Kamis, 22 April 2010

Transformasi

"Berubah drastis jadi semakin feminin" demikian bisik-bisik antar teman yang pada akhirnya sampai juga di telingaku. Aku sendiri heran mendengar selentingan seputar diriku yang menurutku sangat bertentangan dengan kepribadianku. Segala kasak-kusuk tentang munculnya sisi femininku yang membuat beberapa orang terheran-heran berawal dari keterkejutan seorang teman melihat dandananku di sebuah acara resepsi pernikahan. Yah kuakui belakangan ini aku lebih memperhatikan penampilan untuk acara tertentu. Terdorong oleh keinginan untuk menyesuaikan diri dengan sebuah acara khususnya resepsi pernikahan, aku dan sahabat karibku jauh-jauh hari sebelum hari 'h' selalu ribet dengan masalah kado dan tak ketinggalan penampilan. Memakai baju apa, dikombinasikan dengan sepatu dan pernak-pernik apa menjadi agenda kami yang dipersiapkan masak-masak demi satu dua jam acara. Dan jadilah aku dan sahabatku tampil beda, dari kebiasaan berpakaian ala preman (alias santai) menjadi lebih rapi. Perubahan penampilan di luar kebiasaan inilah yang membuat beberapa rekanku terkejut. Hingga komentar menjadi lebih feminin pun terlontar dengan transformasiku ini.
Benarkah aku sekarang lebih feminin ? Hmmm aku sama sekali tidak merasa aneh dengan perubahanku ini. Selain hanya terjadi di waktu tertentu, aku merasa wajar-wajar saja jika berpenampilan lebih pada sebuah acara yang menuntut hal tersebut. Sekedar berpakaian model maxi atau mini, memakai highheel dan riasan tipis di muka tidak membuat seseorang menjadi feminin. Aku sendiri tidak tahu benar apa yang disebut dengan feminin. Jika boleh mengutip kalimat di wikipedia, feminin yang berasal dari bahasa prancis feminine adalah sebuah kata sifat yang berarti kewanitaan atau menunjukkan sifat perempuan seperti kelembutan, kebaikan, kesabaran dan lain-lain. Dari definisi tersebut, aku masih jauh dari feminin ^^ Biarpun dibungkus dengan gaya perempuan sejati, namun tetap saja sifat dasar yang cenderung serampangan masih muncul ke permukaan ^^.
Bagaimanapun aku tetap berterima kasih kepada teman-teman yang telah memperhatikan dan memberi komentar positif selama ini. Dan yah inilah aku yang sekarang lebih mampu mengkondisikan diri sesuai dengan situasi.

