Tampilkan postingan dengan label the story goes...(sin yin). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label the story goes...(sin yin). Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2017

Curahan Hati Seorang Egois

       Selamat malam, sebelum membaca lebih lanjut, perlu saya ingatkan bahwa tulisan ini hanya sekedar curahan unek-unek dari seorang yang egois, keras kepala, angkuh dan entah apa lagi karakter yang telah melekat pada diri saya. Jadi, sebelum menghabiskan energi untuk membaca tulisan yang tidak bermanfaat, lebih baik lewati saja, sekian. 
       Sudah beberapa waktu ini saya terus menerus didera sakit kepala sebelah. Istilah kerennya sih migrain katanya, ini selalu terjadi kalau saya capek badan dan pikiran. Masalah pekerjaan baik di rumah atau di sekolah, masalah di kantor, masalah ekonomi campur aduk di kepala yang pada akhirnya membuat saya terus uring-uringan. Bersyukur, suami saya selalu mengerti kondisi saya dan tidak ikut uring-uringan juga ^_^. Ah, sudahlah tak perlu panjang lebar mempromosikan masalah yang pastinya masih banyak di luar sana yang bermasalah jauh lebih berat dari saya. 
       Dari dulu saya orang yang sulit beradaptasi dengan lingkungan. Mungkin karena didikan masa kecil membuat saya kesulitan berkomunikasi aktif dengan orang lain. Saya sangat menyadari itu.Tak heran jika teman yang sukai bisa dihitung dengan jari. Meskipun demikian, jalinan pertemanan saya itu awet lho. Sejak duduk di bangku SD sampai berkeluarga, komunikasi masih sangat baik. Mungkin karena kami itu "koloni tipikal" alias memiliki karakter yang hampir sama. Adalah sifat saya juga yang begitu cocok dengan seseorang, maka orang itu akan mendapat limpahan kepedulian saya. Tapi sebaliknya, jika saya tidak cocok, maka sebisa mungkin saya menghindari komunikasi dengan orang tersebut (maafkan saya...). 
        Kerja sama bagi saya adalah saling mengisi, saling menguntungkan untuk mencapai tujuan. Sejak dulu seperti itu. Gampangnya bagi-bagi tugaslah. Dan saya pun tidak segan-segan membantu mereka yang benar-benar butuh bantuan saya. Nah, dengan sifat saya yang seperti itu, bisa dibayangkan saat saya harus bekerja sama dengan orang yang dengan entengnya berkata, " Kapan kita nggarap bareng ? Aku tak nurun ! (saya mau nyontek). Bagi sebagian orang, itu mungkin kalimat guyonan, atau main-main. Kalimat sebagai upaya untuk merendah dengan memposisikan diri sebagai orang yang kurang mampu. Saya tentu paham, karena saya pun sering berkata demikian. Nah masalahnya adalah orang itu berkata dengan maksud yang sebenarnya. Kok bisa tahu ? Iyalah, lha wong saya ini berkali-kali mengalami itu kok. 
        Entah, saya ini terlalu sensistif atau punya intuisi ngawur. Pertama kali kenalan, orang itu sudah membuat rekam jejak negatif di otak saya. Mana ada orang baru kenal dengan entengnya minta tugasnya 'digarapin'. Adanya mah, tolong dibantu ya..prok..pro..prok.. jadi apa. Dan kejadian itu terus berulang, dengan alasan sibuk ini itu, berkeluh kesah masalah rumah tangganya, ujung-ujungnya minta 'copas' hasil kerja saya. Ampun deh...!!! Belum lagi, perkataan yang keluar dari mulutnya yang merah 'mblingir-mblingir' (pengin punya gebetan baru) selalu bertolak belakang. Hei, tak tahukah kamu, biar saya ini galak, saya punya teman yang melaporkan ucapanmu tentang saya (walau saya nggak tau maksud laporan itu buat adu domba atau apalah). 
       Terus terang saya ini jengkel, saat kamu itu dengan entengnya bilang "kok saya nggak diajak ?" Padahal apa yang saya lakukan sudah sepengetahuanmu. Memang saya tidak mengajak kamu, karena saya ini lagi "tongpes". Sementara budaya disini itu, yang mengajak ya harus tanggung jawab segalanya (transport, makan, dll). Dan saya semakin jengkel, saat kamu menanamkan ke orang lain bahwa saya dan teman saya tidak kompak. Maaf ya, kita memang jarang mengikutsertakan kamu. Dan itu semua karena sikapmu yang kayak tukang fotocopy. Saya juga masih ingat kok, saat hebohnya bagi-bagi jam yang membuat saya terpojok. Waktu itu di depan semuanya kamu bilang, nggak apa-apa, eh ternyata di belakang saya mengatakan sebaliknya. 
         Aduh, saya ini jadi heran lho. Kok ya, orang-orang itu bisa dipengaruhi olehmu. Sampai-sampai orang yang kuhargai karena kebijaksanaannya pun terpengaruh. Hebat kamu ya, tepuk tangan plok plok plok. Beruntung saya ini masih waras, walau gampang tersulut amarah. Saat kamu berkeluh kesah karena dipojokkan orang banyak, saya hanya bisa tersenyum dan tak berkomentar. Karena dalam hati saya pun setuju dengan orang itu kok. Makanya saya diam saja kalau ngomong berarti saya munafik dong ?!. Tanpa perlu kalkulator pun, saya bisa menghitung dengan cepat lho (maklum mantan manajer keuangan). Jadi, omong kosong kalau dengan aset sebesar itu, kamu tidak mendapat keuntungan apa-apa.  Duh, orang yang baru kenal kamu sepuluh hari pun sudah bisa membaca karaktermu. Saya lumayan baik hati lho (atau jahat ?), tidak memberitahumu apa yang mereka katakan tentangmu. Anak-anak pun gerah lho, sampai-sampai mereka tanya kamu ada apa nggak, baru mau ikut kegiatan. Iya sih, memang katamu anak-anak itu terlalu lancang. Berkat jasamu yang punya koneksi luas mereka berprestasi. Tapi ya, jangan menafikkan kerja mereka. Sulit lho merangkul anak-anak agar mau bekerja keras. 
      Saya nggak bisa dan nggak mau membayangkan beberapa waktu berikutnya bekerja sama denganmu. Tiga hari yang lalu itu pun kamu sudah membuat saya dan teman saya tekanan darah tinggi. Saya mau nurut suami saya saja biar nggak dimarahi suami lagi (demi kebaikan saya). Jangan pedulikan omongan orang, toh mereka hanya tahu dari sudut pandang seorang kamu. Mereka tidak tahu cerita versi saya yang egois ini. Saya yang egois ini, memang tidak cocok dan sulit bekerja sama denganmu, hanya denganmu lho. Jadi, sampai nanti pun, saya tetap seperti ini. Saya hanya akan bekerja sama sekadarnya, yang penting tidak mengganggumu dan kamu tidak mengganggu saya. Saya hanya akan fokus pada tujuan saya, nggak peduli dengan persepsi orang yang telah termakan cerita memelasmu. Kata suami saya, ngapain dipikir, bikin emosi saja. Saya ini walau keras tapi sensitif,  sangat memikirkan persepsi orang tentang saya. jadi betapa sedihnya saya saat mendengar hal negatif tentang saya. Okelah, saya akan terus berusaha memperbaiki diri, agar tidak egois, keras kepala, cuek, nggak mau kerja sama, jadi doakan saya ya teman. Miss you, sohibku sejak kecil, teman gerombolan si berat saat kuliah. Kita bersama melewati bahagia dan duka, ada tertawa dan tak jarang bertengkar tapi selalu pada akhirnya kembali bersama. Karena kalian selalu berkata dan bersikap apa adanya. Itu saja, sederhana kan ?

