras tak percaya mendengar pernyataan bahwa pembalap Marco Simoncelli akhirnya meninggal dunia. Simoncelli rider asal Italia dengan ciri khas rambut kribonya menghembuskan nafas terakhirnya setelah mendapat pertolongan medis akibat luka parah di kepala, leher dan dada dampak dari tergilas motor milik Edward dan Rossi. Sayang koneksi internet tak memungkinkan untuk browsing mencari berita di situs-situs valid. Meskipun masih menyangkal, keesokan hari dengan maraknya berita tentang insiden Sepang yang menjadi headline di media membuatku menitikkan air mata.
Marco Simoncelli, aku mengetahui keberadaannya semenjak menjadi kandidat juara di kelas 250 cc beberapa tahun lalu. Melihat gayanya menunggangi kuda besi mengingatkanku akan The Doctor. Cara balapnya yang sedikit liar dan nekat membuat balapan makin seru, hal sama yang membuatku menggandrungi Rossi. dan mengingat faktor usia mereka berdua, aku pun 'menggadang-gadang' telah muncul pengganti Rossi kelak. Meskipun beberapa menganggap (baca mencela) Simoncelli terlalu liar dengan gaya balapnya yang berbahaya, aku justru semakin menggemari penampilannya di sirkuit. Ketika perfoma The Doctor menurun dengan segala permasalahan teknis dan non teknis motor barunya, Simoncelli menjadi tokoh utama yang menjadikan balapan menggairahkan dengan aksinya yang memaksa duel seru di lintasan. Meskipun harus berulang kali tergelincir, dia tak mengubah gayanya dan selalu membuat penonton menahan nafas penuh ketegangan menanti pemenang. Sayang, takdir berkata lain. Di tengah perjalanannya menuju puncak keemasan, Simoncelli harus berhenti sampai di sini. Tak ada lagi kenekatan di lintasan, tak terlihat lagi rambut kribonya yang terlihat berat, tak terdengar lagi komentar-komentarnya, dan pastinya tak ada lagi sosok potensial penerus The Doctor.
Senin, 19 Juli 2010
Back
Kabar gembira menghampiriku lagi. Selain mendapati status terbarunya muncul di akun FB ku, akhirnya setelah satu bulan dua minggu The Doctor absen dari race setelah kecelakaan fatal di Mugello, lebih awal dari vonis tim medis Rossi bisa kembali tampil balapan. Meskipun cedera masih belum sembuh benar, jalan pun masih terpincang-pincang The Doctor memuai balapan pertamanya di sirkuit Jerman. Meskipun dari awal aku tak mengharapkan performa yang istimewa mengingat kondisinya, aku sangat menantikan race kai ini. Sempat khawatir tak bisa melihat penampilan pertama The Doctor setelah absen lama karena ada urusan yang tak bisa ditinggalkan, akhirnya jadi juga aku mendampingi (ceileeehhh.... ) The Doctor sejak start. Dan pekik kekaguman tak henti-hentinya mengalir dariku. Mulai dari posisi lima, The Doctor menunjukkan kepiawaiannya sebagai pembalap dengan mempecundangi lawan-lawannya. Jiwa pembalap yang agaknya demikian mendarah daging tidak menyurutkannya untuk bersaing memperebutkan podium dengan kondisi yang bisa tampil seluruh race pun sudah amat sangat bagus. Meskipun akhirnya harus kalah di tikungan terakhir, salut dan pujian terus menghujani The Doctor. Perjuangannya untuk terus menampilkan performa terbaik demikian sulit ditandingi pembalap lainnya. Tak bisa diungkiri "Race tanpa The Doctor tidaklah menarik"
Minggu, 13 Juni 2010
Time to Africa
Euforia perhelatan akbar empat tahunan kembali mencuat. Penggila bola sejati maupun kambuhan spontan larut dalam kemeriahan pesta sepakbola sedunia yang kali ini diselenggarakan di bumi Afrika. Prediksi dan analisa peta kekuatan sontak menjadi artikel utama di harian olah raga. Tak ketinggalan berita-berita seputar bintang-bintang lapangan hijau yang akan saling bersaing membela negara masing-masing terus diburu para penggemar.
Tak ketinggalan dengan diriku. Meskipun bukan termasuk golongan penggemar berat sepakbola, sejak lebih dari sepuluh tahun lalu, aku tak pernah absen menyaksikan ajang bergengsi dunia sepak bola sedunia ini. Tak heran jauh-jauh hari aku sudah merasa panik dengan kondisiku sekarang yang tidak memungkinkan untuk mengikuti partai demi partai yang digelar secara langsung di dua stasiun televisi swasta tersebut. Satu dua rencana demi menyaksikan secara live di televisi pun disusun dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan tepat di hari pesta pembukaan, aku dengan percaya diri memutuskan untuk tidak pulang dengan pertimbangan laga kurang menarik di partai pembuka, dan berdasarkan pengalaman Piala Dunia sebelumnya, kemeriahan upacara pembukaan jarang sekali direlay oleh stasiun televisi yang memperoleh hak siar.
Tak dinyana aku yang sedang asyik tenggelam dalam bacaan terusik dengan datangnya pesan singkat berisi kegirangan teman-teman yang menyaksikan berbagai atraksi khas Afrika di pesta pembukaan. Spontan aku terkejut, sekaligus jengkel gara-gara tidak bisa ikut bergembira. Walhasil adat jelekku alias ngambek dan marah-marah pun tak bisa dibendung (buat my best friend maaf ya !). Saking inginnya menyaksikan opening party World Cup 2010 aku pun nekat keluar dari rumah sementara dan menghabiskan waktu semalam suntuk nongkrong di warung langganan (buat Ibu n Bapak trims atas tumpangannya ^^).
Lagi-lagi kekecewaan kembali terjadi di setiap perhelatan akbar ini. Bukan karena pembukaan beserta partai pembuka yang kurang meriah namun lebih karena sajian yang diberikan oleh stasiun televisi yang bersangkutan ! Kegirangan di awal karena kali ini penggemar sepak bola di Indonesia bisa mengikuti pesta pembukaan menguap dalam satu jam ke depan. Yah, entah karena alasan apa pesta pembukaan hanya disiarkan selama satu jam, dan selebihnya penonton disuguhi dengan musik anak band sembari menunggu jadwal partai pembuka dimulai. Walhasil berbagai umpatan dan cela pun menjadi topik utama status di Facebook. "Mana Shakira ? Mana Waka waka nya ? Kok cuma satu jam ? Ngapain liat band lokal ? ", demikian sedikit dari sekian banyak keuh kesah akibat ketidakpuasan penggemar bola akan kebijaksanaan yang diterapkan televisi pemegang hak siar.
