Tampilkan postingan dengan label all about book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label all about book. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2013

Komik # Child

"Wes gedhe kok jik seneng kartun, payah " komentarnya dengan menggelegar, membuat wajah-wajah yang semula sibuk dengan pekerjaan masing-masing berpaling menatapku. Ugh...sontak emosiku melonjak ( akhir-akhir ini aku memang cepat sekali tersinggung), dan kalimat bernada tinggi pun terlontar dariku. Komentar nyinyir tentang hobiku yang satu itu memang sering kudengar sejak aku beranjak dewasa. Biasanya komentar semacam itu muncul dari mereka yang asing dengan komik, kartun, gambar colek, manga atau apapun istilah untuk cerita bergambar yang mengisi sebagian besar rak bukuku. Aku yang enggan berdebat pun hanya tersenyum menanggapi, tak mau membuang energi menjelaskan hal yang tak mau mereka mengerti. Meskipun demikian, semakin lama kuterima komentar nyinyir tersebut rasa dongkol yang selalu kusimpan akhirnya meluap juga. Entah berapa kali aku menulis tentang dunia komik, menjelaskan perkembangan komik yang telah bergeser dari bacaan anak-anak menjadi bacaan universal sesuai dengan genre dan rating. Sayangnya, sebagian dari mereka yang awam dengan komik tak mau mengikuti perkembangan meskipun hanya sekedar tahu tanpa harus menjadikan membaca komik sebagai hobi. Tetap berpegang pada wawasan sempit dan pengetahuan yang cetek tersebut dijadikan senjata untuk berkomentar yang baik sengaja atau tidak telah menyinggung orang lain. Apesnya (^_^) sekarang ini aku berada di lingkungan yang personelnya tergolong awam dengan komik. Jangankan komik, sekedar toko buku lengkap pun tak ada di tempatku sekarang ini. Budaya membaca rupanya masih jauh dari kebiasaan sehari-hari mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tak heran jika kolegaku masih menganggap bahwa komik adalah bacaan anak-anak, dan orang dewasa yang membaca komik dianggap tak wajar dan cenderung ditertawakan. Okelah kalau begitu, hanya saja aku berharap mereka bisa melihat situasi ketika berkomentar, mempelajari dulu sebelum menertawakan orang di depan umum. Aku sangat berterimakasih pada mereka yang melihat isi bacaanku dan mengangguk-angguk maklum meskipun mungkin dalam hati merasa aneh dengan hobiku ini namun tak sampai ikut-ikutan berkomentar nyinyir. Yups, aku mengakui sejak mulai bisa mengeja huruf, aku menjadikan membaca sebagai hobi. Dan aku menjatuhkan pilihan pada komik sebagai salah satu bacaan favoritku. Doraemon, adalah komik pertama yang kubaca ketika aku pertama kali mendaftar sebagai anggota taman bacaan Mutiara Hitam (ups kangen dengan MH, sayang sekarang sudah tutup tergilas dengan arus game online). Sebagai anak sekolah dasar, aku terpesona dengan berbagai benda yang keluar dari kantung ajaib Doraemon. Sebagai seorang anak yang membaca tanpa didampingi orang dewasa, saat itu aku hanya menikmati komik sebagai hiburan di sela-sela kesibukan belajar. Aku selalu larut dalam cerita komik yang kubaca yang waktu itu komik masih terbatas pada cerita anak-anak dan remaja. Terhanyut dan bermimpi menjadi balerina seperti Mari Chan, tergelak dan mendambakan bertemu dengan pangeran seperti Pansy, bercita-cita menjadi ahli Wushu seperti Kenji dan Chinmi si Kungfu Boy dari Kuil Dairin. Seiring dengan bertambahnya usiaku, komik pun mengalami perkembangan dalam plot, karakter dan teknik gambar. Saat ini komik (terutama komik Jepang) telah berkembang pesat dan telah diterima dunia sebagai bacaan dewasa. Aku belajar tentang sebuah penerimaan dan pemahaman akan penderitaan dalam Fruit Basket, mengerti makna persahabatan sejati dari Luffy Si Topi Jerami, Nakki dan geng anak badung yang terjut indah dalam Popcorn, mengerti bahwa anak-anak pun bisa bijaksana dalam konteksnya yang tercermin dalam diri Sana (Kodocha Child's Play), belajar berpikir secara filosofi dari karya-karya Akemi Yoshimura Sensei, menggali informasi dari detektif anak-anak Conan, Kindaichi, Qyu, mengenal dunia olahraga dari Harlem Beat, Prince of Tennis dan karya-karya Adachi Mitsuru, membaca sejarah lewat C.M.B, Rose of Versailles, Cesare, Eroica, Samurai X, belajar dunia kedokteran lewat Dr Koto, Godhand Teru, Wild Life, semakin mencintai musik dengan Nodame, Piano Hutan, Diva, menyayangi keluarga seperti Baby And I dan jika jenuh dengan rutinitas cukup membalik lembar demi lembar dan tertawa-tawa bersama Kobo Chan dan Kariage Kun ataupun ikut dalam petualangan seru Kyo, Beelzebub dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya dalam dunia fantasi yang penuh warna. Meskipun akhir-akhir ini judul yang kubaca semakin sedikit, kesukaanku akan komik tak jua berkurang. Aku hanya berharap jika mereka mau memahami, andaikan tidak pun tak perlulah untuk mentertawakan, menghakimi bahwa komik sama dengan anak kecil.

Selasa, 15 Januari 2013

Dunia Kecil

Sejak meledaknya tetralogi Laskar Pelangi yang notabene novel motivasi bagi anak-anak dan remaja, akhir-akhir ini marak bermunculan novel-novel bergenre serupa dari penulis-penulis anak negeri. Salah satunya adalah Dunia kecil : Mimpi Hidup di Mata Si Kecil karya Yoyon Indra Joni. Sekilas kubaca sinopsis yang tertera di cover belakang buku ini, dan kurasa cukup menjanjikan petualangan seru, hingga aku tak segan-segan merogoh kocek untuk menambahkan buku ini sebagai koleksi baruku. 
Sederhana, satu kata ini mewakili sekian banyak kesanku ketika selesai membaca buku ini. Berlawanan dengan cerita Laskar Pelangi yang demikian heroik melalui tokoh Lintang si jenius bernasib malang, tokoh-tokoh dalam novel hidup di dunia anak-anak sebagaimana wajarnya anak-anak menghabiskan masa kecilnya. Semua tokoh yang disebutkan dengan nama panggilan seperti Ijap, Isap, Igun dan masih banyak lagi itu menjalani hari-hari di sekolah dasar dengan kenakalan-kenakalan khas anak-anak di pelosok yang jauh dari hingar bingar modernisasi perkotaan. Perkelahian yang diawali saling mengejek, mengganti angka di rapor saking inginnya mendapat angka keramat 8, membuat gaduh kelas, dan kenakalan lain yang diganjar dengan harus mengulang di kelas yang sama nyaris dialami seluruh tokoh dalam novel ini.
Aku dibuat terkikik sepanjang waktu membaca bab-bab yang menceritakan keseharian anak-anak tersebut. Persaingan di kelas yang pada akhirnya membentuk ahli bahasa, ahli IPA, ahli musik, ahli IPS, ahli gambar ini meresahkan si tokoh utama yang terjebak di tengah-tengah akibat setelah sekian lama belum juga menemukan bakatnya. Tapi jangan mengira ahli-ahli disini bak Lintang yang dengan fasih membahas dalil-dalil fisika tingkat universitas, anak-anak disini menjadi ahli di  bidangnya sebatas pengetahuan wajar anak SD. Ahli bahasa misalnya, menjadi kaya kosakata lengkap dengan kata serapan akibat kegemaran mereka akan akronim sehingga dengan rajin membaca koran, majalah, buku untuk mencari akronim baru. Ahli musik mengetahui macam-macam lagu nasional lengkap dengan pencipta dan sejarah di baliknya karena berusaha untuk mendapat pujian dari guru kelas yang tiap hari menyuruh anak menyanyikan lagu nasional di depan kelas. Ahli IPS bermula dari kegemarannya menggambar peta sehingga berlanjut dengan mempelajari daerah-daerah yang digambarnya.
Tokoh-tokoh disini menjalani keseharian dengan wajar, berpegang pada norma agama dan adat istiadat, patuh pada bapak ibu guru dan orang tua di rumah. Keseharian yang demikian berbeda dengan kondisi anak-anak sekarang. Hampir serupa dengan Laskar Pelangi, nasib anak-anak di Dunia Kecil ini terbentur dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Meskipun terkendala biaya, tokoh-tokoh di dunia kecil ini bisa beradaptasi, dan menjalani hidup dengan ceria, dan bersemangat menimba ilmu. Tak ada kejadian yang laur biasa di novel ini. Hari-hari dijalani dengan wajar, bangun sebelum subuh, sekolah, bermain, membantu orang tua, belajar, dan istirahat demikian berulang hingga semua lulus sekolah dasar. Meskipun demikian banyak pelajaran yang bisa dipetik dari novel ini. Kesederhanaan berpikir anak-anak desa, kepolosan dan ketaatan akan nasehat orang tua dan guru demikian kental sehingga novel ini menyadarkan betapa pudarnya disiplin, semangat dan sopan santun saat ini. Sebuah novel yang bukan hanya sekedar bercerita tentang masa kecil, namun juga memberikan contoh perilaku yang terpuji dan perilaku yang tidak seharusnya dilakukan