Minggu, 22 Mei 2016

Sekedar Pembelaan 
     
      Beberapa waktu lalu, saya menonton acara tentang wajib tidaknya negeri ini menebus kesalahan masa lalu. Saya tidak akan mengomentari hal itu, bukan hanya karena itu topik yang rentan, juga karena saking geregetannya saya mendengar argumen-argumen mereka yang menyebut diri "pembela" hak asasi. Daripada berpendapat yang bukan kapasitas saya, terlebih saya pun tidak mengalaminya hingga berpotensi menambah rancu duduk permasalahan lebih baik saya cukupkan sampai disini saja^^. Lanjut soal menonton, masih juga di channel yang satu itu, saya mendengar, melihat, membaca berita yang membuat saya geregetan lagi ! Untuk yang satu ini, tangan saya gatal untuk menerjemahkan pikiran yang berputar di kepala saya, apalagi ketika membaca komentar-komentar di lapak harian online seputar kasus tersebut. Tidak ada akibat jika tak ada sebab, itu poin pertama yang saya tangkap ketika mempelajari kasus pidana seorang guru yang dilaporkan walimurid karena mencubit muridnya. 
        Akhir-akhir ini banyak kasus serupa yang diekspos di berbagai media hingga memunculkan adu argumen para kometator di media sosial. Saya sebagai seorang guru, tentu sangat menyayangkan tindakan walimurid tersebut yang langsung mempidanakan perlakuan guru terhadap anak didiknya. Saya tidak membenarkan kekerasan fisik yang berdampak fatal terhadap tubuh anak didik. Pemukulan di luar batas kewajaran memang sudah seharusnya diusut dan ditindak. YAng saya sayangkan, ketika cubitan, jeweran, cukur goceng, push up, dan sanksi serupa menjadi senjata untuk menjebloskan seorang guru ke penjara. Gampang saja, bagi mereka di luar pendidik untuk berkata guru itu harus sabar dalam mendidik, berilah hukuan yang mendidik, kenakalan itu biasa, bla bla bla... tanpa pernah terjun langsung menghadapi anak didik (terlebih usia puber dengan segudang kompleksifitas). Disini saya hanya mengatakan, guru ibarat orang tua anak di sekolah, saya (kalau tidak bisa mengatakan kami) tak pernah demikian membenci seorang anak didik. Perhatian saya sebagai seorang guru, tidak hanya dalam bentuk kelembutan dalam mengajar, namun ketegasan dalam meluruskan perilaku anak didik yang menyimpang (melanggar aturan tertulis maupun tidak tertulis). Mungkin mereka yang mencemooh tindakan tegas guru, tidak mengetahui betapa kami (saya) merasa khawatir, cemas akan masa depan anak didik kami jika mereka dibiarkan berperilaku tak beretika. Kami (saya) berusaha menjaga anak didik berada di koridor menuju sukses, tak hanya dari sisi keilmuan melainkan dari segi karakter yang santun.
              Sekolah hanya berperan di sepertiga bagian pendidikan seorang anak. Tidakkah mereka sadar, jika pendidikan yang utama adalah di rumah dan lingkungan sekitar mereka ? Betapa naifnya seseorang yang berkata, "sekolah seratus persen bertanggung jawab terhadap kesuksesan (pintar dan berkarakter), kalau tidak untuk apa sekolah ?" Tak sadarkah mereka, kami hanya menerima pribadi-pribadi yang terbentuk dari pola asuh di rumah ? Diakui atau tidak, kenyatannya (di sekolah saya) anak-anak yang bermasalah sebagian besar mempunyai latar belakang keluarga berantakan, entah itu karena ditinggal orang tua bekerja sehingga tak terpantau dan kurang perhatian di rumah, anak dari keluarga broken home, anak yang tumbuh di lingkungan keluarga arogan karena material ataupun kekuasaan, atau anak yang tumbuh di keluarga tak berpendidikan religi. Kami (saya) sebisa mungkin membimbing anak-anak dengan beragam latar belakang tersebut dengan satu tujuan, menjadikan mereka orang yang berhasil di masa depan, calon penerus negeri ini yang santun dan berbudi luhur (tak seperti kebanyakan sekarang yang cuma bisa berkoar-koar tanpa solusi, kritikus handal dengan tujuan menjatuhkan seseorang tanpa mau dikritik, dan tak menunjukkan kerja nyata). 
                Betapa sombongnya orang yang berkata, " Sekarang tidak diajarkan moral, etika atau pengajarnya tidak memiliki etika ?". Siapakah anda yang berani mengeluarkan statement seolah ahli pendidikan ? Betapa kami (saya) pontang-panting mengikuti kebijakan kurikulum pemerintah,  yang walaupun masih banyak kekurangan disana-sini namun bertujuan untuk menciptakan pribadi-probadi yang berkarakter ? Saya hanya ingin membalikkan situasi, cobalah anda (yang berpendapat negatif terhadap guru) untuk berperan sebagai guru. Sadarkah kalau anda adalah guru di rumah ? Pertanyannnya, "Apakah anda tak marah, tak ambil tindakan ketika anak anda berperilaku yang tak sesuai dengan keinginan anda ? Saya sendiri sebagai orang tua, tak memungkiri kalau dalam mendidik anak saya lebih  keras daripada seorang guru di sekolah. Tak peduli disebut galak, saya hanya ingin anak saya lebih baik dari saya, menjadi orang yang mandiri, bermental baja yang santun dan religius. Karena saya memahami bahwa tuntutan di masa depan jauh lebih berat daripada zaman saya dulu, tantangan, hambatan dan godaan jauh lebih banyak sesuai dengan perkembangan zaman.
           Dengan munculnya kasus-kasus serupa, tak heran para guru menjadi takut untuk bertindak ketika menemukan pelanggaran. Guru lebih memilih bermain aman, datang ke sekolah untuk mengajar tanpa mendidik. Ketika guru dibenturkan dengan hak asasi, tak lagi diberi kewenangan untuk mengatur anak didik, yang terjadi hanyalah potret negatif perilaku anak usia pendidikan yang tidak terkontrol. 
"Pendidikan berawal dari keluarga, tanpa timbal balik dan komunikasi dua arah pendidikan di sekolah tak akan mencapai hasil maksimal."

Senin, 02 Mei 2016

Sahabat : Tak Lekang Oleh Waktu- AADC 2

Tak terasa sudah hitungan tahun  absen menulis pun mengunjungi rumah ceritaku ini. Kesibukan, tak ada sambungan internet, hanyalah alasan klise ketika tak mau menyadari bahwa jenuhlah alasan sebenarnya saya berhenti bercerita lewat tulisan di sini. Lalu, apa yang membuat saya memutuskan menambah entri baru setelah satu tahun lewat sebulan ? Sederhana saja, keinginan bercerita lagi timbul sejak minggu lalu usai mengunjungi tempat favorit yang lima tahun belakangan ini mudah dijangkau dari tempat saya tinggal. Ya...saat lelah hati, pikiran atau bahkan lelah fisik tempat ini menjadi salah satu favorit saya untuk membuang penat. Duduk diam  selama 2 jam penuh di kegelapan, tertawa, gemetar hingga menangis sedih dan gembira bersama tokoh-tokoh rekaan selalu sukses mengusir lelah walau sukses juga menguras isi dompet ^_^. Bioskop itu nama tempatnya, mungkin sekarang orang langsung menyebut merknya saja.Tak terhitung berapa jumlah film, jenis ataupun asalnya jalinan kisah yang tergambar indah mengisi memori saya sejak duduk di bangku sekolah menengah. Memang sih, setahun terakhir beberapa kali saya menghabiskan 'me time' disitu. Yang jadi pertanyaan, mengapa baru saat ini saya memutuskan untuk "ngoceh" di sini ? Film apa sih yang sedimikian hebatnya bisa membuat saya 'melek' di jam yang biasanya menjadi waktu tidur saya ? Film apa ya ? Jika melihat tanggal posting cerita ini mungkin penggemar film sudah bisa menebak. Ya...benar sekali.. AADC 2 itu judul filmnya. Film yang ditunggu-tunggu penggemar Cinta & Rangga selama 14 tahun lamanya sampai-sampai sudah ikhlas dengan mereka-reka sendiri akhir ceritanya. Bahkan saya sampai nonton 2x lho, meskipun karena ketidaksengajaan sih (panjang ceritanya dan tak perlu saya tulis ^_^). Mulanya, mungkin sama dengan yang lain saya hanya penasaran dengan akhir cerita ini. Maklumlah waktu seri pertamanya saya tidak begitu antusias bahkan hanya nonton di kamar kos teman dengan rental vcd bajakan pula, duhh !!! Ketika pertama nonton sekuelnya, entah mengapa sejak awal saya sudah merasakan ketertarikan khusus. Bukan hanya karena penampilan 'cool' si pemeran utama ya ^_^, tapi tidak tahu kenapa cerita sederhana itu begitu melekat di hati saya. Adegan demi adegan begitu menyentuh, membuat saya berulang kali mengusap sudut mata, tersenyum dan jantung berdetak lebih kencang. HIngga ketika lampu menyala, pikiran saya masih tertinggal di alur cerita. Ahh...aku ini kenapa sih, pikir saya ? Sepanjang perjalanan pulang, saya terus berpikir dan menelaah mengapa saya begitu terpikat dengan sekuel film ini. Kilasan-kilasan akting natural para pemeran berkelabatan di pikiran saya dan akhirnya saya pun menemukan daya pikatnya. Persahabatan.... ya persahabatan Cinta, Maura, Carmen, Milly dan Alya yang tak lekang oleh waktulah yang membuat saya teringat dengan pengalaman hidup saya sendiri. Saya dan sahabat-sahabat saya tak ubahnya geng Cinta di kehidupan nyata. Lebih dari 20 tahun lamanya, meskipun saya dan sahabat-sahabat saya sudah memiliki kehidupan sendiri, bahkan terpisah oleh jarak namun ikatan persahabatan masih terjaga. Bertukar kabar, mengucap salam dan selamat hingga saling menguatkan di antara kami sama persis dengan jalan cerita film ini. Persahabatan dan bukan akhir kisah Cinta & Rangga yang membuat saya terharu (bahkan saya kaget ketika akhirnya "happy ending" lho). Cinta...pada kenyataannya tak semanis AADC 2. Cinta mungkin bisa terpendam selamanya, tersimpan dalam kenangan ketika takdir berkata lain. Namun persahabatan, lebih memungkinkan menjadi realita seperti yang sudah saya alami. Gersi, Desi, Deasy, Dewi, INtan, mereka adalah Maura, Carmen, Milly dan Alya untuk saya, merekalah tempat saya bersandar ketika malu untuk merengkuh keluarga, merekalah tempat saya menghabiskan waktu dalam canda dan tawa, merekalah tempat saya berbagi cerita. Rangga... ahh saya tak seberuntung Cinta bisa mendapatkan kembali kenangan yang tersimpan 14 tahun lamanya ^_^, cukuplah mereka berdua mewakili mimpi saya yang secara logis hanya terjadi di dunia film dan novel romantis. AADC 2 mengingatkan saya akan bacaan favorit saya macam shoujo manga ataupun historical romance. Dunia rekaan yang cukup menjadi fantasi dalam tidur saat saya mengalami titik jenuh. Cerita sederhana, namun menghibur dan tak membuat saya berpikir berat. Itu....ya hanya itu alasan yang mendorong saya berkunjung ke rumah yang nyaris terlupakan ini. 
Sahabat-sahabatku... terima kasih selama ini...tak sabar berkumpul lagi di liburan mendatang. C...U...

