Selasa, 23 Desember 2014

Maju Mundur Kurikulum

Pro kontra pelaksanaan Kurikulum 13 terus berlanjut baik di tingkat pejabat, mantan pejabat, dewan terutama guru sebagai pelaksana di lapangan dan tak lupa orang tua murid yang turut terkena dampak terhadap perubahan kurikulum. Menurut pandangan saya sebagai guru, Kurikulum 13 bagus untuk diterapkan. Kurikulum 13 mengubah karakter anak dari pendengar menjadi pelaku aktif diimbangi dengan nilai-nilai religi. Generasi emas bangsa Indonesia akan terbentuk melalui Kurikulum 13. Meskipun demikian, saya tidak setuju Kurikulum 13 diterapkan saat ini di seluruh sekolah ? Nah lho, kok plin plan begini ya ? ^_^ Baiklah, akan saya paparkan alasan-alasan penolakan pelaksanaan Kurikulum 13 saat ini (sambil menghela nafas lega ketika membaca surat edaran Menteri Pendidikan ) berdasarkan opini pribadi dan pendapat dari rekan-rekan guru di lingkungan sekitar saya. Meskipun Kurikulum 13 mempunyai proyeksi baik, pelaksanaan Kurikulum 13 saat ini cenderung dipaksakan. Bisa dilihat dari belum semua guru mapel dan sama sekali tidak ada guru produktif (SMK) yang mendapat pelatihan Kurikulum 13. Buku-buku paket yang ada pun baru tersedia untuk sebagian mapel wajib A dan B. Itu pun datang terlambat (beruntung sekolah saya hanya terlambat satu bulan setelah semester dimulai), dengan kualitas cetak rendah (banyak buku cacat). Yang lebih memprihatinkan, materi yang tercantum pada buku paket menggunakan bahasa yang tidak sesuai kaidah, melenceng dari norma (contoh buku PJOK SMA/K kelas XI yang mencantumkan etiket pacaran !!!), dan membingungkan (siswa saya mengeluh jika mereka tak bisa memahami materi pada buku paket). Alasan ketiga Kurikulum 13 tidak cocok diterapkan di semua sekolah adalah soal sarpras. K13 menuntut penggunaan IT pada setiap pembelajaran (ironisnya mapel TIK dihapus dari peredaran !), sementara sarpras di sekolah saya belum memadai. Bisa dibayangkan hebohnya guru-guru di sekolah saya ketika berebut ruang belajar yang ada instalasi listrik dan LCD yang jumlahnya terbatas (kira-kira 1 : 4). Kehebohan semakin lengkap dengan koneksi internet yang lambat dan seringkali mati di akhir bulan ^_^. Jujur, sebagai guru K13 memudahkan dalam mengajar. Guru hanya berperan sebagai fasilitator, memancing siswa untuk bereksplorasi dan memunculkan ide, dan kreatifitas. Nah, oleh-oleh selama saya mengikuti PLPG guru sama sekali tidak boleh menerangkan (ceramah), guru hanya mengajukan pertanyaan dan memancing siswa. Bagaimana dengan siswa ? Pada prakteknya, di sekolah saya siswa bisa dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok "gembira" karena tidak harus mendengar ocehan guru tapi ketika di tes lisan dan tulisan memperolah predikat C- dan kelompok "lelah" karena harus ekstra belajar dan tekun mengerjakan tugas yang diganjar dengan nilai B-. Mari kita bayangkan sebentar bagaimana siswa bisa memahami teorema fisika dan matematika tanpa tambahan ceramah guru. Siswa saya duduk di tingkat menengah kejuruan yang berorientasi pada dunia kerja. Bekal pengetahuan diperoleh dengan cara 'suapan' dari guru sejak SD sekarang tiba-tiba harus makan sendiri. Layaknya anak kecil yang belajar makan, nasi berhamburan di sekitarnya, demikian pula dengan siswa saya nilai pengetahuan dijamin tidak memenuhi kriteria lulus. Ya siswa saya memang begitu, dengan latar belakang keluarga menengah ke bawah, sekolah gratis menjadi incaran. Biaya tambahan hanya untuk membeli seragam, dan katakan tidak untuk membeli buku penunjang. Sebagian besar siswa saya hanya berpegang pada buku paket yang dipinjamkan, mencari  tambahan materi lewat internet jika dan hanya jika diberi tugas oleh guru. Mau dengar komentar orang tua murid ? Ini komentar tetangga saya tentang K13, " Bu, apa sekarang guru tidak pernah mengajar ?" Haaa....deeehhhh....kembali lagi kurangnya sosialisasi K13 untuk semua yang berkepentingan. Ya itu sedikit alasan di lapangan (bukan alasan teknis macam evaluasi, de el el) mengapa ada yang menolak penerapan K13. Singkatnya adalah terlalu terburu-buru sehingga terkesan dipaksakan dan hanya sekedar proyek saja. K13 yang mengacu pada pendidikan negara maju lebih cocok diterapkan di sekolah eks RSBI dengan input siswa tinggi, SDM guru baik dan didukung fasilitas dan kekuatan finansial orang tua. Yang lebih penting adalah alangkah baiknya jika K13 diterapkan mulai dari kelas 1 SD, bukan mengubah secara mendadak karakter anak yang sudah terbentuk pada usia remaja. 
Akhir dari tulisan ini adalah tanggapan saya terhadap perdebatan di forum guru mengenai SDM guru dalam menghadapi K13. Sekian lama saya menyimak komentar terhadap status mengenai K13, saya semakin miris ketika mendapati forum guru terpecah antara guru PNS dan honorer. Banyak komentar miring tentang guru (terutama PNS) yang menolak K13 karena guru malas (penilaian di K13 rumit dan butuh kemampuan IT) belajar, tidak kreatif membuat metode pembelajaran,bla bla bla yang intinya mendiskreditkan guru. Hmmm...apakah mereka yang komentar ini tidak sadar bahwa mereka bisa hebat karena guru-guru senior ? Padahal mereka tidak menggunakan K13, tapi menghasilkan pemimpin-pemimpin hebat. Setiap orang punya kelebihan masing-masing, jangan pernah menjudge guru malas hanya karena tidak bisa IT. Senior saya disini dengan kondisi penglihatan  berkurang masih mau belajar mengutak  atik laptop walau tidak mungkin bisa selihai guru muda jebolan tahun 90an. Daripada menghujat lebih baik saling bertukar keahlian, yang tua membagi pengalaman, yang muda membantu IT yang tua. Adil kan ? Kembali lagi pada K13, kurikulum bagus, tapi hendaknya pembuat kebijakan mau turun ke lapangan di pelosok bukan sekedar di daerah percontohan yang pastinya membuat laporan yang baik-baik. Tidak menggeneralisasi kondisi sekolah di seluruh penjuru bangsa. Itulah mengapa banyak yang menginginkan kembali ke KTSP, kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan masing-masing.

