Rabu, 08 Februari 2017

Manajemen Keuangan




MANAJEMEN KEUANGAN







Oleh : 
NAMA : IIN MARLINA 
NPM     : 2015P20131

Tugas
MATA KULIAH  : MANAJEMEN KEUANGAN
SEMESTER          : 2 (DUA) TAHUN 2015 / 2016
             DOSEN                 : Dr. SUPAWI PAWENANG, SE, MM


PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM BATIK SURAKARTA
2017



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Manajemen adalah adalah suatu proses yang berbeda terdiri dari planning, organizing, actuating, dan controlling yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditentukan dengan menggunakan manusia dan sumber daya lainnya (George R. Terry, 1997). Dalam sebuah organisasi dalam hal ini adalah perusahaan, manajemen memiliki peran penting dala menjalankan perusahaan. Manajemen merupakan sebuah pedoman pemikiran dan tindakan kegiatan perusahaan. Manajemen yang  baik akan meningkatkan kinerja dari semua potensi perusahaan yang dimiliki. Manajemen selalu mengedapankan kerjasama, keharmonisan, komunikasi kontruktif, seimbang, saling menghormati dan meghargai sehingga pencapaian tujuan dapat dioptimalkan. Manajemen diperlukan untuk kemajuan perusahaan sehingga perusahaan tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik lagi.
Manajemen Keuangan adalah segala kegiatan atau aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan bagaimana cara memperoleh pendanaan modal kerja, menggunakan atau mengalokasikan dana, dan mengelola aset yang dimiliki untuk mencapai tujuan utama perusahaan. Manajemen keuangan perlu diterapkan dalam perusahaan agar nilai yang dimiliki perusahaan bisa dimaksimalkan. Manajemen keuangan yang dikelola dengan baik dapat memberikan nilai tambah terhadap aset yang dimiliki oleh pemegang saham.
B.  Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.        Untuk mengetahui peran manajemen keuangan pada perusahaan
2.        Untuk mengetahui penggunaan manajemen keuangan pada perusahaan