Sabtu, 18 April 2015

Sama Dengan Yang Lain Saja

"Ojo dadi atimu yo Dek, sertifikasimu ora cair tahap iki", sebaris kalimat dalam pesan singkat itu sontak membuat hati gegana alias gelisah galau merana (kata si cita citata si ^_^). Bagaimana tidak tambahan rejeki yang diharapkan dan tentunya sudah ada planning tersendiri mau diapakan alih-alih tertunda malah lewat sama sekali. Alhasil, dua hari ini berlalu dengan emosi tak menentu, buliran air mata tak terbendung ketika ketidakberuntungan itu berkelebat dalam ingatan. Meskipun masih bersyukur roll cake yang kubuat dalam kondisi tak menentu berhasil dengan sempurna ^_^. Hmm...sebetulnya sih sejak saya mendengar bahkan ikut membantu mengerjakan sistem dapodikmen akan berlaku di tahun ini, saya sudah pesimistis akan keberlangsungan tunjangan profesional guru tersebut. Di awal tahun pelajaran seketika terbesit rasa kecewa melihat pembagian jam mengajar yang sudah pasti akan memblokir aliran tunjangan yang sudah menjadi hak saya. Komplain yang sempat terlontar sambil lalu dibarengi kekhawatiran yang memang akhirnya terjadi juga, tak kuasa menggugah penguasa untuk mencari solusi yang arif. Huftt...ya sudahlah memang rejeki sudah ada yang mengatur, yang penting sudah berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya. Dari awal proses perolehan sertifikat guru profesional pun saya sudah mengetahui kendala yang akan menghambat perolehan hak saya di masa mendatang.
Meskipun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa sebersit rasa kecewa itu ada. Rencana menempuh studi ke jenjang berikutnya sudah pasti tertunda entah untuk berapa lama. "Podo koncone wae", demikian kata suami saya setelah mengetahui berita kurang beruntung itu. Setelah dipikir panjang, benar juga nasihat ( kalau bisa disebut nasihat sih) suami saya itu. Ya, sudah lama suami saya mengingatkan (lebih tepatnya protes ^_^) akan totalitas saya di sekolah. Tugas tambahan di luar tugas pokok justru lebih menyita waktu dan stamina saya. Saya tak munafik, orang bekerja apapun profesinya pasti mengharapkan imbalan untuk menopang kebutuhan hidup. Perbedaannya hanyalah dari segi totalitas dan tanggung jawab. Demikian pula saya, bukannya menyombong tetapi saya terbiasa bekerja tidak setengah-setengah. Jadilah, tugas pokok, tugas tambahan sekaligus kewajiban personal sebagai seorang abdi negara menghabiskan pikiran dan tenaga saya. Belum lagi disiplin yang memang sudah tertanam kuat (terima kasih buat guru-guru SD-SMP ku), menjadikanku tak mau menyimpang dari aturan (baca : perintah). Nah, ketika hasil yang saya peroleh tidak sama dengan rekan-rekan lainnya mau tidak mau rasa 'dongkol' itu ada. Jika dipikir dangkal, untuk apa bersusah payah sementara menjadi biasa bahkan santai pun bisa terus melenggang tanpa hambatan berarti. 
Mungkin ini pemikiran saya yang sedang kecewa sehingga cenderung negatif. Melihat situasi di sekitar, ternyata program tunjangan profesional  itu kurang mencapai sasaran. Saya dan rekan-rekan dibebani dengan seabrek persyaratan administrasi sehingga konsentrasi ke peserta didik berkurang. Tujuan meningkatkan profesionalisme lebih banyak diabaikan, hasilnya sebagian besar adalah peningkatan gaya hidup semata. Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan rekan, contoh kecil bisa saya ambil dari tugas tambahan saya sebagai pengelola perpustakaan. Rekan yang mau membeli buku penunjang mapel bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar mengandalkan materi yang tersedia di perpustakaan, atau kalau tidak ada sekedar berpegangan pada lembar kerja siswa. Hari 'gini' mana ada yang mau mengampu mapel di luar sertifikatnya karena tidak bisa dihitung jam. Oh itu hanya sebagian kecil penyimpangan saja. Saya justru merasa prihatin dengan nasib para honorer yang pendapatannya jauh di bawah abdi negara sementara beban mereka sama bahkan lebih. Sekali lagi ini hanya ungkapan dari 'barisan sakit hati'saja. Sudah bersusah payah belajar, mencari referensi dan inovasi untuk mengajar mapel di luar sertifikasi, plus sendirian mengelola perpustakaan sebagai salah satu solusi kekurangan jam mengajar, ditambah permintaan bantuan lainnya yang menyita waktu (walau dulu saya dengan senang hati membantu), dan urusan karir yang harus dijalani (wajib dan tambah ruwet prosesnya), datang lebih awal pulang di luar jadwal (buka pintu tutup pintu alias seharian di kantor) ternyata belum disebut profesional. Alih-alih dapat tunjangan malah distop karena jam mengajar tidak linier. Huft...kalau begini lebih baik berlaku sama saja dengan yang lain. Datang saat bel berdentang, pulang sesudah tak ada jadwal, tidak masuk saat nol jam, mengajar tanpa beban, memberi nilai tanpa melihat real dan tanpa beban tambahan (kalau pun ada dikerjakan sekenanya terutama kalau kerja ikhlas). Iya toh...berlaku seperti itu saja dapat lebih, apalagi saya yang tidak ada lebihnya mendingan bersikap sama saja yang penting kewajiban pada peserta didik terpenuhi dengan maksimal, di luar itu mulai sekarang sama dengan yang lain saja.

Selasa, 28 Januari 2014

Biasa Saja

"Bagaimana rasanya ?", akhir-akhir ini pertanyaan serupa sering mampir kepadaku. Bukan tanpa alasan sobat-sobatku menanyakan hal tersebut. Baik yang sudah berdua apalagi yang masih setia menjomblo kompak menanyakan perubahan yang terjadi pada diriku sejak hari Minggu, 29 Desember 2013 lalu. Ditanya tentang rasa, terus terang aku sendiri belum bisa menjawab secara gamblang. Pasalnya, hingga saat ini yang notabene tiga minggu berlalu sejak statusku berubah, rutinitas yang kujalani sehari-hari tak banyak berubah. Bangun pagi, berangkat ke kantor, pulang sore lalu istirahat hingga pagi kembali berulang, masih sama seperti aku yang dulu. Menyiapkan makan malam, ataupun jalan-jalan bertiga pun sudah biasa kulakukan. "Biasa saja, mungkin karena sudah terbiasa", jawabku yang diamini salah satu sahabatku yang juga mengalami hal serupa. Mungkin karena baru beberapa waktu dan belum benar-benar tinggal bersama, jadi perubahan status dari single menjadi ibu rumah tangga belum terasa nyata. Pola pikirku pun belum mengalami perubahan sebagaimana mestinya. Menyiapkan makan, seragam ataupun bersih-bersih rumah sudah biasa kujalani beberapa bulan belakangan ini. Menyandang  predikat 'bunda' pun baru sedikit mengubah aktivitas sehari-hari. Lagi-lagi karena beberapa bulan ini aku sudah terbiasa dengan semua itu.
Sebenarnya bukan perubahan aktivitas yang menggangguku, ketidaknyamanan akan status baru ini justru datang dari mereka yang tak berkepentingan.Tak dipungkiri, karakterku yang tertutup dan tak suka berinteraksi berlebihan dengan orang lain membuatku terganggu dengan celotehan nyinyir. Aku berprinsip, hidupku adalah urusanku. Apa yang kuperbuat, sudah melalui pertimbangan matang dan sepanjang tak merugikan orang lain, sah-sah saja untuk kulakukan. Pada kenyataannya, pikiran orang itu bermacam-macam. Keputusanku untuk menggelar pernikahan tertutup pun mengundang berbagai komentar mulai dari omongan 'bijak' sampai komentar miring penuh dugaan negatif. Walau emosi sering tersulut, aku berusaha untuk tetap diam. Sedikit senyum dan jawaban singkat menjadi senjataku untuk menanggapi komentar-komentar yang pada intinya sama. Doa yang tulus kuterima dengan penuh terima kasih, sebaliknya gurauan (atau suara hati sebenarnya) kuanggap angin lalu saja. Meskipun jengkel dan tersinggung selalu muncul tatkala mendengar tagihan makan-makan hingga tuduhan 'sudah isi'. Aku tahu, bahwa segala sesutau yang diam-diam itu pada akhirnya akan menimbulkan kegemparan. Hanya saja, pentingkah memohon doa restu orang-orang yang belum tentu tulus memberi restu dengan sebuah resepsi yang bagiku sebuah pemborosan ? Untukku, doa restu dari keluargalah yang utama, karena mereka yang benar-benar dekat dengangku dan mendukungku, dan pastinya mendoakan dengan tulus tanpa embel-embel "sumbangan". Berbeda dengan sebagian orang luar yang lebih dulu menodong 'syukuran' alih-alih mengucapkan selamat, disertai bisik-bisik negatif tentang hari bahagiaku yang tertutup. Pada akhirnya semua keputusanku dan pasanganku cukup tepat, dan terserah orang mau bilang apa. Yang penting, doa dari keluarga dan sahabat sejati menyertai perjalanan kami menempuh hidup yang baru.