Selasa, 28 Januari 2014

Biasa Saja

"Bagaimana rasanya ?", akhir-akhir ini pertanyaan serupa sering mampir kepadaku. Bukan tanpa alasan sobat-sobatku menanyakan hal tersebut. Baik yang sudah berdua apalagi yang masih setia menjomblo kompak menanyakan perubahan yang terjadi pada diriku sejak hari Minggu, 29 Desember 2013 lalu. Ditanya tentang rasa, terus terang aku sendiri belum bisa menjawab secara gamblang. Pasalnya, hingga saat ini yang notabene tiga minggu berlalu sejak statusku berubah, rutinitas yang kujalani sehari-hari tak banyak berubah. Bangun pagi, berangkat ke kantor, pulang sore lalu istirahat hingga pagi kembali berulang, masih sama seperti aku yang dulu. Menyiapkan makan malam, ataupun jalan-jalan bertiga pun sudah biasa kulakukan. "Biasa saja, mungkin karena sudah terbiasa", jawabku yang diamini salah satu sahabatku yang juga mengalami hal serupa. Mungkin karena baru beberapa waktu dan belum benar-benar tinggal bersama, jadi perubahan status dari single menjadi ibu rumah tangga belum terasa nyata. Pola pikirku pun belum mengalami perubahan sebagaimana mestinya. Menyiapkan makan, seragam ataupun bersih-bersih rumah sudah biasa kujalani beberapa bulan belakangan ini. Menyandang  predikat 'bunda' pun baru sedikit mengubah aktivitas sehari-hari. Lagi-lagi karena beberapa bulan ini aku sudah terbiasa dengan semua itu.
Sebenarnya bukan perubahan aktivitas yang menggangguku, ketidaknyamanan akan status baru ini justru datang dari mereka yang tak berkepentingan.Tak dipungkiri, karakterku yang tertutup dan tak suka berinteraksi berlebihan dengan orang lain membuatku terganggu dengan celotehan nyinyir. Aku berprinsip, hidupku adalah urusanku. Apa yang kuperbuat, sudah melalui pertimbangan matang dan sepanjang tak merugikan orang lain, sah-sah saja untuk kulakukan. Pada kenyataannya, pikiran orang itu bermacam-macam. Keputusanku untuk menggelar pernikahan tertutup pun mengundang berbagai komentar mulai dari omongan 'bijak' sampai komentar miring penuh dugaan negatif. Walau emosi sering tersulut, aku berusaha untuk tetap diam. Sedikit senyum dan jawaban singkat menjadi senjataku untuk menanggapi komentar-komentar yang pada intinya sama. Doa yang tulus kuterima dengan penuh terima kasih, sebaliknya gurauan (atau suara hati sebenarnya) kuanggap angin lalu saja. Meskipun jengkel dan tersinggung selalu muncul tatkala mendengar tagihan makan-makan hingga tuduhan 'sudah isi'. Aku tahu, bahwa segala sesutau yang diam-diam itu pada akhirnya akan menimbulkan kegemparan. Hanya saja, pentingkah memohon doa restu orang-orang yang belum tentu tulus memberi restu dengan sebuah resepsi yang bagiku sebuah pemborosan ? Untukku, doa restu dari keluargalah yang utama, karena mereka yang benar-benar dekat dengangku dan mendukungku, dan pastinya mendoakan dengan tulus tanpa embel-embel "sumbangan". Berbeda dengan sebagian orang luar yang lebih dulu menodong 'syukuran' alih-alih mengucapkan selamat, disertai bisik-bisik negatif tentang hari bahagiaku yang tertutup. Pada akhirnya semua keputusanku dan pasanganku cukup tepat, dan terserah orang mau bilang apa. Yang penting, doa dari keluarga dan sahabat sejati menyertai perjalanan kami menempuh hidup yang baru.

