Jumat, 01 Agustus 2008

Molto Grazie


Kamis sore, udara panas membuatku terkantuk-kantuk di depan televisi. Baru beberapa detik aku melancong ke alam mimpi, aku terbangun mendengar suara akrab yang memang sedang kunantikan. Setengah pusing aku menyambut kedatangan sahabatku yang sudah cukup lama tidak kutemui. Kantuk yang membuat berat kelopak mataku hilang seketika, tersapu oleh perasaan senang yang meluap ketika berkumpul kembali dengan kawan lama. Reuni ini memang sangat spesial untukku. Teman seperjuangan sejak dulu ini membawa impian kami menjadi sebuah kenyataan yang manis. Daratan Eropa khususnya Italia selalu menjadi impianku. Sejarah, arsitektur, bahasa, opera dan tak ketinggalan Lega Calcio-nya menarik perhatanku sejak dulu. Kemegahan gereja maupun kastil-kastil bersejarah dan karya-karya seni yang tak ternilai selalu membuatku terpesona. Kekagumanku yang tak terhingga ini mendorongku untuk giat mencari informasi seputar negeri Pizza itu. Berbagai buku-buku, film dan artikel yang menyinggung negeri asal difensore favoritku ini kukoleksi dengan rapi. Bahasa Italia yang bagiku sangat indah di telinga juga berusaha kupelajari meski tanpa bantuan siapapun. Lagu-lagu opera yang asing juga menjadi hiburanku saat aku harus berkutat dengan tugas-tugas berat di masa kuliah. Andrea Bocelli, Luciano Pavarotti, Jose Careras, Sarah Brigthman, Josh Groban, Russel Watson, Charlotte Church dan yang teranyar PAtrizio Buanne, vokal tenor dan sopran mereka selalu mengharu biru perasaanku. Misa Natal dari Vatican adalah acara yang tak pernah absen kutonton. Kemegahan Basilika San Pietro, keramaian di piazza Barberini, mahakarya Michaelangelo dan Bernini membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku dari layar televisi. Indahnya kota Roma dengan berbagai tempat wisata rohaninya membuatku bermimpi untuk berkunjung ke sana suatu saat nanti. Kota air Venezia menjadi impian romantisku dengan gondola-gondola yang menyusuri kanal-kanal di antara palazzo nan megah. Selama ini Italia bagaikan mimpi yang tak terwujud. Bersyukur di antara kami para pemuja seni dapat mewakili impian bersama untuk menginjakkan kaki di tanah asal opera La Traviata, Madam Butterfly dan kisah-kisah romantis lainnya itu. Tiga jam sangatlah pendek untuk menceritakan pengalaman-pengalaman tak terlupakan di Italia. Tiga bulan juga teramat singkat untuk mengenal Italia. Kisah-kisah menarik akan keindahan Italia membuatku terkesima. Ternyata semua yang kami lihat selama ini tidak sanggup untuk menggambarkan keindahan Italia yang sesungguhnya. Wah, andai aku menyaksikan dengan mataku sendiri, pasti aku akan menangis saking bahagianya. Tak terasa hari sudah semakin sore, sahabatku pun bersiap untuk kembali ke rutinitasnya. Tak lupa bingkisan cantik disodorkan kepadaku yang memang selalu kutagih >_< Dengan berdebar-debar kubuka oleh-oleh dari Italia yang terbungkus kertas pink itu. Aku senang sekali mendapatkan kartu-kartu pos cantik berlatar belakang kota Roma, miniatur menara Pisa yang anggun dan magnet-magnet kecil yang merangkai sebuah nama favoritku "NESTA". Sahabatku ini juga ingat akan kecintataanku pada buku. Il Mistero dell'acqua scomparsa kini menjadi salah satu koleksiku yang berharga. Molto Grazie, Signorina ! Aku tak bisa mengungkapkan kebahagiaanku dengan kata-kata indah. Hanya terima kasih tak terhingga yang bisa kuucapkan atas keberhasilanmu membawa impian ke negeri yang jauh. Terima kasih juga kuberikan atas usahamu sehingga pesan cintaku untuk seseorang di Milan tersampaikan. Grazie, semuanya akan kujaga dengan baik. Semoga kelak aku dapat menyusulmu untuk mengagumi indahnya Italia.

