Selasa, 17 Mei 2011

Watashi wa sensei desu^^

Entah sudah berapa bulan aku tidak mengunjungi laman pribadiku ini. Tak seperti dulu, berbagai peristiwa menarik dan kontroversial tak mendorongku untuk bergegas menuju tempat langganan untuk sekedar urun pendapat maupun berkomentar tak jelas. Heboh artis dadakan Briptu Norman yang dengan fasih berjoget india, arogansi anggota dewan yang tetap kukuh membangun gedung baru dengan desain yang sama sekali tak mencerminkan karakter budaya Indonesia, bahkan gempa dan tsunami yang melanda salah satu negara favoritku tak juga membuatku tergerak meluangkan waktu untuk mengolah kata di dunia maya. Masalah demi masalah seputar pekerjaan maupun pribadi menghambat moodku untuk menulis, bahkan membaca pun urung kulakukan beberapa bulan terakhir ini.
Akhirnya datang juga kesempatan atau lebih tepatnya keinginan untuk menyambangi warnet. Meskipun sebenarnya ada alasan lain mengapa aku mau bangkit dari tidur lelapku dan menempuh jarak lumayan jauh untuk sampai di tempat ini ^^. April menjadi bulan yang mengubah jalan hidupku. Memang berita gembira sudah kuterima sejak awal januari lalu, namun perasaan lega baru datang ketika pada akhirnya aku menerima selembar kertas tipis namun berharga. Berkat semuanya setelah sekian tahun berjuang datang juga giliranku untuk menjadi salah satu dari mereka. Aku sendiri juga heran, ketika harapan nyaris terlepas tak disangka-sangka keberuntungan menyertaiku. Bagaimanapun rasa syukur tak habis-habisnya kupanjatkan, inilah awal untuk harapan dan keinginan yang belum sempat terwujud.
Sungguh tak mudah bagiku untuk berganti haluan. Deretan angka dan hiruk pikuk pekerja masih membayangiku tiap hari meskipun aku telah berganti kostum dan berlaku layaknya style ku dua tahun lalu. Perubahan situasi cukup membuatku tertegun. Lingkungan yang dulu pernah kulakoni, dan setelah lama vakum kini aku terjun kembali ke dunia itu. Akan tetapi, walalupun dulu aku telah lumayan lama berkecimpung di dunia anak-anak sekolah, rumah baruku saat ini membuatku bertanya-tanya, "mampukah aku untuk menjalani semua ini ?" Dikarenakan tingkat satuan pendidikan yang jauh berbeda dengan dulu, membuatku bingung bagaimana aku harus memulai dan mengasah profesionalismeku di bidang ini. Belum lagi sekarang aku terlempar ke sebuah institusi yang dipimpin oleh sosok nan arogan dan ambisius, berada di tengah kerumunan remaja yang sedang berada di taraf mencari jati diri sekaligus berjiwa pemberontak sehingga membuatku ragu akan kemampuanku menangani mereka. Untunglah rekan-rekan yang lain begitu terbuka menyambut kedatangan ku (kami) untuk bergabung dengan keluarga besar mereka. Dengan ramah membesarkan hati ku (kami) yang sempat mengerut akibat tuntutan berat yang ditimpakan kepada ku (kami) di awal perjumpaan.
Perangkat pembelajaran, menjadi wirausahawan, mengabdi penuh untuk sekolah, meningkatkan profesionalisme, berbaur dengan rekan sejawat, mengasah kompetensi di bidang lain, membenahi mental dan pengetahuan anak, itu semua sekian dari banyak tugas-tugas yang menantiku untuk segera dilaksanakan. Sungguh suatu tantangan berat yang membutuhkan energi dan kesiapan mental lebih agar tidak menyerah di tengah jalan. Gambaran betapa berat jalan untuk menuju perbaikan standar mutu kehidupan memang masih panjang dan tak diragukan lagi akan sangat berat dan berliku. Namun, untuk saat ini dengan gembira aku akan berkata, " Watashi wa sensei desu "