Kamis, 07 November 2013

Satu Hari Dalam Hidupku

Surprise tak selalu berhasil dengan baik. Niat baik memberikan kejutan tanpa memperhatikan tingkat keseriusan sebuah momen, justru memberikan efek di luar harapan. Itulah yang terjadi pada satu hari dalam hidupku yang seharusnya menjadi momen penting bagiku menuju pribadi yang dewasa dan mandiri. Jauh hari sebelumnya hingga beberapa saat sebelum kepulanganku ke kampung halaman, berkali-kali aku meminta penjelasan akan rencana di hari Minggu. Dan jawaban yang kuterima selalu sama, "Hanya silaturahmi". Bermodal jawaban yang kudapat, aku pun santai saja tak melakukan persiapan khusus untuk menyambut tamu dari jauh. Demikian pula dengan sanak yang lain, hanya sekedar berkumpul, menyiapkan tempat dan jamuan sederhana. Sambil menghabiskan waktu tunggu mengingat perjalanan jauh yang harus ditempuh, aku asyik bercengkerama dengan sobat-sobat karibku hingga malam menjelang. Segala urusan menyambut tamu kuserahkan pada mereka yang lebih berpengalaman ^^. Demikianlah, setelah lama menunggu, rombongan pun tiba dan saat itulah surprise dimulai. Berondongan pertanyaan sama bertubi-tubi dilayangkan kepadaku. "katanya begini, katanya begitu ", segala pertanyaan yang tak sesuai dengan busana rapi rombongan, bingkisan terbalut kertas payung dan sebentuk lingkaran emas dalam wadah hijau. Aku pun tergagap-gagap menjawab pertanyaan yang meliputi maukah ? mantapkah ? kapankah ? dan seterusnya. Aku pun menyingkir ke dalam, berbaur dengan sobat-sobat kecil yang tak peduli dengan apa yang tengah berlangsung di ruang sebelah. Malu bukan kepalang aku, dalam hati memaki otak pembuat surprise dan bersumpah akan memarahinya habis-habisan ^^. Bagaimana tidak, berbekal jawaban sekedar berkenalan, aku pun tampil apa adanya. Berbusana jeans gombrong tanpa sentuhan riasan (yang penting sudah segar sehabis mandi ^^), aku harus menjawab pertanyaan resmi di even yang resmi namun aku jauh dari image resmi ! Kurang lebih 2 jam lamanya kedua pihak saling mengenal lebih jauh, sebelum akhirnya aku pun ikut di rombongan yang sama untuk kembali ke tempat yang kelak menjadi tempat tinggal permanenku. Lelah, lega, bingung, gugup bercampur jadi satu ketika runtutan peristiwa datang padaku. Syukur tak henti-hentinya kudengungkan atas jalan yang telah terbuka. Meskipun aku punya pe-er yaitu harus mengajar materi tentang "Surprise pada tempatnya" ^^.

