Minggu, 31 Januari 2010

Posting di penghujung Januari


Tak terasa sudah sampai di tanggal penghabisan bulan January. Satu bulan di awal tahun tanpa resolusi spesifik kulewati dengan begitu cepat dan tak berbekas. "Awal tahun yang berat", ungkap my litlle sister. Benar awal tahun ini hampir sama dengan awal tahun lalu. Begitu berat dan begitu cepat waktu berlalu tanpa terjadi sesuatu berarti yang mampu mengubah hidupku menjadi lebih baik. Bosan, kesal dan capek, itulah tiga kata yang terus menerus tertumpah dari pikiranku. Hosroskop berkata orang di bawah naungan bintnag kembar itu bersifat pembosan. Meskipun percaya tidak percaya untuk yang satu ini ada benarnya pula. Aku yang terbiasa dengan ritme hidup yang penuh dinamika sejak terperangkap di sebuah lingkungan yang hingga kini belum sesuai untukku merasa nyaman lambat laun mulai merasa bosan dengan rutinitas. Tak heran penyakit bosan yang kuisap ini meluas hingga menyebabkan goncangan emosi yang naik turun. Capek menjadi santapan setiap pagi ketika tiba saatnya untuk bekerja. Was-was akan sebuah tanggung jawab yang sebenarnya aku enggan berurusan dengan hal itu membuat pikiranku semakin tertekan. Mungkin karena depresi berkepanjangan yang membuatku menambah porsi makan dan camilan ini yang menyebabkan proses dietku gagal plus mendapat bonus jerawat yang muncul terus menerus di luar jadwal ^^.
Untuk mengurangi kejenuhan yang berefek negatif tersebut, aku pun menyibukkan diri dengan hiburan wajib yang menjadi kebiasaanku sejak dulu. Membaca, membaca dan membaca ! Meskipun harus melewatkan waktu hingga tengah malam untuk menyelesaikan sebuah buku, meskipun harus bangun keesokan paginya dengan mata setengah terpejam, meskipun harus menahan kuap di siang hari bolong, membaca selamanya menjadi salah satu aktivitasku yang paling menyenangkan. Diselingi dengan surfing di dunia maya, memejamkan mata ditemani alunan melodi nan menenangkan, menghabiskan energi dengan berkaraoke ria sampai serak hingga memancangkan mata di depan televisi melalap satu demi satu koleksi film, dorama dan animeku, membaca selalu menjadi prioritas utamaku. Tak heran jika predikat kutu buku melekat padaku ^^.
Beruntung aku memiliki seorang sahabat yang juga doyan membaca. Berkat rengekan terus menerus akhirnya meskipun tak sempat bertemu setumpuk bacaan tipe kesukaanku sampai juga di rumahku (ko map sum ni da ^^). Penuh semangat kuserbu judul demi judul novel berseri tersebut. Merasa enggan di awal, seperti biasanya setelah larut dalam cerita semangatku berkobar hingga kecepatan membaca pun meningkat. Walhasil bacaan yang sempat kuprediksi akan selesai minimal dalam waktu 4 bulan ternyata bisa kuselesaikan hanya 3 minggu saja ! Yah memang belum seberapa jika dibandingkan frekuensi membacaku dulu ketika semua kesibukan melelahkan ini menghabiskan energiku untuk membaca. Namun lumayan untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal yang tidak menyenangkan.