Bagaimanapun, masih untung para penggemar bola bisa menyaksikan satu demi satu pertandingan secara langsung. Dan kekecewaan akibat hanya menyaksikan separuh grand opening terobati dengan sajian pertandingan masing-masing grup yang menjanjikan. Spanyol, Argentina, Brasil atau Belanda kah yang menjadi kandidat kuat juara dunia ? Munculnya kuda hitam dari Asia yang semakin menyemarakkan kompetisi sekaligus meningkatkan rasa kebersamaan sesama Asia. World Cup atawa Piala Dunia menjadi satu momen yang ditunggu-tunggu penggemar bola di seluruh dunia. Dengan sepakbola, segala masalah untuk sementara terpinggirkan, larut dalam euforia kulit bundar. Lihat saja dua negara Korea Selatan dan Korea Utara yang sedang berseteru, keakraban antar pemain masing-masing negara justru terjalin di ruang ganti tanpa memandang suhu politik yang memanas di kedua negara. Demikianlah aku yang notabene tidak termasuk maniak sepakbola, rela memforsir tenaga menempuh perjalanan jauh setiap harinya demi bisa menyaksikan setiap pertandingan hingga mencapai puncaknya pada tanggal 11 Juli mendatang. Meskipun bintang favoritku Il Capitano Alessandro Nesta pensiun dari tim Azzuri, aku tak sedikitpun merasa enggan untuk memasang mata dengan secangkir kopi sebagai penyangga.
Tak ketinggalan dengan diriku. Meskipun bukan termasuk golongan penggemar berat sepakbola, sejak lebih dari sepuluh tahun lalu, aku tak pernah absen menyaksikan ajang bergengsi dunia sepak bola sedunia ini. Tak heran jauh-jauh hari aku sudah merasa panik dengan kondisiku sekarang yang tidak memungkinkan untuk mengikuti partai demi partai yang digelar secara langsung di dua stasiun televisi swasta tersebut. Satu dua rencana demi menyaksikan secara live di televisi pun disusun dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan tepat di hari pesta pembukaan, aku dengan percaya diri memutuskan untuk tidak pulang dengan pertimbangan laga kurang menarik di partai pembuka, dan berdasarkan pengalaman Piala Dunia sebelumnya, kemeriahan upacara pembukaan jarang sekali direlay oleh stasiun televisi yang memperoleh hak siar.
Tak dinyana aku yang sedang asyik tenggelam dalam bacaan terusik dengan datangnya pesan singkat berisi kegirangan teman-teman yang menyaksikan berbagai atraksi khas Afrika di pesta pembukaan. Spontan aku terkejut, sekaligus jengkel gara-gara tidak bisa ikut bergembira. Walhasil adat jelekku alias ngambek dan marah-marah pun tak bisa dibendung (buat my best friend maaf ya !). Saking inginnya menyaksikan opening party World Cup 2010 aku pun nekat keluar dari rumah sementara dan menghabiskan waktu semalam suntuk nongkrong di warung langganan (buat Ibu n Bapak trims atas tumpangannya ^^).
Lagi-lagi kekecewaan kembali terjadi di setiap perhelatan akbar ini. Bukan karena pembukaan beserta partai pembuka yang kurang meriah namun lebih karena sajian yang diberikan oleh stasiun televisi yang bersangkutan ! Kegirangan di awal karena kali ini penggemar sepak bola di Indonesia bisa mengikuti pesta pembukaan menguap dalam satu jam ke depan. Yah, entah karena alasan apa pesta pembukaan hanya disiarkan selama satu jam, dan selebihnya penonton disuguhi dengan musik anak band sembari menunggu jadwal partai pembuka dimulai. Walhasil berbagai umpatan dan cela pun menjadi topik utama status di Facebook. "Mana Shakira ? Mana Waka waka nya ? Kok cuma satu jam ? Ngapain liat band lokal ? ", demikian sedikit dari sekian banyak keuh kesah akibat ketidakpuasan penggemar bola akan kebijaksanaan yang diterapkan televisi pemegang hak siar.
Bagaimanapun, masih untung para penggemar bola bisa menyaksikan satu demi satu pertandingan secara langsung. Dan kekecewaan akibat hanya menyaksikan separuh grand opening terobati dengan sajian pertandingan masing-masing grup yang menjanjikan. Spanyol, Argentina, Brasil atau Belanda kah yang menjadi kandidat kuat juara dunia ? Munculnya kuda hitam dari Asia yang semakin menyemarakkan kompetisi sekaligus meningkatkan rasa kebersamaan sesama Asia. World Cup atawa Piala Dunia menjadi satu momen yang ditunggu-tunggu penggemar bola di seluruh dunia. Dengan sepakbola, segala masalah untuk sementara terpinggirkan, larut dalam euforia kulit bundar. Lihat saja dua negara Korea Selatan dan Korea Utara yang sedang berseteru, keakraban antar pemain masing-masing negara justru terjalin di ruang ganti tanpa memandang suhu politik yang memanas di kedua negara. Demikianlah aku yang notabene tidak termasuk maniak sepakbola, rela memforsir tenaga menempuh perjalanan jauh setiap harinya demi bisa menyaksikan setiap pertandingan hingga mencapai puncaknya pada tanggal 11 Juli mendatang. Meskipun bintang favoritku Il Capitano Alessandro Nesta pensiun dari tim Azzuri, aku tak sedikitpun merasa enggan untuk memasang mata dengan secangkir kopi sebagai penyangga.