Rabu, 09 Oktober 2013

Upah Minimum Hidup Layak

Huft setelah sekian lama, baru kali ini sempat membuka rumah tulisku. Itu pun sedikit dipaksakan, sekedar berganti suasana di tengah kejaran tenggat waktu seabrek kerjaan. Sebenarnya, banyak unek-unek atau sebatas celoteh ringan menyikapi berbagai kejadian baik skala lingkungan sekitar sampai nasional. Berhubung kesulitan membagi waktu, plus gangguan kesehatan akibat tubuh mencapai batas lelah, Beberapa waktu lalu, sebelum media online dihiasi berita seputar kecelakaan fenomenal putra musisi terkenal, ataupun update berita kasus suap hakim MK, aku setia mengikuti perkembangan demonstrasi buruh sekaligus komentar-komentar pembaca baik pro maupun kontra. Dulu, aku menyimpan simpati pada buruh dengan gaji minim walau memeras keringat sehari penuh. Bersinggungan langsung dengan kehidupan buruh, bahkan bertugas menghitung dan membayar gaji mereka, membuatku miris. Maklumlah upah minimun buruh di pedesaan hanya setaraf sedikit mendekati cukup untuk menghidupi keluarga. Ketika terjadi demonstrasi buruh menuntut upah minimum, aku setuju-setuju saja, mengingat nilai uang yang semakin melorot sehingga tak memungkinkan dengan gaji tetap untuk mencukupi kebutuhan. Sekali tuntutan terpenuhi ternyata berlanjut ke tuntutan-tuntutan berikutnya. Kenaikan UMR bagi buruh di ibukota yang baru saja disahkan, ternyata belum cukup bagi buruh dalam tanda kutip. Entah serikat ini benar-benar mewakili seluruh buruh di Indonesia atau tidak, rasanya mereka makin 'ngelunjak' dengan tuntutan yang kurang masuk akal. Kali lalu aku membaca berita online yang berisi daftar item yang digunakan sebagai dasar perhitungan tuntutan kenaikan UMR. Semakin jauh ke bawah, item-item yang tertera di daftar makin menggelikan. Membuatku berpikir apakah buruh sedemikian 'ceteknya' pemikiran mereka. Uang makan, kontrakan, transport, kesehatan, pensiun mungkin bisa dinalar bahkan tunjangan baju dan sepatu masih bisa diterima. Tapi bagaimana dengan uang kosmetik (lipstik, bedak, dsb) ? Uang buah-buahan ? Uang rekreasi ? Uang pulsa ? Apakah mereka tidak berpikir, di tengah terpuruknya situasi ekonomi, tuntutan mereka yang diluar kewajaran justru mencerminkan piciknya buruh di Indonesia. Tuntutan upah sedemikian tingginya justru membuat perusahaan berpikir untuk melakukan perampingan besar-besaran. Persaingan antar buruh semakin meruncing, bagi mereka yang tak mempunyai skills tambahan, bersiap-siap saja kena PHK. Jika alasan buruh berhak hidup layak seperti pegawai negeri, pikirkanlah lebih jauh. Pertanyaannya pegawai negeri mana yang sehari makan 3 x lengkap dengan minum susu dan buah pencuci mulut. Pegawai mana yang kontrakannya sebulan mencapai 750 ribu rupiah ? Mungkin mereka hanya melihat gaya hidup pegawai eselon tinggi dengan tunjangan ini itu. Tapi,tidakkah mereka berkaca pada pegawai rendahan terutama di daerah ? Berpuluh tahun mengabdi pun masih banyak yang belum mempunyai rumah sendiri. Baju dan sepatu baru hanya setahun sekali kalau tidak mendahulukan kepentingan anak. Membiayai sekolah anak-anak pun harus menggadaikan aset dulu dengan sistem potong gaji. Padahal modal  menjadi pegawai juga