Alhamdulillah


"Dilarang mandi di laut" Kata-kata yang selalu terpampang di setiap pantai selatan pulau Jawa ini memang bukan main-main. Apalagi gelombang di laut jawa sedang berada dalam taraf membahayakan. Pada kenyataannya banyak wisatawan pantai yang tak mengindahkan larangan ini. Bukan ke laut namanya jika tidak basah terkena air asin. Memanfaatkan waktu liburan, aku beserta keponakan-keponakan kecilku bertualang ke pantai Ayah yang terletak di desa Ayah, Kebumen. Bertujuan untuk memuaskan keinginan bocah-bocah gunung yang ingin melihat laut, dengan riang gembira kami yang lebih tua mengawal kelima kanak-kanak ini bermain pasir di pantai. Mengambil posisi agak jauh dari tepi air, tiga bocah di bawah sepuluh tahun ini bersama-sama membangun sebuah istana pasir. Tiba-tiba alunan ombak kecil datang dari laut lepas. Bermaksud memberi peringatan ibu mereka bergegas menghampirinya. Tak dinyana dalam hitungan detik ombak menerjang dengan kekuatan lumayan dasyat. Tanpa ampun ombak menyeret dua keponakan laki-lakiku ke tengah laut. Mengikuti naluri seorang ibu, saudara tertuaku pun mengejar keduanya, berusaha menarik mereka ke tepian. Sontak doa-doa mengalir deras dalam batinku. Disaat diri tak kuasa menolong karena sedang menghadapi perjuangan yang tak kalah mematikannya, hanya Allah SWT-lah tempatku memohon perlindungan. Rasa takut dan putus asa berbaur dengan keteguhan hati saat melihat ketiga kerabatku berguling-guling, berusaha berdiri namum selalu terhempas ke dasar laut, seakan laut tak rela mereka kembali pulang. Beruntung masih ada orang-orang yang baik hati memberikan pertolongan. Tanpa pikir panjang seorang bapak yang kebetulan juga sedang menikmati keindahan pantai bergegas terjun ke laut. Beberapa menit penuh ketegangan akhirnya terlampui dengan selamat. Aku yang juga sukses melewati hantaman ombak sembari menggendong anak usia dua tahun bergegas menuju kerumunan di sisi pantai yang lain. Suara-suara gemetar saling bersautan berebut cerita dan puji syukur kepada Yang Maha Kuasa. Alhamdulillah, mereka masih diberi selamat oleh Allah SWT. Meski handphone rusak berat, nyawa ketiganya selamat dan lebih beruntung lagi tas yang berisi dompet, uang dan surat-surat berharga terdampar di pasir, tak jauh dari tempat kami berdiri. Masih diliputi ketakutan dan sedikit syok, kami kembali ke mobil, sebisa mungkin membersihkan dan memberikan pertolongan pertama untuk ketiga anak yang berlumur pasir dan gemetar kedinginan dengan mata terbelalak penuh teror. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang, tak ingin trauma berkepanjangan menaungi mereka. Lokasi wisata pun berganti ke tempat yang lebih aman dan sesuai dengan anak-anak seusia mereka. Pengalaman ini sangatlah berharga untuk dijadikan contoh bagi semua pecinta laut. Selalu waspada terhadap datangnya ombak meski kelihatan tak seberapa kekuatannya adalah peraturan pertama jika ingin selamat. Bahkah nelayan pun tak bisa memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di laut lepas. Ngomong-ngomong tentang nelayan, ada sekelumit cerita tak sedap yang sempat mampir ke benakku. Dimana mereka saat kami membutuhkan pertolongan ? Padahal tukang perahu sekaligus nelayan ini berdiri tak jauh dari lokasi tempat ketiga anak itu tenggelam. Bahkan turis-turis domestik yang berkerumun memberikan pertolongan atau sekedar menonton menyatakan bahwa mereka yang pertama kali melihat kejadian ini. Para penduduk lokal itu baru turun tangan setelah ketiganya dipastikan selamat tanpa cedera yang berarti. Pertanyaan ini sangat menggelitik pikiranku. Setelah mengobrol panjang lebar dengan beberapa orang, jawaban pertanyaan ini muncul begitu saja. Legenda sang ratu penguasa pantai selatan yang hingga kini masih dipercayai terutama oleh penduduk di sepanjang pesisir selatan pulau Jawa menjadi alasan tersendiri. Menurut penduduk setempat pantai-pantai selatan selalu meminta "korban" dalam jangka waktu tertentu. Tak terkecuali dengan pantai yang juga akrab disebut dengan pantai Logending ini. "Sudah lama tak ada orang hilang di laut", begitu kata seorang ibu penjual minuman yang sangat baik hati menolong kami. Menurut mitos yang beredar, jika laut ingin membawa seseorang bersamanya, menolong merupakan hal yang tabu. Nyawa si penolonglah yang menjadi taruhannya alih-alih si korban. Mendengar cerita ini, aku merasa merinding teringat satu pantangan yang katanya tidak boleh dilanggar jika sedang berada di laut selatan dan kebetulan saat itu aku mengacuhkannya. Bukannya disengaja, tapi aku betul-betul tidak ingat akan peraturan tak tertulis ini. Untunglah atribut serba merahku tidak membawa petaka seperti mitos selama ini. Percaya atau tidak, banyak pelajaran berharga yang bisa kupetik dari kejadian ini. Mungkin untuk sementara waktu ini aku belum berani untuk bermain-main di laut. Mahir berenang menjadi obsesiku sekarang. Aku juga harus lebih menempa keteguhan hati di waktu-waktu yang akan datang. Kemampuan untuk bergerak dengan cepat dan penuh perhitungan juga menjadi PR-ku di masa mendatang. Sekali lagi kuucapkan syukur Alhamdulillah kepada Allah, tak lupa beribu terima kasih pada mereka yang telah menolong kami dengan iklas.

