Rabu, 08 Desember 2010

Topeng Kaca


Hidup memang tak selamanya sesuai dengan apa yang diharapkan. Adakalanya seseorang mendambakan perubahan situasi dalam hidupnya. Mengejar impian betapapun orang lain menganggap itu mustahil dilakukan, menjadi hak setiap orang tak peduli seperti apa latar belakang orang itu. Demikianlah pesan yang bisa kutangkap dari bacaan favoritku belakangan ini. Beberapa bulan terakhir ini, aku merasakan jenuh untuk membaca suatu hal yang kukira tak kan terjadi padaku yang dijuluki kutu buku ini ^^. Terpengaruh oleh stress akibat pekerjaan dan masalah-masalah pribadi yang memusingkan, menyebabkan tumpukan buku-buku baru yang belum kubaca semakin meninggi. Dan pada akhirnya aku mulai melirik kembali bacaan bergambar kesukaanku yang sempat terbengkalai begitu saja. Memang buku cerita bergenre 'manga' ini bukanlah cerita baru melainkan edisi cetak ulang manga berjudul sama yang mulai kubaca kira-kira lima belas tahun yang lalu. Ketika mengetahui manga ini diterbitkan kembali, aku yang dulu sangat menyukai buku ini dan hingga kini pun masih setia mengikuti kelanjutan ceritanya pun memutuskan menambah koleksiku dengan serial bertajuk Topeng Kaca ini. Manga karya mangaka Suzue Miuchi ini bercerita tentang perjuangan Maya Kitajima, seorang anak yang biasa saja, tidak cantik, tidak pintar, tak punya ayah dan hidup sehari-hari dengan pas-pasan untuk menjadi seorang aktris. Maya yang selalu dipandang remeh bahkan oleh ibu kandungnya itu memiliki minat yang demikian besar di dunia akting. Bakatnya dalam bidang seni peran tersebut terendus oleh mantan aktris Mayuko Chigusa, dan di bawah bimbingannya Maya mulai mengasah bakatnya, sedikit demi sedikit menapaki dunia panggung untuk sebuah tujuan akhir menjadi pewaris naskah drama legendaris Bidadari Merah. Layaknya tokoh protagonis, Maya harus berjuang untuk mencapai cita-citanya bukan hanya dengan saingan beratnya namun juga munculnya musuh-musuh alami yang selalu menghambat kehidupannya sebagai seorang aktris.
Sejak pertama membaca manga ini, aku sudah tertarik dengan ceritanya. Aku yang memang menyukai seni drama dan musik begitu hanyut dengan adegan-adegan berbagai drama yang ditampilkan sepanjang serial ini. Melalui Maya, aku seolah menjelma menjadi tokoh-tokoh menarik dalam naskah yang dalam kenyataan tak mungkin terjadi pada diriku. Miuchi-sensei begitu piawai meramu kontradiksi antara dua gadis yang berbeda penampilan maupun latar belakang dalam sebuah persaingan sehat di dunia akting. Emosi pembaca pun dibuat naik turun, hingga berpindah-pindah dukungan antara kedua tokoh utama yang mempunyai kelebihan masing-masing. Melalui tokoh Maya, aku disadarkan betapa perjuangan untuk meraih impian itu penting. Meskipun memiliki bakat dan modal yang cukup, tanpa kemampuan untuk berusaha semua akan sia-sia. Kekuatan sejati akan muncul ketika seseorang berkonsentrasi akan suatu hal, tak peduli darimana seseorang berasal, bagaimana penampilan orang itu, seperti apa pandangan orang lain.
Semakin lama aku menekuri serial ini, semakin besar pula animoku akan seni peran. Dengan berakting seseorang bisa menjelma menjadi orang lain. Maya yang tidak cantik bisa berubah menjadi Putri Musim Semi yang menawan, Maya yang pemalu menjelma menjadi Midori yang periang, Maya yang kikuk mampu menjadi ratu yang agung, seolah memiliki seribu topeng yang bisa diganti-ganti setiap saat sesuai dengan peranan. Tak sabar rasanya aku menantikan seri berikutnya. Maklumlah serial ini terbilang memakan waktu cukup lama, bahkan lima belas tahun berlalu pun belum ada tanda-tanda serial ini akan usai. Mengingat kondisi mangaka yang konon menderita sakit sehingga serial ini terhambat, harapanku hanya semoga serial ini berakhir dengan wajar tanpa ada kesan dipaksakan untuk segera berakhir.

Minggu, 28 November 2010

Satu yang Kuminta

Rasanya belakangan ini lelah terus menerus menggerogoti fisik dan pikiranku baik itu karena masalah lingkup kerja terlebih jenuh datang dari persoalan pribadi yang mengganggu. Alhasil, energi untuk bersemangat pun tersedot setiap saat, melemahkan emosi hingga meruntuhkan kekuatan staminaku yang boleh dibilang selama ini tak ada masalah. Hmmm....mungkin sebagian dari semua ini terjadi karena kesalahanku. Maklumlah lahir dengan mengemban sifat emosional yang meledak-ledak acapkali merugikan diri sendiri. Bagaimanapun juga setelah mendapat masukan dari sana-sini, menimbang dan memilah mana yang bisa untuk dilakukan aku pun mencoba untuk sedikit 'cooling down', mengendurkan pita kemarahan yang terus meregang karena persoalan yang mungkin bagi orang lain sangat sepele namun bagiku begitu krusial. Sedikit demi sedikit aku mulai belajar menahan emosi yang jika kucermati demikian merugikan diriku sendiri. Meskipun masih terasa dongkol jika mengingat maksud hati ini ternyata diartikan berbeda dan cenderung menyudutkanku, aku belajar untuk menerima dengan biasa saja. Beruntung disana-sini aku mempunyai sahabat-sahabat yang mengerti akan kecemasan, kekhawatiran, dan keinginanku yang sesungguhnya. Sahabat yang tak hanya melihatku dari luar namun benar-benar mengerti akan isi kepalaku, benar-benar peduli akan diriku hingga dukungan pun terus mengalir untukku. Walaupun tak sedikit kata-kata yang justru semakin menambah pelik nan memusingkan, namun semua itu tak lebih dari pandangan mereka yang tak mau aku terus bergelut dalam keputusasaan. Demikianlah kali ini aku mencoba untuk kembali menjadi diriku yang dulu. Seseorang yang selalu tersenyum meskipun pedih di dalam, seseorang yang tak mau diricuhkan dengan persoalan personal, seseorang yang mampu berdiri sendiri dengan tegar. Namun, jika boleh aku meminta, betapa aku berharap untuk lebih dimengerti, berharap bantuan untuk memulihkan diri datang tanpa diembel-embeli dengan cap tertentu yang belum tentu benar adanya. Betapa aku mendambakan kesadaran dan pengertian untuk menjaga diriku agar dengan segera kembali menjadi aku yang dulu.

Selasa, 02 November 2010

Kembali

Seketika mataku menangkap sebuah nama di antara sederet nama-nama tak dikenal. Nama berinisial huruf favoritku itu tidaklah asing di benakku, meski tak satupun dari sekian banyak nama dalam ingatan sama persis dengan nama itu. Penasaran, antusias diiringi dengan degup jantung yang semakin cepat, aku mencoba menelusuri nama tersebut. Dan benarlah sebuah gambar menunjukkan bahwa kecurigaan atau lebih tepatnya dugaan setengah mengharapku terbukti kebenarannya. Akhirnya setelah bertahun-tahun aku mencari, sekian lama selalu merindukannya demikian berharap untuk sekedar mengetahui keberadaannya terjawab sudah. Bahagia, lega sekaligus sedih seketika membuatku terpaku pada pada sosok dalam gambar yang telah jauh berubah dari ingatan terakhirku tentang dia. Raut wajahnya tak lagi sama seperti dulu, garis keras yang umumnya muncul akibat perjuangan hidup menggantikan roman muka yang dulu lembut. Pandangan menyejukkan dan senyum manis yang terpatri dalam ingatanku tak lagi ada, menyisakan sorot tajam dari kedua bola matanya yang semakin besar dan cekung. Kucermati lagi gambar itu, haru beccampur getir penyesalan menerpaku tatkala melihat sosok mungil di pangkuannya. Lega rasanya melihatnya baik-baik saja, bahagia dengan keluarga barunya, namun tak urung sebersit angan-angan sempat melintas di benakku. "Andai saja dulu... sekarang mungkin....andai saja.... si mungil itu adalah...." Ah dimanakah dia sekarang ? Penuh semangat aku mencari-cari lagi, dan rupanya tak begitu jauh ia bersembunyi selama ini. Betapa sering aku melewati tempat itu, tapi tak sedikitpun tanda-tanda dia yang kucari ternyata ada disana. Meskipun sekian lama waktu berlalu, dan tak sekalipun aku pernah menjumpainya alih-alih bertegur sapa dengannya. Debaran yang dulu masih saja ada, pesona yang tak pernah luntur walaupun telah jauh berbeda dan tak mungkin lagi terjangkau dengan kedua tangan ini. Tak dipungkiri iri hati pun timbul, tertuju pada seseorang yang kini menjadi teman hidupnya sehari-hari. Andai dia tahu, betapa dia telah lama menjadi penghuni mimpiku, menjadi belahan jiwaku kepada siapa kelak aku ingin menjadi bagian hidupnya. Hmmm...pada akhirnya jalan cerita dalam impian jauh berbeda dengan kenyataan. Dan kini setelah dia muncul kembali di hadapanku, aku tak tahu harus bagaimana menata hati ini. Meskipun mungkin tak lagi mengharapkannya, walaupun tak lagi seindah dulu,bahagia tak terkira hati ini ketika dia mengajaku kembali untuk berteman. Dan mulai saat itu, hariku kembali kuisi dengan sosoknya, ungkapan perasaannya meskipun hanya sepatah dua patah kata. Memang kini dia telah berubah, tak lagi lembut, manis dan menghanyutkan seperti dulu, tapi tetap saja aku bersorak " Akhirnya aku menemukannya !!!!"

Jumat, 15 Oktober 2010

Indah Pada Waktunya

Sebagai orang yang sejak kecil terperangkap dalam kumpulan cerita khayalan, tak pelak lagi aku pun tumbuh menjadi seorang yang pemimpi. Bukan berarti aku hidup dalam impian dan berusaha mengejarnya melainkan aku mempunyai bagian diriku yang tinggal dalam dunia yang kubentuk sedemikian rupa indahnya layaknya sebuah cerita , dan tentu saja dunia itu berada dalam pikiranku. Tiap kali aku merasa ingin menjauh dari kenyataan, aku akan masuk ke dunia impianku, dimana aku bisa bermanja-manja dengan segala sesuatu yang pastinya membuatku bahagia. Namun ada kalanya aku berharap impianku itu menjadi nyata, kalaupun tidak aku tak pernah melepas keinginan untuk sekedar merasakan sesuatu yang mendekati impianku. Beberapa lama waktu berlalu, meskipun usia semakin menuntut untuk berubah menjadi lebih bijak, impian masa kecil remaja hingga dewasa yang terus menerus bertambah selalu menunggu untuk terwujud. Dan ketika saat itu memungkinkan untuk datang, emosi mendalam pun berkecamuk, tak sabar untuk merasakan kebahagiaan seperti yang kudapatkan ketika mata ini terpejam dan aku berkelana ke dunia semuku. Dan ketika impianku tak terwujud sepenuhnya, gurat kesedihan tak bisa kuhindarkan. Kekecewaan yang lebih dikarenakan karena impian yang kandas memenuhi pikiranku dan semakin membuncah menyulut emosiku yang selalu meledak-ledak. Luapan amarah yang tak jarang menyakiti orang lain pun tak kuasa kutahan. Layaknya anak kecil yang merengek-rengek menginginkan sesuatu yang tak terpenuhi, aku pun memuntahkan segalanya mencoba mencari pembenaran diri tak peduli dengan dampak emosional yang melibas sekelilingku. Dan ketika semuanya usai, barulah aku menghela nafas dalam, mulai berpikir jernih, membuka mata mengamati sekeliling dan timbullah penyesalan yang dalam. Dan aku pun berusaha untuk memperbaiki keadaan. Karena ketika emosi telah terlepas, aku menyadari betapa konyolnya diriku. Sesungguhnya aku pun tahu, impian hanyalah sebuah angan-angan yang memang dibuat untuk selalu indah. Namun salahkah aku jika ingin mengecap sedikit saja impian itu untuk menjadi nyata ? Tak bolehkan aku berharap bisa mewujudkan impianku bersama-sama ? Meskipun aku tahu semua takkan bisa menjadi seperti yang aku minta. Tapi setidaknya aku ingin semua bisa diusahakan, meskipun perlahan dan sedikit mencoba-coba hingga memerlukan waktu cukup lama, walau tak menjamin hasil akhirnya, aku yakin pada akhirnya aku lebih bahagia dengan kenyataan yang ada.

