"Jangan lagi menyuruhku untuk sabar !", tulisku saat itu. Sekilas,memang itu kalimat yang kasar bahkan terkesan saya bukan seorang muslim yang baik. Saya tidak akan menjelaskan dalil-dalil atau apa pun tentang sabar dari segi religi,karena saya sadar ilmu saya masih 'cethek'. Saya sekedar mengungkapkan istilah sabar dari sudut pandang saya.
Mengapa saya melontarkan kalimat itu? Selama ini terus terang saya jenuh ketika orang lain berkomentar sabar untuk setiap status saya (bbm) yang menggambarkan betapa jengkelnya saya menghadapi kelakuan siswa,suami dan anak. Bukan tanpa alasan, saya berteriak lewat tulisan dan memandang sinis mereka yang serta merta berkomentar sabar tanpa tahu duduk permasalahannya. Untuk saya, sabar adalah pegangan ketika saya telah bekerja keras,berusaha semampu saya namun takdir tak seperti harapan saya. Sabar adalah kunci keberanian saya dalam menghadapi masalah, ujian dan tantangan. Sabar adalah kalimat sakti ketika saya merasa rendah diri melihat keberhasilan orang lain. Untuk saya, sabar tidak berlaku ketika mengajarkan disiplin dan perilaku terpuji. Peringatan pertama tak didengar,peringatan kedua tak diindahkan,peringatan ketiga ditertawakan...apakah saya harus bersabar dengan kondisi itu? Ada kalanya marah untuk menanamkan kebaikan itu perlu. Kalau sejak dini tidak ditanamkan kebiasaan baik mau jadi apa generasi penerus bangsa ini? Percuma saja segala kecerdasan otak kalau tidak dibarengi perilaku yang santun dengan hati yang bersih. Sekali lagi, itu hanyalah sabar dari kacamata saya.
Tempatku berbagi cerita dan peristiwa dari kacamataku yang mungkin sederhana, subyektif, tak berbobot bahkan skeptis. Namun inilah yang selalu membantuku untuk berbicara saat bibir tak diberi kesempatan untuk berucap.
Rabu, 25 Mei 2016
Minggu, 22 Mei 2016
Sekedar Pembelaan
Beberapa waktu lalu, saya menonton acara tentang wajib tidaknya negeri ini menebus kesalahan masa lalu. Saya tidak akan mengomentari hal itu, bukan hanya karena itu topik yang rentan, juga karena saking geregetannya saya mendengar argumen-argumen mereka yang menyebut diri "pembela" hak asasi. Daripada berpendapat yang bukan kapasitas saya, terlebih saya pun tidak mengalaminya hingga berpotensi menambah rancu duduk permasalahan lebih baik saya cukupkan sampai disini saja^^. Lanjut soal menonton, masih juga di channel yang satu itu, saya mendengar, melihat, membaca berita yang membuat saya geregetan lagi ! Untuk yang satu ini, tangan saya gatal untuk menerjemahkan pikiran yang berputar di kepala saya, apalagi ketika membaca komentar-komentar di lapak harian online seputar kasus tersebut. Tidak ada akibat jika tak ada sebab, itu poin pertama yang saya tangkap ketika mempelajari kasus pidana seorang guru yang dilaporkan walimurid karena mencubit muridnya.
Beberapa waktu lalu, saya menonton acara tentang wajib tidaknya negeri ini menebus kesalahan masa lalu. Saya tidak akan mengomentari hal itu, bukan hanya karena itu topik yang rentan, juga karena saking geregetannya saya mendengar argumen-argumen mereka yang menyebut diri "pembela" hak asasi. Daripada berpendapat yang bukan kapasitas saya, terlebih saya pun tidak mengalaminya hingga berpotensi menambah rancu duduk permasalahan lebih baik saya cukupkan sampai disini saja^^. Lanjut soal menonton, masih juga di channel yang satu itu, saya mendengar, melihat, membaca berita yang membuat saya geregetan lagi ! Untuk yang satu ini, tangan saya gatal untuk menerjemahkan pikiran yang berputar di kepala saya, apalagi ketika membaca komentar-komentar di lapak harian online seputar kasus tersebut. Tidak ada akibat jika tak ada sebab, itu poin pertama yang saya tangkap ketika mempelajari kasus pidana seorang guru yang dilaporkan walimurid karena mencubit muridnya.