Selasa, 29 Juli 2008

B for Best Class




Seorang guru semestinya tidak pilah pilih murid, tetapi sebagai seorang pribadi yang sarat emosi adalah hal yang wajar jika punya satu atau beberapa murid favorit. Selama tiga tahun aku mengajar baru kali ini aku menemukan kelas idaman. Setelah kenyang menghadapi murid-murid dengan bermacam-macam tingkah yang membuat depresi, sekarang aku seakan mendapat jackpot. Kualitas sekolah tempatku kini berkarya memang jauh lebih unggul daripada sekolahku dulu. Tentu saja murid-muridnya pun berbeda. Bukan dalam hal kecerdasan tetapi dalam kedisiplinan dalam belajar. Meskipun ada sebagian kecil yang mengingatkanku pada mantan murid-muridku dulu, bisa dikatakan murid-murid baruku ini adalah murid idaman. Penampilan rapi, ramah dan sopan kepada orang yang lebih tua menambah nilai plus pada mereka yang memang pada dasarnya manis-manis. Sekali lagi guru juga manusia, di antara sekian kelas yang kumasuki tetap ada yang menjadi kelas favoritku. Favorit bukan berarti kelas itu dianakemaskan atau diberi perlakuan berbeda dari kelas lainnya. Kelas favorit adalah kelas dimana aku selalu semangat jika tiba saatnya untuk mentransfer ilmuku pada generasi berikutnya. Sebetulnya kelas ini tidak jauh berbeda dengan kelas lainnya. Kegaduhan yang menjadi ciri khas anak yang menginjak usia remaja juga mewarnai kelas ini. Aku nyaris berteriak jika berbicara, bersaing dengan gumaman hingga pekik nyaring dua puluh lima anak penghuni kelas ini. Namun ada yang berbeda dalam usahaku mengkondisikan kelas kali ini. Jika dulu aku hampir selalu meledak marah saat kelas bising, di kelas ini entah mengapa aku tidak pernah kehilangan kontrol. Aku selalu kembali tertawa melihat tingkah konyol beberapa anak di kelas ini. Keberadaan beberapa anak juga membuatku semakin betah berada di kelas.Ya, keajaiban kelas ini seolah tak ada habisnya. Sejak dulu aku selalu menyukai anak-anak yang pintar. Mereka selalu mengingatkanku pada masa-masa sekolahku dulu. Sebagai seorang guru aku selalu menuntut supaya murid-muridku rajin belajar sehingga bisa memahami apa yang sudah dipelajari di bangku sekolah. Aku selalu merasa bersalah dan kesal jika mereka tidak memperoleh nilai yang diharapkan. Tapi entah kenapa hal itu tidak terjadi di kelas ini. Meskipun sebagian besar dari penghuni kelas ini tidak begitu pintar, hal itu tidak membuatku merana. Celoteh yang seolah tak ada habisnya sepanjang pelajaran tak pernah menyulut emosiku. Aku bahkan turut tertawa dan bercanda dengan mereka hingga aku merasa jengah karena kebisingan ini mengganggu kelas lain. Gelak tawa dan canda ria ini hampir tidak terasa di kelas lain yang kumasuki. Di kelas tertentu aku bahkan merasa bosan dan cenderung tidak suka jika suasana kelas terlalu riuh. Kucoba menganalisa apa yang terjadi pada diriku. Aku pun bertanya kepada rekan lain berusaha mencari penyebab semua ini. Selidik demi selidik ternyata munculnya kelas favorit ini bukan berasal dari perasaan pilih kasihku semata. Aku menyadari bahwa di tengah kegaduhan sepanjang mereka belajar tidaklah seratus persen melenceng dari materi pelajaran. Murid-murid kelas ini selalu sadar kapan waktunya mereka bercanda dan kapan waktunya serius. Tak mengherankan jika hasil belajar kelas ini pun lebih tinggi daripada kelas lain meskipun rata-rata kecerdasan mereka seimbang dengan dengan kelas lainnya. Murid-murid di kelas ini membuat kelas selalu santai namun kondusif untuk belajar. Hampir tidak ada celetukan tak sopan yang muncul. Mereka betul-betul memahami perlunya menghormati orang yang lebih tinggi posisinya. Kelas ini menyajikan kenyamanan layaknya sebuah rumah yang hangat bagi penghuninya. Aroma persaudaraan terasa begitu kental di kelas ini. Kelas ini akan selalu membuatku merindukannya kelak, ketika tiba saatnya untuk mengucapkan 'Ja mata ne '. Best Class, tetaplah menjadi kelas favoritku dan semoga kalian dapat menempuh masa sekolah ini dengan baik dan mendapatkan hasil yang baik pula. Bukan hanya nilai yang maksimal tapi jadilah pribadi yang hangat, bijaksana dan sukses selalu.