tidak murah, harus mengenyam pendidikan tinggi, bersaing dengan puluhan bahkan ratusan ribu pelamar, dan harus meniti karir dari bawah, syukur-syukur di hari tua sempat mengenyam posisi puncak. Nah, yang menjadi masalah, apakah demonstrasi itu murni dari buruh atau ditunggangi oknum yang ingin mencari keuntungan alias pengangguran berselubung pengurus ? Tak tahulah, hanya berharap kecemburuan antar profesi bisa dikurangi. Caranya bukan dengan menyamakan gaji, melainkan mempertimbangkan segala aspek yang masih beradadalam batas kewajaran

Rabu, 03 Juli 2013

Ketika Cerita dan Musik Tak Lagi Menarik

"Aktivitas manusia akan menghasilkan limbah atau lebih dikenal dengan istilah sampah (walaupun sampah lebih tepat untuk menyebut limbah padat)", demikian materi awal yang dua tahun ini selalu kusampaikan pada anak didikku. Belakangan ini aku tidak aktif menulis di media blog, hanya sekedar mengunggah status di media sosial, dan kuperhatikan status-statusku kian hari kian menggambarkan kegelisahan yang berkecamuk dalam diriku. Rupanya aktivitas sehari-hari tak hanya menyisakan sampah dalam wujud benda, melainkan juga muncul sampah abstrak yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan. Aktivitas  bertubi-tubi tanpa jeda, kabar duka dan kabar suram yang berdatangan, semakin memforsir tenaga yang mengakibatkan menumpuknya sampah hati alias unek-unek. Sama seperti sampah dalam arti sebenarnya yang bila tidak dikelola dengan baik bisa mencemari lingkungan, sampah hati jika tak dikelola pun lama-lama mencemari pikiran, perasaan yang berdampak pada perkataan dan perbuatan. Hal ini telah kurasakan benar sejak dulu. Ketika sampah hati tak dikelola ataupun sekedar dibuang dengan melakukan 'curhat' baik bercerita pada teman ataupun sekedar menulis di blog pribadi, jenuh yang menumpuk membuatku gelisah tak menentu, akibatnya perangaiku berubah menjadi "dark angel". Ketus, mudah emosi, menganggap semua salah dan keinginan kuat untuk menarik diri dari lingkungan sosial, itulah yang terjadi padaku. Saking suntuknya, membaca buku hingga mendengarkan musik tak lagi menarik untukku, merebahkan tubuh dan menyerahkan diri pada kuasa mimpi mengisi hari-hariku. Lelah dengan keadaan ini, tanpa memikirkan lebih jauh isi kantong yang masih  harus bertahan sampai dua minggu lagi, di suatu sore yang cerah aku melarikan diri dari kungkungan tembok. Memacu kuda besiku menuju hiburan ku yang terakhir, tempat pemutaran film di pusat kota. Tak butuh waktu lama bagiku untuk hanyut dalam petualangan versi baru laki-laki tampan dari planet asing. Tak kurang dari 2 jam aku terlepas dari kungkungan jenuh, menyerahkan diri pada adegan demi adengan seru. Orang yang tak suka film, selalu mengejekku bodoh, karena mau saja dibohongi (termasuk preman udik yang satu itu ^^). Ah aku tak peduli, pada kenyataannya begitu keluar dari ruangan berlayar lebar, aku bisa tersenyum, di kepalaku masih terbayang visual effect canggih "Man of Steel" , mengingat-ingat kesamaan fisik dan postur para pemeran Clark Kent dewasa maupun remaja. Di bawah cahaya supermoon, aku kembali dengan sampah pikiran yang telah diolah sehingga tak begitu mengganggu.

