Minggu, 27 September 2009

Minal Aidzin Wal Faidzin

Sepertinya agak terlambat untuk menulis seputar judul di atas. Namun apa boleh buat gara-gara asyik bereksperimen ucapan yang sudah terpublikasi minggu lalu raib akibat kesalahan kecil nan fatal. Beginilah tahun ini aku mengalami lebaran yang penuh warna. Meskipun sedikit 'garing' karena acara kumpul tahunan absen tahun ini karena sulitnya mengatur waktu dan berbagai hambatan lainnya, bisa dikatakan lebaran kali ini aku mendapatkan sesuatu yang baru. Bukan barang baru ( yah ada benarnya juga si ^^) melainkan pengalaman baru. Ya untuk pertama kalinya aku merasakan lebaran para pekerja. Jika dulu setiap lebaran kulalui dengan libur panjang mengikuti kalender pendidikan, kali ini aku hanya sempat mengenyam libur tiga hari. Sebuah aturan tak tertulis untuk kalangan pekerja yang berkecimpung di dunia jasa seperti aku ini. Lebaran justru merupakan momen penting untuk meraup untung sebesar mungkin, tak pelak lagi aku beserta golongan senasib harus mengatur jadwal silaturahmi dengan ketat. Untuk pertama kalinya pula aku merasakan antusiasme pekerja menunggu datangnya THR. Yeah, meskipun sempat was-was tidak kebagian jatah karena belum genap setahun aku disana, akhirnya aku tak henti-hentinya meringis ketika mendapat bagian yang jauh di luar dugaan ^^.
Lebaran, layaknya tahun-tahun sebelumnya lebaran ditandai dengan tumpah ruah orang di pusat perbelanjaan entah tradisional maupun modern. Segala isu krisis seakan tak menghalangi kegembiraan menyambut Idul Fitri yang identik dengan ketupat dan baju baru. Meskipun harus lebih cermat dalam mengatur anggaran, para pengusaha di bidang barang dan jasa tetap kebanjiran rejeki yang memang ditunggu-tunggu tiap tahun. Tak ketinggalan acara mudik menjadi agenda tersendiri di hari lebaran ini. Baik yang merayakan atau pun yang tidak semua turut andil membuat jalan macet. Sebuah rutinitas yang melelahkan dan tak jarang menelan korban namun sukar untuk dilewatkan. Maka jadilah aku menghabiskan hari dengan memandang antrian kendaraaan bermotor hingga mata pun berkunang-kunang. Asyik mengamati petugas yang sibuk mengatur arus lalu lintas di tengah terik matahari dan kepulan debu. Tak sabar ketika menyaksikan ulah usil pengendara yang menyerobot, menggerutu dalam diam ketika melihat preman kampung mengeruk nafkah dari pemudik yang lewat. Lebaran, akankah selalu demikian adanya ? Di tengah kegembiraan tewasnya gembong teroris yang membuat nafas lega, bibit kejahatan seakan tak putus-putusnya menodai kesakralan Idul Fitri. Rupanya berbagai pembenahan pendidikan moral perlu direvisi demi mengantisipasi pudarnya kesetiakawanan dan welas asih antar umat. Semoga dengan kepemimpinan yang baru mampu membawa bangsa menjadi lebih baik lagi. Selamat Idul Fitri 1430 H, Mohon maaf lahir dan batin.