Sabtu, 19 Juli 2008

Entertainment Untuk Anak


Sejak dimulainya ajang pencari bakat menyanyi Indonesian Idol, pihak RCTI memanfaatkan booming reality show ini dengan membuat show serupa dengan sasaran anak-anak usia 8 hingga 12 tahun. Show yang membidik peserta anak-anak ini bertajuk Idola Cilik. Idola Cilik seperti kontes-kontes serupa lainnya menampilkan sekelompok anak yang unjuk kebolehan dalam olah vokal. Penampilan peserta dinilai oleh komentator terpilih dan saling bersaing perolehan sms dari pemirsa. Idola Cilik 2008 sudah mencapai babak Grand Final yang menyisakan dua finalis yaitu Kiki dan Angel. Kiki dan Angel dinilai paling pantas untuk menjadi pemenang. Kiki mempunyai warna suara yang halus dan mampu membuat hati terenyuh. Angel, berbekal teknik yang bagus dan suara dengan power luar biasa mampu memikat penggemar. Idola Cilik menjadi angin segar di dunia hiburan saat ini ketika musik seolah hanya milik remaja dan dewasa. Sayangnya lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para calon idola ini kurang pas untuk dibawakan oleh anak seusia mereka. Memang ada beberapa lagu yang bisa disesuaikan konteksnya seperti lagu Ku Cinta Kau Apa Adanya milik Once yang dipresentasikan sebagai cinta kepada ayah oleh Kiki. Tetapi sebagian besar lagu anak band yang dinyanyikan agak terlalu dipaksakan. Kemeriahan grand final sabtu 12 Juli lalu agak sedikit pudar jika mencermati lagu yang dibawakan dua finalis terakhir. Penampilan Kiki dengan lagu milik Padi dan You Raise Me Up bareng Delon cukup baik, konteks lagunya pun masih bisa diterima untuk dinyanyikan oleh anak seusia Kiki. Namun tidak demikian halnya dengan Angel. Lagu Sang Dewi yang dinyanyikan olehnya dengan penuh penghayatan kurang cocok untuk anak seusianya. Alasan di balik pemilihan lagu SAng Dewi ini memang masuk akal yaitu memiliki tingkat kesulitan tinggi, tapi bukankah masih banyak lagu lain yang memiliki kesuliatan serupa ? Lagu Kembang Perawan milik Gita Gutawa misalnya, atau lagu-lagu Billy Gilman yang cukup sulit dan benar-benar diperuntukkan untuk anak-anak dan remaja. Pemilihan lagu-lagu anak band maupun penyanyi senior lain oleh para idola cilik ini didukung dengan kurangnya lagu-lagu anak saat ini. Hampir tidak ada penyanyi cilik yang mengeluarkan single yang bisa menjadi hits seperti Joshua, Enno Lerian, Puput Melati, atau penyanyi cilik lain yang dulu populer. Setelah era Sherina, dunia musik Indonesia hanya mempunyai Gita Gutawa yang bisa dikategorikan penyanyi cilik kalau bukan remaja. Kurangnya musik anak-anak ditengarai dengan banyaknya murid-murid sekolah dasar bahkan taman kanak-kanak yang sangat fasih menyanyikan Racun Dunianya Changcuters daripada lagu Naik-naik ke Puncak Gunung. Dunia hiburan kita memang lebih terfokus untuk orang dewasa. Musik, berita, sinetron dan film jarang sekali menampilkan materi untuk anak. Untunglah, masih ada beberapa publik figur yang peduli dengan kebutuhan hiburan untuk anak-anak. Rumah produksi Alenia misalnya, setelah sukses dengan Denias dan Liburan Sekolah kini mulai meningkatkan produksi film yang ditujukan untuk pangsa pasar anak-anak dan pendidikan. Demikian juga dengan stasiun televisi, Trans 7 membuat terobosan baru dengan memproduksi Jalan Sesama yang diadaptasi dari Sesame Street. Berawal dari kisah Si Bolang, Trans 7 mulai melaju dengan Laptop Si Unyil dan yang paling terbaru adalah entertainment education Jalan Sesama. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, tidak bisa dinomorduakan begitu saja. Seperti orang dewasa, anak-anak pun butuh hiburan yang berkualitas. Musik, film, buku juga menjadi bagian dari dunia anak-anak.

