Kamis, 13 Oktober 2011

Ujian Kedua

Beberapa hari menjelang kesibukan di sekolah mencapai puncaknya sesuai jadwal yang ada, kejutan demi kejutan tak menyenangkan menghampiri. Berawal dari sebuah kesalahpahaman yang menyebabkan riak kecil dalam sebuah hubungan, meskipun sesaat sesudahnya kembali tenang, jauh dalam benak masih tersimpan sebuah tanya. Terpengaruh oleh emosi sesaat, keingintahuan akan sebuah kejelasan menuntut untuk terpenuhi. Satu, dua,tiga hari ketika api telah benar-benar padam dan aliran rasa percaya nan menentramkan mulai menghanyutkan, badai itu kembali datang. Sebuah kenyataan pahit meruntuhkan pondasi rencana masa depan yang mulai dibangun. Memang satu kebohongan akan membawa kebohongan yang lain, meskipun pada akhirnya semua akan terbuka juga. Sebuah kejanggalan peristiwa di masa lalu yang akhirnya terkubur begitu saja, kini telah tiba waktunya untuk digali kembali, menunjukkan apa yang tersimpan selama ini. Dan ketika aib itu terbongkar, sosok yang begitu akrab dan lekat di hati dengan segala kelebihan dan kekurangannya perlahan menghilang. Beralih rupa menjadi figur samar yang tak diketahui wajah sesungguhnya. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dan satu demi satu telah terjawab dan jawaban itu menimbulkan pertanyaan lain yang seolah tiada habisnya. Perasaan yang tersakiti, kebimbangan dalam menentukan langkah selanjutnya, ketidakmampuan menentukan kebenaran, tak habis pikir akan sebuah tindakan, rasa bersalah pada yang tidak melakukan apapun namun ikut terseret dalam pusaran cerita, semua campur aduk membentuk jalur-jalur rumit melebur dengan tugas-tugas rutin yang menuntut segera diselesaikan. Di tengah kegalauan dan kekacauan kembali ke selera asal pun menjadi pilihan sementara untuk sekedar menenangkan diri di sela-sela usapan jemari di pelupuk mata.

Rabu, 12 Oktober 2011

On Strange Tides


Selain saga Harry Potter, ada film petualangan fantasi lain yang kutunggu-tunggu waktu tayangya. Diambil dari wahana Disney terkenal Pirate of The Caribbean, aktor watak Jhonny Deep mengambil peran tokoh unik Kapten Jack Sparrow dalam film berjudul sama. Sukses dengan Pirate of The Caribbean Curse of Black Pearl yang diikuti dengan dua sekuelnya, akhirnya sekuel keempat selesai digarap dan baru beberapa hari lalu mulai ditayang di jaringan bioskop di Indonesia. Ketika aku melihat jadwal tayang film bajak laut tersebut di bioskop-bioskop sekitar, langsung saja aku bertolak ke kota sebelah, tak sabar melepaskan diri sebentar dari rutinitas untuk memuaskan keingintahuanku akan sekuel terbaru film produksi Hollywood tersebut.
Serupa dengan tiga film sebelumnya, sekuel terbaru ini masih menampilkan petualangan Kapten Jack Sparrow di lautan. Petualangan mencari mata air dewa sebagai syarat ritual memperoleh hidup abadi menjadi inti cerita kali ini. Meskipun kru Black Pearl masih sama dengan sebelumnya, demikian pula dengan rival abadi Jack, Kapten Barbosa, pada sekuel kali ini tak terlihat tokoh Will Turner dan Elizabeth yang dulu diperankan oleh Orlando Bloom dan Keira Knightley. Sebagai gantinya muncul tokoh baru yang diperankan Penelope Cruz, seorang mantan biarawati yang sempat menjalin hubungan asmara dengan Jack Sparrow. Mantan biarawati yang mengikuti jejak ayahnya perompak legendaris Edward Teach itu yang menggiring Sparrow untuk membantunya menemukan mata air dewa.
Usai menonton film ini, gelombang rasa puas layaknya usai menonton film boxoffice pun membuatku nyaman. Berbagai adegan seru baik di lautan maupun di daratan pulau nan indah, munculnya legenda makhluk laut Mermaid yang mempesona, munculnya perompak tersohor yang konon benar-benar ada di masa lampau, ditambah dengan panorama alami yang sangat indah menjadi nilai plus keberhasilan film ini menjadi salah satu film dengan pemasukan lumayan besar. Tak lupa karakter unik Sparrow yang dengan pas dilakoni oleh Depp sukses memancing gelak tawa penonton di tengah keseriusan mengikuti jalan cerita.
Menyaksikan film ini serta merta membuatku ingat sebuah komik Jepang terkenal. Tak hanya genre yang sama, komik berjudul One Piece karya Odacchi Sensei ini pun mengisahkan tentang kru bajak laut yang mengarungi lautan untuk mendapatkan harta peninggalan bajak laut terbesar Gold D Roger. Tokoh dan makhluk laut yang muncul dalam film keempat tersebut sama dengan apa yang ada di komik. Sebut saja Mermaid (putri duyung) yang digambarkan sebagai wanita cantik bertubuh ikan yang hidup di dasar lautan, bajak laut ternama Edward Teach, keduanya menjadi bagian dalam petualangan Luffy cs. Kesamaan tersebut mengindikasikan baik pembuat film maupun komik keduanya sama-sama melakukan riset mendalam tentang dunia perompak. Riset yang kemudian digarap dengan apik sesuai eksplorasi ide masing-masing membuat dua hal berlainan wujud tersebut sama-sama mendulang sukses di wilayahnya masing-masing. Sebuah proses dalam membuat suatu karya yang patut dicontoh oleh para sineas dan pengarang-pengarang lain yang ingin memperoleh prestasi yang sama. Melihat kesuksesan sekuel terbaru ini yang tak kalah dengan film sebelumnya walaupun tak menyertakan tokoh-tokoh yang telah dikenal pemirsa membuatku berharap akan kehadiran sekuel berikutnya dari Pirate of The Caribbean, mengingat akhir cerita film tersebut masih memungkinkan untuk dilanjutkan pada petualangan Kapten Jack Sparrow berikutnya.

