Selasa, 28 Januari 2014

Biasa Saja

"Bagaimana rasanya ?", akhir-akhir ini pertanyaan serupa sering mampir kepadaku. Bukan tanpa alasan sobat-sobatku menanyakan hal tersebut. Baik yang sudah berdua apalagi yang masih setia menjomblo kompak menanyakan perubahan yang terjadi pada diriku sejak hari Minggu, 29 Desember 2013 lalu. Ditanya tentang rasa, terus terang aku sendiri belum bisa menjawab secara gamblang. Pasalnya, hingga saat ini yang notabene tiga minggu berlalu sejak statusku berubah, rutinitas yang kujalani sehari-hari tak banyak berubah. Bangun pagi, berangkat ke kantor, pulang sore lalu istirahat hingga pagi kembali berulang, masih sama seperti aku yang dulu. Menyiapkan makan malam, ataupun jalan-jalan bertiga pun sudah biasa kulakukan. "Biasa saja, mungkin karena sudah terbiasa", jawabku yang diamini salah satu sahabatku yang juga mengalami hal serupa. Mungkin karena baru beberapa waktu dan belum benar-benar tinggal bersama, jadi perubahan status dari single menjadi ibu rumah tangga belum terasa nyata. Pola pikirku pun belum mengalami perubahan sebagaimana mestinya. Menyiapkan makan, seragam ataupun bersih-bersih rumah sudah biasa kujalani beberapa bulan belakangan ini. Menyandang  predikat 'bunda' pun baru sedikit mengubah aktivitas sehari-hari. Lagi-lagi karena beberapa bulan ini aku sudah terbiasa dengan semua itu.
Sebenarnya bukan perubahan aktivitas yang menggangguku, ketidaknyamanan akan status baru ini justru datang dari mereka yang tak berkepentingan.Tak dipungkiri, karakterku yang tertutup dan tak suka berinteraksi berlebihan dengan orang lain membuatku terganggu dengan celotehan nyinyir. Aku berprinsip, hidupku adalah urusanku. Apa yang kuperbuat, sudah melalui pertimbangan matang dan sepanjang tak merugikan orang lain, sah-sah saja untuk kulakukan. Pada kenyataannya, pikiran orang itu bermacam-macam. Keputusanku untuk menggelar pernikahan tertutup pun mengundang berbagai komentar mulai dari omongan 'bijak' sampai komentar miring penuh dugaan negatif. Walau emosi sering tersulut, aku berusaha untuk tetap diam. Sedikit senyum dan jawaban singkat menjadi senjataku untuk menanggapi komentar-komentar yang pada intinya sama. Doa yang tulus kuterima dengan penuh terima kasih, sebaliknya gurauan (atau suara hati sebenarnya) kuanggap angin lalu saja. Meskipun jengkel dan tersinggung selalu muncul tatkala mendengar tagihan makan-makan hingga tuduhan 'sudah isi'. Aku tahu, bahwa segala sesutau yang diam-diam itu pada akhirnya akan menimbulkan kegemparan. Hanya saja, pentingkah memohon doa restu orang-orang yang belum tentu tulus memberi restu dengan sebuah resepsi yang bagiku sebuah pemborosan ? Untukku, doa restu dari keluargalah yang utama, karena mereka yang benar-benar dekat dengangku dan mendukungku, dan pastinya mendoakan dengan tulus tanpa embel-embel "sumbangan". Berbeda dengan sebagian orang luar yang lebih dulu menodong 'syukuran' alih-alih mengucapkan selamat, disertai bisik-bisik negatif tentang hari bahagiaku yang tertutup. Pada akhirnya semua keputusanku dan pasanganku cukup tepat, dan terserah orang mau bilang apa. Yang penting, doa dari keluarga dan sahabat sejati menyertai perjalanan kami menempuh hidup yang baru.