Rabu, 18 November 2009
Sembilan ( 9 )
Sejak memastikan kemenangan The Doctor menjadi juara dunia untuk kesembilan kalinya, aku menantikan ditayangkannya acara penobatan gelar tersebut di televisi. Dan setelah tiga pekan menanti akhirnya muncullah jadwal tayang acara penyerahan medali tersebut. Meskipun hanya siaran ulang, aku tetap bersemangat menyaksikan The Doctor yang biasanya tampil unik lain dari yang lain. Akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Berhubung aku perlu mengecek sesuatu, tiga jam sebelum jam tayang dimulai aku bergegas menuju tempat biasa. Setelah dirasa cukup, aku pun menyudahi aktivitasku dengan gembira menanti tayangan puncak setelah dirampungkannya race di Valencia. Tak dinyana, begitu aku keluar dari ruangan hujan deras turun, disertai angin dan kilat beruntun. Waduh, ini benar-benar kondisi yang membuatku takut untuk menempuh perjalanan pulang. Walhasil aku menanti hujan reda di rumah sahabat sembari menghangatkan diri yang basah kuyup dengan segelas teh hangat. Harap-harap cemas aku menanti hujan sedikit reda sambil mengobrol penuh semangat dengan sahabat lamaku itu. Bukan hanya menanti kesempatan untuk pulang, namun berharap bisa menyaksikan acara yang telah kutunggu tepat waktu. Untunglah tak sampai sejam kemudian hujan pun reda. Dengan kecepatan penuh aku kembali ke rumah, gara-gara televisi sahabatku ngadat akibat hujan angin. Setibanya di rumah, tanpa membuang waktu aku menyalakan televisi. Menyiapkan perangkat yang kubutuhkan untuk mengabadikan peristiwa yang mungkin tahun depan tidak terjadi lagi. Mengapa bisa begitu ? Tahun ini untuk kesembilan kalinya The Doctor meraih gelar World Champion. Tahun ini pula Vale menginjak usia ke -30 tahun yang artinya sudah tidak muda lagi. Gelar juara kali ini pun diraih dengan kerja keras di tengah persaingan ketat dengan rekan setimnya yang lebih muda dan sangat berpotensi sebagai the next Valentino Rossi. Jika tahun ini The Doctor harus bersusah payah meraih gelar juara, bisa dibayangkan bagaimana ketatnya kompetisi musim depan. Dengan pembalap-pembalap muda potensial yang naik kelas, pembalap lama moto gp yang tak kalah hebat ditambah pembalap baru yang memulai uji cobanya di sirkuit Valencia yang menunjukkan hasil lumayan. Namun bagaimanapun Vale adalah The Doctor, sebutan yang bukan sekedar nama. Satu-satunya pembalap yang belum bisa disamai kebesarannya. Dengan kemampuannya dilengkapi dengan semangat untuk menampilkan sebuah race yang apik untuk ditonton menjamin kesengitan perebutan gelar musim depan. Malam itu, aku tidak saja merasa girang melihat adegan ketika The Doctor memasang plat bertuliskan namanya. Aku ikut bertepuk ketika medali dikalungkan ke para pemenang. Dan aku turut senang ketika kunci sebuah mobil mewah berpindah tangan. Sebuah akhir musim yang sekali lagi menggembirakanku yang tergolong telat dalam berpartisipasi mendukung The Doctor. Sebuah kemenangan yang menjawab doaku tahun lalu di tempat yang sama. Semoga sembilan bukan menjadi angka terakhir untuk The Doctor. Sampai jumpa musim depan , Vale ! Aku tak sabar menantikan aksimu dalam meraih gelar ke 10. Terima kasih untuk trans7 yang dengan setia menayangkan ajang balap motor bergengsi dari tahun ke tahun.
Senin, 29 Juni 2009
Time to 100

“This is a very emotional moment and for sure I will remember this 100th victory for the rest of my life. When I reached 70, 100 seemed a long way away but here I am and it has been great, great fun getting here. It is down to so many people, like Jeremy and my guys who have been with me for ten years and all of the team who always give 100% and always give me the best bike possible. Especially however I have to thank the friends who have been with me my whole life and my father Graziano, who won here in Assen 30 years ago when I was a baby, and my mother Stefania, because they have always supported me. It’s great to reach this moment here at Assen because it’s the ‘Cathedral’ of motorcycle racing and the most historic track we go to. Today was a perfect race – I got a great start and my bike was incredible which meant that my pace was very strong. In fact I think it was better for everyone’s hearts not to have another last-lap battle like in Barcelona! I had a good advantage from Lorenzo in some parts of the track and it was a great ride for me. Now I have 100 wins and I’m only the second rider to arrive at this number, but Agostini still has 22 more and for me he is still the greatest. 100 is a great result but the atmosphere in our team is wonderful and the motivation is still as high as ever – we want to win a few more races together yet!"
Sabato alias hari Sabtu dalam bahasa Italia menjadi hari bersejarah sekaligus menggembirakan bagi semua fans Valentino Rossi termasuk aku ^^. Setelah gagal melakukan perayaan gelar ke-100 di kampung halaman Mugello, akhirnya momen yang ditunggu -tunggu pun terjadi juga. Keberhasilan memenangi duel di race sebelumnya rupanya menjadi modal sekaligus pemacu semangat bagi The Doctor untuk mewujudkan gelar ke-100nya. Tahun ini sirkuit Assen menjadi panggung spesial The Doctor, hasil yang berbalik dari race musim lalu. Start dari pole position, start kurang sempurna (kebiasaan buruk Vale nih ^^) membuat Rossi tergeser dari posisi pertama. Namun dengan geberan sempurna motornya Rossi berhasil melewati rival-rivalnya dan mengambil alih posisi pertama hingga race berakhir. Penampilan Rossi makin sempurna ketika sedikit demi sedikit dia meninggalkan rival utamanya sehingga memperbesar jarak diantara mereka. Rossi akhirnya menaklukan sirkuit Assen dengan mencatat hattrick melalui pole position, fastest lap dan menjuarai seri ini.
Namanya juga Rossi, seperti yang sudah-sudah keeksentrikannya dalam merayakan hari bersejarah selalu menarik perhatian. Menjadi pembalap kedua yang mencapai kemenangan ke-100 sejak penampilan pertamanya di kelas 125 cc menjadi momen penting untuk diabadikan. Aku yang sudah tak sabar menanti kejutan dari The Doctor, sesaat bingung ketika melihatnya turun dari motor dan mendekati krunya yang membawa gulungan kain. Sempat mengira The Doctor kembali melakukan grafir pada helm seperti tahun lalu, aku pun terperangah dan tak lama kemudian tergelak ketika spanduk sepanjang 25 meter dibentangkan. "Wow keren", pikirku saat itu. Ya, rupanya persiapan untuk menyambut gelar ke-100 ini sudah dilakukan dengan matang. Spanduk yang direntangkan itu berisi foto-foto kemenangan Rossi dari awal ketika masih berusia 17 tahun hingga ke-99 dan ditutup dengan angka 100.
Itulah Rossi yang mencatatkan kemenangan ke-40 bersama Yamaha, adalah sosok yang sulit dicari tandingannya. Tidak saja karena mampu membuat balapan atraktif dengan skillnya yang luar biasa namun juga polahnya yang unik. Meskipun race di Assen ini jauh kurang menggigit dibanding duel maut di Cataluna lalu, fans The Doctor pastilah turut merayakan kemenangan pemilik nomor 46 ini. Catatan gemilang setelah keterpurukan di Mugello menjadikan penampilan The Doctor patut ditunggu di seri Laguna Seca minggu depan. Harapan menyaksikan ketangguhan Rossi seperti tahun lalu pun mencuat. Melihat hasil dari tujuh race yang telah digelar, bisa dikatakan persaingan untuk merebut gelar juara dunia 2009 semakin kompetitif. Uniknya kejar-kejaran angka justru terjadi di sesama tim Yamaha. Meskipun harus sport jantung setiap menonton balapan, mau tak mau aku mengakui lahirnya calon pewaris The Doctor di masa mendatang. Di tengah kompetisi ketat musim ini jika dilihat dari prestasi ketujuh belas rider, penggemar Moto-GP pun bakal dimanjakan dengan pertarungan atraktif di setiap serinya. Akhirnya it's time for 100. Saatnya untuk selangkah lebih dekat ke pemecahan rekor berikutnya. Bravo The Doctor.