Minggu, 11 April 2010

Gresik : Sabar Menanti



Belum usai penat di badan akibat terlalu memforsir tenaga untuk menjauh sejenak dari masalah, tak disangka aku harus kembali berkelana. Berawal dari turunnya perintah untuk menyusul tiga orang rekan yang sudah lebih dulu berangkat, tanpa sempat bersiap-siap ataupun merasa takut karena harus berkunjung ke daerah yang belum pernah kudatangi, dengan sedikit uang di tangan aku membulatkan tekat untuk berangkat ke sebuah kota industri di ujung timur pulau Jawa. Informasi yang datang terlambat membuatku merasa khawatir dengan sukses tidaknya perjalananku kali ini. Bimbang, takut dan gelisah ditambah rasa lapar dan haus karena belum sempat mengisi perut memenuhi pikiranku semenjak duduk manis di bangku kereta Pasundan jurusan Bandung-Surabaya. Untunglah orang-orang di sekelilingku demikian ramah, mungkin karena berasal dari satu daerah dengan tempat asalku. Aku pun menghabiskan lima jam pertama menuju Surabaya dengan berceloteh bersama satu keluarga yang ramah itu. Ketakutan akan harus bermalam di stasiun terakhir kota Surabaya pun menghilang untuk sesaat.
Namun pada akhirnya dengan senyum kecut aku pun harus mengantar kepergian keluarga itu turun di stasiun Watu kukuh, masih terpaut jarak lumayan jauh dari tempat tujuanku. Menginjak wilayah JAwa Timur yang baru kali ini aku lalui, aku pun menghabiskan waktu untuk bersistirahat memejamkan mata. MAklumlah jalur kereta api tidak menyajikan pemandangan yang bisa kunikmati di sepanjang perjalanan. Tepat tengah malam, kereta pun tiba di stasiun Semut, pemberhentian terakhir kereta Pasundan di Surabaya. Dengan cekatan aku meloncat turun dari kereta (meskipun ada hal di luar dugaan ^^), terburu-buru mengikuti seorang remaja asal Tasikmalaya yang hendak menuju MAdura dengan siapa aku meneruskan obrolanku setelah keluarga asal KEbumen itu turun. Tiba di stasiun, aku pun menarik nafas lega. Rupanya banyak orang-orang yang sepertiku di sana. Tanpa ragu ataupun malu, aku pun merebahkan diri di sebuah bangku panjang, melemaskan otot sembari menunggu pagi tiba.
Belum satu jam aku terlelap, aku mendadak terbangun di tengah sorak-sorai orang di sekelilingku. Ada apa gerangan ? Owh rupanya dini hari itu ada siaran langsung liga Champion antara MU versus Bayern Muenchen. Tak bisa tidur lagi, aku pun ikut duduk menatap terpaku pada layar kaca 21 inchi yang terletak cukup jauh dari jarak pandangku. Subuh pun tiba, aku pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Aku sendiri masih bingung kemana aku harus berjalan, lagi-lagi bantuan datang, seorang petugas stasiun yang baik hati memberiku petunjuk, menyarankanku agar menunggu matahari lebih tinggi lagi untuk berangkat. Walhasil kami pun duduk di pojok, mengobrol santai mengawasi lalu lalang orang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kurang lebih dua jam kami ngobrol ngalor ngidul hingga waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Penuh terima kasih aku pun berpamitan, dengan setengah hati harus menolak tawaran petugas untuk mengantarkanku ke kota sebelah. Penuh percaya diri aku melangkah sesuai petunjuk cowok hitam manis itu, menoleh ke kanan kiri mengagumi keindahan gedung-gedung tua yang megah. Setengah jam kemudian sampailah aku di kota Gresik, kota kecil namun besar di bawah nama Semen Gresik dan Petrokimia Gresik.
Sabar menanti, itulah julukan tepat yang dilontarkan seorang rekanku berdasarkan pengalaman tiga hari di Gresik. Dari awal keberangkatanku ke Gresik, menunggu menunggu dan menunggu menjadi agenda utamaku. Bermula dari menunggu jemputan yang membuatku nampak seperti Bolang alias Bocah ilang di pertigaan kawasan Petrokimia, dilanjutkan dengan menunggu tutor yang mestinya mengajar aku dan rekanku melakukan analisis kimia pada sampel, menunggu jatah makan siang yang tak kunjung datang sementara perut kami sudah berkeruyuk minta diisi, menunggu untuk diantar ke tempat persistirahatan hingga harus menunggu jemputan untuk kembali ke lokasi pelatihan. Hufttt, amat sangat tidak profesional demikian pikirku mengenai seputar pelatihan. Aku yang dulu terbiasa dengan perencanaan matang sebelum melakukan sebuah pekerjaan yang butuh ketelitian dan akurat, hanya bisa tercengang dan geleng-geleng kepala melihat hambatan-demi hambatan yang mengahalangi jalannya pelatihan. Peralatan yang belum lengkap, kemikalia yang tidak ada, tanpa buku petunjuk hingga tutor yang tiba-tiba hilang ingatan membuatku terkena penyakit 'bete' dan berkali-kali menahan kuap agar terlihat sopan.
Namun di sela-sela ketidaksabaran, aku sedikit menikmati dua malam di Gresik. Damai dan tenang menyelimutiku, membuat nafsu makanku yang dua minggu terakhir ini bisa dikatakan tidak ada kembali memuncak. Seorang diri di hotel megah di kawasan tengah Gresik membuat keinginanku untuk menjelajah muncul. Aku pun dengan cueknya menyusuri jalanan di sekitar hotel, sibuk memilih makanan apa yang akan kucicipi malam itu ^^. Krengseng, nasi krawu dan rawon itulah sedikit dari sekian makanan khas Jawa timur yang sempat kucoba. Sayang waktu tak memungkinkan aku untuk berkeliling berburu oleh-oleh khas Gresik untuk dibagikan ke keluarga dan teman-temanku.
Sabar menanti, kata ini terus mengikutiku hingga tiba waktunya untuk pulang. Jenuh dengan ketidakpastian, aku dan rekanku akhirnya nekat untuk meninggalkan Gresik memburu waktu agar bisa sampai di rumah secepat mungkin. Karena ketinggalan kereta, aku pun harus menahan diri di tengah sesaknya bus ekonomi yang memuat penumpang sebanyak-banyaknya. Akhir minggu rupanya menjadi waktu serentak para pekerja di Surabaya untuk pulang ke tempat masing-masing. Aroma campur aduk dan desakan tubuh-tubuh kuyu membuatku muak. Namun lagi-lagi sabar menjadi kata panutan untukku. Yah, meskipun harus menutup hidung menahan serangan asap rokok, mataku tak tahan untuk melahap pemandangan yang terpapar di kaca depan bus. Kota demi kota di JAwa Timur kulalui, meskipun tidak seluruhnya cukuplah jika aku pernah mengenal sekaligus melewatinya. Pemandangan spektakuler di malam hari, ditambah dengan tangan yang sibuk memencet keypad untuk mengobrol via sms membuatku kuat menahan kantuk hingga tengah malam. Dua jam menjelang subuh, sampailah aku di rumah yang kurindukan. Kembali bergelung di peraduanku yang selalu membuatku nyaman dan tertidur pulas.