Akhir-akhir ini banyak kasus serupa yang diekspos di berbagai media hingga memunculkan adu argumen para kometator di media sosial. Saya sebagai seorang guru, tentu sangat menyayangkan tindakan walimurid tersebut yang langsung mempidanakan perlakuan guru terhadap anak didiknya. Saya tidak membenarkan kekerasan fisik yang berdampak fatal terhadap tubuh anak didik. Pemukulan di luar batas kewajaran memang sudah seharusnya diusut dan ditindak. YAng saya sayangkan, ketika cubitan, jeweran, cukur goceng, push up, dan sanksi serupa menjadi senjata untuk menjebloskan seorang guru ke penjara. Gampang saja, bagi mereka di luar pendidik untuk berkata guru itu harus sabar dalam mendidik, berilah hukuan yang mendidik, kenakalan itu biasa, bla bla bla... tanpa pernah terjun langsung menghadapi anak didik (terlebih usia puber dengan segudang kompleksifitas). Disini saya hanya mengatakan, guru ibarat orang tua anak di sekolah, saya (kalau tidak bisa mengatakan kami) tak pernah demikian membenci seorang anak didik. Perhatian saya sebagai seorang guru, tidak hanya dalam bentuk kelembutan dalam mengajar, namun ketegasan dalam meluruskan perilaku anak didik yang menyimpang (melanggar aturan tertulis maupun tidak tertulis). Mungkin mereka yang mencemooh tindakan tegas guru, tidak mengetahui betapa kami (saya) merasa khawatir, cemas akan masa depan anak didik kami jika mereka dibiarkan berperilaku tak beretika. Kami (saya) berusaha menjaga anak didik berada di koridor menuju sukses, tak hanya dari sisi keilmuan melainkan dari segi karakter yang santun.
Sekolah hanya berperan di sepertiga bagian pendidikan seorang anak. Tidakkah mereka sadar, jika pendidikan yang utama adalah di rumah dan lingkungan sekitar mereka ? Betapa naifnya seseorang yang berkata, "sekolah seratus persen bertanggung jawab terhadap kesuksesan (pintar dan berkarakter), kalau tidak untuk apa sekolah ?" Tak sadarkah mereka, kami hanya menerima pribadi-pribadi yang terbentuk dari pola asuh di rumah ? Diakui atau tidak, kenyatannya (di sekolah saya) anak-anak yang bermasalah sebagian besar mempunyai latar belakang keluarga berantakan, entah itu karena ditinggal orang tua bekerja sehingga tak terpantau dan kurang perhatian di rumah, anak dari keluarga broken home, anak yang tumbuh di lingkungan keluarga arogan karena material ataupun kekuasaan, atau anak yang tumbuh di keluarga tak berpendidikan religi. Kami (saya) sebisa mungkin membimbing anak-anak dengan beragam latar belakang tersebut dengan satu tujuan, menjadikan mereka orang yang berhasil di masa depan, calon penerus negeri ini yang santun dan berbudi luhur (tak seperti kebanyakan sekarang yang cuma bisa berkoar-koar tanpa solusi, kritikus handal dengan tujuan menjatuhkan seseorang tanpa mau dikritik, dan tak menunjukkan kerja nyata).
Betapa sombongnya orang yang berkata, " Sekarang tidak diajarkan moral, etika atau pengajarnya tidak memiliki etika ?". Siapakah anda yang berani mengeluarkan statement seolah ahli pendidikan ? Betapa kami (saya) pontang-panting mengikuti kebijakan kurikulum pemerintah, yang walaupun masih banyak kekurangan disana-sini namun bertujuan untuk menciptakan pribadi-probadi yang berkarakter ? Saya hanya ingin membalikkan situasi, cobalah anda (yang berpendapat negatif terhadap guru) untuk berperan sebagai guru. Sadarkah kalau anda adalah guru di rumah ? Pertanyannnya, "Apakah anda tak marah, tak ambil tindakan ketika anak anda berperilaku yang tak sesuai dengan keinginan anda ? Saya sendiri sebagai orang tua, tak memungkiri kalau dalam mendidik anak saya lebih keras daripada seorang guru di sekolah. Tak peduli disebut galak, saya hanya ingin anak saya lebih baik dari saya, menjadi orang yang mandiri, bermental baja yang santun dan religius. Karena saya memahami bahwa tuntutan di masa depan jauh lebih berat daripada zaman saya dulu, tantangan, hambatan dan godaan jauh lebih banyak sesuai dengan perkembangan zaman.
