Minggu, 26 September 2010

Sekilas Cerita di Hari Raya

Masa untuk bersantai akhirnya berakhir sudah, mau tak mau aku harus kembali bergelut dengan rutinitas yang semakin lama bukannya semakin kunikmati namun semakin terasa menyesakkan. Lima hari yang disediakan untuk 'mengecas' kembali baterai energi yang melemah, rasanya jauh dari cukup untuk memulihkan otak yang demikian penuh dengan berbagai pikiran baik pekerjaan maupun pribadi. Namanya juga libur hari raya, jatah hari libur bukannya dimanfaatkan untuk bermalas-malasan, namun diisi dengan berbagai aktivitas tahunan yang umum dilakukan setiap hari raya tiba. Membersihkan dan menata kembali rumah, membuat aneka kudapan khas hari raya hingga menyiapkan bingkisan untuk tetangga, teman dan saudara menjadi agenda sehari-hari. Acara makan malam bersama sobat karib dan kegiatan berburu baju baru serta berbelanja pun menjadi selingan menarik di tengah letih badan akibat kerja keras dengan target sebelum hari raya tiba.
Sedikit muram dengan situasi, aku pun memutuskan untuk ikut mengunjungi sanak family di luar kota. Seperti yang sudah-sudah, bepergian di saat liburan sungguh amat melelahkan. Waktu terbuang di jalanan yang padat merayap. Pening akibat kepanasan dan bau menyengat di dalam kendaraan pun tak terhindarkan. Untunglah pemandangan yang terpampang di jendela cukup membuatku urung untuk terlelap. Berkat keinginan untuk menjelajah daerah baru sekaligus mencari jalan yang sepi meskipun sedikit memutar, aku pun mendapat pengalaman baru sekedar melewati daerah yang belum pernah kudatangi. Akhirnya setelah menempuh waktu yang semestinya bisa dipangkas separo jika dalam situasi normal, aku pun tiba di tempat tujuan. Lelah pun terobati ketika bersua dengan mereka yang kukasihi. Semangat untuk menjelajahi kota di waktu malam pun berkobar. Sayang, hujan lebat menghambat keinginan untuk sekedar melemaskan kaki sembari melihat-lihat deretan kios-kios menarik nan menggugah selera. Meskipun demikian malam kuhabiskan dengan riang, memuaskan keinginan untuk berwisata kuliner setelah lama tidak memanjakan lidah.
Larut malam pun menjelang, namun meskipun lelah aku tak kunjung bisa untuk beristirahat dengan tenang. Ingatan akan esok hari selalu terbayang meskipun aku memejamkan mata rapat-rapat. Setelah satu bulan lebih hanya bertemu lewat kata, akhirnya aku akan bertemu dengannya. Ah ada apa gerangan ? Bukankah sudah sedemikian sering aku menghabiskan waktu bersamanya ? Hmmm yah pikiranku terbagi antara keinginan dengan keengganan akibat rasa jengah dan was-was untuk bertemu 'pertama kalinya' setelah satu yang tersembunyi akhirnya tersingkap juga. Meskipun satu bulan terakhir aku semakin dekat dengannya, semua itu hanyalah sebatas suara dan kata-kata dalam tulisan. Tak pernah terpikir akan seperti apakah sikapku ketika harus bertemu muka.
Sengaja untuk datang terlambat aku dengan sedikit gugup berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Gerah pun seketika meyerang, bukan hanya karena gelisah yang tak kunjung reda namun juga karena harus berdesakan dengan orang-orang yang rupanya juga punya tujuanyang sama denganku. Tak sabar aku menanti laju kendaraan yang demikian lambat, berulang kali harus mengusap peluh yang mengucur meskipun pendingin udara bekerja penuh. Aku pun menarik nafas lega ketika udara dingin menerpa, aroma khas deretan rak yang dipenuhi buku-buku berbagai genre memenuhi indera penciumanku. Kegelisahanku pun sedikit berkurang karena itu, tak butuh waktu lama aku pun menyibukkan diri dengan menekuri halaman demi halaman buku cerita bergambar yang memang ingin kubaca.Setelah menghabiskan satu buku, akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Bingung dengan apa yang harus kuucapkan ketika bertemu muka, aku pun hanya melontarkan seulas senyum alih-alih mengucapkan kalimat wajib di hari raya dan kembali menundukkan kepala berpura-pura tertarik dengan bacaan di tangan ^^. Selang waktu beberapa lama, akhirnya aku berhasil menggugah keberanianku dan berusaha untuk mengobrol seperti biasa.
Rupanya tidaklah sulit untuk mencairkan kebekuan. Entah karena aku yang mencoba untuk berlaku seperti biasa atau karena banyaknya kesamaan kegemaran yang menjadikan aku dan dia tak kehabisan bahan pembicaraan. Satu hari itu pun seolah berlalu dengan cepatnya. Satu hari yang penuh kegembiraan. Hiruk pikuk di tempat-tempat yang aku dan dia kunjungi meskipun membuatku jenuh dan pening di kepala tak mengurangi keinginanku untuk memperpanjang waktuku dengannya. Sulit rasanya untuk mengakhiri kebersamaanku dengannya, begitu berat aku melepasnya turun, meninggalkanku sendirian selama lebih dari separo perjalanan nan melelahkan. Meskipun aku tahu dalam waktu dekat aku akan selalu ditemani olehnya, susah sekali untuk menahan kedua tanganku untuk tidak terus memegangya. Namun demikian, pada akhirnya aku tak membiarkan keegoisanku menang. Senyum ceria pun tersirat dalam pandanganku untuknya. Dan tak lama kemudian aku pun larut dalam alunan melodi nan menenangkan hati, menemaniku melawan emosi ketika harus terjebak dalam kondisi memprihatinkan yang selalu terjadi di jalanan setiap libur hari raya datang.

