Jumat, 15 Oktober 2010

Indah Pada Waktunya

Sebagai orang yang sejak kecil terperangkap dalam kumpulan cerita khayalan, tak pelak lagi aku pun tumbuh menjadi seorang yang pemimpi. Bukan berarti aku hidup dalam impian dan berusaha mengejarnya melainkan aku mempunyai bagian diriku yang tinggal dalam dunia yang kubentuk sedemikian rupa indahnya layaknya sebuah cerita , dan tentu saja dunia itu berada dalam pikiranku. Tiap kali aku merasa ingin menjauh dari kenyataan, aku akan masuk ke dunia impianku, dimana aku bisa bermanja-manja dengan segala sesuatu yang pastinya membuatku bahagia. Namun ada kalanya aku berharap impianku itu menjadi nyata, kalaupun tidak aku tak pernah melepas keinginan untuk sekedar merasakan sesuatu yang mendekati impianku. Beberapa lama waktu berlalu, meskipun usia semakin menuntut untuk berubah menjadi lebih bijak, impian masa kecil remaja hingga dewasa yang terus menerus bertambah selalu menunggu untuk terwujud. Dan ketika saat itu memungkinkan untuk datang, emosi mendalam pun berkecamuk, tak sabar untuk merasakan kebahagiaan seperti yang kudapatkan ketika mata ini terpejam dan aku berkelana ke dunia semuku. Dan ketika impianku tak terwujud sepenuhnya, gurat kesedihan tak bisa kuhindarkan. Kekecewaan yang lebih dikarenakan karena impian yang kandas memenuhi pikiranku dan semakin membuncah menyulut emosiku yang selalu meledak-ledak. Luapan amarah yang tak jarang menyakiti orang lain pun tak kuasa kutahan. Layaknya anak kecil yang merengek-rengek menginginkan sesuatu yang tak terpenuhi, aku pun memuntahkan segalanya mencoba mencari pembenaran diri tak peduli dengan dampak emosional yang melibas sekelilingku. Dan ketika semuanya usai, barulah aku menghela nafas dalam, mulai berpikir jernih, membuka mata mengamati sekeliling dan timbullah penyesalan yang dalam. Dan aku pun berusaha untuk memperbaiki keadaan. Karena ketika emosi telah terlepas, aku menyadari betapa konyolnya diriku. Sesungguhnya aku pun tahu, impian hanyalah sebuah angan-angan yang memang dibuat untuk selalu indah. Namun salahkah aku jika ingin mengecap sedikit saja impian itu untuk menjadi nyata ? Tak bolehkan aku berharap bisa mewujudkan impianku bersama-sama ? Meskipun aku tahu semua takkan bisa menjadi seperti yang aku minta. Tapi setidaknya aku ingin semua bisa diusahakan, meskipun perlahan dan sedikit mencoba-coba hingga memerlukan waktu cukup lama, walau tak menjamin hasil akhirnya, aku yakin pada akhirnya aku lebih bahagia dengan kenyataan yang ada.