Sabtu, 10 April 2010

Kabur




Memasuki bulan keempat di tahun ini, sedikit angin segar mulai berhembus namun tak cukup mengurangi beban yang terus menggelayut di pikiranku. Beruntung seorang teman terdampar di lokasi yang relatif sama, bersama-sama kami menghabiskan waktu mengunjungi berbagai tempat dimana aku bisa melepaskan diri dari segala macam masalah pelik untuk sejenak.
Laut selalu menjadi tempat favoritku sejak dulu. Duduk di atas pasir di tepi pantai, memandang sejauh mungkin ke arah laut yang seolah tak berujung, menikmati kicauan burung yang melayang-layang rendah di atas air, terpesona pada debur ombak yang tak putus-putus, membuatku terpesona dan betah berlama-lama hanya untuk merenung di pinggir laut. Pantai Glagah, untuk pertama kali aku menapaki butiran pasir di tempat wisata tersebut. Biarpun ini untuk pertama kali, namun rasanya aku tak merasa asing. Pantai pasir yang gersang dan panas mengingatkanku akan pantai di bagian selatan lainnya yang nyaris sama. Sayang trauma akan peristiwa masa lalu membuatku takut untuk bermain-main dengan ombak, walhasil aku pun harus puas dengan duduk manis menikmati matahari yang turun perlahan menjemput malam.