Kamis, 19 Agustus 2010

Agustusan


"Ayo nonton upacara, Pigo tampil lho", ajak teman karibku sejak sekolah dasar dulu. Yah, meskipun kami sudah lebih dari sepuluh tahun meninggalkan sekolah, kecintaan akan almamater masih tetap ada. Jadilah kami setia mengikuti perkembangan sekoah kami dan sebisa mungkin tak ketinggalan menonton penampilan junior-junior kami. Dan hari itu, ketika kami lepas sejenak dari rutinitas, meskipun matahari demikian terik tak menyurutkan antusiasmeku dan teman-temanku menonton penampilan grup marching band sekolah kami dulu.
Ada yang berbeda dengan upacara kemerdekaan RI kali ini. Dikarenakan bertepatan dengan kegiatan puasa Ramadhan, upacara yang biasanya meriah dengan warna-warni seragam drumband dari sekian banyak sekolah, kali ini sekolah yang membawa armada drumband hanya tiga saja dan salah satunya adaah almamaterku. Lahan di sekeliling lapangan tempat upacara yang biasanya ramai dengan pedagang kaki lima kini berganti dengan deretan kendaraan roda dua baik bermotor ataupun tidak. Rupanya untuk mencegah kelelahan, pasukan peserta upacara yang biasanya datang ke lokasi dengan berbaris, kali ini mereka menggunakan kendaraan. Begitu upacara selesai, peserta pun bubar dengan cepat meninggalkan lapangan yang panas menyengat.
Tahun ini Indonesia memperingati 65 tahun kemerdekaannya. Jika dilihat ke belakang, adakah kemajuan yang telah dicapai dalam setahun ini ? Meskipun beberapa bulan belakangan ini aku sudah jarang mengikuti berita seputar tanah air, peristiwa dan kasus-kasus besar dan hangat masih santer kudengar lewat media online dan tulis. Peristiwa meledaknya tabung gas, penangkapan teroris, bencana alam, wacana redenominasi rupiah, terkuaknya skandal artis, kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi mewarnai pemberitaan media massa. Wah sepertinya kok nyaris tak ada berita baik di Indonesiaku ya ? Fenomena tersebut semakin memperbesar tanda tanya dibelakang kata sudahkan bangsa ini merdeka ? Berbicara seputar merdeka atau belum, baru-baru ini aku membaca sebuah tulisan menarik di sebuah harian. Seorang bapak mengungkapkan suara hatinya di kolom surat pembaca yang garis besarnya menggarisbawahi lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pada saat refrain tertulis "di sanalah aku berdiri,jadi pandu ibuku". Bapak tersebut merasa janggal dengan kata 'disanalah' tersebut. Jika waktu lagu ini dikumandangkan pertama kalinya, kata tersebut masih wajar karena saat itu Indonesia belum merdeka, sehingga menggunakan 'disanalah' yang bermakna betapa kuatnya keinginan untuk merdeka. Namun saat ini ketika Indonesia telah merdeka, dimanakah kita berada jika mengucapkan kata 'disanalah" ? Bukankah lebih tepat jika 'di sinilah" ? Tanpa bermaksud untuk menjawab pertanyaan nan menggelitik ini, aku sedikit berpikir secara sederhana. Indonesia memang sudah merdeka secara harafiah yaitu bebas dari penjajahan. Namun jika menelusur lebih luas makna merdeka, Indonesia masih jauh dari kata ini. Yah merdeka menurutku kini bukan lagi berbicara tentang pendudukan atas bangsa lain namun lebih kepada kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Lihatlah negara kita saat ini,sudahkah rakyat sejahtera ? Jika menyimak berita seputar kemiskinan, tentu belum menjadi jawaban yang tepat. Rakyat kecil semakin kesulitan untuk hidup, sementara banyak pula yang hidup berkelimpahan. Sebuah kesenjangan yang mencolok, tak heran jika angka kriminalitas semakin meningkat. Rasa aman masih jauh didapat dengan semakin merosotnya nilai moral masyarakat. Mereka tak lagi malu untuk berbuat curang, makar maupun asusila. Tak heran aktor sekaliber Pong Harjatmo nekat memanjat gedung kura-kura demi mencoretkan tiga kata Jujur, Adil dan Tegas. Ah, kapankah Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dalam arti rakyatnya makmur dan sejahtera ? Di bawah kepemimpinan yang jujur,adil dan tegas, diwakili oleh mereka yang benar-benar menjadi suara rakyat tak hanya omong kosong di awal namun menuntut di luar kewajaran ? Semoga kata 'merdeka' segera terlaksana sehingga rasa getir ketika menyanyikan 'di sanalah' tergantikan oleh kewajiban menjunjung keotentikan semata.