Jumat, 08 Oktober 2010

Sehari Penuh Makanan


"Jalan-jalan yukk !", tak biasanya sahabat kecilku tiba-tiba menyapa di siang hari. Namanya juga aku yang hobi banget jalan-jalan terutama belakangan ini gara-gara suntuk di kerjaan, tanpa berpikir dua kali aku langsung mengiyakan ajakan itu dengan antusias. Berhubung waktu yang terbatas, maka kami pun memutuskan untuk menghabiskan waktu seharian di kota terdekat, apalagi kalau bukan Purwokerto, kota tempatku bermukim empat tahun lamanya sekian tahun lalu. Setelah mundur satu minggu dari rencana semula, akhirnya jadilah aku dan sobat kecilku bertolak ke Purwokerto. Bukan hanya sekedar memuaskan keinginan untuk berkaraoke ria, melemaskan kaki dan tak ketinggalan berburu makanan favorit, kepergian kali ini lebih bersemangat berkat rencana dadakan dari Kyon-chan yang rupanya juga antusias untuk melepas penat di kota yang sama.
Pagi-pagi, aku sudah mempersiapkan diri dengan semangat. Tak lama kemudian, sobatku pun datang dan kami pun dengan sedikit tak sabar menunggu datangnya bus umum jurusan Purwokerto. Menit demi menit berlalu hingga setengah jam lamanya bus yang dinanti tak kunjung datang. Weitsss ada apa ini ? Semakin tak sabar aku melongok ke arah timur, masih tak kelihatan juga bus yang biasanya. Ketika matahari mulai beranjak tinggi, akhirnya datang juga bus yang dinanti. Berhubung waktu sudah semakin siang, aku dan sobatku pun memutuskan untuk naik, meskipun harus berdesakan di kendaraan yang penuh sesak. Beruntung aku mendapat tempat di dekat pintu. Meskipun harus berdiri selama kurang lebih satu setengah jam, aku bebas dari pusing dan mual yang biasanya selalu menyerang jika harus berdesakan dan kepanasan di dalam bus. Alih-alih pusing kepala, aku dan sobat kecilku asyik cekikikan melihat tingkah olah penumpang yang unik-unik. Pegal-pegal akibat harus bertahan dalam posisi yang sama dalam waktu lama nyaris tak terasa akibat kelakuan aneh penumpang lain yang mengundang tawa. "Oh andaikan bisa update status ", komentar sobatku sambil bergelayut di tepi jendela.
Akhirnya sampai juga aku di Purwokerto. Sesuai rencana kami pun langsung bertolak ke tempat tujuan utama. Menikmati dinginnya ruangan sembari menunggu kedatangan Kyon-chan, aku dan sobatku pun larut dalam keasyikan bernyanyi, tak peduli dengan suara fals ataupun salah nada^^. Setelah satu dua lagu, akhirnya yang ditunggu pun datang. Jadilah suara bernada berganti menjadi teriakan dan tawa histeris. Hmmm lama juga aku tidak tertawa lepas seperti ini. Dua jam penuh aku asyik dalam canda ditambah bonus pijatan gratis dari si 'dia' untuk sekedar mengurangi pegl-pegal di bahu akibat bergelantungan di bus. Puas menghabiskan eneg untuk berteriak dalam lagu, aku tentu bersama yang lainnya memulai tujuan lain di kota ini. Ya, apalagi kalau bukan berburu makanan favorit kami dulu ^^. Didahului dengan makanan pembuka ala barat yang murah namun enak, kami pun melanjutkan mengisi perut denganmaka siang favorit ala mahasiswa. Yup, nasi padang jalan kampus, warung makan yang sudah ada sejak aku kuliah dulu menjadi menu wajibku kini tiap kali aku bertandang ke Purwokerto. Seolah belum penuh juga, aku melanjutkan rencana awalku dengan sobat kecilku. Setelah sebentar membakar lemak dengan berjalan kaki, aku pun dengan riang menyantap seporsi es krim nan lezat. Berlama-lama memanjakan lidah dengan setiap suapan es krim yang lembut. Tak terasa haripun cepat berlalu, tiba saatnya untuk pulang. Kendati belum puas berbagi cerita dengan Kyon, meskipun masih ada tempat yang sebenarnya ingin kujelajahi, masih banyak hidangan yang ingin kucicipi lagi dan keenggananku untuk berpisah lagi dengannya ^^, mau tak mau aku harus segera pulang. Di tengah hujan deras, aku dan sobat kecilku pun kembali berdesakan di dalam bus, menempuh perjalanan pulang ke rumah masing-masing.

