Sabtu, 03 Oktober 2009

Batik, Gempa dan Wakil Rakyat

Jumat tanggal 2 Oktober lalu status yang tertera pada jejaring sosial facebook hampir semua berkomentar tentang batik. Sehari sebelumnya aku pun sempat membaca sebuah ajakan untuk berpartisipasi mengenakan batik pada hari tersebut. Tak ketinggalan, program televisi apapun jenisnya juga secara eksklusif menayangkan berita seputar batik. Meskipun di tempat aku berada tidak terlihat antusiasme tentang batik dari tayangan televisi dan komentar teman-teman di facebook aku bisa menyimpulkan betapa hari itu Indonesia berubah warna menjadi batik. Sebagian besar orang terutama pekerja kantoran dengan sukacita mengenakan batik. Ada apa gerangan ? Rupanya pesta kostum dengan tema batik itu merupakan bentuk kegembiraan warga negara Indonesia atas dikukuhkannya batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Pengakuan ini menjadi penting untuk Indonesia tak lain karena beberapa waktu belakangan ini banyak budaya maupun hasil karya anak negeri yang diakui kepemilikannya oleh negara lain. Sebut saja peristiwa lepasnya beberapa pulau yang seharusnya tergabung dalam NKRI, pengakuan akan hak paten tempe, pengakuan kepemilikan akan lagu dan tarian daerah. Semua pasti mahfum siapa (baca: negara mana) yang dengan seenaknya dan bersikeras menjiplak kalau tidak bisa dibilang mencuri akan produk. dalam negeri tersebut. Nah, penetapan batik Indonesia oleh UNESCO yang notabene badan dunia di bawah naungan PBB tersebut merupakan kemenangan atas perjuangan Indonesia atas klaim batik oleh negara tertentu. Wajar jika pada hari itu warga Indonesia tanpa harus dikomando memakai batik yang menyatakan "Inilah batik Indonesia". Yah, batik meskipun sempat diklaim oleh bagsa lain memang benar-benar Indonesia. Batik tersebar di berbagai daerah dengan ciri khas masing-masing. Motif pun beraneka ragam dan terus bertambah dengan lestarinya pengrajin batik. Batik tidak sekedar coretan di sehelai kain, namun dibalik lekuk leku gambar dan warna batik mempunyai arti yang diyakini kebenarannya oleh rakyat setempat. Jadi jika batik sampai diakui kepemilikannya oleh negara lain, sungguh sebuah hal yang mencoreng muka Indonesia.
Pengakuan dunia akan batik Indonesia merupakan sebuah hiburan tersendiri ketika tanah air sedang dilanda kedukaan beruntun. Belum hilang trauma akan gempa Jawa Barat, gempa dasyat yang memang sudah diramalkan sebelumnya kembali mengguncang bumi pertiwi. Aku tak berani membayangkan seperti apa yang dirasakan saudara-saudara kita di Padang sana. Yah, guncangan kecil beberapa waktu lalu yang terasa di tempatku sekarang pun sudah membuat panik warga setempat, tak terbayang kengerian yang dirasakan mereka yang berada di pusat gempa. Memang Indonesia yang terletak di antara dua lempeng benua menjadi rawan akan bencana alam. Namun pengertian akan kondisi alam tersebut tidak mengurangi ketakutan akan bencana yang sewaktu-waktu terjadi dan sulit untuk diprediksi. Lihat saja gempa sebesar lebih dari 7 skala Ritcher yang berpusat di Padang ini. Betapa banyak rakyat yang menjadi korban, betapa banyak kerugian yang ditimbulkan. Disaat para wakil rakyat baru dilantik, disaat pemerintah mengucurkan dana milyaran rupiah demi suksesnya acara, gempa dasyat menjadi kado pertama untuk didedah pemerintahan baru nantinya. Ah, semoga gempa kali ini tidak lebih buruk adanya dengan penanganan yang tidak efektif. Jangan sampai sudah jatuh tertimpa tangga pula. Namun naga-naganya kemalangan beruntun tetap terjadi seperti bencana-bencana sebelumnya. Jika apa yang diberitakan itu benar, kemana solidaritas itu pergi ? Harga tiket yang melonjak, bantuan yang tak kunjung didistribusikan, dan entah apa lagi kesalahan serupa yang semakin memperburuk keadaan. Untunglah ada itikad baik dari wakil rakyat terpilih dengan menyumbangkan gaji pertama mereka untuk membantu korban gempa. Semoga niat baik ini tidak hanya terjadi di awal saja, namun tetap dipertahankan sampai kemudianhari ketika rampung masa jabatan mereka. Tunjukkan bahwa apa yang disebut wakil rakyat benar-benar menyuarakan aspirasi rakyat. Buktikan bahwa kali ini lebih baik dari sebelumnya, bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa mengharapkan apa yang disebut dengan balik modal.