Rabu, 29 Mei 2013

Kisi = Prediksi, Motivasi, Atau Solusi Degenerasi ?

Tak lama lagi mereka yang menyandang status pelajar akan menempuh ulangan umum / ulangan akhir semester/ulangan kenaikan kelas. Demikian pula  dengan mereka yang saat ini memperoleh jejalan materi dariku, sejak beberapa hari lalu hampir setiap kelas yang kumasuki ribut meminta kisi-kisi soal yang akan diujikan. Apa sih kisi-kisi itu ? Gampangnya kisi-kisi semacam rambu-rambu penulisan soal yang mencakup materi, indikator yang ingin dicapai dari soal tersebut. Jadi bisa ditebak yang terjadi ketika kisi-kisi tersebut sampai ke tangan siswa, secara otomatis gambaran soal yang akan diujikan bisa dikatakan telah bocor. Lagi-lagi situasi telah jauh berbeda dengan zamanku dulu, ketika aku masih menjadi siswa tak sekalipun aku dan teman-teman meminta kisi-kisi. Alih-alih meminta, mengenal istilah kisi-kisi pun tidak. Persiapan menghadapi ujian murni belajar seluruh materi yang telah dipelajari. Tak terbesit sekalipun membuat salinan catatan pada secarik kertas kecil yang nantinya dibuka kembali saat mengerjakan soal alias mencontek ^^. Ya, zaman dulu sekedar bertanya pada teman saja rasa takut ketahuan guru sedemikian hebatnya, apalagi secara khusus mempersiapkan peralatan mencontek, wah kalau bukan mereka yang bermental baja dalam hal 'mbeling' pastilah tak akan mengambil resiko kena 'black list' guru. Sekarang, situasi telah berbalik 180 derajat, menyalin jawaban teman merupakan hal umum. Tanpa takut-takut catatan yang masih dalam bentuk aslinya dibawa ke ruang ujian, tak peduli dengan pengawas kepala sekaligus badan berputar ke kanan kiri dan ke belakang, mulut sibuk bertanya dan membacakan jawaban. Kisi-kisi yang diberikan justru disalah gunakan untuk membuat catatan kecil sebagai media kecurangan dalam ujian. Memang tak semua melakukan hal seperti itu, akan tetapi sebagai akibat perbuatan beberapa orang tersebut mengubah pandangan siswa terhadap ujian. Dulu ujian adalah persoalan serius yang menyangkut masa depan, sekarang ujian tak lebih dari sekedar formalitas untuk mendapat nilai minimal. Siapakah yang patut disalahkan ? Jawabannya semua salah mulai dari sistem yang berlaku hingga personel yang terlibat di dalamnya. Bak KKN yang menggurita, kemerosotan kualitas pendidikan sudah mencapai tahap susah untuk ditanggulangi terutama dari segi moral, akhlak, karakter dan kepribadian siswa. Lalu bagaimana dengan masa depan generasi emas bangsa ? Berbagai upaya telah dilakukan dan yang teranyar akan diberlakukannya kurikulum 2013 yang menekankan pendidikan karakter siswa. Semoga pendidikan kembali ke asalnya mendidik dan membimbing generasi emas dalam kebaikan, kemajuan nusa, bangsa dan agama.