Usai mengeksplorasi pantai di wilayah baru, kami melanjutkan mengunjungi daerah dengan ketinggian yang jauh berbeda. Meskipun lelah di badan, sekali lagi aku berhasil menjauh dari rutinitas, menikmati karya alam yang meski telah kesekian kalinya aku kunjungi, namun kali ini terasa lebih berkesan. Rupanya sekian lama aku tak menjejakkan kaki disini, gua alam yang menjadi obyek wisata potensial di daerahku ini mengalami sedikit perubahan. Tenda-tenda penjaja makanan dan souvenir makin marak, rapat berjejer di sepanjang jalan menuju mulut gua. Suasana makin ramai dengan alunan musik tradisional yang dilantunkan oleh sekelompok orang setempat. Anak-anak kecil bertelanjang dada, ribut berceloteh menarik pengunjung untuk melemparkan koin ke dalam kolam buatan. Harum aneka gorengan dan masakan khas setempat menguar, membuatku dengan segera merasa lapar tak sabar untuk mencicipi 'mendoan' yang memang makanan kesukaanku. Satu demi satu aku melewati anak-anak tangga yang menuju ke mulut gua. Entah berapa jumlahnya, aku tak sempat menghitung, sibuk mengatur nafas dan tenaga untuk menjalani 'ujian pertama' sebelum diperbolehkan menikmati keindahan gua Jatijajar. Lelah pun terbayar ketika sampai di dalam gua. Udara dingin dan bau apak menyambut ketika masuk ke dalam. Tetesan air menitik teratur di antara stalaktit-stalaktit yang seolah diatur sedemikian rupa agar tampak menarik. Setelah memuaskan sifat narsis yang mendadak kambuh ^^, kami pun turun menuju kedalaman gua. Menyempatkan diri untuk menjalani mitos setempat (siapa tahu manjur ^^), membasuh tangan dan menciprati patung perempuan yang berendam di tengah sendang. Dan perjalanan menyusuri gua pun berakhir, menyisakan penat yang harus dibayar dengan istirahat sejenak. Menyantap hidangan hangat dengan segelas minuman dingin, mencuri-curi kesempatan untuk mengabadikan sosok manis yang tak sengaja ditemukan dalam keremangan gua ^^.
Ahh, tak terasa waktu berlalu demikian cepat. Belum puas rasanya untuk bersantai, malas sekali untuk kembali ke aktifitas yang menjemukan. Namun tugas telah menanti, mau tak mau aku harus segera kembali.
Kini ketika mengingat hari itu, ingin rasanya aku mengulanginya. Sebuah keputusan mendadak tanpa pikir panjang gara-gara rasa jengkel memang bukan pertama kali ini kulakukan. Yah, akibat kesal bukan bukan kepalang dengan seseorang yang membuatku frustasi, aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjungi salah satu kota favoritku. Waktu yang menjelang senja, tak mengurungkan niatku untuk kembali kabur, memuaskan diri dengan aktifitas favoritku di tengah tumpukan buku-buku yang menggunung. Keasyikan berburu buku yang nantinya bakal menjadi koleksiku, membuatku semakin merasa bebas dari penat. Lelah akibat belum sempat bersistirahat, tak menahanku untuk menyusuri lorong-lorong tempat yang selalu kukunjungi ketika aku berada di kota gudeg ini. Aku pun semakin beretambah riang dengan kedatangan kawan lama yang selalu siap untuk diajak bersenang-senang. Memuaskan keinginan untuk mencicipi makanan yang sudah dari dulu ingin kucoba. Meskipun isi kantong terkuras dengan cepat, semua itu tak membuatku berhenti untuk terus menjelajah mencari kepuasan akan kegemaranku. Rencana pun bergeser dari semula, apalagi kalau bukan karena dua setan kecil itu ^^ Demikianlah hari-hari yang berlalu begitu cepat dan melelahkan. Namun membawa kesejukan yang telah lama kurindukan.
To all my dear friends..... thank you so much. Anytime we must spend like this again.

Kamis, 01 April 2010

Pengalaman Pertama

Terhitung genap dua minggu aku berdomisili di lokasi baru, daerah terpencil meski dilalui jalur utama selatan. Untuk pertama kalinya aku mengadu nasib jauh dari kota kecil namun sangat kusukai yang menjadi tempat tinggalku bersama kedua orang tuaku. Disinilah, di sebuah desa di kawasan kecamatan Bagelen, Purworejo, aku mengemban tanggung jawab baru, terjun ke bidang baru tanpa persiapan matang. Di tengah kebingungan akan tugas yang menanti, aku pun memberanikan diri untuk segera melaksanakan tugasku yang baru di tempat ini. Satu dua hari berlalu hingga genap empat belas hari berlalu, tak terkira banyaknya masalah yang harus kuhadapi sekaligus harus kuselesaikan dengan bijaksana dan tepat. Ahhhh.....berat sekali beban yang kutanggung hingga kini. Ketika aku masih meraba-raba dan belajar, sementara aku tak berpengalaman, aku dipaksa untuk menyelesaikan segala hal tanpa ada bantuan yang signifikan.
Pusing, gelisah, pikiran tak bisa tenang terus menerus mengganggu hari-hariku sejak mendengar kabar kepindahanku ke sini. Meskipun orang bilang, pengalaman adalah guru yang terbaik bagiku pengalaman kali ini benar-benar hal yang membuatku merasa pahit hingga timbul keinginan untuk menghilang. Aku semakin menyadari jika ini bukanlah bidang yang kukuasai dan kuinginkan. Tak ada rasa menikmati sedikitpun pada tugasku kali ini. Membuatku lelah lahir batin, setelah berusaha hingga batas akhir kemampuanku yang tak seberapa ini.
Entah harus bagaimana lagi aku menjalani hari-hari ke depan. Aku pun terpikir hal-hal begatif akan kelangsungan tugasku ini. Bagaimana tidak, jika hal yang tidak siap dipaksa untuk siap. Aku yang berperan layaknya jembatan penghubung pun dibuat semakin pusing dengan kemauan dua kepala yang berbeda. Koordinasi di lapangan yang tak kondusif semakin memperparah tekanan yang kuhadapi. Lingkungan yang terus-menerus menekan semakin membuatku sesak. Meski air mata meleleh, walau semua ganjalan tertumpah semua itu tak kunjung mengurangi beban berat yang kusangga. Andaikan waktu bisa kuulang kembali, begitu inginnya aku meralat keputusanku. Begitu besar harapanku untuk keluar dari masalah ini, dan kembali ke duniaku yang indah di tengah kawan-kawan kecilku yang polos, nakal namun menyegarkan. Saat ini kucoba untuk bertahan, menguji batas kemampuanku berusaha untuk mendapatkan sedikit hembusan angin segar demi masa depan. Semoga dengan pengalaman ini aku bisa belajar untuk maju, menguasai hal baru, mampu menyelesaikan hambatan dengan tepat dan cepat, tak lupa menjadi pribadi yang lebih sabar,kuat dan tabah.

