Selasa, 23 Oktober 2012

Menjadi Lebih Berani

"Keberanian bukanlah tak ada rasa takut, tapi bagaimana mengatasi rasa takut itu" 
Akhir-akhir ini aku sering membaca-baca kata-kata bijak dari sebuah situs wisdom. Ahaha...sebuah kemajuan untukku yang biasanya hanya tertarik pada cerita fiksi bergambar dan novel-novel petualangan. Apakah ini satu bentuk perubahanku ? Bisa jadi begitu, perubahan genre bacaan adalah hal yang umum terjadi seiring dengan bertambahnya usia dan perubahan lingkungan. Tapi lebih tepat jika kebiasaan baru ini disebabkan oleh tuntutan pekerjaan. Sebagai anggota sebuah institusi pendidikan mau tak mau aku kebagian jatah untuk memberi motivasi anak didik sebelum aktivitas belajar mengajar dimulai.
Jika mau jujur, tugas yang satu ini yang paling tidak kusukai. Memang sebuah kontradiksi mengingat sebagian besar waktu bekerjaku dihabiskan dengan berbicara di depan kelas. Kusadari aku memang belum berkapasitas untuk memberi nasehat, motivasi ataupun membimbing murid yang notabene memerlukan pengarahan dari orang yang lebih tua. Memalukan memang, setelah kurang lebih empat tahun mengajar, aku masih saja diserang demam panggung jika harus berbicara di depan publik walaupun mereka masih rekan sendiri bahkan murid-murid sendiri. 
Perbedaan antara mengajar dengan berbicara di hadapan orang banyak masih jelas kurasakan meskipun pada dasarnya kedua hal itu sama-sama berdiri dan berbicara di depan orang. Saat mengajar aku tidak merasakan kegugupan yang amat sangat, apalagi jika sebelumnya aku telah mempersiapkan dengan sungguh-sungguh materi  yang akan kusampaikan. Begitu pula ketika aku harus menyanyi, membaca puisi  di hadapan orang banyak, kegugupanku akan hilang seketika bersamaan dengan penghayatanku akan keindahan sebuah karya seni. Berbeda dengan pengalamanku pagi ini, didapuk untuk menjadi pengisi apel pagi serta merta aku merasakan kegugupan yang luar biasa. Materi apel yang telah kupersiapkan sehari sebelumnya sontak buyar beriringan dengan lamanya persiapan anak-anak bandel agar berbaris rapi. Begitulah, aku tipe orang yang tidak bisa berpanjang lebar secara verbal, dalam mengajar pun aku langsung menyampaikan materi sesuai tujuan tanpa harus mengambil alur memutar sebelum sampai ke inti pelajaran. Aku adalah seorang pendengar yang baik, dan aku bukanlah penasehat mumpuni sehingga aku mengalami kesulitan jika harus memberikan pengarahan apalagi di hadapan orang banyak.
Menyadari bahwa kelemahanku ini merupakan hal yang seharusnya tidak ada pada seorang dengan profesi sama sepertiku, aku pun berusaha untuk mengatasinya. Rasa gugup bukannya tidak bisa diatasi meskipun gugup adalah hal yang wajar untuk seorang pemula. Persiapan matang menjadi kunci utama untuk berhasil dalam sebuah rencana. Aku pun mulai memperluas materi bacaan, mengambil kata-kata mutiara dari para tokoh, filsuf maupun orang-orang bijak, berusaha memahami dan menelaah sesuai dengan pemahamanku, sehingga aku bisa membaginya kepada orang lain dengan harapan tak hanya bisa menjadi motivasi bagiku melainkan juga motivasi untuk murid-muridku khususnya agar mereka selalu semangat untuk terus belajar, belajar dan belajar demi masa depan. Aku belajar untuk menjadi lebih berani, mampu mengalahkan rasa takut dan gugup  yang selama ini menjadi musuh utamaku.

1 komentar:

Siwi Mars Wijayanti mengatakan...

yups..yupsss...semangaaaat buk :)