Rabu, 08 Desember 2010

Topeng Kaca


Hidup memang tak selamanya sesuai dengan apa yang diharapkan. Adakalanya seseorang mendambakan perubahan situasi dalam hidupnya. Mengejar impian betapapun orang lain menganggap itu mustahil dilakukan, menjadi hak setiap orang tak peduli seperti apa latar belakang orang itu. Demikianlah pesan yang bisa kutangkap dari bacaan favoritku belakangan ini. Beberapa bulan terakhir ini, aku merasakan jenuh untuk membaca suatu hal yang kukira tak kan terjadi padaku yang dijuluki kutu buku ini ^^. Terpengaruh oleh stress akibat pekerjaan dan masalah-masalah pribadi yang memusingkan, menyebabkan tumpukan buku-buku baru yang belum kubaca semakin meninggi. Dan pada akhirnya aku mulai melirik kembali bacaan bergambar kesukaanku yang sempat terbengkalai begitu saja. Memang buku cerita bergenre 'manga' ini bukanlah cerita baru melainkan edisi cetak ulang manga berjudul sama yang mulai kubaca kira-kira lima belas tahun yang lalu. Ketika mengetahui manga ini diterbitkan kembali, aku yang dulu sangat menyukai buku ini dan hingga kini pun masih setia mengikuti kelanjutan ceritanya pun memutuskan menambah koleksiku dengan serial bertajuk Topeng Kaca ini. Manga karya mangaka Suzue Miuchi ini bercerita tentang perjuangan Maya Kitajima, seorang anak yang biasa saja, tidak cantik, tidak pintar, tak punya ayah dan hidup sehari-hari dengan pas-pasan untuk menjadi seorang aktris. Maya yang selalu dipandang remeh bahkan oleh ibu kandungnya itu memiliki minat yang demikian besar di dunia akting. Bakatnya dalam bidang seni peran tersebut terendus oleh mantan aktris Mayuko Chigusa, dan di bawah bimbingannya Maya mulai mengasah bakatnya, sedikit demi sedikit menapaki dunia panggung untuk sebuah tujuan akhir menjadi pewaris naskah drama legendaris Bidadari Merah. Layaknya tokoh protagonis, Maya harus berjuang untuk mencapai cita-citanya bukan hanya dengan saingan beratnya namun juga munculnya musuh-musuh alami yang selalu menghambat kehidupannya sebagai seorang aktris.
Sejak pertama membaca manga ini, aku sudah tertarik dengan ceritanya. Aku yang memang menyukai seni drama dan musik begitu hanyut dengan adegan-adegan berbagai drama yang ditampilkan sepanjang serial ini. Melalui Maya, aku seolah menjelma menjadi tokoh-tokoh menarik dalam naskah yang dalam kenyataan tak mungkin terjadi pada diriku. Miuchi-sensei begitu piawai meramu kontradiksi antara dua gadis yang berbeda penampilan maupun latar belakang dalam sebuah persaingan sehat di dunia akting. Emosi pembaca pun dibuat naik turun, hingga berpindah-pindah dukungan antara kedua tokoh utama yang mempunyai kelebihan masing-masing. Melalui tokoh Maya, aku disadarkan betapa perjuangan untuk meraih impian itu penting. Meskipun memiliki bakat dan modal yang cukup, tanpa kemampuan untuk berusaha semua akan sia-sia. Kekuatan sejati akan muncul ketika seseorang berkonsentrasi akan suatu hal, tak peduli darimana seseorang berasal, bagaimana penampilan orang itu, seperti apa pandangan orang lain.
Semakin lama aku menekuri serial ini, semakin besar pula animoku akan seni peran. Dengan berakting seseorang bisa menjelma menjadi orang lain. Maya yang tidak cantik bisa berubah menjadi Putri Musim Semi yang menawan, Maya yang pemalu menjelma menjadi Midori yang periang, Maya yang kikuk mampu menjadi ratu yang agung, seolah memiliki seribu topeng yang bisa diganti-ganti setiap saat sesuai dengan peranan. Tak sabar rasanya aku menantikan seri berikutnya. Maklumlah serial ini terbilang memakan waktu cukup lama, bahkan lima belas tahun berlalu pun belum ada tanda-tanda serial ini akan usai. Mengingat kondisi mangaka yang konon menderita sakit sehingga serial ini terhambat, harapanku hanya semoga serial ini berakhir dengan wajar tanpa ada kesan dipaksakan untuk segera berakhir.