Usai penasaran dengan serial Wolf Brother yang belum ada kelanjutannya, aku pun mulai merambah ke trilogy Black Magician. Aku sudah tertarik dengan buku ini sejak aku melihatnya terpampang di toko buku yang kukunjugi sewaktu lawatan perjuangan di kota pelajar kurang lebih tiga bulan lalu. Namun entah sejak kapan keputusanku untuk mengoleksi sebuah buku menjadi terbalik yaitu harus membaca isi buku tersebut barulah aku bisa memutuskan akan menambah judul tersebut dalam rak bukuku atau tidak. Jadilah meskipun aku sedikit tertarik ketika membaca sinopsis Magician Guilds yang merupakan buku pertama dari tiga buku lengkap, aku tidak merogoh kocek saat itu juga. Aku pun mengontak sahabatku untuk meminta rekomendasinya. Beruntung (meskipun sudah kuduga ^^) buku-buku yang ingin kubaca telah menjadi koleksinya pula, dengan segera aku pun menodongnya untuk tak lupa menenteng buku tersebut kali dia pulang. Halaman-halaman awal yang kubaca belum menggugah ketertarikanku. Maklumlah sejak petualangan Harry Potter usai, belum ada buku sejenis yang membuatku antusias untuk mengoleksi. Barulah di buku kedua trilogi ini, aku mulai meningkatkan ritme membacaku. Konflik yang cukup rumit mulai muncul yang mendasari inti cerita hingga mengambil titel Black Magician Trilogy. Aku pun semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan buku ketiganya. Saking penasarannya, aku pun mengintip akhir cerita ! Dan rupanya itu keputusan yang amat sangat salah. Tidak hanya aku terkaget-kaget dengan akhir petualangan Sonea anak pemukimam kumuh yang mempunyai kekuatan sihir besar tersebut, namun tak urung kejengkelan akan akhir cerita yang termasuk 'sad end'. Aku yang terlanjur jatuh hati akan sosok Akkarin si ketua tertinggi dari wisma penyihir harus gigit jari ketika membaca dan melihat ilustrasi detik-detik terakhir hidupnya. Heuuuu.....meskipun kalimat-kalimat perpisahan guru murid sekaligus pasangan kekasih tersebut tidak cukup untuk membuatku mennitikkan air mata, hal ini cukup membuatku tersendat untuk merampungkan kurang lebih dua pertiga bagian akhir buku ini. Kejengkelan yang cukup mengurungkan niatku untuk mengoleksi trilogi ini tak bisa dipungkiri dipengaruhi oleh kekecewaanku akan akhir sebuah dorama yang membuatku menangis darah ketika menyaksikan episode terakhir. Maksud hati memperoleh hiburan setelah beberapa hari menguras air mata meskipun hanya dengan mendengar themesongnya dengan menenggelamkan diri dalam petualangan sihir ternyata berujung sama. Demikianlah hingga detik ini aku belum memutuskan layak tidaknya trilogi tersebut menjadi penghuni rak bukuku. Namun di tengah kebingunganku, yang pasti buku ini harus antri menjadi nomor sekian jauh di belakang. Peringkat satu kini telah terisi oleh tokoh kesayanganku lainnya siapa lagi kalau bukan Robert Langdon dalam Lost Symbol. Bulan January, meskipun berlalu dengan cepatnya dan cenderung tak bermakna, ada hal-hal berkesan untukku. Sedikit tak sabar menunggu datangnya akhir bulan, ketika tiba waktunya untuk isi ulang ^^ dan siap merencanakan apa yang harus dilakukan pada bulan berikutnya.