Rabu, 31 Agustus 2011

Lebaran

Hiruk pikuk menyambut lebaran semakin riuh dengan adanya perbedaan penetapan 1 Syawal atawa Hari Kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh beribadah di bulan suci Ramadhan. Kebingungan atas pergeseran mendadak penetapan hari lebaran oleh pemerintah ini mau tak mau menimbulkan sedikit rasa kecewa bagi mereka yang sudah mempersiapkan 'tetek bengek' yang biasa dilakukan di hari raya. Tak ayal lagi berbagai cerita yang mengundang tawa pun terjadi, dari ketupat lebaran yang dijadikan menu sahur, tarawih setelah sempat mengumandangkan takbir hingga membatalkan puasa dan ikut sholat Iedul Fitri karena diajak tetangga ^^.
Sayangnya ketidakbarengan hari lebaran kali ini sedikit banyak menodai kefitrahan Iedul fitri dengan adanya saling kecam antara ahli-ahli yang berperan dalam menentukan 1 Syawal. Masing-masing kukuh berpendapat yang paling benar, dan menyalahkan yang lain bahkan cenderung mengkritik dengan penyampaian yang mengundang salah paham. Semua itu menjadi bibit perpecahan sesama umat yang perlu untuk dicari solusinya agar keutuhan 'ukhuwah islamiyah' tetap terjaga. Jika mengacu pada kebebasan beragama yang termaktu dalam UUD 45, seyogyanya perbedaan ini yang notabene menjadi perbedaan pandangan antar ormas tidak dijadikan isu 'sara'. Biarlah perbedaan ini menjadi hal yang wajar sebagai manusia yang tak sempurna, berpegang teguh pada keyakinan yang berpedoman pada kebenaran dan saling menghormati satu sama lain.
Hari Selasa atau Rabu pada intinya adalah Taqoballalahu Minna Wa Minkum, Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1432 H, Minal Aidzin Wal faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin.