Dengan munculnya kasus-kasus serupa, tak heran para guru menjadi takut untuk bertindak ketika menemukan pelanggaran. Guru lebih memilih bermain aman, datang ke sekolah untuk mengajar tanpa mendidik. Ketika guru dibenturkan dengan hak asasi, tak lagi diberi kewenangan untuk mengatur anak didik, yang terjadi hanyalah potret negatif perilaku anak usia pendidikan yang tidak terkontrol.
"Pendidikan berawal dari keluarga, tanpa timbal balik dan komunikasi dua arah pendidikan di sekolah tak akan mencapai hasil maksimal."
Senin, 02 Mei 2016
Sahabat : Tak Lekang Oleh Waktu- AADC 2
Tak terasa sudah hitungan tahun absen menulis pun mengunjungi rumah ceritaku ini. Kesibukan, tak ada sambungan internet, hanyalah alasan klise ketika tak mau menyadari bahwa jenuhlah alasan sebenarnya saya berhenti bercerita lewat tulisan di sini. Lalu, apa yang membuat saya memutuskan menambah entri baru setelah satu tahun lewat sebulan ? Sederhana saja, keinginan bercerita lagi timbul sejak minggu lalu usai mengunjungi tempat favorit yang lima tahun belakangan ini mudah dijangkau dari tempat saya tinggal. Ya...saat lelah hati, pikiran atau bahkan lelah fisik tempat ini menjadi salah satu favorit saya untuk membuang penat. Duduk diam selama 2 jam penuh di kegelapan, tertawa, gemetar hingga menangis sedih dan gembira bersama tokoh-tokoh rekaan selalu sukses mengusir lelah walau sukses juga menguras isi dompet ^_^. Bioskop itu nama tempatnya, mungkin sekarang orang langsung menyebut merknya saja.Tak terhitung berapa jumlah film, jenis ataupun asalnya jalinan kisah yang tergambar indah mengisi memori saya sejak duduk di bangku sekolah menengah. Memang sih, setahun terakhir beberapa kali saya menghabiskan 'me time' disitu. Yang jadi pertanyaan, mengapa baru saat ini saya memutuskan untuk "ngoceh" di sini ? Film apa sih yang sedimikian hebatnya bisa membuat saya 'melek' di jam yang biasanya menjadi waktu tidur saya ? Film apa ya ? Jika melihat tanggal posting cerita ini mungkin penggemar film sudah bisa menebak. Ya...benar sekali.. AADC 2 itu judul filmnya. Film yang ditunggu-tunggu penggemar Cinta & Rangga selama 14 tahun lamanya sampai-sampai sudah ikhlas dengan mereka-reka sendiri akhir ceritanya. Bahkan saya sampai nonton 2x lho, meskipun karena ketidaksengajaan sih (panjang ceritanya dan tak perlu saya tulis ^_^). Mulanya, mungkin sama dengan yang lain saya hanya penasaran dengan akhir cerita ini. Maklumlah waktu seri pertamanya saya tidak begitu antusias bahkan hanya nonton di kamar kos teman dengan rental vcd bajakan pula, duhh !!! Ketika pertama nonton sekuelnya, entah mengapa sejak awal saya sudah merasakan ketertarikan khusus. Bukan hanya karena penampilan 'cool' si pemeran utama ya ^_^, tapi tidak tahu kenapa cerita sederhana itu begitu melekat di hati saya. Adegan demi adegan begitu menyentuh, membuat saya berulang kali mengusap sudut mata, tersenyum dan jantung berdetak lebih kencang. HIngga ketika lampu menyala, pikiran saya masih tertinggal di alur cerita. Ahh...aku ini kenapa sih, pikir saya ? Sepanjang perjalanan pulang, saya terus berpikir dan menelaah mengapa saya begitu terpikat dengan sekuel film ini. Kilasan-kilasan akting natural para pemeran berkelabatan di pikiran saya dan akhirnya saya pun menemukan daya