Minggu, 17 Januari 2010

Masalah Baru

Beberapa hari belakangan ini hampir semua program televisi yang menghadirkan kabar terkini tentang dalam dan luar negeri dipenuhi dengan liputan tentang Pansus Century dan sosok pembunuh berantai sadis yang mengaku membantai beberapa anak jalanan. Berita pagi, siang dan sore tak pernah ketinggalan untuk menyangkan meski hanya singkat mengenai kemajuan kerja wakil rakyat yang bernaung di bawah bendera Pansus Century. Yah tak sedikit masyarakat yang menantikan hasil kinerja pertama anggota dewan periode baru ini dalam mengungkap tabir Bank Century yang telah merugikan negara hingga mencapai trilyunan. Sebuah keberhasilan dalam mengungkap kebenaran yang tidak dipengaruhi unsur-unsur penyimpangan niscaya menjadi poin penting untuk menjawab kepercayaan rakyat yang telah diberikan kepada mereka untuk mewakili rakyat di Pemilu lalu. Sayangnya kinerja pansus tersebut akhir-akhir ini lebih disorot pada bagian buram. Dengan tingkah laku kurang etis yang dilakukan salah satu anggotanya, kinerja Pansus menjadi dipertanyakan kembali. Optimisme akan keberhasilan tim ini yang semula ada bisa dikatakan menjadi berkurang akibat tindakan negatif salah satu anggotanya. Memang benar misi tim ini adalah mengungkap kebenaran akan larinya dana bailout serta ketepatan dari tindakan bailout tersebut. Sayangnya cara-cara yang digunakan cenderung sedikit menyimpang dari etika jika tidak bisa dibilang melecehkan. Lihat saja bagaimana cara mereka mencecar tokoh-tokoh penting yang diduga berperan dalam kisruh bank Century ini. Kendati tokoh-tokoh yang diundang notabene adalah tokoh penting yang berpengaruh dihadapan anggota tim ini, mereka layaknya pesakitan yang sedang menjalani pemeriksaan. Satu demi satu tokoh yang dianggap berperan dipanggil dan dilakukan pemeriksaan terbuka. Ibarat seorang mangsa yang dikelilingi pemburu-pemburu ganas dalam ruang tertutup. Hanya seorang yang bermental baja yang mampu menghadapi cecaran pertanyaan yang bertubi-tubi tersebut. Mau tak mau rasa salut muncul kepada mereka yang dengan tenang menjawab pertanyaan, diinterupsi di tengah penjelasan dan kemudian disudutkan dengan serangan bersama-sama. Nah sikap demikianlah yang menjadikan opini masyarakat tentang etika tim pansus berkembang luas. Ditambah dengan kelakuan satu anggota yang menyebabkan keributan tidak hanya sekali namun diulang lagi pada kesempatan berikutnya menjadikan pertanyaan akan keseriusan tim ini mencuat. Bagaimana masyarakat tidak pesimis jika sebuah tim justru saling berseteru di dalam dan menunjukkan kelakuan yang tak mencerminkan etika kesopanan yang berpendidikan. Belum lagi dengan komentar santai seolah permasalahan akan etika dalam ruang sidang ini adalah hal sepele yang tidak perlu diributkan apalagi ketika menghadapi kasus besar. Arogansi yang demikian inilah yang bisa menimbulkan apatis masyarakat akan keberadaan tim. Pada akhirnya masyarakat hanya bisa menunggu hasil kerja tim ini dan berharap agar tidak ada konflik kepentingan yang menambah kisruh dan berlarut-larut masalah mengenai Bank Century ini. Tidak hanya karena dana miliaran yang sudah digelontorkan demi menguak kasus ini namun agar satu masalah cepat selesai dan membiarkan pemerintah mengerjakan apa yang menjadi tantangan selanjutnya bagi masa depan negeri ini.