Jumat, 08 Oktober 2010

Sehari Penuh Makanan


"Jalan-jalan yukk !", tak biasanya sahabat kecilku tiba-tiba menyapa di siang hari. Namanya juga aku yang hobi banget jalan-jalan terutama belakangan ini gara-gara suntuk di kerjaan, tanpa berpikir dua kali aku langsung mengiyakan ajakan itu dengan antusias. Berhubung waktu yang terbatas, maka kami pun memutuskan untuk menghabiskan waktu seharian di kota terdekat, apalagi kalau bukan Purwokerto, kota tempatku bermukim empat tahun lamanya sekian tahun lalu. Setelah mundur satu minggu dari rencana semula, akhirnya jadilah aku dan sobat kecilku bertolak ke Purwokerto. Bukan hanya sekedar memuaskan keinginan untuk berkaraoke ria, melemaskan kaki dan tak ketinggalan berburu makanan favorit, kepergian kali ini lebih bersemangat berkat rencana dadakan dari Kyon-chan yang rupanya juga antusias untuk melepas penat di kota yang sama.
Pagi-pagi, aku sudah mempersiapkan diri dengan semangat. Tak lama kemudian, sobatku pun datang dan kami pun dengan sedikit tak sabar menunggu datangnya bus umum jurusan Purwokerto. Menit demi menit berlalu hingga setengah jam lamanya bus yang dinanti tak kunjung datang. Weitsss ada apa ini ? Semakin tak sabar aku melongok ke arah timur, masih tak kelihatan juga bus yang biasanya. Ketika matahari mulai beranjak tinggi, akhirnya datang juga bus yang dinanti. Berhubung waktu sudah semakin siang, aku dan sobatku pun memutuskan untuk naik, meskipun harus berdesakan di kendaraan yang penuh sesak. Beruntung aku mendapat tempat di dekat pintu. Meskipun harus berdiri selama kurang lebih satu setengah jam, aku bebas dari pusing dan mual yang biasanya selalu menyerang jika harus berdesakan dan kepanasan di dalam bus. Alih-alih pusing kepala, aku dan sobat kecilku asyik cekikikan melihat tingkah olah penumpang yang unik-unik. Pegal-pegal akibat harus bertahan dalam posisi yang sama dalam waktu lama nyaris tak terasa akibat kelakuan aneh penumpang lain yang mengundang tawa. "Oh andaikan bisa update status ", komentar sobatku sambil bergelayut di tepi jendela.
Akhirnya sampai juga aku di Purwokerto. Sesuai rencana kami pun langsung bertolak ke tempat tujuan utama. Menikmati dinginnya ruangan sembari menunggu kedatangan Kyon-chan, aku dan sobatku pun larut dalam keasyikan bernyanyi, tak peduli dengan suara fals ataupun salah nada^^. Setelah satu dua lagu, akhirnya yang ditunggu pun datang. Jadilah suara bernada berganti menjadi teriakan dan tawa histeris. Hmmm lama juga aku tidak tertawa lepas seperti ini. Dua jam penuh aku asyik dalam canda ditambah bonus pijatan gratis dari si 'dia' untuk sekedar mengurangi pegl-pegal di bahu akibat bergelantungan di bus. Puas menghabiskan eneg untuk berteriak dalam lagu, aku tentu bersama yang lainnya memulai tujuan lain di kota ini. Ya, apalagi kalau bukan berburu makanan favorit kami dulu ^^. Didahului dengan makanan pembuka ala barat yang murah namun enak, kami pun melanjutkan mengisi perut denganmaka siang favorit ala mahasiswa. Yup, nasi padang jalan kampus, warung makan yang sudah ada sejak aku kuliah dulu menjadi menu wajibku kini tiap kali aku bertandang ke Purwokerto. Seolah belum penuh juga, aku melanjutkan rencana awalku dengan sobat kecilku. Setelah sebentar membakar lemak dengan berjalan kaki, aku pun dengan riang menyantap seporsi es krim nan lezat. Berlama-lama memanjakan lidah dengan setiap suapan es krim yang lembut. Tak terasa haripun cepat berlalu, tiba saatnya untuk pulang. Kendati belum puas berbagi cerita dengan Kyon, meskipun masih ada tempat yang sebenarnya ingin kujelajahi, masih banyak hidangan yang ingin kucicipi lagi dan keenggananku untuk berpisah lagi dengannya ^^, mau tak mau aku harus segera pulang. Di tengah hujan deras, aku dan sobat kecilku pun kembali berdesakan di dalam bus, menempuh perjalanan pulang ke rumah masing-masing.

Jumat, 01 Oktober 2010

Borobudur



Aku masih ingat sewaktu di bangku sekolah dasar dulu, tiap kali aku melakukan perjalanan menuju kota Semarang, ketika bis sampai di lokasi tertentu aku akan dibangunkan dari tidur lelapku akibat pusing kepala tiada henti loleh ibuku. Sembari menahan mual danpening, dengan antusias aku membuka mata lebar-lebar, menempelkan wajah di jendela bis yang buram, berusaha melihat dengan jelas apa yang tersaji di kejauhan. Dengan takjub aku mengamati tumpukan batu-batu tua yang menjulang, membentuk bangunan megah nan bersejarah dan sakral bagi umat budha yang diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia "Candi Borobudur". Pemandangan puncak Borobudur yang dulu terlihat sekilas, tak lebih dari satu dua menit saja demikian membekas dalam ingatan. Keinginan untuk mengunjungi candi terbesar yang terletak di wilayah kabuaten Magelang tersebut terus tersimpan, menunggu saat yang tepat untuk mewujudkannya.
Dan akhirnya, keinginan untuk menapaki lorong demi lorong di setiap tingkat Borobudur pun tercapai juga. Masih dalam suasana hari raya, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan meskipun sedikit ogah-ogahan aku memenuhi kewajibanku untuk kembali bekerja. Hujan yang mengguyur sedari pagi semakin membuatku enggan untuk bertolak ke wilayah kabupaten sebelah. Namun keenggananku sedikit berkurang bahkan menjadi antusias dengan kehadiran seorang sahabat yang kini telah berubah 'status', siap menemaniku selama beberapa hari ke depan ^^. Perjalanan pun terasa menyenangkan, pemandangan yang yang sudah berulang kali kulihat terasa berbeda, udara dingin sehabis hujan terasa sejuk membuatku tak merasakan kepenatan yang sama seperti biasanya. Benar saja, ketika tiba di lokasi kerja dugaanku di awal libur pun terjadi. Meskipun sudah diumumkan dengan jelas, pada kenyataannya tak seorang pun yang hadir kembali untuk bekerja. Rupanya mereka masih sibuk dengan segla urusan di hari raya ! Bosan dengan kondisi yang tak ada kesibukan, aku pun membuat rencana mendadak untuk memenuhi keinginanku sejak lama, yang tak lain adalah mengunjungi candi Borobudur.
Sedikit cemas dengan cuaca yang telah memasuki musim penghujan, aku tentu saja berdua dengan teman setiaku memutuskan untuk berkendara menuju lokasi pariwisata yang terkenal itu. Jarak yang cukup dekat dari tempat kerja menjadi salah satu alasan penguat keputusanku untuk menghabiskan waktu sebelum mulai beraktivitas penuh. Tengah hari, sampailah aku di area candi Borobudur. Berhubung baru pertama kali, ritual rutinku pun terjadi lagi ^^. Berbekal petunjuk arah dan sedikit rasa sok tahu, aku pun akhirnya mengambil jalan memutar untuk menuju candi. Tawa renyah yang sempat terlepas sontak menjadi senyum masam ketika aku membeli tiket masuk candi. "Tak masuk di akal alias keterlaluan !", demikian pikirku. Bagaimana tidak terkejut jika aku harus mengeluarkan lembaran biru dan merah untuk membeli dua tiket masuk candi ! Gumam dan gerutu terutama dari mulutku terus mengikuti perjalanan kami sepanjang kurang lebih satu kilometer menuju candi. Yah, memang Brbudur adalah warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan, aku pun tak sayang untuk ikut menyumbang biaya perawatan melalui tiket masuk, tapi tidak setuju dengan nominal yang demikian tinggi ! Bagaimana bisa menarik keinginan wisatawan lokal untuk ikut mengagumi dan menumbuhkan rasa memiliki jika untuk melihatnya saja mesti merogoh kocek lumayan besar ! Tak heran jika sekali berkunjung menjadi yang terakhir kalinya, jika kondisi seperti itu tetap dipertahankan.
Niat refreshing sembari mengagumi kemegahan peninggalan wangsa Syailendra itu pun menjadi terganggu. Terlebih dengan banyaknya pengunjung di hari itu, semakin membuatku tak jenak menikmati keindahan candi. Pelataran candi yang luas membuatku terengah-engah sebelum mulai menapakan kaki di tangga batu pertama candi. Untunglah cuaca yang mendung membuat udara cukup dingin, demikian segar ketika aku menarik nafas dalam, mengisi paru-paru dengan udara baru untuk membentuk energi. Segala kejengkelan pun sedikit terobati ketika aku mulai masuk ke area candi. Berbeda dengan pengunjung lain yang langsung menuju tingkat paling atas candi dimana deretan stupa berjajar rapi mengelilingi stupa utama, aku memutuskan untuk berjalan memutar, mengelilingi candi pada setiap lantainya. Dengan segera aku terpesona dengan relief yang terpahat di dinding batu candi. Meskipun tak mengerti sedikitpun kisah yang tertuang dalam relief, dengan seksama kuperhatikan ukiran berbentuk tokoh-tokoh yang ada dalam kisah kuno. Kutempelkan telapak tanganku, merasakan dinginnya batu tua itu. Dan tak ketinggalan mencari tempat yang lengang namun indah untuk mengabadikan keberadaanku di sana. Ya, Borobudur memang ajaib, tak bisa kubayangkan bagaimana sulitnya untuk membuat dan mendirikan candi yang demikian besar disertai dengan ornamen yang rumit. Sayang, tangan-tangan jail merusak kesakralan candi Budha itu. Tak terhitung kepala-kepala patung yang hilang, membuat figur candi rusak dengan banyaknya patung tanpa kepala. Kapankah kesadaran untuk ikut menjaga warisan budaya akan terpatri di benak setiap orang ? Tak bisakah setia orang menahan keinginan mereka untuk berbuat hal yang bisa merusak peninggalan sejarah ? Mampukah kita untuk ikut berpartisipasi meskipun sedikit dalam melestarikan benda bersejarah ?
Puas berjalan-jalan hingga sampai di puncak Borobudur, aku pun beristirahat sejenak menghempaskan diri di bangku buatan di pelataran candi. Sembari menikmati satu-satunya bekal yang kubawa, aku pun asyik mengamati sekeliling. Tersenyum melihat tingkah 'narsis' pengunjung dengan gayanya yang aneh namun memikat dan mengundang ceria. Dan terpaku pada sosok tinggi besar berkulit putih dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya ^^. Tak lama kemudian, awan gelap semakin menyebar, membuatku harus beranjak, bersiap untuk menempuh perjalanan pulang. Meskipun lelah, meskipun dongkol pada akhirnya aku sampai juga di Borobudur.


