Sabtu, 07 Februari 2009

Semrawut


Semrawut alias kacau, satu kata yang cocok untuk menggambarkan situasi Indonesia saat ini. Di dalam maupun di luar ruangan, kondisi berantakan nyaris tak ada bedanya. Miris selalu hadir ketika mengikuti berita-berita seputar tanah air. Demo yang berakhir ricuh, menjadi langganan topik utama media. Kejadian tragis yang menimpa ketua DPRD Sumatera Utara, mencerminkan betapa kebebasan beraspirasi semakin kebablasan, melenceng jauh dari tujuan demokrasi yang sebenarnya. Perang politik tanpa etika menjadi sorotan publik, saling serang antar partai baik dengan sindiran atau secara terang-terangan mengkritisi kebijakan masing-masing parpol saling dilontarkan kubu yang berkepentingan pada pemilu yang akan datang. Waduh, kapan ya Indonesia bisa lebih bersabar dan bijaksana ?!
Tidak usah jauh-jauh ke ibukota, beberapa tahun terakhir suasana di daerahku semakin semrawut saja. Sepuluh tahun lalu, pemandangan di pagi hari serasa berada di negeri tirai bambu. Seperti di negara Cina, sebagian besar penghuni daerahku menggunakan sepeda onthel sebagai sarana transportasi utama. Jadilah, waktu ketika anak-anak berangkat sekolah, jalan dipenuhi sepeda dengan berbagai ukuran dan jenis. Kendaraan bermotor pun tahu diri, dengan mengalah memberi jalan pada deretan anak-anak berseragam yang dengan semangat mengayuh pedal. Sesuai dengan perkembangan zaman dan tumbuhnya kemampuan ekonomi penduduk, sepeda pun beralih menjadi kendaraan bermotor roda dua. Demikian juga dengan tukang-tukang becak yang kini tidak lagi berkeringat, megeluarkan tenaga mengayuh becak. Mereka tinggal memegang kemudi setelah menghidupkan mesin diesel.
Yang membuat aku prihatin, pengguna jalan dari hari ke hari semakin tidak pauh dengan rambu-rambu jalan. Satu-satunya traffic light di daerahku semakin tidak berguna. Jangan harap bisa menyeberang dengan aman. Walaupun lampu menyala merah, tetap saja mobil, bus, sepeda, becak terutama angkutan mini bus dan sepeda motor menerabas pertigaan. Mereka baru patuh jika ada polantas berjaga di poskonya. Bisa ditengarai jika mobil berhenti ketika lampu merah, sudah pasti berasal dari luar kota ^^. Ironisnya, pengguna jalan yang tertib lalin ini justru mendapat hadiah klakson bertubi-tubi, dan teriakan tak sabar karena menghalangi jalan kendaraan di belakang yang ingin terus maju.
Namanya juga kota kecil, jalan utama hanya satu jalur. Untungnya, jalan yang melintasi tempat tinggalku ini merupakan jalur yang dikenal dengan jalur selatan. Walhasil, setiap saat banyak kendaraan antar propinsi yang melintas dan belakangan ini makin padat saja. Untuk menyeberang jalan saja butuh waktu paling tidak sepuluh menit. Bayangkan bagaimana aku yang penakut ini harus menunggu hingga jalan benar-benar sepi untuk menyeberang ^^. Yang membuat semakin semrawut, angkutan umum sekarang mempunyai halte tidak resmi di tempat-tempat yang menjadi sumber keramaian. Tidak hanya di daerahku saja, nasib terminal di beberapa kota sekarang nyaris tidak berfungsi. Sebagian besar angkutan enggan untuk mampir ke terminal yang notabene bukan tempat transit. Para kondektur hanya melambai sambil menyerahkan pungutan tanpa masuk ke dalam. Aku pun maklum mengapa terminal tidak diminati, penumpang lebih suka menunggu di tempat strategis jika ingin mencegat angkutan. Nah, situasi inilah yang menambah semrawut jalan. Tepi jalan yang berfungsi sebagai jalur lambat dipenuhi bus dan minibus yang sedang 'ngetem' mencari penumpang. Berhubung lokasi halte dadakan ini di depan pasar induk, jadilah lalu lintas yang kacau. Orang-orang berseliweran tanpa tengok kanan kiri. Tak heran jika kecelakaan sering terjadi di daerah situ, bahkan tak jarang nyawa melayang akibat kesemrawutan itu. Tidak hanya itu, jalan aspal mulus berubah menjadi bergelombang tak rata. Duh, sayang sekali mengapa pihak yang berwajib tidak juga menertibkan kondisi ini.
Masih seputar semrawut, kupikir semua ini berpangkal pada ketidaksabaran masing-masing orang. Budaya tertib dalam berbagai bidang, termasuk antri menunggu giliran semakin kesini semakin jarang dilakukan. Baru kemarin aku mendapati betapa orang-orang kini semakin tidak sabaran. Berniat makan enak di sebuah resepsi, tak dinyana aku malah mendapat ujian kesabaran. Entah karena belum berpengalaman atau takut tidak kebagian, tamu-tamu undangan berebut mengambil aneka hidangan. Baru kali ini aku harus rela diseruduk, didorong hingga terhimpit ke sudut untuk sebuah kudapan. Duh, antri dong !!! He..he..he..tak heran jika acara pembagian apapun yang berlabel gratis dibanjiri peminat yang saling tubruk tanpa ampun. Wah..wah..wah agaknya penanaman budaya tertib harus lebih digalakkan semenjak usia dini. kesabaran harus dilatih dan dilaksanakan, untuk menghindari hal-hal negatif yang hampir selalu terjadi di sebuah kerumunan massa.

1 komentar:

ela mengatakan...

Semangat gallakkan budaya tertib ya ^_^