BAB II

PEMBAHASAN


Perusahaan didirikan dengan tujuan yang jelas. Untuk mencapai tujuan perusahaan yang dikehendaki, perusahaan harus menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Fungsi-fungsi perusahaan tersebut meliputi fungsi keuangan, fungsi pemasaran, fungsi sumber daya manusia, dan fungsi operasional. Keempat fungsi tersebut memiliki peranan sendiri-sendiri dalam perusahaan dan pelaksanaannya saling berkaitan. Fungsi keuangan suatu perusahaan dikelola oleh sebuah sistem yaitu manajemen keuangan. Manajemen keuangan berkaitan dengan pengelolaan keuangan yang pada dasarnya dapat dilakukan dengan baik oleh individu, perusahaan, maupun pemerintah.
Arthur J Keown, et al (2005) dalam bukunya Financial Management menyatakan bahwa manajemen keuangan adalah mengenai pemleiharaan dan penciptaan dari nilai ekonomi atau kekayaan. Menurut Bambang Riyanto (2001), manajemen keuangan adalah manajemen untuk  fungsi-funsi pembelanjaan. Menurut Sutrisno (2003) pengertian manajemen keuangan adalah  semua aktivitas yang berhubungan dengan usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dana tersebut secara efisien. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen keuangan adalah usaha untuk mendapatkan uang yang digunakan oleh perusahaan untuk mendapatkan aktiva.
Tujuan dari manajemen keuangan adalah untuk memaksimalkan akan nilai perusahaan. Manajemen keuangan dalam perannya sebagai pengatur keuangan perusahaan memiliki 5 fungsi utama yaitu :
1.      Planning atau Perencanaan Keuangan, meliputi Perencanaan Arus Kas dan Rugi Laba.
2.      Budgeting atau Anggaran, perencanaan penerimaan dan pengalokasian anggaran biaya secara efisien dan memaksimalkan dana yang dimiliki.
3.      Controlling atau Pengendalian Keuangan, melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan perusahaan.
4.      Auditing atau Pemeriksaan Keuangan, melakukan audit internal atas keuangan perusahaan yang ada agar sesuai dengan kaidah standar akuntansi dan tidak terjadi penyimpangan.
5.      Reporting atau Pelaporan Keuangan, menyediakan laporan informasi tentang kondisi keuangan perusahaan dan analisa rasio laporan keuangan.
Manajemen keuangan dapat didefinisikan dari tugas dan tanggung jawab manajer keuangan. Tugas pokok manajemen keuangan antara lain meliputi keputusan tentang investasi, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian deviden suatu perusahaan, dengan demikian tugas  manajer keuangan adalah merencanakan untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Kegiatan penting lainnya yang harus dilakukan manajer keuangan menyangkut empat aspek yaitu :
1. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer lainnya
yang bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan.
2.     Manajer keuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai
keputusan investasi dan pembiayaan, serta segala hal yang berkaitan dengannya.
3.     Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer diperusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin.
4.     Manajer keuangan harus mampu menghubungkan perusahaan dengan
pasar keuangan, di mana perusahaan dapat memperoleh dana dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan.
Manajemen keuangan tidak hanya pada pencatatan akuntansi saja. Manajemen keuangan merupakan bvagian yang sangat penting dan tidak dapat dianggap sepele. Pada prakteknya manajemen keuangan meruakan aktivitas dan hadir untuk menyehatkan keuangan perusahaan atau organisasi. Manajemen keuangan memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :
  • Consistency (Konsistensi), merupakan prinsip sistem dan kebijakan keuangan perusahaan sesuai dengan apa yang direncanakan, tidak berubah dari setiap periode, tetapi yang perlu ditekankan bahwa sistem keuangan bukan berarti tidak dapat dilakukan penyesuaian ketika terdapat perubahan signifikan dalam perusahaan. Pendekatan keuangan yang tidak konsisten menjadi tanda bahwa ada manipulasi pada pengelolaan keuangan perusahaan.
  • Accountability (Akuntabilitas), adalah suatu kewajiban hukum dan juga moral, yang mana melekat untuk setiap individu, kelompok ataupun perusahaan dalam memberi penjelasan bagaimana dana ataupun kewenangan yang telah diberikan oleh pihak ke-3 dipergunakan. Setiap pihak harus memberi penjelasan mengenai penggunaan sumber daya dan apa yang telah dicapai suatu bentuk pertanggung jawaban kepada yang berkepentingan, agar semua tahu bagaimana kewenangan dan dana yang dimiliki itu dipergunakan.  da
  • Transparancy (Transparansi), adalah prinsip yang mana setiap kegiatan manajemen harus terbuka baik dalam memberikan informasi tentang rencana dan segala aktivitas bagi yang berkepentingan, termasuk laporan keuangan yang wajar, lengkap, tepat waktu dan akurat yang dapat diakses dengan mudah oleh yang berkepentingan, jika tidak transparan maka akan berdampak suatu penyelewengan kegiatan.
  • Viability (Kelangsungan Hidup) adalah prinsip yang mana menekankan pada kesehatan keuangan perusahaan terjaga, semua pengeluaran operasional ataupun ditingkat yang strategi harus disesuaikan denga dana yang ada, kelangsungan hidup entitas merupakan ukuran suatu tingkat keamanan serta keberlanjutan keuangan perusahaan.Manajemen keuangan harus menyusun rencana keuangan dimana menunjukkan bagaimana suatu perusahaan bisa menjalankan rencana strategisnya guna memenuhi kebutuhan keuangan.