Kamis, 07 November 2013

Satu Hari Dalam Hidupku

Surprise tak selalu berhasil dengan baik. Niat baik memberikan kejutan tanpa memperhatikan tingkat keseriusan sebuah momen, justru memberikan efek di luar harapan. Itulah yang terjadi pada satu hari dalam hidupku yang seharusnya menjadi momen penting bagiku menuju pribadi yang dewasa dan mandiri. Jauh hari sebelumnya hingga beberapa saat sebelum kepulanganku ke kampung halaman, berkali-kali aku meminta penjelasan akan rencana di hari Minggu. Dan jawaban yang kuterima selalu sama, "Hanya silaturahmi". Bermodal jawaban yang kudapat, aku pun santai saja tak melakukan persiapan khusus untuk menyambut tamu dari jauh. Demikian pula dengan sanak yang lain, hanya sekedar berkumpul, menyiapkan tempat dan jamuan sederhana. Sambil menghabiskan waktu tunggu mengingat perjalanan jauh yang harus ditempuh, aku asyik bercengkerama dengan sobat-sobat karibku hingga malam menjelang. Segala urusan menyambut tamu kuserahkan pada mereka yang lebih berpengalaman ^^. Demikianlah, setelah lama menunggu, rombongan pun tiba dan saat itulah surprise dimulai. Berondongan pertanyaan sama bertubi-tubi dilayangkan kepadaku. "katanya begini, katanya begitu ", segala pertanyaan yang tak sesuai dengan busana rapi rombongan, bingkisan terbalut kertas payung dan sebentuk lingkaran emas dalam wadah hijau. Aku pun tergagap-gagap menjawab pertanyaan yang meliputi maukah ? mantapkah ? kapankah ? dan seterusnya. Aku pun menyingkir ke dalam, berbaur dengan sobat-sobat kecil yang tak peduli dengan apa yang tengah berlangsung di ruang sebelah. Malu bukan kepalang aku, dalam hati memaki otak pembuat surprise dan bersumpah akan memarahinya habis-habisan ^^. Bagaimana tidak, berbekal jawaban sekedar berkenalan, aku pun tampil apa adanya. Berbusana jeans gombrong tanpa sentuhan riasan (yang penting sudah segar sehabis mandi ^^), aku harus menjawab pertanyaan resmi di even yang resmi namun aku jauh dari image resmi ! Kurang lebih 2 jam lamanya kedua pihak saling mengenal lebih jauh, sebelum akhirnya aku pun ikut di rombongan yang sama untuk kembali ke tempat yang kelak menjadi tempat tinggal permanenku. Lelah, lega, bingung, gugup bercampur jadi satu ketika runtutan peristiwa datang padaku. Syukur tak henti-hentinya kudengungkan atas jalan yang telah terbuka. Meskipun aku punya pe-er yaitu harus mengajar materi tentang "Surprise pada tempatnya" ^^.

Rabu, 03 Juli 2013

Ketika Cerita dan Musik Tak Lagi Menarik

"Aktivitas manusia akan menghasilkan limbah atau lebih dikenal dengan istilah sampah (walaupun sampah lebih tepat untuk menyebut limbah padat)", demikian materi awal yang dua tahun ini selalu kusampaikan pada anak didikku. Belakangan ini aku tidak aktif menulis di media blog, hanya sekedar mengunggah status di media sosial, dan kuperhatikan status-statusku kian hari kian menggambarkan kegelisahan yang berkecamuk dalam diriku. Rupanya aktivitas sehari-hari tak hanya menyisakan sampah dalam wujud benda, melainkan juga muncul sampah abstrak yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan. Aktivitas  bertubi-tubi tanpa jeda, kabar duka dan kabar suram yang berdatangan, semakin memforsir tenaga yang mengakibatkan menumpuknya sampah hati alias unek-unek. Sama seperti sampah dalam arti sebenarnya yang bila tidak dikelola dengan baik bisa mencemari lingkungan, sampah hati jika tak dikelola pun lama-lama mencemari pikiran, perasaan yang berdampak pada perkataan dan perbuatan. Hal ini telah kurasakan benar sejak dulu. Ketika sampah hati tak dikelola ataupun sekedar dibuang dengan melakukan 'curhat' baik bercerita pada teman ataupun sekedar menulis di blog pribadi, jenuh yang menumpuk membuatku gelisah tak menentu, akibatnya perangaiku berubah menjadi "dark angel". Ketus, mudah emosi, menganggap semua salah dan keinginan kuat untuk menarik diri dari lingkungan sosial, itulah yang terjadi padaku. Saking suntuknya, membaca buku hingga mendengarkan musik tak lagi menarik untukku, merebahkan tubuh dan menyerahkan diri pada kuasa mimpi mengisi hari-hariku. Lelah dengan keadaan ini, tanpa memikirkan lebih jauh isi kantong yang masih  harus bertahan sampai dua minggu lagi, di suatu sore yang cerah aku melarikan diri dari kungkungan tembok. Memacu kuda besiku menuju hiburan ku yang terakhir, tempat pemutaran film di pusat kota. Tak butuh waktu lama bagiku untuk hanyut dalam petualangan versi baru laki-laki tampan dari planet asing. Tak kurang dari 2 jam aku terlepas dari kungkungan jenuh, menyerahkan diri pada adegan demi adengan seru. Orang yang tak suka film, selalu mengejekku bodoh, karena mau saja dibohongi (termasuk preman udik yang satu itu ^^). Ah aku tak peduli, pada kenyataannya begitu keluar dari ruangan berlayar lebar, aku bisa tersenyum, di kepalaku masih terbayang visual effect canggih "Man of Steel" , mengingat-ingat kesamaan fisik dan postur para pemeran Clark Kent dewasa maupun remaja. Di bawah cahaya supermoon, aku kembali dengan sampah pikiran yang telah diolah sehingga tak begitu mengganggu.

Rabu, 29 Mei 2013

Kisi = Prediksi, Motivasi, Atau Solusi Degenerasi ?

Tak lama lagi mereka yang menyandang status pelajar akan menempuh ulangan umum / ulangan akhir semester/ulangan kenaikan kelas. Demikian pula  dengan mereka yang saat ini memperoleh jejalan materi dariku, sejak beberapa hari lalu hampir setiap kelas yang kumasuki ribut meminta kisi-kisi soal yang akan diujikan. Apa sih kisi-kisi itu ? Gampangnya kisi-kisi semacam rambu-rambu penulisan soal yang mencakup materi, indikator yang ingin dicapai dari soal tersebut. Jadi bisa ditebak yang terjadi ketika kisi-kisi tersebut sampai ke tangan siswa, secara otomatis gambaran soal yang akan diujikan bisa dikatakan telah bocor. Lagi-lagi situasi telah jauh berbeda dengan zamanku dulu, ketika aku masih menjadi siswa tak sekalipun aku dan teman-teman meminta kisi-kisi. Alih-alih meminta, mengenal istilah kisi-kisi pun tidak. Persiapan menghadapi ujian murni belajar seluruh materi yang telah dipelajari. Tak terbesit sekalipun membuat salinan catatan pada secarik kertas kecil yang nantinya dibuka kembali saat mengerjakan soal alias mencontek ^^. Ya, zaman dulu sekedar bertanya pada teman saja rasa takut ketahuan guru sedemikian hebatnya, apalagi secara khusus mempersiapkan peralatan mencontek, wah kalau bukan mereka yang bermental baja dalam hal 'mbeling' pastilah tak akan mengambil resiko kena 'black list' guru. Sekarang, situasi telah berbalik 180 derajat, menyalin jawaban teman merupakan hal umum. Tanpa takut-takut catatan yang masih dalam bentuk aslinya dibawa ke ruang ujian, tak peduli dengan pengawas kepala sekaligus badan berputar ke kanan kiri dan ke belakang, mulut sibuk bertanya dan membacakan jawaban. Kisi-kisi yang diberikan justru disalah gunakan untuk membuat catatan kecil sebagai media kecurangan dalam ujian. Memang tak semua melakukan hal seperti itu, akan tetapi sebagai akibat perbuatan beberapa orang tersebut mengubah pandangan siswa terhadap ujian. Dulu ujian adalah persoalan serius yang menyangkut masa depan, sekarang ujian tak lebih dari sekedar formalitas untuk mendapat nilai minimal. Siapakah yang patut disalahkan ? Jawabannya semua salah mulai dari sistem yang berlaku hingga personel yang terlibat di dalamnya. Bak KKN yang menggurita, kemerosotan kualitas pendidikan sudah mencapai tahap susah untuk ditanggulangi terutama dari segi moral, akhlak, karakter dan kepribadian siswa. Lalu bagaimana dengan masa depan generasi emas bangsa ? Berbagai upaya telah dilakukan dan yang teranyar akan diberlakukannya kurikulum 2013 yang menekankan pendidikan karakter siswa. Semoga pendidikan kembali ke asalnya mendidik dan membimbing generasi emas dalam kebaikan, kemajuan nusa, bangsa dan agama.