Sabato alias hari Sabtu dalam bahasa Italia menjadi hari bersejarah sekaligus menggembirakan bagi semua fans Valentino Rossi termasuk aku ^^. Setelah gagal melakukan perayaan gelar ke-100 di kampung halaman Mugello, akhirnya momen yang ditunggu -tunggu pun terjadi juga. Keberhasilan memenangi duel di race sebelumnya rupanya menjadi modal sekaligus pemacu semangat bagi The Doctor untuk mewujudkan gelar ke-100nya. Tahun ini sirkuit Assen menjadi panggung spesial The Doctor, hasil yang berbalik dari race musim lalu. Start dari pole position, start kurang sempurna (kebiasaan buruk Vale nih ^^) membuat Rossi tergeser dari posisi pertama. Namun dengan geberan sempurna motornya Rossi berhasil melewati rival-rivalnya dan mengambil alih posisi pertama hingga race berakhir. Penampilan Rossi makin sempurna ketika sedikit demi sedikit dia meninggalkan rival utamanya sehingga memperbesar jarak diantara mereka. Rossi akhirnya menaklukan sirkuit Assen dengan mencatat hattrick melalui pole position, fastest lap dan menjuarai seri ini.
Namanya juga Rossi, seperti yang sudah-sudah keeksentrikannya dalam merayakan hari bersejarah selalu menarik perhatian. Menjadi pembalap kedua yang mencapai kemenangan ke-100 sejak penampilan pertamanya di kelas 125 cc menjadi momen penting untuk diabadikan. Aku yang sudah tak sabar menanti kejutan dari The Doctor, sesaat bingung ketika melihatnya turun dari motor dan mendekati krunya yang membawa gulungan kain. Sempat mengira The Doctor kembali melakukan grafir pada helm seperti tahun lalu, aku pun terperangah dan tak lama kemudian tergelak ketika spanduk sepanjang 25 meter dibentangkan. "Wow keren", pikirku saat itu. Ya, rupanya persiapan untuk menyambut gelar ke-100 ini sudah dilakukan dengan matang. Spanduk yang direntangkan itu berisi foto-foto kemenangan Rossi dari awal ketika masih berusia 17 tahun hingga ke-99 dan ditutup dengan angka 100.Itulah Rossi yang mencatatkan kemenangan ke-40 bersama Yamaha, adalah sosok yang sulit dicari tandingannya. Tidak saja karena mampu membuat balapan atraktif dengan skillnya yang luar biasa namun juga polahnya yang unik. Meskipun race di Assen ini jauh kurang menggigit dibanding duel maut di Cataluna lalu, fans The Doctor pastilah turut merayakan kemenangan pemilik nomor 46 ini. Catatan gemilang setelah keterpurukan di Mugello menjadikan penampilan The Doctor patut ditunggu di seri Laguna Seca minggu depan. Harapan menyaksikan ketangguhan Rossi seperti tahun lalu pun mencuat. Melihat hasil dari tujuh race yang telah digelar, bisa dikatakan persaingan untuk merebut gelar juara dunia 2009 semakin kompetitif. Uniknya kejar-kejaran angka justru terjadi di sesama tim Yamaha. Meskipun harus sport jantung setiap menonton balapan, mau tak mau aku mengakui lahirnya calon pewaris The Doctor di masa mendatang. Di tengah kompetisi ketat musim ini jika dilihat dari prestasi ketujuh belas rider, penggemar Moto-GP pun bakal dimanjakan dengan pertarungan atraktif di setiap serinya. Akhirnya it's time for 100. Saatnya untuk selangkah lebih dekat ke pemecahan rekor berikutnya. Bravo The Doctor.
Senin, 02 Februari 2009
anggunesia.com

Satu lagi nih selebritis asli Indonesia yang berhasil mengharumkan namanya dan tentu saja tanah kelahirannya di manca negara. Penyanyi yang kini dikenal dengan nama Anggun tanpa embel-embel C. Sasmi memang sudah lebih dari sepuluh tahun hijrah ke daratan Eropa. Tak dinyana si anak hilang yang populer dengan lagu Tua-Tua Keladi meraih sukses dimulai dari Prancis dan terus merembet ke seluruh Eropa. Mengapa baru sekarang aku menulis tentang Anggun ? Memang terlihat ketinggalan info, popularitas Anggun sebagai penyanyi internasional sudah meroket sejak beberapa tahun lalu dengan single-nya Snow On The Sahara. Hanya saja, beberapa hari ini aku berkali-kali melihat penampilan Anggun di berbagai acara televisi. Kedatangannya di Indonesia kali ini selain menggarap video klipnya di bawah arahan Jay Subiakto, Anggun juga gencar mempromosikan album terbarunya. Single Crazy pun menduduki peringkat atas tangga lagu di berbagai chart musik. Memanfaatkan sepuluh hari keberadaannya di Indonesia, tak pelak Anggun disodori tawaran tampil di berbagai show baik live ataupun off air. Nah, terhitung ada lebih dari tiga macam acara tv yang menghadirkan Anggun sebagai bintang tamu. Namanya juga penyanyi, setiap kali tampil Anggun didaulat untuk menyanyi meskipun di sebuah acara talkshow. Meskipun aku bukan seorang fans fanatik Anggun, mau tak mau aku mengakui kualitasnya sebagai penyanyi kelas atas. Sekian lama di Prancis, Anggun pun menjelma menjadi sosok yang sesuai dengan namanya, begitu berkelas, modis layaknya selebriti kaliber dunia. Kualitas vokalnya pun terlihat sempurna, terbukti saat ditodong untuk menyanyi dadakan, Anggun tanpa ragu melantunkan bait-bait lagu lama dengan apik. Berbeda dengan penyanyi karbitan yang terlihat jelas perbedaan antara menyanyi live dengan rekaman. Suaranya yang bergenre rock, tidak terdengar canggung saat membawakan lagu balada. Yang membuatku semakin kagum, meskipun sekian tahun tinggal dan menjadi warga negara Prancis, Anggun tetaplah Anggun C Sasmi, si baret dari Indonesia. Dia masih tetap fasih berbahasa Indonesia, selalu ramah dan rendah hati meskipun namanya sudah sejajar dengan artis mancanegara yang begitu digandrungi anak-anak, remaja dan orang dewasa Indonesia. Aku semakin kagum sekaligus heran, mendengar penuturannya tentang tanah kelahirannya. Nyata sekali bahwa Indonesia tetap ada dalam diri Anggun. Di saat masyarakat sedang tergila-gila dengan kemunculan artis-artis berdarah Indo, Anggun menjadi sosok ideal untuk membuktikan bahwa Indonesia itu indah dan berkualitas. Brava !