Kamis, 17 Juli 2008

Bisnis di Balik Selubung


Menjelang pemilu 2009 banyak tokoh-tokoh politik mulai beraksi di layar kaca. Berbagai iklan yang berisi kegiatan amal, buah pikiran dan harapan tokoh-tokoh lama dan baru bergantian muncul di sela-sela acara televisi. Demikian pula dengan para cagub atau cabub yang sedang giat berkampanye agar mereka terpilih berlomba-lomba memaparkan visi, misi dan janji-janji manis. Setelah berulang kali tertipu dengan janji-janji yang dilontarkan para pimpinan di masa lalu, masyarakat kini cenderung apatis dengan segala yang berbau pemilu. Di tengah kondisi yang serba sulit saat ini, hampir sebagian besar elit politik memanfaatkan krisis keuangan yang tengah terjadi di masyarakat. Label gratis menjadi trade mark para calon pemimpin untuk menghimpun suara. Kesehatan dan pendidikan gratis menjadi iming-iming utama yang menjanjikan. Yah, di zaman apa-apa yang serba duit, gratis bahkan diskon berapapun besarnya selalu menjadi rebutan. Apakah kelak janji gratis tersebut dapat terwujud ? Menilik dunia pendidikan saat ini rencana sekolah gratis niscaya mustahil bisa dilakukan. Beberapa waktu lalu pemerintah giat mensosialikan adanya dana BAntuan Operasional sekolah (BOS) yang diharapkan dapat membantu masyarakat kurang mampu agar tetap bisa mengenyam pendidikan sembilan tahun. Pada kenyataannya, jarang sekali sekolah baik SD maupun SMP yang sama sekali tidak menarik sumbangan pendidikan. Bahkan di beberapa sekolah tertentu justru mewajibkan iuran bulanan yang jika digabung dengan dana BOS menjadi jumlah yang cukup fantastis mengingat jenjang, lokasi dan fasilitas sekolah tersebut. Di daerahku misalnya, aku tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Aku seringkali mendengar keluh kesah orang tua yang mempunyai anak-anak usia sekolah. Untuk masuk di bangku sekolah dasar saja, mereka harus menyiapkan dana sekitar satu juta rupiah untuk mengisi beberapa pilihan sumbangan sukarela, belum ditambah biaya seragam, spp, buku dan perlengkapan sekolah lainnya. Demikian pula untu bisa duduk di bangku SMP dan SMA, setiap anak harus mengeluarkan jutaan rupiah dalam sekali bayar. SMP dan SMA zaman sekarang mulai mengikuti sistem perkuliahan yaitu membayar spp tiap semester. Tak heran jika banyak orang tua yang pusing dan harus pontang-panting mencari rupiah demi sekolah anak-anak mereka. Sekolah menarik biaya yang cukup besar dengan alasan untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar atau untuk operasional sekolah yang tidak bisa tertutup jika hanya mengandalkan BOS saja. Sekolah memungut sumbangan adalah hal yang wajar. Tetapi apa yang terjadi sekarang kukira sudah kelewat batas. SPP yang dulu biasa dibayar tiap bulan sekarang harus dibayar kontan selama satu semester (enam bulan) ditambah dengan biaya lain-lain. Kalau dulu orang tua murid bisa sedikit bernapas lega dengan mencicil setiap bulan, sekarang mereka harus berusaha memperoleh sejumlah besar uang dalam waktu yang hanya beberapa hari saja. Setelah berhasil lolos tahap awal, orang tua masih belum bisa bersantai. Biaya sekolah untuk sehari-hari bahkan lebih berat lagi. Uang transpor dan jajan anak per hari, uang untuk membeli buku-buku pegangan tambahan, biaya untuk mengerjakan tugas sekolah, biaya memanggil guru privat dan masih banyak pengeluaran lainnya. Biaya-biaya tersebut jumlahnya semakin meningkat dengan label sekolah favorit tak peduli apakah sekolah itu milik pemerintah atau swasta. Sekolah pun berubah menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Banyaknya rupiah yang masuk tak sebanding dengan fasilitas yang bisa dimanfaatkan para siswa. Beberapa sekolah bahkan cenderung berhura-hura membuang dana saking bingungnya mau dikemanakan dan harus diapakan dana yang tersimpan di rekening sekolah. Ironis sekali, sekolah yang bertujuan mencerdaskan anak bangsa justru menjadi bumerang menyebabkan lemahnya mental dan kepribadian anak. KKN yang sedang gencar-gencarnya diberantas justru semakin meluas di balik tembok sekolah. Sungguh menyedihkan bagi anak-anak yang cerdas tapi tak mampu melanjutkan pendidikan di bangku formal karena tak ada biaya. Jangan heran jika anak-anak sekolah tak begitu memusingkan belajar. Asal ada uang, apapun beres.