Jumat, 01 Oktober 2010

Borobudur



Aku masih ingat sewaktu di bangku sekolah dasar dulu, tiap kali aku melakukan perjalanan menuju kota Semarang, ketika bis sampai di lokasi tertentu aku akan dibangunkan dari tidur lelapku akibat pusing kepala tiada henti loleh ibuku. Sembari menahan mual danpening, dengan antusias aku membuka mata lebar-lebar, menempelkan wajah di jendela bis yang buram, berusaha melihat dengan jelas apa yang tersaji di kejauhan. Dengan takjub aku mengamati tumpukan batu-batu tua yang menjulang, membentuk bangunan megah nan bersejarah dan sakral bagi umat budha yang diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia "Candi Borobudur". Pemandangan puncak Borobudur yang dulu terlihat sekilas, tak lebih dari satu dua menit saja demikian membekas dalam ingatan. Keinginan untuk mengunjungi candi terbesar yang terletak di wilayah kabuaten Magelang tersebut terus tersimpan, menunggu saat yang tepat untuk mewujudkannya.
Dan akhirnya, keinginan untuk menapaki lorong demi lorong di setiap tingkat Borobudur pun tercapai juga. Masih dalam suasana hari raya, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan meskipun sedikit ogah-ogahan aku memenuhi kewajibanku untuk kembali bekerja. Hujan yang mengguyur sedari pagi semakin membuatku enggan untuk bertolak ke wilayah kabupaten sebelah. Namun keenggananku sedikit berkurang bahkan menjadi antusias dengan kehadiran seorang sahabat yang kini telah berubah 'status', siap menemaniku selama beberapa hari ke depan ^^. Perjalanan pun terasa menyenangkan, pemandangan yang yang sudah berulang kali kulihat terasa berbeda, udara dingin sehabis hujan terasa sejuk membuatku tak merasakan kepenatan yang sama seperti biasanya. Benar saja, ketika tiba di lokasi kerja dugaanku di awal libur pun terjadi. Meskipun sudah diumumkan dengan jelas, pada kenyataannya tak seorang pun yang hadir kembali untuk bekerja. Rupanya mereka masih sibuk dengan segla urusan di hari raya ! Bosan dengan kondisi yang tak ada kesibukan, aku pun membuat rencana mendadak untuk memenuhi keinginanku sejak lama, yang tak lain adalah mengunjungi candi Borobudur.
Sedikit cemas dengan cuaca yang telah memasuki musim penghujan, aku tentu saja berdua dengan teman setiaku memutuskan untuk berkendara menuju lokasi pariwisata yang terkenal itu. Jarak yang cukup dekat dari tempat kerja menjadi salah satu alasan penguat keputusanku untuk menghabiskan waktu sebelum mulai beraktivitas penuh. Tengah hari, sampailah aku di area candi Borobudur. Berhubung baru pertama kali, ritual rutinku pun terjadi lagi ^^. Berbekal petunjuk arah dan sedikit rasa sok tahu, aku pun akhirnya mengambil jalan memutar untuk menuju candi. Tawa renyah yang sempat terlepas sontak menjadi senyum masam ketika aku membeli tiket masuk candi. "Tak masuk di akal alias keterlaluan !", demikian pikirku. Bagaimana tidak terkejut jika aku harus mengeluarkan lembaran biru dan merah untuk membeli dua tiket masuk candi ! Gumam dan gerutu terutama dari mulutku terus mengikuti