Senin, 15 Oktober 2012

Inheritance : Warisan terakhir

Trilogi yang berubah menjadi tetralogi ini sebenarnya sudah lama diterbitkan dan terjemahannya pun sudah lama beredar di toko buku terbesar yang cabangnya tersebar di seluruh Indonesia. Meskipun demikian baru sebulan lalu aku sempat merampungkan membaca sekuel terakhir petualangan Eragon tersebut. Keterlambatan yang disebabkan lebih karena faktor dana, maklumlah harga buku-buku best seller tak bisa dikatakan murah, ditambah peredaran buku yang agak di luar biasanya.
Tak butuh waktu lama, segera setelah aku mendapat hibah buku ini dari seorang teman, buku yang sudah agak lecek tersebut mulai kuserbu halaman dei halaman. Meskipun di tengah-tengah tak jarang aku meloncat ke lembar-lembar terakhir, saking penasarannya akan akhir cerita^_^. Tak bisa dipungkiri, antusiasmeku akan buku ini sedikit berkurang gara-gara membaca spoiler yang banyak ditemukan di media internet. 
Seperti cerita berseri yang pernah kubaca, tetralogi Inheritance pun tak lepas dari akhir cerita yang kurang menggigit jika mengingat jejak petualangan tokoh utama yang demikian seru dan mendebarkan, mengundang penasaran akan peristiwa selanjutnya. Maka alih-alih membaca dengan cepat agar segera mengetahui ending cerita, aku lebih memfokuskan perhatian pada bab-bab awal hingga menengah. Berlama-lama menekuri perjuangan Eragon, Arya dan Roran dalam membantu kaum Varden menumbangkan kekuasaan Galbatorix. Penaklukan kota-kota demi kota, dan kebenaran dari rahasia kekuatan galbatorix, dan jawaban dari teka-teki Werecat menjawab semua pertanyaan yang belum terjawab di tiga buku sebelumnya. Sayangnya, geliat perjuangan yang demikian seru dan melelahkan tidak tereksekusi dengan baik oleh Paolini. Akhir cerita seolah dipaksakan agar sesuai dengan ramalan penyihir Angela yang muncul di buku pertama. Duel Eragon dan Galbatorix kurang menggigit, mengingatkanku akan duel Harry Potter melawan Voldemort. Keduanya sama-sama mengalahkan musuh dengan kekuatan hati kalau tak bisa dikatakan kekuatan cinta ^_^. Yah, selama ini aku memang merasa tetralogi Inheritance ini merupakan perpaduan antara Harry Potter dan Lord of The Ring. Kepergian Eragon dan Saphira meninggalkan Alaegesia untuk selamanya demi menjaga eldunari dan telur-telur naga yang selamat, menimbulkan sedikit kekecewaan akan kisah asmara Eragon dan Arya yang berakhir tak bahagia (kalau yang ini mungkin subyektif dariku sebagai pribadi yang melankolis ^_^). Memang jika harus mengikuti keinginan pembaca yang umumnya menuntut akhir cerita yang indah, cerita-cerita yang ada akan menjadi monoton. So, Christopher Paolini patut diacungi jempol, di usianya yang demikian muda mampu membuat sebuah petualangan dengan begitu detail dan mengesankan di saat remaja lain seusianya masih berkutat dengan kegelisahan khas masa puber masing-masing.

Kamis, 08 Maret 2012

Pop Corn

Akhir-akhir ini Elex Media Komputindo selaku satu dari penerbit cerita bergambar di Indonesia getol menerbitkan ulang komik-komik Jepang lama yang dulu lumayan terkenal. Cetak ulang ini agak berbeda dari biasanya karena komik-komik populer tersebut dikemas dalam bentuk deluxe yang setelah diperhatikan satu buku deluxe mencakup satu setengah hingga dua komik reguler yang dijadikan satu. Hingga kini terhitung lebih dari tiga judul komik lawas yang telah muncul edisi deluxenya, sebut saja serial Topeng Kaca, Natane, Kungfu Boy Premium, Slam Dunk, semuanya merupakan komik populer pada masanya dan ketika diterbit ulang masih juga diburu penggemar komik-komik tersebut.
Pop Corn karya Yoko Shoji menjadi produk deluxe terbaru dari Elex Media. Apa keunggulan komik ini hingga layak dibuat deluxe ? Pop Corn merupakan komik yang tenar di tahun 90-an. Tak heran jika gambarnya pun masih sederhana baik dari karakter, fashion maupun background. Anak-anak sekarang mungkin asing dengan komik ini, dan mereka yang terbiasa dengan artwork yang cantik mungkin sedikit enggan untuk membaca komik ini. Kekuatan komik ini terletak pada jalinan cerita yang kompleks dan sarat makna hidup. Adalah Naoko Kitashiro yang akrab dengan sebtan Nakki menjadi tokoh utama komik ini. Dimulai dari kedatangan Nakki ke Tokyo yang serba mengejutkan hingga persahabatannya dengan Iwasaki, Mai, Tamura, Hatsune dan Okita yang menjadi legenda anak badung SMP Tokyo. Komik ini menceritakan kisah Nakki beserta sahabat-sahabatnya dari kecil hingga dewasa lengkap dengan konflik personal sesuai latar belakang keluarganya dan bumbu percintaan masing-masing personal. Nakki yang ternyata dipisahkan dengan saudara kembarnya sejak kecil harus megalami pergolakan batin akan keputusan orang tuanya yang dirasa telah membuangnya. Ia juga harus merasakan pahitnya cinta pertama yang lebih memilih saudara kembarnya, kehilangan cinta keduanya akibat kematian sampai akhirnya Nakki menemukan pilihan hidup yang terbaik baginya. Iwasaki yang harus bergelut dengan cedera yang membuatnya harus melepas impiannya menjadi atlet dan juga kisah cinta segibanyaknya dengan sahabat. Okita mungkin tokoh favorit pembaca yang harus berakhir tragis dijemput maut di puncak gunung. Mai dan Tamura yang harus melewati jalan berliku dan membutuhkan waktu lama sebelum akhirnya bersatu. Dan Hatsune yang harus mengalami kegetiran wanita sebelum memperoleh kebahagiaan. 
Yah mungkin permasalahan pun terlihat sederhana, namun masalah-masalah itu yang justru ada di kehidupan nyata. Pembaca dibuat terhanyut dengan semangat grup Nakki dalam menghadapi masalah dan selalu memikirkan cara agar hidup selalu berwarna dan layak untuk dikenang.