Kamis, 07 November 2013

Satu Hari Dalam Hidupku

Surprise tak selalu berhasil dengan baik. Niat baik memberikan kejutan tanpa memperhatikan tingkat keseriusan sebuah momen, justru memberikan efek di luar harapan. Itulah yang terjadi pada satu hari dalam hidupku yang seharusnya menjadi momen penting bagiku menuju pribadi yang dewasa dan mandiri. Jauh hari sebelumnya hingga beberapa saat sebelum kepulanganku ke kampung halaman, berkali-kali aku meminta penjelasan akan rencana di hari Minggu. Dan jawaban yang kuterima selalu sama, "Hanya silaturahmi". Bermodal jawaban yang kudapat, aku pun santai saja tak melakukan persiapan khusus untuk menyambut tamu dari jauh. Demikian pula dengan sanak yang lain, hanya sekedar berkumpul, menyiapkan tempat dan jamuan sederhana. Sambil menghabiskan waktu tunggu mengingat perjalanan jauh yang harus ditempuh, aku asyik bercengkerama dengan sobat-sobat karibku hingga malam menjelang. Segala urusan menyambut tamu kuserahkan pada mereka yang lebih berpengalaman ^^. Demikianlah, setelah lama menunggu, rombongan pun tiba dan saat itulah surprise dimulai. Berondongan pertanyaan sama bertubi-tubi dilayangkan kepadaku. "katanya begini, katanya begitu ", segala pertanyaan yang tak sesuai dengan busana rapi rombongan, bingkisan terbalut kertas payung dan sebentuk lingkaran emas dalam wadah hijau. Aku pun tergagap-gagap menjawab pertanyaan yang meliputi maukah ? mantapkah ? kapankah ? dan seterusnya. Aku pun menyingkir ke dalam, berbaur dengan sobat-sobat kecil yang tak peduli dengan apa yang tengah berlangsung di ruang sebelah. Malu bukan kepalang aku, dalam hati memaki otak pembuat surprise dan bersumpah akan memarahinya habis-habisan ^^. Bagaimana tidak, berbekal jawaban sekedar berkenalan, aku pun tampil apa adanya. Berbusana jeans gombrong tanpa sentuhan riasan (yang penting sudah segar sehabis mandi ^^), aku harus menjawab pertanyaan resmi di even yang resmi namun aku jauh dari image resmi ! Kurang lebih 2 jam lamanya kedua pihak saling mengenal lebih jauh, sebelum akhirnya aku pun ikut di rombongan yang sama untuk kembali ke tempat yang kelak menjadi tempat tinggal permanenku. Lelah, lega, bingung, gugup bercampur jadi satu ketika runtutan peristiwa datang padaku. Syukur tak henti-hentinya kudengungkan atas jalan yang telah terbuka. Meskipun aku punya pe-er yaitu harus mengajar materi tentang "Surprise pada tempatnya" ^^.