Selasa, 10 Agustus 2010

2nd Trip: Dieng


Seolah memanfaatkan waktu sebelum datangnya bulan Ramadhan, mencuri waktu di sela-sela kewajiban yang memusingkan nan menjemukan, akhir pekan lalu aku dan dua orang sahabat melakukan perjalanan ke utara, mengunjungi sahabat yang telah membangun keluarga. Udara dingin menyambut ketika sampai di daerah perbukitan wilayah kabupaten Wonosobo. Meskipun lelah di perjalanan yang tak lepas dari halangan kecil namun mengulur waktu, kegembiraan membuncah ketika bersua dengan 'kakak' yang tengah menggendong putra pertamanya. Akhirnya kesampaian juga untuk melihat langsung 'keponakan' kami yang sekarang sudah besar dan sehat.
Selagi berada di Wonosobo, kami pun memanfaatkan waktu untuk mengunjungi dataran tinggi Dieng, tempat wisata utama di wilayah ini. Terhitung untuk ketiga kalinya aku mengunjungi dataran tinggi Dieng. Namun demikian kunjungan terakhir ini begitu berkesan sekaligus memuaskan. Tempat wisata yang dulu begitu sepi dan gersang, sulitnya transportasi untuk mengunjugi tiga lokasi yang berjauhan, cuaca yang tak mendukung membuatku dulu tak bisa menikmati indahnya panorama alami Dieng. Telaga warna menjadi tempat kunjungan pertama kami. Berbarengan dengan rombongan turisan dan lokal, aku turut menikmati suasana hutan yang basah dan dingin itu. Meskipun sedikit kecewa dengan istiah warna yang ternyata hanya memunculkan satu warna hijau, secara keseluruhan waktu yang kuhabiskan di sekitar telaga ini demikian menyenangkan. Enggan rasanya meninggalkan aroma pepohonan berlumut dengan udara dingin nan menyegarkan. Perjalanan pun berlanjut ke lokasi kawah, daerah yang gersang dan berbau menyengat ini cukup menarik untuk dikunjungi. Menyaksikan gelegak air mendidih dengan bau belerang yang menguar semakin menambah terik cahaya matahari yang menyengat meskipun udara terasa dingin. Kawah yang dulu sepi kini ramai oleh pengunjung dan pedagang oleh-oleh yang menjajakan berbagai macam makanan khas Dieng. Deretan candi yang masih satu jalur di kawasan kawah Dieng menjadi sasaran berikutnya. Meskipun kalah spektakuler baik dari segi arsitektur maupun sejarah jika dibandingkan dengan candi-candi lain di Jawa Tengah, kumpulan candi Arjuna tersebut ditata secara apik oleh pengelola setepat sehingga menarik untuk dijadikan obyek fotografi amatir. Pohon-pohon cemara berjajar rapi, mengelilingi pelataran candi yang lumayan luas. Bunga terompet ukuran maksi berwarna kuning cerah semakin menambah keindahan jalan setapak menuju candi, membuatku seolah-olah berada di negara empat musim. Belum habis keinginan untuk bersantai, waktu pula yang mengharuskanku untuk kembali menuruni jalan berputar yang menyajikan pemandangan spektakuler. Demikianlah, saatnya untuk kembali ke rutinitas, dengan semangat baru yang siap untuk dihadapkan dengan satu dua masalah (mungkin si ^^). Pastinya aku akan menantikan persinggahanku ke tempat berikutnya.