Minggu, 28 November 2010

Satu yang Kuminta

Rasanya belakangan ini lelah terus menerus menggerogoti fisik dan pikiranku baik itu karena masalah lingkup kerja terlebih jenuh datang dari persoalan pribadi yang mengganggu. Alhasil, energi untuk bersemangat pun tersedot setiap saat, melemahkan emosi hingga meruntuhkan kekuatan staminaku yang boleh dibilang selama ini tak ada masalah. Hmmm....mungkin sebagian dari semua ini terjadi karena kesalahanku. Maklumlah lahir dengan mengemban sifat emosional yang meledak-ledak acapkali merugikan diri sendiri. Bagaimanapun juga setelah mendapat masukan dari sana-sini, menimbang dan memilah mana yang bisa untuk dilakukan aku pun mencoba untuk sedikit 'cooling down', mengendurkan pita kemarahan yang terus meregang karena persoalan yang mungkin bagi orang lain sangat sepele namun bagiku begitu krusial. Sedikit demi sedikit aku mulai belajar menahan emosi yang jika kucermati demikian merugikan diriku sendiri. Meskipun masih terasa dongkol jika mengingat maksud hati ini ternyata diartikan berbeda dan cenderung menyudutkanku, aku belajar untuk menerima dengan biasa saja. Beruntung disana-sini aku mempunyai sahabat-sahabat yang mengerti akan kecemasan, kekhawatiran, dan keinginanku yang sesungguhnya. Sahabat yang tak hanya melihatku dari luar namun benar-benar mengerti akan isi kepalaku, benar-benar peduli akan diriku hingga dukungan pun terus mengalir untukku. Walaupun tak sedikit kata-kata yang justru semakin menambah pelik nan memusingkan, namun semua itu tak lebih dari pandangan mereka yang tak mau aku terus bergelut dalam keputusasaan. Demikianlah kali ini aku mencoba untuk kembali menjadi diriku yang dulu. Seseorang yang selalu tersenyum meskipun pedih di dalam, seseorang yang tak mau diricuhkan dengan persoalan personal, seseorang yang mampu berdiri sendiri dengan tegar. Namun, jika boleh aku meminta, betapa aku berharap untuk lebih dimengerti, berharap bantuan untuk memulihkan diri datang tanpa diembel-embeli dengan cap tertentu yang belum tentu benar adanya. Betapa aku mendambakan kesadaran dan pengertian untuk menjaga diriku agar dengan segera kembali menjadi aku yang dulu.