Sabtu, 16 Januari 2010

QSD Mania


Sejak salah satu stasiun tv swasta kembali menayangkan serial drama asal korea maupun taiwan, minatku untuk tetap memelototi layar kaca semakin bertambah. Di tengah sekian banyak acara monoton nan membosankan, ditayangkannya dorama-dorama tersebut membawa angin segar bagiku untuk sejenak melepas penat seusai beraktivitas sehari penuh. Satu serial yang kini sangat kugemari sehingga tak mampu untuk melewatkannya begitu saja tak lain adalah Great Queen of Seon Deok. Sejak popularitas Dae Jang Geum beberapa waktu lalu, aku begitu menantikan serial kolosal klasik serupa asal negeri ginseng tersebut. Tak dinyana keberanian stasiun tv untuk menayangkan serial anyar yang menempati rating pertama di negeri asalnya membooming dengan begitu cepatnya. Begitu menyaksikan jadwal tayangnya, aku pun menarik nafas lega. Maklumlah kesibukanku saat ini membuat kesempatanku untuk bersantai di depan televisi lebih pendek dari waktu sebelumnya. Melihat latar belakang serial yang akrab dengan singkatan QSD tersebut yang mirip dengan era Dae Jang Geum serta merta membuatku tertarik. Aku memang menggemari serial maupun film-film berlatar belakang zaman kerajaan, entah itu produksi Taiwan, Jepang, Korea bahkan Hollywood sekalipun semua serial ataupun film dengan tema kuno selalu mendapat tempat di hatiku. Demikian pula dengan serial QSD, serta merta aku pun mengontak my little sister untuk mencari dvd versi lengkapnya.
Di awal cerita, ketertarikanku akan serial ini sedikit memudar. Mungkin karena aku belum memahami inti cerita dengan baik, ditambah begitu seringnya pemeran tokoh-tokoh dalam serial ini berganti seiring dengan pertumbuhan si karakter. Namun lama-kelamaan aku semakin hanyut dengan perkembangan cerita. Munculnya aktor-aktor berwajah enak dipandang semakin menambah nilai plus untuk terus mengikuti serial ini ^_^. Bersama dengan seorang sahabat yang sama-sama maniak dorama, aku pun terus memburu keping-keping dvd serial ini, tak sabar untuk menyimak kelanjutan hingga akhir cerita. Nyaris setiap malam aku begadang, mencermati dengan penuh perasaan liku-liku perjuangan ratu pertama Shilla tersebut. Tak peduli keesokan harinya, aku melakukan rutinitas tanpa semangat alias ngantuk berat akibat kurang tidur ^_^. Dari sekian banyak kelebihan serial ini yang membuatku takbisa lepas barang sekejap ada satu magnet terkuat yang terus menarik perhatianku akan serial ini. Yah kemunculan tokoh yang pada akhirnya menjadi karakter penting di serial ini pada episode 21, membuatku semakin terpesona dengan QSD. Meskipun pada awalnya aku masih kekeuh sebagai fans berat Alcheon, pada akhirnya aku pun takluk dengan kenyentrikan tokoh sentral Bi Dam. Hmmm pada dasarnya aku memang selalu tertarik dengan pesona cowok-cowok sedikit bad boy ^_^. Keunikan Bi Dam yang merupakan perpaduan sifat licik sang ibu Mi Shil dengan kebijakan guru Munno membuatku dan sebagian besar penggemar wanita serial ini terpesona. Didukung oleh kepiawaian Kim Nam Gil menghidupkan karakter Bi Dam, tak heran tokoh ini menyedot begitu banyak perhatian. Tak terkecuali aku, di tengah kebosanan dengan rutinitas yang sama, aku pun bersenang-senang di dunia maya untuk mencari sebanyak mungkin informasi tentang serial ini pada umumnya dan pemeran Bi Dam pada khususnya.
Kerumitan jalinan cinta segitiga antara Deok Man- Bidam dan Yu Shin membuatku semakin lekat dengan serial ini. Sayang keputusan penulis skenario yang juga menggarap skenario Dae Jang Geum untuk membuat akhir yang tragis membuatku amat sangat kecewa. Mau tak mau aku sedikit malas untuk melanjutkan menonton serial ini ketika mengetahui akhir kisah cinta Deokman dengan Bi Dam. Bagaimana tidak kecewa jketika aku mendapatkan cinta Deokman dan Yushin yang kandas, aku mulai menebak-nebak mungkinkah Deokman mendapatkan cinta sejati dengan tokoh kesayanganku (saat itu serial ini belum tamat di negeri asalnya), tak dinyana tokoh favoritku pun harus kandas dengan akhir yang menyedihkan ! Meskipun demikian dengan setia aku melanjutkan menonton serial ini yang menurutku kualitas cerita sedikit menurun dengan tewasnya Mi Shil satu karakter penting yang berhasil diperankan dengan baik oleh Ko Hyun Jung. Demikianlah nyaris setiap episode aku menitikkan air mata, meratapi pahitnya jalan hidup yang ditempuh Bi Dam. Semakin lama aku menyimak semakin dalam aku terhanyut akan jalinan cinta mereka yang indah meskipun berakhir dengan menyedihkan. Saat ini, kendati usai sudah aku mengikuti serial ini, entah mengapa kilasan adegan tertentu terus melekat dalam pikiran. Ketika sepi menggelayut, dan alunan lagu tema serial tersebut kusenandungkan tak terasa mataku seketika berkaca-kaca. Begitu dalamnya kisah sedih ini menjerat hatiku, aku sendiri tak mengerti mengapa. Adakah yang bisa membantuku untuk menjawab ? Apakah melodi lembut nan membuai ini tak hanya mengingatkanku akan Bi Dam namun lebih kepada kenangan yang hingga kini belum bisa tersingkirkan ? Fiuhhhh............