perjalanan kami sepanjang kurang lebih satu kilometer menuju candi. Yah, memang Brbudur adalah warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan, aku pun tak sayang untuk ikut menyumbang biaya perawatan melalui tiket masuk, tapi tidak setuju dengan nominal yang demikian tinggi ! Bagaimana bisa menarik keinginan wisatawan lokal untuk ikut mengagumi dan menumbuhkan rasa memiliki jika untuk melihatnya saja mesti merogoh kocek lumayan besar ! Tak heran jika sekali berkunjung menjadi yang terakhir kalinya, jika kondisi seperti itu tetap dipertahankan.
Niat refreshing sembari mengagumi kemegahan peninggalan wangsa Syailendra itu pun menjadi terganggu. Terlebih dengan banyaknya pengunjung di hari itu, semakin membuatku tak jenak menikmati keindahan candi. Pelataran candi yang luas membuatku terengah-engah sebelum mulai menapakan kaki di tangga batu pertama candi. Untunglah cuaca yang mendung membuat udara cukup dingin, demikian segar ketika aku menarik nafas dalam, mengisi paru-paru dengan udara baru untuk membentuk energi. Segala kejengkelan pun sedikit terobati ketika aku mulai masuk ke area candi. Berbeda dengan pengunjung lain yang langsung menuju tingkat paling atas candi dimana deretan stupa berjajar rapi mengelilingi stupa utama, aku memutuskan untuk berjalan memutar, mengelilingi candi pada setiap lantainya. Dengan segera aku terpesona dengan relief yang terpahat di dinding batu candi. Meskipun tak mengerti sedikitpun kisah yang tertuang dalam relief, dengan seksama kuperhatikan ukiran berbentuk tokoh-tokoh yang ada dalam kisah kuno. Kutempelkan telapak tanganku, merasakan dinginnya batu tua itu. Dan tak ketinggalan mencari tempat yang lengang namun indah untuk mengabadikan keberadaanku di sana. Ya, Borobudur memang ajaib, tak bisa kubayangkan bagaimana sulitnya untuk membuat dan mendirikan candi yang demikian besar disertai dengan ornamen yang rumit. Sayang, tangan-tangan jail merusak kesakralan candi Budha itu. Tak terhitung kepala-kepala patung yang hilang, membuat figur candi rusak dengan banyaknya patung tanpa kepala. Kapankah kesadaran untuk ikut menjaga warisan budaya akan terpatri di benak setiap orang ? Tak bisakah setia orang menahan keinginan mereka untuk berbuat hal yang bisa merusak peninggalan sejarah ? Mampukah kita untuk ikut berpartisipasi meskipun sedikit dalam melestarikan benda bersejarah ?
Puas berjalan-jalan hingga sampai di puncak Borobudur, aku pun beristirahat sejenak menghempaskan diri di bangku buatan di pelataran candi. Sembari menikmati satu-satunya bekal yang kubawa, aku pun asyik mengamati sekeliling. Tersenyum melihat tingkah 'narsis' pengunjung dengan gayanya yang aneh namun memikat dan mengundang ceria. Dan terpaku pada sosok tinggi besar berkulit putih dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya ^^. Tak lama kemudian, awan gelap semakin menyebar, membuatku harus beranjak, bersiap untuk menempuh perjalanan pulang. Meskipun lelah, meskipun dongkol pada akhirnya aku sampai juga di Borobudur.


