Selasa, 16 Februari 2010

Buon Compleanno Vale !!


Hari ini seperti biasa aku menghabiskan waktuku di siang hari dengan duduk manis menerima dan menghitung lembaran-lembaran rupiah, mengobrol di dunia maya dan tak lupa headset terpasang di telinga, menghibur dan menenangkan emosiku dengan alunan musik oriental nan menghanyutkan. Euforia tahun baru Cina alias Imlek rupanya masih membekas dalam diriku, walhasil hingga hari ini aku tak lepas dari senandung penyanyi bertalenta Jay Chow. Demikianlah hari ini, seperti biasa aku membuka dan membaca berbagai status yang terpampang di jejaring sosial di mana aku menjadi salah satu pengikutnya. Begitu membaca status dari 'kakak' nun jauh disana, serta merta aku terperangah. Dengan cepat aku mengetikkan sebaris kata kunci, mengecek kebenaran status tersebut. Ouww...ternyata benar jika hari ini menjadi hari istimewa di bulan Februari. Bukan karena hiruk pikuk hari Kasih Sayang yang bagiku tak berarti apa-apa ^^ namun karena hari ini tanggal 16 Februari adalah hari lahir salah satu publik figur favoritku. Ya hari ini tepatnya 31 tahun lalu telah lahir seorang legenda di dunia balap motor. Valentino demikianlah namanya yang amat tepat disematkan pada orang yang lahir di bulan Februari. The Doctor itulah julukan yang melekat padanya berkat kepiawaiannya di dunia balap motor. Rossi itulah nama keluarga yang lebih dikenal di kalangan penggemar balap motor dan orang pada umumnya.
Tak pelak lagi aku pun dengan segera mengubah status di akun FB-ku, sekedar mengucapkan kalimat selamat ulang tahun padanya, meskipun orang yang kutuju tidak mengetahuinya ^^. Meskipun usia Vale (panggilanku untuknya ) sudah beranjak tua, bagaimanapun aku tetap mengharapkan penampilan terbaiknya di balapan musim ini yang akan dimulai pada bulan April nanti. Bukan sekedar angan-angan kosong jika aku mendoakan agar Vale tak tergilas pendatang-pendatang baru yang berbakat. Dengan sepenuh hati aku tetap berharap agar sang legenda tetap bertahan dan kembali menorehkan namanya untuk gelar juara kesekian kalinya, hingga sulit bagi penerusnya untuk menyamainya. Buon compleanno, Vale ! King of Moto GP .

Buram

Akibat terlalu sering bermandikan air hujan di malam hari membuatku memiliki cukup waktu luang untuk bermalas-malasan di rumah. Meskipun kepala terasa pening, tak membuatku surut untuk memanfaatkan waktu untuk membaca setumpuk buku yang menanti untuk kulahap satu demi satu. Tubuh lemas, tenggorokan kering dan rasa pahit di mulut membuatku tak punya pilihan selain membaringkan diri di kursi favoritku. Bosan dengan acara televisi yang monoton, aku pun memutuskan meneruskan aktivitasku sebelum virus menyerang, apalagi kalau bukan membaca maraton novel-novel yang belum sempat kuselesaikan. Usai membaca petualangan terbaru Robert Langdon, aku pun mengambil sebuah judul dari sekian banyak novel dari tiga macam genre yang menumpuk di tepi ranjangku. Berbeda dengan bacaan sebelumnya yang benar-benar mewakili kesukaanku akan pengarang luar negeri, kali ini aku kembali mengulang membaca kisah hidup seorang anak melayu Belitong yang terkenal berkat tetralogi Laskar Pelanginya.
Sebenarnya ketiga buku yang ditulis oleh Andrea Hirata ini sudah kubaca setahun lalu. Berhubung seri pamungkas tetralogi ini diterbitkan dengan jarak waktu yang cukup lama, aku pun memutuskan untuk mengulang dari awal sebelum membaca Maryamah Karpov , judul terakhir petualangan Andrea, anak melayu yang sukses menggapai mimpi-mimpinya. Ya keempat buku ini rupanya mampu menembus idealismeku akan menarik atau tidaknya sebuah bacaan. Aku yang lebih menggemari fiksi terjemahan, untuk kedua kalinya aku mengakui kemampuan penulis dalam negeri. Setelah sempat kecewa dengan karya-karya Kang Abik yang menurutku tidak seindah Ayat-Ayat Cinta, baru kali ini aku menemui penulis tanah air yang mampu mempertahankan ketertarikanku akan karyanya. Andrea dengan gayanya yang sedikit aneh dalam memadankan sebuah perumpamaan, sukses membuatku terus menekuri kata demi kata hingga mencapai halaman akhir tanpa rasa bosan. Kisahnya mulai dari masa kecil yang mengingatkanku akan peliknya dunia pendidikan di Indonesia, hingga kegigihannya sehingga mampu menginjakkan kaki di tanah Eropa (benua yang sangat kukagumi) hingga pencariannya akan cinta pertama (meskipun agak sedikit absurd menurutku) membuatku terpana dan mau tak mau semangat untuk terus dan berani mewujudkan impian. Kisah menarik yang mampu menimbulkan inspirasi bagi pembaca, itulah pendapatku akan tetralogi Laskar Pelangi ini. Meskipun si pengarang menyatakan bahwa dia bukan penulis, bagiku dia adalah penulis hebat yang membuat kejutan dan terobosan baru dengan ciri khasnya di tengah gempuran buku-buku bermuatan ringan yang menyebabkanku enggan untuk berurusan dengan buku karya anak negeri ^^.
Itulah aku, begitu cintanya aku akan membaca buku-buku fiksi, membuatku tak menghiraukan apapun selagi asyik larut dalam petualangan yang tertuang dalam kata. Walhasil beberapa hari ini, mataku merasakan akibatnya. Buram dan pedih selalu menghampiri ketika aku meraih sebuah bacaan dan mulai membaca ^^. Mungkin aku harus sedikit mengerem kecepatan membacaku, mengistirahatkan indera penglihatanku untuk sementara. Namun lagi-lagi aku terbentur akan kesukaanku yang satu ini. Karena dengan membacalah aku bisa mengalihkan perhatian dari kejenuhan, berada di duniaku sendiri yang demikian kunikmati. Ah, mengingatkanku akan sebuah kalimat di Maryamah Karpov. : " Penyakit gila No. 16. Berada di dunia sendiri, menciptakan masalah sendiri dan menyelesaikannya sendiri", demikian kira-kira ^^