pikatnya. Persahabatan.... ya persahabatan Cinta, Maura, Carmen, Milly dan Alya yang tak lekang oleh waktulah yang membuat saya teringat dengan pengalaman hidup saya sendiri. Saya dan sahabat-sahabat saya tak ubahnya geng Cinta di kehidupan nyata. Lebih dari 20 tahun lamanya, meskipun saya dan sahabat-sahabat saya sudah memiliki kehidupan sendiri, bahkan terpisah oleh jarak namun ikatan persahabatan masih terjaga. Bertukar kabar, mengucap salam dan selamat hingga saling menguatkan di antara kami sama persis dengan jalan cerita film ini. Persahabatan dan bukan akhir kisah Cinta & Rangga yang membuat saya terharu (bahkan saya kaget ketika akhirnya "happy ending" lho). Cinta...pada kenyataannya tak semanis AADC 2. Cinta mungkin bisa terpendam selamanya, tersimpan dalam kenangan ketika takdir berkata lain. Namun persahabatan, lebih memungkinkan menjadi realita seperti yang sudah saya alami. Gersi, Desi, Deasy, Dewi, INtan, mereka adalah Maura, Carmen, Milly dan Alya untuk saya, merekalah tempat saya bersandar ketika malu untuk merengkuh keluarga, merekalah tempat saya menghabiskan waktu dalam canda dan tawa, merekalah tempat saya berbagi cerita. Rangga... ahh saya tak seberuntung Cinta bisa mendapatkan kembali kenangan yang tersimpan 14 tahun lamanya ^_^, cukuplah mereka berdua mewakili mimpi saya yang secara logis hanya terjadi di dunia film dan novel romantis. AADC 2 mengingatkan saya akan bacaan favorit saya macam shoujo manga ataupun historical romance. Dunia rekaan yang cukup menjadi fantasi dalam tidur saat saya mengalami titik jenuh. Cerita sederhana, namun menghibur dan tak membuat saya berpikir berat. Itu....ya hanya itu alasan yang mendorong saya berkunjung ke rumah yang nyaris terlupakan ini.
Sahabat-sahabatku... terima kasih selama ini...tak sabar berkumpul lagi di liburan mendatang. C...U...
Sabtu, 18 April 2015
Sama Dengan Yang Lain Saja
"Ojo dadi atimu yo Dek, sertifikasimu ora cair tahap iki", sebaris kalimat dalam pesan singkat itu sontak membuat hati gegana alias gelisah galau merana (kata si cita citata si ^_^). Bagaimana tidak tambahan rejeki yang diharapkan dan tentunya sudah ada planning tersendiri mau diapakan alih-alih tertunda malah lewat sama sekali. Alhasil, dua hari ini berlalu dengan emosi tak menentu, buliran air mata tak terbendung ketika ketidakberuntungan itu berkelebat dalam ingatan. Meskipun masih bersyukur roll cake yang kubuat dalam kondisi tak menentu berhasil dengan sempurna ^_^. Hmm...sebetulnya sih sejak saya mendengar bahkan ikut membantu mengerjakan sistem dapodikmen akan berlaku di tahun ini, saya sudah pesimistis akan keberlangsungan tunjangan profesional guru tersebut. Di awal tahun pelajaran seketika terbesit rasa kecewa melihat pembagian jam mengajar yang sudah pasti akan memblokir aliran tunjangan yang sudah menjadi hak saya. Komplain yang sempat terlontar sambil lalu dibarengi kekhawatiran yang memang akhirnya terjadi juga, tak kuasa menggugah penguasa untuk mencari solusi yang arif. Huftt...ya sudahlah memang rejeki sudah ada yang mengatur, yang penting sudah berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya. Dari awal proses perolehan sertifikat guru profesional pun saya sudah mengetahui kendala yang akan menghambat perolehan hak saya di masa mendatang.