Minggu, 26 September 2010

Sekilas Cerita di Hari Raya

Masa untuk bersantai akhirnya berakhir sudah, mau tak mau aku harus kembali bergelut dengan rutinitas yang semakin lama bukannya semakin kunikmati namun semakin terasa menyesakkan. Lima hari yang disediakan untuk 'mengecas' kembali baterai energi yang melemah, rasanya jauh dari cukup untuk memulihkan otak yang demikian penuh dengan berbagai pikiran baik pekerjaan maupun pribadi. Namanya juga libur hari raya, jatah hari libur bukannya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan, namun diisi dengan berbagai aktivitas tahunan yang umum dilakukan setiap hari raya tiba. Membersihkan dan menata kembali rumah, membuat aneka kudapan khas hari raya hingga menyiapkan bingkisan untuk tetangga, teman dan saudara menjadi agenda sehari-hari. Acara makan malam bersama sobat karib dan kegiatan berburu baju baru serta berbelanja pun menjadi selingan menarik di tengah letih badan akibat kerja keras dengan target sebelum hari raya tiba.
Sedikit muram dengan situasi, aku pun memutuskan untuk ikut mengunjungi sanak family di luar kota. Seperti yang sudah-sudah, bepergian di saat liburan sungguh amat melelahkan. Waktu terbuang di jalanan yang padat merayap. Pening akibat kepanasan dan bau menyengat di dalam kendaraan pun tak terhindarkan. Untunglah pemandangan yang terpampang di jendela cukup membuatku urung untuk terlelap. Berkat keinginan untuk menjelajah daerah baru sekaligus mencari jalan yang sepi meskipun sedikit memutar, aku pun mendapat pengalaman baru sekedar melewati daerah yang belum pernah kudatangi. Akhirnya setelah menempuh waktu yang semestinya bisa dipangkas separo jika dalam situasi normal, aku pun tiba di tempat tujuan. Lelah pun terobati ketika bersua dengan mereka yang kukasihi. Semangat untuk menjelajahi kota di waktu malam pun berkobar. Sayang, hujan lebat menghambat keinginan untuk sekedar melemaskan kaki sembari melihat-lihat deretan kios-kios menarik nan menggugah selera. Meskipun demikian malam kuhabiskan dengan riang, memuaskan keinginan untuk berwisata kuliner setelah lama tidak memanjakan lidah.
Larut malam pun menjelang, namun meskipun lelah aku tak kunjung bisa untuk beristirahat dengan tenang. Ingatan akan esok hari selalu terbayang meskipun aku memejamkan mata rapat-rapat. Setelah satu bulan lebih hanya bertemu lewat kata, akhirnya aku akan bertemu dengannya. Ah ada apa gerangan ? Bukankah sudah sedemikian sering aku menghabiskan waktu bersamanya ? Hmmm yah pikiranku terbagi antara keinginan dengan keengganan akibat rasa jengah dan was-was untuk bertemu 'pertama kalinya' setelah satu yang tersembunyi akhirnya tersingkap juga. Meskipun satu bulan terakhir aku semakin dekat dengannya, semua itu hanyalah sebatas suara dan kata-kata dalam tulisan. Tak pernah terpikir akan seperti apakah sikapku ketika harus bertemu muka.
Sengaja untuk datang terlambat aku dengan sedikit gugup berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Gerah pun seketika meyerang, bukan hanya karena gelisah yang tak kunjung reda namun juga karena harus berdesakan dengan orang-orang yang rupanya juga punya tujuanyang sama denganku. Tak sabar aku menanti laju kendaraan yang demikian lambat, berulang kali harus mengusap peluh yang mengucur meskipun pendingin udara bekerja penuh. Aku pun menarik nafas lega ketika udara dingin menerpa, aroma khas deretan rak yang dipenuhi buku-buku berbagai genre memenuhi indera penciumanku. Kegelisahanku pun sedikit berkurang karena itu, tak butuh waktu lama aku pun menyibukkan diri dengan menekuri halaman demi halaman buku cerita bergambar yang memang ingin kubaca.Setelah menghabiskan satu buku, akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Bingung dengan apa yang harus kuucapkan ketika bertemu muka, aku pun hanya melontarkan seulas senyum alih-alih mengucapkan kalimat wajib di hari raya dan kembali menundukkan kepala berpura-pura tertarik dengan bacaan di tangan ^^. Selang waktu beberapa lama, akhirnya aku berhasil menggugah keberanianku dan berusaha untuk mengobrol seperti biasa.
Rupanya tidaklah sulit untuk mencairkan kebekuan. Entah karena aku yang mencoba untuk berlaku seperti biasa atau karena banyaknya kesamaan kegemaran yang menjadikan aku dan dia tak kehabisan bahan pembicaraan. Satu hari itu pun seolah berlalu dengan cepatnya. Satu hari yang penuh kegembiraan. Hiruk pikuk di tempat-tempat yang aku dan dia kunjungi meskipun membuatku jenuh dan pening di kepala tak mengurangi keinginanku untuk memperpanjang waktuku dengannya. Sulit rasanya untuk mengakhiri kebersamaanku dengannya, begitu berat aku melepasnya turun, meninggalkanku sendirian selama lebih dari separo perjalanan nan melelahkan. Meskipun aku tahu dalam waktu dekat aku akan selalu ditemani olehnya, susah sekali untuk menahan kedua tanganku untuk tidak terus memegangya. Namun demikian, pada akhirnya aku tak membiarkan keegoisanku menang. Senyum ceria pun tersirat dalam pandanganku untuknya. Dan tak lama kemudian aku pun larut dalam alunan melodi nan menenangkan hati, menemaniku melawan emosi ketika harus terjebak dalam kondisi memprihatinkan yang selalu terjadi di jalanan setiap libur hari raya datang.