Selasa, 02 November 2010

Kembali

Seketika mataku menangkap sebuah nama di antara sederet nama-nama tak dikenal. Nama berinisial huruf favoritku itu tidaklah asing di benakku, meski tak satupun dari sekian banyak nama dalam ingatan sama persis dengan nama itu. Penasaran, antusias diiringi dengan degup jantung yang semakin cepat, aku mencoba menelusuri nama tersebut. Dan benarlah sebuah gambar menunjukkan bahwa kecurigaan atau lebih tepatnya dugaan setengah mengharapku terbukti kebenarannya. Akhirnya setelah bertahun-tahun aku mencari, sekian lama selalu merindukannya demikian berharap untuk sekedar mengetahui keberadaannya terjawab sudah. Bahagia, lega sekaligus sedih seketika membuatku terpaku pada pada sosok dalam gambar yang telah jauh berubah dari ingatan terakhirku tentang dia. Raut wajahnya tak lagi sama seperti dulu, garis keras yang umumnya muncul akibat perjuangan hidup menggantikan roman muka yang dulu lembut. Pandangan menyejukkan dan senyum manis yang terpatri dalam ingatanku tak lagi ada, menyisakan sorot tajam dari kedua bola matanya yang semakin besar dan cekung. Kucermati lagi gambar itu, haru beccampur getir penyesalan menerpaku tatkala melihat sosok mungil di pangkuannya. Lega rasanya melihatnya baik-baik saja, bahagia dengan keluarga barunya, namun tak urung sebersit angan-angan sempat melintas di benakku. "Andai saja dulu... sekarang mungkin....andai saja.... si mungil itu adalah...." Ah dimanakah dia sekarang ? Penuh semangat aku mencari-cari lagi, dan rupanya tak begitu jauh ia bersembunyi selama ini. Betapa sering aku melewati tempat itu, tapi tak sedikitpun tanda-tanda dia yang kucari ternyata ada disana. Meskipun sekian lama waktu berlalu, dan tak sekalipun aku pernah menjumpainya alih-alih bertegur sapa dengannya. Debaran yang dulu masih saja ada, pesona yang tak pernah luntur walaupun telah jauh berbeda dan tak mungkin lagi terjangkau dengan kedua tangan ini. Tak dipungkiri iri hati pun timbul, tertuju pada seseorang yang kini menjadi teman hidupnya sehari-hari. Andai dia tahu, betapa dia telah lama menjadi penghuni mimpiku, menjadi belahan jiwaku kepada siapa kelak aku ingin menjadi bagian hidupnya. Hmmm...pada akhirnya jalan cerita dalam impian jauh berbeda dengan kenyataan. Dan kini setelah dia muncul kembali di hadapanku, aku tak tahu harus bagaimana menata hati ini. Meskipun mungkin tak lagi mengharapkannya, walaupun tak lagi seindah dulu,bahagia tak terkira hati ini ketika dia mengajaku kembali untuk berteman. Dan mulai saat itu, hariku kembali kuisi dengan sosoknya, ungkapan perasaannya meskipun hanya sepatah dua patah kata. Memang kini dia telah berubah, tak lagi lembut, manis dan menghanyutkan seperti dulu, tapi tetap saja aku bersorak " Akhirnya aku menemukannya !!!!"

Jumat, 15 Oktober 2010

Indah Pada Waktunya

Sebagai orang yang sejak kecil terperangkap dalam kumpulan cerita khayalan, tak pelak lagi aku pun tumbuh menjadi seorang yang pemimpi. Bukan berarti aku hidup dalam impian dan berusaha mengejarnya melainkan aku mempunyai bagian diriku yang tinggal dalam dunia yang kubentuk sedemikian rupa indahnya layaknya sebuah cerita , dan tentu saja dunia itu berada dalam pikiranku. Tiap kali aku merasa ingin menjauh dari kenyataan, aku akan masuk ke dunia impianku, dimana aku bisa bermanja-manja dengan segala sesuatu yang pastinya membuatku bahagia. Namun ada kalanya aku berharap impianku itu menjadi nyata, kalaupun tidak aku tak pernah melepas keinginan untuk sekedar merasakan sesuatu yang mendekati impianku. Beberapa lama waktu berlalu, meskipun usia semakin menuntut untuk berubah menjadi lebih bijak, impian masa kecil remaja hingga dewasa yang terus menerus bertambah selalu menunggu untuk terwujud. Dan ketika saat itu memungkinkan untuk datang, emosi mendalam pun berkecamuk, tak sabar untuk merasakan kebahagiaan seperti yang kudapatkan ketika mata ini terpejam dan aku berkelana ke dunia semuku. Dan ketika impianku tak terwujud sepenuhnya, gurat kesedihan tak bisa kuhindarkan. Kekecewaan yang lebih dikarenakan karena impian yang kandas memenuhi pikiranku dan semakin membuncah menyulut emosiku yang selalu meledak-ledak. Luapan amarah yang tak jarang menyakiti orang lain pun tak kuasa kutahan. Layaknya anak kecil yang merengek-rengek menginginkan sesuatu yang tak terpenuhi, aku pun memuntahkan segalanya mencoba mencari pembenaran diri tak peduli dengan dampak emosional yang melibas sekelilingku. Dan ketika semuanya usai, barulah aku menghela nafas dalam, mulai berpikir jernih, membuka mata mengamati sekeliling dan timbullah penyesalan yang dalam. Dan aku pun berusaha untuk memperbaiki keadaan. Karena ketika emosi telah terlepas, aku menyadari betapa konyolnya diriku. Sesungguhnya aku pun tahu, impian hanyalah sebuah angan-angan yang memang dibuat untuk selalu indah. Namun salahkah aku jika ingin mengecap sedikit saja impian itu untuk menjadi nyata ? Tak bolehkan aku berharap bisa mewujudkan impianku bersama-sama ? Meskipun aku tahu semua takkan bisa menjadi seperti yang aku minta. Tapi setidaknya aku ingin semua bisa diusahakan, meskipun perlahan dan sedikit mencoba-coba hingga memerlukan waktu cukup lama, walau tak menjamin hasil akhirnya, aku yakin pada akhirnya aku lebih bahagia dengan kenyataan yang ada.