Meskipun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa sebersit rasa kecewa itu ada. Rencana menempuh studi ke jenjang berikutnya sudah pasti tertunda entah untuk berapa lama. "Podo koncone wae", demikian kata suami saya setelah mengetahui berita kurang beruntung itu. Setelah dipikir panjang, benar juga nasihat ( kalau bisa disebut nasihat sih) suami saya itu. Ya, sudah lama suami saya mengingatkan (lebih tepatnya protes ^_^) akan totalitas saya di sekolah. Tugas tambahan di luar tugas pokok justru lebih menyita waktu dan stamina saya. Saya tak munafik, orang bekerja apapun profesinya pasti mengharapkan imbalan untuk menopang kebutuhan hidup. Perbedaannya hanyalah dari segi totalitas dan tanggung jawab. Demikian pula saya, bukannya menyombong tetapi saya terbiasa bekerja tidak setengah-setengah. Jadilah, tugas pokok, tugas tambahan sekaligus kewajiban personal sebagai seorang abdi negara menghabiskan pikiran dan tenaga saya. Belum lagi disiplin yang memang sudah tertanam kuat (terima kasih buat guru-guru SD-SMP ku), menjadikanku tak mau menyimpang dari aturan (baca : perintah). Nah, ketika hasil yang saya peroleh tidak sama dengan rekan-rekan lainnya mau tidak mau rasa 'dongkol' itu ada. Jika dipikir dangkal, untuk apa bersusah payah sementara menjadi biasa bahkan santai pun bisa terus melenggang tanpa hambatan berarti.
Mungkin ini pemikiran saya yang sedang kecewa sehingga cenderung negatif. Melihat situasi di sekitar, ternyata program tunjangan profesional itu kurang mencapai sasaran. Saya dan rekan-rekan dibebani dengan seabrek persyaratan administrasi sehingga konsentrasi ke peserta didik berkurang. Tujuan meningkatkan profesionalisme lebih banyak diabaikan, hasilnya sebagian besar adalah peningkatan gaya hidup semata. Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan rekan, contoh kecil bisa saya ambil dari tugas tambahan saya sebagai pengelola perpustakaan. Rekan yang mau membeli buku penunjang mapel bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar mengandalkan materi yang tersedia di perpustakaan, atau kalau tidak ada sekedar berpegangan pada lembar kerja siswa. Hari 'gini' mana ada yang mau mengampu mapel di luar sertifikatnya karena tidak bisa dihitung jam. Oh itu hanya sebagian kecil penyimpangan saja. Saya justru merasa prihatin dengan nasib para honorer yang pendapatannya jauh di bawah abdi negara sementara beban mereka sama bahkan lebih. Sekali lagi ini hanya ungkapan dari 'barisan sakit hati'saja. Sudah bersusah payah belajar, mencari referensi dan inovasi untuk mengajar mapel di luar sertifikasi, plus sendirian mengelola perpustakaan sebagai salah satu solusi kekurangan jam mengajar, ditambah permintaan bantuan lainnya yang menyita waktu (walau dulu saya dengan senang hati membantu), dan urusan karir yang harus dijalani (wajib dan tambah ruwet prosesnya), datang lebih awal pulang di luar jadwal (buka pintu tutup pintu alias seharian di kantor) ternyata belum disebut profesional. Alih-alih dapat tunjangan malah distop karena jam mengajar tidak linier. Huft...kalau begini lebih baik berlaku sama saja dengan yang lain. Datang saat bel berdentang, pulang sesudah tak ada jadwal, tidak masuk saat nol jam, mengajar tanpa beban, memberi nilai tanpa melihat real dan tanpa beban tambahan (kalau pun ada dikerjakan sekenanya terutama kalau kerja ikhlas). Iya toh...berlaku seperti itu saja dapat lebih, apalagi saya yang tidak ada lebihnya mendingan bersikap sama saja yang penting kewajiban pada peserta didik terpenuhi dengan maksimal, di luar itu mulai sekarang sama dengan yang lain saja.