Minggu, 26 September 2010

Sekilas Cerita di Hari Raya

Masa untuk bersantai akhirnya berakhir sudah, mau tak mau aku harus kembali bergelut dengan rutinitas yang semakin lama bukannya semakin kunikmati namun semakin terasa menyesakkan. Lima hari yang disediakan untuk 'mengecas' kembali baterai energi yang melemah, rasanya jauh dari cukup untuk memulihkan otak yang demikian penuh dengan berbagai pikiran baik pekerjaan maupun pribadi. Namanya juga libur hari raya, jatah hari libur bukannya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan, namun diisi dengan berbagai aktivitas tahunan yang umum dilakukan setiap hari raya tiba. Membersihkan dan menata kembali rumah, membuat aneka kudapan khas hari raya hingga menyiapkan bingkisan untuk tetangga, teman dan saudara menjadi agenda sehari-hari. Acara makan malam bersama sobat karib dan kegiatan berburu baju baru serta berbelanja pun menjadi selingan menarik di tengah letih badan akibat kerja keras dengan target sebelum hari raya tiba.
Sedikit muram dengan situasi, aku pun memutuskan untuk ikut mengunjungi sanak family di luar kota. Seperti yang sudah-sudah, bepergian di saat liburan sungguh amat melelahkan. Waktu terbuang di jalanan yang padat merayap. Pening akibat kepanasan dan bau menyengat di dalam kendaraan pun tak terhindarkan. Untunglah pemandangan yang terpampang di jendela cukup membuatku urung untuk terlelap. Berkat keinginan untuk menjelajah daerah baru sekaligus mencari jalan yang sepi meskipun sedikit memutar, aku pun mendapat pengalaman baru sekedar melewati daerah yang belum pernah kudatangi. Akhirnya setelah menempuh waktu yang semestinya bisa dipangkas separo jika dalam situasi normal, aku pun tiba di tempat tujuan. Lelah pun terobati ketika bersua dengan mereka yang kukasihi. Semangat untuk menjelajahi kota di waktu malam pun berkobar. Sayang, hujan lebat menghambat keinginan untuk sekedar melemaskan kaki sembari melihat-lihat deretan kios-kios menarik nan menggugah selera. Meskipun demikian malam kuhabiskan dengan riang, memuaskan keinginan untuk berwisata kuliner setelah lama tidak memanjakan lidah.
Larut malam pun menjelang, namun meskipun lelah aku tak kunjung bisa untuk beristirahat dengan tenang. Ingatan akan esok hari selalu terbayang meskipun aku memejamkan mata rapat-rapat. Setelah satu bulan lebih hanya bertemu lewat kata, akhirnya aku akan bertemu dengannya. Ah ada apa gerangan ? Bukankah sudah sedemikian sering aku menghabiskan waktu bersamanya ? Hmmm yah pikiranku terbagi antara keinginan dengan keengganan akibat rasa jengah dan was-was untuk bertemu 'pertama kalinya' setelah satu yang tersembunyi akhirnya tersingkap juga. Meskipun satu bulan terakhir aku semakin dekat dengannya, semua itu hanyalah sebatas suara dan kata-kata dalam tulisan. Tak pernah terpikir akan seperti apakah sikapku ketika harus bertemu muka.
Sengaja untuk datang terlambat aku dengan sedikit gugup berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Gerah pun seketika meyerang, bukan hanya karena gelisah yang tak kunjung reda namun juga karena harus berdesakan dengan orang-orang yang rupanya juga punya tujuanyang sama denganku. Tak sabar aku menanti laju kendaraan yang demikian lambat, berulang kali harus mengusap peluh yang mengucur meskipun pendingin udara bekerja penuh. Aku pun menarik nafas lega ketika udara dingin menerpa, aroma khas deretan rak yang dipenuhi buku-buku berbagai genre memenuhi indera penciumanku. Kegelisahanku pun sedikit berkurang karena itu, tak butuh waktu lama aku pun menyibukkan diri dengan menekuri halaman demi halaman buku cerita bergambar yang memang ingin kubaca.Setelah menghabiskan satu buku, akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Bingung dengan apa yang harus kuucapkan ketika bertemu muka, aku pun hanya melontarkan seulas senyum alih-alih mengucapkan kalimat wajib di hari raya dan kembali menundukkan kepala berpura-pura tertarik dengan bacaan di tangan ^^. Selang waktu beberapa lama, akhirnya aku berhasil menggugah keberanianku dan berusaha untuk mengobrol seperti biasa.
Rupanya tidaklah sulit untuk mencairkan kebekuan. Entah karena aku yang mencoba untuk berlaku seperti biasa atau karena banyaknya kesamaan kegemaran yang menjadikan aku dan dia tak kehabisan bahan pembicaraan. Satu hari itu pun seolah berlalu dengan cepatnya. Satu hari yang penuh kegembiraan. Hiruk pikuk di tempat-tempat yang aku dan dia kunjungi meskipun membuatku jenuh dan pening di kepala tak mengurangi keinginanku untuk memperpanjang waktuku dengannya. Sulit rasanya untuk mengakhiri kebersamaanku dengannya, begitu berat aku melepasnya turun, meninggalkanku sendirian selama lebih dari separo perjalanan nan melelahkan. Meskipun aku tahu dalam waktu dekat aku akan selalu ditemani olehnya, susah sekali untuk menahan kedua tanganku untuk tidak terus memegangya. Namun demikian, pada akhirnya aku tak membiarkan keegoisanku menang. Senyum ceria pun tersirat dalam pandanganku untuknya. Dan tak lama kemudian aku pun larut dalam alunan melodi nan menenangkan hati, menemaniku melawan emosi ketika harus terjebak dalam kondisi memprihatinkan yang selalu terjadi di jalanan setiap libur hari raya datang.

Kamis, 19 Agustus 2010

Agustusan


"Ayo nonton upacara, Pigo tampil lho", ajak teman karibku sejak sekolah dasar dulu. Yah, meskipun kami sudah lebih dari sepuluh tahun meninggalkan sekolah, kecintaan akan almamater masih tetap ada. Jadilah kami setia mengikuti perkembangan sekoah kami dan sebisa mungkin tak ketinggalan menonton penampilan junior-junior kami. Dan hari itu, ketika kami lepas sejenak dari rutinitas, meskipun matahari demikian terik tak menyurutkan antusiasmeku dan teman-temanku menonton penampilan grup marching band sekolah kami dulu.
Ada yang berbeda dengan upacara kemerdekaan RI kali ini. Dikarenakan bertepatan dengan kegiatan puasa Ramadhan, upacara yang biasanya meriah dengan warna-warni seragam drumband dari sekian banyak sekolah, kali ini sekolah yang membawa armada drumband hanya tiga saja dan salah satunya adaah almamaterku. Lahan di sekeliling lapangan tempat upacara yang biasanya ramai dengan pedagang kaki lima kini berganti dengan deretan kendaraan roda dua baik bermotor ataupun tidak. Rupanya untuk mencegah kelelahan, pasukan peserta upacara yang biasanya datang ke lokasi dengan berbaris, kali ini mereka menggunakan kendaraan. Begitu upacara selesai, peserta pun bubar dengan cepat meninggalkan lapangan yang panas menyengat.
Tahun ini Indonesia memperingati 65 tahun kemerdekaannya. Jika dilihat ke belakang, adakah kemajuan yang telah dicapai dalam setahun ini ? Meskipun beberapa bulan belakangan ini aku sudah jarang mengikuti berita seputar tanah air, peristiwa dan kasus-kasus besar dan hangat masih santer kudengar lewat media online dan tulis. Peristiwa meledaknya tabung gas, penangkapan teroris, bencana alam, wacana redenominasi rupiah, terkuaknya skandal artis, kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi mewarnai pemberitaan media massa. Wah sepertinya kok nyaris tak ada berita baik di Indonesiaku ya ? Fenomena tersebut semakin memperbesar tanda tanya dibelakang kata sudahkan bangsa ini merdeka ? Berbicara seputar merdeka atau belum, baru-baru ini aku membaca sebuah tulisan menarik di sebuah harian. Seorang bapak mengungkapkan suara hatinya di kolom surat pembaca yang garis besarnya menggarisbawahi lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pada saat refrain tertulis "di sanalah aku berdiri,jadi pandu ibuku". Bapak tersebut merasa janggal dengan kata 'disanalah' tersebut. Jika waktu lagu ini dikumandangkan pertama kalinya, kata tersebut masih wajar karena saat itu Indonesia belum merdeka, sehingga menggunakan 'disanalah' yang bermakna betapa kuatnya keinginan untuk merdeka. Namun saat ini ketika Indonesia telah merdeka, dimanakah kita berada jika mengucapkan kata 'disanalah" ? Bukankah lebih tepat jika 'di sinilah" ? Tanpa bermaksud untuk menjawab pertanyaan nan menggelitik ini, aku sedikit berpikir secara sederhana. Indonesia memang sudah merdeka secara harafiah yaitu bebas dari penjajahan. Namun jika menelusur lebih luas makna merdeka, Indonesia masih jauh dari kata ini. Yah merdeka menurutku kini bukan lagi berbicara tentang pendudukan atas bangsa lain namun lebih kepada kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Lihatlah negara kita saat ini,sudahkah rakyat sejahtera ? Jika menyimak berita seputar kemiskinan, tentu belum menjadi jawaban yang tepat. Rakyat kecil semakin kesulitan untuk hidup, sementara banyak pula yang hidup berkelimpahan. Sebuah kesenjangan yang mencolok, tak heran jika angka kriminalitas semakin meningkat. Rasa aman masih jauh didapat dengan semakin merosotnya nilai moral masyarakat. Mereka tak lagi malu untuk berbuat curang, makar maupun asusila. Tak heran aktor sekaliber Pong Harjatmo nekat memanjat gedung kura-kura demi mencoretkan tiga kata Jujur, Adil dan Tegas. Ah, kapankah Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dalam arti rakyatnya makmur dan sejahtera ? Di bawah kepemimpinan yang jujur,adil dan tegas, diwakili oleh mereka yang benar-benar menjadi suara rakyat tak hanya omong kosong di awal namun menuntut di luar kewajaran ? Semoga kata 'merdeka' segera terlaksana sehingga rasa getir ketika menyanyikan 'di sanalah' tergantikan oleh kewajiban menjunjung keotentikan semata.

Selasa, 10 Agustus 2010

2nd Trip: Dieng


Seolah memanfaatkan waktu sebelum datangnya bulan Ramadhan, mencuri waktu di sela-sela kewajiban yang memusingkan nan menjemukan, akhir pekan lalu aku dan dua orang sahabat melakukan perjalanan ke utara, mengunjungi sahabat yang telah membangun keluarga. Udara dingin menyambut ketika sampai di daerah perbukitan wilayah kabupaten Wonosobo. Meskipun lelah di perjalanan yang tak lepas dari halangan kecil namun mengulur waktu, kegembiraan membuncah ketika bersua dengan 'kakak' yang tengah menggendong putra pertamanya. Akhirnya kesampaian juga untuk melihat langsung 'keponakan' kami yang sekarang sudah besar dan sehat.
Selagi berada di Wonosobo, kami pun memanfaatkan waktu untuk mengunjungi dataran tinggi Dieng, tempat wisata utama di wilayah ini. Terhitung untuk ketiga kalinya aku mengunjungi dataran tinggi Dieng. Namun demikian kunjungan terakhir ini begitu berkesan sekaligus memuaskan. Tempat wisata yang dulu begitu sepi dan gersang, sulitnya transportasi untuk mengunjugi tiga lokasi yang berjauhan, cuaca yang tak mendukung membuatku dulu tak bisa menikmati indahnya panorama alami Dieng. Telaga warna menjadi tempat kunjungan pertama kami. Berbarengan dengan rombongan turisan dan lokal, aku turut menikmati suasana hutan yang basah dan dingin itu. Meskipun sedikit kecewa dengan istiah warna yang ternyata hanya memunculkan satu warna hijau, secara keseluruhan waktu yang kuhabiskan di sekitar telaga ini demikian menyenangkan. Enggan rasanya meninggalkan aroma pepohonan berlumut dengan udara dingin nan menyegarkan. Perjalanan pun berlanjut ke lokasi kawah, daerah yang gersang dan berbau menyengat ini cukup menarik untuk dikunjungi. Menyaksikan gelegak air mendidih dengan bau belerang yang menguar semakin menambah terik cahaya matahari yang menyengat meskipun udara terasa dingin. Kawah yang dulu sepi kini ramai oleh pengunjung dan pedagang oleh-oleh yang menjajakan berbagai macam makanan khas Dieng. Deretan candi yang masih satu jalur di kawasan kawah Dieng menjadi sasaran berikutnya. Meskipun kalah spektakuler baik dari segi arsitektur maupun sejarah jika dibandingkan dengan candi-candi lain di Jawa Tengah, kumpulan candi Arjuna tersebut ditata secara apik oleh pengelola setepat sehingga menarik untuk dijadikan obyek fotografi amatir. Pohon-pohon cemara berjajar rapi, mengelilingi pelataran candi yang lumayan luas. Bunga terompet ukuran maksi berwarna kuning cerah semakin menambah keindahan jalan setapak menuju candi, membuatku seolah-olah berada di negara empat musim. Belum habis keinginan untuk bersantai, waktu pula yang mengharuskanku untuk kembali menuruni jalan berputar yang menyajikan pemandangan spektakuler. Demikianlah, saatnya untuk kembali ke rutinitas, dengan semangat baru yang siap untuk dihadapkan dengan satu dua masalah (mungkin si ^^). Pastinya aku akan menantikan persinggahanku ke tempat berikutnya.