Kembali Ke Masa Lalu



Hari Senin selalu menjadi hari penuh harapan. Senin adalah hari dimulainya petualangan baru untuk enam hari ke depan. Senin juga hari yang berat, setelah cukup bersantai di hari Minggu tubuh dan pikiran harus kembali ke aktivitas rutin. Biarpun demikian hari Senin selalu kumulai dengan semangat baru, khususnya Senin, 14 Juli yang lalu. Setelah bingung dan gundah karena belum punya tempat bernaung, akhirnya kutemukan juga secercah harapan meski hanya untuk sementara. Udara dingin nan mengigit di pagi hari tak mematahkan semangatku, dengan riang dan sedikit berdebar aku menapakkan langkah menuju tempat yang sudah lama tak kujamah. Sejak dulu aku sangat menyukai tempat ini. Tiga tahun lamanya aku menghabiskan masa remajaku di gedung tua megah bersama teman-teman sepermainanku dulu. Sepuluh tahun berlalu, sekolahku ternyata masih seperti dulu. Ruang-ruang kelas yang lapang, kantin yang kecil tapi bersih juga toilet yang selalu kusambangi tiap jam istirahat. Sebuah gedung baru segera menarik perhatianku. Betapa senangnya aku melihat gedung itu berisi buku-buku yang selama ini menjadi hobiku. Dengan agak malu aku memasuki ruangan di ujung halaman yang sekarang menjadi tempatku menghabiskan waktu di siang hari. Aku terkejut bercampur girang ketika disambut oleh beberapa muka lama yang selalu kuhormati. Wajah dan penampilan bapak dan ibu guruku tak jauh berbeda dari saat beliau-beliau ini memberi pelajaran padaku dulu. Senyum lebar menghiasi wajah-wajah yang sedikit menua tapi tetap menunjukkan tekad berjuang. "Selamat bergabung, Nak !", kalimat itu membuatku terharu saat mereka mengucapkannya dengan tulus. Melihat beliau para guru yang bersemangat memulai tahun ajaran baru, mau tak mau aku ikut tertular tekad berkarya mereka. Hari pertama aku masuk ke kelas, aku sungguh dibuat tertegun. Setelah tiga tahun aku berkutat menahan emosi di tengah murid-murid yang sulit untuk dibimbing, sekarang aku betul-betul dibuat takjub. Bagaimana tidak ? Anak-anak usia 12-15 tahun yang sedang masa puber dan biasanya sulit diatur, begitu mereka memasuki ruang kelas semua tingkah serampangan di luar sekolah berubah drastis. Dengan penuh hormat mereka menyapa bapak dan ibu guru, mendengarkan pelajaran dan nasehat dari orang yang lebih tua dan dengan senang hati bahkan berebut mengerjakan perintah guru. Saat ini aku merasa bangga bahwa aku alumni dari sekolah ini. Banyak orang tak memahami mengapa aku dulu menuntut ilmu di tempat yang tidak sesuai dengan keyakinanku. Tak sedikit pula yang mencemooh dan melecehkan sekolahku yang memang bukanlah sekolah favorit yang beranggotakan anak-anak teladan. Ketika kini aku kembali ke sekolah ini dengan posisi yang berbeda, aku mulai memahami alasan dulu aku merasa betah di sini. Disiplin adalah sumber dari semua keteraturan yang ada di sekolahku ini. Disiplin menyebabkan komitmen semua penghuni sekolah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Cinta kasih dalam persaudaraan merupakan akar dari keakraban yang terjalin di sekolahku. Walaupun di dalam kelas kami adalah guru dan murid, di luar kelas berubah menjadi orang tua kedua, teman, dan partner yang saling mengasihi. Tak heran jika suasana kelas sangat kondusif, lingkungan bersih dan rapi, sangat nyaman untuk menghabiskan enam jam di pagi hingga siang hari. Aku serasa bernostalgia ke masa lalu saat ini. Kenangan-kenangan indah dan yang menyedihkan kembali berkelebat dalam benakku. Murid yang baik, penurut meski sedikit nakal dan berisik itulah murid impianku selama ini. Tidak penting lagi bahwa mereka kurang pintar atau sedikit lambat dalam berpikir. Sudah banyak bukti terpapar bahwa dengan disiplin dan keuletan siapapun bisa berhasil. Alagkah bahagianya jika aku dapat terus berkarya di sini, berjuang bersama pendahuluku untuk mencerdaskan dan mengantarkan murid-murid di sini menuju masa depan mereka.