Rabu, 09 September 2009

Parcel Lebaran


Dua minggu terakhir ini aku benar-benar berada di puncak kelelahan. Meskipun bersyukur di siang hari aku tak lagi bengong menghabiskan waktu menunggu jam kerja usai, sedikit banyak aku merasa berat. Baru beberapa waktu lalu aku berbincang-bincang dengan sahabatku mengenai jiwa konsumtif masyarakat Indonesia yang tak kenal resesi ekonomi. Ketika kondisi finasnsial sedang gonjang-ganjing pun tak menyurutkan hobi belanja masyarakat terutama di saat-saat istimewa seperi menjelang hari raya Idul Fitri sekarang ini. Menjelang lebaran, beberapa usaha mendapat kesempatan untuk meraup untung sebesar mungkin. Siapa sih yang tidak ingin hari istimewa umat Muslim dirayakan dengan lebih dari hari-hari biasa ? Demikianlah, imbas dari hari raya membawa efek samping kerja lembur untukku dan teman-temanku. Memang budaya pemberian parcel sudah dilarang di kalangan pejabat, namun tidak di kalangan pekerja dan majikan. Lebaran identik dengan THR beserta parcel pelengkap. Inilah yang menjadi pekerjaan tambahanku selama dua minggu ini. Tak kurang dari dua ratus bingkisan lebaran alias parcel menanti untuk ditata dengan apik. Tak ayal lagi, keluh kesah dan gerutu lirih bertebaran di antara aku dan teman-teman tim pembuat parcel. "Memang pikiran orang kaya dan tak berduit beda", kata seorang teman. Mengapa berbeda ? Ya, bagi sang bos keindahan lebih diutamakan dalam membuat parcel, sedangkan bagi golongan pekerja seperti kami-kami ini lebih memandang isinya ^^ Walau mengomel mau tak mau tangan-tangan kami bekerja cepat sembari mulut menyerocos, menggumam alangkah tak perlunya semua hiasan macam bunga ataupun keranjang hias itu.
Memang jika dipikir-pikir parcel lebih pada sekedar akal-akalan yang muncul dari ide kreatif pelaku pasar untuk menaikkan angka penjualan suatu barang. Seni dan keindahan hingga kini dianggap bernilai sehingga tatanan benda-benda yang sebenarnya biasa ditemui sehari-hari nampak unik dan menggiurkan. Tak heran jika beberapa tahun lalu, usaha parcel demikian merebak terutama pada waktu-waktu tertentu. Sayang, sejak parcel disalah gunakan oknum untuk mencari keuntungan pribadi yang cenderung negatif, menyebabkan usaha parcel mengalami kemunduran yang cukup berarti. Belum lagi ulah pelaku nakal yang mengisi parcel dengan barang-barang kadaluarsa yang tak layak saji demi meraih keuntungan besar. Kondisi demikian benar-benar menjatuhkan penggusaha parcel yang sebenar-benarnya.
Demikianlah lambat laun parcel sudah tidak menjadi tren di hari raya. Orang lebih memilih 'mentahnya' alias bingkisan berupa lembaran uang yang jelas lebih berguna untuk kebutuhan mendesak. Namun sekali lagi tidak demikian halnya dengan apa yang terjadi di tempat kerjaku. Sang bos hingga kini tetap yakin bahwa aneka makanan lebih cantik jika dibentuk dan ditata layaknya parcel komersil. Walhasil pekerja pun harus lembur menghias keranjang, membentuk mukena menjadi bunga cantik dan menata sembako dalam keranjang dengan rapi.

Selasa, 25 Agustus 2009

Rendevouz

Tak terasa bulan Ramadhan telah tiba. Tak terasa pula sudah lewat enam bulan aku menjalani kehidupan baruku. Tak terasa setahun sudah masa ketika terakhir kali aku berperan menjadi seseorang yang kuimpikan dan selalu kuinginkan hingga kini. Ah, rasanya baru kemarin aku bersendau gurau dengan mereka. Enam bulan nan penat pun berhasil kulewati dengan baik, meskipun ada sedikit ganjalan disana-sini, setidaknya saat ini aku masih bisa bertahan. Omong-omong tentang penat, akhirnya hari yang kutunggu-tunggu tiba ! Saatnya untuk bersantai sejenak, melepas rindu dengan hingar bingar kota Satria. Meskipun rencana sedikit berantakan karena hal-hal yang sudah kuduga namun tetap membuatku jengkel ^^, jadi juga aku berkumpul dengan sobat-sobatku tersayang. Sehari dua malam aku menghabiskan waktu dengan bercengkerama dan menuntaskan keinginanku untuk kembali mencecap aneka masakan nan lezat, khas kota tempat aku menyelesaikan studi dulu. Saking banyaknya macam penganan yang jauh-jauh hari sudah kurancang untuk kunikmati, tak pelak jarum timbangan bergerak naik ^^. "Masa bodohlah ", pikirku. Ya, kesempatan untuk bertandang rutin ke kesana seperti tahun lalu memang telah jarang. Wajar jika libur sehari bertepatan dengan perayaan hari kemederkaan bangsa ini kugunakan dengan sebaik mungkin. Aku bahkan merelakan rencana B-ku di hari itu. Hasilnya sungguh bahagia tak terkira ! Layaknya baterai yang telah berkedip-kedip, dua hari itu kugunakan untuk 'mengecas' penuh-penuh semangatku. Ditemani adik dan sahabat tercinta, aku memuaskan diri untuk kembali menyusuri rute-rute yang dulu biasa kutempuh ketika ingin refreshing sejenak. Kaki pegal, tenggorokan sakit akibat batuk yang tak kunjung sembuh tak mengurangi kegembiraanku akan wisata hari itu. Udara subuh nan segar mengingatkanku akan keberadaan sahabat (Sasuke-kun) yang sayangnya tidak bisa turut dalam temu kangen waktu itu. Walau mata berat akibat kurang tidur, badan lesu karena kelelahan berjalan-jalan tak mengurangi keceriaanku akan hari itu. Thank you very much Kyon, Signora Kaka !
Bulan Agustus menjadi bulan favoritku tahun ini. Bulan dimana akhirnya aku bisa berkunjung kembali ke tempat favoritku. Bulan dimana aku bisa puas mencubit pipi chubby Kyon ^^. Bulan dimana dia ada di dunia ini (meskipun nyaris aku melupakannya kalau saja aku tidak memimpikannya ^^). Bulan dimana aku menghabiskan malam dengan memelototi karakter favoritku. Bulan dimana aku bisa membaur dengan lingkungan dengan lebih baik lagi. teristimewa di penghujung bulan, tibalah saat untuk meraih pahala sebesar-besarnya. Marhaban ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa !

Kamis, 13 Agustus 2009

Fresh


Terkungkung dalam rutinitas pada akhirnya selalu membuatku jenuh. Layaknya seorang Gemini yang pembosan, aku tidak betah mengerjakan suatu hal dalam waktu lama. Sayangnya sesuatu itu kali ini mau tak mau harus kujalani dan entah sampai kapan akan berakhir alias berganti ke hal yang baru. Setiap hari berangkat pagi, pulang sore waktu pun dengan cepat berubah ke malam dan kembali lagi pagi menjelang. Begitulah yang kurasakan, waktu seakan bergulir demikian cepatnya meskipun dari dulu jumlah detik dalam satu hari tetap sama.
Untuk sekedar menekan jenuh malam hari pun kuisi dengan berbagai macam aktivitas favoritku. Jika tidak sedang kelelahan, dalam posisi santai aku tenggelam dalam petualangan vampir keren yang buku dan filmnya sedang laris manis di pasaran. Usai terpesona berat dengan vampir vegetarian aku pun beralih menghibur diri dengan maraton serial klasik hasil rampokan dari seorang teman ^^. Menilik gambar sampulnya dan membaca review di cover belakang aku sempat sangsi akan keapikan serial ini plus aku sama sekali tidak mengenal para pemain utamanya. Iseng-iseng aku pun memutar seri perdananya, dan tak perlu menunggu ke seri-seri berikutnya aku sudah sepenuhnya tertarik dengan jalinan cerita serial berjudul Four Warrior ini. Ya, aku yang keranjingan dengan detektif Conan bisa dipastikan akan menyukai kisah-kisah bergenre serupa. Apalagi latar belakang cerita yang mengambil tempo zaman dinasti Sung yang sudah tentu atribut macam pakaian, rumah, dan pemandangan disesuaikan dengan masa itu. Aku pun bernostalgia dengan hamparan pegunungan batu yang khas negeri tirai bambu, kibasan kipas kertas, gemulainya perempuan cantik dalam balutan tradisional China kuno dan kewibawaan tokoh utama pria dalam berbicara dan bertindak. Dalam sekejap aku pun larut dalam ketegangan ketika menguak kasus demi kasus. Saking seriusnya aku menikmati kepiawaian detektif jadul dalam menelusuri kasus tak terasa tiga hari berturut-turut aku tidur teramat sangat larut. Meskipun pagi harinya aku terkantuk-kantuk, hati terasa puas dan stress sedikit menipis. Demam serial ini pun berlanjut akan kegemaranku mendengarkan musik dan lagu oriental. Beberapa hari berikutnya aku ayik berburu lagu-lagu dengan musik oriental yang kental. Ah, damai rasanya mendengarkan melodi mellow diiringi dentingan kecapi dengan lirik yang dinyanyikan dengan indah dalam bahasa yang sangat kusukai. Jadilah hari demi hari kulewati dengan senandung musik oriental, mengenang kembali kegemaranku di masa lalu. Waktu luang di siang hari pun tak lagi kuhabiskan dalam kantuk melainkan terisi dengan adegan-adegan dramatis dan kelebatan sosok rupawan detektif era dinasti Sung.