Rabu, 04 Agustus 2010

Damainya Hatiku


"Numpang lahir doang", demikian jawaban setengah nyeleneh dariku ketika orang bertanya mengenai sesuatu yang aku tak tahu seputar daerah tempat tinggalku. Tak bisa disangkal meskipun sedikit memalukan, aku yang notabene anak lokal nyatanya hanya sedikit sekali mengetahui tentang wilayah Gombong dan sekitarnya. Tak heran orang-orang di sekitarku selalu menertawaiku ketika dengan jujur aku mengatakan belum pernah sekalipun mampir ke wisata pantai Suwuk yang berjarak kurang lebih setengah jam berkendaraan menuju arah selatan Gombong. Hal yang bisa terbilang tak wajar mengingat pantai Suwuk saat ini menjadi satu obyek wisata paling diminati di wilayah Gombong. Bukan hanya panorama khas pantai selatan, namun berbagai even besar seperti festival layang-layang dan juga lokasi strategis untuk mereka yang hobi memancing menjadikan pantai Suwuk semakin ramai dikunjungi tidak hanya di hari libur namun juga hari-hari biasa.
Akhirnya setelah berkali-kali gagal kesempatan untuk mengunjungi pantai Suwuk datang. Untuk pertama kalinya aku mendatangi pantai di balik obyek wisata Karang Bolong tersebut. Memanfaatkan waktu kosong di akhir minggu, aku dengan semangat meninggalkan rutinitas kerja lebih awal. Bersamaan dengan tergelincirnya matahari, aku dan sahabat kentalku menghabiskan satu jam menjelang malam di tepi pantai Suwuk. Meskipun fenomena 'sunset' tak bisa disaksikan di sini, kami dihadiahi pemandangan cukup spektakuler. Cahaya kuning berpendar di antara gundukan bukit hijau di sebelah barat muara pantai, tiupan angin kencang tak mengurangi asyiknya menikmati udara segar berbau asin khas lautan. Menghempaskan diri di atas bebatuan pemecah ombak yang tertata rapi, mendengarkan alunan musik instrumental nan menenangkan membuatku semakin hanyut akan indahnya suasana damai di tepi pantai. Tak puas-puasnya mata ini menikmati deburan ombak bergulung susul menyusul hingga terpecah di batas pantai dan kembali lagi ke tengah lautan. Jenuh dan ketidaknyamanan dalam suasana kerja sedikit berkurang, berkat celoteh ringan selama kurang lebih satu jam berpadu dengan keheningan penuh kedamaian ditemani denting piano yang memang salah satu jenis musik favoritku.
Ah begitu enggan aku beranjak dari sini. Namun waktu mengharuskan aku untuk pulang, meninggalkan pantai yang mulai gelap dan sunyi. Demikianlah  untuk menyegarkan diri tak perlu lah untuk jauh-jauh. Meskipun tak seberapa luas dan belum bisa dikatakan sebuah kota, tempat tinggalku ternyata menyimpan potensi wisata alam yang cukup menjanjikan. Pemandangan air di selatan dan utara Gombong mulai kini menjadi tempat idealku untuk memulihkan diri, memompa semangat untuk bisa kembali terjun ke dunia yang hingga kini belum bisa kulalui dengan nyaman. Thank's a lot for  my friend, keberadaanmu  semakin menyempurnakan kala yang tepat untuk memulihkan damai di hatiku. 

Senin, 19 Juli 2010

Back

Kabar gembira menghampiriku lagi. Selain mendapati status terbarunya muncul di akun FB ku, akhirnya setelah satu bulan dua minggu The Doctor absen dari race setelah kecelakaan fatal di Mugello, lebih awal dari vonis tim medis Rossi bisa kembali tampil balapan. Meskipun cedera masih belum sembuh benar, jalan pun masih terpincang-pincang The Doctor memuai balapan pertamanya di sirkuit Jerman. Meskipun dari awal aku tak mengharapkan performa yang istimewa mengingat kondisinya, aku sangat menantikan race kai ini. Sempat khawatir tak bisa melihat penampilan pertama The Doctor setelah absen lama karena ada urusan yang tak bisa ditinggalkan, akhirnya jadi juga aku mendampingi (ceileeehhh.... ) The Doctor sejak start. Dan pekik kekaguman tak henti-hentinya mengalir dariku. Mulai dari posisi lima, The Doctor menunjukkan kepiawaiannya sebagai pembalap dengan mempecundangi lawan-lawannya. Jiwa pembalap yang agaknya demikian mendarah daging tidak menyurutkannya untuk bersaing memperebutkan podium dengan kondisi yang bisa tampil seluruh race pun sudah amat sangat bagus. Meskipun akhirnya harus kalah di tikungan terakhir, salut dan pujian terus menghujani The Doctor. Perjuangannya untuk terus menampilkan performa terbaik demikian sulit ditandingi pembalap lainnya. Tak bisa diungkiri "Race tanpa The Doctor tidaklah menarik"

Minggu, 18 Juli 2010

Weird

"Menurut sahabat I, cinta adalah guna-guna tanpa akhir, yang tidak berbanding lurus dengan waktu. Mungkin karena itulah, guna-guna nyata yang menghampiri di depan mata tak pernah disadarinya ehehe"

Petikan kalimat dari tulisan sahabat yang aktif menulis itu sontak membuatku tertawa. Sebuah kesimpulan dari ceritaku yang baru-baru kutulis di blog pribadiku ini. Benarkah bagiku cinta ibarat guna-guna tanpa akhir, dalam artian tak lekang oleh waktu ? Jika kugali kembali kenanganku selama ini, mungkin sebaris kalimat itu benar adanya. Meskipun berkali-kali aku terpesona pada lawan jenis, jika dipikir lebih lanjut semua itu tak lebih dari kekaguman sesaat saja. Buah dari kebersamaan yang dengan mudah menyesatkan rasa nyaman menjadi sesuatu yang lebih. Namun jika waktu berlalu ataupun frekuensi kedekatan semakin menurun, simpati yang salah arti pun memudar dan kadang hilang begitu saja. Dan ketika aku berjumpa lagi dengan orang itu yang sempat kukira istimewa, getaran aneh yang dulu ada saat dekat dengannya tak lagi muncul. Hanya kasih sayang antar teman dan saudaralah yang keluar dariku. Mata dan pikiran yang dulu tertutup kabut cinta semu akhirnya terbuka lebar sehingga aku bisa memandang seseorang sesuai porsinya.
Pengalaman yang tak hanya datang sekali itu mungkin menunjukkan betapa mudahnya aku mengagumi seseorang, bersimpati dengan segala kelebihannya dan merangkai gambaran ideal dalam pikiran yang tentu dibumbui sendiri oleh khayalanku yang sedikit banyak terpengaruh oleh jenis bacaanku ^^. Namun pada kenyataannya hingga kini hanya satu nama yang tak pernah hilang dan selalu kucari keberadaannya. Sosok impian yang tak pernah pudar dengan berlalunya waktu, membutakanku akan keberadaan satu yang baru. "Karena kau tidak mengenalnya, jadi kau masih penasaran ", demikian kata sahabat S. Benarkah ? yah untuk yang terakhir mungkin karena aku tak pernah mengenal dirinya, sehingga yang terbayang di mataku hanya sosoknya dengan pribadi yang disesuaikan dengan keinginanku. Tapi bagaimana dengan yang pertama ? Bertahun-tahun aku mengenalnya, tahu semua kebaikan dan keburukannya. Dan itu semua makin membuatku terjerat olehnya dan sosoknya masih bercokol di hatiku. " Just open your heart ", demikian nasehat dari sahabatku yang lain (K) ketika aku bercerita betapa bodohnya diriku yang selalu menunggunya.
"Kau mungkin lebih edan dariku ", tulis sahabatku dan tak lupa menyertakan ikon smile. Hmm...gilakah jika aku terus memikirkan orang itu ? Entahlah, yang jelas aku tak merasakah itu sebuah kesalahan karena aku tak menyakiti siapapun kecuali diriku sendiri dan aku pun menikmatinya. Meskipun tak jarang aku terpuruk, perasaan itu selalu mendampingku setiap harinya dan selalu membuatku tersenyum dalam mimpi sekalipun. Bagaimanapun benar kata sahabatku, aku tak bisa terus setia pada dia yang tak ada. Dan mulai harus menyadari guna-guna yang ada di depan mata ^^. Uhmm kapankah guna-guna itu datang ? Aku tak sabar untuk menghilangkan kebodohan ini.

Rabu, 14 Juli 2010

Broken

"Dia OL tuh !", sebaris kalimat di luar topik muncul ketika aku dan seorang teman tengah berbagi saran. Spontan aku mencari nama yang terdiri dari dua kata tersebut di antara sekian nama yang tengah online di situs jejaring Facebook. Dan betapa terkejutnya aku ketika tidak menemukan nama itu. "Mana ?!!!", teriakku dalam kata. " Itu.....!!!", jawab teman yang kutanya. Sekali lagi kutelusuri deretan nama-nama dan sekali lagi aku tak bisa menemukan nama itu. Detik itu juga beribu tanya muncul dalam benakku mengikuti sekilas perih yang menusuk hatiku. Mengapa dan mengapa hanya itu yang kutanyakan, dan hingga kini pun aku tak bisa menemukan jawaban. Kegembiraanku ketika membaca status terbarunya saat itu harus menguap digantikan dengan kekecewaan atau lebih tepatnya sakit hati ketika mengetahui namaku telah hilang.
Kilasan beberapa tahun yang lalu pun terbayang satu persatu, membuatku tak bisa memejamkan mata malam itu. Pertemuan pertama yang biasa saja bahkan nyaris tak berkesan, hingga suatu ketika getaran aneh merasukiku ketika menyadari tatapan matanya yang terarah padaku. Dan sejak itu, perasaan yang istimewa tentang dia semakin bertambah di hatiku seiring dengan semakin seringnya beradu pandang yang ternyata baru ku sadari sekarang bahwa itu bukanlah suatu kebetulan. Aneh memang, bahkan aku sendiri tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Yang kutahu hanyalah setiap kali aku menyadari kehadirannya, detak jantungku semakin cepat. Rona merah yang dengan lihai kusembunyikan dari teman-temanku muncul dari wajahku ketika kami saling memandang meski dari kejauhan. Kebahagiaan absurd ketika hari itu aku mengenakan baju dengan warna yang sama dengannya dan menganggapnya sebagai suatu kebetulan romantis. Kegilaanku untuk menggali informasi tentang dirinya yang untunglah didukung sepenuhnya oleh sahabatku. Kekecewaan berujung tangisanku ketika mendapatkannya tengah merajut kasih dengan yang lain. Sungguh suatu kejadian di luar logika mengingat aku dan dia tak pernah saling mengenal apalagi bertegur sapa, namun jalinan berlatar simpati berujung kasih mengikatku dengan erat. Tak heran ketika aku membaca namanya di daftar mahasiswa yang kan segera meninggalkan kampus, seketika air mataku meleleh, menyadari bahwa tak lama lagi aku tak bisa melihatnya lagi. Tak kan lagi menunggu kedatangannya dengan gelisah, tak ada lagi pandangan-pandangan singkat ketika kami berpapasan, tak bisa lagi menantikan sosoknya yang anggun berjalan dengan menenteng tas di pundak menaiki tangga, menyusuri jalan sempit menuju gedung tua yang sejuk.
Dan kini setelah sekian lama berlalu, dan aku menemukan kembali sosoknya meski hanya sebatas dunia maya, perasaan itu kembali datang. Masih kuingat jemariku bergetar ketika memutuskan untuk mengirimkan permintaan pertemanan. Kehangatan mengingat kenangan indah masa lalu tak berkurang meskipun aku tahu dia sudah terikat dengan orang lain. Harapanku hanyalah aku bisa menjalin pertemanan dengannya sekarang, setelah dulu aku dan dia tak pernah saling mengenal. Dan kini harapan itu harus kandas,hanya dengan sebuah gerakan kecil tangan menekan tombol. Mengapa dia melakukan itu padaku ? Bukankah aku tak pernah menyapanya ? Bukankah aku tak pernah mengenalnya ? Apa alasannya mengacuhkanku dan menerima yang lain ? Siapakah yang bisa memberi jawaban ?
"Mungkin dia tahu ",demikian kata temanku. Benarkah dia tahu ? Andaikan dia tahu mengapa tidak sejak awal mengacuhkanku. " Yah karena kau menusuk hatinya ", jawab temanku. Oh andaikan dari dulu aku tahu, bahwa aku menusuk hatinya bukanlah hanya khayalanku semata, pasti aku akan berusaha mengejarnya. Seandainya aku mempercayai firasatku, andai aku berani untuk memulai mungkin cerita akan lain. Namun rupanya aku dan dia tidak tersurat untuk cerita yang lain. Meskipun demikian aku tak menyesal telah mengenalnya, karena jika boleh mengutip sebuah syair lagu bahwa cinta tak akan pernah salah. Fiuhhhh....penyesalan memang selalu datang terlambat. Saat ini aku tak ingin lagi mengulang kesalahanku untuk yang kesekian kalinya. Andaikan suatu hari nanti aku menemukan kembali sosok seperti dirinya, beranikah aku untuk mengejarnya ? Adakah seseorang yang akan datang untuk mengisi ruang hatiku yang kini kosong? Yang jelas aku tak mau lagi memenuhi anganku dengan harapan semu, betapa aku menginginkan sebuah jawaban yang pasti.