  • Integrity (Integritas) adalah setiap individu wajib mempunyai tingkat integritas yang mempuni dalam menjalankan kegiatan operasional. Tidak hanya itu, pencacatan dan laporan keuangan harus terjaga integritasnya dengan kelengkapan dan tingkat keakuratan suatu pencatatan keuangan.
  • Stewardship (Pengelolaan) adalah prinsip dimana dapat mengelola dengan baik dana yang telah didapatkan dan memberikan jaminan akan dana yang diperoleh tersebut untuk direalisasikan tujuan yang telah ditetapkan, dalam prateknya dilakukan dengan hati-hati dengan membuat perencanaan strategis, mengidentifikasi risiko keuangan yang ada serta menyusun dan membuat sistem pengendalian keuangan yang sesuai.
  • Accounting Standards (Standar Akuntansi) adalah sistem akuntansi keuangan harus sesuai dengan prinsip-prinsip dan standar aturan akuntansi yang telah berlaku dengan tujuan laporan keuangan yang dihasilkan dapat dengan mudah dipahami dan dimengerti dari semua pihak yang berkepentingan.
Ruang Lingkup Manajemen Keuangan terdiri dari:
  1. Keputusan pendanaan, meliputi kebijakan manajemen dalam pencarian dana perusahaan, misalnya kebijakan menerbitkan sejumlah obligasi dan kebijakan hutang jangka pendek dan panjang perusahaan yang bersumber dari internal maupun eksternal perusahaan.
  2. Keputusan Investasi, Kebijakan penanaman modal perusahaan kepada aktiva tetap atau Fixed Assets seperti gedung, tanah, dan peralatan atau mesin, maupun aktiva finansial berupa surat-surat berharga misalnya saham dan obligasi atau aktivitas untuk menginvestasikan dana pada berbagai aktiva.
  3. Keputusan Pengelolaan Aset, Kebijakan pengelolaan aset yang dimiliki secara efisien untuk mencapai tujuan perusahaan.
Manajemen keuangan mencakup perencanaan keuangan yaitu panduan atau pedoman yang disusun perusahaan untuk mencapai tujuan dan membantu meningkatkan nilai perusahaan. Untuk itu biasanya perusahaan melakukannya dengan cara memperkirakan jumlah dan penetapan waktu investasi dan pembiayaan yang diperlukan. Dalam membuat rencana keuangan, seorang pengusaha atau wiraswasta harus memiliki sikap positif sehingga dalam aktivitasnya merencanakan keuangan mengikuti langkah berikut :
  • Menetapkan tujuan perencanaan keuangan perusahaan secara tepat.
  • Menggunakan perencanaan keuangan sebagai motivator dan berusaha mengkomunikasikannya dengan pihak terkait.
  • Memastikan bahwa proses perencanaan diikuti pula oleh pengendalian dan selalu mengkomunikasikannya oleh pihak terkait.
  • Mengevaluasi strategi-strategi keuangan alternatif.
  • Mengumpulkan dan menetapkan target efisiensi baik jangka pendek maupun jangka panjang.
  • Mengembangkan sebuah perencanaan dengan membandingkan terhadap prestasi standar yang sudah ditetapkan.
  • Memeriksa kebenaran perencanaan keuangan secara menyeluruh.
  • Meninjau kembali perencanaan keuangan serta merevisinya sehingga lahir kombinasi strategi yang tepat.
Jika perencanaan keuangan telah dilakukan dengan baik maka masalah keuangan perusahaan akan dapat dikelola dengan baik pula. Hal ini sesuai dengan tujuan dari perencanaan keuangan yaitu :
a)    Meningkatkan investasi dalam usaha.
b)    Perubahan imbalan untuk para wirausaha.
c)    Meningkatkan kemampuan laba dalan usaha.
d)    Dapat memberikan harapan terhadap oertumbuhan usaha.
e)    Meningkatkan efisiensi usaha.
 Untuk mengetahui apakah perencanaan keuangan benar-benar dapat mencapai tujuan tersebut, maka selanjutnya dilakukan evaluasi dan analisis rencana keuangan  tersebut.
Alat analisis yang sering digunakan untuk mengetahui kondisi dan prestasi keuangan perusahaan. Tolak ukurnya biasanya dengan membandingkan kenaikan atau penurunan prestasi antara dua laporan posisi keuangan pada dua periode waktu tertentu. Analisa Rasio Keuangan yang umum dipakai dikelompokkan sebagai berikut:
  1. Liquidity Ratio, nilai rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajiban finansial dalam jangka pendek. Laporan berupa analisa Current Ratio dan Working Capital to Total Asset (WCTAR).
  2. Leverage Ratio , rasio untuk menilai seberapa besar dana yang diberikan oleh pemegang saham atau owner  dibandingkan dengan dana yang diperoleh dari pinjaman dari dari pihak kreditur. Laporan berupa Total Debt to Assets  (DAR),  Total Debt to Equity (DER).
  3. Activity Ratio, rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen dalam menggunakan sumber dayanya. Semua rasio aktifitas melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis aset yang dimiliki. Laporan analisa berupa Total Asset Turn Over (ATO), Working Capital Turn Over (WCTO), Total Equity to Total Asset (EA).
  4. Rentability Ratio, rasio ini digunakan untuk menilai tingkat efektifitas manajemen yang dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan. Laporan analisa berupa Return on Equity (ROE), Return on Assets (ROA), Earning Power of to Total Invesment (EPTI), Gross Profit Margin (GPM), dan Operating Income (OI).









BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Fungsi manajemen keuangan adalah merencanakan untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer lainnya yang bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan. Manajer keuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai keputusan investasi dan pembiayaan, serta segala hal yang berkaitan dengannya. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer di perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin. Manajer keuangan harus mampu menghubungkan perusahaan dengan pasar keuangan, di mana perusahaan dapat memperoleh dana dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan.
B.       Saran
Perusahaan dapat tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan yang sehat dengan menerapkan fungsi-fungsi penting dalam perusahaan di antaranya yaitu fungsi manajemen keuangan. Untuk itu perusahaan sangat perlu menerapkan prinsip-prinsip manajemen keuangan sebagai roda penggerak perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Senin, 16 Januari 2017

NYAMPAH

Sudah lama sekali tidak nyampah di media ini. Terakhir nulis bukanya nyampah tapi mengerjakan tugas wajib biar lulus salah satu mata kuliah. Sebetulnya, banyak sekali sampah yang mau dibuang kesini, berhubung terbatasnya waktu akhirnya dipilih sampah yang paling bau saja yang tak lain adalah sampah keluarga. Berkeluarga bagi umat muslim itu menyempurnakan ibadah. Berhubung saya muslim (titik, tanpa embel-embel soal pro kontra kasus paling hot saai ini ^^), saya juga ingin menyempurnakan ibadah saya. Kata orang, menikah itu menambah masalah. Setelah tiga tahun berkeluarga, kata orang itu ada benarnya juga. Bagaimana tidak masalah ? Hidup yang dulu cuma untuk diri sendiri dan orang tua, sekarang harus berbagi dengan orang baru plus keluarga baru. Nah, keluarga baru ini lah yang paling menambah masalah. Mereka tidak secara langsung ikut andil dalam rumah tangga, namun justru paling banyak menambah masalah. Maklumlah, keluarga baru ini banyak yang betul-betul asing, tidak ada hubungan darah kecuali ikatan pernikahan. Jadi, tak heran jika gesekan-gesekan kecil sampai besar pasti terjadi. Memang, agama mengajarkan, tidak hanya menikahi suami/istri saja, tapi juga keluarganya. Tapi, lagi-lagi anggota keluarga yang inilah yang seringkali menjadi duri dalam sebuah pernikahan. Memang sih, saya nulis ini gegara baru saja terjadi konflik keluarga. Tapi, kalau mau diadakan survei, hasilnya bisa jadi kurang lebih sama
Kenapa sih, kok sampai baper banget (minjam istilahnya anak muda) ? Saya ini paham tidak paham resiko mengikatkan diri dengan seorang duda cerai. Memang semua itu kalau belum dijalani tidak akan tahu rasanya. Di awal pernikahan, saya sudah sering baper mendengar celotehan keluarga tentang si mantan. Berhubung yang saya dengar kebanyakan negatif, saya masih bisa tahan. Tapi lama-lama, celotehan itu menjadi ganjalan. Nggak cuma satu dua kali lho, keluarga suami memanggil saya dengan nama si mantan. Mau dibilang hiper sensitif ya terserah, pada intinya sebagai wanita mana tahan kalau sering salah dipanggil nama dengan nama si mantan. Apalagi yang manggil itu keluarga dekat (baca:adik), bukannya minta maaf telah menyakiti hati seorang wanita yang rapuh (ehemmm...), malah terus diulangi. Dan ketika saya dengan pedenya mengungkapkan emosi di media sosial, mereka (baca:istri sang adik) malah marah-marah dan menuding saya menghina suaminya. Olala, sudah tersakiti masih ditusuk jarum pula. Berhubung saya orangnya rendah hati, dengan segala kesantunan akhirnya saya menyudahi perkara dengan posisi saya yang minta maaf ! What's the hell ?!.
Hummph...mungkin kalau membaca tulisan ini, akan menganggap saya terlalu sensi, hanya karena salah sebut nama terus ribut-ribut. Memang sih, kalau dipikir kok hanya karena itu saya jadi 'ngamuk' kaya gunung Merapi meletus ? Sekali lagi, disini saya cuma nyampah, biar tidak kena penyakit hati kronis gara-gara memendam amarah. Inilah saya, seorang wanita super sensitif yang selalu baper jika dipanggil dengan nama si mantan, padahal saya sudah tiga tahun lebih menikah. Inilah saya, yang selalu baper kalau main ke rumah mertua dan melihat foto si mantan masih terpasang di dinding (foto keluarga lama). Inilah saya, yang dengan gegabah mengatakan 'goblok' pada si adek nakal yang katanya lupa karena jarang ketemu (hoho..sebegitu kecilkah otak manusia sehingga nama pun salah, padahal jelas orang yang berbeda, dengan si mantan juga dulu  jarang ketemu, kok masih diingat-ingat ?). Inilah saya, yang notabene 'kakak' justru diperlakukan sebaliknya dengan menyebut saya dengan kata "KAMU", "BISA BACA NGGAK?". Inilah saya, yang katanya menghina suaminya dan kemudian balik dilecehkan seperti tersebut di atas? Inilah saya, yang akhirnya mengalah walau tidak pernah terucap kata "saya maafkan" atas pernyataan maaf yang diikuti kata-kata tersebut di atas (berarti nggak niat minta maaf tuh, minta maaf kok ada tapinya....). Inilah saya yang terus terang belum bisa memaafkan mereka, bukan karena salah sebutnya namun karena pelecehan di balik permintaan maafnya. Memang, apalah saya ini, orang dari keluarga miskin, tidak punya jabatan, fisik yang bukan seorang top model, kampungan (karena dari kampung ngapak-ngapak) yang selalu menjadi bahan banyolan di tempat aku tinggal sekarang. Tapi, saya bangga dengan diri saya, dari keluarga miskin yang mampu berprestasi walau minim fasilitas, bangga dengan orang tua saya yang sukses mengantarkan anak-anaknya menempuh pendidikan tinggi walalu harus ngutang di bank buat modal usaha. Jadi, maafkan saya kalau saya justru memandang rendah kalian wahai keluarga baruku yang ngakunya kaum priyayi namun tidak bisa mengingat nama yang terdiri dari tiga huruf, yang balik menghina pada orang yang lebih tua, yang tidak mau disalahkan dan memberi nasehat pada orang kampung ini agar bertindak sopan (padahal kamupun tidak sopan nduk !). Maafkan saya, yang belum bisa menganggap kalian bagian dari keluarga saya, karena dari awal pun kamu tidak menganggap saya (Ingat hadiah pernikahan darimu ? Ingat isi amplopmu saat anakku sakit ?). Maafkan saya, yang selalu merasa iri dengan perlakuanmu yang jauh berbeda dengan saudariku yang lain. Sekali lagi maafkan saya, karena saya benar-benar tidak akan menganggapmu bagian dari keluarga saya, karena katamu menghormati suamiku, tapi tidak menghormatiku. Salam orang kampung !