Sabtu, 06 Februari 2010

Koleksi Terbaru


Akhirnya tiba juga saat mendebarkan untukku sebagai seorang kutu buku. Sebuah judul novel best seller yang telah lama digadang-gadang bakal menjadi penghuni tetap rak bukuku pun kelar diterbitkan dalam versi Indonesia. Beruntung buku ini diluncurkan menjelang hari 'isi ulang' membuatku tak perlu menunggu terlalu lama untuk segera larut dalam petualangan terbaru simbolog fiksi yang dua buku sebelumnya telah berhasil memikat kekagumanku. Ya, semenjak aku mendengar info akurat akan kehadiran tokoh Robert Langdon dalam karya teranyar novelis Dan Brown, jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan dana tersendiri untuk membeli buku yang pastinya mengalami lonjakan harga setelah kesuksesan buku-buku seri Langdon sebelumnya. Sembari menunggu terjemahan buku yang berjudul The Lost Symbol ini, aku yang demikian antusias dan penasaran sibuk mencari informasi di berbagai situs, sekedar membaca sinopsis maupun testimoni yang dilampirkan di cover belakang buku tersebut ini. Kata kunci Freemason yang menjadi dasar petualangan Langdon kali ini semakin menggelitik antusiasmeku. Ditambah dengan secuil informasi bocoran yang menyinggung masalah kitab suci semakin meyakinkanku untuk segera membaca buku ini. Jadilah kali ini aku berlaku di luar kebiasaaanku, tanpa pikir panjang lagi tak menghiraukan isi kantung yang dengan cepat menipis aku yang biasanya pantang membeli buku sebelum membaca terlebih dahulu tergiur untuk membeli novel dengan harga di luar jangkauanku tanpa embel-embel potongan 50% ^^. Seingatku hanya serial Harry Potter yang mampu membuatku dengan segera memburu seri terbaru tanpa menunggu buku ini dipajang di 'bookfair'. Itupun berlaku mulai buku kelima Harry Potter and The Order Of Phoenix, dimana aku sudah demikian keranjiangan dan penasaran dengan perjalanan nasib penyihir cilik itu. Bisa dibayangkan resiko apa yang kuambil dengan membeli buku terbaru Dan Brown ini tak lama setelah hari pertama beredar.
Meskipun lelah dan mata tak mau diajak kompromi, aku tetap menguatkan diri menelusuri 150 halaman pertama dari buku yang baru sehari di tangan dan telah kudata serta kusampuli dengan rapi ini. Namun entah mengapa halaman demi halaman terlewati, ketegangan dan keterkejutan yang selalu muncul di dua buku sebelumnya tidak kurasakan. Aku bahkan harus menahan kuap dan beratnya kelopak mata yang selalu ingin mengatup. Wah, pertanda kurang baik, demikian pikirku yang akhirnya menyerah dan mengistirahatkan diriku ketika waktu menunjukkan tepat tengah malam. Malam berikutnya aku kembali membuka halaman terakhir yang kubaca, kembali diam dan berkonsentrasi di antara untaian kata dan simbol-simbol yang sebagian sudah kukenal. Memasuki setengah bagian buku, aku pun menambah sedikit pengetahuan akan Washington, DC dan sesuai ciri seri petualangan Langdon aku memperoleh sedikit tambahan informasi mengenai korelasi antara agama modern dengan kisah kuno tentang dewa-dewi. Menjelang dua pertiga bagian aku merasakan sebuah kekecewaan. Bagian yang seharusnya berada pada titik ketegangan jika menilik dua buku sebelumnya, aku tidak menemukannya pada buku ini. Walhasil kisah tentang Robert Langdon yang berusaha menyelamatkan mentornya, master dari perkumpulan rahasia Freemason yang terkenal itu terkesan biasa-biasa saja. Pengungkapan ritual inisiasi Mason, ataupun perjalanan Langdon dalam memecahkan kode berlapis Mason untuk menemukan Misteri Kuno yang secara mitos adalah Kata yang Hilang yang dapat mencerahkan atau disitu dikatakan mengubah manusia menjadi Tuhan atau dewa kurang menunjukkan greget tersendiri. Meskipun Dan Brown menunjukkan kejutan di akhir cerita seperti biasanya, ketika aku menyelesaikan kalimat terakhir buku ini, tak ada keheningan yang selalu muncul ketika aku menyelesaikan sebuah buku yang menurutku sangat menarik. Tujuh ratus sekian halaman yang semula menjanjikan petualangan seru, pada akhirnya menjadi satu hiburan ringan di sela rutinitasku.
Walaupun aku tak menyesali keputusanku untuk menjadikan buku ini salah satu koleksiku, tak urung sedikit ketidakpuasan menyelip ketika usai membaca buku ini. Kegairahan yang terpupuk mulai dari tahun lalu tidak terbayar dengan lunas. Entah karena topik yang tidakbegitu kontroversial seperti dua buku sebelumnya, atau aku yang tanpa sadar mulai jenuh dengan tulisan Brown, atau memang intrik yang kurang berliku dan informasi yang tidak begitu mendetail pada kenyataannya aku kurang setuju dengan berbagai testimoni yang memunji-muji buku ini. Tentu ini hanya sebatas pendapatku yang notabene hanya seorang kutu buku yang tidak bisa menelaah sebuah isi buku dengan benar dan hanya sekedar untuk hiburan dan menambah pengetahuan di kepalaku namun pada kenyataannya di luar sana ada yang sepakat dengan pendapatku.