Senin, 08 Agustus 2011

The Last Part


Setelah heboh tak beredarnya film asing di tanah air akibat peraturan bea cukai, akhirnya bertepatan dengan dirilisnya film paling dinanti tahun ini apalagi kalau bukan Harry Potter and The Deathly Hallow part Two alias bagian pamungkas saga Harry Potter, kesepakatan pun terjadi antara pihak importir dengan dirjen pajak. Meskipun tidak semua importir memenuhi kewajibannya mengenai cukai film asing, namun cukuplah bagiku dengan tayangnya bagian teakhir petualangan Harry Potter cs melawan penyihir hitam Voldemort beserta pengikutnya. Kerinduan akan film asing yang notabene lebih menarik dari film lokal komersil akhirnya terobati. Tak pelak lagi begitu muncul jadwal tayang Harry Potter secara serentak, antrian pun mengular apalagi bertepatan dengan libur awal puasa bagi umat muslim.
Demikian pula denganku yang tak ketinggalan antusias mengantri tiket di salah satu studio. Menyempatkan diri di tengah kesibukan dan waktu yang yang telah limit, aku pun bersabar menunggu giliran mendapatkan selembar tiket masuk, sesuatu yang di luar kebiasaanku ^^. Setelah berjalan-jalan sembari menunggu waktu tayang dimulai, akhirnya aku pun memasuki ruangan besar yang nampak nyaman dengan layar lebar terpampang di muka. Aku pun menuju nomor kursi yang tertera di tiket (sayang sekali mendapat kursi paling depan), dan menghempaskan diri, lelah dengan beban berat yang tersampir di punggung. Tak berapa lama, lampu dipadamkan, deretan iklan pun dimulai sebelum tayangan utama diputar.
Sepuluh menit kemudian, aku dan tentu saja semua yang ada disitu larut dalam ketegangan duel akhir antara Orde Phoenix dengan Harry sebagai pusat komando melawan Death Eater yang dipimpin oleh Voldemort sendiri. Berbeda dengan sekuel-sekuel sebelumnya, Harry Potter and The Deathly Hallows baik part one dan part two cukup memenuhi standar sebagai sekuel penutup. Jalinan cerita diadaptasi semirip mungkin dengan novel aslinya. Adegan spektakuler peperangan penyihir pun diolah dengan baik sehingga jadilah pemandangan memukau di layar lebar. Bangunan dan makhluk-makhluk gaib ala dunia penyihir seperti Gringots, Kementrian Sihir, Malfoy Manor, Naga, Aragog, Dementor hingga hantu-hantu Hogwarts digambarkan dengan detail sehingga penonton yang selama ini hanya membayangkan bentuk dan wujudnya sekarang bisa melihatnya secara visual. Adegan dramatis nan mengharukan antara Snape dengan Harry pun berhasil membuat penonton terenyuh, mengubah persepsi tentang Prosefor Snape sekaligus menjadikannya pahlawan sesungguhnya. Setting stasiun King Cross yang didominasi putih terang cukup baik mereprentasikan adegan percakapan antara Harry dan Dumbledore di alam lain. Aku pun gembira ketika di akhir film ditampilkan adegan 19 tahun kemudian, episode kecil namun penting bagi mereka yang penasaran dengan kehidupan Harry pasca kehancuran Voldemort.
Kisah yang berakhir bahagia ini membuatku cukup puas, tak sia-sia mengantri tiket, duduk di deret terdepan yang cukup membuat kepala pusing ^^. Namun sebagai pembaca setia serial Harry Potter mau tak mau aku menemukan satu dua dan banyak hal yang tak sesuai dengan yang tertulis di buku. Merupakan kewajaran bagi sebuah film adaptasi jika menyimpang dari cerita aslinya. Namun untuk kasus Harry Potter, ketidaksesuaian tersebut terasa mengganggu. Satu contoh adegan ketika Neville membunuh Nagini, di buku diceritakan Neville mendapat pedang Gryfindor dari topi seleksi ketika menghadapi Voldemort, di film digambarkan Neville memungut pedang yang muncul begitu saja dan menyelamatkan Hermione dan Ron yang diserang Nagini tanpa senjata. Sebuah hal yang mungkin prinsipnya sama namun disini menunjukkan kesalahan cukup mendasar. JK Rowling, dalam menulis setiap adegan selalu mengandung arti dan maksud tertentu. Demikian pula dengan kasus Neville ini, dengan memperoleh pedang dari topi seleksi, pada akhirnya Neville pun diakui sebagai seorang Gryfindor dengan karakter yang pemberani dan setia kawan, dimana sebelumnya Neville selalu ragu akan posisinya di asrama Gryfindor. Kelemahan film terakhir ini juga terletak pada tidak adanya penjelasan rinci tentang hubungan misterius antara Harry dan Voldemort. Mengapa Harry bisa hidup kembali ? Mengapa Dumbledore mati di tangan Snape ? Mengapa sihir Voldemort tak mempan ketika Harry hidup lagi ? Semua pertanyaan tersebut tak terjawab hingga film usai. Walhasil penonton yang tidak membaca bukunya pun kebingungan dengan adegan yang terkesan meloncat-loncat tanpa mengetahui mengapa demikian. Beruntung aku menyaksikan film ini berbekal cerita asli yang telah kurampungkan sekian kali ^^, sehingga aku pun menikmati sepanjang 2,5 jam dan meninggalkan gedung dengan hati senang dan berbagai hal untuk dibahas dengan seorang teman.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Rencana