Kamis, 26 Mei 2016

Silaturahmi : Langkah Sukses Dalam Berbisnis

The richest people in the world look for and build networks, everyone else look for works - Robert T Kiyosaki


Indonesia sebagai  negara yang sering mendapat sorotan dunia internasional tak hanya berhasil mencatatkan prestasi di bidang olahraga dan olimpiade sains belaka namun menelurkan pebisnis-pebisnis tangguh yang melejit sebagai orang terkaya di Indonesia. Sebut saja Hartono bersaudara, duo Djarum yang sukses menempati posisi ke-142 dan ke-151 orang terkaya di dunia versi majalah Forbes tahun 2015. Forbes sendiri adalah sebuah majalah bisnis terbitan Amerika Serikat yang rutin mendata orang-orang yang memiliki kekayaan tertinggi di dunia (  www.ilmusiana.com ). Daftar tersebut disusun berdasarkan data kepemilikan aset dan utang orang-orang kaya di dunia dalam dolar Amerika. Forbes sendiri telah membuka cabang di hampir semua negara termasuk Indonesia yang pertama kali diterbitkan oleh PT. Wahana Mediatama pada tahun 2010. Dengan demikian, majalah Forbes rutin merilis daftar orang terkaya di Indonesia setiap tahunnya.
Posisi orang terkaya di Indonesia  diraih oleh pengusaha-pengusaha kawakan yang bergulat di bisnis properti, tembakau, kelapa sawit dan komoditas ekspor lainnya serta bisnis media komunikasi dan informasi. Budi dan Michael Hartono, Anthoni Salim, dan Chairul Tanjung rutin mengisi nama-nama orang terkaya di Indonesia. Alih-alih nama-nama tersebut di atas, adalah Trihatma Haliman dan Sandiaga Uno menjadi nama yang penulis jadikan contoh dalam tulisan kali ini. Apa pasal penulis mencantumkan nama-nama orang kaya khusunya dua nama terakhir ? Pertanyaan tersebut akan terjawab pada penjelasan selanjutnya. Posting kali ini memang berbeda dari biasanya, tulisan bebas (artikel) kali ini disusun sebagai tugas mata kuliah Lingkungan Ekonomi dan  Bisnis yang diampu oleh bapak Dr. Supawi Pawenang, SE,MM pada Program Pasca Sarjana Uniba Surakarta.
Siapa yang tak mengenal Sandiaga Uno ? Pengusaha muda yang digadang-gadang menjadi calon gubernur DKI penantang incumbent ? Nama Trihatma Haliman mungkin asing di telinga pembaca, namun jika menyebut Agung Podomoro Grup hampir seluruh masyarakat mengenalnya sebagai raksasa developer properti Indonesia yang kini tengah tersandung masalah suap reklamasi Pantai Jakarta Utara. Penulis disini tidak akan membahas kursi panas calon gubernur DKI ataupun masalah suap-menyuap, melainkan menyoroti kisah sukses dua pengusaha tersebut. Sandiaga Uno, tentu saja tidak serta merta menempati urutan ke-47 di tahun 2014. Jatuh bangun dalam bisnis telah dialami beliau sebelum mencatatkan dirinya dalam daftar orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai 460 juta Dollar. Satu hal yang penulis catat adalah kesukaan beliau pada olahraga, dengan aktif mengikuti even lari jarak jauh untuk menjaga kesehatan dan menambah relasi (https://studentpreneur.co/blog/seri-orang-terkaya). Trihatma Haliman, generasi kedua keluarga Haliman adalah orang di balik kesuksesan Agung Podomoro Group (https://studentpreneur.co/blog/seri-orang-terkaya). Bapak usia 61 tahun ini lekat dengan prinsip bisnis 4C yaitu cincay, cengli, cuan dan chemistry. Cincay berarti enak sama enak yang dimaksudkan bahwa pebisnis harus menciptakan suasana enak sama enak ke semua orang, pelanggan, dan partner. Cengli berarti masuk akal, adil, jujur dan bisa dipercaya. Dalam bisnis kepercayaan itu penting. Bisnis membutuhkan cuan yaitu keuntungan bagi pebisnis. Sedangkan chemistry artinya harus menjaga hubungan baik dengan semua orang dengan semua orang yang punya hubungan dengan perusahaan.
Prinsip bisnis kedua orang sukses tersebut memiliki kesamaan pada poin komunikasi. Menjaga hubungan baik dengan semua orang yang punya hubungan dengan perusahaan baik di dalam maupun di luar perusahaan sangat dibutuhkan agar operasional perusahaan berjalan dengan optimal sehingga  menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Pengusaha perlu menambah relasi yang berguna untuk ekspansi bisnis dan menambah keuntungan-keuntungan lain seperti kemudahan akses bahan baku, tenaga kerja, perijinan, marketing  bagi perusahaan. Membangun relasi dalam bisnis sekaligus menjaga hubungan baik dengan semua orang yang punya hubungan dengan perusahaan dapat ditempuh dengan berbagai cara.
Silaturahmi merupakan salah satu cara membangun jaringan dan relasi dalam bisnis secara Islami. Silaturahmi (shilah ar-rahim dibentuk dari kata shilah dan ar-rahim) yang secara bahasa berarti hubungan kekerabatan. Ada juga yang mendefinisikan silaturahmi sebagai tali persahabatan atau tali persaudaraan sehingga bersilaturahmi berarti mengikat tali persahabatan kapan saja yang harus dilanjutkan oleh anak keturunannya. Meskipun keutamaan silaturahmi  adalah dengan kerabat, prinsip silaturahmi dapat diterapkan ketika pebisnis membangun jaringan dalam menjalankan usahanya. Dengan silaturahmi, pebisnis dapat menjalin relasi yang baik dengan banyak orang, bukan hanya sekedar orang yang berinvestasi terhadap bisnis, namun juga dengan orang baru yang nantinya akan membantu mengembangkan bisnis.
Silaturahmi antar sesama pebisnis dalam suatu komunitas, akan membantu seorang pebisnis menemukan orang yang  menghadapi persoalan dalam usaha yang hampir sama dengan yang sedang dialami. Silaturahmi antar sesama pebisnis menjadikan adanya mentoring dari rekan sesama bisnis sehingga bisa membantu dalam pengambilan keputusan. Silaturahmi menjadikan seseorang mengenal banyak pribadi lain, sehingga pola pikir akan menjadi lebih terbuka dan mengetahui  akan adanya kesempatan baru yang bisa diraih dalam bisnis. Dengan bersilaturahmi, pebisnis dapat meningkatkan pengetahuan yang dapat digunakan dalam mengembangkan usaha.
 Silaturahmi dengan pelanggan juga sangat berperan terhadap keberhasilan suatu usaha. Membangun silaturahmi dengan komunitas pelanggan menjadi sebuah trik marketing yang efektif, sehingga informasi mengenai produk barang atau jasa bisa tersampaikan dengan cepat. Silaturahmi memungkinkan pebisnis berhadapan langsung dengan pelanggan sehingga terjadi komunikasi dari mulut ke mulut mengenai produk barang dan jasa yang ditawarkan. Seperti yang diketahui, seseorang gemar berbagi informasi kepada rekan dan sahabat mereka termasuk membicarakan tentang usaha apabila ada yang berkaitan dengan topik pembicaraan. Tentunya, hal tersebut menjadi lahan promosi gratis bagi perusahaan.
Silaturahmi yang terjalin dengan baik menjadikan seorang pebisnis mendapatkan berbagai informasi yang berguna bagi bisnis sekaligus kehidupan personalnya. Seperti yang kita ketahui, sebagai umat muslim telah diperintahkan oleh Allah SWT (QS An-Nisaa:1)  sehingga pebisnis yang tak ragu untuk membuka tali silaturahmi, akan mendapat kepercayaan pelanggan dan orang yang berhubungan dengan perusahaan. Dalam berbisnis, kadang kala tujuan bisnis dan tujuan pemerintah tidak sejalan sehingga mengakibatkan pertentangan. Dalam hubungan ekonomi global, bisnis dapat menghadapi pemerintah yang mempunyai kekuasaan dan mungkin berhadapan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berpengaruh terhadap bisnis. Silaturahmi dapat menjadi pedoman bagi pebisnis untuk tetap berada di koridor legal yang mendorong hubungan positif bisnis dan pemerintah. Hubungan kooperatif bisnis dan pemerintah yang labil dapat dijembatani dengan silaturahmi pebisnis sehingga terjadi sebuah kesepakatan yang baik untuk kedua belah pihak, masyarakat sebagai konsumen, pesaing dan stakeholder bisnis lainnya.
Pada sebuah perusahaan terdapat bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah           penting untuk kelangsungan berjalannya perusahaan yang terdiri dari pimpinan dan karyawan                   ( www.irmanfsp.tk ). Di antara kedua belah pihak harus terjalin two way communications untuk mempersatukan individu-individu yang tergabung dalam perusahaan dalam satu tujuan. Silaturahmi menjadi cara terbaik untuk menjalin komunikasi antar pribadi dan kelompok dalam perusahaan. Perilaku komunikasi dengan cara silaturahmi yang cenderung santun dengan memperlakukan orang lain sebagai saudara akan mencairkan hubungan antara atasan-bawahan yang cenderung kaku sehingga memungkinkan terjadinya miss komunikasi yang dapat mengancam keberlangsungan perusahaan. Hubungan baik antara karyawan dan top manajemen melalui silaturahmi bisa meningkatkan motivasi yang berdampak pada meningkatnya produktivitas karena karyawan dengan suka rela memberikan tenaga dan pikiran pada perusahaan. Ide-ide baru dari karyawan terhadap pengembangan perusahaan maupun solusi permasalahan dalam perusahaan dapat tersampaikan dengan baik dengan dibukanya tali silaturahmi antar personal dalam perusahaan.
Sandiaga Uno, Trihatma Haliman bahkan Donald Trump sekalipun secara tidak langsung menerapkan prinsip silaturahmi dalam membangun bisnis mereka. Otobiografi pengusaha-pengusaha sukses selalu mencantumkan kiat sukses mereka dalam berbisnis dengan cara membangun kerjasama antar personal dalam perusahaan dan menambah relasi bisnis dengan orang lain yang nantinya berperan dalam perkembangan bisnis mereka. Silaturahmi adalah cara terbaik yang diterapkan dalam manajemen, karena silaturahmi menciptakan lingkungan bisnis  ideal dan memiliki nilai-nilai keagamaan yang membawa pengaruh positif terhadap perusahaan dan pribadi-pribadi penggerak perusahaan.