Rabu, 09 Oktober 2013

Upah Minimum Hidup Layak

Huft setelah sekian lama, baru kali ini sempat membuka rumah tulisku. Itu pun sedikit dipaksakan, sekedar berganti suasana di tengah kejaran tenggat waktu seabrek kerjaan. Sebenarnya, banyak unek-unek atau sebatas celoteh ringan menyikapi berbagai kejadian baik skala lingkungan sekitar sampai nasional. Berhubung kesulitan membagi waktu, plus gangguan kesehatan akibat tubuh mencapai batas lelah, Beberapa waktu lalu, sebelum media online dihiasi berita seputar kecelakaan fenomenal putra musisi terkenal, ataupun update berita kasus suap hakim MK, aku setia mengikuti perkembangan demonstrasi buruh sekaligus komentar-komentar pembaca baik pro maupun kontra. Dulu, aku menyimpan simpati pada buruh dengan gaji minim walau memeras keringat sehari penuh. Bersinggungan langsung dengan kehidupan buruh, bahkan bertugas menghitung dan membayar gaji mereka, membuatku miris. Maklumlah upah minimun buruh di pedesaan hanya setaraf sedikit mendekati cukup untuk menghidupi keluarga. Ketika terjadi demonstrasi buruh menuntut upah minimum, aku setuju-setuju saja, mengingat nilai uang yang semakin melorot sehingga tak memungkinkan dengan gaji tetap untuk mencukupi kebutuhan. Sekali tuntutan terpenuhi ternyata berlanjut ke tuntutan-tuntutan berikutnya. Kenaikan UMR bagi buruh di ibukota yang baru saja disahkan, ternyata belum cukup bagi buruh dalam tanda kutip. Entah serikat ini benar-benar mewakili seluruh buruh di Indonesia atau tidak, rasanya mereka makin 'ngelunjak' dengan tuntutan yang kurang masuk akal. Kali lalu aku membaca berita online yang berisi daftar item yang digunakan sebagai dasar perhitungan tuntutan kenaikan UMR. Semakin jauh ke bawah, item-item yang tertera di daftar makin menggelikan. Membuatku berpikir apakah buruh sedemikian 'ceteknya' pemikiran mereka. Uang makan, kontrakan, transport, kesehatan, pensiun mungkin bisa dinalar bahkan tunjangan baju dan sepatu masih bisa diterima. Tapi bagaimana dengan uang kosmetik (lipstik, bedak, dsb) ? Uang buah-buahan ? Uang rekreasi ? Uang pulsa ? Apakah mereka tidak berpikir, di tengah terpuruknya situasi ekonomi, tuntutan mereka yang diluar kewajaran justru mencerminkan piciknya buruh di Indonesia. Tuntutan upah sedemikian tingginya justru membuat perusahaan berpikir untuk melakukan perampingan besar-besaran. Persaingan antar buruh semakin meruncing, bagi mereka yang tak mempunyai skills tambahan, bersiap-siap saja kena PHK. Jika alasan buruh berhak hidup layak seperti pegawai negeri, pikirkanlah lebih jauh. Pertanyaannya pegawai negeri mana yang sehari makan 3 x lengkap dengan minum susu dan buah pencuci mulut. Pegawai mana yang kontrakannya sebulan mencapai 750 ribu rupiah ? Mungkin mereka hanya melihat gaya hidup pegawai eselon tinggi dengan tunjangan ini itu. Tapi,tidakkah mereka berkaca pada pegawai rendahan terutama di daerah ? Berpuluh tahun mengabdi pun masih banyak yang belum mempunyai rumah sendiri. Baju dan sepatu baru hanya setahun sekali kalau tidak mendahulukan kepentingan anak. Membiayai sekolah anak-anak pun harus menggadaikan aset dulu dengan sistem potong gaji. Padahal modal  menjadi pegawai juga tidak murah, harus mengenyam pendidikan tinggi, bersaing dengan puluhan bahkan ratusan ribu pelamar, dan harus meniti karir dari bawah, syukur-syukur di hari tua sempat mengenyam posisi puncak. Nah, yang menjadi masalah, apakah demonstrasi itu murni dari buruh atau ditunggangi oknum yang ingin mencari keuntungan alias pengangguran berselubung pengurus ? Tak tahulah, hanya berharap kecemburuan antar profesi bisa dikurangi. Caranya bukan dengan menyamakan gaji, melainkan mempertimbangkan segala aspek yang masih beradadalam batas kewajaran

Rabu, 03 Juli 2013

Ketika Cerita dan Musik Tak Lagi Menarik

"Aktivitas manusia akan menghasilkan limbah atau lebih dikenal dengan istilah sampah (walaupun sampah lebih tepat untuk menyebut limbah padat)", demikian materi awal yang dua tahun ini selalu kusampaikan pada anak didikku. Belakangan ini aku tidak aktif menulis di media blog, hanya sekedar mengunggah status di media sosial, dan kuperhatikan status-statusku kian hari kian menggambarkan kegelisahan yang berkecamuk dalam diriku. Rupanya aktivitas sehari-hari tak hanya menyisakan sampah dalam wujud benda, melainkan juga muncul sampah abstrak yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan. Aktivitas  bertubi-tubi tanpa jeda, kabar duka dan kabar suram yang berdatangan, semakin memforsir tenaga yang mengakibatkan menumpuknya sampah hati alias unek-unek. Sama seperti sampah dalam arti sebenarnya yang bila tidak dikelola dengan baik bisa mencemari lingkungan, sampah hati jika tak dikelola pun lama-lama mencemari pikiran, perasaan yang berdampak pada perkataan dan perbuatan. Hal ini telah kurasakan benar sejak dulu. Ketika sampah hati tak dikelola ataupun sekedar dibuang dengan melakukan 'curhat' baik bercerita pada teman ataupun sekedar menulis di blog pribadi, jenuh yang menumpuk membuatku gelisah tak menentu, akibatnya perangaiku berubah menjadi "dark angel". Ketus, mudah emosi, menganggap semua salah dan keinginan kuat untuk menarik diri dari lingkungan sosial, itulah yang terjadi padaku. Saking suntuknya, membaca buku hingga mendengarkan musik tak lagi menarik untukku, merebahkan tubuh dan menyerahkan diri pada kuasa mimpi mengisi hari-hariku. Lelah dengan keadaan ini, tanpa memikirkan lebih jauh isi kantong yang masih  harus bertahan sampai dua minggu lagi, di suatu sore yang cerah aku melarikan diri dari kungkungan tembok. Memacu kuda besiku menuju hiburan ku yang terakhir, tempat pemutaran film di pusat kota. Tak butuh waktu lama bagiku untuk hanyut dalam petualangan versi baru laki-laki tampan dari planet asing. Tak kurang dari 2 jam aku terlepas dari kungkungan jenuh, menyerahkan diri pada adegan demi adengan seru. Orang yang tak suka film, selalu mengejekku bodoh, karena mau saja dibohongi (termasuk preman udik yang satu itu ^^). Ah aku tak peduli, pada kenyataannya begitu keluar dari ruangan berlayar lebar, aku bisa tersenyum, di kepalaku masih terbayang visual effect canggih "Man of Steel" , mengingat-ingat kesamaan fisik dan postur para pemeran Clark Kent dewasa maupun remaja. Di bawah cahaya supermoon, aku kembali dengan sampah pikiran yang telah diolah sehingga tak begitu mengganggu.