Jumat, 12 Maret 2010

Forever Princess


"Teenlit ?!", sebagian teman pastinya tak percaya jika aku mau membaca bahkan membeli buku fiksi yang termasuk kategori remaja alias teenlit. Aku memang jarang membaca buku bergenre remaja ringan bahkan cenderung lebih menyukai buku-buku cerita anak-anak macam Mrs Witz, Malcolm In The Middle, Because of Winn Dixie atau buku anak-anak karangan Roald Dahl, Eva Ibbotson dan pengarang buku sejenis ternama lainnya. Tak heran ketika aku dengan setia mengikuti kisah Putri Mia yang dituangkan dalam bentuk buku harian, ada beberapa dari mereka yang mengenalku tak mempercayainya.
Pada kenyataannya sudah cukup lama aku mengoleksi buku-buku harian yang ditulis oleh Meg Cabot dari sudut pandang orang pertama ini. Ketika aku masih duduk di semester lima bangku kuliah, waktu itu aku iseng melihat-lihat toko buku baru yang terletak di tepi jalan utama menuju kampus biru (kangennya aku akan sebutan ini ^^). Berhubung aku lebih tertarik ke buku-buku fiksi, aku pun segera memilah sederet judul yang terpampang di rak. Ketika tak menemukan judul yang membuatku tertarik untuk membeli, akhirnya aku iseng mencomot sebuah buku berjudul Princess In The Spotlight (Menjadi Pusat Perhatian). Tanpa alasan khusus hanya karena merasa sungkan jika keluar tanpa membawa apa-apa, aku memilih buku itu hanya karena harga lumayan murah, dan menilik dari sinopsis yang tercetak di cover belakang buku tersebut yang kurasa cukup menarik dalam arti bisa memancing tawa sehingga cocok untuk bacaan ringan yang menghibur. Setibanya di kamar kos PD 79 (ruangan tempatku bergelung di dunia ku semasa kuliah ^^),tanpa menunggu lama aku segera membuka halaman pertama buku itu. Sebutan aneh untuk sebuah buku serta merta meloncat dari pikiranku ketika membaca lembar pertama cerita bangsawan New York tersebut. Baru kali itu aku menjumpai pengarang menulis kisah dalam bentuk buku harian yang ditulis oleh si tokoh utama. Bagaimanakah cara pengarang untuk membuat pembaca memahami jalan cerita jika ditulis dengan gaya buku harian yang pada umumnya hanya sepenggal pengalaman yang dituang dalam bentuk kata-kata ?, demikian batinku saat itu. Namun lambat laun tanpa kesulitan aku mulai mengikuti alur cerita yang ternyata aku langsung membaca buku keduanya ^^. Sejam kemudian aku pun tersenyum puas, tak sia-sia aku merogoh kocek yang tak terduga hanya karena iseng. Dan sejak saat itu aku pun gencar menanti kelanjutan kisah rekaan pengarang asal Amerika itu.
Meg Cabot membuat terobosan baru dalam bidang tulis menulis yang belum pernah kujumpai sebelumnya (berhubung buku ini yang baru pertama kali kubaca). Menulis dengan sudut pandang orang pertama bukanlah hal yang jarang dilakukan, namun ketika dituangkan dalam bentuk buku harian, itu menjadi sesuatu yang spesial untukku yang baru pertama kali ini menjumpai gaya menulis seperti itu. Meskipun berbentuk buku harian, Meg Cabot bisa menceritakan liku-liku kisah Putri Mia, anak di luar perkawinan yang mendadak harus memegang tanggung jawab sebagai Putri Mahkota negara monarki absolut kecil di benua Eropa. Ditulis dengan gaya bahasa remaja yang ringan, Meg mampu membuat pembaca memahami isi hati sang Putri, mengikuti kegiatan sehari-hari Mia dan interaksinya dengan orang tua, kerabat dan sahabat-sahabatnya. Meg pun acapkali memasukkan berbagai hal yang digemari remaja Amerika masa kini lengkap dengan komentar maupun pendapatnya yang dikeluarkan melalui tokoh Mia dan beberapa tokoh sentral lainnya. Dengan lihai Meg menuliskan karakter-karakter Mia dan orang-orang disekelilingnya yang dituangkan dalam buku harian milik Mia. Layaknya sebuah buku harian, serial tentang Putri Mia ini tak lepas dari coretan-coretan ala remaja yang mencatat jadwal sekolah, caci maki terhadap hal yang tidak disukai, maupun curahan hati si pemilik buku harian. Akan tetapi coretan-coretan tersebut justru menjadi pemanis yang melengkapi inti cerita yang sebenarnya amat ringan dan mudah dicerna namun cukup menghibur. Tak heran aku yang terlanjur mengoleksi satu bukunya, memutuskan untuk mengikuti serial ini sekaligus penasaran dengan akhir kisah terutama hubungan cintanya dengan senior yang juga menjadi tokoh fiktif kesukaanku.
Jika kuingat lagi, waktu aku membeli buku kedua serial Putri Mia ini, aku terpengaruh dengan janji bahwa kisah Putri Mia akan berakhir di buku ketiga. Aku yang tidak terlalu suka untuk menunggu-nunggu rampungnya sebuah kisah, berani memutuskan untuk membeli karena waktu itupun buku ketiga serial ini sudah terbit. Dan memang benar adanya bahwa kisah Mia dalam menggapai cintanya berakhir dengan sukses di buku ketiga. Betapa terkejutnya aku ketika beberapa bulan kemudian aku menemukan buku keempat serial Putri Mia terpampang di gerai buku swalayan Moro (swalayan tempatku dulu berbelanja kebutuhan bulanan ^^). Mau tak mau aku pun merogoh kocek untuk membeli buku itu. Maklum sudah menjadi sifatku untuk tidak berhenti di tengah jalan ketika mengumpulkan sesuatu. Aku tidak suka jika melihat buku-buku koleksiku tidak lengkap dalam artian kekurangan satu judul dari sekian seri. Jadilah aku dengan setia mengoleksi buku harian Putri Mia. Dan tahun ini (sudah berapa tahun sejak aku pertama membeli ya ?^^) akhirnya buku terakhir kisah Putri Mia pun muncul. Kuhitung dari awal, tak terasa sudah menginjak buku ke-10 ! Wow sebuah rekor untuk kisah ringan bergenre remaja yang mampu bertahan hingga sepuluh seri. Buku yang pernah diangkat ke layar lebar dengan judul sama dengan buku pertamanya ini akhirnya benar-benar mengisyaratkan akhir kisah Putri Mia. Bukan saja mengenai perubahan Genovia menjadi monarki demokratis yang berarti membebaskan Mia dari kewajibannya memimpin negara itu, namun juga menceritakan akhir kisah cinta Mia, keputusannya dalam menempuh pendidikan dan hubungannya dengan sahabat sejak kecilnya yang sempat merenggang. Membaca kisah yang berakhir bahagia tersebut, aku pun kembali merasakan lega berkepanjangan. Bukan hanya karena gembira dengan kebahagiaan Michael (tokoh favoritku) namun lebih kepada akhir beraliran 'happy end' pada serial ini. Dengan akhir yang membuatku tersenyum gembira, membuatku tak sia-sia mengoleksi serial ini yang ternyata kelebihan tujuh seri dari targetku sebenarnya ketika membeli buku kedua dulu. Akhir yang bahagia membuatku tak bosan untuk membaca dan membaca ulang serial ini. Lain dengan koleksiku yang berakhir tak seperti harapanku, kini terbengkalai begitu saja. Demikianlah meskipun hanya sebuah cerita ringan ala remaja, kisah milik Meg Cabot ini menjadi selingan di antara buku-buku yang membuatku harus berpikir lebih keras untuk memahami sebuah cerita.

Selasa, 16 Februari 2010

Buram

Akibat terlalu sering bermandikan air hujan di malam hari membuatku memiliki cukup waktu luang untuk bermalas-malasan di rumah. Meskipun kepala terasa pening, tak membuatku surut untuk memanfaatkan waktu untuk membaca setumpuk buku yang menanti untuk kulahap satu demi satu. Tubuh lemas, tenggorokan kering dan rasa pahit di mulut membuatku tak punya pilihan selain membaringkan diri di kursi favoritku. Bosan dengan acara televisi yang monoton, aku pun memutuskan meneruskan aktivitasku sebelum virus menyerang, apalagi kalau bukan membaca maraton novel-novel yang belum sempat kuselesaikan. Usai membaca petualangan terbaru Robert Langdon, aku pun mengambil sebuah judul dari sekian banyak novel dari tiga macam genre yang menumpuk di tepi ranjangku. Berbeda dengan bacaan sebelumnya yang benar-benar mewakili kesukaanku akan pengarang luar negeri, kali ini aku kembali mengulang membaca kisah hidup seorang anak melayu Belitong yang terkenal berkat tetralogi Laskar Pelanginya.
Sebenarnya ketiga buku yang ditulis oleh Andrea Hirata ini sudah kubaca setahun lalu. Berhubung seri pamungkas tetralogi ini diterbitkan dengan jarak waktu yang cukup lama, aku pun memutuskan untuk mengulang dari awal sebelum membaca Maryamah Karpov , judul terakhir petualangan Andrea, anak melayu yang sukses menggapai mimpi-mimpinya. Ya keempat buku ini rupanya mampu menembus idealismeku akan menarik atau tidaknya sebuah bacaan. Aku yang lebih menggemari fiksi terjemahan, untuk kedua kalinya aku mengakui kemampuan penulis dalam negeri. Setelah sempat kecewa dengan karya-karya Kang Abik yang menurutku tidak seindah Ayat-Ayat Cinta, baru kali ini aku menemui penulis tanah air yang mampu mempertahankan ketertarikanku akan karyanya. Andrea dengan gayanya yang sedikit aneh dalam memadankan sebuah perumpamaan, sukses membuatku terus menekuri kata demi kata hingga mencapai halaman akhir tanpa rasa bosan. Kisahnya mulai dari masa kecil yang mengingatkanku akan peliknya dunia pendidikan di Indonesia, hingga kegigihannya sehingga mampu menginjakkan kaki di tanah Eropa (benua yang sangat kukagumi) hingga pencariannya akan cinta pertama (meskipun agak sedikit absurd menurutku) membuatku terpana dan mau tak mau semangat untuk terus dan berani mewujudkan impian. Kisah menarik yang mampu menimbulkan inspirasi bagi pembaca, itulah pendapatku akan tetralogi Laskar Pelangi ini. Meskipun si pengarang menyatakan bahwa dia bukan penulis, bagiku dia adalah penulis hebat yang membuat kejutan dan terobosan baru dengan ciri khasnya di tengah gempuran buku-buku bermuatan ringan yang menyebabkanku enggan untuk berurusan dengan buku karya anak negeri ^^.
Itulah aku, begitu cintanya aku akan membaca buku-buku fiksi, membuatku tak menghiraukan apapun selagi asyik larut dalam petualangan yang tertuang dalam kata. Walhasil beberapa hari ini, mataku merasakan akibatnya. Buram dan pedih selalu menghampiri ketika aku meraih sebuah bacaan dan mulai membaca ^^. Mungkin aku harus sedikit mengerem kecepatan membacaku, mengistirahatkan indera penglihatanku untuk sementara. Namun lagi-lagi aku terbentur akan kesukaanku yang satu ini. Karena dengan membacalah aku bisa mengalihkan perhatian dari kejenuhan, berada di duniaku sendiri yang demikian kunikmati. Ah, mengingatkanku akan sebuah kalimat di Maryamah Karpov. : " Penyakit gila No. 16. Berada di dunia sendiri, menciptakan masalah sendiri dan menyelesaikannya sendiri", demikian kira-kira ^^