Kamis, 18 Maret 2010

Qualcuno nel mio sogno


"Mataku mencari-cari di kerumunan orang, tak lama kemudian pandanganku tertumbuk pada sesosok tinggi bermantel hitam dengan syal melilit di leher jenjangnya yang tengah bersandar pada sebuah pilar. Senyum tersungging di bibirku ketika melihatnya menunduk, mencermati angka-angka yang tertera di jam tangan Rolex dipergelangan tangan kirinya."

Kilasan kalimat yang pernah kutulis beberapa tahun lalu berkelebat di benakku. Dengan kalut aku membongkar isi lemari kecilku, mengeluarkan bermacam-macam benda yang tertata rapi dan tak tersentuh untuk sekian lama. Dengan cepat kubuka sebuah buku bergaris yang terselip di tumpukan berbagai majalah lama. Kubolak-balik halaman demi halaman, tapi apa yang kucari belum juga kutemukan. Tak lama aku mengalihkan area pencarianku, sempat bersorak ketika menemukan sebundel berkas lama yang kukenali adalah hasil karyaku dulu, namun lagi-lagi aku menelan kecewa ketika 'benda istimewa ' itu tak juga kutemukan.

"Di tengah serunya pertandingan, serta merta perhatianku teralih akan sosok gagah yang berdiri di tepi lapangan. Wajahnya yang tampan dengan hidung mancung bak patung Romawi dengan serius memperhatikan teman-temannya berlaga. Kedua belah tangannya bersidekap di depan dada semakin menambah keangkuhan figur berwibawa yang membuatku terpesona. Siapakah dia ?"

Ah betapa inginnya aku membaca kembali tujuh lembar kertas yang merupakan segenap perasaanku yang pada akhirnya menjadi sebuah jalinan cerita impianku itu. Tak seperti tahun sebelumnya, kali ini jauh-jauh hari aku telah mengingat akan tanggal istimewa di bulan Maret ini. Meskipun telah sekian lama aku tak menjumpainya, walaupun hingga kini tak ada kabar beritanya, kali ini aku tak melupakan paduan angka 1 dan 9 yang sejak dulu menjadi angka keramatku. Berkali-kali aku melewatkan kesempatan untuk melihatnya, berkali-kali pula aku merasakan sebuah penyesalan. Tahun demi tahun terlewati dengan cepat tanpa dia yang dulu begitu lekat di hatiku. Yah, sebagian besar memang karena kesalahanku yang begitu mudah berpaling ketika dia harus menghilang untuk beberapa lama. Adalah sifatku yang terlalu mudah merasa bosan sehingga dia tergantikan untuk sementara.

"Alessandro Nesta, pemuda kelahiran 21 tahun lalu di sebuah daerah di kota Roma yang menjadi salah satu pilar. Sosoknya yang demikian anggun, penampilannya yang kalem, raut wajahnya yang khas mediterania seolah memunculkan kembali Pangeran Romawi kuno yang ada dalam bayanganku "

Kali ini, seiring harapan untuk kembali melihatnya di tengah arena, jauh-jauh hari aku telah bersiap untuk menjadikan Venerdi, 19 Marzo menjadi hari yang spesial. Aku sadar jikalau usianya telah mendekati titik akhir karirnya. Tak berlebihan jika aku ingin sekali sekali lagi melihatnya dengan kostum Azzuri, ingin sekali aku larut dalam antusiasme penuh semangat mendukungnya berjuang dalam tim untuk mempertahankan gelar yang akan diperebutkan bulan Juni nanti. Di tengah rumor yang beredar, tak urung harapanku melambung, harap-harap cemas menantikan keputusannya.