Selasa, 13 Juli 2010

Touring Tahap Satu






"Ada tanggal merah hari Sabtu", satu kalimat dari ketikan tangan berlabel "gkwee" mencetuskan ide spontan untuk berlibur bersama. Tak dinyana gagasan yang semula terlihat mentah dan sulit dilakukan itu semakin serius dibahas anggota kelompok yang menamakan diri "Bala Kurawa" (alasan di balik nama tersebut bisa dikonfirmasi ke ''Si Mbah" ^^). Beberapa kali mengadakan konferensi via aplikasi YM, lahirlah sebuah keputusan bertajuk bertemu kembali sobat lama dengan efek samping wisata kuliner yang mengambil lokasi kota di Jawa Barat tersebut. Berhubung saat ini personel Bala Kurawa terpencar-pencar cukup jauh, jadilah Cirebon, kota kelahiran sekaligus kediaman personel Puri Diajeng yang demikian menggemari 'manga' seperti dedengkot Bala Kurawa dan turut bergabung dengan kelompok ini sejak menemukan hobby sama, yang notabene berada di titik tengah posisi anggota kelompok lainnya dipilih sebagai tempat untuk reuni kecil-kecilan ini. Kebetulan pula tak seorang pun dari kami pernah lebih dari mampir di stasiun Cirebon jika menggunakan jasa kereta api untuk berpergian melintasi batas propinsi. Ajakan untuk bergabung dalam acara wisata kuliner di Cirebon inipun segera disebar, sebisa mungkin mengumpulkan kesediaan teman-teman lama untuk ikut berkumpul selama dua hari dua malam di Cirebon.
Mendekati hari H, konferensi pun semakin sering digelar. Dipandu oleh sang tuan rumah 'Kyonkichi_soma", agenda selama dua hari di Cirebon pun dirancang. Sebisa mungkin memanfaatkan waktu yang hanya sebentar untuk bisa berkeliling Cirebon, mengunjungi loksi wisata dan kebudayaan setempat dan tak lupa mencicipi kuliner khas Cirebon yang santer terdengar. Rencana yang demikian matang mulai dari transport, daftar kunjungan lokasi yang tak boleh dilewatkan hingga item buah tangan yang wajib dibawa nyaris saja berantakan seminggu sebelum tanggal keberangkatan. Lampu hijau di akhir bulan Juni sempat berubah kuning menjelang detik-detik tanggal sepuluh Juli. Beruntung satu dua hal yang riskan membatalkan keikutsertaan masing-masing personel berhasil diatasi. Dan meskipun terjegal masalah transportasi yang demikian padat gara-gara bertepatan dengan berakhirnya masa liburan, kami bertujuh tiba sesuai jadwal urutan keberangkatan dari lokasi masing-masing.
Hari Senin, empat hari sebelum tanggal 9, aku yang semula ragu untuk ikut gara-gara masalah teknis di pekerjaan akhirnya nekat untuk berangkat dengan segala resiko. Sayang, kepastian dari yang lain tak datang bersamaan dengan keputusanku. Wahasil tiket kereta pun melayang, membuat aku dan teman-temanku pontang-panting membuat rencana B untuk mencapai Cirebon. Kamis, sehari sebelum waktu dimulainya petualangan bersama membuatku gelisah sepanjang waktu. Membaca historical romance, mendengarkan musik klasik tak mampu membuatku terlelap, kegiatan mengumpukan tenaga yang wajib dilakukan agar siap menempuh perjalanan jauh dan berkeliling di kota yang lumayan besar itu. Hari Jumat yang serasa lama datangnya pun membuatku tak jenak mengerjakan tugas rutin sebelum absen sehari dari pekerjaan. Dan akhirnya tiba saatnya untuk berangkat. Bersama sobat lama semenjak ABG, aku merangsek ke kereta Sawunggalih malam, rela membayar lebih demi mendapatkan dua bangku kosong di gerbong restorasi. Keterlambatan jadwal kereta yang menjadi agenda wajib di Indonesia membuatku 'bad mood', kelelahan harus duduk dua jam lebih lama di bangku tak bersandaran dari yang seharusnya. Untunglah dua jam pertama kami habiskan dengan bercanda dengan petugas kereta api tambun yang ramah dan lucu itu. Sisanya kami habiskan dengan menyandarkan punggung di dinding kereta, menikmati alunan lagu dari perangkat masing-masing tak henti-hentinya melirik hp yang menunjukkan lokasi yang sedang dilalui. Dini hari kereta pun sampai juga di stasiun Cirebon. Kantuk yang semula ganas menyerang seketika lenyap, digantikan tawa lebar melihat Kyon dan Sasuke yang duduk meringkuk dengan tampang lelah menunggu kedatangan kereta kami ^^. Tanpa menunggu lebih lama, kami berempat pun berjalan kaki menuju tempat menginap selama dua hari di Cirebon. Jalanan yang sepi membuatku leluasa untuk menikmati pemandangan malam pertama di kota ini. Antusiasme akan dua hari yang menyenangkan pun mengusir kelelahanku. Berjumpa lagi dengan Gkwee setelah setahun tidak bertemu muka, bisa mencubit langsung pipi tembem si Kyon menjadi puncak kegembiraanku di kota ini. "Kamu jadi manja waktu ketemu Gus Dur", demikian komentar Desi sahabatku sejak sekolah dasar. Yah, Gus Dur panggilan unik ala Bala Kurawa kepada seorang anggotanya yang terkenal ramai memang menjadi sasaran utamaku untuk ikut travelling kali ini. Geregetan gara-gara lebaran kemarin tidak sempat ketemu, membuatku nekat untuk mangkir dari pekerjaan dengan sederet alasan klasik yang bisa diterima ^^. Betapa kangennya aku mendengar gelak tawanya yang menggelegar, dan kami pun tak peduli mengganggu tidur anggota lain yang sudah tiba lebih dulu dengan cekikikan dan celotehan tak jelas alurnya.

Keesokan harinya, meski mata masih belum bisa terbuka lebar, aku menyiapkan diri untuk berkeliling kota Cirebon. Klenteng menjadi tujuan pertama kami atau lebih tepatnya tujuan khusus ku dan Si Mbah Kaka yang entah kenapa begitu menggandrungi arsitektur klenteng, tempat beribadah warga keturunan itu. Sayang, seseorang yang agak tidak waras menjadi penjaga gerbang yang dengan entengnya meminta sedekah untuk membeli lintingan tembakau. Dengan hati dongkol kami pun mengalihkan tujuan pertama ke bangunan tua yang menurut Kyon adalah sebuah pabrik rokok zaman dulu. Bangunan cukup besar itu pun menjadi sasaran pertama untuk memuaskan narsis yang selalu muncul jika mengunjungi tempat asing yang menarik. Usai mengabadikan beberapa gambar sebagai tanda bahwa kami pernah disana, kami bertujuh melanjutkan perjalanan menuju keraton Kanoman. Ya Cirebon merupakan wilayah tepat Sunan Gunung Jati menyebarkan ajarannya sekaligus membangun dinasti kerajaan Islam yang kini terbagi menjadi tiga kasultanan yaitu Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan.
Menempuh perjalanan menuju keraton, memberi kesan tersendiri di pikiranku. Membelah kerumunan orang di pasar Kanoman yang terletak di depan keraton yang kami tuju, tak terhitung berapa kali kami didekati oleh kaum peminta-minta. Ternyata benar juga kata Ibuku " Disana banyak pengemis". Semula aku kurang begitu percaya, masa iya sebuah kota yang baru saja mendapat gelar Adipura itu dipenuhi peminta sedekah yang mengganggu kenyamanan wisatawan. Dan kini setelah mengalami sendiri, barulah aku bisa berkomentar. Betapa sayangnya sebuah kota bersejarah harus dinodai oleh sekelompok kaum papa yang demikin gigih mengejar sekeping koin atawa selembar uang kertas untuk menyambung hidup. Dimanakah peran pemerintah setempat yang seharusnya melaksanakan pasal 34 ayat 1 UUD 45 ? Gambaran akan keraton yang kubayangkan selama ini ternyata jauh berbeda dengan apa yang terpapar disana. Keraton yang notabene istana para raja dalam bayanganku adalah sebuah bangunan tua nan megah. Lebih-lebih karena aku pernah mengunjungi keraton lain di wilayah istimewa yang kental dengan aroma darah biru nan agung, membuatku tercengang ketika menapaki gerbang keraton Kanoman. Bangunan yang kurang terawat, tembok yang meninggalkan lubang bekas artefak kuno yang hilang dicungkil oknum tak bertanggung jawab, koleksi pusaka yang berdebu dan terlihat tak tersentuh alat kebersihan membuatku miris. Betapa masyarakat setempat kurang menghargai sejarah yang menjadi akar budaya salah satu wilayah Indonesia ini. Keadaan menjadi lebih baik, ketika kami berpindah ke keraton Kasepuhan. Keraton terbesar yang ditandai dengan bangunan bata merah tersebut lumayan terawat baik. Adanya abdi dalem keraton yang bertugas sebagai 'guide' membawa pengunjung berkeliling keraton, menjelaskan riwayat setiap bangunan dan benda-benda peninggalan yang ada. Namun sekali lagi, kami harus terganggu dengan banyaknya kotak-kotak amal yang disediakan di setiap bangunan yang kami kunjungi ! Bahkan ada lebih dari dua kotak amal dalam satu bangunan. Bukannya kami tidak mau untuk sekedar memberikan sumbangan untuk membantu biya perawatan, namun desakan oleh penjaga gedung untuk meninggalkan 'saweran' seikhlasnya membuat kenyamanan kami dengan pelajaran singkat tentang Cirebon terganggu. Siapakah yang berhak melakukan pembenahan di bidang ini ? Mengapa tidak segera diambil tindakan bijak untuk meningkatkan pengunjung di lokasi wisata sejarah potensia ini ?
Tak terasa hari pun berlalu dan dengan segera berganti malam. Kaki terasa pegal setelah seharian berjalan, dan perut kenyang usai mencicipi berbagai kuliner khas Cirebon nan menggugah selera. Malam pun dilalui dengan kembali bercengkerama di kamar hotel yang ditempati bersama. Bangun di tengah malam untuk menyaksikan perebutan tempat ketiga. Mendengar dengkur lelah mereka yang tidur dengan lelap, tak peduli akan teriakan 'goal' dari mulut Kyon. Walhasil, bangun kesiangan pun tak terhindarkan ^^. Minggu yang cerah kami habiskan untuk berburu buah tangan ala Cirebon. Menguras kantong dengan begitu cepatnya kalau tidak ingat untuk sedikit mengerem keinginan mengingat bulan ini masih panjang ^^. Dan waktu pun bergerak cepat, tiba saatnya kami harus berpisah,kembali ke rutinitas masing-masing. Meskipun masih kurang puas berkumpul lagi dengan Bala Kurawa, aku dan juga yang lain harus kembali ke kewajiban masing-masing. Dua hari menyenangkan itu akan selalu membekas di hatiku. Dan kami pun bersiap menyusun rencana touring berikutnya, menjadi penjelajah tanah air dengan sobat-sobat kental. Membahagiakan diri dengan berpetualang bersama. Sebuah gagasan indah dan bermanfaat untuk menyegarkan hati dan pikiran.