Sabtu, 12 Juli 2008

Mistis yang misterius


Kisah seputar selebritis sangatlah asyik untuk disimak. Berbagai cerita baik menyenangkan atau gosip-gosip miring seputar artis selalu menjadi bahan pembicaraan yang tak pernah usai. Seperti saat ini, berita gonjang-ganjing rumah tangga pedangdut Cristina santer dibicarakan. Retaknya pernikahan Cristina dengan anggota dewan yang sedang kesandung kasus korupsi ini memang sudah bukan hal baru lagi. Sejak awal pernikahan, hingga gugatan cerai yang berakhir dengan rujuk kembali dan sekarang Cristina kembali melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama. Kawin cerai di kalangan artis memang telah menjadi gosip usang, tetapi kisah perceraian Cristina dengan Al Amin menjadi menarik untuk disimak dengan adanya isu campur tangan dunia lain. Pengakuan saudara Al Amin di infotainment yang menyatakan bahwa ada peran mistis dengan kembali Cristina ke pelukan suaminya dahulu menambah hangat kisah sedih bulan ini tersebut. Istilah cinta ditolak dukun bertindak ternyata masih berlaku di era digital sekarang. Mungkin sebagian besar orang tidak percaya akan dunia mistis. Namun pada kenyataannya, mistis masih berperan besar dalam kehidupan sehari-hari entah di kalangan rakyat bawah maupun di jajaran publik figur. Berita artis yang melakukan ritual khusus demi kelanggengan kesuksesannya banyak bermunculan di media. Peran serta dunia mistis di ruang lingkup pekerjaan, percintaan, masyarakat maupun dunia usaha nampaknya mulai meluas. Baru-baru ini aku mendapat kisah menarik yang bila disimak sulit untuk mempercayainya. Ada seorang ibu yang sudah dua tahun ini merasakan sakit di punggungnya. Setelah berobat ke dokter, beliau dinyatakan menderita asam urat. Dengan penuh harap supaya sembuh ibu itu pun melakukan semua petunjuk dokter. Menghindari makanan tertentu, minum obat maupun ramuan tradisional sudah dilakoninya. Tetapi derita sakit punggung tidak kunjung reda, bahkan mulai menjalar hingga lengan dan kaki. Suatu ketika, ibu itu bertemu dengan seorang tetangga baru yang sedang duduk di depan rumah. Setelah ngobrol sebentar, tetangga itu menanyakan tentang sakitnya, dan meminta ibu itu menyediakan sebutir telur ayam. Dengan kebingungan, ibu itu memenuhi permintaaan aneh itu, dan dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan tetangga baru itu. Telur yang telah dimantrai dengan doa itu, diusapkan ke sepanjang lengan sang ibu, kemudian si ibu disuruh untuk memecahkan telur itu. Masih dengan bingung dan heran, si ibu kemudian memecah telur dan menuang isinya ke dalam mangkuk. "Lihatlah !", kata si tetangga. Si ibu menunduk, mengarahkan matanya ke isi mangkuk, dan semakin heranlah ibi itu ketika di dalam mangkuk tidak hanya berisi telur tapi juga ada sebatang jarum dengan benang di kaitannya. Tetangga itu pun menjelaskan bahwa, apa yang terjadi itu bukan sulap, melainkan ada seseorang yang menaruh dendam pada si ibu dan berusaha membuat ibu itu menderita dengan bantuan orang pintar. Ibu itu semula tidak percaya, namun setelah melihat dengan mata kepala sendiri telur yang ternyata berisi jarum yang katanya semula tertanam di lengan kirinya, mau tak mau ia percaya. Apalagi setelah kejadian itu secara ajaib sakit "rematiknya" sembuh. Ya, kalau tidak menyaksikan atau mengalami sendiri setiap orang pasti tidak akan percaya. Aku pun demikian, hingga setelah cerita pengalaman ibu itu ternyata aku masih menemui cerita lain yang serupa. Aku terpana dengan adanya silet, paku, belatung, jarum dan benda lain yang mustahil ada dalam tubuh satu demi satu bermunculan setelah dilakukannya ritual tertentu. dan yang paling aneh, benda-benda tersebut tidak bisa dideteksi dengan X-ray. Tak heran jika orang yang terkena guna-guna menderita sakit berkepanjangan tanpa tahu penyebabnya secara medis. Menggunakan bantuan mistis untuk memperlancar usaha, menambah karisma mungkin masih dimaklumi olehku. Tapi, mengguna-gunai orang dengan alasan sesepele apapun sangatlah tidak masuk akal. Dendam, cemburu, sakit dan iri hati menurutku tidak cukup untuk dijadikan alasan agar seseorang menderita hingga ajal menjemput. Apakah manusia tidak mempunyai hati nurani hingga ia tega merusak hidup orang lain betapapun menyebalkannya orang itu ? Dan yang terpenting siapakah orang itu, hingga ia berhak menentukan sakit dan sehatnya atau hidup dan matinya orang lain ? Seseorang pernah berkata kepadaku, bahwa orang yang melakukan perbuatan jahat tersebut akan menerima hukumannya kelak di neraka jahanam dan itu sudah ada hukumnya dalam Al Quran dan Hadits. Pernyataan itu semakin membuatku semakin heran pada orang yang berani melanggarnya. Berdiskusi tentang alasan seseorang mengerjai orang lain lewat bantuan mistis seakan tak ada habisnya. Uang selalu menjadi salah satu penyebab timbulnya pikiran jahat. Di zaman serba susah ini, memang rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.