Rabu, 25 Mei 2016

Menahan Emosi

"Jangan lagi menyuruhku untuk sabar !", tulisku saat itu. Sekilas,memang itu kalimat yang kasar bahkan terkesan saya bukan seorang muslim yang baik. Saya tidak akan menjelaskan dalil-dalil atau apa pun tentang sabar dari segi religi,karena saya sadar ilmu saya masih 'cethek'. Saya sekedar mengungkapkan istilah sabar dari sudut pandang saya.
Mengapa saya melontarkan kalimat itu? Selama ini terus terang saya jenuh ketika orang lain berkomentar sabar untuk setiap status saya (bbm) yang menggambarkan betapa jengkelnya saya menghadapi kelakuan siswa,suami dan anak. Bukan tanpa alasan, saya berteriak lewat tulisan dan memandang sinis mereka yang serta merta berkomentar sabar tanpa tahu duduk permasalahannya. Untuk saya, sabar adalah pegangan ketika saya telah bekerja keras,berusaha semampu saya namun takdir tak seperti harapan saya. Sabar adalah kunci keberanian saya dalam menghadapi masalah, ujian dan tantangan. Sabar adalah kalimat sakti ketika saya merasa rendah diri melihat keberhasilan orang lain. Untuk saya, sabar tidak berlaku ketika mengajarkan disiplin dan perilaku terpuji. Peringatan pertama tak didengar,peringatan kedua tak diindahkan,peringatan ketiga ditertawakan...apakah saya harus bersabar dengan kondisi itu? Ada kalanya marah untuk menanamkan kebaikan itu perlu. Kalau sejak dini tidak ditanamkan kebiasaan baik mau jadi apa generasi penerus bangsa ini? Percuma saja segala kecerdasan otak kalau tidak dibarengi perilaku yang santun dengan hati yang bersih. Sekali lagi, itu hanyalah sabar dari kacamata saya.

Minggu, 22 Mei 2016

Sekedar Pembelaan 
     
      Beberapa waktu lalu, saya menonton acara tentang wajib tidaknya negeri ini menebus kesalahan masa lalu. Saya tidak akan mengomentari hal itu, bukan hanya karena itu topik yang rentan, juga karena saking geregetannya saya mendengar argumen-argumen mereka yang menyebut diri "pembela" hak asasi. Daripada berpendapat yang bukan kapasitas saya, terlebih saya pun tidak mengalaminya hingga berpotensi menambah rancu duduk permasalahan lebih baik saya cukupkan sampai disini saja^^. Lanjut soal menonton, masih juga di channel yang satu itu, saya mendengar, melihat, membaca berita yang membuat saya geregetan lagi ! Untuk yang satu ini, tangan saya gatal untuk menerjemahkan pikiran yang berputar di kepala saya, apalagi ketika membaca komentar-komentar di lapak harian online seputar kasus tersebut. Tidak ada akibat jika tak ada sebab, itu poin pertama yang saya tangkap ketika mempelajari kasus pidana seorang guru yang dilaporkan walimurid karena mencubit muridnya. 
        Akhir-akhir ini banyak kasus serupa yang diekspos di berbagai media hingga memunculkan adu argumen para kometator di media sosial. Saya sebagai seorang guru, tentu sangat menyayangkan tindakan walimurid tersebut yang langsung mempidanakan perlakuan guru terhadap anak didiknya. Saya tidak membenarkan kekerasan fisik yang berdampak fatal terhadap tubuh anak didik. Pemukulan di luar batas kewajaran memang sudah seharusnya diusut dan ditindak. YAng saya sayangkan, ketika cubitan, jeweran, cukur goceng, push up, dan sanksi serupa menjadi senjata untuk menjebloskan seorang guru ke penjara. Gampang saja, bagi mereka di luar pendidik untuk berkata guru itu harus sabar dalam mendidik, berilah hukuan yang mendidik, kenakalan itu biasa, bla bla bla... tanpa pernah terjun langsung menghadapi anak didik (terlebih usia puber dengan segudang kompleksifitas). Disini saya hanya mengatakan, guru ibarat orang tua anak di sekolah, saya (kalau tidak bisa mengatakan kami) tak pernah demikian membenci seorang anak didik. Perhatian saya sebagai seorang guru, tidak hanya dalam bentuk kelembutan dalam mengajar, namun ketegasan dalam meluruskan perilaku anak didik yang menyimpang (melanggar aturan tertulis maupun tidak tertulis). Mungkin mereka yang mencemooh tindakan tegas guru, tidak mengetahui betapa kami (saya) merasa khawatir, cemas akan masa depan anak didik kami jika mereka dibiarkan berperilaku tak beretika. Kami (saya) berusaha menjaga anak didik berada di koridor menuju sukses, tak hanya dari sisi keilmuan melainkan dari segi karakter yang santun.
              Sekolah hanya berperan di sepertiga bagian pendidikan seorang anak. Tidakkah mereka sadar, jika pendidikan yang utama adalah di rumah dan lingkungan sekitar mereka ? Betapa naifnya seseorang yang berkata, "sekolah seratus persen bertanggung jawab terhadap kesuksesan (pintar dan berkarakter), kalau tidak untuk apa sekolah ?" Tak sadarkah mereka, kami hanya menerima pribadi-pribadi yang terbentuk dari pola asuh di rumah ? Diakui atau tidak, kenyatannya (di sekolah saya) anak-anak yang bermasalah sebagian besar mempunyai latar belakang keluarga berantakan, entah itu karena ditinggal orang tua bekerja sehingga tak terpantau dan kurang perhatian di rumah, anak dari keluarga broken home, anak yang tumbuh di lingkungan keluarga arogan karena material ataupun kekuasaan, atau anak yang tumbuh di keluarga tak berpendidikan religi. Kami (saya) sebisa mungkin membimbing anak-anak dengan beragam latar belakang tersebut dengan satu tujuan, menjadikan mereka orang yang berhasil di masa depan, calon penerus negeri ini yang santun dan berbudi luhur (tak seperti kebanyakan sekarang yang cuma bisa berkoar-koar tanpa solusi, kritikus handal dengan tujuan menjatuhkan seseorang tanpa mau dikritik, dan tak menunjukkan kerja nyata). 
                Betapa sombongnya orang yang berkata, " Sekarang tidak diajarkan moral, etika atau pengajarnya tidak memiliki etika ?". Siapakah anda yang berani mengeluarkan statement seolah ahli pendidikan ? Betapa kami (saya) pontang-panting mengikuti kebijakan kurikulum pemerintah,  yang walaupun masih banyak kekurangan disana-sini namun bertujuan untuk menciptakan pribadi-probadi yang berkarakter ? Saya hanya ingin membalikkan situasi, cobalah anda (yang berpendapat negatif terhadap guru) untuk berperan sebagai guru. Sadarkah kalau anda adalah guru di rumah ? Pertanyannnya, "Apakah anda tak marah, tak ambil tindakan ketika anak anda berperilaku yang tak sesuai dengan keinginan anda ? Saya sendiri sebagai orang tua, tak memungkiri kalau dalam mendidik anak saya lebih  keras daripada seorang guru di sekolah. Tak peduli disebut galak, saya hanya ingin anak saya lebih baik dari saya, menjadi orang yang mandiri, bermental baja yang santun dan religius. Karena saya memahami bahwa tuntutan di masa depan jauh lebih berat daripada zaman saya dulu, tantangan, hambatan dan godaan jauh lebih banyak sesuai dengan perkembangan zaman.
           Dengan munculnya kasus-kasus serupa, tak heran para guru menjadi takut untuk bertindak ketika menemukan pelanggaran. Guru lebih memilih bermain aman, datang ke sekolah untuk mengajar tanpa mendidik. Ketika guru dibenturkan dengan hak asasi, tak lagi diberi kewenangan untuk mengatur anak didik, yang terjadi hanyalah potret negatif perilaku anak usia pendidikan yang tidak terkontrol. 
"Pendidikan berawal dari keluarga, tanpa timbal balik dan komunikasi dua arah pendidikan di sekolah tak akan mencapai hasil maksimal."