Senin, 03 Agustus 2009

Manusia

Perbedaan pandangan dalam menyikapi suatu hal memang lumrah terjadi. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan itu menjadi bibit perselisihan tanpa adanya usaha untuk mengambil solusi terbaik. Perbedaan semakin meruncing ketika ego masing-masing lebih dominan dari akal sehat untuk lebih bijaksana dan mencoba memahami pemikiran orang lain. Baru-baru ini aku mengalami pengalaman berharga meskipun sedikit menjengkelkan. Kurang lebih lima bulan aku menghabiskan hari dengan duduk manis, mengamati hiruk pikuk kendaraan yang semakin hari makin memenuhi jalan bergelombang akibat tak kuat menahan beban berton-ton tiap menitnya. Lokasi tempatku mencari penghasilan terletak di sebuah perempatan. Meskipun pasar tradisional sudah direlokasi rupaya kepadatan di daerah tersebut masih parah. Hilir mudik kendaraan seakan tak pernah berhenti dengan kecepatan yang berbeda dan pada umumnya melaju cukup kencang. Tak urung kecelakaan acapkali terjadi terutama dari kendaraan yang melaju dari arah timur-barat dengan kendaraan yang hendak menyeberang ke utara-selatan. Aku pun sering menjadi saksi keteledoran pengendara yang tak jarang berbuah kecelakaan maut. Demikianlah kondisi jalan yang menikung, dan bergelombang tanpa adanya traffic light yang mengatur laju kendaraan ditambah pengendara yang kadang sembrono menjadi penyebab kecelakaan terjadi di sekitar perempatan tersebut. Sehubungan dengan hal itu, aku pun berpikir alangkah baiknya jika traffic light diadakan untuk mengurangi kecelakaan akibat proses menyeberang sembarangan. Rupanya tidak hanya aku yang berpikir demikian, teman-teman yang sama-sama menjadi saksi setiap terjadi kecelakaan pun berpendapat serupa. Aku pun memutuskan untuk mengirimkan sms saran ke rubrik Piye Jal di sebuah harian yang memang diadakan untuk menampung saran, kritik dan unek-unek pembaca. SMS yang berisi sebuah pendapat sehubungan dengan respon adanya traffic light baru yang justru menyebabkan macet dan keefektifan traffic light jika dipasang di perempatan lokasi tempat kerjaku sekarang. Tiga hari kemudian smsku pun terpampang di harian tersebut, "wah, semoga pihak terkait mau menanggapi dengan segera dan mengambik tindakan terbaik", demikian pikirku. Nah, tak lama kemudian hpku berdering, pertanda ada pesan masuk. Waktu kulihat pesan berasal dari nomor tak dikenal. Betapa kagetnya aku ketika aku membaca pesan tersebut. Rupanya pesan tersebut merupakan respon dari smsku ke rubrik Piye Jal. Serta merta aku merasa jengkel bukan main. Aku pun mencoba untuk bersabar dan lebih arif, kutekan keinginanku untuk balas memaki-maki pengirim sms tersebut. Bukannya mendapat respon positif, kalimat bernada marah dan cenderung tidak sopan alias menghina terpampang di layar hpku. Dalam hati aku bertanya-tanya siapa dan apa posisi si pengirim sms sampai mengeluarkan kata-kata tersebut. Bukannya ikut mendukung pengadaan traffic light, si pengirim justru mempertanyakan pola pikirku. " Apa gunanya rumah sakit, apa gunanya traffic light", demikian sedikit isi sms tersebut. Waduh, ada apa nih ? Bukankah dengan adanya traffic light justru menambah keamanan penyeberang jalan sehingga memperkecil angka kecelakaan ? Apakah si pengirim berkepentingan dalam artian mendapat keuntungan jika terjadi kecelakaan ? Mau tak mau berbagai pertanyaan pun muncul di benakku. Akhirnya dengan hati-hati aku membalas sms tersebut, dengan merendah aku menjelaskan alasan mengapa aku berpendapat bahwa traffic light lebih efektif jika ditempatkan di perempatan. Sayangnya harapanku untuk mengenal lebih jauh si pengirim tidak terwujud. Hingga kini tidak ada respon dari sms balasanku yang lumayan panjang itu. Padahal aku ingin mengetahui apa alasan si pengirim hingga bereaksi demikian keras.
Ya, pikiran dan hati setiap orang memang berbeda. Namun tidak semestinya emosi dan ego masing-masing dikedepankan tanpa mendengar alasan seseorang dalam berbuat dan berucap. Sayangnya inilah kelemahan bagi sebagian orang. Tanpa memahami duduk perkara langsung saja menuding yang tidak-tidak. Saran dan pendapat yang tidak sejalan dengan pikirannya langsung divonis sebagai bentuk penentangan. Hmmm....agaknya manusia harus lebih giat belajar untuk mengontrol emosi. Hal yang amat susah untuk dilakukan. Lihat saja wakil rakyat kita yang berulang kali nyaris baku hantam di ruang sidang. Cermin buruk emosi yang kurang terkontrol sehingga adu mulut dan fisik menjadi solusi dalam sebuah permasalahan.