Sabtu, 06 Februari 2010

Koleksi Terbaru


Akhirnya tiba juga saat mendebarkan untukku sebagai seorang kutu buku. Sebuah judul novel best seller yang telah lama digadang-gadang bakal menjadi penghuni tetap rak bukuku pun kelar diterbitkan dalam versi Indonesia. Beruntung buku ini diluncurkan menjelang hari 'isi ulang' membuatku tak perlu menunggu terlalu lama untuk segera larut dalam petualangan terbaru simbolog fiksi yang dua buku sebelumnya telah berhasil memikat kekagumanku. Ya, semenjak aku mendengar info akurat akan kehadiran tokoh Robert Langdon dalam karya teranyar novelis Dan Brown, jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan dana tersendiri untuk membeli buku yang pastinya mengalami lonjakan harga setelah kesuksesan buku-buku seri Langdon sebelumnya. Sembari menunggu terjemahan buku yang berjudul The Lost Symbol ini, aku yang demikian antusias dan penasaran sibuk mencari informasi di berbagai situs, sekedar membaca sinopsis maupun testimoni yang dilampirkan di cover belakang buku tersebut ini. Kata kunci Freemason yang menjadi dasar petualangan Langdon kali ini semakin menggelitik antusiasmeku. Ditambah dengan secuil informasi bocoran yang menyinggung masalah kitab suci semakin meyakinkanku untuk segera membaca buku ini. Jadilah kali ini aku berlaku di luar kebiasaaanku, tanpa pikir panjang lagi tak menghiraukan isi kantung yang dengan cepat menipis aku yang biasanya pantang membeli buku sebelum membaca terlebih dahulu tergiur untuk membeli novel dengan harga di luar jangkauanku tanpa embel-embel potongan 50% ^^. Seingatku hanya serial Harry Potter yang mampu membuatku dengan segera memburu seri terbaru tanpa menunggu buku ini dipajang di 'bookfair'. Itupun berlaku mulai buku kelima Harry Potter and The Order Of Phoenix, dimana aku sudah demikian keranjiangan dan penasaran dengan perjalanan nasib penyihir cilik itu. Bisa dibayangkan resiko apa yang kuambil dengan membeli buku terbaru Dan Brown ini tak lama setelah hari pertama beredar.
Meskipun lelah dan mata tak mau diajak kompromi, aku tetap menguatkan diri menelusuri 150 halaman pertama dari buku yang baru sehari di tangan dan telah kudata serta kusampuli dengan rapi ini. Namun entah mengapa halaman demi halaman terlewati, ketegangan dan keterkejutan yang selalu muncul di dua buku sebelumnya tidak kurasakan. Aku bahkan harus menahan kuap dan beratnya kelopak mata yang selalu ingin mengatup. Wah, pertanda kurang baik, demikian pikirku yang akhirnya menyerah dan mengistirahatkan diriku ketika waktu menunjukkan tepat tengah malam. Malam berikutnya aku kembali membuka halaman terakhir yang kubaca, kembali diam dan berkonsentrasi di antara untaian kata dan simbol-simbol yang sebagian sudah kukenal. Memasuki setengah bagian buku, aku pun menambah sedikit pengetahuan akan Washington, DC dan sesuai ciri seri petualangan Langdon aku memperoleh sedikit tambahan informasi mengenai korelasi antara agama modern dengan kisah kuno tentang dewa-dewi. Menjelang dua pertiga bagian aku merasakan sebuah kekecewaan. Bagian yang seharusnya berada pada titik ketegangan jika menilik dua buku sebelumnya, aku tidak menemukannya pada buku ini. Walhasil kisah tentang Robert Langdon yang berusaha menyelamatkan mentornya, master dari perkumpulan rahasia Freemason yang terkenal itu terkesan biasa-biasa saja. Pengungkapan ritual inisiasi Mason, ataupun perjalanan Langdon dalam memecahkan kode berlapis Mason untuk menemukan Misteri Kuno yang secara mitos adalah Kata yang Hilang yang dapat mencerahkan atau disitu dikatakan mengubah manusia menjadi Tuhan atau dewa kurang menunjukkan greget tersendiri. Meskipun Dan Brown menunjukkan kejutan di akhir cerita seperti biasanya, ketika aku menyelesaikan kalimat terakhir buku ini, tak ada keheningan yang selalu muncul ketika aku menyelesaikan sebuah buku yang menurutku sangat menarik. Tujuh ratus sekian halaman yang semula menjanjikan petualangan seru, pada akhirnya menjadi satu hiburan ringan di sela rutinitasku.
Walaupun aku tak menyesali keputusanku untuk menjadikan buku ini salah satu koleksiku, tak urung sedikit ketidakpuasan menyelip ketika usai membaca buku ini. Kegairahan yang terpupuk mulai dari tahun lalu tidak terbayar dengan lunas. Entah karena topik yang tidakbegitu kontroversial seperti dua buku sebelumnya, atau aku yang tanpa sadar mulai jenuh dengan tulisan Brown, atau memang intrik yang kurang berliku dan informasi yang tidak begitu mendetail pada kenyataannya aku kurang setuju dengan berbagai testimoni yang memunji-muji buku ini. Tentu ini hanya sebatas pendapatku yang notabene hanya seorang kutu buku yang tidak bisa menelaah sebuah isi buku dengan benar dan hanya sekedar untuk hiburan dan menambah pengetahuan di kepalaku namun pada kenyataannya di luar sana ada yang sepakat dengan pendapatku.

Sabtu, 18 Juli 2009

Eksotisme Vampir


Sebetulnya sudah sedari tahun lalu seorang teman merekomendasikanku untuk membaca novel roman berjudul Twilight. Namun berhubung keuangan masih terbatas, waktu itu aku tidak serta merta mengiyakan untuk menambah koleksi dengan novel bergenre roman tersebut. Apalagi setelah bertanya kepada 'master' novel yang selalu menjadi acuanku untuk membaca ataupun mengoleksi sebuah buku, semakin mantap pula aku memutuskan untuk menempatkan Twilight ke nomor buntut dari sekian daftar tunggu bacaan yang bakal menjadi penghuni rak bukuku. Sejujurnya waktu itu aku sempat merasakan dorongan kuat untuk segera membawa buku itu ke meja kasir. Ya, aku yang saat itu sedang gemar dengan fiksi tentang vampir berkat serial Darren Shan, tertarik ketika membaca ringkasan yang tertera di cover belakang buku terjemahan Twilight tersebut. Namun akhirnya aku urung membeli ketika sang master menggambarkan tipe novel tersebut. Maklum, akhir-akhir ini aku sedang bosan menambah koleksi buku-buku love strory yang termasuk kategori ringan. Tentu itu akibat pengaruh master yang doyan fiksi dengan tema cerita yang di luar kebiasaan namun pada kenyataannya banyak disukai pembaca buku di mana pun.
Pada akhirnya aku berhasil membujuk temanku yang keranjingan novel ala Harlequin untuk membeli seri lengkap buku karangan Stephany Meyer tersebut. Tersenyum puas akhirnya keinginanku untuk membaca karya asli yang telah difilmkan ini terkabul dengan gratis pula ^^. Bab-bab pembuka kulalui dengan cepat, dan dengan cepat pula aku kesengsem dengan figur Edward Cullen, tokoh utama buku ini yang diceritakan adalah seorang Vampir. Baru kali ini aku benar-benar memahami kekaguman sahabatku akan tokoh vampir. Tak dipungkiri jika keterpesonaaanku akan sosok Edward dipengaruhi oleh versi film yang diperankan dengan baik oleh aktor ganteng jebolan Harry Potter ^^. Ketika membayangkan sosok Edward yang dideskripsikan sebagai cowok nan sempurna otomatis di benakku terbayang wajah Robert Pattinson. Semakin jauh membaca aku semakin tepesona dengan karakter Edward (baca : vampir) yang demikian elegan, kuat dan misterius. Aku jadi ingat ucapan sahabat yang mengatakan bahwa vampir itu seksi ^^. Ya, kini aku paham akan jalan pikiriannya. Kemisteriusan vampir yang telah melegenda dengan mitos-mitosnya memak menarik untuk disimak. Sebuah fiksi yang terasa benar menghidupkan karakter penghisap darah itu menarik utnutk diolah dalam berbagai versi. Uniknya sosok vampir yang pada kenyataanya adalah makhluk malam yang hidup di gua tersebut digambarkan nyaris serupa dalam berbagai kisah. Perbedaan mengenai vampir hanya berkisar seputar sifat dan karakter tentang vampir. Sedangkan mengenai penggambaran fisik vampir nyaris sama. Vampir dikatakan sebagai sosok manusia yang kuat, berkulit pucat, dengan lingkaran gelap di mata dan kehausan akan darah sebagai menu santapan utama. Hampir di setiap kisah tentang vampir yang kubaca, tokoh yang tergolong dalam kategori makhluk penghisap darah ini selalu menjadi pusat perhatian dengan penampilannya yang misterius. Hanya saja di buku tetralogi milik Meyer ini tokoh vampir digambarkan dengan berlebihan. Luar biasa tampan dan cantik dengan tubuh sempurna semakin mengukuhkan daya tarik vampir yang sebenarnya berbahaya bagi manusia tersebut. Tak heran jika Twilight begitu 'booming' baik buku maupun filmnya meskipun jalan cerita tergolong datar dan biasa-biasa saja. Bagaimanapun saat ini aku layaknya Bella Swan, mabuk dengan pesona Edward Cullen sang vampir baik. Dan beberapa hari ini pun kulalui dengan menyimak kata demi kata dari novel yang berakhir pada buku keempat Breaking Dawn.