Venerdi, kan kuingat selalu hari ini, hari ketika aku meniupkan sebuah harapan untuknya. 19, kan kuingat tanggal ini, tanggal ketika aku merindukannya. Angka yang selalu kukenang karena mengingatkanku akan "dia". Impian yang sekali lagi berkobar, membuatku merasa muda kembali, masa ketika gelak tawa, canda ceria mengalahkan kerisauan. Impian yang dipenuhi sosoknya setiap saat, dia yang memperoleh tempat khusus di hatiku, dia yang telah membuatku terpesona, dia yang membuat hidupku lebih berwarna, dia yang menguatkan aku untuk berkarya, dia yang telah berakar dalam diriku.

" Buon compleanno, carrissima ! desiderache lei sia liposteriore. La tengo sempre nel mio cuore"

Jumat, 12 Maret 2010

Forever Princess


"Teenlit ?!", sebagian teman pastinya tak percaya jika aku mau membaca bahkan membeli buku fiksi yang termasuk kategori remaja alias teenlit. Aku memang jarang membaca buku bergenre remaja ringan bahkan cenderung lebih menyukai buku-buku cerita anak-anak macam Mrs Witz, Malcolm In The Middle, Because of Winn Dixie atau buku anak-anak karangan Roald Dahl, Eva Ibbotson dan pengarang buku sejenis ternama lainnya. Tak heran ketika aku dengan setia mengikuti kisah Putri Mia yang dituangkan dalam bentuk buku harian, ada beberapa dari mereka yang mengenalku tak mempercayainya.
Pada kenyataannya sudah cukup lama aku mengoleksi buku-buku harian yang ditulis oleh Meg Cabot dari sudut pandang orang pertama ini. Ketika aku masih duduk di semester lima bangku kuliah, waktu itu aku iseng melihat-lihat toko buku baru yang terletak di tepi jalan utama menuju kampus biru (kangennya aku akan sebutan ini ^^). Berhubung aku lebih tertarik ke buku-buku fiksi, aku pun segera memilah sederet judul yang terpampang di rak. Ketika tak menemukan judul yang membuatku tertarik untuk membeli, akhirnya aku iseng mencomot sebuah buku berjudul Princess In The Spotlight (Menjadi Pusat Perhatian). Tanpa alasan khusus hanya karena merasa sungkan jika keluar tanpa membawa apa-apa, aku memilih buku itu hanya karena harga lumayan murah, dan menilik dari sinopsis yang tercetak di cover belakang buku tersebut yang kurasa cukup menarik dalam arti bisa memancing tawa sehingga cocok untuk bacaan ringan yang menghibur. Setibanya di kamar kos PD 79 (ruangan tempatku bergelung di dunia ku semasa kuliah ^^),tanpa menunggu lama aku segera membuka halaman pertama buku itu. Sebutan aneh untuk sebuah buku serta merta meloncat dari pikiranku ketika membaca lembar pertama cerita bangsawan New York tersebut. Baru kali itu aku menjumpai pengarang menulis kisah dalam bentuk buku harian yang ditulis oleh si tokoh utama. Bagaimanakah cara pengarang untuk membuat pembaca memahami jalan cerita jika ditulis dengan gaya buku harian yang pada umumnya hanya sepenggal pengalaman yang dituang dalam bentuk kata-kata ?, demikian batinku saat itu. Namun lambat laun tanpa kesulitan aku mulai mengikuti alur cerita yang ternyata aku langsung membaca buku keduanya ^^. Sejam kemudian aku pun tersenyum puas, tak sia-sia aku merogoh kocek yang tak terduga hanya karena iseng. Dan sejak saat itu aku pun gencar menanti kelanjutan kisah rekaan pengarang asal Amerika itu.