Selasa, 07 Oktober 2008
We are the champion!

Akhirnya waktuku di tempat kenangan usai sudah. Yah meskipun belum sepenuhnya say goodbye alias wajib setor muka dan membereskan beberapa urusan yang belum kelar. Usai bertugas jaga anak-anak yang sedang ujian tengah semester, aku tidak buru-buru kembali ke asal. Selain menunggu pembagian jatah bulanan ^^, tak lupa berpamitan pada rekan-rekan di sekolah seraya saling mengucapkan "Minal Aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin" yang lebih awal beberapa hari, mencerminkan indahnya toleransi beragama yang sejak dulu menjadi salah satu fondasi kerukunan umat beragama di Indonesia. Kegembiraan menyambut hari kemenangan bercampur setitik haru saat bercengkerama dengan seorang penghuni best class yang mirip banget sama 'papi', mengingat mungkin aku tak bisa lagi bercanda di sekolah dengan mereka. Namun kesedihan tidak terus menggelayuti benakku. Maklumlah sesampainya di rumah setumpuk pekerjaan menjelang hari raya menanti untuk segera ditangani. Akhirnya hari berganti, akhir pekan menjadi Minggu yang selalu kunanti. Mengapa ? Minggu, 28 September adalah hari penantianku untuk menjadi saksi kembalinya The King of Moto GP, the Doctor Valentino Rossi. Sirkuit Motegi Jepang menjadi ajang pencapaian yang manis bagi rider kesayanganganku ini. Meski sedikit gelisah di saat-saat yang menentukan ini, aku lumayan tenang saat menyaksikan balapan putaran ke 15 ini, pasalnya kepastian Vale menjadi juara musim 2008 ini lumayan mudah dengan syarat minimal finish di posisi 4. The doctor yang sedang 'on fire' ini sangat percaya diri bisa tampil baik di Motegi. Hasilnya sesuai prediksi Valentino Rossi akhirnya berhasil menyabet kembali gelar yang sempat lolos selama 2 musim. Meskipun pesaing utamanya Casey Stoner berhasil menyodok di podium ke 2, sisa tiga race tak mampu untuk mengejar perolehan poin Rossi. Teriakan menyambut kemenangan pun lepas, dering hp pertanda masuknya pesang singkat tak putus-putusnya, saling berbagi berita, kepuasan, kegembiraan, pujian akan Great Vale diikuti dengan ikrar untuk bersulang untuk kemenangan ini. "Scusate il ritardo", tulisan di kaus putih yang dikenakan Rossi saat encore kemenangan membuatku segera mengontak sahabatku yang baru saja kembali dari negeri Pizza sana. Sayang, menjelang hari raya, komunikasi acapkali terganggu! Benar-benar khas Indonesia. Untunglah pemandu acara asal Italia membantu pemirsa untuk menerjemahkan meski samar-samar aku paham arti dari sebaris kalimat itu. "Si, Valle" dua tahun ku berharap dapat melihatmu menyabet juara MotoGP akhirnya terkabul di tahun 2008 ini. Kau memang yang terbaik di Mto GP. Bukan hanya karena skill dan teknik yang telah kau asah dari pengalamanmu berlaga selama ini, tapi juga perjuanganmu di awal musim demi memperoleh performa terbaik, dan keberanianmu mengambil resiko, tak segan untuk berduel meski kadang sedikit nekat demi memuaskan penggemarmu dengan menampilkan balapan yang atraktif. Kurasa belum ada yang bisa menjadi penerusmu saat ini. NUmero uno, memang layak kaudapatkan, walau kemenangan sudah di tangan dan race masih menyisakan tiga balapan lagi, kau tetap tampil elegan. Philip Island menjadi saksi kehebatanmu. Akibat kesalahan di saat sesi kualifikasi, kau tak hanya mengorbankan posisi start tapi juga cedera lumayan parah membuatku khawatir. Akankah Rossi bisa tampil di balapan kali ini ? Karena balapan tanpa Rossi tak ada gregetnya. Aku bersorak saat melihat Rossi start di baris keempat meski harus memakai 'painkiller' untuk cederanya. Sekali lagi, The Doctor memang hebat, tak hanya aku dan teman-teman penggemar Rossi, yang lain pun mau tak mau mengakui kepiawaiannya. Setelah lolos dari ancaman Dovi yang membuat cukup membuat 'sport jantung', Vale berahasil menyusul rekan setimnya Jorge Lorenzo dan mengalahkan James Toselang setelah duel seru di beberapa lap. Lolos dari tekanan perebutan posisi podium 3, Vale melaju pesat dan sukses mempecundangi juara tahun 2006 Nicky Hayden. Rossi pun finish dengan spektakuler di posisi ke-2. It's really fantastic!. Bravo Rossi ! Semoga kesuksesan kali ini membawamu ke puncak di musim-musim berikutnya.