Jumat, 08 Oktober 2010

Sehari Penuh Makanan


"Jalan-jalan yukk !", tak biasanya sahabat kecilku tiba-tiba menyapa di siang hari. Namanya juga aku yang hobi banget jalan-jalan terutama belakangan ini gara-gara suntuk di kerjaan, tanpa berpikir dua kali aku langsung mengiyakan ajakan itu dengan antusias. Berhubung waktu yang terbatas, maka kami pun memutuskan untuk menghabiskan waktu seharian di kota terdekat, apalagi kalau bukan Purwokerto, kota tempatku bermukim empat tahun lamanya sekian tahun lalu. Setelah mundur satu minggu dari rencana semula, akhirnya jadilah aku dan sobat kecilku bertolak ke Purwokerto. Bukan hanya sekedar memuaskan keinginan untuk berkaraoke ria, melemaskan kaki dan tak ketinggalan berburu makanan favorit, kepergian kali ini lebih bersemangat berkat rencana dadakan dari Kyon-chan yang rupanya juga antusias untuk melepas penat di kota yang sama.
Pagi-pagi, aku sudah mempersiapkan diri dengan semangat. Tak lama kemudian, sobatku pun datang dan kami pun dengan sedikit tak sabar menunggu datangnya bus umum jurusan Purwokerto. Menit demi menit berlalu hingga setengah jam lamanya bus yang dinanti tak kunjung datang. Weitsss ada apa ini ? Semakin tak sabar aku melongok ke arah timur, masih tak kelihatan juga bus yang biasanya. Ketika matahari mulai beranjak tinggi, akhirnya datang juga bus yang dinanti. Berhubung waktu sudah semakin siang, aku dan sobatku pun memutuskan untuk naik, meskipun harus berdesakan di kendaraan yang penuh sesak. Beruntung aku mendapat tempat di dekat pintu. Meskipun harus berdiri selama kurang lebih satu setengah jam, aku bebas dari pusing dan mual yang biasanya selalu menyerang jika harus berdesakan dan kepanasan di dalam bus. Alih-alih pusing kepala, aku dan sobat kecilku asyik cekikikan melihat tingkah olah penumpang yang unik-unik. Pegal-pegal akibat harus bertahan dalam posisi yang sama dalam waktu lama nyaris tak terasa akibat kelakuan aneh penumpang lain yang mengundang tawa. "Oh andaikan bisa update status ", komentar sobatku sambil bergelayut di tepi jendela.
Akhirnya sampai juga aku di Purwokerto. Sesuai rencana kami pun langsung bertolak ke tempat tujuan utama. Menikmati dinginnya ruangan sembari menunggu kedatangan Kyon-chan, aku dan sobatku pun larut dalam keasyikan bernyanyi, tak peduli dengan suara fals ataupun salah nada^^. Setelah satu dua lagu, akhirnya yang ditunggu pun datang. Jadilah suara bernada berganti menjadi teriakan dan tawa histeris. Hmmm lama juga aku tidak tertawa lepas seperti ini. Dua jam penuh aku asyik dalam canda ditambah bonus pijatan gratis dari si 'dia' untuk sekedar mengurangi pegl-pegal di bahu akibat bergelantungan di bus. Puas menghabiskan eneg untuk berteriak dalam lagu, aku tentu bersama yang lainnya memulai tujuan lain di kota ini. Ya, apalagi kalau bukan berburu makanan favorit kami dulu ^^. Didahului dengan makanan pembuka ala barat yang murah namun enak, kami pun melanjutkan mengisi perut denganmaka siang favorit ala mahasiswa. Yup, nasi padang jalan kampus, warung makan yang sudah ada sejak aku kuliah dulu menjadi menu wajibku kini tiap kali aku bertandang ke Purwokerto. Seolah belum penuh juga, aku melanjutkan rencana awalku dengan sobat kecilku. Setelah sebentar membakar lemak dengan berjalan kaki, aku pun dengan riang menyantap seporsi es krim nan lezat. Berlama-lama memanjakan lidah dengan setiap suapan es krim yang lembut. Tak terasa haripun cepat berlalu, tiba saatnya untuk pulang. Kendati belum puas berbagi cerita dengan Kyon, meskipun masih ada tempat yang sebenarnya ingin kujelajahi, masih banyak hidangan yang ingin kucicipi lagi dan keenggananku untuk berpisah lagi dengannya ^^, mau tak mau aku harus segera pulang. Di tengah hujan deras, aku dan sobat kecilku pun kembali berdesakan di dalam bus, menempuh perjalanan pulang ke rumah masing-masing.