Kamis, 01 Oktober 2009

Melodi Nan Pelik


" Lagu apaan sih ? Seriosa ya ? Kok, senenge musik kayak gini ?", itu dan masih ada sederet komentar serupa dari orang-orang di sekitarku ketika mendengar daftar file music di perangkat baruku. Kadang aku tak kuasa menahan jengkel ketika mendengar nada meremehkan dari mereka yang notabene tidak tahu namun sok tahu sehingga merasa cukup valid untuk menentukan bagus tidaknya sebuah pilihan. "Selera orang kan berbeda !", ucapku setengah geram ketika untuk kesekian kalinya aku menerima kata-kata nyinyir seseorang. Hmmph...di zaman reformasi alias bebas berpendapat begini masih ada saja personal yang tidak menghargai pikiran (baca : kesukaan) orang lain.
Pepatah lain 'ladang ladang lain belalang' memang benar. Jika komunitasku dulu cenderung menerima bahkan ikut menikmati apa yang menjadi kegemaranku, lingkunganku sekarang amat sangat berbeda. Meskipun wajar jika ada perbedaan apalagi ketika menyangkut hobby dan seputarnya, namun ketika timbul pendiskreditan mau tak mau emosi pun ikut bicara. Berhubung aku tidak suka ribut-ribut karena masalah sepele, walhasil satu dua sahabat dan terutama wahana blog inilah yang menjadi tempat sampah alias penampungan unek-unek atau lebih tepatnya caci maki yang menumpuk di batin. Namanya juga sahabat, usai berkeluh kesah hati menjadi ringan dengan guyuran simpati atau pun dukungan moril alias ikut naik darah ketika mendengar ceritaku ^^.
Apa sih masalahnya ? Ya, penyebab naik turunnya emosiku kali ini berkisar soal musik, lagu , irama, tembang atau apalah istilahnya untuk menyebut nada-nada apik yang dirangkai menjadi jalinan melodi indah. Aku sendiri pun maklum jika ada orang yang menyebut seleraku terhadap musik aneh. Dengan situasi tempat aku berada dari dulu hingga kini memang kurang pada tempatnya jika mempunyai selera musik demikian. Entah sejak kapan aku mulai menggemari musik instrumental, lagu-lagu seriosa hingga musik yang disebut musik klasik. Meskipun aku sama sekali buta tentang musik klasik (boro-boro memainkan alat musik ^^), telingaku merasa nyaman dengan nada-nada genre tersebut. Sempat vakum beberapa lama akibat kesibukan dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk enjoy dalam kehangatan sebuah lagu seperti dulu, akhir-akhir ini kecintaanku akan musik barat dari abad 18 hingga abad 19 tersebut kembali bangkit. Ada apa gerangan ? Rupanya hobbyku yang satu dengan yang lain berhubungan. Bermula dari sebuah manga (komik Jepang) berjudul Nodame Cantabile yang berlatar belakang pianis, musik klasik, concerto, dan sebagainya inilah ketertarikanku terhadap musik yang menggunakan peralihan dinamik dari lembut sampai keras kembali tergugah. Kekagumanku akan musik dengan akor 3 nada ini semakin bertambah ketika secara nonstop aku menyaksikan versi dorama dari komik tersebut. Kepiawaian akting si pemeran utama membuatku semakin larut dalam sonata karya Mozart, Brahms, Beethoven maupun Rachmaninoff. Gara-gara kesengsem berat dengan si konduktor yang jago memainkan piano dan violin, beberapa hari belakangan ini aku menyempatkan diri untuk berburu karya-karya jenius musik klasik tersebut. Jadilah file musikku penuh dengan gubahan orkestra ataupun solo piano yang memainkan sonata, symphony terkenal. Inilah yang menjadi sumber percekcokan diam-diamku. Namun demikian, apapun yang terjadi kecintaanku akan musik ini tidaklah surut. Di tengah heningnya malam, di saat jiwa tidak tenang, tatkala mata sulit untuk terpejam, alunan piano dan lantunan dawai violin meluruhkan gundah dan sedikit demi sedikit lilitan depresi mulai mengendur. Dan pada akhirnya kantuk yang tak kunjung tiba pun mulai menyapa. Inilah sekelumit cerita di balik berjuta puji syukurku akan karunia panca indera yang demikian sempurna. Bagaimanapun peliknya aku setuju saja dengan idiom "emang gue pikirin !!!"