Kamis, 07 Januari 2010

Dingin


Kelabu, suram dan dingin adalah kata-kata yang pas untuk menggambarkan kondisiku baik secara mental maupun fisik di penghujung dan di awal tahun baru ini. Alam dengan cuacanya yang tak bisa ditebak semakin memperkuat kesan dingin dalam hidupku yang mulai merambat ke tahun berikutnya. Bermula dari kabar buruk yang terus menerus sampai ke telinga hingga rencana yang hancur berantakan akibat kejadian yang hingga kini terus membuatku jengkel pada seseorang. Penghujung tahun senantiasa dinantikan oleh sebagian orang. Demikian pula dengan penghujung tahun ini. Liburan panjang kedua setelah lebaran yang digadang-gadang akhirnya datang juga. Meskipun aku tidak merayakan dan tidak pula mendapat kesempatan untuk libur panjang liburan yang menandai akhir sekaligus awal tahun baru ini sangatlah kunantikan. Sebuah kesempatan untuk bertemu lagi dengan sahabat lama menjadi momen penting yang kutunggu-tunggu. Sayangnya kegembiraan akan berjumpa lagi dengan sahabat harus pupus begitu saja. Meskipun waktu yang tersedia terbilang cukup panjang, namun nyatanya tidak bisa dimanfaatkan untuk sebuah temu muka meskipun hanya sekejap. Urrrgghhhhhgg........kesal tak terkira diriku. Hanya gara-gara ucapan seseorang yang sudah bawaannya tidak bisa lihat orang lain senang ( subyektif pribadi niy ^^) rencana yang sudah kususun rapi untuk melepas kangen dengan sahabat gagal total. Gara-gara orang itu pula aku tidak bisa istirahat barang sejenak setelah bekerja full time. Satu kejadian tak menyenangkan rupanya berbuntut pada kejadian tak mengenakan berikutnya. Tanpa ampun emosiku terombang-ambing naik turun, sebentar menangis sebentar tertawa dan tak lupa amarah meledak-ledak yang membuatku harus mengalami keadaan terisolir sekali lagi (bukannya aku menolak, setelah dipikir-pikir kondisi ini jau lebih menyenangkan ^^). Pada dasarnya aku masih menyimpan dendam dengan'oknum' tersebut. Efek dari kejengkelan yang terus kupendam sekian lama hingga jerawat segede bisul dalam arti harafiah tak mau hilang dari mukaku menjadikan peristiwa di akhir tahun itu memicu ledakan kemarahan tak terkira dari dalam diriku. Huuhhhhhhfffftt......................
Beruntung aku mempunyai sebentuk pelampiasan untuk meredam emosi. Meskipun kantuk mendera, aku tetap bertahan di alam fantasiku bersama tokoh-tokoh yang lebih hidup dalam diriku dibanding mereka yang ada di dunia nyata. Ya, di tengah musim dingin di jiwaku aku sangat bersyukur mempunyai mereka yang mau mengerti aku atau setidaknya mau mendengarkan keluh kesahku. Bersama mereka aku memperoleh kembali tawa lebarku yang akhir-akhir ini semakin jarang terukir di wajahku. Merekalah yang sedikit meringankan beban di hatiku. Mereka yang selalu setia untuk berbagi suka dan duka, tak peduli betapa sering aku merajuk, tak menghiraukan betapa sering aku mengganggu waktu mereka dengan sempalan cerita-cerita membosankan. Tak terkira besar terima kasihku untuk mereka yang bersedia mendengarkanku, menguatkanku dan terus memberiku semangat ketika aku jatuh.
Meskipun rencana di akhir dan awal tahun tak satupun terwujudkan, setidaknya aku masih berkesempatan untuk
bercanda riang di tengah kawan-kawan lama. Sungguh dua jam kebersamaan yang penuh arti, mengingatkan betapa beruntugnya aku memiliki mereka yang hingga kini tetap seperti dulu. Walaupun waktu terus berjalan, walau kehidupan terus mengalir, walau kami telah menempuh jalan masing-masing, namun kami tetap meluangkan waktu untuk bersama meskipun hanya sekejap setelah sekian lama berkutat dengan perjuangan masing-masing. To all my best friends, thank's a lot. Di awal tahun ini kucoba untuk kembali berjuang hingga kesempatan terakhir datang. Aku akan kembali berusaha untuk memenuhi satu demi satu catatan yang terlewatkan tahun lalu. Dan aku akan selalu ada untuk kalian.