Jumat, 01 Oktober 2010

Borobudur



Aku masih ingat sewaktu di bangku sekolah dasar dulu, tiap kali aku melakukan perjalanan menuju kota Semarang, ketika bis sampai di lokasi tertentu aku akan dibangunkan dari tidur lelapku akibat pusing kepala tiada henti loleh ibuku. Sembari menahan mual danpening, dengan antusias aku membuka mata lebar-lebar, menempelkan wajah di jendela bis yang buram, berusaha melihat dengan jelas apa yang tersaji di kejauhan. Dengan takjub aku mengamati tumpukan batu-batu tua yang menjulang, membentuk bangunan megah nan bersejarah dan sakral bagi umat budha yang diakui sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia "Candi Borobudur". Pemandangan puncak Borobudur yang dulu terlihat sekilas, tak lebih dari satu dua menit saja demikian membekas dalam ingatan. Keinginan untuk mengunjungi candi terbesar yang terletak di wilayah kabuaten Magelang tersebut terus tersimpan, menunggu saat yang tepat untuk mewujudkannya.
Dan akhirnya, keinginan untuk menapaki lorong demi lorong di setiap tingkat Borobudur pun tercapai juga. Masih dalam suasana hari raya, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan meskipun sedikit ogah-ogahan aku memenuhi kewajibanku untuk kembali bekerja. Hujan yang mengguyur sedari pagi semakin membuatku enggan untuk bertolak ke wilayah kabupaten sebelah. Namun keenggananku sedikit berkurang bahkan menjadi antusias dengan kehadiran seorang sahabat yang kini telah berubah 'status', siap menemaniku selama beberapa hari ke depan ^^. Perjalanan pun terasa menyenangkan, pemandangan yang yang sudah berulang kali kulihat terasa berbeda, udara dingin sehabis hujan terasa sejuk membuatku tak merasakan kepenatan yang sama seperti biasanya. Benar saja, ketika tiba di lokasi kerja dugaanku di awal libur pun terjadi. Meskipun sudah diumumkan dengan jelas, pada kenyataannya tak seorang pun yang hadir kembali untuk bekerja. Rupanya mereka masih sibuk dengan segla urusan di hari raya ! Bosan dengan kondisi yang tak ada kesibukan, aku pun membuat rencana mendadak untuk memenuhi keinginanku sejak lama, yang tak lain adalah mengunjungi candi Borobudur.
Sedikit cemas dengan cuaca yang telah memasuki musim penghujan, aku tentu saja berdua dengan teman setiaku memutuskan untuk berkendara menuju lokasi pariwisata yang terkenal itu. Jarak yang cukup dekat dari tempat kerja menjadi salah satu alasan penguat keputusanku untuk menghabiskan waktu sebelum mulai beraktivitas penuh. Tengah hari, sampailah aku di area candi Borobudur. Berhubung baru pertama kali, ritual rutinku pun terjadi lagi ^^. Berbekal petunjuk arah dan sedikit rasa sok tahu, aku pun akhirnya mengambil jalan memutar untuk menuju candi. Tawa renyah yang sempat terlepas sontak menjadi senyum masam ketika aku membeli tiket masuk candi. "Tak masuk di akal alias keterlaluan !", demikian pikirku. Bagaimana tidak terkejut jika aku harus mengeluarkan lembaran biru dan merah untuk membeli dua tiket masuk candi ! Gumam dan gerutu terutama dari mulutku terus