Sabtu, 02 Mei 2009

Akhir Seorang Darren Shan


Sebetulnya sudah lama aku ingin menulis tentang tokoh fiksi ini. Akibat pengaruh seorang sahabat, aku pun mulai membaca jilid pertama cerita fiksi yang berjudul sama dengan nama pengarangnya. Darren Shan Cirque du Freak, demikian titel buku pertama serial yang mengambil tema sosok vampir tersebut. Usai membaca buku bercover warna hitam tersebut, pikiran yang terlintas dalam benakku adalah "buku ini fiksi atau nyata ?" Sahabatku pun tertawa ketika aku mengajukan pertanyaan tersebut. Ya, jika menyimak dengan seksama cerita yang diusung oleh Darren Shan ini seolah begitu nyata. Berkat keahlian si pengarang dalam menggubah alur, pembaca terhanyut akan kisah seorang Darren Shan yang harus menjalani takdir hidupnya.
Serial yang ditulis oleh Darren Shan ini berawal dari dua sahabat Darren dan Steve yang secara sembunyi-sembunyi menonton sirkus orang aneh. Sebuah pertunjukan yang mempertontonkan orang-orang abnormal seperti bocah ular, wanita berjenggot, manusia tulang, dll. Segera saja Darren dan Steve tertarik pada sosok Mr Crepsley walaupun dengan alasan berbeda. Bencana dimulai ketika Darren nekat mencuri laba-laba beracun Mr Crepsley. Tak sengaja ia menyebabkan Steve sekarat. Demi menolong sahabatnya Darren rela menukar kehidupannya selama ini dengan kesembuhan Steve. Atas syarat yang diajukan Mr Crepsley yang ternyata seorang vampir, Darren memulai kehidupan barunya sebagai manusia setengah vampir. Bertahun-tahun kemudian Darren kembali berhadapan dengan Steve. Sayang, Steve yang sejak dulu mencurigai 'kematian ' Darren menganggap Darren sebagai musuh yang harus dibantai. Dengan segala akal licik, Steve akhirnya memimpin kaum Vampaneze, saudara sedarah kaum Vampir untuk memerangi kaum vampir untuk menguasai dunia. Darren yang pada dasarnya berhati baik pun memutuskan untuk memenuhi takdirnya. Memimpin kaum Vampir dengan tujuan utama melenyapkan Steve agar sang penguasa malam tidak bangkit.
Si akhir serial ini yakni di buku ke-13, pembaca pun mau tak mau terkejut dengan kisah dibalik perseteruan mantan sahabat ini. Dengan lihai pengarang pun memberikan penyelesaian apik meskipun tragis untuk Darren. Meskipun sedikit kecewa dengan akhir kisah Darren Shan, serial ini cukup memberi nuansa baru dalam dunia fiksi. Pengertian tentang vampir yang berbeda dengan karakter vampir selama ini, hubungan antar tokoh yang demikian pelik, ketegangan demi ketegangan yang muncul di setiap jilidnya menjadikan pembaca tak sabar menantikan kelanjutan kisahnya. Dalam bukunya Darren rupanya ingin menyampaikan pesan bahwa manusia tidak harus terpaku oleh keadaan. Takdir bisa diubah asal manusia mau berusaha untuk memperbaiki kehidupannya. Seperti Darren yang memutuskan mengakhiri hidupnya demi masa depan umat manusia, tak mau tunduk pada keinginan Mr Tiny yang ingin menjadikan dirinya Penguasa Kegelapan. NAmun demikian, semua tindakan yang dilakukan seseorang harus dipikir masak-masak. Bagaimanapun waktu tidak akan kembali untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuat.

Sabtu, 18 April 2009

Brisingr


Akhirnya setelah dua tahun lebih menunggu kelanjutan trilogi fiksi yang kutunggu muncul juga. Sebetulnya seri terbaru novel fiksi ini sudah terbit di negara asalnya tahun lalu. Namanya juga novel dengan pengarang asing, butuh waktu cukup lama untuk bisa terbit dalam bahasa Indonesia. Berhubung sudah amat sangat penasaran dengan kelanjutan cerita yang memang sedang seru-serunya, mumpung ada rezeki aku pun dengan segera membeli novel tersebut walau kantongku langsung mengempis^^. Anehnya, begitu aku mendapatkan buku ini, tidak seperti buku-buku baru lainnya yang langsung kubaca, buku ini tergeletak begitu saja. Maklum jauh hari aku sudah mendapat bocoran cerita dari sahabat. Begitu penasarannya aku, sampai-sampai rela mendengar sedikit 'spoiler'. Sayangnya, dari bocoran tersebut ada satu hal yang membuatku sedikit kecewa. Bagaimana tidak kecewa jika sejak lama aku menantikan cerita final dari trilogi ini, ternyata di buku ketiga yang seharusnya buku terakhir, cerita belum usai ! Melompat ke halaman sekilas pengarang, tak dinyana trilogi berubah menjadi siklus alias akan berakhir di buku keempat karena kerumitan cerita.
Sejak serial Harry Potter usai di buku ketujuh, sedikit sekali buku-buku sejenis yang mampu menarik perhatianku dan membuatku ingin menambah koleksi pustaka pribadiku. Nah, buku ini adalah sedikit dari buku fiksi tersebut. Sebetulnya seri pertama buku trilogi Inheritance (Warisan) ini muncul sebelum kisah penyihir cilik Harry Potter tamat. Pertama kali aku membaca buku satu yang berjudul Eragon ini, aku merasa ide yang diusung oleh Christoper Paolini ini lumayan juga. Campuran antara Harry Potter dan Trilogi Lord of The Ring, demikian menurutku. Kepelikan cerita membuatku terkejut ketika mengetahui bahwa si pengarang menulis buku ini di usia 15 tahun.
Trilogi yang kini berganti siklus Inheritance ini bercerita tentang tokoh bernama Eragon, anak petani miskin di Carvahall. Entah nasib ataupun karena turunan, Eragon terjebak dalam peperangan melawan raja Alagesia. Eragon menjadi penunggang naga merdeka satu-satunya. Dengan Saphira, naga betina yang menetas untuknya, Eragon pun bekerja sama dengan kaum Varden, Elf dan kurcaci untuk menumbangkan Galbatorix, raja lalim yang menguasai Alaegesia.
Buku pertama menceritakan petualangan Eragon sebagai penunggang naga pemula menuju tempat persembunyian kaum Varden untuk mencari perlindungan. Buku kedua yang berjudul Eldest, lebih banyak bercerita mengenai pelajaran yang diperoleh Eragon di bawah bimbingan elf. Nah, buku ketiga bertitel Brisingr ini tentu menjanjikan petualangan seru, mengingat akhir buku kedua yang mengejutkan. membaca seri ketiga ini, mau tak mau aku merasa sedikit kecewa. Meskipun di buku ketiga ini mengungkapkan kenyataan baru dan fakta mengenai kekuatan sang raja yang tanpa batas, buku ini terlalu penuh dengan cerita sepele. Intrik politik para kurcaci nyaris membuatku bosan. Walhasil buku ketiga ini selesai kubaca setelah seminggu. Sungguh di luar kebiasaan bagiku yang hanya membutuhkan waktu semalam untuk membaca sebuah buku yang menarik dan seru.
Yah, bagaimanapun aku angkat topi untuk si pengarang. Di usianya yang begitu muda, dia mampu menghasilkan sebuah bestseller. Tentu bukan sesuatu yang mudah untuk mencapi kesuksesan tersebut. Yah, meskipun mengadopsi ide dari JRR Tolkien, Christoper mampu menyuguhkan jalinan cerita menarik yang seru untik dinikmati pembaca. Dengan gayanya, Chris membawa pembaca untuk ikut berjuang bersama Eragon di Alaegesia. Wah, jadi tak sabar aku menantikan episode terakhir perjalanan Eragon, Sang Penunggang Naga.