Minggu, 27 September 2009

Minal Aidzin Wal Faidzin

Sepertinya agak terlambat untuk menulis seputar judul di atas. Namun apa boleh buat gara-gara asyik bereksperimen ucapan yang sudah terpublikasi minggu lalu raib akibat kesalahan kecil nan fatal. Beginilah tahun ini aku mengalami lebaran yang penuh warna. Meskipun sedikit 'garing' karena acara kumpul tahunan absen tahun ini karena sulitnya mengatur waktu dan berbagai hambatan lainnya, bisa dikatakan lebaran kali ini aku mendapatkan sesuatu yang baru. Bukan barang baru ( yah ada benarnya juga si ^^) melainkan pengalaman baru. Ya untuk pertama kalinya aku merasakan lebaran para pekerja. Jika dulu setiap lebaran kulalui dengan libur panjang mengikuti kalender pendidikan, kali ini aku hanya sempat mengenyam libur tiga hari. Sebuah aturan tak tertulis untuk kalangan pekerja yang berkecimpung di dunia jasa seperti aku ini. Lebaran justru merupakan momen penting untuk meraup untung sebesar mungkin, tak pelak lagi aku beserta golongan senasib harus mengatur jadwal silaturahmi dengan ketat. Untuk pertama kalinya pula aku merasakan antusiasme pekerja menunggu datangnya THR. Yeah, meskipun sempat was-was tidak kebagian jatah karena belum genap setahun aku disana, akhirnya aku tak henti-hentinya meringis ketika mendapat bagian yang jauh di luar dugaan ^^.
Lebaran, layaknya tahun-tahun sebelumnya lebaran ditandai dengan tumpah ruah orang di pusat perbelanjaan entah tradisional maupun modern. Segala isu krisis seakan tak menghalangi kegembiraan menyambut Idul Fitri yang identik dengan ketupat dan baju baru. Meskipun harus lebih cermat dalam mengatur anggaran, para pengusaha di bidang barang dan jasa tetap kebanjiran rejeki yang memang ditunggu-tunggu tiap tahun. Tak ketinggalan acara mudik menjadi agenda tersendiri di hari lebaran ini. Baik yang merayakan atau pun yang tidak semua turut andil membuat jalan macet. Sebuah rutinitas yang melelahkan dan tak jarang menelan korban namun sukar untuk dilewatkan. Maka jadilah aku menghabiskan hari dengan memandang antrian kendaraaan bermotor hingga mata pun berkunang-kunang. Asyik mengamati petugas yang sibuk mengatur arus lalu lintas di tengah terik matahari dan kepulan debu. Tak sabar ketika menyaksikan ulah usil pengendara yang menyerobot, menggerutu dalam diam ketika melihat preman kampung mengeruk nafkah dari pemudik yang lewat. Lebaran, akankah selalu demikian adanya ? Di tengah kegembiraan tewasnya gembong teroris yang membuat nafas lega, bibit kejahatan seakan tak putus-putusnya menodai kesakralan Idul Fitri. Rupanya berbagai pembenahan pendidikan moral perlu direvisi demi mengantisipasi pudarnya kesetiakawanan dan welas asih antar umat. Semoga dengan kepemimpinan yang baru mampu membawa bangsa menjadi lebih baik lagi. Selamat Idul Fitri 1430 H, Mohon maaf lahir dan batin.