Jumat, 24 Mei 2013

Lihat dan Alami

Pertama kali aku masuk ke ruangan ini, optimisme untuk bisa memuaskan kegemaranku berkutat dengan tumpukan buku seketika runtuh. Alih-alih menemukan koleksi beragam mengingat banyaknya program keahlian yang ada, sederet rak di hadapanku berisi buku-buku usang  berdebu. Jangankan menemukan judul baru, sekedar mencari koleksi buku teks pelajaran wajib pun tak ada. Tak perlu bertanya dimana letak buku fiksi, karena memang tak ada. Kondisi ruangan yang sempit, dengan ruang baca terbatas dan cenderung gelap menambah lengkap alasan keengganan pengunjung untuk datang dan mencari informasi yang dibutuhkan. Kulihat data koleksi yang ada, dan seketika aku tersenyum penuh kemenangan. "Wah koleksi pribadiku lebih banyak dari ini", kataku dalam hati. Kuberanikan bertanya pada yang berwenang dan jawaban yang diperoleh sangatlah klise, sehingga tak perlulah kutuliskan disini. Dua tahun berlalu, ada sedikit kemajuan yang kulihat dengan bertambahnya penghuni rak yang masih kosong dan usang. Sederet judul buku dari berbagai bidang menambah koleksi yang berujung bertambahnya minat pengunjung. Sekali lagi kuberanikan bertanya, sedikit berkomentar antara senang dan sinis mendengar jawaban yang kuterima. "Oh, gara-gara nilai minus yang diperoleh akhirnya mau menyisihkan dana untuk menambah inventaris.", gumamku. Tak disangka, minatku akan buku membawaku mengemban tugas  mengelola tempat ini. Idealisme yang masih membara membuatku bersemangat merencanakan program pengembangan terutama peningkatan koleksi perpustakaan. Proposal demi proposal yang sebelumnya aku tak pernah membuat apalagi mengajukan kusiapkan dengan cermat agar tujuan tercapai. Dan akhirnya aku bernasib sama dengan yang sebelum-sebelumnya, idealisme runtuh dengan sendirinya, usulan dimentahkan dengan alasan klasik yang menurutku lebih bermuatan politik yang penuh dengan intrik. Jika kubaca lagi peraturan yang ada, sebetulnya alasan yang mementahkan usulanku itu sama sekali tak bisa diterima. Demikian pula dengan alasan pendidikan gratis karena sebetulnya tidak benar-benar gratis melainkan dibiayai pemerintah. Aku sendiri heran, bukankah perpustakaan merupakan pusat informasi sekaligus menjadi pusat sumber belajar ? Tapi mengapa perhatian yang seharusnya tak diberikan ? Setahun melaksanakan tugas, aku bisa memperoleh kesimpulan jika tempatku ini menjadi nomor yang paling belakang dalam prioritas.Tempatku selalu mendapat informasi paling akhir, bahkan terlewatkan. Alih-alih mendapat alokasi, kebutuhan primer sehari-hari pun sulit  terpenuhi. Pada akhirnya aku memberanikan diri menempuh cara ekstrim demi pengembangan tempat yang disebut sebagai pusat sumber belajar agar tak sekedar menjadi kalimat tanpa realisasi.

Sabtu, 27 April 2013

Single # Rich

"Halah jik bujang butuhe opo ", seringkali kudengar kalimat serupa dari orang yang berbeda. Seringkali juga aku hanya tersenyum menanggapi. Namun lama kelamaan, satu dua kata hingga kalimat meluncur dari bibirku sebagai sanggahan. Lagi-lagi faktor sawang sinawang mencuat pada problematika sehari-hari dalam ranah rupiah. Memang dengan kehidupanku sekarang banyak orang berasumsi bahwa bola kehidupanku bergulir dengan mulus. Sebagai seorang yang single, anak bungsu dengan gaji tetap tiap bulan membuat stigma 'hidup enak' melekat padaku. Meskipun pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, alangkah lebih baiknya jika mau menggeser sudut pandang. Pada dasarnya tak ada seorang pun yang tak memiliki kebutuhan material dalam hidupnya. Demikian juga dengan aku, hal yang sama pada orang lain juga berlaku bagiku yakni semakin meningkat pendapatan semakin meningkat pula pengeluaran. Masih sendiri alias bujang tanpa tanggung jawab material terhadap keluarga, bukan berarti bahwa aku tak punya kebutuhan selain kebutuhan untuk menyenangkan diri sendiri. Aku sadar jika orang-orang itu tak mengetahui latar belakangku, tak mengetahui persoalan-persoalan yang harus kuhadapi, mereka hanya tahu bahwa aku seorang yang punya banyak waktu luang dengan pundi-pundi melembung sarat muatan (amin ^_^). Aku pun mengerti benar, tak perlulah aku membeberkan rincian bulananku hanya untuk meredam pendapat berlebihan itu. Maka dari itu aku hanya menjawab dengan senyum. Tetapi kesabaranku memang masih terbatas, kalimat yang terus berulang layaknya kaset rusak tersebut makin hari makin membuatku gerah. Aku merasa ironis mendengar berbagai opini yang berbalik dengan kenyataan sebenarnya. Begitulah akhir-akhir ini semakin sering aku melawan secara halus, mengurangi rasa dongkol yang terus bercokol ^_^.
Uang, betapa benda itu sekarang telah menjadi raja. Tak bisa dipungkiri jika orang akan menjadi galau tanpa uang. Maklumlah, zaman sekarang apa sih yang bisa didapatkan tanpa uang ? Kebutuhan primer, sekunder dan tersier bahkan buang hajat pun memerlukan uang. Air yang katanya dikelola oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat pun saat ini harus mengeluarkan uang jika ingin memperoleh air yang sehat. Untuk memperoleh kedudukan, konon kabarnya memerlukan modal yang lumayan besar. Oh kalau begitu tak heran jika banyak yang tergoda untuk mengembalikan modal  (siapa sih yang mau rugi ?). Aku telah paham, bahwa semua telah berjalan sesuai kodratnya. Menginginkan kehidupan seperti orang lain memang wajar, hanya saja cobalah untuk melihat dari sudut yang lain, sadarilah bahwa setiap orang mempunyai beban masing-masing. Tak perlulah menjudge seseorang secara kasat mata.

* thanks to ibu Choirul yang dengan bijak memahami bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab tersendiri

Rabu, 24 April 2013

Sawang sinawang

"Sakniki sing duwe duit yo pegawe-pegawe niku, wong cilik kados kulo megap-megap !" Sembari mengipasi arang, bapak penjual bakso bakar itu 'curhat' dengan berapi-api. Kurang lebih sepuluh menit, dia berkeluh kesah akan kondisi keuangannya yang seret akibat sepi pembeli, menyalahkan pemerintah yang membiarkan korupsi merajalela, dan pada akhirnya timbul rasa iri dengan profesi pegawai pemerintah. Saat itu aku hanya tersenyum sesekali menanggapi komentarnya tentang harga bawang, kesulitan petani, sepinya pembeli hingga cuaca yang tak mendukung. Tak sekalipun pengakuan bahwa aku juga termasuk orang dengan profesi yang membuatnya cemburu dari segi penghasilan. Sebenarnya ingin sekali aku melontarkan pembelaan atau sekedar berbagi cerita soal kehidupan seorang pegawai rendahan macam aku ini. Namun dengan menilai sikap si bapak yang sedikit terbawa emosi membuatku mengurungkan niat. Bagaimanapun tak ada untungnya berbagi cerita alias membeberkan kesulitan yang kualami pada orang yang tak kukenal dekat. Alih-alih menyangkal opini si bapak, dalam hati aku mengucap syukur atas profesiku seorang. Betapa tidak, meskipun jumlah yang diterima membuatku harus cermat membagi agar cukup, paling tidak setiap bulannya aku tak perlu khawatir akan biaya hidup. "Sawang sinawang", istilah Jawa itu memang benar adanya. Dulu, aku pun pernah berada di posisi si bapak. Memandang dengan rasa iri dan 'kepengin' pada mereka yang terjamin 'pawetune' (penghasilan) plus berbagai tunjangan yang menambah pundi-pundi, belum lagi kemudahan untuk mengambil kredit ^^. Sementara aku hanya pekerja tak tetap yang setiap saat gelisah melihat tempatku mencari nafkah semakin sekarat. Membuang rasa malu dengan memeras tenaga di tempat yang tak sesuai dengan bidangku. Sementara profesi pegawai bisa memperoleh cuti dan libur, aku berada di posisi sama dengan si bapak penjual bakso bakar, libur sehari berarti rezeki berkurang sehari. Kini, ketika aku berada pada posisi yang membuat iri si bapak dan aku dulu, barulah kutahu bahwa sebenarnya sama saja. Yang membedakan hanyalah rasa syukur atas nikmat yang telah diterima. Sejauh mana kepiawaian seseorang mengatur apa yang telah diperoleh agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dan bisa menyisihkan untuk yang berhak. Suatu hal jika dipandang dari sudut yang berbeda hasilnya bisa berbeda pula. Hanya saja memang dibutuhkan perhatian mereka yang berkuasa untuk mengatur keadilan dan kemakmuran, tak sekedar berorientasi pada soal balik modal ataupun kepentingan golongan.