Sabtu, 25 Juli 2009

Tamu Dari Bali

Penat yang melanda sekujur tubuh setelah seharian beraktivitas membuatku jatuh tertidur di tengah kebimbangan akan kepastian kedatangan seorang sahabat. Begitu terbangun waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat, dengan heran aku menyambar handphoneku siapa tahu ada kabar terbaru. Ternyata tidak ada, akhirnya aku pun menekuri baris-baris kalimat dalam novel New Moon yang tengah kubaca. Saking asyiknya mengikuti petualangan Bella Swan bersama werewolf membuatku tak menyadari kedatangan sosok yang telah ditunggu sejak tadi. Terganggu bayangan yang membuat tulisan dalam novel menjadi buram membuatku mendongak dan olala ternyata si tamu dari Bali sudah sampai.
Setelah berbasa-basi sebentar alias menodong oleh-oleh ^^ kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan. Maklum kondisi tidak memungkinkan untuk mengobrol di rumah sementara bahan obrolan sudah tidak bisa ditahan dan menyerempet ke hal-hal krusial yang akhir-akhir ini selalu diperbincangkan lewat telepon. Kebetulan aku belum menyantap jatah makan malam, tak lama kemudian kami pun berjalan pelan menyusuri satu-satunya jalan utama yang membelah melintasi kota. Meskipun tergolong kecil dan belum bisa dikategorikan sebagai kota, jalan-jalan di malam hari menjadi kesenangan tersendiri. Sinar lampu jalan menerangi lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Harum aneka masakan dari warung-warung tenda yang berderet di sepanjang jalan menggugah selera, membuatku sulit menentukan pilihan untuk menyambangi salah satunya.
Perjalanan pun tiba di penghujung deretan kaki lima, akhirnya aku mantap untuk mencicipi lezatnya mie rebus yang terkenal enak dengan harga terjangkau di sini. Sahabat yang semula enggan pun tergoda untuk ikut bergoyang lidah, tak tahan mencium aroma yang menguar dari penggorengan ^^. Perbincangan pun terus mengalir di sela-sela nikmatnya sajian serba hangat nan menggoda.
Ah, lega rasanya ketika berhadapan langsung, saling membagi cerita dan meminta pendapat. Keraguan dan kekhawatiran akan suatu hal sedikit berkurang setelah saling berkomentar tentang perjalanan hidup. "Tidak ada kata terlambat", katanya. Yah, waktu memang terus berjalan, namun suatu saat pasti akan tiba masa seseorang menemukan jalan hidupnya. Tak terasa malam pun semakin larut. Malam pun berakhir dalam gelak tawa ketika berbagi cerita lucu diriku yang ketiban sial ^^, menjajal oleh-oleh khas Bali yang membuatku kecanduan dan waktu menunjukkan pukul duabelas malam ketika aku sudah tak bisa menahan kantuk yang menyerang.