Rabu, 09 September 2009

Parcel Lebaran


Dua minggu terakhir ini aku benar-benar berada di puncak kelelahan. Meskipun bersyukur di siang hari aku tak lagi bengong menghabiskan waktu menunggu jam kerja usai, sedikit banyak aku merasa berat. Baru beberapa waktu lalu aku berbincang-bincang dengan sahabatku mengenai jiwa konsumtif masyarakat Indonesia yang tak kenal resesi ekonomi. Ketika kondisi finasnsial sedang gonjang-ganjing pun tak menyurutkan hobi belanja masyarakat terutama di saat-saat istimewa seperi menjelang hari raya Idul Fitri sekarang ini. Menjelang lebaran, beberapa usaha mendapat kesempatan untuk meraup untung sebesar mungkin. Siapa sih yang tidak ingin hari istimewa umat Muslim dirayakan dengan lebih dari hari-hari biasa ? Demikianlah, imbas dari hari raya membawa efek samping kerja lembur untukku dan teman-temanku. Memang budaya pemberian parcel sudah dilarang di kalangan pejabat, namun tidak di kalangan pekerja dan majikan. Lebaran identik dengan THR beserta parcel pelengkap. Inilah yang menjadi pekerjaan tambahanku selama dua minggu ini. Tak kurang dari dua ratus bingkisan lebaran alias parcel menanti untuk ditata dengan apik. Tak ayal lagi, keluh kesah dan gerutu lirih bertebaran di antara aku dan teman-teman tim pembuat parcel. "Memang pikiran orang kaya dan tak berduit beda", kata seorang teman. Mengapa berbeda ? Ya, bagi sang bos keindahan lebih diutamakan dalam membuat parcel, sedangkan bagi golongan pekerja seperti kami-kami ini lebih memandang isinya ^^ Walau mengomel mau tak mau tangan-tangan kami bekerja cepat sembari mulut menyerocos, menggumam alangkah tak perlunya semua hiasan macam bunga ataupun keranjang hias itu.
Memang jika dipikir-pikir parcel lebih pada sekedar akal-akalan yang muncul dari ide kreatif pelaku pasar untuk menaikkan angka penjualan suatu barang. Seni dan keindahan hingga kini dianggap bernilai sehingga tatanan benda-benda yang sebenarnya biasa ditemui sehari-hari nampak unik dan menggiurkan. Tak heran jika beberapa tahun lalu, usaha parcel demikian merebak terutama pada waktu-waktu tertentu. Sayang, sejak parcel disalah gunakan oknum untuk mencari keuntungan pribadi yang cenderung negatif, menyebabkan usaha parcel mengalami kemunduran yang cukup berarti. Belum lagi ulah pelaku nakal yang mengisi parcel dengan barang-barang kadaluarsa yang tak layak saji demi meraih keuntungan besar. Kondisi demikian benar-benar menjatuhkan penggusaha parcel yang sebenar-benarnya.
Demikianlah lambat laun parcel sudah tidak menjadi tren di hari raya. Orang lebih memilih 'mentahnya' alias bingkisan berupa lembaran uang yang jelas lebih berguna untuk kebutuhan mendesak. Namun sekali lagi tidak demikian halnya dengan apa yang terjadi di tempat kerjaku. Sang bos hingga kini tetap yakin bahwa aneka makanan lebih cantik jika dibentuk dan ditata layaknya parcel komersil. Walhasil pekerja pun harus lembur menghias keranjang, membentuk mukena menjadi bunga cantik dan menata sembako dalam keranjang dengan rapi.