Rabu, 04 Agustus 2010

Damainya Hatiku


"Numpang lahir doang", demikian jawaban setengah nyeleneh dariku ketika orang bertanya mengenai sesuatu yang aku tak tahu seputar daerah tempat tinggalku. Tak bisa disangkal meskipun sedikit memalukan, aku yang notabene anak lokal nyatanya hanya sedikit sekali mengetahui tentang wilayah Gombong dan sekitarnya. Tak heran orang-orang di sekitarku selalu menertawaiku ketika dengan jujur aku mengatakan belum pernah sekalipun mampir ke wisata pantai Suwuk yang berjarak kurang lebih setengah jam berkendaraan menuju arah selatan Gombong. Hal yang bisa terbilang tak wajar mengingat pantai Suwuk saat ini menjadi satu obyek wisata paling diminati di wilayah Gombong. Bukan hanya panorama khas pantai selatan, namun berbagai even besar seperti festival layang-layang dan juga lokasi strategis untuk mereka yang hobi memancing menjadikan pantai Suwuk semakin ramai dikunjungi tidak hanya di hari libur namun juga hari-hari biasa.
Akhirnya setelah berkali-kali gagal kesempatan untuk mengunjungi pantai Suwuk datang. Untuk pertama kalinya aku mendatangi pantai di balik obyek wisata Karang Bolong tersebut. Memanfaatkan waktu kosong di akhir minggu, aku dengan semangat meninggalkan rutinitas kerja lebih awal. Bersamaan dengan tergelincirnya matahari, aku dan sahabat kentalku menghabiskan satu jam menjelang malam di tepi pantai Suwuk. Meskipun fenomena 'sunset' tak bisa disaksikan di sini, kami dihadiahi pemandangan cukup spektakuler. Cahaya kuning berpendar di antara gundukan bukit hijau di sebelah barat muara pantai, tiupan angin kencang tak mengurangi asyiknya menikmati udara segar berbau asin khas lautan. Menghempaskan diri di atas bebatuan pemecah ombak yang tertata rapi, mendengarkan alunan musik instrumental nan menenangkan membuatku semakin hanyut akan indahnya suasana damai di tepi pantai. Tak puas-puasnya mata ini menikmati deburan ombak bergulung susul menyusul hingga terpecah di batas pantai dan kembali lagi ke tengah lautan. Jenuh dan ketidaknyamanan dalam suasana kerja sedikit berkurang, berkat celoteh ringan selama kurang lebih satu jam berpadu dengan keheningan penuh kedamaian ditemani denting piano yang memang salah satu jenis musik favoritku.
Ah begitu enggan aku beranjak dari sini. Namun waktu mengharuskan aku untuk pulang, meninggalkan pantai yang mulai gelap dan sunyi. Demikianlah  untuk menyegarkan diri tak perlu lah untuk jauh-jauh. Meskipun tak seberapa luas dan belum bisa dikatakan sebuah kota, tempat tinggalku ternyata menyimpan potensi wisata alam yang cukup menjanjikan. Pemandangan air di selatan dan utara Gombong mulai kini menjadi tempat idealku untuk memulihkan diri, memompa semangat untuk bisa kembali terjun ke dunia yang hingga kini belum bisa kulalui dengan nyaman. Thank's a lot for  my friend, keberadaanmu  semakin menyempurnakan kala yang tepat untuk memulihkan damai di hatiku. 