Kamis, 25 Desember 2008

Messiah Conspiracy

Walaupun tidak merayakan Natal, setiap tahunnya aku selalu larut dalam suasana perayaan hari kelahiran Kristus tersebut. Bagaimana tidak, semua stasiun televisi menayangkan program-program berbau Natal. Bukannya tidak suka, aku justru selalu menantikan acara-acara tersebut. Mulai dari film-film bertema Christmas yang sebagian besar enak ditonton, konser Natal hingga siaran langsung Misa dari Vatikan. Jangan heran, sejak dulu aku penggemar lagu-lagu klasik, biasanya salah satu stasiun tv memutar sejam bersama Three Tenor, sayangnya beberapa tahun terakhir kebiasaan tersebut sudah hilang. Meskipun demikian penampilan penyanyi macam Samuel, Delon, Mike cukup menghibur telinga. Natal tahun ini pun tak jauh beda dengan sebelumnya, deretan film berlatar belakang white Cristmas bahkan aku mendapat ucapan Merry Cristmas ^^ (Aku sampai kaget lho). Melengkapi suasana Natal ini, aku membaca sebuah novel bergense fiction-thriller berjudul Messiah Conspiracy. Melihat dari judulnya, sudah pasti isi buku ini menyinggung masalah agama Nasrani. Tagline "Ksatria Templar, Vatikan dan Injil Kristus:Misteri Injil Tulisan Tangan Kristus Sendiri" semakin menguatkan muatan yang terkandung dalam novel ini. Prolog buku ini menceritakan tentang pelarian ksatria Templar ketika perintah pemusnahan datang dari gereja. Berlanjut ke bab-bab berikutnya, Raymond Khoury pengarang novel ini menjalin cerita tentang perampokan museum The Met yang sedang memamerkan benda-benda bersejarah yang beberapa di antaranya berasal dari Vatikan. Perampok yang berjumlah empat tersebut menunggang kuda dan berdandan ala Ksatria Templar. Hal ini membuat Tess, arkeolog yang menjadi saksi mata tergelitik untuk menyelidiki alasan di balik perampokan tersebut. Tess berhasil menemukan fakta bahwa alat pemecah kode yang dicuri merupakan kunci untuk memecahkan rahasia harta karun Templar. Harta Templar dikabarkan hilang bersama tenggelamnya The Falcons di perairan Yunani. Seperti teori konspirasi lainnya, harta Templar diduga berkaitan dengan bukti-bukti yang bertentangan dengan konsep keilahian Kristus. Tess dan Reilly(FBI yang mengusut kasus ini) terjun dalam petualangan mendebarkan dan bertaruh nyawa untuk sebuah kebenaran yang mengejutkan.
Layaknya novel-novel bermutu lainnya, buku ini memuat beberapa testimoni dari pihak ketiga. Politiken Denmark menyatakan "khoury berhasil mengalahkan Dan Brown dengan kisah parahistorisnya yang lebih mengagumkan". Bagi yang sudah membaca karya-karya Dan Brown tentu merasa penasaran seberapa dasyat kontroversi dalam buku ini. Usai membaca keseluruhan buku ini, menurutku ada sebuah perbedaan besar antara Khoury dan Brown. Khoury lebih mengutamakan jalinan cerita antar tokoh daripada membahas fakta-fakta yang melatarbelakangi cerita. Sebaliknya dengan Brown, ia mengedepankan penemuan dan sejarah melalui tokoh ciptaannya. Jika Brown sukses menggiring pembaca untuk percaya dengan apa yang ditulisnya (tak heran sebuah karyanya meledak dengan bebagai pro dan kontra) maka Khoury mengajak pembaca untuk hanyut dalam konflik yang menimpa tokoh-tokohnya. Berbagai fakta fenomenal yang disodorkan meskipun sama dengan apa yang ditulis Brown memberikan efek yang berbeda. Ditambah dengan beberapa bab yang menceritakan perjalanan ksatria Templar selama pelarian, menjadikan buku ini murni rekaan belaka. Walaupun dokumen seperti gulungan Nag Hammadi, artefak dan sejarah Templar benar adanya, bahkan pernyataan tokoh Kardinal dalam buku ini tentang kebenaran sifat manusia dari Yesus tidak mampu meyakinkan pembaca. Khoury yang dengan berani mengusik wilayah rawan dari agama besar di dunia (Katolik dan Islam) cukup berhasil dalam menulis novel parahistoris. Namun, sepertinya beberapa testimoni tersebut agak berlebihan. Meskipun pandanganku ini sedikit bias karena sedikit banyak aku lebih menyukai gaya penulisan Dan Brown yang tidak bertele-tele, Messiah Conspiracy menjadi selingan menarik di pengujung tahun ini.

Rabu, 17 Desember 2008

Perfume The Story of Murderer


Terbujuk oleh rayuanku, akhirnya sahabatku nekat membeli sebuah buku di bookfair. Dalam hati aku bersorak girang, akhirnya aku bisa membaca gratis. Wah, dipikir-pikir licik juga aku ya ^^. Sekedar membela diri, kami berdua seringkali membagi tugas dalam membeli buku kok, jadi semua puas. Sesuai dengan rekomendasi dari adikku, ketika menyimak review dari buku Perfume The Story of Murderer seketika aku tertarik untuk membaca buku ini. Dalam buku ini Patrick Suskind mengangkat kisah seorang pembunuh berdarah dingin. Buku yang sudah difilmkan ini menceritakan perjalanan hidup Jean Baptiste Grenouille, seorang anak haram yang dianugerahi penciuman luar biasa. Grenouille yang lahir di masa kacau menjelang revolusi Prancis, nyaris tak bertahan hidup karena dibuang oleh ibunya. Tumbuh di panti asuhan, Grenouille membuat takut setiap orang dengan tingkahnya yang tertutup dan aneh. Grenouille sanggup mengidentifikasi aroma setiap benda konkrit maupun abstrak, melalui indera penciumannya ia mempelajari banyak hal. Ia bisa membedakan bau tanah, udara, kulit manusia bahkan jenis pohon berdasarkan baunya , memilah-milah seluruh bau yang ada. Anehnya tubuh Grenouille tidak menebarkan bau meski bau kecut keringat. Dengan kemampuannya ini Grenouille berhasil menjadi ahli parfum berkat bantuan dari Baldini, ahli parfum terkenal yang mempekerjakannya. Naluri pembunuh muncul ketika Grenouille mencium aroma gadis perawan yang dirasakannya sangat nyaman. Grenouille berambisi menciptakan parfum dari aroma perawan yang dibunuhnya terlebih dahulu. Terhitung ada 25 perawan yang dibunuhnya dengan diambil rambut dan kulit kepalanya. perbuatan Grenouille ini sontak membuat resah penduduk Grasse dan sekitarnya. Penyelidikan pun dilakukan sampai akhirnya Grenouille tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Pada awalnya, aku mengira buku ini akan menuturkan sebuah pencarian yang menegangkan. Usai membaca keseluruhan isi buku, sedikit banyak aku merasa kecewa. Sesuai dengan judulnya, The Story of Murderer, buku ini betul-betul menceritakan kisah si pembunuh Grenouille. Aku yang terbiasa membaca buku-buku suspense yang menegangkan tentu mengharapkan liku-liku pencarian jejak yang membutuhkan konsentrasi khusus. Meskipun demikian ada sebuah pelajaran yang bisa dipetik dari buku ini. Suskind mencoba menuangkan buah pikirannya dalam wujud Grenouille, anak haram yang tak mengenal cinta dari sesama. Grenouille yang tak berbau menciptakan sebuah parfum beraroma manusia untuk dipakai olehnya sendiri. Berkat parfume ini, Grenouille yang biasanya tak dianggap kini setiap orang akan menoleh padanya. Parfume beraroma keringat membuat Grenouille yang semula tak ada menjadi sosok nyata. Ya, pada dasarnya manusia ingin dianggap oleh sesamanya. Manusia ingin diakui keberadaannya oleh yang lain. Entah itu dalam bentuk kekaguman atau penghinaan, cukuplah jika seseorang dapat menarik perhatian sehingga mata tertuju padanya. Ambisi Grenouille menciptakan parfum terhebat dari bagian tubuh korban-korbannya pun tak lepas dari keinginan Grenouille untuk dicintai sesamanya. Kekosongan batinnya berubah menjadi keinginan untuk membalas dendam, memegang kendali atas manusia dengan parfum ciptaannya. Jika membaca buku ini, dijamin akan terbengong-bengong dengan penyelesaian ala Suskind. Sungguh akhir yang tidak terduga untuk sebuah drama pembunuhan. Walaupun rasanya mustahil sebuah aroma bisa menyebabkan sebuah tragedi, buku ini lumayan sebagai referensi untuk dibaca. Pada akhirnya semirip apa pun dengan aslinya, tiruan tetaplah tiruan. Sebuah tiruan hanya memberi kepuasan sesaat, hingga akhirnya kekosongan yang berlarut-larut akibat kekecewaan yang bertumpuk.