Berada di lingkungan baru, bergabung dengan bermacam-macam karakteristik baru membawa perubahan yang cukup signifikan. Prinsip 'Let it flow" perlahan mulai disingkirkan, 'planning' untuk ke depan mulai direka terlebih dengan situasi terjamin kepastiannya. Usia yang kata orang 'sudah waktunya' mengharuskan untuk mengkaji lebih lanjut mengenai apa, bagaimana, kapan dan tak ketinggalan dengan siapa nantinya akan berbagi.
'Hidup adalah perjuangan", demikian pedoman yang dianut oleh seorang guru. Dan itu memanglah benar, untuk mencapai apa yang dicita-citakan, semua perlu usaha dan rencana yang matang. melewati jalan berliku hingga tak jarang merasa menemui jalan buntu. Menganggap bahwa semua yang terjadi sudah ada yang mengatur memang benar adanya, namun sebagai manusia tidak bisa begitu saja menghabiskan waktu dengan berpangku tangan, menanti apa yang biasa disebut dengan 'takdir'.
Perencanaan menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Menelaah segala kemungkinan yang bisa terjadi dan mencari solusi untuk menghadapi segala sesuatunya. Jikalau sulit untuk mengerjakan semua sendiri, bolehlah membaginya dengan seseorang yang diyakini bisa menjadi penyangga. Satu demi satu, bayangan tanggung jawab di masa depan mulai dipikirkan dan direncanakan dengan baik sejak saat ini, supaya kelak ketika tiba waktunya semua bisa teratasi dengan baik.

Selasa, 31 Mei 2011

Kesan Pertama

Sudah hampir dua bulan, aku kembali menggeluti dunia pendidikan, wilayah yang sempat terpikir aku tak akan pernah berkecimpung lagi di dalamnya. Dua bulan yang terasa lama dan menyita tenaga lebih-lebih pikiran. Hari ini tepat ketika aku menginjak usia kepala tiga (tepatnya lebih satu hari ^^) aku bertanya-tanya akan kubawa kemana sisa hidupku selanjutnya. Masih kuingat ketika aku pertama kali menginjak kaki di tempat kerjaku yang baru ini, begitu jauh berbeda dengan dunia ku yang dulu selama beberapa tahun kujalani. Berbekal ketidakpastian akan relevansi latar belakang pendidikanku, kebingunganku semakin menjadi ketika mengetahui lebih jauh tentang institusiku yang baru ini.
Entah mana yang benar antara dulu dan sekarang, aku merasakan perbedaan signifikan yang sedikit banyak mengikis semangat dan antusiasme ku untuk berkarya disini. Baru kali ini aku menemui lahan pendidikan yang diarahkan untuk berwirausaha. Memang ada jenis pendidikan tertentu yang mengajarkan untuk itu, namun aku merasa kurang tepat jika sekolah dijadikan lahan bisnis para penghuninya. Aku sesuai dengan apa yang tercantum di selembar kertas adalah seorang guru, yang kupersepsikan bertugas untuk mendidik murid bukannya memutar otak untuk mencari peluang usaha. Sah-sah saja untuk mencari penghasilan tambahan, tapi dimana tanggung jawab sebagai pendidik jika menomorsatukan itu di atas tugas pokoknya ? Kejutan demi kejutan tak mengenakkan kuterima seiring berjalannya waktu aku disini. Sistem manajemen yang terkesan dipaksakan, tuntutan kerja yang lebih menitik beratkan kepada kewajiban, cara kerja yang tidak sistematis berujung pada kurangnya kebersamaan penghuni sekolah membuatku semakin limbung. Apa yang harus keperbuat, apa yang harus kukerjakan, bagaimana aku bisa membaur dengan semuanya ? Semua itu membuatku sedikit demi sedikit mengalami depresi, (berharap agar berefek pada program penurunan berat badan ^^) belum lagi masalah keluarga yang semakin memperumit dan mengusik hidupku yang baru saja mulai tertata nyaman.
Kesan pertama bagiku selalu penting, jika di awal aku sudah merasa tak nyaman aku tak bisa membayangkan betapa jenuhnya aku di waktu-waktu mendatang. Bayangan kehidupan lebih nyaman dan tenang ternyata belum kutemui saat ini. Mungkin memang aku yang sudah merasa lelah untuk berkarya dan mendambakan kehidupan yang mengalir tenang, bolehlah aku menemui riak-riak kecil tapi berharap tak terkena terjangan ombak.