mengikuti perjalanan kami sepanjang kurang lebih satu kilometer menuju candi. Yah, memang Brbudur adalah warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan, aku pun tak sayang untuk ikut menyumbang biaya perawatan melalui tiket masuk, tapi tidak setuju dengan nominal yang demikian tinggi ! Bagaimana bisa menarik keinginan wisatawan lokal untuk ikut mengagumi dan menumbuhkan rasa memiliki jika untuk melihatnya saja mesti merogoh kocek lumayan besar ! Tak heran jika sekali berkunjung menjadi yang terakhir kalinya, jika kondisi seperti itu tetap dipertahankan.
Niat refreshing sembari mengagumi kemegahan peninggalan wangsa Syailendra itu pun menjadi terganggu. Terlebih dengan banyaknya pengunjung di hari itu, semakin membuatku tak jenak menikmati keindahan candi. Pelataran candi yang luas membuatku terengah-engah sebelum mulai menapakan kaki di tangga batu pertama candi. Untunglah cuaca yang mendung membuat udara cukup dingin, demikian segar ketika aku menarik nafas dalam, mengisi paru-paru dengan udara baru untuk membentuk energi. Segala kejengkelan pun sedikit terobati ketika aku mulai masuk ke area candi. Berbeda dengan pengunjung lain yang langsung menuju tingkat paling atas candi dimana deretan stupa berjajar rapi mengelilingi stupa utama, aku memutuskan untuk berjalan memutar, mengelilingi candi pada setiap lantainya. Dengan segera aku terpesona dengan relief yang terpahat di dinding batu candi. Meskipun tak mengerti sedikitpun kisah yang tertuang dalam relief, dengan seksama kuperhatikan ukiran berbentuk tokoh-tokoh yang ada dalam kisah kuno. Kutempelkan telapak tanganku, merasakan dinginnya batu tua itu. Dan tak ketinggalan mencari tempat yang lengang namun indah untuk mengabadikan keberadaanku di sana. Ya, Borobudur memang ajaib, tak bisa kubayangkan bagaimana sulitnya untuk membuat dan mendirikan candi yang demikian besar disertai dengan ornamen yang rumit. Sayang, tangan-tangan jail merusak kesakralan candi Budha itu. Tak terhitung kepala-kepala patung yang hilang, membuat figur candi rusak dengan banyaknya patung tanpa kepala. Kapankah kesadaran untuk ikut menjaga warisan budaya akan terpatri di benak setiap orang ? Tak bisakah setia orang menahan keinginan mereka untuk berbuat hal yang bisa merusak peninggalan sejarah ? Mampukah kita untuk ikut berpartisipasi meskipun sedikit dalam melestarikan benda bersejarah ?
Puas berjalan-jalan hingga sampai di puncak Borobudur, aku pun beristirahat sejenak menghempaskan diri di bangku buatan di pelataran candi. Sembari menikmati satu-satunya bekal yang kubawa, aku pun asyik mengamati sekeliling. Tersenyum melihat tingkah 'narsis' pengunjung dengan gayanya yang aneh namun memikat dan mengundang ceria. Dan terpaku pada sosok tinggi besar berkulit putih dengan kacamata bertengger di hidung mancungnya ^^. Tak lama kemudian, awan gelap semakin menyebar, membuatku harus beranjak, bersiap untuk menempuh perjalanan pulang. Meskipun lelah, meskipun dongkol pada akhirnya aku sampai juga di Borobudur.