Kamis, 21 Agustus 2008

Lika-liku Dunia Sihir


Selama ini dunia penyihir sangatlah bias antara mitos dan realita. Legenda dan berbagai cerita rakyat tentang penyihir tersebar di seluruh pelosok dunia dengan berbagai istilah masing-masing. Penyihir, tukang tenung, dukun, shaman adalah sedikit dari sekian banyak nama untuk seseorang yang dianggap mempunyai kelebihan di bidang misteri ataupun ilmu nujum. Sejak dulu orang-orang yang dicurigai berkecimpung di dunia sihir cenderung ditakuti masyarakat. Tukang-tukang sihir pun diburu untuk diberantas secara kejam dengan cara dibakar, dirajam atau digantung. Joan of Arc, pahlawan wanita Prancis di abad 15 menjadi salah satu korban tuduhan tak berdasar masyarakat pada waktu itu. Tokoh yang menjadi inspirasi seniman-seniman besar Shakespeare, Voltaire, Verdi, dan Tchaikovsky ini diadili sebagai tukang sihir akibat pengakuannya tentang suara Tuhan yang menyuruhnya untuk maju berperang melawan Inggris. Joan ditangkap dan dibakar pada usia 19 tahun. Demikian pula dengan pemusnahan kota Salem yang dianggap markas besar para penyihir hanya sekelumit dari mitos-mitos dunia sihir. Sihir identik dengan mantra, sapu, kuali berisi ramuan yang menggelegak dan ritual-ritual khusus dengan simbol-simbol tertentu. Sebagian orang menganggap bahwa sihir adalah sesuatu yang kelam, jahat dan hanya orang-orang terpilih yang mampu mendalami ilmu dan praktik-praktik magis. Kemisteriusan dunia sihir banyak memberikan inspirasi bagi penulis baik fiksi ataupun non fiksi. Terhitung tak sedikit karya-karya sastra bertema sihir yang mampu menarik perhatian khalayak ramai. Harry Potter, Trilogi Inheritance, Trilogi Bartimaeus, Trilogi His Dark Material adalah beberapa novel fiksi yang mendapat tempat di hati para 'bibliophile'. Sabrina The Teenage Witch, Charmed, Practical Magic merupakan judul-judul serial dan film bertema witch and witchcraft yang lumayan sukses di pasaran. Kesemua judul-judul tersebut memuat cerita tentang liku-liku dunia sihir dengan berbagai versi dan sudut pandang. Harry Potter serial terfenomenal abad ini memang bukan yang pertama kali dalam kisah rumit dunia sihir. Dalam buku ini JK Rowling berpandangan bahwa manusia dengan kemampuan sihir pun mempunyai sikap dan perilaku yang sama dengan manusia biasa. Rowling menggambarkan bahwa kemampuan sihir adalah suatu talenta yang dimiliki oleh seseorang yang harus diasah sehingga bermanfaat bagi si empunya sihir. Kualitas sihir seseorang ditentukan oleh bakat dan ketekunannya dalam mempelajari sihir layaknya orang biasa belajar ilmu pengetahuan di sekolah dan masyarakat dengan berbagai praktek di lapangan. Phillip Pullman merepresentasikan bahwa penyihir hanyalah orang dengan jenis kelamin wanita saja yang memperoleh kekuatan secara warisan. Mereka hidup berkelompok memisahkan diri dari masyarakat biasa dan mempunyai kekuatan lebih dibantu dengan alat-alat sihir dan mampu membaca masa lalu maupun masa depan. Christopher Paolini menyajikan kisah fiksi penunggang naga yang memiliki kekuatan sihir. Berebeda dengan sihir dalam Harry Potter, Paolini menggambarkan bahwa sihir bisa diperoleh melalui latihan intensif akan pengetahuan kata-kata kuno yang merupakan nama sejati sesuatu benda. Kekuatan sihir dapat berbalik mencelakakan para pemakainya jika digunakan melebihi batas energi seseorang. Jonathan Stroud membuat versi berbeda dari kisah-kisah sihir pada umumnya. Stroud berpendapat bahwa sihir yang dimiliki seseorang berasal dari kemampuan orang itu mengendalikan makhluk-makhluk gaib. Stroud menuliskan bahwa di dunia ini ada makhluk-makhluk gaib berkekuatan rendah hingga tinggi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia seperti jin, afrit, foliot dan imp. Semakin besar pengaruh seseorang terhadap makhluk gaib maka semakin tinggi pula ilmu sihirnya. Berbagai kisah-kisah dunia sihir mencerminkan keingintahuan dan kekaguman orang akan seluk beluk sihir yang belum jelas keberadaannya. Di tengah berbagai mitos seputar dunia sihir yang mencakup alam gaib tersebut. Dan Brown dalam bukunya Da Vinci Code mencoba mencari penjelasan di balik kata misterius tersebut. Brown menuliskan bahwa munculnya tukang sihir bermula dari usaha kaum agamis untuk meruntuhkan idealisme pagan yang banyak dianut pada abad pertengahan. Simbol-simbol pagan yang memuja dewi bumi dialihkan menjadi simbol tukang sihir yang dicap gelap dan bertentangan dengan agama dan konsep Tuhan. Simbol bintang david yang merefleksikan dualisme yang sempurna menjadi simbol kaum pemuja setan. Simbol garpu poseidon dijadikan senjata tombak setan demikian pula dengan topi kerucut yang kini identik dengan penyihir. Dari berbagai versi karya penulis-penulis besar tersebut, semuanya mempunyai satu kesamaan bahwa sihir adalah kekuatan yang dimiliki oleh seseorang yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan atau kejahatan tergantung pada pilihan hidup masing-masing.

Selasa, 19 Agustus 2008

Ketika Cinta Bertasbih


Habiburrahman El Shirazy menggebrak dunia novel Indonesia dengan karya-karyanya yang fenomenal. Aku pertama kali mengenal Kang Abik, melalui novel larisnya yang bertajuk Ayat-Ayat Cinta. Setelah menonton versi film dengan judul sama, aku penasaran dengan cerita aslinya. Apalagi mendengar berbagai komentar yang membandingkan antara film dengan novel, segera aku menelaah buku yang menjadi best seller tersebut. Selesai menyimak kalimat demi kalimat hingga akhir cerita, aku pun paham mengapa nama Kang Abik melambung dengan pesat. Kang Abik membuat terobosan baru di tengah novel-novel bertema cinta ala remaja. Meskipun bertema cinta Kang Abik mampu memasukkan unsur-unsur religi dengan halus, memadukan fiksi dengan dakwah Islam yang mudah diterima. Kang Abik sangat piawai memberikan teladan-teladan Nabi Muhammad SAW melalui tokoh-tokoh nan religius dalam novel ini. Pembaca pun larut dalam cerita Fahri, Aisya dan Maria seiring dengan munculnya introspeksi akan akhlak masing-masing. Jebolan Al Azhar ini mampu menggambarkan seluk beluk Mesir hingga pembaca seolah-olah terdampar di gurun Mesir yang panas namun menyejukkan hati. Beliau juga mampu menjelaskan hal-hal yang selama ini menjadi dilema dalam masyarakat, aturan-aturan berdasarkan ayat-ayat Allah SWT tanpa berkesan menggurui. Kesuksesan novel ini membuat para produser tertarik untuk merepresentasikan dalam bentuk visual. Mengikuti novelnya, film yang digarap sutradara Hanung Bramantyo ini pun mendulang rupiah dengan menjadi box office di berbagai kota di Indonesia. Sebagai film adaptasi, memang tidak mungkin keseluruhan novel dapat diterjemahkan lewat gerak dan laku. Sayangnya penggarapan film ini sedikit melenceng dari garis besar novel aslinya. Hal kecil yang mungkin bertujuan untuk menarik perhatian pemirsa yang lebih menyukai kisah bahagia ini membuatku sangat kecewa. Tuntas booming Ayat-Ayat Cinta, Kang Abik kembali membuat kejutan dengan novel keduanya yang akan dijadikan film layar lebar. Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih mengisahkan perjuangan Khairul Azzam di negeri orang untuk mempertahankan hidup keluarganya di tanah air. Azzam harus menerima jalan hidupnya sebagai pekerja keras hingga menelantarkan kuliahnya di Al Azhar. Perjuangan Azzam masih berlanjut ketika kembali ke tanah air. Buku kedua menceritakan liku-liku Azzam untuk mencari seorang pendamping hidup yang salihah. Dibandingkan Ayat-Ayat Cinta, novel ini sedikit mengalami kemunduran cerita. Kompleksitas permasalahan di Ayat-ayat Cinta tidak muncul pada Ketika Cinta Bertasbih. Demikian pula materi dakwah yang sedikit berkurang di novel ini meskipun merupakan dwilogi yang otomatis memiliki lebih banyak ruang untuk menyiarkan Islam. Meskipun demikian Kang Abik berani memunculkan tokoh yang jauh berbeda dengan Fahri yang mendekati manusia sempurna. Pada novel ini Kang Abik menggambarkan tokoh Azzam yang seperti manusia biasa lainnya bisa terjebak dalam gelora cinta. Demikian pula dengan tokoh-tokoh lain yang digambarkan lebih manusiawi dengan sifat dan perilaku yang kadang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Di luar kekurangan dan kelebihan dari novel-novelnya, Kang Abik adalah salah satu dari sedikit pegarang yang mampu menginspirasi pembaca melalui karyanya. Beliau juga mempelopori sistem riset yang menjadikan novel-novelnya semakin berbobot berdasarkan literatur yang sahih. Sukses terus Kang Abik, rangkullah generasi muda untuk kembali dalam Islam