Kamis, 19 Agustus 2010

Agustusan


"Ayo nonton upacara, Pigo tampil lho", ajak teman karibku sejak sekolah dasar dulu. Yah, meskipun kami sudah lebih dari sepuluh tahun meninggalkan sekolah, kecintaan akan almamater masih tetap ada. Jadilah kami setia mengikuti perkembangan sekoah kami dan sebisa mungkin tak ketinggalan menonton penampilan junior-junior kami. Dan hari itu, ketika kami lepas sejenak dari rutinitas, meskipun matahari demikian terik tak menyurutkan antusiasmeku dan teman-temanku menonton penampilan grup marching band sekolah kami dulu.
Ada yang berbeda dengan upacara kemerdekaan RI kali ini. Dikarenakan bertepatan dengan kegiatan puasa Ramadhan, upacara yang biasanya meriah dengan warna-warni seragam drumband dari sekian banyak sekolah, kali ini sekolah yang membawa armada drumband hanya tiga saja dan salah satunya adaah almamaterku. Lahan di sekeliling lapangan tempat upacara yang biasanya ramai dengan pedagang kaki lima kini berganti dengan deretan kendaraan roda dua baik bermotor ataupun tidak. Rupanya untuk mencegah kelelahan, pasukan peserta upacara yang biasanya datang ke lokasi dengan berbaris, kali ini mereka menggunakan kendaraan. Begitu upacara selesai, peserta pun bubar dengan cepat meninggalkan lapangan yang panas menyengat.
Tahun ini Indonesia memperingati 65 tahun kemerdekaannya. Jika dilihat ke belakang, adakah kemajuan yang telah dicapai dalam setahun ini ? Meskipun beberapa bulan belakangan ini aku sudah jarang mengikuti berita seputar tanah air, peristiwa dan kasus-kasus besar dan hangat masih santer kudengar lewat media online dan tulis. Peristiwa meledaknya tabung gas, penangkapan teroris, bencana alam, wacana redenominasi rupiah, terkuaknya skandal artis, kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi mewarnai pemberitaan media massa. Wah sepertinya kok nyaris tak ada berita baik di Indonesiaku ya ? Fenomena tersebut semakin memperbesar tanda tanya dibelakang kata sudahkan bangsa ini merdeka ? Berbicara seputar merdeka atau belum, baru-baru ini aku membaca sebuah tulisan menarik di sebuah harian. Seorang bapak mengungkapkan suara hatinya di kolom surat pembaca yang garis besarnya menggarisbawahi lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pada saat refrain tertulis "di sanalah aku berdiri,jadi pandu ibuku". Bapak tersebut merasa janggal dengan kata 'disanalah' tersebut. Jika waktu lagu ini dikumandangkan pertama kalinya, kata tersebut masih wajar karena saat itu Indonesia belum merdeka, sehingga menggunakan 'disanalah' yang bermakna betapa kuatnya keinginan untuk merdeka. Namun saat ini ketika Indonesia telah merdeka, dimanakah kita berada jika mengucapkan kata 'disanalah" ? Bukankah lebih tepat jika 'di sinilah" ? Tanpa bermaksud untuk menjawab pertanyaan nan menggelitik ini, aku sedikit berpikir secara sederhana. Indonesia memang sudah merdeka secara harafiah yaitu bebas dari penjajahan. Namun jika menelusur lebih luas makna merdeka, Indonesia masih jauh dari kata ini. Yah merdeka menurutku kini bukan lagi berbicara tentang pendudukan atas bangsa lain namun lebih kepada kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Lihatlah negara kita saat ini,sudahkah rakyat sejahtera ? Jika menyimak berita seputar kemiskinan, tentu belum menjadi jawaban yang tepat. Rakyat kecil semakin kesulitan untuk hidup, sementara banyak pula yang hidup berkelimpahan. Sebuah kesenjangan yang mencolok, tak heran jika angka kriminalitas semakin meningkat. Rasa aman masih jauh didapat dengan semakin merosotnya nilai moral masyarakat. Mereka tak lagi malu untuk berbuat curang, makar maupun asusila. Tak heran aktor sekaliber Pong Harjatmo nekat memanjat gedung kura-kura demi mencoretkan tiga kata Jujur, Adil dan Tegas. Ah, kapankah Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dalam arti rakyatnya makmur dan sejahtera ? Di bawah kepemimpinan yang jujur,adil dan tegas, diwakili oleh mereka yang benar-benar menjadi suara rakyat tak hanya omong kosong di awal namun menuntut di luar kewajaran ? Semoga kata 'merdeka' segera terlaksana sehingga rasa getir ketika menyanyikan 'di sanalah' tergantikan oleh kewajiban menjunjung keotentikan semata.