Selasa, 25 Agustus 2009

Rendevouz

Tak terasa bulan Ramadhan telah tiba. Tak terasa pula sudah lewat enam bulan aku menjalani kehidupan baruku. Tak terasa setahun sudah masa ketika terakhir kali aku berperan menjadi seseorang yang kuimpikan dan selalu kuinginkan hingga kini. Ah, rasanya baru kemarin aku bersendau gurau dengan mereka. Enam bulan nan penat pun berhasil kulewati dengan baik, meskipun ada sedikit ganjalan disana-sini, setidaknya saat ini aku masih bisa bertahan. Omong-omong tentang penat, akhirnya hari yang kutunggu-tunggu tiba ! Saatnya untuk bersantai sejenak, melepas rindu dengan hingar bingar kota Satria. Meskipun rencana sedikit berantakan karena hal-hal yang sudah kuduga namun tetap membuatku jengkel ^^, jadi juga aku berkumpul dengan sobat-sobatku tersayang. Sehari dua malam aku menghabiskan waktu dengan bercengkerama dan menuntaskan keinginanku untuk kembali mencecap aneka masakan nan lezat, khas kota tempat aku menyelesaikan studi dulu. Saking banyaknya macam penganan yang jauh-jauh hari sudah kurancang untuk kunikmati, tak pelak jarum timbangan bergerak naik ^^. "Masa bodohlah ", pikirku. Ya, kesempatan untuk bertandang rutin ke kesana seperti tahun lalu memang telah jarang. Wajar jika libur sehari bertepatan dengan perayaan hari kemederkaan bangsa ini kugunakan dengan sebaik mungkin. Aku bahkan merelakan rencana B-ku di hari itu. Hasilnya sungguh bahagia tak terkira ! Layaknya baterai yang telah berkedip-kedip, dua hari itu kugunakan untuk 'mengecas' penuh-penuh semangatku. Ditemani adik dan sahabat tercinta, aku memuaskan diri untuk kembali menyusuri rute-rute yang dulu biasa kutempuh ketika ingin refreshing sejenak. Kaki pegal, tenggorokan sakit akibat batuk yang tak kunjung sembuh tak mengurangi kegembiraanku akan wisata hari itu. Udara subuh nan segar mengingatkanku akan keberadaan sahabat (Sasuke-kun) yang sayangnya tidak bisa turut dalam temu kangen waktu itu. Walau mata berat akibat kurang tidur, badan lesu karena kelelahan berjalan-jalan tak mengurangi keceriaanku akan hari itu. Thank you very much Kyon, Signora Kaka !
Bulan Agustus menjadi bulan favoritku tahun ini. Bulan dimana akhirnya aku bisa berkunjung kembali ke tempat favoritku. Bulan dimana aku bisa puas mencubit pipi chubby Kyon ^^. Bulan dimana dia ada di dunia ini (meskipun nyaris aku melupakannya kalau saja aku tidak memimpikannya ^^). Bulan dimana aku menghabiskan malam dengan memelototi karakter favoritku. Bulan dimana aku bisa membaur dengan lingkungan dengan lebih baik lagi. teristimewa di penghujung bulan, tibalah saat untuk meraih pahala sebesar-besarnya. Marhaban ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa !

Kamis, 13 Agustus 2009

Fresh


Terkungkung dalam rutinitas pada akhirnya selalu membuatku jenuh. Layaknya seorang Gemini yang pembosan, aku tidak betah mengerjakan suatu hal dalam waktu lama. Sayangnya sesuatu itu kali ini mau tak mau harus kujalani dan entah sampai kapan akan berakhir alias berganti ke hal yang baru. Setiap hari berangkat pagi, pulang sore waktu pun dengan cepat berubah ke malam dan kembali lagi pagi menjelang. Begitulah yang kurasakan, waktu seakan bergulir demikian cepatnya meskipun dari dulu jumlah detik dalam satu hari tetap sama.
Untuk sekedar menekan jenuh malam hari pun kuisi dengan berbagai macam aktivitas favoritku. Jika tidak sedang kelelahan, dalam posisi santai aku tenggelam dalam petualangan vampir keren yang buku dan filmnya sedang laris manis di pasaran. Usai terpesona berat dengan vampir vegetarian aku pun beralih menghibur diri dengan maraton serial klasik hasil rampokan dari seorang teman ^^. Menilik gambar sampulnya dan membaca review di cover belakang aku sempat sangsi akan keapikan serial ini plus aku sama sekali tidak mengenal para pemain utamanya. Iseng-iseng aku pun memutar seri perdananya, dan tak perlu menunggu ke seri-seri berikutnya aku sudah sepenuhnya tertarik dengan jalinan cerita serial berjudul Four Warrior ini. Ya, aku yang keranjingan dengan detektif Conan bisa dipastikan akan menyukai kisah-kisah bergenre serupa. Apalagi latar belakang cerita yang mengambil tempo zaman dinasti Sung yang sudah tentu atribut macam pakaian, rumah, dan pemandangan disesuaikan dengan masa itu. Aku pun bernostalgia dengan hamparan pegunungan batu yang khas negeri tirai bambu, kibasan kipas kertas, gemulainya perempuan cantik dalam balutan tradisional China kuno dan kewibawaan tokoh utama pria dalam berbicara dan bertindak. Dalam sekejap aku pun larut dalam ketegangan ketika menguak kasus demi kasus. Saking seriusnya aku menikmati kepiawaian detektif jadul dalam menelusuri kasus tak terasa tiga hari berturut-turut aku tidur teramat sangat larut. Meskipun pagi harinya aku terkantuk-kantuk, hati terasa puas dan stress sedikit menipis. Demam serial ini pun berlanjut akan kegemaranku mendengarkan musik dan lagu oriental. Beberapa hari berikutnya aku ayik berburu lagu-lagu dengan musik oriental yang kental. Ah, damai rasanya mendengarkan melodi mellow diiringi dentingan kecapi dengan lirik yang dinyanyikan dengan indah dalam bahasa yang sangat kusukai. Jadilah hari demi hari kulewati dengan senandung musik oriental, mengenang kembali kegemaranku di masa lalu. Waktu luang di siang hari pun tak lagi kuhabiskan dalam kantuk melainkan terisi dengan adegan-adegan dramatis dan kelebatan sosok rupawan detektif era dinasti Sung.