Rabu, 29 Mei 2013

Kisi = Prediksi, Motivasi, Atau Solusi Degenerasi ?

Tak lama lagi mereka yang menyandang status pelajar akan menempuh ulangan umum / ulangan akhir semester/ulangan kenaikan kelas. Demikian pula  dengan mereka yang saat ini memperoleh jejalan materi dariku, sejak beberapa hari lalu hampir setiap kelas yang kumasuki ribut meminta kisi-kisi soal yang akan diujikan. Apa sih kisi-kisi itu ? Gampangnya kisi-kisi semacam rambu-rambu penulisan soal yang mencakup materi, indikator yang ingin dicapai dari soal tersebut. Jadi bisa ditebak yang terjadi ketika kisi-kisi tersebut sampai ke tangan siswa, secara otomatis gambaran soal yang akan diujikan bisa dikatakan telah bocor. Lagi-lagi situasi telah jauh berbeda dengan zamanku dulu, ketika aku masih menjadi siswa tak sekalipun aku dan teman-teman meminta kisi-kisi. Alih-alih meminta, mengenal istilah kisi-kisi pun tidak. Persiapan menghadapi ujian murni belajar seluruh materi yang telah dipelajari. Tak terbesit sekalipun membuat salinan catatan pada secarik kertas kecil yang nantinya dibuka kembali saat mengerjakan soal alias mencontek ^^. Ya, zaman dulu sekedar bertanya pada teman saja rasa takut ketahuan guru sedemikian hebatnya, apalagi secara khusus mempersiapkan peralatan mencontek, wah kalau bukan mereka yang bermental baja dalam hal 'mbeling' pastilah tak akan mengambil resiko kena 'black list' guru. Sekarang, situasi telah berbalik 180 derajat, menyalin jawaban teman merupakan hal umum. Tanpa takut-takut catatan yang masih dalam bentuk aslinya dibawa ke ruang ujian, tak peduli dengan pengawas kepala sekaligus badan berputar ke kanan kiri dan ke belakang, mulut sibuk bertanya dan membacakan jawaban. Kisi-kisi yang diberikan justru disalah gunakan untuk membuat catatan kecil sebagai media kecurangan dalam ujian. Memang tak semua melakukan hal seperti itu, akan tetapi sebagai akibat perbuatan beberapa orang tersebut mengubah pandangan siswa terhadap ujian. Dulu ujian adalah persoalan serius yang menyangkut masa depan, sekarang ujian tak lebih dari sekedar formalitas untuk mendapat nilai minimal. Siapakah yang patut disalahkan ? Jawabannya semua salah mulai dari sistem yang berlaku hingga personel yang terlibat di dalamnya. Bak KKN yang menggurita, kemerosotan kualitas pendidikan sudah mencapai tahap susah untuk ditanggulangi terutama dari segi moral, akhlak, karakter dan kepribadian siswa. Lalu bagaimana dengan masa depan generasi emas bangsa ? Berbagai upaya telah dilakukan dan yang teranyar akan diberlakukannya kurikulum 2013 yang menekankan pendidikan karakter siswa. Semoga pendidikan kembali ke asalnya mendidik dan membimbing generasi emas dalam kebaikan, kemajuan nusa, bangsa dan agama.