Jumat, 25 Desember 2009

Lagi Be Te

Di penghujung tahun ini, rasanya belum ada kemajuan berarti yang kucapai dalam hidupku yang semakin bertambah usia. Entah apa penyebabnya setiap resolusi yang kubuat di awal tahun lalu berakhir dalam kebuntuan. Mungkin karena tiap hari kujalani dengan monoton, berkubang dalam kondisi yang sama, berinteraksi dengan orang yang sama, berkutat dengan hal yang sama menjadikan aku terhenti di titik itu. Atau mungkin lebih karena diriku yang tidak ingin berubah, ketakutan akan sebuah masa depan yang hingga kini belum siap untuk kuraih. Ahhh berkali-kali menghela nafas pun tidak mampu mengenyahkan kegundahan dalam dada ini. Kegelisahan akan hari esok terus menerus menggegerogoti pikiranku. Meskipun sebuah pengalih perhatian selalu tersedia, namun di kala mata terpejam menjelang tidur kegelapan senantiasa datang menjadikan lelap menjauh dari tidurku. Arrghh kekesalan sepertinya selalu menghampiriku, tidak hanya sedari dulu namun hingga kini pun kata damai seolah menjauh. Ada saja situasi yang membuatku terpancing emosi, meradang hingga berbesar hati dan bersabar pun sulit untuk kulakukan. Ujian demi ujian meskipun tidak semuanya terlewati dengan baik, setidaknya sudah terlewati. Sekarang aku harus memandang ke depan, belajar untuk menentukan langkah selanjutnya. Meski berat jalan yang harus kulewati nanti, setidaknya setitik harapan masih terbuka. Saat untuk berubah sebenarnya sudah datang semenjak lalu, namun beban untuk ke sana selalu membuatku berat hingga akhirnya terhambat untuk mencapai tujuan. Berubah menjadi lebih tabah kini menjadi prioritasku mengingat tugas berat yang akan datang sebentar lagi. Hahhhhh.......pertanyaan yang sama selalu datang di benakku, kapankah akan tiba waktu untukku ?

Be Te !!!!