Selasa, 23 Desember 2014
Maju Mundur Kurikulum
Pro kontra pelaksanaan Kurikulum 13 terus berlanjut baik di tingkat pejabat, mantan pejabat, dewan terutama guru sebagai pelaksana di lapangan dan tak lupa orang tua murid yang turut terkena dampak terhadap perubahan kurikulum. Menurut pandangan saya sebagai guru, Kurikulum 13 bagus untuk diterapkan. Kurikulum 13 mengubah karakter anak dari pendengar menjadi pelaku aktif diimbangi dengan nilai-nilai religi. Generasi emas bangsa Indonesia akan terbentuk melalui Kurikulum 13. Meskipun demikian, saya tidak setuju Kurikulum 13 diterapkan saat ini di seluruh sekolah ? Nah lho, kok plin plan begini ya ? ^_^ Baiklah, akan saya paparkan alasan-alasan penolakan pelaksanaan Kurikulum 13 saat ini (sambil menghela nafas lega ketika membaca surat edaran Menteri Pendidikan ) berdasarkan opini pribadi dan pendapat dari rekan-rekan guru di lingkungan sekitar saya. Meskipun Kurikulum 13 mempunyai proyeksi baik, pelaksanaan Kurikulum 13 saat ini cenderung dipaksakan. Bisa dilihat dari belum semua guru mapel dan sama sekali tidak ada guru produktif (SMK) yang mendapat pelatihan Kurikulum 13. Buku-buku paket yang ada pun baru tersedia untuk sebagian mapel wajib A dan B. Itu pun datang terlambat (beruntung sekolah saya hanya terlambat satu bulan setelah semester dimulai), dengan kualitas cetak rendah (banyak buku cacat). Yang lebih memprihatinkan, materi yang tercantum pada buku paket menggunakan bahasa yang tidak sesuai kaidah, melenceng dari norma (contoh buku PJOK SMA/K kelas XI yang mencantumkan etiket pacaran !!!), dan membingungkan (siswa saya mengeluh jika mereka tak bisa memahami materi pada buku paket). Alasan ketiga Kurikulum 13 tidak cocok diterapkan di semua sekolah adalah soal sarpras. K13 menuntut penggunaan IT pada setiap pembelajaran (ironisnya mapel TIK dihapus dari peredaran !), sementara sarpras di sekolah saya belum memadai. Bisa dibayangkan hebohnya guru-guru di sekolah saya ketika berebut ruang belajar yang ada instalasi listrik dan LCD yang jumlahnya terbatas (kira-kira 1 : 4). Kehebohan semakin lengkap dengan koneksi internet yang lambat dan seringkali mati di akhir bulan ^_^. Jujur, sebagai guru K13 memudahkan dalam mengajar. Guru hanya berperan sebagai fasilitator, memancing siswa untuk bereksplorasi dan memunculkan ide, dan kreatifitas. Nah, oleh-oleh selama saya mengikuti PLPG guru sama sekali tidak boleh menerangkan (ceramah), guru hanya mengajukan pertanyaan dan memancing siswa. Bagaimana dengan siswa ? Pada prakteknya, di sekolah saya siswa bisa dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok "gembira" karena tidak harus mendengar ocehan guru tapi ketika di tes lisan dan tulisan memperolah predikat C- dan kelompok "lelah" karena harus ekstra belajar dan tekun mengerjakan tugas yang diganjar dengan nilai B-. Mari kita bayangkan sebentar bagaimana siswa bisa memahami teorema fisika dan matematika tanpa tambahan ceramah guru. Siswa saya duduk di tingkat menengah kejuruan yang berorientasi pada dunia kerja. Bekal pengetahuan diperoleh dengan cara 'suapan' dari guru sejak SD sekarang tiba-tiba harus makan sendiri. Layaknya anak kecil yang belajar makan, nasi berhamburan di sekitarnya, demikian pula dengan siswa saya nilai pengetahuan dijamin tidak memenuhi kriteria lulus. Ya siswa saya memang begitu, dengan latar belakang keluarga menengah ke bawah, sekolah gratis menjadi incaran. Biaya tambahan hanya untuk membeli seragam, dan katakan tidak untuk membeli buku penunjang. Sebagian besar siswa saya hanya berpegang pada buku paket yang dipinjamkan, mencari tambahan materi lewat internet jika dan hanya jika diberi tugas oleh guru. Mau dengar komentar orang tua murid ? Ini komentar tetangga saya tentang K13, " Bu, apa sekarang guru tidak pernah mengajar ?" Haaa....deeehhhh....kembali lagi kurangnya sosialisasi K13 untuk semua yang berkepentingan. Ya itu sedikit alasan di lapangan (bukan alasan teknis macam evaluasi, de el el) mengapa ada yang menolak penerapan K13. Singkatnya adalah terlalu terburu-buru sehingga terkesan dipaksakan dan hanya sekedar proyek saja. K13 yang mengacu pada pendidikan negara maju lebih cocok diterapkan di sekolah eks RSBI dengan input siswa tinggi, SDM guru baik dan didukung fasilitas dan kekuatan finansial orang tua. Yang lebih penting adalah alangkah baiknya jika K13 diterapkan mulai dari kelas 1 SD, bukan mengubah secara mendadak karakter anak yang sudah terbentuk pada usia remaja.