Selasa, 17 Mei 2011

Watashi wa sensei desu^^

Entah sudah berapa bulan aku tidak mengunjungi laman pribadiku ini. Tak seperti dulu, berbagai peristiwa menarik dan kontroversial tak mendorongku untuk bergegas menuju tempat langganan untuk sekedar urun pendapat maupun berkomentar tak jelas. Heboh artis dadakan Briptu Norman yang dengan fasih berjoget india, arogansi anggota dewan yang tetap kukuh membangun gedung baru dengan desain yang sama sekali tak mencerminkan karakter budaya Indonesia, bahkan gempa dan tsunami yang melanda salah satu negara favoritku tak juga membuatku tergerak meluangkan waktu untuk mengolah kata di dunia maya. Masalah demi masalah seputar pekerjaan maupun pribadi menghambat moodku untuk menulis, bahkan membaca pun urung kulakukan beberapa bulan terakhir ini.
Akhirnya datang juga kesempatan atau lebih tepatnya keinginan untuk menyambangi warnet. Meskipun sebenarnya ada alasan lain mengapa aku mau bangkit dari tidur lelapku dan menempuh jarak lumayan jauh untuk sampai di tempat ini ^^. April menjadi bulan yang mengubah jalan hidupku. Memang berita gembira sudah kuterima sejak awal januari lalu, namun perasaan lega baru datang ketika pada akhirnya aku menerima selembar kertas tipis namun berharga. Berkat semuanya setelah sekian tahun berjuang datang juga giliranku untuk menjadi salah satu dari mereka. Aku sendiri juga heran, ketika harapan nyaris terlepas tak disangka-sangka keberuntungan menyertaiku. Bagaimanapun rasa syukur tak habis-habisnya kupanjatkan, inilah awal untuk harapan dan keinginan yang belum sempat terwujud.
Sungguh tak mudah bagiku untuk berganti haluan. Deretan angka dan hiruk pikuk pekerja masih membayangiku tiap hari meskipun aku telah berganti kostum dan berlaku layaknya style ku dua tahun lalu. Perubahan situasi cukup membuatku tertegun. Lingkungan yang dulu pernah kulakoni, dan setelah lama vakum kini aku terjun kembali ke dunia itu. Akan tetapi, walalupun dulu aku telah lumayan lama berkecimpung di dunia anak-anak sekolah, rumah baruku saat ini membuatku bertanya-tanya, "mampukah aku untuk menjalani semua ini ?" Dikarenakan tingkat satuan pendidikan yang jauh berbeda dengan dulu, membuatku bingung bagaimana aku harus memulai dan mengasah profesionalismeku di bidang ini. Belum lagi sekarang aku terlempar ke sebuah institusi yang dipimpin oleh sosok nan arogan dan ambisius, berada di tengah kerumunan remaja yang sedang berada di taraf mencari jati diri sekaligus berjiwa pemberontak sehingga membuatku ragu akan kemampuanku menangani mereka. Untunglah rekan-rekan yang lain begitu terbuka menyambut kedatangan ku (kami) untuk bergabung dengan keluarga besar mereka. Dengan ramah membesarkan hati ku (kami) yang sempat mengerut akibat tuntutan berat yang ditimpakan kepada ku (kami) di awal perjumpaan.
Perangkat pembelajaran, menjadi wirausahawan, mengabdi penuh untuk sekolah, meningkatkan profesionalisme, berbaur dengan rekan sejawat, mengasah kompetensi di bidang lain, membenahi mental dan pengetahuan anak, itu semua sekian dari banyak tugas-tugas yang menantiku untuk segera dilaksanakan. Sungguh suatu tantangan berat yang membutuhkan energi dan kesiapan mental lebih agar tidak menyerah di tengah jalan. Gambaran betapa berat jalan untuk menuju perbaikan standar mutu kehidupan memang masih panjang dan tak diragukan lagi akan sangat berat dan berliku. Namun, untuk saat ini dengan gembira aku akan berkata, " Watashi wa sensei desu "