Senin, 02 Mei 2016

Sahabat : Tak Lekang Oleh Waktu- AADC 2

Tak terasa sudah hitungan tahun  absen menulis pun mengunjungi rumah ceritaku ini. Kesibukan, tak ada sambungan internet, hanyalah alasan klise ketika tak mau menyadari bahwa jenuhlah alasan sebenarnya saya berhenti bercerita lewat tulisan di sini. Lalu, apa yang membuat saya memutuskan menambah entri baru setelah satu tahun lewat sebulan ? Sederhana saja, keinginan bercerita lagi timbul sejak minggu lalu usai mengunjungi tempat favorit yang lima tahun belakangan ini mudah dijangkau dari tempat saya tinggal. Ya...saat lelah hati, pikiran atau bahkan lelah fisik tempat ini menjadi salah satu favorit saya untuk membuang penat. Duduk diam  selama 2 jam penuh di kegelapan, tertawa, gemetar hingga menangis sedih dan gembira bersama tokoh-tokoh rekaan selalu sukses mengusir lelah walau sukses juga menguras isi dompet ^_^. Bioskop itu nama tempatnya, mungkin sekarang orang langsung menyebut merknya saja.Tak terhitung berapa jumlah film, jenis ataupun asalnya jalinan kisah yang tergambar indah mengisi memori saya sejak duduk di bangku sekolah menengah. Memang sih, setahun terakhir beberapa kali saya menghabiskan 'me time' disitu. Yang jadi pertanyaan, mengapa baru saat ini saya memutuskan untuk "ngoceh" di sini ? Film apa sih yang sedimikian hebatnya bisa membuat saya 'melek' di jam yang biasanya menjadi waktu tidur saya ? Film apa ya ? Jika melihat tanggal posting cerita ini mungkin penggemar film sudah bisa menebak. Ya...benar sekali.. AADC 2 itu judul filmnya. Film yang ditunggu-tunggu penggemar Cinta & Rangga selama 14 tahun lamanya sampai-sampai sudah ikhlas dengan mereka-reka sendiri akhir ceritanya. Bahkan saya sampai nonton 2x lho, meskipun karena ketidaksengajaan sih (panjang ceritanya dan tak perlu saya tulis ^_^). Mulanya, mungkin sama dengan yang lain saya hanya penasaran dengan akhir cerita ini. Maklumlah waktu seri pertamanya saya tidak begitu antusias bahkan hanya nonton di kamar kos teman dengan rental vcd bajakan pula, duhh !!! Ketika pertama nonton sekuelnya, entah mengapa sejak awal saya sudah merasakan ketertarikan khusus. Bukan hanya karena penampilan 'cool' si pemeran utama ya ^_^, tapi tidak tahu kenapa cerita sederhana itu begitu melekat di hati saya. Adegan demi adegan begitu menyentuh, membuat saya berulang kali mengusap sudut mata, tersenyum dan jantung berdetak lebih kencang. HIngga ketika lampu menyala, pikiran saya masih tertinggal di alur cerita. Ahh...aku ini kenapa sih, pikir saya ? Sepanjang perjalanan pulang, saya terus berpikir dan menelaah mengapa saya begitu terpikat dengan sekuel film ini. Kilasan-kilasan akting natural para pemeran berkelabatan di pikiran saya dan akhirnya saya pun menemukan daya pikatnya. Persahabatan.... ya persahabatan Cinta, Maura, Carmen, Milly dan Alya yang tak lekang oleh waktulah yang membuat saya teringat dengan pengalaman hidup saya sendiri. Saya dan sahabat-sahabat saya tak ubahnya geng Cinta di kehidupan nyata. Lebih dari 20 tahun lamanya, meskipun saya dan sahabat-sahabat saya sudah memiliki kehidupan sendiri, bahkan terpisah oleh jarak namun ikatan persahabatan masih terjaga. Bertukar kabar, mengucap salam dan selamat hingga saling menguatkan di antara kami sama persis dengan jalan cerita film ini. Persahabatan dan bukan akhir kisah Cinta & Rangga yang membuat saya terharu (bahkan saya kaget ketika akhirnya "happy ending" lho). Cinta...pada kenyataannya tak semanis AADC 2. Cinta mungkin bisa terpendam selamanya, tersimpan dalam kenangan ketika takdir berkata lain. Namun persahabatan, lebih memungkinkan menjadi realita seperti yang sudah saya alami. Gersi, Desi, Deasy, Dewi, INtan, mereka adalah Maura, Carmen, Milly dan Alya untuk saya, merekalah tempat saya bersandar ketika malu untuk merengkuh keluarga, merekalah tempat saya menghabiskan waktu dalam canda dan tawa, merekalah tempat saya berbagi cerita. Rangga... ahh saya tak seberuntung Cinta bisa mendapatkan kembali kenangan yang tersimpan 14 tahun lamanya ^_^, cukuplah mereka berdua mewakili mimpi saya yang secara logis hanya terjadi di dunia film dan novel romantis. AADC 2 mengingatkan saya akan bacaan favorit saya macam shoujo manga ataupun historical romance. Dunia rekaan yang cukup menjadi fantasi dalam tidur saat saya mengalami titik jenuh. Cerita sederhana, namun menghibur dan tak membuat saya berpikir berat. Itu....ya hanya itu alasan yang mendorong saya berkunjung ke rumah yang nyaris terlupakan ini. 
Sahabat-sahabatku... terima kasih selama ini...tak sabar berkumpul lagi di liburan mendatang. C...U...