Jumat, 24 Mei 2013

Lihat dan Alami

Pertama kali aku masuk ke ruangan ini, optimisme untuk bisa memuaskan kegemaranku berkutat dengan tumpukan buku seketika runtuh. Alih-alih menemukan koleksi beragam mengingat banyaknya program keahlian yang ada, sederet rak di hadapanku berisi buku-buku usang  berdebu. Jangankan menemukan judul baru, sekedar mencari koleksi buku teks pelajaran wajib pun tak ada. Tak perlu bertanya dimana letak buku fiksi, karena memang tak ada. Kondisi ruangan yang sempit, dengan ruang baca terbatas dan cenderung gelap menambah lengkap alasan keengganan pengunjung untuk datang dan mencari informasi yang dibutuhkan. Kulihat data koleksi yang ada, dan seketika aku tersenyum penuh kemenangan. "Wah koleksi pribadiku lebih banyak dari ini", kataku dalam hati. Kuberanikan bertanya pada yang berwenang dan jawaban yang diperoleh sangatlah klise, sehingga tak perlulah kutuliskan disini. Dua tahun berlalu, ada sedikit kemajuan yang kulihat dengan bertambahnya penghuni rak yang masih kosong dan usang. Sederet judul buku dari berbagai bidang menambah koleksi yang berujung bertambahnya minat pengunjung. Sekali lagi kuberanikan bertanya, sedikit berkomentar antara senang dan sinis mendengar jawaban yang kuterima. "Oh, gara-gara nilai minus yang diperoleh akhirnya mau menyisihkan dana untuk menambah inventaris.", gumamku. Tak disangka, minatku akan buku membawaku mengemban tugas  mengelola tempat ini. Idealisme yang masih membara membuatku bersemangat merencanakan program pengembangan terutama peningkatan koleksi perpustakaan. Proposal demi proposal yang sebelumnya aku tak pernah membuat apalagi mengajukan kusiapkan dengan cermat agar tujuan tercapai. Dan akhirnya aku bernasib sama dengan yang sebelum-sebelumnya, idealisme runtuh dengan sendirinya, usulan dimentahkan dengan alasan klasik yang menurutku lebih bermuatan politik yang penuh dengan intrik. Jika kubaca lagi peraturan yang ada, sebetulnya alasan yang mementahkan usulanku itu sama sekali tak bisa diterima. Demikian pula dengan alasan pendidikan gratis karena sebetulnya tidak benar-benar gratis melainkan dibiayai pemerintah. Aku sendiri heran, bukankah perpustakaan merupakan pusat informasi sekaligus menjadi pusat sumber belajar ? Tapi mengapa perhatian yang seharusnya tak diberikan ? Setahun melaksanakan tugas, aku bisa memperoleh kesimpulan jika tempatku ini menjadi nomor yang paling belakang dalam prioritas.Tempatku selalu mendapat informasi paling akhir, bahkan terlewatkan. Alih-alih mendapat alokasi, kebutuhan primer sehari-hari pun sulit  terpenuhi. Pada akhirnya aku memberanikan diri menempuh cara ekstrim demi pengembangan tempat yang disebut sebagai pusat sumber belajar agar tak sekedar menjadi kalimat tanpa realisasi.