Senin, 19 Juli 2010

Back

Kabar gembira menghampiriku lagi. Selain mendapati status terbarunya muncul di akun FB ku, akhirnya setelah satu bulan dua minggu The Doctor absen dari race setelah kecelakaan fatal di Mugello, lebih awal dari vonis tim medis Rossi bisa kembali tampil balapan. Meskipun cedera masih belum sembuh benar, jalan pun masih terpincang-pincang The Doctor memuai balapan pertamanya di sirkuit Jerman. Meskipun dari awal aku tak mengharapkan performa yang istimewa mengingat kondisinya, aku sangat menantikan race kai ini. Sempat khawatir tak bisa melihat penampilan pertama The Doctor setelah absen lama karena ada urusan yang tak bisa ditinggalkan, akhirnya jadi juga aku mendampingi (ceileeehhh.... ) The Doctor sejak start. Dan pekik kekaguman tak henti-hentinya mengalir dariku. Mulai dari posisi lima, The Doctor menunjukkan kepiawaiannya sebagai pembalap dengan mempecundangi lawan-lawannya. Jiwa pembalap yang agaknya demikian mendarah daging tidak menyurutkannya untuk bersaing memperebutkan podium dengan kondisi yang bisa tampil seluruh race pun sudah amat sangat bagus. Meskipun akhirnya harus kalah di tikungan terakhir, salut dan pujian terus menghujani The Doctor. Perjuangannya untuk terus menampilkan performa terbaik demikian sulit ditandingi pembalap lainnya. Tak bisa diungkiri "Race tanpa The Doctor tidaklah menarik"

Minggu, 18 Juli 2010

Weird

"Menurut sahabat I, cinta adalah guna-guna tanpa akhir, yang tidak berbanding lurus dengan waktu. Mungkin karena itulah, guna-guna nyata yang menghampiri di depan mata tak pernah disadarinya ehehe"