Jumat, 24 Mei 2013

Lihat dan Alami

Pertama kali aku masuk ke ruangan ini, optimisme untuk bisa memuaskan kegemaranku berkutat dengan tumpukan buku seketika runtuh. Alih-alih menemukan koleksi beragam mengingat banyaknya program keahlian yang ada, sederet rak di hadapanku berisi buku-buku usang  berdebu. Jangankan menemukan judul baru, sekedar mencari koleksi buku teks pelajaran wajib pun tak ada. Tak perlu bertanya dimana letak buku fiksi, karena memang tak ada. Kondisi ruangan yang sempit, dengan ruang baca terbatas dan cenderung gelap menambah lengkap alasan keengganan pengunjung untuk datang dan mencari informasi yang dibutuhkan. Kulihat data koleksi yang ada, dan seketika aku tersenyum penuh kemenangan. "Wah koleksi pribadiku lebih banyak dari ini", kataku dalam hati. Kuberanikan bertanya pada yang berwenang dan jawaban yang diperoleh sangatlah klise, sehingga tak perlulah kutuliskan disini. Dua tahun berlalu, ada sedikit kemajuan yang kulihat dengan bertambahnya penghuni rak yang masih kosong dan usang. Sederet judul buku dari berbagai bidang menambah koleksi yang berujung bertambahnya minat pengunjung. Sekali lagi kuberanikan bertanya, sedikit berkomentar antara senang dan sinis mendengar jawaban yang kuterima. "Oh, gara-gara nilai minus yang diperoleh akhirnya mau menyisihkan dana untuk menambah inventaris.", gumamku. Tak disangka, minatku akan buku membawaku mengemban tugas  mengelola tempat ini. Idealisme yang masih membara membuatku bersemangat merencanakan program pengembangan terutama peningkatan koleksi perpustakaan. Proposal demi proposal yang sebelumnya aku tak pernah membuat apalagi mengajukan kusiapkan dengan cermat agar tujuan tercapai. Dan akhirnya aku bernasib sama dengan yang sebelum-sebelumnya, idealisme runtuh dengan sendirinya, usulan dimentahkan dengan alasan klasik yang menurutku lebih bermuatan politik yang penuh dengan intrik. Jika kubaca lagi peraturan yang ada, sebetulnya alasan yang mementahkan usulanku itu sama sekali tak bisa diterima. Demikian pula dengan alasan pendidikan gratis karena sebetulnya tidak benar-benar gratis melainkan dibiayai pemerintah. Aku sendiri heran, bukankah perpustakaan merupakan pusat informasi sekaligus menjadi pusat sumber belajar ? Tapi mengapa perhatian yang seharusnya tak diberikan ? Setahun melaksanakan tugas, aku bisa memperoleh kesimpulan jika tempatku ini menjadi nomor yang paling belakang dalam prioritas.Tempatku selalu mendapat informasi paling akhir, bahkan terlewatkan. Alih-alih mendapat alokasi, kebutuhan primer sehari-hari pun sulit  terpenuhi. Pada akhirnya aku memberanikan diri menempuh cara ekstrim demi pengembangan tempat yang disebut sebagai pusat sumber belajar agar tak sekedar menjadi kalimat tanpa realisasi.