Senin, 15 September 2008
Menuju Juara Dunia

Minggu 14 September menjadi hari yang padat dan penuh kejutan untukku. Dimulai dengan serial kesayanganku Metantei Conan yang mulai memanas hingga permintaan seorang sahabat untuk menyanyikan lagu penyemangat There's A Hero untuknya. Setelah lelah tak tertahankan, Alhamdulillah waktu untuk berbuka puasa akhirnya tiba. Lapar dan dahaga terhapuskan diiringi deruman motor balap di sesi kualifikasi sirkuit Indianapolis, USA. Mendekati pukul tujuh malam, penuh semangat aku menunaikan ibadah sunnah selama bulan Ramadhan ini, meski ajang penentuan posisi start belum berakhir. Aku tak perlu khawatir dengan hasil kualifikasi, karena hasil race tidak ditentukan mutlak oleh posisi awal. Apalagi sesama penggemar balap Moto GP sudah memberiku bocoran siapa pole position, posisi kedua dan ketiga race kali ini ^^. Usai shalat tarawih, cepat-cepat aku kembali ke rumah tanpa meluangkan waktu untuk duduk-duduk sejenak bersama para jemaah. Segera aku menyalakan televisi, mencari channel yang menayangkan laga giornata ke dua klub favorit AC Milan. Meskipun 'difensore' andalan tak turun main akibat cedera yang belum sembuh, aku tetap antusias menyaksikan pertarungan skuad baru Rossonero ini. Berbekal gelandang baru yang diboyong dari El Barca, juga comeback-nya Andriy Shenchenko dan Marco Boriello, kubu Milan berusaha memperbaiki performa buruk di musim lalu. Dari semula rasa pesimis atas transfer pemain yang dilakukan klub ini terus menggelayut. Walaupun masih terlalu awal, rupanya Ancelotti belum berhasil meramu sebuah tim yang solid dan mampu menggedor pertahanan lawan. Lemahnya lini belakang Milan, akibat absennya beberapa pemain pilar membuat Milan kedodoran di awal musim 2008-2009 ini. Aliran bola yang cukup baik tak mampu membuahkan hasil yang memuaskan dan Milan pun harus menelan kekalahan untuk kedua kalinya di awal musim. Sungguh suatu hasil yang buruk bagi tim sebesar Milan yang bertabur bintang. Kecewa dengan hasil ini, aku pun melelapkan diri bersiap-siap untuk bangun di tengah malam. Dering alarm dengan segera membuatku terjaga, tanpa banyak geliat aku kembali menempatkan diri di depan televisi berbekal secangkir kopi panas untuk mengganjal mata yang masih 'sepet'. Tepat tengah malam salah satu acara sport favoritku kembali mengudara. Balap motor bergengsi yang terakhir berada di Misano kini bergulir ke negeri paman Sam. Untuk pertama kalinya race digelar di sirkuit Indianapolis. Sirkuit ini mempunyai kesulitan yang tinggi dengan banyaknya patahan-patahan yang berbahaya ditambah dengan kondisi cuaca yang buruk. Badai Ike yang sedang mengamuk di negeri yang sebentar lagi akan melangsungkan Pemilu ini membuat race untuk kelas 250 cc harus ditunda. Setelah cukup lama gelisah menanti dimulainya balapan yang sudah ditunggu-tunggu ini, akhirnya balapan pun dimulai dan yang membuatku 'surprise' race langsung diperuntukkan bagi kelas yang paling bergengsi yaitu Moto GP. Badai yang menyebabkan sesi 125 cc harus membatalkan 6 lap terakhir akhirnya cukup mereda, meski sirkuit menjadi wet race dengan jarak pandang yang terhambat karena mendung dan angin yang lumayan kencang. Warm up lap pun diselesaikan dengan baik dan berikutnya race pun dimulai. Seperti biasa pembalap andalanku mengambil start yang kurang mulus sehingga harus tergusur dari posisi pertama menjadi urutan keempat. Namun tak sia-sia Rossi mendapat julukan The Doctor, berbekal pengalaman dan mental yang terlatih baik, Rossi berhasil mengejar lawan-lawannya. Dimulai dari Lorenzo hingga CAsey Stoner yang bertahan di posisi ketiga. Balapan menjadi sangat seru dan membuatku 'sport' jantung ketika menyaksikan duel Rossi dan Andrea Dovizioso dalam memperebutkan urutan runner up di belakang Nicky Hayden. Di tengah guyuran hujan yang acapkali membuat para rider terpeleset, Rossi pun berhasil mempercundangi Dovizioso dengan aksi atraktif yang mendebarkan. Tak puas di urutan kedua, Rossi mulai mengejar seterunya di tahun 2006 tuan rumah NIcky Hayden yang terpaut kurang lebih satu setengah detik. Manuver-manuver Rossi meraih hasilnya di lap ke13 dengan menyingkirkan Hayden dari posisi pertama. The Doctor pun meninggalkan rival-rivalnya untukmenyelesaikan sisa dari 28 putaran di sirkuit tersebut. SAyangnya badai kembali menghantam hingga race pun terpaksa dihentikan di lap ke 21. Alhasil Rossi menempati podium pertama disusul NIcky Hayden dan anak baru JOrge Lorenzo yang berhasil menyodok Stoner yang performanya kali ini kurang meyakinkan. Hasil buruk menimpa rider Repsol Honda Dani Pedrosa, keputusannya untuk berganti ban di tengah musim terbukti menjadi keputusan yang fatal. Dngan hasil ini, Rossi pun semakin mengukukuhkan diri untuk menjadi calon kuat juara dunia MotoGP musim ini. Pemecahan rekor kemenangan untuk yang ke
-69 kalinya memperlebar jarak perolehan poin dengan rival terdekatnya Casey Stoner menjadi 87 poin. Hal ini berarti jika The Doctor finish minimal di urutan keempat, juara dunia pun berhasil diraihnya kembali. See you at Motegi !
-69 kalinya memperlebar jarak perolehan poin dengan rival terdekatnya Casey Stoner menjadi 87 poin. Hal ini berarti jika The Doctor finish minimal di urutan keempat, juara dunia pun berhasil diraihnya kembali. See you at Motegi !
Senin, 18 Agustus 2008
Rossi, Numero Uno

Sirkuit Brno semakin memantapkan peluang The Doctor untuk meraih gelar juara dunia untuk keenam kalinya. Start di posisi kedua, Rossi memulai lap pertama dengan sedikit masalah. Kehilangan beberapa detik di tikungan pertama membuatnya tersalip oleh pembalap John Hopkins. Rival berat Rossi, Casey Stoner pun melesat memimpin balapan dengan motor Ducatinya yang tangguh. Namun dengan segera Rossi menemukan perfoma terbaiknya sehingga mampu merebut posisi runner up dari Hopkins. Rossi yang sempat merasa khawatir dengan Stoner yang semakin jauh meninggalkannya terus berjuang hingga sedikit demi sedikit mengurangi jarak di antara mereka. Sirkuit ini agaknya membawa sial bagi rider muda asal Australia, Stoner membuat kesalahan di tikungan sehingga mengalami slide out dan akhirnya harus keluar dari race. Dengan keluarnya Stoner, keunggulan Rossi di Brno semakin tak terbendung. Rossi pun finish di urutan pertama dengan selisih 15 detik dari Tony Elias di urutan kedua. Kemenangan di awal paruh musim kedua ini membuat Rossi bertahan di peringkat satu, 50 poin lebih unggul meninggalkan Stoner di posisi kedua klasifikasi sementara. Balapan kali ini bisa dikatakan cukup membosankan karena tidak adanya pertarungan sengit antara tiga unggulan juara. Dani Pedrosa bahkan harus terseok di urutan akhir membuat kompetisi semakin membosankan. Pertunjukkan menarik justru terjadi ketika duel antara John Hopkins, Tony Elias dan Chris Vermeulen yang saling salip untuk meraih hasil terbaik. Rossi bahkan menyatakan bahwa kemenangan kali ini bukanlah kemenangan yang komplet dengan jatuhnya Stoner. Meskipun demikian Rossi senang dengan hasil ini karena memperpanjang jarak perolehan poin.
Bagaimanapun selisih 50 poin belum cukup untuk mengukukuhkan diri sebagai jawara. Apalagi dengan rival utama sekelas Stoner yang didukung oleh perfoma motor yang sempurna. Perjuangan Rossi masih panjang hingga penhujung musim.