Meg Cabot membuat terobosan baru dalam bidang tulis menulis yang belum pernah kujumpai sebelumnya (berhubung buku ini yang baru pertama kali kubaca). Menulis dengan sudut pandang orang pertama bukanlah hal yang jarang dilakukan, namun ketika dituangkan dalam bentuk buku harian, itu menjadi sesuatu yang spesial untukku yang baru pertama kali ini menjumpai gaya menulis seperti itu. Meskipun berbentuk buku harian, Meg Cabot bisa menceritakan liku-liku kisah Putri Mia, anak di luar perkawinan yang mendadak harus memegang tanggung jawab sebagai Putri Mahkota negara monarki absolut kecil di benua Eropa. Ditulis dengan gaya bahasa remaja yang ringan, Meg mampu membuat pembaca memahami isi hati sang Putri, mengikuti kegiatan sehari-hari Mia dan interaksinya dengan orang tua, kerabat dan sahabat-sahabatnya. Meg pun acapkali memasukkan berbagai hal yang digemari remaja Amerika masa kini lengkap dengan komentar maupun pendapatnya yang dikeluarkan melalui tokoh Mia dan beberapa tokoh sentral lainnya. Dengan lihai Meg menuliskan karakter-karakter Mia dan orang-orang disekelilingnya yang dituangkan dalam buku harian milik Mia. Layaknya sebuah buku harian, serial tentang Putri Mia ini tak lepas dari coretan-coretan ala remaja yang mencatat jadwal sekolah, caci maki terhadap hal yang tidak disukai, maupun curahan hati si pemilik buku harian. Akan tetapi coretan-coretan tersebut justru menjadi pemanis yang melengkapi inti cerita yang sebenarnya amat ringan dan mudah dicerna namun cukup menghibur. Tak heran aku yang terlanjur mengoleksi satu bukunya, memutuskan untuk mengikuti serial ini sekaligus penasaran dengan akhir kisah terutama hubungan cintanya dengan senior yang juga menjadi tokoh fiktif kesukaanku.
Jika kuingat lagi, waktu aku membeli buku kedua serial Putri Mia ini, aku terpengaruh dengan janji bahwa kisah Putri Mia akan berakhir di buku ketiga. Aku yang tidak terlalu suka untuk menunggu-nunggu rampungnya sebuah kisah, berani memutuskan untuk membeli karena waktu itupun buku ketiga serial ini sudah terbit. Dan memang benar adanya bahwa kisah Mia dalam menggapai cintanya berakhir dengan sukses di buku ketiga. Betapa terkejutnya aku ketika beberapa bulan kemudian aku menemukan buku keempat serial Putri Mia terpampang di gerai buku swalayan Moro (swalayan tempatku dulu berbelanja kebutuhan bulanan ^^). Mau tak mau aku pun merogoh kocek untuk membeli buku itu. Maklum sudah menjadi sifatku untuk tidak berhenti di tengah jalan ketika mengumpulkan sesuatu. Aku tidak suka jika melihat buku-buku koleksiku tidak lengkap dalam artian kekurangan satu judul dari sekian seri. Jadilah aku dengan setia mengoleksi buku harian Putri Mia. Dan tahun ini (sudah berapa tahun sejak aku pertama membeli ya ?^^) akhirnya buku terakhir kisah Putri Mia pun muncul. Kuhitung dari awal, tak terasa sudah menginjak buku ke-10 ! Wow sebuah rekor untuk kisah ringan bergenre remaja yang mampu bertahan hingga sepuluh seri. Buku yang pernah diangkat ke layar lebar dengan judul sama dengan buku pertamanya ini akhirnya benar-benar mengisyaratkan akhir kisah Putri Mia. Bukan saja mengenai perubahan Genovia menjadi monarki demokratis yang berarti membebaskan Mia dari kewajibannya memimpin negara itu, namun juga menceritakan akhir kisah cinta Mia, keputusannya dalam menempuh pendidikan dan hubungannya dengan sahabat sejak kecilnya yang sempat merenggang. Membaca kisah yang berakhir bahagia tersebut, aku pun kembali merasakan lega berkepanjangan. Bukan hanya karena gembira dengan kebahagiaan Michael (tokoh favoritku) namun lebih kepada akhir beraliran 'happy end' pada serial ini. Dengan akhir yang membuatku tersenyum gembira, membuatku tak sia-sia mengoleksi serial ini yang ternyata kelebihan tujuh seri dari targetku sebenarnya ketika membeli buku kedua dulu. Akhir yang bahagia membuatku tak bosan untuk membaca dan membaca ulang serial ini. Lain dengan koleksiku yang berakhir tak seperti harapanku, kini terbengkalai begitu saja. Demikianlah meskipun hanya sebuah cerita ringan ala remaja, kisah milik Meg Cabot ini menjadi selingan di antara buku-buku yang membuatku harus berpikir lebih keras untuk memahami sebuah cerita.

