Sabtu, 10 April 2010

Kabur




Memasuki bulan keempat di tahun ini, sedikit angin segar mulai berhembus namun tak cukup mengurangi beban yang terus menggelayut di pikiranku. Beruntung seorang teman terdampar di lokasi yang relatif sama, bersama-sama kami menghabiskan waktu mengunjungi berbagai tempat dimana aku bisa melepaskan diri dari segala macam masalah pelik untuk sejenak.
Laut selalu menjadi tempat favoritku sejak dulu. Duduk di atas pasir di tepi pantai, memandang sejauh mungkin ke arah laut yang seolah tak berujung, menikmati kicauan burung yang melayang-layang rendah di atas air, terpesona pada debur ombak yang tak putus-putus, membuatku terpesona dan betah berlama-lama hanya untuk merenung di pinggir laut. Pantai Glagah, untuk pertama kali aku menapaki butiran pasir di tempat wisata tersebut. Biarpun ini untuk pertama kali, namun rasanya aku tak merasa asing. Pantai pasir yang gersang dan panas mengingatkanku akan pantai di bagian selatan lainnya yang nyaris sama. Sayang trauma akan peristiwa masa lalu membuatku takut untuk bermain-main dengan ombak, walhasil aku pun harus puas dengan duduk manis menikmati matahari yang turun perlahan menjemput malam.

Usai mengeksplorasi pantai di wilayah baru, kami melanjutkan mengunjungi daerah dengan ketinggian yang jauh berbeda. Meskipun lelah di badan, sekali lagi aku berhasil menjauh dari rutinitas, menikmati karya alam yang meski telah kesekian kalinya aku kunjungi, namun kali ini terasa lebih berkesan. Rupanya sekian lama aku tak menjejakkan kaki disini, gua alam yang menjadi obyek wisata potensial di daerahku ini mengalami sedikit perubahan. Tenda-tenda penjaja makanan dan souvenir makin marak, rapat berjejer di sepanjang jalan menuju mulut gua. Suasana makin ramai dengan alunan musik tradisional yang dilantunkan oleh sekelompok orang setempat. Anak-anak kecil bertelanjang dada, ribut berceloteh menarik pengunjung untuk melemparkan koin ke dalam kolam buatan. Harum aneka gorengan dan masakan khas setempat menguar, membuatku dengan segera merasa lapar tak sabar untuk mencicipi 'mendoan' yang memang makanan kesukaanku. Satu demi satu aku melewati anak-anak tangga yang menuju ke mulut gua. Entah berapa jumlahnya, aku tak sempat menghitung, sibuk mengatur nafas dan tenaga untuk menjalani 'ujian pertama' sebelum diperbolehkan menikmati keindahan gua Jatijajar. Lelah pun terbayar ketika sampai di dalam gua. Udara dingin dan bau apak menyambut ketika masuk ke dalam. Tetesan air menitik teratur di antara stalaktit-stalaktit yang seolah diatur sedemikian rupa agar tampak menarik. Setelah memuaskan sifat narsis yang mendadak kambuh ^^, kami pun turun menuju kedalaman gua. Menyempatkan diri untuk menjalani mitos setempat (siapa tahu manjur ^^), membasuh tangan dan menciprati patung perempuan yang berendam di tengah sendang. Dan perjalanan menyusuri gua pun berakhir, menyisakan penat yang harus dibayar dengan istirahat sejenak. Menyantap hidangan hangat dengan segelas minuman dingin, mencuri-curi kesempatan untuk mengabadikan sosok manis yang tak sengaja ditemukan dalam keremangan gua ^^.
Ahh, tak terasa waktu berlalu demikian cepat. Belum puas rasanya untuk bersantai, malas sekali untuk kembali ke aktifitas yang menjemukan. Namun tugas telah menanti, mau tak mau aku harus segera kembali.
Kini ketika mengingat hari itu, ingin rasanya aku mengulanginya. Sebuah keputusan mendadak tanpa pikir panjang gara-gara rasa jengkel memang bukan pertama kali ini kulakukan. Yah, akibat kesal bukan bukan kepalang dengan seseorang yang membuatku frustasi, aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjungi salah satu kota favoritku. Waktu yang menjelang senja, tak mengurungkan niatku untuk kembali kabur, memuaskan diri dengan aktifitas favoritku di tengah tumpukan buku-buku yang menggunung. Keasyikan berburu buku yang nantinya bakal menjadi koleksiku, membuatku semakin merasa bebas dari penat. Lelah akibat belum sempat bersistirahat, tak menahanku untuk menyusuri lorong-lorong tempat yang selalu kukunjungi ketika aku berada di kota gudeg ini. Aku pun semakin beretambah riang dengan kedatangan kawan lama yang selalu siap untuk diajak bersenang-senang. Memuaskan keinginan untuk mencicipi makanan yang sudah dari dulu ingin kucoba. Meskipun isi kantong terkuras dengan cepat, semua itu tak membuatku berhenti untuk terus menjelajah mencari kepuasan akan kegemaranku. Rencana pun bergeser dari semula, apalagi kalau bukan karena dua setan kecil itu ^^ Demikianlah hari-hari yang berlalu begitu cepat dan melelahkan. Namun membawa kesejukan yang telah lama kurindukan.
To all my dear friends..... thank you so much. Anytime we must spend like this again.

1 komentar:

MARS mengatakan...

ehehe...si makhkluk yang mirip sama ***ku itu dipublish juga yah ehehe...
iyahhh..kemaren have fun banget..
minggu besok giliran pantai lagiiiii!!!