Senin, 29 April 2013

Komik # Child

"Wes gedhe kok jik seneng kartun, payah " komentarnya dengan menggelegar, membuat wajah-wajah yang semula sibuk dengan pekerjaan masing-masing berpaling menatapku. Ugh...sontak emosiku melonjak ( akhir-akhir ini aku memang cepat sekali tersinggung), dan kalimat bernada tinggi pun terlontar dariku. Komentar nyinyir tentang hobiku yang satu itu memang sering kudengar sejak aku beranjak dewasa. Biasanya komentar semacam itu muncul dari mereka yang asing dengan komik, kartun, gambar colek, manga atau apapun istilah untuk cerita bergambar yang mengisi sebagian besar rak bukuku. Aku yang enggan berdebat pun hanya tersenyum menanggapi, tak mau membuang energi menjelaskan hal yang tak mau mereka mengerti. Meskipun demikian, semakin lama kuterima komentar nyinyir tersebut rasa dongkol yang selalu kusimpan akhirnya meluap juga. Entah berapa kali aku menulis tentang dunia komik, menjelaskan perkembangan komik yang telah bergeser dari bacaan anak-anak menjadi bacaan universal sesuai dengan genre dan rating. Sayangnya, sebagian dari mereka yang awam dengan komik tak mau mengikuti perkembangan meskipun hanya sekedar tahu tanpa harus menjadikan membaca komik sebagai hobi. Tetap berpegang pada wawasan sempit dan pengetahuan yang cetek tersebut dijadikan senjata untuk berkomentar yang baik sengaja atau tidak telah menyinggung orang lain. Apesnya (^_^) sekarang ini aku berada di lingkungan yang personelnya tergolong awam dengan komik. Jangankan komik, sekedar toko buku lengkap pun tak ada di tempatku sekarang ini. Budaya membaca rupanya masih jauh dari kebiasaan sehari-hari mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tak heran jika kolegaku masih menganggap bahwa komik adalah bacaan anak-anak, dan orang dewasa yang membaca komik dianggap tak wajar dan cenderung ditertawakan. Okelah kalau begitu, hanya saja aku berharap mereka bisa melihat situasi ketika berkomentar, mempelajari dulu sebelum menertawakan orang di depan umum. Aku sangat berterimakasih pada mereka yang melihat isi bacaanku dan mengangguk-angguk maklum meskipun mungkin dalam hati merasa aneh dengan hobiku ini namun tak sampai ikut-ikutan berkomentar nyinyir. Yups, aku mengakui sejak mulai bisa mengeja huruf, aku menjadikan membaca sebagai hobi. Dan aku menjatuhkan pilihan pada komik sebagai salah satu bacaan favoritku. Doraemon, adalah komik pertama yang kubaca ketika aku pertama kali mendaftar sebagai anggota taman bacaan Mutiara Hitam (ups kangen dengan MH, sayang sekarang sudah tutup tergilas dengan arus game online). Sebagai anak sekolah dasar, aku terpesona dengan berbagai benda yang keluar dari kantung ajaib Doraemon. Sebagai seorang anak yang membaca tanpa didampingi orang dewasa, saat itu aku hanya menikmati komik sebagai hiburan di sela-sela kesibukan belajar. Aku selalu larut dalam cerita komik yang kubaca yang waktu itu komik masih terbatas pada cerita anak-anak dan remaja. Terhanyut dan bermimpi menjadi balerina seperti Mari Chan, tergelak dan mendambakan bertemu dengan pangeran seperti Pansy, bercita-cita menjadi ahli Wushu seperti Kenji dan Chinmi si Kungfu Boy dari Kuil Dairin. Seiring dengan bertambahnya usiaku, komik pun mengalami perkembangan dalam plot, karakter dan teknik gambar. Saat ini komik (terutama komik Jepang) telah berkembang pesat dan telah diterima dunia sebagai bacaan dewasa. Aku belajar tentang sebuah penerimaan dan pemahaman akan penderitaan dalam Fruit Basket, mengerti makna persahabatan sejati dari Luffy Si Topi Jerami, Nakki dan geng anak badung yang terjut indah dalam Popcorn, mengerti bahwa anak-anak pun bisa bijaksana dalam konteksnya yang tercermin dalam diri Sana (Kodocha Child's Play), belajar berpikir secara filosofi dari karya-karya Akemi Yoshimura Sensei, menggali informasi dari detektif anak-anak Conan, Kindaichi, Qyu, mengenal dunia olahraga dari Harlem Beat, Prince of Tennis dan karya-karya Adachi Mitsuru, membaca sejarah lewat C.M.B, Rose of Versailles, Cesare, Eroica, Samurai X, belajar dunia kedokteran lewat Dr Koto, Godhand Teru, Wild Life, semakin mencintai musik dengan Nodame, Piano Hutan, Diva, menyayangi keluarga seperti Baby And I dan jika jenuh dengan rutinitas cukup membalik lembar demi lembar dan tertawa-tawa bersama Kobo Chan dan Kariage Kun ataupun ikut dalam petualangan seru Kyo, Beelzebub dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya dalam dunia fantasi yang penuh warna. Meskipun akhir-akhir ini judul yang kubaca semakin sedikit, kesukaanku akan komik tak jua berkurang. Aku hanya berharap jika mereka mau memahami, andaikan tidak pun tak perlulah untuk mentertawakan, menghakimi bahwa komik sama dengan anak kecil.