Bagaimanapun selisih 50 poin belum cukup untuk mengukukuhkan diri sebagai jawara. Apalagi dengan rival utama sekelas Stoner yang didukung oleh perfoma motor yang sempurna. Perjuangan Rossi masih panjang hingga penhujung musim.
Senin, 30 Juni 2008
"Felicitacion El Matador "

'En la cima' itulah yang dirasakan skuad tim Matador Spanyol. Empat puluh empat tahun sepi gelar di pentas internasional, di tahun 2008 ini pamor Spanyol meloncat naik di posisi puncak dengan memboyong trofi UEFA Euro 2008.
Anak-anak asuhan pelatih tertua Luis Aragones ini berhasil tampil gemilang mulai dari babak awal hingga kemenangan sempurna di partai final Wina, Austria. "Perfecto" hanya itu kata yang pas untuk tim sepak bola Spanyol. Aragones yang sempat mengalami celaan dengan keputusan kontroversialnya dengan tidak memasukkan ikon sepakbola Spanyol Raul Gonzales, berhasil menjawab keraguan publik. Pasukan Spanyol yang tergolong muda namun sarat pengalaman ini membungkam Der Panzer Jerman yang notabene lebih diunggulkan. Adalah Fernando Torres pemain dengan nomor punggung 9 yang menjadi penentu kemenangan Spanyol dengan gol tunggalnya di menit ke-33. Spanyol yang sejak awal selalu stabil dalam berlaga menunjukkan kelasnya saat melawan Jerman dini hari 30 Juni 2008 WIB. Mulai dari menit pertama Spanyol mendominasi permainan. Kerjasama solid di semua lini menghasilkan beberapa kesempatan emas untuk mencetak gol lebih awal. Jerman yang sebenarnya menganut sistem permainan ofensif, entah mengapa malam itu justru kewalahan menghadapi gempuran Spanyol. Ballack kapten Jerman yang diharapkan menjadi motor serangan Jerman tidak tampil all out. Serangan balik JErman pun lebih memanfaatkan bola-bola mati tanpa passing-passing indah antar lini. Ketidakstabilan tim Jerman ini harus dibayar mahal dengan disarangkannya gol ke gawang Lehmann yang tertipu dengan aksi Torres. Babak pertama pun berakhir dengan skor 0-1. Kurayi yang masuk di babak kedua berhasil membalikkan keadaan. Selama lima belas menit JErman menyerang kubu Spanyol dengan bertubu-tubi. SAyang, shoot-shoot yang dilakukan meluncur tipis di luar gawang. Seolah putus asa dengan ketidakberuntungan, Jerman kembali mengendur dan tentu saja Spanyol tidak menyia-nyiakannya. Serangan balik pun bertubi-tubi dilancarkan Spanyol. Lagi-lagi dewi fortuna belum berpihak kepada kedua tim. Hingga waktu injury time skor belum berubah. Jerman yang akhirnya berjuang hingga detik terakhir pun harus menyerah saat wasit Rosseti asal Italia meniup peluit tanda pertandingan selesai.
Gegap gempita pendukung Spanyol pun membahana pemandangan indah sekaligus mengenaskan jika melihat wajah-wajah tim Jerman dan juga pendukungnya yang justru lebih banyak daripada pendukung Spanyol.
Spanyol setelah mengalami penantian panjang dari tahun 1964 akhirnya kembali membawa pulang piala Eropa untuk ke dua kalinya. Bahagia tak terkira terpancar di raut wajah kapten Iker Cassillas saat menerima trofi terbaru Euro ini. Kemenangan Spanyol semakin komplit dengan dinobatkannya DAvid Villa sebagai top skorer meski absen di partai puncak ini akibat cedera. Spanyol sesuai dengan julukannya bagaikan banteng yang terus melaju menghadapi rintangan dan meraih kemenangan yang sempurna. Beribu terima kasih dan applaus tidak hanya ditujukan kepada para pemain yang berhasil menampilkan permainan cantik dan seksi. Publik pecinta sepak bola harus angkat topi kepada arsitek Spanyol Luis Aragones. Pelatih gaek ini mampu membentuk tim tangguh dengan personel-personel muda. Berkat tangan dingin Aragones Spanyol pun kembali unjuk gigi di ajang internasional. Trofi yang untuk sementara menetap di Spanyol ini menjadi bukti bahwa Spanyol menjadi tim yang diperhitungkan di Piala Dunia 2010 nanti. Aragones yang memutuskan berhenti menukangi tim nasional Spanyol ini pun mengikuti jejak MArcello Lippi yang membawa Azzuri menjadi World Champion 2006. Pergi dengan membawa kemenangan buah kerja keras selama sekian tahun menanti.
Adios Senor Aragones. Gracias tanto para todo !
Minggu, 29 Juni 2008
Europhoria


"Jerman VS Spanyol " partai final yang akan dilangsungkan di Vienna, Austria 29 Juni atau 30 Juni dini hari menurut WIB menjadi bahan obrolan hangat di semua pecinta sepak bola. Demikian pula denganku yang tergolong pemerhati sepak bola amatir selama 1 bulan ini tak habis-habisnya membahas jalannya pertandingan mulai dari babak penyisihan hingga menjelang laga terakhir nanti malam. Even internasional yang melibatkan tim nasional negara-negara di seluruh daratan Eropa ini menjadi ajang bergengsi yang paling dinanti setelah Piala Dunia. Putaran final Euro 2008 ini tergolong unik dan menarik untuk ditelaah. SEjak tersingkirnya timnas Inggris di babak kualifikasi, banyak fans si bola bundar ini merasa kecewa dan pesimis akan serunya babak final nanti. Ya, Inggris secara tak diduga tidak turut memanaskan lapangan hijau, meski dari dulu Inggris merupakan kandidat favorit untuk menjadi juara.
Pertandingan-demi pertandingan untuk berebut tiket menuju 8 besar sudah dilewati. Berbeda dengan empat tahun yang lalu kali ini kedua tuan rumah Swiss dan Austria harus puas menjadi penonton di negeri mereka sendiri. Portugal,Kroasia, Turki Jerman,Belanda, Italia, Spanyol dan Rusia akhirnya saling berhadapan dengan lawan masing-masing untuk menuju semifinal. Yang paling menarik mungkin persaingan Grup C yang disebut-sebut grup neraka karena di dalamnya bercokol tiga raksasa Eropa yaitu tim Orange Belanda, Azzuri Italia dan Ayam jantan Prancis. Aku sebagai penggemar Italia selalu sport jantung jika menyaksikan pertarungan di grup C. Apalgi setelah Belanda membabat habis tim biru langit ini. Untunglah Italia dapat lolos dari lubang jarum berkat permainan spektakuler di laga ke tiga.