Kamis, 11 Maret 2010

Tantangan Baru

Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi. Seperti biasanya usai melaksanakan kewajiban terhadap Yang Maha Kuasa, aku kembali menghempaskan diri ke tempat tidur, menyalakan televisi menyimak berita terkini seputar tanah air diselingi dengan meneruskan membaca buku yang belum selesai kulahap. Volume headphone kupasang maksimal, memfokuskan indra pendengaranku dengan alunan musik oriental di pagi hari. Mendadak gedoran keras terdengar di pintu, mendengar suara yang samar-samar kukenal dengan segera aku pun bangkit dari posisi berbaring untukmembuka pintu. Tak dinyana kedatangan bos besar di sela kegiatan jalan paginya seolah menjatuhkan bom di sekelilingku.
Akhirnya tiba juga waktuku untuk berkemas, bersiap menjelajahi area baru di lokasi nun jauh di sana. Bingung, gelisah, khawatir tak tentu arah bercampur baur di kepalaku. Aku yang terbiasa hidup tenang mengikuti arus kini harus melawan gelombang. Bukan hanya tanggung jawab yang lebih besar menanti, namun lebih kepada ketidakpastian akan apa yang menjadi tugasku nanti. Meskipun sang bos sudah cukup jelas menyatakan posisiku, sedikit kekacauan di awal mulai terjadi. Demikianlah aku harus mulai dari nol, berusaha semaksimal dan sekuat kemampuan pikiranku saat ini untuk mempelajari hal yang baru. Mencoba untuk belajar mengambil langkah yang tepat, bekerja sama dengan rekan-rekan baru yang sama tidak pahamnya dengan diriku akan tugas yang menanti.
"Mampukah aku bertahan ?", pertanyaan ini tak bisa kuhilangkan dari benakku, membuatku kehilangan ketenangan yang sulit untuk dijauhkan meski aku dikelilingi penyejuk hatiku selama ini. Yah, usai meninjau lokasi seharian penuh, kegalauan semakin menjadi-jadi dalam diriku. Jika semula aku mengkhawatirkan kehidupan yang kelak terisolir dari peradaban modern, kini aku lebih memikirkan apa yang harus kumulai disana. Tanpa bantuan dari seseorang yang telah berpengalaman di bidangnya, hanya bersama segelintir rekan yang masih sama amatirnya, aku sama sekali belum mempunyai gambaran akan apa yang harus dilakukan. Setelah memeriksa kondisi tempat yang baru yang benar-benar masih kosong melompong, meskipun aku tahu secara garis besar pekerjaan baruku nantinya, tetap saja aku kebingungan bagaimana menjalankannya nanti. Pikiranku benar-benar kusut dengan rencana-rencana yang saling tumpang tindih. Mempelajari hal di luar kemampuanku, mengorganisir sesuatu yang masih abstrak, mencari akomodasi yang layak, menjawab berbagai pertanyaan yang aku sendiri tak tahu benar jawabnya hanyalah sedikit dari sekian banyak benang ruwet di pikiranku.
"Sabar Mba, jalani saja dulu, semoga sukses,.......... ", ya semua harus dilalui setahap demi setahap. Mengingatkanku akan nasihat bijak seorang Shigure, "Jika ada banyak cucian di sekitarmu jangan memikirkan kapan selesainya, cucilah sehelai demi sehelai dimulai dai yang ada didekatmu, dan lama-lama semua akan tercuci bersih". Hmmm, dengan dukungan kerabat dan sahabat aku mencoba untuk meneguhkan hati, memantapkan tekad untuk berbuat sebaik-baiknya menjawab tantangan baru. Entah berhasil atau tidak, aku mencoba untuk menabahkan hati yang selama ini terlalu lembek dan penuh dengan ketakutan untuk keluar dari cangkang yang nyaman. Semoga...........