Petikan kalimat dari tulisan sahabat yang aktif menulis itu sontak membuatku tertawa. Sebuah kesimpulan dari ceritaku yang baru-baru kutulis di blog pribadiku ini. Benarkah bagiku cinta ibarat guna-guna tanpa akhir, dalam artian tak lekang oleh waktu ? Jika kugali kembali kenanganku selama ini, mungkin sebaris kalimat itu benar adanya. Meskipun berkali-kali aku terpesona pada lawan jenis, jika dipikir lebih lanjut semua itu tak lebih dari kekaguman sesaat saja. Buah dari kebersamaan yang dengan mudah menyesatkan rasa nyaman menjadi sesuatu yang lebih. Namun jika waktu berlalu ataupun frekuensi kedekatan semakin menurun, simpati yang salah arti pun memudar dan kadang hilang begitu saja. Dan ketika aku berjumpa lagi dengan orang itu yang sempat kukira istimewa, getaran aneh yang dulu ada saat dekat dengannya tak lagi muncul. Hanya kasih sayang antar teman dan saudaralah yang keluar dariku. Mata dan pikiran yang dulu tertutup kabut cinta semu akhirnya terbuka lebar sehingga aku bisa memandang seseorang sesuai porsinya.
Pengalaman yang tak hanya datang sekali itu mungkin menunjukkan betapa mudahnya aku mengagumi seseorang, bersimpati dengan segala kelebihannya dan merangkai gambaran ideal dalam pikiran yang tentu dibumbui sendiri oleh khayalanku yang sedikit banyak terpengaruh oleh jenis bacaanku ^^. Namun pada kenyataannya hingga kini hanya satu nama yang tak pernah hilang dan selalu kucari keberadaannya. Sosok impian yang tak pernah pudar dengan berlalunya waktu, membutakanku akan keberadaan satu yang baru. "Karena kau tidak mengenalnya, jadi kau masih penasaran ", demikian kata sahabat S. Benarkah ? yah untuk yang terakhir mungkin karena aku tak pernah mengenal dirinya, sehingga yang terbayang di mataku hanya sosoknya dengan pribadi yang disesuaikan dengan keinginanku. Tapi bagaimana dengan yang pertama ? Bertahun-tahun aku mengenalnya, tahu semua kebaikan dan keburukannya. Dan itu semua makin membuatku terjerat olehnya dan sosoknya masih bercokol di hatiku. " Just open your heart ", demikian nasehat dari sahabatku yang lain (K) ketika aku bercerita betapa bodohnya diriku yang selalu menunggunya.
"Kau mungkin lebih edan dariku ", tulis sahabatku dan tak lupa menyertakan ikon smile. Hmm...gilakah jika aku terus memikirkan orang itu ? Entahlah, yang jelas aku tak merasakah itu sebuah kesalahan karena aku tak menyakiti siapapun kecuali diriku sendiri dan aku pun menikmatinya. Meskipun tak jarang aku terpuruk, perasaan itu selalu mendampingku setiap harinya dan selalu membuatku tersenyum dalam mimpi sekalipun. Bagaimanapun benar kata sahabatku, aku tak bisa terus setia pada dia yang tak ada. Dan mulai harus menyadari guna-guna yang ada di depan mata ^^. Uhmm kapankah guna-guna itu datang ? Aku tak sabar untuk menghilangkan kebodohan ini.