Selasa, 10 Agustus 2010

2nd Trip: Dieng


Seolah memanfaatkan waktu sebelum datangnya bulan Ramadhan, mencuri waktu di sela-sela kewajiban yang memusingkan nan menjemukan, akhir pekan lalu aku dan dua orang sahabat melakukan perjalanan ke utara, mengunjungi sahabat yang telah membangun keluarga. Udara dingin menyambut ketika sampai di daerah perbukitan wilayah kabupaten Wonosobo. Meskipun lelah di perjalanan yang tak lepas dari halangan kecil namun mengulur waktu, kegembiraan membuncah ketika bersua dengan 'kakak' yang tengah menggendong putra pertamanya. Akhirnya kesampaian juga untuk melihat langsung 'keponakan' kami yang sekarang sudah besar dan sehat.
Selagi berada di Wonosobo, kami pun memanfaatkan waktu untuk mengunjungi dataran tinggi Dieng, tempat wisata utama di wilayah ini. Terhitung untuk ketiga kalinya aku mengunjungi dataran tinggi Dieng. Namun demikian kunjungan terakhir ini begitu berkesan sekaligus memuaskan. Tempat wisata yang dulu begitu sepi dan gersang, sulitnya transportasi untuk mengunjugi tiga lokasi yang berjauhan, cuaca yang tak mendukung membuatku dulu tak bisa menikmati indahnya panorama alami Dieng. Telaga warna menjadi tempat kunjungan pertama kami. Berbarengan dengan rombongan turisan dan lokal, aku turut menikmati suasana hutan yang basah dan dingin itu. Meskipun sedikit kecewa dengan istiah warna yang ternyata hanya memunculkan satu warna hijau, secara keseluruhan waktu yang kuhabiskan di sekitar telaga ini demikian menyenangkan. Enggan rasanya meninggalkan aroma pepohonan berlumut dengan udara dingin nan menyegarkan. Perjalanan pun berlanjut ke lokasi kawah, daerah yang gersang dan berbau menyengat ini cukup menarik untuk dikunjungi. Menyaksikan gelegak air mendidih dengan bau belerang yang menguar semakin menambah terik cahaya matahari yang menyengat meskipun udara terasa dingin. Kawah yang dulu sepi kini ramai oleh pengunjung dan pedagang oleh-oleh yang menjajakan berbagai macam makanan khas Dieng. Deretan candi yang masih satu jalur di kawasan kawah Dieng menjadi sasaran berikutnya. Meskipun kalah spektakuler baik dari segi arsitektur maupun sejarah jika dibandingkan dengan candi-candi lain di Jawa Tengah, kumpulan candi Arjuna tersebut ditata secara apik oleh pengelola setepat sehingga menarik untuk dijadikan obyek fotografi amatir. Pohon-pohon cemara berjajar rapi, mengelilingi pelataran candi yang lumayan luas. Bunga terompet ukuran maksi berwarna kuning cerah semakin menambah keindahan jalan setapak menuju candi, membuatku seolah-olah berada di negara empat musim. Belum habis keinginan untuk bersantai, waktu pula yang mengharuskanku untuk kembali menuruni jalan berputar yang menyajikan pemandangan spektakuler. Demikianlah, saatnya untuk kembali ke rutinitas, dengan semangat baru yang siap untuk dihadapkan dengan satu dua masalah (mungkin si ^^). Pastinya aku akan menantikan persinggahanku ke tempat berikutnya.