Sekali lahi Euro 2008 benar-benar di luar dugaan ! Portugal yang paling diunggulkan untuk membawa pulang trofi Euro harus takluk di tangan Der Panzer Jerman. Aku ikut menangis saat melihat wajah lesu Christiano Ronaldo setelah menelan kekalahan dengan skor tipis 3-2. Sayang sekali kedua tim ini harus bertemu di perempat final. Banyak pengamat sepak bola menyatakan bahwa malam itu adalah real final. Opini yang masuk akal mengingat dashyatnya pertandingan antara keduanya. Portugal yang sedikit terseok di awal mampu bangkit dan menyuguhkan permainan cantik, diimbangi oleh pemain-pemain Jerman yang cerdik. Portugal pun harus mengepak koper lebih awal tapi penonton puas dengan hasil itu dan mereka pun pulang dengan kepala tegak. Pertandingan antara Turki dan Kroasia pun berlangsung alot. Turki menjadi kuda hitam dalam Euro kali ini. Dengan semangat untuk menang ditambah dengan sedikit keberuntungan Turki pun melaju dengan gembira. Partai yang mengecewakan barang kali terjadi di laga antara Belanda melawan Rusia. Belanda kandidat terkuat berkat penampilan hebat sehingga mengantongi poin penuh di babak penyisihan harus kandas di tangan Rusia. Semula banyak pengamat sepakbola memprediksi bahwa pertandingan ini akan alot mengingat Rusia yang diasuh oleh Guus Hiddink mantan pemain dan pelatih asal Belanda. Namun, malam itu justru menjadi anti klimaks, gempuran-gempuran Rusia tidak diimbangi dengan perlawanan sengit Belanda. Alhasil, tim orange dibabat habis dan kalah memalukan. Partai terakhir antara Italia VS Spanyol menjadi penutup yang manis dan pahit di perempat final. Setelah perpanjangan waktu yang tidak membuahkan kemenangan bagi kedua pihak, Buffon pun harus mengakui keunggulan Casillas melalui adu pinalti. 'Kalau saja Pirlo bisa turun malam itu ", pikirku getir. Berhubung semua tim favoritku tumbang satu demi satu, aku pun mengalihkan dukunganku ke tim-tim yang tersisa. Penuh semangat aku menyaksikan partai semifinal Jerman vs Turki. Partai mendebarkan ini membuatku menjerit, khawatir dan akhirnya bersorak dengan lolosnya Jerman menjadi salah satu finalis. Aku yang sejak piala dunia 2002 menyimpan dendam dengan Guus Hiddink gara-gara tim yang ditukanginya mempecundangi Mio Azzuri (kekanak-kanakan sekali ya..?) tertawa puas melihat Spanyo dengan gemilang menekuk Rusia.
Dan akhirnya dini hari nanti (menurut waktu Indonesia) aku bisa menyaksikan final Euro 08. Harapanku, semoga kedua tim yang sama-sama bertipe menyerang ini mampu menghadirkan pertarungan berkualitas. Sayangnya, ada pemain andalan kedua tim yang masih diragukan untuk bisa turun ke lapangan. Salah satunya Adalah David Villa, bomber Spanyol yang kini mengemas 4 gol dan mempunyai kans untuk memggondol sepatu emas ini mengalami cedera dan hampir dipastikan tidak bisa main. Wah, berkuranglah tukang gedor yang mampu membuat para penjaga gawang kalang kabut. Untunglah masih ada Fabegras, meski dari awal babak selalu muncul di akhir pertandingan mampu menambah daya serang tim Matador. Kubu Jerman pun harus waspada, walau Spanyol tak begitu diunggulkan dan kalah pamor di ajang internasional bisa menjadi bumerang jika diremehkan. Siapapun yang berhasil meraih juara, kedua tim ini memang layak untuk menang. Selamat berjuang demi negara para pahlawan lapangan hijau !
Rabu, 28 Mei 2008
Amazing Archuleta

"American Idol 2008 is DAvid...Cook !" , seketika aku merasa lemas setelah kata terakhir diucapkan oleh Ryan Seacrest. Meski aku paham mengapa publik Amrik begitu mengidolai David Cook, tetap saja aku merasa sedikit tak puas. Cook, cowok ganteng berkarisma tidak saja dibekali dengan vokal rock yang matang tetapi juga piawai memainkan alat musik.Tak heran jika ia sangat kompeten untuk menjadi no.1 tahun ini. Hanya saja, sejak awal aku sudah menaruh harapan pada sosok remaja berbakat yang akhirnya harus puas menjadi runner up. Siapa lagi jika bukan David Archuleta. Ya, aku memang penonton setia ajang pencarian bakat yang dilakukan di banyak negara ini. Pada saat audisi yang dilakukan dari kota ke kota, pertama kali aku mendengar dia menyanyi aku langsung terpesona. Di usianya yang tergolong muda, David sudah mempunyai vokal yang matang, tidak seperti remaja seusianya yang masih labil. Saat aku mendengar bahwa David sempat tidak bisa berbicara, sontak aku merasa kagum. Siapapun pasti akan merasa putus asa dengan kondisi seperti itu, tapi dia bisa bangkit bahkan bisa menyanyikan lagu dengan indahnya. Juri yang biasanya sinis pun tak urung menghujaninya dengan pujian. Aku merasa yakin jika anak ini akan berhasil sampai akhir. Ternyata aku tak salah menilai. Tahap demi tahap yang membuat orang depresi, bisa dia lalui dengan baik. Bahkan di setiap penampilannya David selalu mendapat pujian yang berarti David mampu membuat penonton terkesima dengan alunan suaranya yang elegan.
Ketika kontes ini sampai pada ujungnya, menyisakan dua orang David yang sangat berbeda, aku betul-betul merasa puas. Aku memang sangat menyukai keduanya. Siapapun sangat pantas menjadi "Winner". Hanya yang sangat kusayangkan, di saat-saat terakhir ini 'young' David mampu mengungguli lawannya. DAri tiga lagu yang dibawakan semuanya tanpa cela dan mampu membius penonton baik yang melihat langsung maupun yang hanya melihat siaran ulangnya seperti aku ini. Walhasil, kenyataan bahwa David hanya mampu menjadi nomor 2 membuatku kecewa. Aku jadi sadar jika sebuah kompetisi menyanyi tidak hanya bisa dimenangkan dengan vokal dan teknik menyanyi yang sempurna saja, tetapi juga ada faktor-faktor lain yang mendukung. David Archuleta yang lugu dan kadang 'salting' di depan kamera memang bikin gemas, namun Cook lebih menawan dengan aura bintangnya.
Kompetisi telah usai, namun ini adalah awal dari hidupmu. Go on David Archuleta. I'm waiting for your amazing voice.
Langganan:
Komentar (Atom)