Ajaran yang besar yang harus mengalah sepertinya sudah tertanam di sebagian besar kelompok masyarakat. Namun ajaran yang baik ini mempunyai kelemahan yang cukup berakibat fatal. Ya petuah agar si besar mengalah ini menjadikan si kecil melihat kesempatan untuk sebuah pembenaran jika terjadi kesalahan dari pihaknya. Demikianlah jika salah asuhan, kebijakan agar si besar harus lebih dewasa dan memahami si kecil sehingga menjadi contoh yang baik justru menjadi senjata bagi si kecil. Dan pada akhirnya ketidakadilan pun dengan mudah terjadi di antara kedua pihak dengan keuntungan lebih condong ke pihak si kecil. Sebuah realita yang wajar terjadi jika sang adik lebih diperhatikan dan selalu dibenarkan sehingga timbul kecemburuan dalam diri si kakak yang notabene sebagai si besar yang harus mengalah. Tentu ini menjadi kesalahan pihak orangtua yang kurang tepat dalam melaksanakan prinsip 'yang besar harus mengalah'. Kesalahkaprahan ini rupanya juga meluas tidak hanya dalam hubungan antar saudara dalam keluarga, contoh kekeliruan dalam penerapan prinsip tersebut terjadi juga dalam konteks lalu lintas. Sudah menjadi rahasia umum jika terjadi kecelakaan di jalan raya, maka kendaraan yang lebih besarlah yang harus bertanggung jawab. Meskipun kesalahan berasal dari kendaraan yang lebih kecil, tetap saja pengemudi kendaraan besar yang harus menanggung akibatnya. Contoh kecil terjadi ketika sebuah mobil box berhenti di depan palang pintu kereta api karena ada kereta yang lewat, tak dinyana dari arah belakang mobil tersebut dihantam begitu saja oleh kendaraan roda dua yang melaju cepat sehingga panik ketika deretan kendaraan di depannya berhenti karena jalan tertutup untuk sementara. Jika dilihat dari kejadiannya, berdasarkan bukti dan saksi yang ada secara logis mobil boks tersebut tidak bersalah. Adalah keteledoran pengendara motor yang menyebabkan dirinya celaka. Namun tidak demikian urusannya, justru si pengemudi mobil boks yang diharuskan membiayai pengobatan si pengendara ! Contoh lain, sebuah mobil sedang melaju dengan pelan di wilayah yang ramai dengan lalu lalang pengguna jalan lain. Demikian berhati-hati sehingga sepeda ontel pun bisa dengan mudah mendahului mobil tersebut. Tak diduga dari arah depan seorang pengayuh yang mabuk di siang bolong dengan seenaknya menabrak mobil tersebut. Kecelakaan yang menyebabkan si pengemudi becak yang sudah sempoyongan tersebut semakin jauh dari sadar. Seperti yang sudah diduga, pengemudi mobillah yang harus menanggung biaya pengobatan orang mabuk tersebut ! Ada lagi yang lebih menunjukkan betapa tidak adilnya etika lalin, sebuah mobil sedang melaju dengan kecepatan kurang dari sedang, berhubung sedang ada operasi tertib berkendaraan bagi pengguna sepeda motor tiba-tiba dari belakang terdengar deruman sepeda motor yang berlari kencang. Rupanya si pengendara yang masih anak SMA tersebut sedang berusaha melarikan diri dari petugas lalu lintas yang mengejarnya. Namanya sedang panik tak terhindarkan lagi si bocah pun menabrak mobil yang sedang berjalan pelan tersebut. Di tengah sedemikian banyak saksi termasuk si petugas lalu lintas lagi-lagi si mobil yang tidak bersalah justru ditilang dan diwajibkan mengganti rugi bagi si bocah nakal tersebut. Olala dimanakan letak keadilan ? Apakah ini kelanjutan dari kekeliruan penerapan yang besar harus mengalah tersebut ? Huh rupanya masih banyak ketidakberesan di sini. Dalam lingkup tertentu ketika si besar tidak bersalah justru menjadi pihak yang dirugikan, di sisi lain si besar yang benar-benar bersalah justru dengan kebesarannya menginjak-nginjak si kecil. Jika dipikir lebih lanjut, setiap kekeliruan dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan bagi pihak tertentu. Jika hal demikian terus terjadi, siapa dan atau apakah yang bisa menjadi penengah ? Di saat hukum sedang terbalik-balik, ketika kebijakan sedang menghilang untuk sementara, saat nurani telah mati, sementara logika menjadi kacau, satu-satunya jalan hanyalah mawas diri, berusaha untuk menghindar dari masalah.