Akhir dari tulisan ini adalah tanggapan saya terhadap perdebatan di forum guru mengenai SDM guru dalam menghadapi K13. Sekian lama saya menyimak komentar terhadap status mengenai K13, saya semakin miris ketika mendapati forum guru terpecah antara guru PNS dan honorer. Banyak komentar miring tentang guru (terutama PNS) yang menolak K13 karena guru malas (penilaian di K13 rumit dan butuh kemampuan IT) belajar, tidak kreatif membuat metode pembelajaran,bla bla bla yang intinya mendiskreditkan guru. Hmmm...apakah mereka yang komentar ini tidak sadar bahwa mereka bisa hebat karena guru-guru senior ? Padahal mereka tidak menggunakan K13, tapi menghasilkan pemimpin-pemimpin hebat. Setiap orang punya kelebihan masing-masing, jangan pernah menjudge guru malas hanya karena tidak bisa IT. Senior saya disini dengan kondisi penglihatan berkurang masih mau belajar mengutak atik laptop walau tidak mungkin bisa selihai guru muda jebolan tahun 90an. Daripada menghujat lebih baik saling bertukar keahlian, yang tua membagi pengalaman, yang muda membantu IT yang tua. Adil kan ? Kembali lagi pada K13, kurikulum bagus, tapi hendaknya pembuat kebijakan mau turun ke lapangan di pelosok bukan sekedar di daerah percontohan yang pastinya membuat laporan yang baik-baik. Tidak menggeneralisasi kondisi sekolah di seluruh penjuru bangsa. Itulah mengapa banyak yang menginginkan kembali ke KTSP, kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan masing-masing.
Selasa, 28 Januari 2014
Biasa Saja
"Bagaimana rasanya ?", akhir-akhir ini pertanyaan serupa sering mampir kepadaku. Bukan tanpa alasan sobat-sobatku menanyakan hal tersebut. Baik yang sudah berdua apalagi yang masih setia menjomblo kompak menanyakan perubahan yang terjadi pada diriku sejak hari Minggu, 29 Desember 2013 lalu. Ditanya tentang rasa, terus terang aku sendiri belum bisa menjawab secara gamblang. Pasalnya, hingga saat ini yang notabene tiga minggu berlalu sejak statusku berubah, rutinitas yang kujalani sehari-hari tak banyak berubah. Bangun pagi, berangkat ke kantor, pulang sore lalu istirahat hingga pagi kembali berulang, masih sama seperti aku yang dulu. Menyiapkan makan malam, ataupun jalan-jalan bertiga pun sudah biasa kulakukan. "Biasa saja, mungkin karena sudah terbiasa", jawabku yang diamini salah satu sahabatku yang juga mengalami hal serupa. Mungkin karena baru beberapa waktu dan belum benar-benar tinggal bersama, jadi perubahan status dari single menjadi ibu rumah tangga belum terasa nyata. Pola pikirku pun belum mengalami perubahan sebagaimana mestinya. Menyiapkan makan, seragam ataupun bersih-bersih rumah sudah biasa kujalani beberapa bulan belakangan ini. Menyandang predikat 'bunda' pun baru sedikit mengubah aktivitas sehari-hari. Lagi-lagi karena beberapa bulan ini aku sudah terbiasa dengan semua itu.