Rabu, 04 Agustus 2010

Damainya Hatiku


"Numpang lahir doang", demikian jawaban setengah nyeleneh dariku ketika orang bertanya mengenai sesuatu yang aku tak tahu seputar daerah tempat tinggalku. Tak bisa disangkal meskipun sedikit memalukan, aku yang notabene anak lokal nyatanya hanya sedikit sekali mengetahui tentang wilayah Gombong dan sekitarnya. Tak heran orang-orang di sekitarku selalu menertawaiku ketika dengan jujur aku mengatakan belum pernah sekalipun mampir ke wisata pantai Suwuk yang berjarak kurang lebih setengah jam berkendaraan menuju arah selatan Gombong. Hal yang bisa terbilang tak wajar mengingat pantai Suwuk saat ini menjadi satu obyek wisata paling diminati di wilayah Gombong. Bukan hanya panorama khas pantai selatan, namun berbagai even besar seperti festival layang-layang dan juga lokasi strategis untuk mereka yang hobi memancing menjadikan pantai Suwuk semakin ramai dikunjungi tidak hanya di hari libur namun juga hari-hari biasa.
Akhirnya setelah berkali-kali gagal kesempatan untuk mengunjungi pantai Suwuk datang. Untuk pertama kalinya aku mendatangi pantai di balik obyek wisata Karang Bolong tersebut. Memanfaatkan waktu kosong di akhir minggu, aku dengan semangat meninggalkan rutinitas kerja lebih awal. Bersamaan dengan tergelincirnya matahari, aku dan sahabat kentalku menghabiskan satu jam menjelang malam di tepi pantai Suwuk. Meskipun fenomena 'sunset' tak bisa disaksikan di sini, kami dihadiahi pemandangan cukup spektakuler. Cahaya kuning berpendar di antara gundukan bukit hijau di sebelah barat muara pantai, tiupan angin kencang tak mengurangi asyiknya menikmati udara segar berbau asin khas lautan. Menghempaskan diri di atas bebatuan pemecah ombak yang tertata rapi, mendengarkan alunan musik instrumental nan menenangkan membuatku semakin hanyut akan indahnya suasana damai di tepi pantai. Tak puas-puasnya mata ini menikmati deburan ombak bergulung susul menyusul hingga terpecah di batas pantai dan kembali lagi ke tengah lautan. Jenuh dan ketidaknyamanan dalam suasana kerja sedikit berkurang, berkat celoteh ringan selama kurang lebih satu jam berpadu dengan keheningan penuh kedamaian ditemani denting piano yang memang salah satu jenis musik favoritku.
Ah begitu enggan aku beranjak dari sini. Namun waktu mengharuskan aku untuk pulang, meninggalkan pantai yang mulai gelap dan sunyi. Demikianlah  untuk menyegarkan diri tak perlu lah untuk jauh-jauh. Meskipun tak seberapa luas dan belum bisa dikatakan sebuah kota, tempat tinggalku ternyata menyimpan potensi wisata alam yang cukup menjanjikan. Pemandangan air di selatan dan utara Gombong mulai kini menjadi tempat idealku untuk memulihkan diri, memompa semangat untuk bisa kembali terjun ke dunia yang hingga kini belum bisa kulalui dengan nyaman. Thank's a lot for  my friend, keberadaanmu  semakin menyempurnakan kala yang tepat untuk memulihkan damai di hatiku.