Senin, 28 Juni 2010

Berburu



Terdesak oleh jadwal produksi sementara kondisi bahan baku yang ada di luar ketentuan, jadilah beberapa hari belakangan ini aku menghabiskan waktu berkeliling pedesaan mencari lokasi peternakan ayam petelur. Berhubung tidak ada informasi yang jelas mengenai titik lokasi yang pasti, walhasil aku dan temanku sibuk berputar-putar melintasi jalan yang membelah pegunungan selatan. Berbekal keyakinan bahwa kandang biasanya terletak jauh dari pemukiman, aku perlahan-lahan memacu kendaraan roda dua, sembari menajamkan mata menyimak ke kanan-kiri jalan mencoba menemukan bangunan serupa kandang ayam. Satu kali menemukan sebuah peternakan lumayan besar,namun aku harus menelan kecewa ketika mendapati kandang di tepi laut itu kosong melompong. Melanjutkan perjalanan ke arah tmur, kembali aku menemukan sebuah peternakan. Namun lagi-lagi aku harus kecewa karena ayam yang dipelihara bukanlah ayam petelur yang artinya tidakbisa digunakan. Perjalanan pun berlanjut terus ke arah timur, begitu bersemangatnya mencari kandang, hingga tanpa sadar aku sampai di ujung jalan. Betapa kagetnya aku ketika melihat sebuah bukit menjulang di hadapan dengan balih besar bertuliskan Makam Keramat Imogiri. Terbagi antara keinginan untuk mampir dan posisi matahari yang sudah tergelincir ke arah barat, aku pun akhirnya berbalik arah. Mencoba menyusuri jalan menanjak menuju bukit sesuai petunjuk arah di persimpangan. Meskipun tanpa hasil pemandangan spektakuler yang tersaji khas nuansa pegunungan yang masih alami membuatku terpesona. Udara yang sejuk dan segar membuatku berhenti untuk sesaat sekedar menarik napas dalam dan mengabadikan keindahan lanskap dari puncak bukit.
Perburuan kandang ayam pun dilanjutkan pada hari berikutnya. Menggunakan waktu libur yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengistirahatkan badan yang sudah terasa remuk, didampingi oleh sahabat aku menjelajahi kawasan wisata Baturaden. Lagi-lagi aku disuguhi pemandangan ala pegunungan yang indah. Sebuah ironi mengingat selama empat tahun aku berdiam di kaki gunung terbesar di Jawa Tengah itu namun sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di wilayah tersebut ^^. Meskipun lelah dan pegal-pegal akibat berjam-jam duduk di atas motor, kali ini aku berhasil mendapatkan apa yang menjadi tujuanku berburu. Dan waktu yang tersisa pun kumanfaatkan untuk mendapatkan tujuan sampinganku alias wisata kuliner ^^. Menyantap masakan favorit semasa kuliah dulu, menghirup aroma buku-baku baru yang terpajang di rak, mencoba gurihnya penganan yang memang sebanding dengan aromanya. Meskipun ada satu hasrat yang gagal terpenuhi gara-gara insiden kecil, hari itu kulalui dengan senyum puas.


Lagi-lagi Kasus Moral

Heboh video mesum yang ditengarai pelakunya sebagai Ariel-Luna-Cut Tari semakin memuncak. Meskipun sudah dalam hitungan minggu kasus ini mencuat, berita seputar ketiga artis tersebut beserta dampak sosialnya masih merajai infotainment dan hampir setiap saat muncul di headline media cetak maupun televisi. Pemberitaan besar-besaran lengkap dari pro kontra hingga cuplikan video semakin memperbesar animo masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan kasus tersebut.
Sebuah skandal mesum yang bisa dikatakan menjadi skandal besar pertama di Indonesia ini begitu populer hingga beritanya pun tayang di media luar negeri. Apa yang menyebabkan kasus ini laksana bola salju yang terus membesar dengan timbulnya demo ormas yang berujung mendekamnya Ariel dengan status sebagai tahanan ? Kembali lagi ke masalah pemberitaan yang terasa dilebih-lebihkan. Beredarnya video yang berisi adegan syur warga lokal bahkan bukan baru kali ini saja terjadi. Banyak kasus-kasus serupa yang menimpa Ariel terjadi sebelumnya namun waktu itu kegemparan yang terjadi di masyarakat hanya sekejap dan dengan cepat tergusur oleh skandal lain yang lebih mengejutkan. Nah berhubung kali ini, pelaku adegan dalam video melibatkan artis ternama yang demikian dipuja penggemarnya, pemberitaan pun digeber semaksimal mungkin. Api pun semakin membesar, berbagai dampak negatif yang diklaim sebagai akibat beredarnya video ini terus merebak. Tak urung demonstrasi yang menuntut agar pelaku video dihukum sesuai dengan UU Pornografi dan pornoaksi (tidak tahu apakah sudah disahkan atau belum) hingga wacana hukuman rajam digulirkan.
Tanpa menuding atau pun melakukan pembelaan terhadap pelaku. Kasus ini rasanya semakin dibesar-besarkan saja, seolah tak ada hal lain yang lebih penting untuk segera ditangani pihak yang berwajib. Kurang tepat rasanya jika kasus ini dikaim sebagai faktor penyebab merosotnya moral dan menjadi ancaman serius akan moral generasi muda. Bagaimana tidak, pangkal penyebab dampak negatif dari beredarnya video mesum ini apalagi kau bukan dari pemberitaan yang berlebihan. Tak sedikit pula tayangan-tayangan yang justru menimbulkan penasaran publik sehingga keinginan untuk melihat keseluruhan video mesum tersebut alih-alih menahan diri untuk tidak 'mengintip' aktivitas pribadi seseorang. Bukan rahasia lagi jika masyarakat Indonesia yang menjunjung budaya timur telah berubah arah mengacu gaya hidup bebas meskipun masih sembunyi-sembunyi. Jauh sebelum kasus ini mencuat berbagai survey menyatakan bahwa masyarakat bahkan remaja Indonesia sudah terjangkiti pergaulan bebas ala 'barat'. Frekuensi perselingkuhan, perzinahan dan tindakan asusila lainnya semakin meningkat. Hukum seolah-olah tak memberi efek jera, ulasan kriminal secara lengkap justru mendorong kalau tidak bisa dikatakan mengilhami seseorang untuk berbuat tidak benar. Siapa yang harus disalahkan ketika kondisi sudah demikian parah ? Daripada menyalahkan atau menghujat seseorang, lebih baik membenahi pendidikan sejak dini. Penjelasan akan norma maupun etika hidup perlu diperkenalkan dan ditekankan agar terbentuk pemikiran yang bersih pada generasi muda. Terlepas apakah Ariel-Luna_Cut Tari perlu dijebloskan dalam penjara atau tidak, fungsi mereka sebaga publik figur membuat ketiganya sudah terhukum oleh sanksi masyarakat yang justru lebih memberi efek jera. Pembenahan dankejelasan akan status hukum mengenai UU Pornografi dan Pornoaksi perlu segera untuk ditindaklanjuti sehingga jika terjadi lagi kasus serupa, payung hukum bisa ditegakkan dengan pada tempatnya

Minggu, 13 Juni 2010

Time to Africa

Euforia perhelatan akbar empat tahunan kembali mencuat. Penggila bola sejati maupun kambuhan spontan larut dalam kemeriahan pesta sepakbola sedunia yang kali ini diselenggarakan di bumi Afrika. Prediksi dan analisa peta kekuatan sontak menjadi artikel utama di harian olah raga. Tak ketinggalan berita-berita seputar bintang-bintang lapangan hijau yang akan saling bersaing membela negara masing-masing terus diburu para penggemar.
Tak ketinggalan dengan diriku. Meskipun bukan termasuk golongan penggemar berat sepakbola, sejak lebih dari sepuluh tahun lalu, aku tak pernah absen menyaksikan ajang bergengsi dunia sepak bola sedunia ini. Tak heran jauh-jauh hari aku sudah merasa panik dengan kondisiku sekarang yang tidak memungkinkan untuk mengikuti partai demi partai yang digelar secara langsung di dua stasiun televisi swasta tersebut. Satu dua rencana demi menyaksikan secara live di televisi pun disusun dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan tepat di hari pesta pembukaan, aku dengan percaya diri memutuskan untuk tidak pulang dengan pertimbangan laga kurang menarik di partai pembuka, dan berdasarkan pengalaman Piala Dunia sebelumnya, kemeriahan upacara pembukaan jarang sekali direlay oleh stasiun televisi yang memperoleh hak siar.
Tak dinyana aku yang sedang asyik tenggelam dalam bacaan terusik dengan datangnya pesan singkat berisi kegirangan teman-teman yang menyaksikan berbagai atraksi khas Afrika di pesta pembukaan. Spontan aku terkejut, sekaligus jengkel gara-gara tidak bisa ikut bergembira. Walhasil adat jelekku alias ngambek dan marah-marah pun tak bisa dibendung (buat my best friend maaf ya !). Saking inginnya menyaksikan opening party World Cup 2010 aku pun nekat keluar dari rumah sementara dan menghabiskan waktu semalam suntuk nongkrong di warung langganan (buat Ibu n Bapak trims atas tumpangannya ^^).
Lagi-lagi kekecewaan kembali terjadi di setiap perhelatan akbar ini. Bukan karena pembukaan beserta partai pembuka yang kurang meriah namun lebih karena sajian yang diberikan oleh stasiun televisi yang bersangkutan ! Kegirangan di awal karena kali ini penggemar sepak bola di Indonesia bisa mengikuti pesta pembukaan menguap dalam satu jam ke depan. Yah, entah karena alasan apa pesta pembukaan hanya disiarkan selama satu jam, dan selebihnya penonton disuguhi dengan musik anak band sembari menunggu jadwal partai pembuka dimulai. Walhasil berbagai umpatan dan cela pun menjadi topik utama status di Facebook. "Mana Shakira ? Mana Waka waka nya ? Kok cuma satu jam ? Ngapain liat band lokal ? ", demikian sedikit dari sekian banyak keuh kesah akibat ketidakpuasan penggemar bola akan kebijaksanaan yang diterapkan televisi pemegang hak siar.
Bagaimanapun, masih untung para penggemar bola bisa menyaksikan satu demi satu pertandingan secara langsung. Dan kekecewaan akibat hanya menyaksikan separuh grand opening terobati dengan sajian pertandingan masing-masing grup yang menjanjikan. Spanyol, Argentina, Brasil atau Belanda kah yang menjadi kandidat kuat juara dunia ? Munculnya kuda hitam dari Asia yang semakin menyemarakkan kompetisi sekaligus meningkatkan rasa kebersamaan sesama Asia. World Cup atawa Piala Dunia menjadi satu momen yang ditunggu-tunggu penggemar bola di seluruh dunia. Dengan sepakbola, segala masalah untuk sementara terpinggirkan, larut dalam euforia kulit bundar. Lihat saja dua negara Korea Selatan dan Korea Utara yang sedang berseteru, keakraban antar pemain masing-masing negara justru terjalin di ruang ganti tanpa memandang suhu politik yang memanas di kedua negara. Demikianlah aku yang notabene tidak termasuk maniak sepakbola, rela memforsir tenaga menempuh perjalanan jauh setiap harinya demi bisa menyaksikan setiap pertandingan hingga mencapai puncaknya pada tanggal 11 Juli mendatang. Meskipun bintang favoritku Il Capitano Alessandro Nesta pensiun dari tim Azzuri, aku tak sedikitpun merasa enggan untuk memasang mata dengan secangkir kopi sebagai penyangga.

Mugello: Rumah Tak Bertuan


Walaupun sudah seminggu berlalu, tidak ada kata terlambat bagiku untuk menuliskan ini. Setelah dua musim bersorak sorai merayakan penampilan gemilang pembalap favoritku, tahun ini aku harus menahan kecewa dengan kepastian akan gelar juara yang terlepas. Penampilan sempurna di race pembuka musim ini ternyata bukanlah awal dari sederet podium pertama untuk memperoleh poin penuh. Penampilan di luar kebiasaan The Doctor yang selalu menampilkan balapan menarik dan penuh ketegangan pada race berikutnya membuatku bertanya-tanya. Ada apa dengan rider no 46 ini ? Usut punya usut setting motor yang belum sempurna menjadi alasan utama. The Doctor tak mau menggunakan cedera bahunya akibat kecelakaan saat latihan motocross di awal tahun sebagai alasan penyebab kegagalannya meraih tempat pertama.
Dan akhirnya sampailah race di negeri The Doctor, negeri impianku ^^. Kegairahan akan penantian race yang menjanjikan membuatku tak sabar menunggu berlalunya waktu. Optimisme membuncah ketika membaca pernyataan yang bersangkutan akan persiapannya demi memenangi podium di tanah kelahirannya. Seperti yang sudah-sudah, aku terus memantau hasil latihan bebas melalui situs resmi motoGP. Betapa terkejutnya aku ketika melihat nama Valentino Rossi tidak ada di daftar peringkat hasil kualifikasi ! Dengan segera aku mencari informasi dan air mataku pun tumpah ketika mengetahui kecelakaan yang menimpa The Doctor. Hampa rasanya jika race tanpa The Doctor. Semangat untuk mendukung duel seketika hilang. Kekecewaan semakin berlipat karena hilang sudah melihat Rossi merebut kembali gelar Raja Mugello. Sakit rasanya melihat The Doctor dalam usungan, melihat ekspresi kesedihannya, dan hilang sudah animo untuk musim ini setelah pernyataan resmi mengenai absennya The Doctor kurang lebih lima bulan ke depan untuk pemulihan. Ahh, semoga musim berikutnya The Doctor tetap setangguh biasanya, karena tanpanya serasa ada jiwa yang hilang.