Senin, 03 Agustus 2009

Manusia

Perbedaan pandangan dalam menyikapi suatu hal memang lumrah terjadi. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan itu menjadi bibit perselisihan tanpa adanya usaha untuk mengambil solusi terbaik. Perbedaan semakin meruncing ketika ego masing-masing lebih dominan dari akal sehat untuk lebih bijaksana dan mencoba memahami pemikiran orang lain. Baru-baru ini aku mengalami pengalaman berharga meskipun sedikit menjengkelkan. Kurang lebih lima bulan aku menghabiskan hari dengan duduk manis, mengamati hiruk pikuk kendaraan yang semakin hari makin memenuhi jalan bergelombang akibat tak kuat menahan beban berton-ton tiap menitnya. Lokasi tempatku mencari penghasilan terletak di sebuah perempatan. Meskipun pasar tradisional sudah direlokasi rupaya kepadatan di daerah tersebut masih parah. Hilir mudik kendaraan seakan tak pernah berhenti dengan kecepatan yang berbeda dan pada umumnya melaju cukup kencang. Tak urung kecelakaan acapkali terjadi terutama dari kendaraan yang melaju dari arah timur-barat dengan kendaraan yang hendak menyeberang ke utara-selatan. Aku pun sering menjadi saksi keteledoran pengendara yang tak jarang berbuah kecelakaan maut. Demikianlah kondisi jalan yang menikung, dan bergelombang tanpa adanya traffic light yang mengatur laju kendaraan ditambah pengendara yang kadang sembrono menjadi penyebab kecelakaan terjadi di sekitar perempatan tersebut. Sehubungan dengan hal itu, aku pun berpikir alangkah baiknya jika traffic light diadakan untuk mengurangi kecelakaan akibat proses menyeberang sembarangan. Rupanya tidak hanya aku yang berpikir demikian, teman-teman yang sama-sama menjadi saksi setiap terjadi kecelakaan pun berpendapat serupa. Aku pun memutuskan untuk mengirimkan sms saran ke rubrik Piye Jal di sebuah harian yang memang diadakan untuk menampung saran, kritik dan unek-unek pembaca. SMS yang berisi sebuah pendapat sehubungan dengan respon adanya traffic light baru yang justru menyebabkan macet dan keefektifan traffic light jika dipasang di perempatan lokasi tempat kerjaku sekarang. Tiga hari kemudian smsku pun terpampang di harian tersebut, "wah, semoga pihak terkait mau menanggapi dengan segera dan mengambik tindakan terbaik", demikian pikirku. Nah, tak lama kemudian hpku berdering, pertanda ada pesan masuk. Waktu kulihat pesan berasal dari nomor tak dikenal. Betapa kagetnya aku ketika aku membaca pesan tersebut. Rupanya pesan tersebut merupakan respon dari smsku ke rubrik Piye Jal. Serta merta aku merasa jengkel bukan main. Aku pun mencoba untuk bersabar dan lebih arif, kutekan keinginanku untuk balas memaki-maki pengirim sms tersebut. Bukannya mendapat respon positif, kalimat bernada marah dan cenderung tidak sopan alias menghina terpampang di layar hpku. Dalam hati aku bertanya-tanya siapa dan apa posisi si pengirim sms sampai mengeluarkan kata-kata tersebut. Bukannya ikut mendukung pengadaan traffic light, si pengirim justru mempertanyakan pola pikirku. " Apa gunanya rumah sakit, apa gunanya traffic light", demikian sedikit isi sms tersebut. Waduh, ada apa nih ? Bukankah dengan adanya traffic light justru menambah keamanan penyeberang jalan sehingga memperkecil angka kecelakaan ? Apakah si pengirim berkepentingan dalam artian mendapat keuntungan jika terjadi kecelakaan ? Mau tak mau berbagai pertanyaan pun muncul di benakku. Akhirnya dengan hati-hati aku membalas sms tersebut, dengan merendah aku menjelaskan alasan mengapa aku berpendapat bahwa traffic light lebih efektif jika ditempatkan di perempatan. Sayangnya harapanku untuk mengenal lebih jauh si pengirim tidak terwujud. Hingga kini tidak ada respon dari sms balasanku yang lumayan panjang itu. Padahal aku ingin mengetahui apa alasan si pengirim hingga bereaksi demikian keras.
Ya, pikiran dan hati setiap orang memang berbeda. Namun tidak semestinya emosi dan ego masing-masing dikedepankan tanpa mendengar alasan seseorang dalam berbuat dan berucap. Sayangnya inilah kelemahan bagi sebagian orang. Tanpa memahami duduk perkara langsung saja menuding yang tidak-tidak. Saran dan pendapat yang tidak sejalan dengan pikirannya langsung divonis sebagai bentuk penentangan. Hmmm....agaknya manusia harus lebih giat belajar untuk mengontrol emosi. Hal yang amat susah untuk dilakukan. Lihat saja wakil rakyat kita yang berulang kali nyaris baku hantam di ruang sidang. Cermin buruk emosi yang kurang terkontrol sehingga adu mulut dan fisik menjadi solusi dalam sebuah permasalahan.