Sabtu, 18 April 2015

Sama Dengan Yang Lain Saja

"Ojo dadi atimu yo Dek, sertifikasimu ora cair tahap iki", sebaris kalimat dalam pesan singkat itu sontak membuat hati gegana alias gelisah galau merana (kata si cita citata si ^_^). Bagaimana tidak tambahan rejeki yang diharapkan dan tentunya sudah ada planning tersendiri mau diapakan alih-alih tertunda malah lewat sama sekali. Alhasil, dua hari ini berlalu dengan emosi tak menentu, buliran air mata tak terbendung ketika ketidakberuntungan itu berkelebat dalam ingatan. Meskipun masih bersyukur roll cake yang kubuat dalam kondisi tak menentu berhasil dengan sempurna ^_^. Hmm...sebetulnya sih sejak saya mendengar bahkan ikut membantu mengerjakan sistem dapodikmen akan berlaku di tahun ini, saya sudah pesimistis akan keberlangsungan tunjangan profesional guru tersebut. Di awal tahun pelajaran seketika terbesit rasa kecewa melihat pembagian jam mengajar yang sudah pasti akan memblokir aliran tunjangan yang sudah menjadi hak saya. Komplain yang sempat terlontar sambil lalu dibarengi kekhawatiran yang memang akhirnya terjadi juga, tak kuasa menggugah penguasa untuk mencari solusi yang arif. Huftt...ya sudahlah memang rejeki sudah ada yang mengatur, yang penting sudah berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya. Dari awal proses perolehan sertifikat guru profesional pun saya sudah mengetahui kendala yang akan menghambat perolehan hak saya di masa mendatang.
Meskipun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa sebersit rasa kecewa itu ada. Rencana menempuh studi ke jenjang berikutnya sudah pasti tertunda entah untuk berapa lama. "Podo koncone wae", demikian kata suami saya setelah mengetahui berita kurang beruntung itu. Setelah dipikir panjang, benar juga nasihat ( kalau bisa disebut nasihat sih) suami saya itu. Ya, sudah lama suami saya mengingatkan (lebih tepatnya protes ^_^) akan totalitas saya di sekolah. Tugas tambahan di luar tugas pokok justru lebih menyita waktu dan stamina saya. Saya tak munafik, orang bekerja apapun profesinya pasti mengharapkan imbalan untuk menopang kebutuhan hidup. Perbedaannya hanyalah dari segi totalitas dan tanggung jawab. Demikian pula saya, bukannya menyombong tetapi saya terbiasa bekerja tidak setengah-setengah. Jadilah, tugas pokok, tugas tambahan sekaligus kewajiban personal sebagai seorang abdi negara menghabiskan pikiran dan tenaga saya. Belum lagi disiplin yang memang sudah tertanam kuat (terima kasih buat guru-guru SD-SMP ku), menjadikanku tak mau menyimpang dari aturan (baca : perintah). Nah, ketika hasil yang saya peroleh tidak sama dengan rekan-rekan lainnya mau tidak mau rasa 'dongkol' itu ada. Jika dipikir dangkal, untuk apa bersusah payah sementara menjadi biasa bahkan santai pun bisa terus melenggang tanpa hambatan berarti. 
Mungkin ini pemikiran saya yang sedang kecewa sehingga cenderung negatif. Melihat situasi di sekitar, ternyata program tunjangan profesional  itu kurang mencapai sasaran. Saya dan rekan-rekan dibebani dengan seabrek persyaratan administrasi sehingga konsentrasi ke peserta didik berkurang. Tujuan meningkatkan profesionalisme lebih banyak diabaikan, hasilnya sebagian besar adalah peningkatan gaya hidup semata. Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan rekan, contoh kecil bisa saya ambil dari tugas tambahan saya sebagai pengelola perpustakaan. Rekan yang mau membeli buku penunjang mapel bisa dihitung dengan jari. Sebagian besar mengandalkan materi yang tersedia di perpustakaan, atau kalau tidak ada sekedar berpegangan pada lembar kerja siswa. Hari 'gini' mana ada yang mau mengampu mapel di luar sertifikatnya karena tidak bisa dihitung jam. Oh itu hanya sebagian kecil penyimpangan saja. Saya justru merasa prihatin dengan nasib para honorer yang pendapatannya jauh di bawah abdi negara sementara beban mereka sama bahkan lebih. Sekali lagi ini hanya ungkapan dari 'barisan sakit hati'saja. Sudah bersusah payah belajar, mencari referensi dan inovasi untuk mengajar mapel di luar sertifikasi, plus sendirian mengelola perpustakaan sebagai salah satu solusi kekurangan jam mengajar, ditambah permintaan bantuan lainnya yang menyita waktu (walau dulu saya dengan senang hati membantu), dan urusan karir yang harus dijalani (wajib dan tambah ruwet prosesnya), datang lebih awal pulang di luar jadwal (buka pintu tutup pintu alias seharian di kantor) ternyata belum disebut profesional. Alih-alih dapat tunjangan malah distop karena jam mengajar tidak linier. Huft...kalau begini lebih baik berlaku sama saja dengan yang lain. Datang saat bel berdentang, pulang sesudah tak ada jadwal, tidak masuk saat nol jam, mengajar tanpa beban, memberi nilai tanpa melihat real dan tanpa beban tambahan (kalau pun ada dikerjakan sekenanya terutama kalau kerja ikhlas). Iya toh...berlaku seperti itu saja dapat lebih, apalagi saya yang tidak ada lebihnya mendingan bersikap sama saja yang penting kewajiban pada peserta didik terpenuhi dengan maksimal, di luar itu mulai sekarang sama dengan yang lain saja.