Minggu, 03 Agustus 2008

Petualangan Langdon

The Last Supper-Leonardo Da VInci




Dan Brown membuat gebrakan baru dalam dunia fiksi. Pengarang kelahiran tahun 1964 asal Amerika ini dengan berani meluncurkan sebuah novel semi historis yang dilatarbelakangi oleh salah satu agama besar di dunia. Jebolan Amherst Collegge ini tak tanggung-tanggung dalam melakukan riset dan dengan berani menyatakan bahwa semua dokumen yang tercantum dalam novelnya adalah nyata. Da Vinci Code berhasil menuai kontroversi di kalangan umat beragama khususnya Katolik. Dikisahkan seorang simbolog dari Universitas Harvard dicurigai melakukan pembunuhan terhadap kurator museum Louvre. Robert Langdon demikian nama simbolog tersebut pun berusaha membersihkan namanya. Usaha Langdon untuk membuktikan bahwa dia tak bersalah diikuti dengan perburuan pelik dan acapkali dengan taruhan nyawa. Dalam buku ini Brown mengangkat cerita tentang Holy Grail melalui tokoh Langdon. Holy Grail atau cawan suci dipercayai umat KAtolik sebagai cawan yang digunakan Yesus Kristus dalam perjamuan terakhir. Dalam buku ini Brown mengungkapkan fakta mengejutkan yang sebenarnya tentang keberadaan Holy Grail. Berdasarkan dokumen-dokumen kuno yang menurut Brown nyata adanya, Brown melalui tokoh Langdon memaparkan bahwa Holy Grail merupakan metafora bagi seorang perempuan yang dikenal oleh seluruh umat KAtolik di dunia. Dikisahkan Sir Leigh Teabing, ahli holy grail dari Inggris menjelaskan bahwa Holy Grail adalah simbol dari Maria Magdalena. Maria Magdalena yang dikenal sebagai pelacur dari zaman Kristus dinyatakan bahwa sesungguhnya ia adalah istri dari Yesus itu sendiri ! Dan keturunan mereka masih ada dan bahkan bisa ditelusuri peta silsilahnya. Teabing menyatakan bahwa keberadaan Maria Magdalena sebagai istri Yesus dihapus dari sejarah Katolik dengan alasan bisa meruntuhkan sifat Ketuhanan dari Yesus. Yesus yang notabene adalah Tuhan umat KAtolik dalam buku ini memiliki sifat manusia seperti beristri dan mempunyai keturunan. Kebenaran tentang MAria Magdalena ini dijaga ketat oleh sekelompok orang yang bergabung dalam organisasi rahasia Biarawan Sion. Organisasi ini diketuai oleh tokoh-tokoh ternama di antaranya adalah Leonardo Da Vinci, Sir Isaac Newton, dan Boticelli. Tugas utama Biarawan Sion adalah menjaga agar semua dokumen tentang Maria Magdalena tidak diketemukan oleh pihak Gereja sehingga bisa dimusnahkan. Meskipun kerahasiaan adalah faktor terpenting, para tokoh Biarawan Sion ini tak urung menuliskan tanda-tanda tentang Maria Magdalena dalam karya-karyanya seperti lukisan-lukisan The Last Supper buah karya Da Vinci, dan musik gubahan Mozart. Bahkan istilah Holy Grail atau cawan suci mengacu pada bentuk piala yang dikonotasikan sebagai rahim perempuan suci yaitu Maria Magdalena sebagai ibu dari keturunan darah Yesus. Brown semakin berani dengan menuliskan bahwa garis keturunan Yesus adalah klan Merovingian yang dikenal sebagai pendiri kota Paris. Semua relikui Maria Magdalena baik berupa gulungan naskah, dokumen, surat-surat, artefak dan tulang-belulang Maria Magdalena tersimpan dalam ruang rahasia di dalam Museum Louvre, Prancis. Menilik dari materi buku Da VInci Code tersebut, tak bisa dipungkiri bahwa Brown membuat sebuah isu yang menyerempet bahaya karena menyangkut keimanan. Tak pelak lagi, pihak Vatican pun dengan segera bertindak dengan melakukan pencekalan terhadap film adaptasi novel ini yang berjudul sama. Semakin dilarang, orang biasanya semakin penasaran. Buku ini pun laris manis di pasaran hingga mencapai 70 juta copy ! Kesuksesan Dan Brown tidak berhenti sampai di sini. Petualangan ahli ikonografi ini berlanjut dalam buku kedua yang merupakan prekuel. Angel & Demon menjadi awal keterlibatan Langdon dalam dunia sejarah Katolik yang gelap. Dalam buku ini Brown memaparkan fakta menarik sekaligus mengerikan. Lagi-lagi menurut fakta nyata, Brown menyebutkan keberadaan Illuminati, suatu organisasi beranggotakan para ilmuwan. Illuminati diketuai oleh Galileo sebagai wadah bagi ilmuwan untuk mendiskusikan temuan-temuan mereka tanpa sepengetahuan Gereja. Pada era Galileo, gereja banyak memburu para ilmuwan karena penemuannya yang dianggap berlawanan dengan doktrin-doktrin gereja. Supaya selamat namun tetap berkarya dalam menyelidiki alam semesta, eselon tinggi Illuminati yaitu Bernini merancang sebuah ujian inisiasi bagi ilmuwan yang ingin menjadi anggota Illuminati. Ilmuwan calon anggota ini harus memecahkan serangkaian kode untuk menemukan markas rahasia Illuminati. Kejeniusan Brown dalam menggabungkan sejarah dan fiksi sangat teruji dalam buku ini. Brown mengajak pembaca untuk menelusuri tanda-tanda (Segno) yang tersebar di kota Roma. Brown begitu piawai menggambarkan kota Roma sehingga pembaca seolah sedang ikut ujian untuk menjadi seorang Illuminatus. Brown yang tumbuh di lingkungan paradoks antara sains dan religi ini mampu membuat pembaca tercengang dan berdebar ketika membaca karya-karyanya. Brown begitu pintar meramu sejarah sehingga menghasilkan fiksi semi historis yang menarik dan tidak membosankan meski dibaca berulang-ulang. Riset yang menyeluruh dan detail yang dilakukannya selama menulis sebuah buku patut dicontoh oleh siapapun yang berkeinginan menjadi seorang pengarang. Benar atau tidaknya semua fakta yang tercantum dalam Da Vinci Code maupun Angels & Demon semua tergantung dari keyakinan masing-masing pembaca.

Castella San Angelo-markas Illuminati


Segno1 - Capella Chigi- Earth
SEgno 2-Piazza San Pietro- Air

SEgno 3- St Maria della Vitoria- fire



Segno 4-Piazza Navona-Water




Rabu, 28 Mei 2008

Happy Harry


Finnally, setelah beberapa tahun menunggu aku bisa menikmati episode akhir novel laris karya JK Rowling. Begitu tanggal pasti Harry Potter dalam bahasa indonesia ini terbit, segera aku bergegas menyambangi toko buku langgananku. SAmpai di rumah, aku segera membuka halaman pertama buku ini. Tak sampai semenit kemudian aku sudah tenggelam dalam petualangan akhir penyihir besar HArry Potter dalam usahanya menyelamatkan dunia sihir.
Beberapa jam sesudahnya aku terpekur. Rasa puas menyelimuti pikiranku. Aku ikut merasa lelah, seolah turut berjuang bersama Harry, Hermione, Ron dan teman-teman yang lain melawan Pangeran Kegelapan dan pengikutnya. Aku merasa bahagia, sebahagia HArry yang akhirnya menemukan jalan hidupnya.
Walau aku lega kisah yang panjang ini akhirnya berakhir, aku juga merasakan kehilangan yang amat dalam. Kehilangan rasa berdebar saat menanti kisah ini berlanjut, rasa tak sabar yang selalu ada ketika selesai membaca buku terakhir yang selalu menjanjikan petualangan baru di buku selanjutnya.
Aku masih ingat saat pertama kali membaca buku ini. Seperti biasa, aku membaca milik teman baikku yang sudah lebih dulu kepincut dengan kisah"anak yang bertahan hidup" ini. Tak pelak aku pun ikut jatuh hati pada anak ini. Tak heran jika aku mulai memutar otak mengatur keuangan agar aku bisa mengoleksi buku yang lumayan memberatkan kantong ini.
Tapi tak sia-sia aku kadang harus mengurangi jatah jajan demi HArry Potter. Setiap jilid mempunyai alur cerita yang menegangkan. Selalu ada hal-hal baru yang ditulis oleh pengarang paling kaya di Inggris itu. Sedikit demi sedikit misteri yang menaungi penyihir cilik mulai terkuak dan akhirnya sampai ke klimaks cerita yang mendebarkan.
Aku dan sahabatku menikmati permainan tebak-tebakan tentang kisah kelanjutan HArry. Apa yang membuat HArry terus diburu, akan menjadi apa Harry nanti, dengan siapa ia menikah, berbagai pertanyaan yang belum terjawab saat kisah ini masih berlangsung selalu membuat kami penasaran. Aku pun turut larut dalam dunia Harry yang fantastis, begitu piawainya Rowling dalam menggambarkan dunia sihir, aku sampai merasa hidup di dunia itu. TAk jarang aku dan sahabat-sahabatku mengucapkan kata-kata sihir (dalam hati aku ingin sekali mantra sihir itu berfungsi !) saat berkumpul dan bercengkerama.
Harry Potter sudah usai, tetapi sosoknya masih terus melekat di hati penggemarnya.