Selasa, 23 April 2013

Gamang Dengan Arus

"Mengenyam pendidikan setingi-tingginya sudah menjadi cita-citaku sejak kecil. Meskipun terbentur faktor ekonomi, semangat untuk terus belajar tak pernah padam.", tulisku dulu sebagai kalimat pembuka pada selembar kertas kosong. Ahh...betapa rindunya aku akan masa-masa lalu ketika jiwa muda masih setia dengan mimpinya. Hingga mimpi itu pudar dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Saat ini lamat-lamat masih kuingat ketika kesempatan menambah gelar lebih tinggi terpental hanya dengan sebuah kalimat pendek, berlanjut dengan kesempatan yang harus kusia-siakan lagi hanya karena satu kata. Saat ini, semua kegetiran dan amarah waktu itu telah menguap, dan berganti menjadi sebuah pemahaman akan jalan yang harus kutempuh untuk sampai di detik ini. Gelora yang dulu meluap-luap akhirnya mereda dan kutemukan ketenangan setelah berdamai dengan kenyataan.Tentu keinginan untuk belajar masih ada hanya saja tak menggebu-nggebu melainkan fleksibel, menyesuaikan dengan kondisi.
Di saat rencana ke depan telah matang, sekali lagi faktor tak terduga muncul dan sukses mengacaukan rencana. Masih terekam dalam ingatan, ketika sebuah kesimpulan terbentuk di benakku setelah sekian lama mengamati situasi di sekitarku sekarang. Betapa makna huruf tambahan bergeser dari penghargaan atas ilmu yang diperoleh selama beberapa waktu menjadi hanya sekedar prestise untuk peningkatan karir belaka. Terkejut dan miris, berkecamuk dalam benakku yang masih idealis dalam menghargai ilmu ketika melihat berbagai cara murahan untuk memperoleh embel-embel gelar di belakang nama. Berbagai pikiran terlontar dari benakku dengan kenyataan seperti itu. Apakah ilmu sudah tak lagi berbobot ? Bagaimana dengan transfer ilmu ke generasi penerus jika proses memperoleh gelar tak sepadan antara ilmu, waktu dan ongkos ? Mengapa gelar menjadi satu kewajiban yang harus dipenuhi dengan berbagai cara ? Apakah kebanggaan akan keberhasilan menimba ilmu masih tetap ada, ketika tiga huruf melekat dengan lem berupa lembaran uang kertas ? Semua pertanyaan itu saat ini terus mengganjal, membuatku gamang untuk mengikuti arus di saat diri masih idealis. Namun entahlah ketika suatu saat nanti diri sudah lelah untuk melawan dan akhirnya aku pun mengikuti arus.

Selasa, 02 April 2013

Inilah Aku

Tak banyak bicara dan mendengarkan, prinsip itu selalu kuterapkan selama ini. Pada dasarnya karakter   tertutup dan tak mudah berinteraksi dengan orang lain menjadi penyebab cap pendiam melekat erat. Berawal dari ketenangan yang didapat dalam kesendirian, keengganan untuk bergabung dengan dunia luar semakin meningkat. Tentu kesadaran sebagai makhluk sosial itu ada, meskipun demikian berkumpul dengan orang lain dirasa lebih condong ke arah gangguan privasi. Alih-alih perhatian, keingintahuan justru menjurus ke sifat ikut campur dalam ranah pribadi yang terasa menganggu.  Dan itu semua membuat gerah dan akhirnya emosi pun meningkat. Menempatkan posisi sebagai 'underdog' sedikit demi sedikit membuatku mengerti karakter masing-masing personal. Kadang kegelian selalu muncul ketika pribadi-pribadi saling bersaing unjuk diri dalam sebuah pembicaraan. Entah disadari atau tidak atau bahkan memang demikian karakter aslinya, kehausan untuk tampil menjadi pusat perhatian muncul dalam bentuk pembicaraan dengan tema 'inilah aku'. Aku begini, aku begitu, dia begini, dia begitu, mereka begini, mereka begitu selalu menjadi bahan utama perbincangan dalam sebuah kumpul-kumpul formal maupun non formal. Jika demikian apa gunanya ikut terjun dalam interaksi ? Cukup banyak kurasa, meskipun belum semua kupahami alias lebih sering membuatku jengkel karena kenyamananku terusik. (Huftts...baru saja aku menulis demikian, kejadian yang mengusik ketenanganku kembali terusik >.<). Walau terkadang merasa terkucil, dan diremehkan, jika dipikir lebih lanjut semua untuk kebaikan. membuatku belajar bersabar, belajar membaca karakter orang lain sehingga bisa menempatkan diri di situasi apapun. Bukannya tak mau berbagi ilmu, melainkan memberi kesempatan orang lain untuk berkarya dan siap membantu jika diminta. Bagaimana kalau tidak ? Hmmm....biarkan saja, waktuku bisa kugunakan untuk yang lain sesuai jalurku daripada menawarkan diri yang belum tentu dihargai.

Rabu, 20 Februari 2013

"Lihatlah...mereka juga punya keluarga.", katanya di tengah gerimis hujan, perlahan-lahan menembus keruwetan jalan di tengah jam sibuk lalu lalang kendaraan bermotor di pusat kota Solo. Ada yang istimewa di kota batik ini yang belum pernah aku temukan di kota lain. Di setiap persimpangan jalan yang padat, ada sosok berseragam dengan peluit di mulut, dan kedua tangan bergerak-gerak mengatur lalu lintas. Keberadaan mereka sangat membantu terutama untukku yang hingga saat ini masih saja kesulitan alias tak  berani menembus lalu lalang kendaraan bermotor. Namun tak sedikit juga dari pengguna jalan yang memaki karena tak sabar menunggu antrian merayap menuju tujuan.
"Saya kalau sudah dimaki-maki, lebih baik saya berhenti. Biar mereka mengatur sendiri", kata bapak usia paruh baya yang merupakan salah satu dari sukarelawan pengatur arus lalu lintas di sela-sela waktu istirahatnya. Sukarelawan ? Ya benar sekali, alih-alih menerima gaji tetap bulanan mengingat tugasnya yang menguras tenaga dan emosi, bapak-bapak yang berseragam dengan rompi hijau muda layaknya polantas tersebut ternyata bekerja secara sukarela. Upah yang diterima mereka hanya dari pemberian pengguna jalan yang tidak tentu. "Jika sedang rejeki, ada mobil yang memberi Rp.50.000,-", kata bapak yang aku lupa menanyakan namanya itu lagi ^^. Betapa terenyuhnya aku mendengar cerita bapak itu. Pagi-pagi sekali mereka datang ke pos masing-masing, menempatkan diri di tengah padatnya kendaraan, menahan emosi jika dimaki oleh mereka yang tak mau diatur. Penghasilan tak menentu namun bisa mencukupi kebutuhan keluarga.
Pekerjaan yang sarat sukarela itu tentu saja lebih banyak menimbulkan empati dari masyarakat. Sukarelawan yang bergabung dalam satu paguyuban tersebut kerap mendapat bantuan dari berbagai ormas dan kelompok masyarakat. Aparat yang tugasnya telah digantikan mereka pun tak ketinggalan memberi perhatian. "Kami dibina langsung oleh polisi", kata si bapak sambil sesekali memberikan arahan pada juniornya yang sedang mengatur lalu lintas. Ternyata, mereka tidak hanya asal-asalan dalam bekerja, mereka telah diberi pendidikan informal oleh kepolisian tentang cara-cara mengatur lalu lintas yang baik dan benar. Hmmm....sore itu menjadi perbincangan menarik yang sedikit banyak membuka pikiranku yang masih dihantui kekhawatiran akan masa depan. "Mereka pun bisa, masa kita tak bisa ?", tanyanya dalam kalimat retoris disertai senyum tipisnya