Minggu, 30 Mei 2010

Nice day




Kurang lebih pukul dua dini hari, aku dibangunkan oleh dering hp menandakan masuknya sebuah pesan singkat. Dengan mata setengah terpejam, aku meraih hp yang selalu ada di dekatku, seketika aku sepenuhnya sadar begitu membaca pesan singkat tersebut. Ya, ucapan selamat hari lahir pertama yang kuperoleh di tahun ini dari sahabatku yang demikian kurindukan gara-gara beberapa kali melewatkan kesempatan untuk bertemu. Uhmm.....satu tahun lagi usiaku bertambah (atau berkurang ya ?!). Tidak seperti tahun lalu, kali ini aku sudah jauh hari merancang sebuah ajang kumpul-kumpul ala reuni kecil sahabat-sahabat lamaku untuk sekedar turut meramaikan hari jadiku. Satu, dua, tiga dan empat sohib karibku sejak kecil menyanggupi untuk ikut kongkow di tempat nongkrong satu-satunya yang ada di kota kecil tempat kami tinggal. Dan aku pun tak sabar menghitung hari kepulanganku kali ini.
Demikianlah, dua jam pertama di hari kelahiranku, aku tersenyum membaca kalimat khas sobat karib semasa kuliah. Pagi hari kulewatkan dengan menyimak ucapan selamat yang datang di wahana jejaring sosial, sibuk membalas pesan berisi doa di hari jadiku di penghujung usia dua puluhan ini, tertawa girang ketika memperoleh mms 'shikamaru menari" dari imoto-chan , membuatku kangen untuk bercengkerama dengannya seperti dulu. Tak lupa aku lebih dulu memuaskan kegemaranku bernyanyi di hari spesial ini dengan memutar lagu-lagu favoritku dari berbagai bahasa.
Dan siang pun menjelang, penuh semangat aku beranjak menuju tempat berkumpul sementara. Ahh...serasa kembali ke waktu sekolah menengah dulu. Gelak tawa dan celoteh tak ada habisnya mengisi tiga jam bersama sembari menyantap sajian yang terasa nikmat dengan aroma persahabatan dan bumbu kebersamaan. Begitu cepat waktu berlalu, tak ingin rasanya aku melepaskan hari itu untuk hari-hari berikutnya. Begitu banyak doa, canda, tawa terlontar. Tak ada kata selain terima kasih ku untuk semua sahabat yang telah mendukungku selama ini.

Wo pheng you, xie-xie ni men. Wo cen te cen te hen kai sin ing wei ni men. Yung yen pu wang jin tien. Ming nian xi wang neng kan cien ni men.

Jumat, 21 Mei 2010

Nge-Lab

Akhirnya setelah kurang lebih satu tahun aku tidak menjamah peralatan macam tabung reaksi, pipet, beker glass dan alat-alat laboratorium lainnya, saat ini aku kembali berurusan dengan alat dan bahan kimia. Namun semua itu bukanlah bagian dari kegiatan belajar mengajar yang dulu selalu rutin kusisipkan di tengah banyaknya teorema, melainkan menjadi sebagian dari tugasku saat ini yang jauh dari kata 'mengajar'. Kembali memasuki ruangan khusus dengan berbagai peralatan rawan pecah, menghirup aroma khas macam-macam bahan kimia membawa angin segar untuk mengurangi jenuh dan beban dari pekerjaanku kali ini. Sebuah tugas sampingan tanpa bayar yang dengan senang hati kulakukan meskipun harus menyelesaikannnya di luar jam kerja. Meskipun aku bukanlah orang yang terampil dan teliti dalam melakukan apa yang dulu biasa disebut dengan praktikum, kali ini aku berusaha memaksimalkan kemampuanku berbekal sedikit pengalaman sewaktu sekolah dan mengajar dulu. Lambat laun rasa kaku, takut dan sembrono akibat lama tidak berkutat dengan bahan kimia yang cukup riskan berhasil kuatasi. Tanpa canggung aku melakukan analisis C organik dan N organik baik pada bahan baku maupun produk jadi yang menjadi syarat utama untuk bisa dipasarkan. Aku pun mulai terbiasa menggunakan alat-alat meski masih harus mengulang beberapa kali ^_^ BAu menyengat, panas di kulit karena terciprat asam sulfat, gatal gara-gara terpercik basa kuat menjadi peristiwa rutin tiap hari. Di balik itu semua, kesibukan dalam laboratorium meskipun monoton setiap harinya tetap saja menjadi obat pusing lumayan manjur di tengah peliknya persoalan sebuah perusahaan manufaktur yang seolah tak ada habisnya.

Selasa, 04 Mei 2010

Parah

Lebih dari satu bulan sudah aku menghabiskan kurang lebih empat jam terbanting-banting di atas kendaraan bermotor roda dua. Situasi memaksaku untuk mengeluarkan tenaga ekstra ketika menjalankan kegiatanku sekarang. Jadilah tiap hari aku menempuh kurang lebih dua jam dari rumah menuju lokasi kerja dan sebaliknya. Pengalaman yang tak mengenakkan jika mengingat penderitaan ketika harus berlomba dengan waktu dan konsentrasi untuk sedikit mengurangi efek pegal-pegal ><. Tak salah rupanya sekian banyak keluh kesah masyarakat yang tertulis di media cetak maupun liputan televisi mengenai kondisi jalan yang bisa dikatakan rusak parah. Jangankan jalanan di pedesaan yang jauh dari jangkuan tangan pemerintah daerah, jalan antar kota yang notabene menjadi jalan utama perlintasan kendaraan antar kota pun tak luput dari kerusakan mulai dari ringan hingga parah. Lihat saja jalan yang harus kulewati setiap hari sepanjang Gombong menuju Purworejo, tak terhitung berapa bagian jalan yang membuatku harus ekstra hati-hati. Permukaan yang tak rata alias bergelombang menjadikan pemakai kendaraan terutama roda dua amat sangat tak nyaman. Aku sendiri sempat merasa heran, ketika mendapati kondisi jalan yang melesak di tepi kanan dan kiri, belum lagi lubang-lubang menganga mulai dari diameter kecil yang sulit dihindari karena terlambat melihat hingga lubang berdiameter besar yang membahayakan. Aku pun setuju-setuju saja dengan perbuatan masyarakat yang menanam pohon pisang di tengah lubang ^^. Yang lebih membuatku heran, perbaikan jalan lebih bersifat darurat dalam artian hanya menambal bagian-bagian tertentu jalan yang dianggap rusak. Jadilah permukaan jalan semakin tidak rata di sana-sini akibat sempalan-sempalan aspal kualitas di bawah jalan sebenarnya. Adakah perhatian dari pihak yang berwenang untuk menyikapi buruknya fasilitas umum yang seharusnya bisa dimaksimalkan ? Bukankah sudah kewajiban mereka untuk meningkatkan pelayanan publik ? Apalagi dengan digembar-gemborkannya wajib pajak 'apa kata dunia', sudah seharusnya terjadi timbal balik antara keduanya. Jangan hanya menyibukkan diri dengan urusan intern yang tak berkesudahan, mulailah untuk berpaling ke arah publik yang gencar beraspirasi namun masih sedikit yang ditanggapi. Salut untuk pemerintah Kebumen yang baru-baru ini melapisi ulang secara total jalan lingkar selatan (meski belum semua bagian ), menjadikanku dan pengguna jalan lain merasa nyaman dalam perjalanan untuk beberapa saat bebas dari lonjakan,maupun terpental akibat kendaraan yang dinaiki melibas jalanan tak rata.

Kamis, 22 April 2010

Transformasi

"Berubah drastis jadi semakin feminin" demikian bisik-bisik antar teman yang pada akhirnya sampai juga di telingaku. Aku sendiri heran mendengar selentingan seputar diriku yang menurutku sangat bertentangan dengan kepribadianku. Segala kasak-kusuk tentang munculnya sisi femininku yang membuat beberapa orang terheran-heran berawal dari keterkejutan seorang teman melihat dandananku di sebuah acara resepsi pernikahan. Yah kuakui belakangan ini aku lebih memperhatikan penampilan untuk acara tertentu. Terdorong oleh keinginan untuk menyesuaikan diri dengan sebuah acara khususnya resepsi pernikahan, aku dan sahabat karibku jauh-jauh hari sebelum hari 'h' selalu ribet dengan masalah kado dan tak ketinggalan penampilan. Memakai baju apa, dikombinasikan dengan sepatu dan pernak-pernik apa menjadi agenda kami yang dipersiapkan masak-masak demi satu dua jam acara. Dan jadilah aku dan sahabatku tampil beda, dari kebiasaan berpakaian ala preman (alias santai) menjadi lebih rapi. Perubahan penampilan di luar kebiasaan inilah yang membuat beberapa rekanku terkejut. Hingga komentar menjadi lebih feminin pun terlontar dengan transformasiku ini.
Benarkah aku sekarang lebih feminin ? Hmmm aku sama sekali tidak merasa aneh dengan perubahanku ini. Selain hanya terjadi di waktu tertentu, aku merasa wajar-wajar saja jika berpenampilan lebih pada sebuah acara yang menuntut hal tersebut. Sekedar berpakaian model maxi atau mini, memakai highheel dan riasan tipis di muka tidak membuat seseorang menjadi feminin. Aku sendiri tidak tahu benar apa yang disebut dengan feminin. Jika boleh mengutip kalimat di wikipedia, feminin yang berasal dari bahasa prancis feminine adalah sebuah kata sifat yang berarti kewanitaan atau menunjukkan sifat perempuan seperti kelembutan, kebaikan, kesabaran dan lain-lain. Dari definisi tersebut, aku masih jauh dari feminin ^^ Biarpun dibungkus dengan gaya perempuan sejati, namun tetap saja sifat dasar yang cenderung serampangan masih muncul ke permukaan ^^.
Bagaimanapun aku tetap berterima kasih kepada teman-teman yang telah memperhatikan dan memberi komentar positif selama ini. Dan yah inilah aku yang sekarang lebih mampu mengkondisikan diri sesuai dengan situasi.