Selasa, 21 Juli 2009

Indonesia Berduka Lagi

"Teroris harus dihukum mati dua kali. Pertama sudah membunuh orang tak berdosa. Kedua MU jadi batal ke Jakarta !!!!!!"
Sebaris pesan singkat dari seorang sahabat membuatku semakin miris. Ketenangan selama beberapa waktu sejak teror bom terakhir terusik dengan meledaknya bom bunuh diri di dua tempat dalam waktu yang hampir bersamaan. Di tengah kegelisahan menantikan laga antara MU dengan timnas Indonesia All Star, di antara hiruk pikuk hasil Pilpres yang penuh masalah tak dinyana guncangan teror bom kembali terjadi. Kaget dan tak percaya kurasakan ketika seorang teman memberi kabar berita duka tersebut. Benar saja, hingga hari ini headline di berbagai media menampilkan kronologis, imbas dan perkiraan motif di balik pengebomam tersebut. Kutukan yang pernah terlontar ketika teror serupa terjadi di Bali kembali mencuat dari kubuk hatiku. Empati akan banyaknya korban yang berjatuhan membuat kemarahanku akan si pelaku semakin berkobar.
Ya aku tak pernah mengerti mengapa seseorang demikian tega untuk melakukan perbuatan terkutuk itu. Menorehkan luka di hati orang-orang tak berdosa, memperkeruh dan merusak ketenangan di tengah kondisi damai. Menyimak sekelumit keterangan mengenai pelaku yang diduga terlibat dalam jaringan JI, mengingatkanku akan tiga gembong teroris yang telah dieksekusi. Muak selalu kurasakan jika teringat kalimat-kalimat nyinyir yang keluar dari mulut tiga terdakwa mati tersebut. Ya, menurutku tidak pada tempatnya mereka mengatasnamakan Tuhan ketika membantai orang-orang yang tak bersalah. Sungguh, aku tak mengerti jalan pikiran pelaku ketika mereka membenarkan diri dalam keyakinan untuk mati syahid. Aku semakin tak mengerti ketika mengetahui pelaku bom bunuh diri justru berasal dari kalangan yang dikenal beriman oleh masyarakat sekitar. Mungkin aku belum bisa berada di posisi menilai dari sudut religi, namun jika menyimak pernyataan-pernyataan pemuka-pemuka agama aku merasa lega karena pada dasarnya pendapat mereka sama, mengutuk dan tidak ada pembenaran atas keyakinan pelaku yang mengharapkan surga. Bukankah membunuh diri sendiri adalah dosa yang tak termaafkan ? Ditambah menghilangkan nyawa orang lain yang tak berkaitan, meninggalkan penderitaan bagi keluarga yang bergantung pada mereka, apanya dari semua itu yang dinilai benar di mata Tuhan ?
Ah, mengapa harus terjadi di tanah air tercinta ini ? Di tengah kemerosotan dan upaya untuk mengembalikan citra bangsa di mata dunia justru terjadi hal yang kembali mencoreng nama Indonesia. Jangan heran jika peringatan untuk tidak berkunjung ke Indonesia digalakkan kembali. Amatlah wajar jika tim sebesar Manchester United mengurungkan niat untuk bertandang ke Senayan, apalagi mengingat hotel yang sedianya menjadi tempat mereka menginap menjadi sasaran bom. Inikah yang diinginkan para pelaku ? Menghancurkan kepercayaan dunia terhadap stabilitas Indonesia ? Tidakkah mereka berpikir jauh ke depan imbas perbuatan mereka yang lebih merugikan rakyat biasa ? Lihatlah kekecewaan penggemar MU yang jauh-jauh hari memimpikan melihat tim kesayangannya secara langsung. Lihatlah tampang kalah pedagang souvernir yang tak jadi menangguk untung di tengah sulitnya mengais rupiah. Dan yang paling menyakitkan, lihatlah tangis dan pandangan khawatir akan masa depan para korban baik yang selamat atau yang ditinggalkan anggota keluarga. Semoga tidak pernah ada lagi kejadian tragis ini. Semoga tidak ada lagi korban yang tertipu kalimat indah kelompok makar yang bertujuan merusak kedamaian. Ingatlah akan keluarga, ingatlah akan sesama dan ingatlah akan keyakinan yang tak mungkin menyesatkan jika dijalankan dengan benar.