Sabtu, 17 November 2012

Katanya

Sudah berhari-hari kelopak mata ini berkedut-kedut. Orang bilang itu pertanda akan bertemu orang yang tak disangka. Tapi ada juga yang bilang akan banjir air mata. Rupanya yang kedualah yang menjadi kenyataannya. Bangun dengan segar setelah bermimpi bertemu dengan ibu tercinta, pagi pun begitu cerah setelah hujan semalaman, gerimis rupanya enggan untuk berhenti dan mencari tempat lain untuk mengucurkan airnya yang tak lain adalah di mata ini. Nelangsa, adalah kata yang paling tepat untu menggambarkan betapa sedih, lara dan pilunya hati ini. 
Stigma yang terlanjur melekat memang susah untuk diubah apalagi dihilangkan. Betapapun niat baik, apapun alasan yang diyakini jawaban terbaik pada akhirnya tak lebih menjadi sebuah kesalahan di mata hati yang telah buta. Hmmm....pada dasarnya lingkungan dan cara hidup seseorang itu memang berpengaruh terhadap pola pikir seseorang. Lingkungan yang baik akan memberi pengaruh yang baik pula. Pergaulan dengan orang yang bijak dan berwawasan akan menulari seseorang untuk berbuat serupa. Hidup tak bisa hanya berkaca pada diri sendiri. Enggan belajar dari orang lain akan menyempitkan pola pikir, dan akhirnya tak bisa menggali lebih jauh makna dari sebuah perkataan atau pun kejadian. 
Perubahan menjadi lebih dewasa, apakah mereka pikir tak bisa terjadi pada diri ini ? Tak bolehkah keyakinan ini dijalankan dengan besar hati ? Salahkah jika hidup ini berusaha untuk mandiri ? Oh tidak, tidak dan tidak. Katanya, raga ini saja yang telah tua, namun jiwa laksana balita. (Itukan mereka, iya kan ?). Katanya, percayalah pada orang pintar yang bisa meramal masa depan, percayalah pada insting orang yang lebih tua (Tapi tak ada orang yang tahu rahasia ALLAH, betul kan ?) Katanya lagi, mirip benar dengannya yang selalu ingkar akan kewajiban. (Oh kau tak tahukah jika  dia pun keberatan ?) Katanya..katanya...katanya...ah tak ada satu pun di antara katanya itu yang menentramkan hati. Katanya itu selalu menimbulkan badai di jiwa yang mulai tenang. Katanya itu terlontar tanpa pikir panjang, tak ada nurani bagi yang akan tersakiti dengan katanya itu. Katanya itu adalah wujud emosi dari pikiran yang hanya berkaca pada kebenaran diri. Katanya itu sama persis dengan katanya yang memang serupa, lugas dan kejam. 
Sabar....sabar...sabar....sayang..., semua akan indah pada waktunya. Kata diri ini berusaha meredam sedu sedan hati yang teraniaya. Oh tentu, diri ini akan bersabar, menelan derita  dan terlebih kemarahan yang terlanjur membuat luka yang sejauh ini belum bisa terobati. Kata diri ini, sampai kapankah harus bersabar ? Sementara waktu terus berjalan tak kenal ampun. Oh jadi teringat lagi, katanya tidak apa-apa (Tak tahukah jika raga menua masalah kan semakin kompleks ?). Apa diri ini harus berkorban untuk membuktikan katanya yang tak masuk di akal itu ? Entahlah....kuat....kuat...dan tegar, sementara itu saja yang bisa dilakukan. Iya kan ?

Sabtu, 10 November 2012

Catatan Kemarin

"It would be a matter supposing a feeling of love can't be a passion, there for......."
Kalimat itu datang di saat yang tidak tepat, datang di saat peluh bercucuran terdorong oleh udara panas yang tak jenak, konsentrasi terpusat pada kewajiban yang menuntut segera diselesaikan, stamina yang menurun setelah energi terkuras sejak beberapa jam sebelumnya. Ledekan main-main yang dimulai ternyata berbuntut sebaris bahasa asing yang di saat itu tak bisa segera dipahami maknanya. Ketika cinta tak bisa diungkapkan terasa begitu menyesakkan, itulah pemahaman yang memang dirasakan kebenarannya. Hanya bisa terdiam, memandang dari kejauhan, melihatnya berlalu di jalannya tanpa bisa meraihnya dan berdiri di sampingnya, huft........... Cerita lama kembali dibaca, kenangan kembali ditelusur walaupun tahu itu akan membuka luka lama sekaligus menorehkan luka baru.

"I believe you have an answer honey !"

Jawaban apa yang harus diberikan untuk melengkapi kalimat itu ? Jauh di dalam hati, jawaban yang benar telah terpatri, tapi keinginan untuk mencari jawaban lain demikian menggebu. Jawaban yang walau sudah pasti tak pantas dilontarkan.

"I've no idea. Trully I can't stop this feeling but I know that all thing must end "

Bagaimana bisa berakhir jika setiap saat masih terbayang dan makin membara akibat gelora yang tertahan ? Di saat si pengganti pun tak bisa berperan seutuhnya meskipun sebenarnya belum bisa dipastikan apakah itu sejati. Hmmm....

Selasa, 23 Oktober 2012

Menjadi Lebih Berani

"Keberanian bukanlah tak ada rasa takut, tapi bagaimana mengatasi rasa takut itu" 
Akhir-akhir ini aku sering membaca-baca kata-kata bijak dari sebuah situs wisdom. Ahaha...sebuah kemajuan untukku yang biasanya hanya tertarik pada cerita fiksi bergambar dan novel-novel petualangan. Apakah ini satu bentuk perubahanku ? Bisa jadi begitu, perubahan genre bacaan adalah hal yang umum terjadi seiring dengan bertambahnya usia dan perubahan lingkungan. Tapi lebih tepat jika kebiasaan baru ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaan. Sebagai anggota sebuah institusi pendidikan mau tak mau aku kebagian jatah untuk memberi motivasi anak didik sebelum aktivitas belajar mengajar dimulai.
Jika mau jujur, tugas yang satu ini yang paling tidak kusukai. Memang sebuah kontradiksi mengingat sebagian besar waktu bekerjaku dihabiskan dengan berbicara di depan kelas. Kusadari aku memang belum berkapasitas untuk memberi nasehat, motivasi ataupun membimbing murid yang notabene memerlukan pengarahan dari orang yang lebih tua. Memalukan memang, setelah kurang lebih empat tahun mengajar, aku masih saja diserang demam panggung jika harus berbicara di depan publik walaupun mereka masih rekan sendiri bahkan murid-murid sendiri. 
Perbedaan antara mengajar dengan berbicara di hadapan orang banyak masih jelas kurasakan meskipun pada dasarnya kedua hal itu sama-sama berdiri dan berbicara di depan orang. Saat mengajar aku tidak merasakan kegugupan yang amat sangat, apalagi jika sebelumnya aku telah mempersiapkan dengan sungguh-sungguh materi  yang akan kusampaikan. Begitu pula ketika aku harus menyanyi, membaca puisi  di hadapan orang banyak, kegugupanku akan hilang seketika bersamaan dengan penghayatanku akan keindahan sebuah karya seni. Berbeda dengan pengalamanku pagi ini, didapuk untuk menjadi pengisi apel pagi serta merta aku merasakan kegugupan yang luar biasa. Materi apel yang telah kupersiapkan sehari sebelumnya sontak buyar beriringan dengan lamanya persiapan anak-anak bandel agar berbaris rapi. Begitulah, aku tipe orang yang tidak bisa berpanjang lebar secara verbal, dalam mengajar pun aku langsung menyampaikan materi sesuai tujuan tanpa harus mengambil alur memutar sebelum sampai ke inti pelajaran. Aku adalah seorang pendengar yang baik, dan aku bukanlah penasehat mumpuni sehingga aku mengalami kesulitan jika harus memberikan pengarahan apalagi di hadapan orang banyak.
Menyadari bahwa kelemahanku ini merupakan hal yang seharusnya tidak ada pada seorang dengan profesi sama sepertiku, aku pun berusaha untuk mengatasinya. Rasa gugup bukannya tidak bisa diatasi meskipun gugup adalah hal yang wajar untuk seorang pemula. Persiapan matang menjadi kunci utama untuk berhasil dalam sebuah rencana. Aku pun mulai memperluas materi bacaan, mengambil kata-kata mutiara dari para tokoh, filsuf maupun orang-orang bijak, berusaha memahami dan menelaah sesuai dengan pemahamanku, sehingga aku bisa membaginya kepada orang lain dengan harapan tak hanya bisa menjadi motivasi bagiku melainkan juga motivasi untuk murid-muridku khususnya agar mereka selalu semangat untuk terus belajar, belajar dan belajar demi masa depan. Aku belajar untuk menjadi lebih berani, mampu mengalahkan rasa takut dan gugup  yang selama ini menjadi musuh utamaku.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Ingin Kuraih Kembali Yang Telah Hilang