Rabu, 14 Juli 2010

Broken

"Dia OL tuh !", sebaris kalimat di luar topik muncul ketika aku dan seorang teman tengah berbagi saran. Spontan aku mencari nama yang terdiri dari dua kata tersebut di antara sekian nama yang tengah online di situs jejaring Facebook. Dan betapa terkejutnya aku ketika tidak menemukan nama itu. "Mana ?!!!", teriakku dalam kata. " Itu.....!!!", jawab teman yang kutanya. Sekali lagi kutelusuri deretan nama-nama dan sekali lagi aku tak bisa menemukan nama itu. Detik itu juga beribu tanya muncul dalam benakku mengikuti sekilas perih yang menusuk hatiku. Mengapa dan mengapa hanya itu yang kutanyakan, dan hingga kini pun aku tak bisa menemukan jawaban. Kegembiraanku ketika membaca status terbarunya saat itu harus menguap digantikan dengan kekecewaan atau lebih tepatnya sakit hati ketika mengetahui namaku telah hilang.
Kilasan beberapa tahun yang lalu pun terbayang satu persatu, membuatku tak bisa memejamkan mata malam itu. Pertemuan pertama yang biasa saja bahkan nyaris tak berkesan, hingga suatu ketika getaran aneh merasukiku ketika menyadari tatapan matanya yang terarah padaku. Dan sejak itu, perasaan yang istimewa tentang dia semakin bertambah di hatiku seiring dengan semakin seringnya beradu pandang yang ternyata baru ku sadari sekarang bahwa itu bukanlah suatu kebetulan. Aneh memang, bahkan aku sendiri tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Yang kutahu hanyalah setiap kali aku menyadari kehadirannya, detak jantungku semakin cepat. Rona merah yang dengan lihai kusembunyikan dari teman-temanku muncul dari wajahku ketika kami saling memandang meski dari kejauhan. Kebahagiaan absurd ketika hari itu aku mengenakan baju dengan warna yang sama dengannya dan menganggapnya sebagai suatu kebetulan romantis. Kegilaanku untuk menggali informasi tentang dirinya yang untunglah didukung sepenuhnya oleh sahabatku. Kekecewaan berujung tangisanku ketika mendapatkannya tengah merajut kasih dengan yang lain. Sungguh suatu kejadian di luar logika mengingat aku dan dia tak pernah saling mengenal apalagi bertegur sapa, namun jalinan berlatar simpati berujung kasih mengikatku dengan erat. Tak heran ketika aku membaca namanya di daftar mahasiswa yang kan segera meninggalkan kampus, seketika air mataku meleleh, menyadari bahwa tak lama lagi aku tak bisa melihatnya lagi. Tak kan lagi menunggu kedatangannya dengan gelisah, tak ada lagi pandangan-pandangan singkat ketika kami berpapasan, tak bisa lagi menantikan sosoknya yang anggun berjalan dengan menenteng tas di pundak menaiki tangga, menyusuri jalan sempit menuju gedung tua yang sejuk.
Dan kini setelah sekian lama berlalu, dan aku menemukan kembali sosoknya meski hanya sebatas dunia maya, perasaan itu kembali datang. Masih kuingat jemariku bergetar ketika memutuskan untuk mengirimkan permintaan pertemanan. Kehangatan mengingat kenangan indah masa lalu tak berkurang meskipun aku tahu dia sudah terikat dengan orang lain. Harapanku hanyalah aku bisa menjalin pertemanan dengannya sekarang, setelah dulu aku dan dia tak pernah saling mengenal. Dan kini harapan itu harus kandas,hanya dengan sebuah gerakan kecil tangan menekan tombol. Mengapa dia melakukan itu padaku ? Bukankah aku tak pernah menyapanya ? Bukankah aku tak pernah mengenalnya ? Apa alasannya mengacuhkanku dan menerima yang lain ? Siapakah yang bisa memberi jawaban ?
"Mungkin dia tahu ",demikian kata temanku. Benarkah dia tahu ? Andaikan dia tahu mengapa tidak sejak awal mengacuhkanku. " Yah karena kau menusuk hatinya ", jawab temanku. Oh andaikan dari dulu aku tahu, bahwa aku menusuk hatinya bukanlah hanya khayalanku semata, pasti aku akan berusaha mengejarnya. Seandainya aku mempercayai firasatku, andai aku berani untuk memulai mungkin cerita akan lain. Namun rupanya aku dan dia tidak tersurat untuk cerita yang lain. Meskipun demikian aku tak menyesal telah mengenalnya, karena jika boleh mengutip sebuah syair lagu bahwa cinta tak akan pernah salah. Fiuhhhh....penyesalan memang selalu datang terlambat. Saat ini aku tak ingin lagi mengulang kesalahanku untuk yang kesekian kalinya. Andaikan suatu hari nanti aku menemukan kembali sosok seperti dirinya, beranikah aku untuk mengejarnya ? Adakah seseorang yang akan datang untuk mengisi ruang hatiku yang kini kosong? Yang jelas aku tak mau lagi memenuhi anganku dengan harapan semu, betapa aku menginginkan sebuah jawaban yang pasti.