Jumat, 01 Agustus 2008

Molto Grazie


Kamis sore, udara panas membuatku terkantuk-kantuk di depan televisi. Baru beberapa detik aku melancong ke alam mimpi, aku terbangun mendengar suara akrab yang memang sedang kunantikan. Setengah pusing aku menyambut kedatangan sahabatku yang sudah cukup lama tidak kutemui. Kantuk yang membuat berat kelopak mataku hilang seketika, tersapu oleh perasaan senang yang meluap ketika berkumpul kembali dengan kawan lama. Reuni ini memang sangat spesial untukku. Teman seperjuangan sejak dulu ini membawa impian kami menjadi sebuah kenyataan yang manis. Daratan Eropa khususnya Italia selalu menjadi impianku. Sejarah, arsitektur, bahasa, opera dan tak ketinggalan Lega Calcio-nya menarik perhatanku sejak dulu. Kemegahan gereja maupun kastil-kastil bersejarah dan karya-karya seni yang tak ternilai selalu membuatku terpesona. Kekagumanku yang tak terhingga ini mendorongku untuk giat mencari informasi seputar negeri Pizza itu. Berbagai buku-buku, film dan artikel yang menyinggung negeri asal difensore favoritku ini kukoleksi dengan rapi. Bahasa Italia yang bagiku sangat indah di telinga juga berusaha kupelajari meski tanpa bantuan siapapun. Lagu-lagu opera yang asing juga menjadi hiburanku saat aku harus berkutat dengan tugas-tugas berat di masa kuliah. Andrea Bocelli, Luciano Pavarotti, Jose Careras, Sarah Brigthman, Josh Groban, Russel Watson, Charlotte Church dan yang teranyar PAtrizio Buanne, vokal tenor dan sopran mereka selalu mengharu biru perasaanku. Misa Natal dari Vatican adalah acara yang tak pernah absen kutonton. Kemegahan Basilika San Pietro, keramaian di piazza Barberini, mahakarya Michaelangelo dan Bernini membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku dari layar televisi. Indahnya kota Roma dengan berbagai tempat wisata rohaninya membuatku bermimpi untuk berkunjung ke sana suatu saat nanti. Kota air Venezia menjadi impian romantisku dengan gondola-gondola yang menyusuri kanal-kanal di antara palazzo nan megah. Selama ini Italia bagaikan mimpi yang tak terwujud. Bersyukur di antara kami para pemuja seni dapat mewakili impian bersama untuk menginjakkan kaki di tanah asal opera La Traviata, Madam Butterfly dan kisah-kisah romantis lainnya itu. Tiga jam sangatlah pendek untuk menceritakan pengalaman-pengalaman tak terlupakan di Italia. Tiga bulan juga teramat singkat untuk mengenal Italia. Kisah-kisah menarik akan keindahan Italia membuatku terkesima. Ternyata semua yang kami lihat selama ini tidak sanggup untuk menggambarkan keindahan Italia yang sesungguhnya. Wah, andai aku menyaksikan dengan mataku sendiri, pasti aku akan menangis saking bahagianya. Tak terasa hari sudah semakin sore, sahabatku pun bersiap untuk kembali ke rutinitasnya. Tak lupa bingkisan cantik disodorkan kepadaku yang memang selalu kutagih >_< Dengan berdebar-debar kubuka oleh-oleh dari Italia yang terbungkus kertas pink itu. Aku senang sekali mendapatkan kartu-kartu pos cantik berlatar belakang kota Roma, miniatur menara Pisa yang anggun dan magnet-magnet kecil yang merangkai sebuah nama favoritku "NESTA". Sahabatku ini juga ingat akan kecintataanku pada buku. Il Mistero dell'acqua scomparsa kini menjadi salah satu koleksiku yang berharga. Molto Grazie, Signorina ! Aku tak bisa mengungkapkan kebahagiaanku dengan kata-kata indah. Hanya terima kasih tak terhingga yang bisa kuucapkan atas keberhasilanmu membawa impian ke negeri yang jauh. Terima kasih juga kuberikan atas usahamu sehingga pesan cintaku untuk seseorang di Milan tersampaikan. Grazie, semuanya akan kujaga dengan baik. Semoga kelak aku dapat menyusulmu untuk mengagumi indahnya Italia.

1 komentar:

MARS mengatakan...

huks..aku terharu membaca tulisanmu..kyaa
ma,veramente sono molto contenta ^_^..
seneng kamu suka hadiahnya hehe..
if u believe.. ur dreams will come true!