Senin, 21 Desember 2009

Bingung

Beberapa waktu lalu aku membaca status seorang teman di akun Facebooknya yang menuliskan tentang anjuran untuk waspada terhadap UU ITE. Aku yang tergolong awam di bidang hukum ataupun perundang-undangan pun terusik ketika membaca status tersebut. Pengetahuanku yang terbatas mengenai seputar undang-undang hanya mendeskripsikan bahwa UU ITE adalah undang-undang yang mengatur mengenai penggunaan teknologi yang mencakup dunia maya. Jika menyimak berita pidana dan perdata beberapa waktu ini, rupanya mulai ada beberapa orang yang terjerat undang-undang tersebut hingga harus menghadapi tuntutan yang tidak main-main. Perkara pidana terbesar sekaligus tersohor tentu adalah kasus yang menimpa Prita Mulyasari akibat keluhannya tersebar melalui mailing list sehingga beliau dilaporkan pihak yang merasa nama baiknya tercemar kepada yang berwajib. Prita yang semula hidup layaknya seorang pekerja merangkap ibu rumah tangga dalam waktu singkat berubah drastis menjadi pesohor yang dibela oleh rakyat sebagai simbol dari golongan lemah yang ditindas oleh kekuasaan. Kasus Prita yang tercium media pun menjadi pembicaraan besar di khalayak, bersamaan dengan masa dilangsungkannya Pemilu terakhir ikut menjadikan kasus Prita semakin menonjol dengan masukya tokoh-tokoh politik yang berlomba-lomba meraih simpati melalui Prita. Belum tuntas masalah Prita yang sekarang masih menjalani sidang pidana dan sedang mengajukan kasasi perdata melawan sebuah rumah sakit swasta tersebut, muncul Prita Prita lain di berbagai daerah yang menghadapi kasus serupa dengan Prita. Yang terbaru tentu dengan dilaporkannya artis beken Luna Maya oleh sekelompok wartawan sehubungan dengan status Luna yang dituding melecehkan infotainment.
Mencermati hal tersebut, sebenarnya seperti apakah UU ITE itu sebenarnya ? Atau yang lebih dipertanyakan dimanakah batas tentang pencemaran nama baik ? Rasanya akhir-akhir ini banyak perkara yang berlatar belakang pencemaran nama baik bergulir di meja hijau. Ketika era digital yang semakin maju ini, mengapa justru kebebasan untuk berpendapat semakin terkekang ? Lihat saja Prita yang harus mendekam di penjara dan masih harus menghadapi sidang pidana dan perdata hanya karena mengungkapkan fakta akan ketidakpuasannya sebagai customer di sebuah instansi yang menyediakan jasa layanan kesehatan, Luna Maya yang kini berkonfrontasi dengan sejumlah pekerja infotainment akibat menumpahkan kekesalannya akan tingkah laku pemburu berita di situs jejaring sosial, dan entah siapa lagi yang belum terekspos harus menanggung konsekuensi bersinggungan dengan UU ITE ini. Jika keadaan ini terus berlanjut, rasanya kondisi paranoid akan menghinggapi bangsa ini. Ketakutan untuk berbicara dan mengungkapkan pendapat akan terulang kembali seperti masa pemerintahan terdahulu yang dengan tegas mengatur masalah pencemaran, penghinaan ataupun pelecehan terhadap orang yang berkuasa. Yah, pada dasarnya harus diperjelas definisi pencemaran nama baik tersebut sehingga tidak menjadi rancu antara menceritakan sebuah fakta yang menyangkut keburukan orang lain dengan pencemaran nama baik yang notabene mengandung unsur fitnah. Semoga apa yang menimpa Prita ini menjadi pelajaran untuk semua khususnya untuk pemerintah maupun dewan legislatif untuk meninjau kembali undang-undang yang mereka buat. Bagaimanapun dari sudut pandangku yang awam hukum, Prita adalah pihak yang menjadi korban maka wajar jika rakyat dari berbagai kalangan bersatu padu menggalang dukungan melalui berbagai media. Prita adalah simbol dari rakyat kecil yang buta tentang hukum, tak mengerti mengapa sebuah keluhan yang benar adanya justru membuatnya mengalami prahara. Simbol dari kebutuhan untuk beropini, tanpa bermaksud menjelekkan suatu pihak namun lebih kepada perubahan ke arah yang lebih baik.