Sebenarnya bukan perubahan aktivitas yang menggangguku, ketidaknyamanan akan status baru ini justru datang dari mereka yang tak berkepentingan.Tak dipungkiri, karakterku yang tertutup dan tak suka berinteraksi berlebihan dengan orang lain membuatku terganggu dengan celotehan nyinyir. Aku berprinsip, hidupku adalah urusanku. Apa yang kuperbuat, sudah melalui pertimbangan matang dan sepanjang tak merugikan orang lain, sah-sah saja untuk kulakukan. Pada kenyataannya, pikiran orang itu bermacam-macam. Keputusanku untuk menggelar pernikahan tertutup pun mengundang berbagai komentar mulai dari omongan 'bijak' sampai komentar miring penuh dugaan negatif. Walau emosi sering tersulut, aku berusaha untuk tetap diam. Sedikit senyum dan jawaban singkat menjadi senjataku untuk menanggapi komentar-komentar yang pada intinya sama. Doa yang tulus kuterima dengan penuh terima kasih, sebaliknya gurauan (atau suara hati sebenarnya) kuanggap angin lalu saja. Meskipun jengkel dan tersinggung selalu muncul tatkala mendengar tagihan makan-makan hingga tuduhan 'sudah isi'. Aku tahu, bahwa segala sesutau yang diam-diam itu pada akhirnya akan menimbulkan kegemparan. Hanya saja, pentingkah memohon doa restu orang-orang yang belum tentu tulus memberi restu dengan sebuah resepsi yang bagiku sebuah pemborosan ? Untukku, doa restu dari keluargalah yang utama, karena mereka yang benar-benar dekat dengangku dan mendukungku, dan pastinya mendoakan dengan tulus tanpa embel-embel "sumbangan". Berbeda dengan sebagian orang luar yang lebih dulu menodong 'syukuran' alih-alih mengucapkan selamat, disertai bisik-bisik negatif tentang hari bahagiaku yang tertutup. Pada akhirnya semua keputusanku dan pasanganku cukup tepat, dan terserah orang mau bilang apa. Yang penting, doa dari keluarga dan sahabat sejati menyertai perjalanan kami menempuh hidup yang baru.
Kamis, 07 November 2013
Satu Hari Dalam Hidupku
Surprise tak selalu berhasil dengan baik. Niat baik memberikan kejutan tanpa memperhatikan tingkat keseriusan sebuah momen, justru memberikan efek di luar harapan. Itulah yang terjadi pada satu hari dalam hidupku yang seharusnya menjadi momen penting bagiku menuju pribadi yang dewasa dan mandiri. Jauh hari sebelumnya hingga beberapa saat sebelum kepulanganku ke kampung halaman, berkali-kali aku meminta penjelasan akan rencana di hari Minggu. Dan jawaban yang kuterima selalu sama, "Hanya silaturahmi". Bermodal jawaban yang kudapat, aku pun santai saja tak melakukan persiapan khusus untuk menyambut tamu dari jauh. Demikian pula dengan sanak yang lain, hanya sekedar berkumpul, menyiapkan tempat dan jamuan sederhana. Sambil menghabiskan waktu tunggu mengingat perjalanan jauh yang harus ditempuh, aku asyik bercengkerama dengan sobat-sobat karibku hingga malam menjelang. Segala urusan menyambut tamu kuserahkan pada mereka yang lebih berpengalaman ^^. Demikianlah, setelah lama menunggu, rombongan pun tiba dan saat itulah surprise dimulai. Berondongan pertanyaan sama bertubi-tubi dilayangkan kepadaku. "katanya begini, katanya begitu ", segala pertanyaan yang tak sesuai dengan busana rapi rombongan, bingkisan terbalut kertas payung dan sebentuk lingkaran emas dalam wadah hijau. Aku pun tergagap-gagap menjawab pertanyaan yang meliputi maukah ? mantapkah ? kapankah ? dan seterusnya. Aku pun menyingkir ke dalam, berbaur dengan sobat-sobat kecil yang tak peduli dengan apa yang tengah berlangsung di ruang sebelah. Malu bukan kepalang aku, dalam hati memaki otak pembuat surprise dan bersumpah akan memarahinya habis-habisan ^^. Bagaimana tidak, berbekal jawaban sekedar berkenalan, aku pun tampil apa adanya. Berbusana jeans gombrong tanpa sentuhan riasan (yang penting sudah segar sehabis mandi ^^), aku harus menjawab pertanyaan resmi di even yang resmi namun aku jauh dari image resmi ! Kurang lebih 2 jam lamanya kedua pihak saling mengenal lebih jauh, sebelum akhirnya aku pun ikut di rombongan yang sama untuk kembali ke tempat yang kelak menjadi tempat tinggal permanenku. Lelah, lega, bingung, gugup bercampur jadi satu ketika runtutan peristiwa datang padaku. Syukur tak henti-hentinya kudengungkan atas jalan yang telah terbuka. Meskipun aku punya pe-er yaitu harus mengajar materi tentang "Surprise pada tempatnya" ^^.
Langganan:
Komentar (Atom)