Minggu, 11 April 2010

Gresik : Sabar Menanti



Belum usai penat di badan akibat terlalu memforsir tenaga untuk menjauh sejenak dari masalah, tak disangka aku harus kembali berkelana. Berawal dari turunnya perintah untuk menyusul tiga orang rekan yang sudah lebih dulu berangkat, tanpa sempat bersiap-siap ataupun merasa takut karena harus berkunjung ke daerah yang belum pernah kudatangi, dengan sedikit uang di tangan aku membulatkan tekat untuk berangkat ke sebuah kota industri di ujung timur pulau Jawa. Informasi yang datang terlambat membuatku merasa khawatir dengan sukses tidaknya perjalananku kali ini. Bimbang, takut dan gelisah ditambah rasa lapar dan haus karena belum sempat mengisi perut memenuhi pikiranku semenjak duduk manis di bangku kereta Pasundan jurusan Bandung-Surabaya. Untunglah orang-orang di sekelilingku demikian ramah, mungkin karena berasal dari satu daerah dengan tempat asalku. Aku pun menghabiskan lima jam pertama menuju Surabaya dengan berceloteh bersama satu keluarga yang ramah itu. Ketakutan akan harus bermalam di stasiun terakhir kota Surabaya pun menghilang untuk sesaat.
Namun pada akhirnya dengan senyum kecut aku pun harus mengantar kepergian keluarga itu turun di stasiun Watu kukuh, masih terpaut jarak lumayan jauh dari tempat tujuanku. Menginjak wilayah JAwa Timur yang baru kali ini aku lalui, aku pun menghabiskan waktu untuk bersistirahat memejamkan mata. MAklumlah jalur kereta api tidak menyajikan pemandangan yang bisa kunikmati di sepanjang perjalanan. Tepat tengah malam, kereta pun tiba di stasiun Semut, pemberhentian terakhir kereta Pasundan di Surabaya. Dengan cekatan aku meloncat turun dari kereta (meskipun ada hal di luar dugaan ^^), terburu-buru mengikuti seorang remaja asal Tasikmalaya yang hendak menuju MAdura dengan siapa aku meneruskan obrolanku setelah keluarga asal KEbumen itu turun. Tiba di stasiun, aku pun menarik nafas lega. Rupanya banyak orang-orang yang sepertiku di sana. Tanpa ragu ataupun malu, aku pun merebahkan diri di sebuah bangku panjang, melemaskan otot sembari menunggu pagi tiba.
Belum satu jam aku terlelap, aku mendadak terbangun di tengah sorak-sorai orang di sekelilingku. Ada apa gerangan ? Owh rupanya dini hari itu ada siaran langsung liga Champion antara MU versus Bayern Muenchen. Tak bisa tidur lagi, aku pun ikut duduk menatap terpaku pada layar kaca 21 inchi yang terletak cukup jauh dari jarak pandangku. Subuh pun tiba, aku pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Aku sendiri masih bingung kemana aku harus berjalan, lagi-lagi bantuan datang, seorang petugas stasiun yang baik hati memberiku petunjuk, menyarankanku agar menunggu matahari lebih tinggi lagi untuk berangkat. Walhasil kami pun duduk di pojok, mengobrol santai mengawasi lalu lalang orang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kurang lebih dua jam kami ngobrol ngalor ngidul hingga waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Penuh terima kasih aku pun berpamitan, dengan setengah hati harus menolak tawaran petugas untuk mengantarkanku ke kota sebelah. Penuh percaya diri aku melangkah sesuai petunjuk cowok hitam manis itu, menoleh ke kanan kiri mengagumi keindahan gedung-gedung tua yang megah. Setengah jam kemudian sampailah aku di kota Gresik, kota kecil namun besar di bawah nama Semen Gresik dan Petrokimia Gresik.
Sabar menanti, itulah julukan tepat yang dilontarkan seorang rekanku berdasarkan pengalaman tiga hari di Gresik. Dari awal keberangkatanku ke Gresik, menunggu menunggu dan menunggu menjadi agenda utamaku. Bermula dari menunggu jemputan yang membuatku nampak seperti Bolang alias Bocah ilang di pertigaan kawasan Petrokimia, dilanjutkan dengan menunggu tutor yang mestinya mengajar aku dan rekanku melakukan analisis kimia pada sampel, menunggu jatah makan siang yang tak kunjung datang sementara perut kami sudah berkeruyuk minta diisi, menunggu untuk diantar ke tempat persistirahatan hingga harus menunggu jemputan untuk kembali ke lokasi pelatihan. Hufttt, amat sangat tidak profesional demikian pikirku mengenai seputar pelatihan. Aku yang dulu terbiasa dengan perencanaan matang sebelum melakukan sebuah pekerjaan yang butuh ketelitian dan akurat, hanya bisa tercengang dan geleng-geleng kepala melihat hambatan-demi hambatan yang mengahalangi jalannya pelatihan. Peralatan yang belum lengkap, kemikalia yang tidak ada, tanpa buku petunjuk hingga tutor yang tiba-tiba hilang ingatan membuatku terkena penyakit 'bete' dan berkali-kali menahan kuap agar terlihat sopan.
Namun di sela-sela ketidaksabaran, aku sedikit menikmati dua malam di Gresik. Damai dan tenang menyelimutiku, membuat nafsu makanku yang dua minggu terakhir ini bisa dikatakan tidak ada kembali memuncak. Seorang diri di hotel megah di kawasan tengah Gresik membuat keinginanku untuk menjelajah muncul. Aku pun dengan cueknya menyusuri jalanan di sekitar hotel, sibuk memilih makanan apa yang akan kucicipi malam itu ^^. Krengseng, nasi krawu dan rawon itulah sedikit dari sekian makanan khas Jawa timur yang sempat kucoba. Sayang waktu tak memungkinkan aku untuk berkeliling berburu oleh-oleh khas Gresik untuk dibagikan ke keluarga dan teman-temanku.
Sabar menanti, kata ini terus mengikutiku hingga tiba waktunya untuk pulang. Jenuh dengan ketidakpastian, aku dan rekanku akhirnya nekat untuk meninggalkan Gresik memburu waktu agar bisa sampai di rumah secepat mungkin. Karena ketinggalan kereta, aku pun harus menahan diri di tengah sesaknya bus ekonomi yang memuat penumpang sebanyak-banyaknya. Akhir minggu rupanya menjadi waktu serentak para pekerja di Surabaya untuk pulang ke tempat masing-masing. Aroma campur aduk dan desakan tubuh-tubuh kuyu membuatku muak. Namun lagi-lagi sabar menjadi kata panutan untukku. Yah, meskipun harus menutup hidung menahan serangan asap rokok, mataku tak tahan untuk melahap pemandangan yang terpapar di kaca depan bus. Kota demi kota di JAwa Timur kulalui, meskipun tidak seluruhnya cukuplah jika aku pernah mengenal sekaligus melewatinya. Pemandangan spektakuler di malam hari, ditambah dengan tangan yang sibuk memencet keypad untuk mengobrol via sms membuatku kuat menahan kantuk hingga tengah malam. Dua jam menjelang subuh, sampailah aku di rumah yang kurindukan. Kembali bergelung di peraduanku yang selalu membuatku nyaman dan tertidur pulas.

Sabtu, 10 April 2010

Kabur




Memasuki bulan keempat di tahun ini, sedikit angin segar mulai berhembus namun tak cukup mengurangi beban yang terus menggelayut di pikiranku. Beruntung seorang teman terdampar di lokasi yang relatif sama, bersama-sama kami menghabiskan waktu mengunjungi berbagai tempat dimana aku bisa melepaskan diri dari segala macam masalah pelik untuk sejenak.
Laut selalu menjadi tempat favoritku sejak dulu. Duduk di atas pasir di tepi pantai, memandang sejauh mungkin ke arah laut yang seolah tak berujung, menikmati kicauan burung yang melayang-layang rendah di atas air, terpesona pada debur ombak yang tak putus-putus, membuatku terpesona dan betah berlama-lama hanya untuk merenung di pinggir laut. Pantai Glagah, untuk pertama kali aku menapaki butiran pasir di tempat wisata tersebut. Biarpun ini untuk pertama kali, namun rasanya aku tak merasa asing. Pantai pasir yang gersang dan panas mengingatkanku akan pantai di bagian selatan lainnya yang nyaris sama. Sayang trauma akan peristiwa masa lalu membuatku takut untuk bermain-main dengan ombak, walhasil aku pun harus puas dengan duduk manis menikmati matahari yang turun perlahan menjemput malam.

Usai mengeksplorasi pantai di wilayah baru, kami melanjutkan mengunjungi daerah dengan ketinggian yang jauh berbeda. Meskipun lelah di badan, sekali lagi aku berhasil menjauh dari rutinitas, menikmati karya alam yang meski telah kesekian kalinya aku kunjungi, namun kali ini terasa lebih berkesan. Rupanya sekian lama aku tak menjejakkan kaki disini, gua alam yang menjadi obyek wisata potensial di daerahku ini mengalami sedikit perubahan. Tenda-tenda penjaja makanan dan souvenir makin marak, rapat berjejer di sepanjang jalan menuju mulut gua. Suasana makin ramai dengan alunan musik tradisional yang dilantunkan oleh sekelompok orang setempat. Anak-anak kecil bertelanjang dada, ribut berceloteh menarik pengunjung untuk melemparkan koin ke dalam kolam buatan. Harum aneka gorengan dan masakan khas setempat menguar, membuatku dengan segera merasa lapar tak sabar untuk mencicipi 'mendoan' yang memang makanan kesukaanku. Satu demi satu aku melewati anak-anak tangga yang menuju ke mulut gua. Entah berapa jumlahnya, aku tak sempat menghitung, sibuk mengatur nafas dan tenaga untuk menjalani 'ujian pertama' sebelum diperbolehkan menikmati keindahan gua Jatijajar. Lelah pun terbayar ketika sampai di dalam gua. Udara dingin dan bau apak menyambut ketika masuk ke dalam. Tetesan air menitik teratur di antara stalaktit-stalaktit yang seolah diatur sedemikian rupa agar tampak menarik. Setelah memuaskan sifat narsis yang mendadak kambuh ^^, kami pun turun menuju kedalaman gua. Menyempatkan diri untuk menjalani mitos setempat (siapa tahu manjur ^^), membasuh tangan dan menciprati patung perempuan yang berendam di tengah sendang. Dan perjalanan menyusuri gua pun berakhir, menyisakan penat yang harus dibayar dengan istirahat sejenak. Menyantap hidangan hangat dengan segelas minuman dingin, mencuri-curi kesempatan untuk mengabadikan sosok manis yang tak sengaja ditemukan dalam keremangan gua ^^.
Ahh, tak terasa waktu berlalu demikian cepat. Belum puas rasanya untuk bersantai, malas sekali untuk kembali ke aktifitas yang menjemukan. Namun tugas telah menanti, mau tak mau aku harus segera kembali.
Kini ketika mengingat hari itu, ingin rasanya aku mengulanginya. Sebuah keputusan mendadak tanpa pikir panjang gara-gara rasa jengkel memang bukan pertama kali ini kulakukan. Yah, akibat kesal bukan bukan kepalang dengan seseorang yang membuatku frustasi, aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjungi salah satu kota favoritku. Waktu yang menjelang senja, tak mengurungkan niatku untuk kembali kabur, memuaskan diri dengan aktifitas favoritku di tengah tumpukan buku-buku yang menggunung. Keasyikan berburu buku yang nantinya bakal menjadi koleksiku, membuatku semakin merasa bebas dari penat. Lelah akibat belum sempat bersistirahat, tak menahanku untuk menyusuri lorong-lorong tempat yang selalu kukunjungi ketika aku berada di kota gudeg ini. Aku pun semakin beretambah riang dengan kedatangan kawan lama yang selalu siap untuk diajak bersenang-senang. Memuaskan keinginan untuk mencicipi makanan yang sudah dari dulu ingin kucoba. Meskipun isi kantong terkuras dengan cepat, semua itu tak membuatku berhenti untuk terus menjelajah mencari kepuasan akan kegemaranku. Rencana pun bergeser dari semula, apalagi kalau bukan karena dua setan kecil itu ^^ Demikianlah hari-hari yang berlalu begitu cepat dan melelahkan. Namun membawa kesejukan yang telah lama kurindukan.
To all my dear friends..... thank you so much. Anytime we must spend like this again.

Kamis, 01 April 2010

Pengalaman Pertama

Terhitung genap dua minggu aku berdomisili di lokasi baru, daerah terpencil meski dilalui jalur utama selatan. Untuk pertama kalinya aku mengadu nasib jauh dari kota kecil namun sangat kusukai yang menjadi tempat tinggalku bersama kedua orang tuaku. Disinilah, di sebuah desa di kawasan kecamatan Bagelen, Purworejo, aku mengemban tanggung jawab baru, terjun ke bidang baru tanpa persiapan matang. Di tengah kebingungan akan tugas yang menanti, aku pun memberanikan diri untuk segera melaksanakan tugasku yang baru di tempat ini. Satu dua hari berlalu hingga genap empat belas hari berlalu, tak terkira banyaknya masalah yang harus kuhadapi sekaligus harus kuselesaikan dengan bijaksana dan tepat. Ahhhh.....berat sekali beban yang kutanggung hingga kini. Ketika aku masih meraba-raba dan belajar, sementara aku tak berpengalaman, aku dipaksa untuk menyelesaikan segala hal tanpa ada bantuan yang signifikan.
Pusing, gelisah, pikiran tak bisa tenang terus menerus mengganggu hari-hariku sejak mendengar kabar kepindahanku ke sini. Meskipun orang bilang, pengalaman adalah guru yang terbaik bagiku pengalaman kali ini benar-benar hal yang membuatku merasa pahit hingga timbul keinginan untuk menghilang. Aku semakin menyadari jika ini bukanlah bidang yang kukuasai dan kuinginkan. Tak ada rasa menikmati sedikitpun pada tugasku kali ini. Membuatku lelah lahir batin, setelah berusaha hingga batas akhir kemampuanku yang tak seberapa ini.
Entah harus bagaimana lagi aku menjalani hari-hari ke depan. Aku pun terpikir hal-hal begatif akan kelangsungan tugasku ini. Bagaimana tidak, jika hal yang tidak siap dipaksa untuk siap. Aku yang berperan layaknya jembatan penghubung pun dibuat semakin pusing dengan kemauan dua kepala yang berbeda. Koordinasi di lapangan yang tak kondusif semakin memperparah tekanan yang kuhadapi. Lingkungan yang terus-menerus menekan semakin membuatku sesak. Meski air mata meleleh, walau semua ganjalan tertumpah semua itu tak kunjung mengurangi beban berat yang kusangga. Andaikan waktu bisa kuulang kembali, begitu inginnya aku meralat keputusanku. Begitu besar harapanku untuk keluar dari masalah ini, dan kembali ke duniaku yang indah di tengah kawan-kawan kecilku yang polos, nakal namun menyegarkan. Saat ini kucoba untuk bertahan, menguji batas kemampuanku berusaha untuk mendapatkan sedikit hembusan angin segar demi masa depan. Semoga dengan pengalaman ini aku bisa belajar untuk maju, menguasai hal baru, mampu menyelesaikan hambatan dengan tepat dan cepat, tak lupa menjadi pribadi yang lebih sabar,kuat dan tabah.