Udara panas sedikit menyurutkan kelancaran menyusun kalimat di laptopku, tapi entah kenapa aku terus berusaha menyelesaikan naskah yang sejak kemarin baru terisi dua paragraf. Sembari bernostalgia dengan lagu-lagu klasik yang dipikir-pikir sudah begitu lama aku absen memberi nutrisi otak sekaligus memuaskan hobiku bersenandung ^_^. Akhirnya setelah kurang lebih satu jam, naskah berita yang menjadi tugas terbaruku terselesaikan. Kubaca ulang sekilas, kurapikan lagi kalimat-kalimat agar lebih enak dibaca, kubetulkan data-data yang masih salah ketik, kutambahkan dua buah foto, dan jadilah sebuah tulisan promosi produk unggulan instansi tempatku mengabdi saat ini.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, malam-malam yang lalu biasanya aku sudah merebahkan diri, bersiap menebus kehilangan energi yang telah terforsir dari pagi hingga siang hari di sekolah. Tapi kali ini, aku masih enggan untuk mengistirahatkan laptopku. Kututup layar m.word-ku dan aku beralih menelusuri daftar judul lagu koleksi Sarah Brightmanku. Memanfaatkan kondisi rumah tinggal bersama yang sepi karena penghuni lain sedang pulang kampung, tak segan-segan aku menaikkan volume speaker. Kupilih lagu yang syairnya masih kuhafal walau tak sempurna, dan aku pun mencoba mengikuti liukan suara khas penyanyi opera favoritku itu. Ah....betapa terkejut dan jengkelnya aku ketika mendapati aku telah kehilangan kemampuanku dalam olah vokal. Jangkauan nada yang dulu bisa kuraih saat ini tak bisa kucapai, vibrasi suara khas lagu-lagu klasik pun tak bisa muncul dari pita suaraku."Upss....gawat", pikirku sedikit bingung bercampur sedih. 
Yah, dipikir-pikir memang lama sekali aku tak menikmati jenis musik klasik ini. Bahkan akhir-akhir ini aku lebih sering mendedangkan lagu-lagu pop maupun nostalgia lokal. Maka, tak heran jika vibraku pun berubah menjadi pop, bahkan nyaris hilang menyusul nafas yang tersendat dan makin pendek-pendek. 
Hmmm.....perubahan memang terjadi setiap saat, entah disadari atau tidak oleh mereka yang telah berubah. Sesuatu yang tak bisa dihindari melainkan harus disikapi dengan bijak. Ditelaah apakah perubahan itu membawa diri ke arah yang positif atau justru menjadi langkah mundur yang merugikan. Direnungkan apakah perubahan itu mendukung kualitas diri, menjadi satu langkah yang mungkin saat perubahan itu terjadi belum diketahui manfaatnya melainkan membutuhkan waktu bertahun-tahun ke depan untuk menyadari arti dari sebuah perubahan. Dipilah apakah perubahan itu disebabkan oleh hal yang mewajibkan untuk berubah jika tak mau tertinggal dan tergilas situasi. 
Demikian pula yang terjadi dengan diriku. Satu, dua, tiga hingga banyak perubahan yang pada akhirnya kusadari juga. Perubahan yang menurutku terjadi karena aku sudah lebih dewasa, pengaruh dari pergaulan dengan orang-orang yang lebih bijaksana dan lebih berpengalaman. Sayang, tak semua bisa menerima perubahan yang terjadi pada diriku, bahkan berpikir bahwa perubahanku ini akibat sesuatu yang di luar nalar. Ah, biarlah, semoga mereka pada akhirnya terbuka hati dan pikirannya hingga menerima bahwa aku pun seperti yang lain bisa berubah dan menjadi dewasa. 
Tapi, untuk perubahan yang kusebutkan di awal tulisan ini, aku akan dengan tegas mengatakan "No Way !". Musik sejak dulu adalah salah satu penyemangatku, penyegar kepenatanku. Bernyanyi adalah luapan energiku, yang tak hanya membuatku puas dan lega juga sebagai relaksasiku. So, aku harus berlatih lagi, membiasakan telingaku lagi dengan lengkingan penyanyi-penyanyi opera dan pelan tapi pasti menemukan kembali kemampuanku yang dulu. Ganbatte !!!!!!!!




Senin, 08 Oktober 2012

Tiga Minggu

Tiga minggu terbebas dari tugas rutin cukup membuat segar suasana dengan berada di lingkungan baru dan rutinitas baru. Meskipun satu dua hal terasa mengganggu, secara keseluruhan pengalaman selama tiga minggu di asrama cukup berkesan dan setidaknya menambah ilmu yang entah bisa diterapkan dalam tugas pokok sehari-hari atau tidak. Berkenalan dengan orang-orang baru dari berbagai latar belakang yang pada akhirnya menjadi saudara menjadi awal dari bagian jaring koneksi yang mungkin suatu saat dibutuhkan keahliannya. Belajar menumbuhkan disiplin diri sebagai modal keprofesionalan di dunia kerja. Mempelajari materi-materi yang disajikan dengan apik sehingga mengusir kebosanan maupun rasa kantuk yang selalu menyerang ditengah-tengah padatnya jadwal nan menguras energi. Gembira, sedih, marah semua rasa bercampur membentuk pemahaman baru akan karakter seseorang, membuat lebih bijak dalam mengambil keputusan, lebih jauh dalam memandang suatu hal sehingga bisa mempertimbangkan dari berbagai sudut. Berbagi pengalaman dengan teman-teman semakin menambah wawasan yang pasti suatu saat akan berguna. 
Tiga minggu demikian berkesan, bukan hanya karena mendapat pengalaman pertama diinfus ^^, tapi lebih karena disitulah keberanian untuk berpartisipasi bisa muncul, pengakuan akan kemampuan yang selama ini dianggap tak ada, kemauan untuk bersosialisasi, semua itu menjadi awal yang baru dan semoga tak kembali sirna ketika kembali ke habitat asal. Maklumlah situasi lingkungan kerja selama ini tak mendukung untuk perkembangan personal baik dari segi profesional maupun entertainment. Yang ada hanyalah kedisiplinan semu berlandaskan prinsip "ABS", suatu kondisi yang tidak pas untuk pengembangan diri.
Tiga minggu, serasa lama dan berat di awal, tapi cepat dan menyenangkan di akhir. Perjuangan tiga minggu yang sebagian besar bertujuan untuk membuang huruf 'c', meraih 100% dengan tujuan sampingan utama mewujudkan komitmen yang telah dibuat. Tiga minggu, semoga menjadi awal dari kesuksesan. Sukses mengubah kelemahan diri menjadi kekuatan untuk maju mencapai tujuan. Berani dan siap tampil ke depan, mengeksplor kemampuan diri.

Jumat, 16 Desember 2011

Libur Telah Tiba

Hiruk pikuk di akhir tahun kembali kurasakan di penghujung tahun ini. Disaat anak-anak didik dengan gembira menyambut libur semester yang tinggal menghitung hari, para pendidik berkutat dengan kesibukan rutin menjelang pembagian rapor. Dikejar tenggat waktu melaksanakan salah satu tupoksi guru, masing-masing sibuk di depan laptop, dahi berkerut penuh konsentrasi, mulut tak henti bertanya ketika menemui kesulitan dalam mengolah nilai. Demikian pula denganku, berbekal pengalaman beberapa bulan lalu dan sedikit informasi yang kudapat lebih awal, jauh-jauh hari aku sudah mulai menginput data. Dan jerih payahku terbayar dengan tak perlu bingung mengantri printer yang jumlahnya terbatas ^^. Ada sekelumit cerita di balik kesibukan ini. Pengalaman membuatku berpikir dan bertanya seperti inikah yang terjadi dengan nilai-nilai yang kuperoleh ketika masih duduk di bangku sekolah dulu ? Wallahualam, yang bisa kunyatakan dengan tegas adalah setidaknya dulu aku benar-benar berusaha untuk mendapat nilai bagus dengan cara normal alias belajar.
Tinggalkan saj keributan soal nilai menilai ini, berhubung aku tak mempunyai tanggungan selain guru mapel, ketika daftar rincian tugasku telah rampung aku pun bisa bersantai. Menikmati waktu luang di perpustakaan, berselancar di dunia maya yang akhir-akhir ini jarang kulakukan. Emosi yang kemarin selalu mudah tersulut (dipengaruhi faktor perempuan juga sih ^^) perlahan mengendur, terlebih ketika nyari tiap hari mengobrol jarak jauh dengan teman di seberang pulau. Plus berita gembira akhirnya kudengar di tengah hari yang panas. Beredarnya jadwal piket menjadi penegasan bahwa guru pun ikut libur ^^ Yeyyyyy.......dalam hati aku bersorak kegirangan (tak berani menjerit di depan si mata-mata ^^). Akhirnya bisa juga aku bersantai di akhir tahun ini. Mengendurkan ketegangan yang terus meningkat dengan datangnya berita maupun peristiwa mengganjal di hati. Dan yang terpenting aku bisa menghemat biaya hidup dengan mengurung diri di kampung halaman. Berhemat ? Yups, beberapa bulan ini aku harus berhemat agar penghasilan di awal bulan cukup sampai tanggal satu bulan berikutnya. Malangnya, bulan ini anggaran harus berkurang seperlima dari biasanya karena alasan jelas namun tak jelas kelanjutannya. Pusing mengatur sisa anggaran. berita menyedihkan kembali datang di tengah rapat (lebih tepat acara mendengar celoteh tak bermanfaat) nan membosankan. Betapa kagetnya aku mendengar tak ada libur untuk pendidik. Buyar sudah rencana yang telah kubuat jauh-jauh hari. Ya, institusi tempatku mengabdi ini memang sesuai dengan slogannya "Luar Biasa". Benar-benar di luar kebiasaan pada umumnya dan tak jarang membuat aturan-aturan sendiri yang dirasa menekan para bawahan. Peraturan tak tertulis yang hampir selalu membuat orang yang tahu menggelengkan kepala dan mengelus dada.
Tapi....tinggalkan saja semua itu. Buang jauh-jauh dari pikiran karena libur telah menjelang. Meskipun datang terlambat dan hanya separuh dari umumnya, meskipun berakhir lebih cepat seperti aturan tak tertulis disini, setidaknya aku bisa berhenti sejenak, keluar dari lingkaran penuh intrik dan bersantai, memuaskan hobi berdendang yang sangat kurindukan. Selamat berlibur !!!!!!!