Minggu, 31 Januari 2010

Posting di penghujung Januari


Tak terasa sudah sampai di tanggal penghabisan bulan January. Satu bulan di awal tahun tanpa resolusi spesifik kulewati dengan begitu cepat dan tak berbekas. "Awal tahun yang berat", ungkap my litlle sister. Benar awal tahun ini hampir sama dengan awal tahun lalu. Begitu berat dan begitu cepat waktu berlalu tanpa terjadi sesuatu berarti yang mampu mengubah hidupku menjadi lebih baik. Bosan, kesal dan capek, itulah tiga kata yang terus menerus tertumpah dari pikiranku. Hosroskop berkata orang di bawah naungan bintnag kembar itu bersifat pembosan. Meskipun percaya tidak percaya untuk yang satu ini ada benarnya pula. Aku yang terbiasa dengan ritme hidup yang penuh dinamika sejak terperangkap di sebuah lingkungan yang hingga kini belum sesuai untukku merasa nyaman lambat laun mulai merasa bosan dengan rutinitas. Tak heran penyakit bosan yang kuisap ini meluas hingga menyebabkan goncangan emosi yang naik turun. Capek menjadi santapan setiap pagi ketika tiba saatnya untuk bekerja. Was-was akan sebuah tanggung jawab yang sebenarnya aku enggan berurusan dengan hal itu membuat pikiranku semakin tertekan. Mungkin karena depresi berkepanjangan yang membuatku menambah porsi makan dan camilan ini yang menyebabkan proses dietku gagal plus mendapat bonus jerawat yang muncul terus menerus di luar jadwal ^^.
Untuk mengurangi kejenuhan yang berefek negatif tersebut, aku pun menyibukkan diri dengan hiburan wajib yang menjadi kebiasaanku sejak dulu. Membaca, membaca dan membaca ! Meskipun harus melewatkan waktu hingga tengah malam untuk menyelesaikan sebuah buku, meskipun harus bangun keesokan paginya dengan mata setengah terpejam, meskipun harus menahan kuap di siang hari bolong, membaca selamanya menjadi salah satu aktivitasku yang paling menyenangkan. Diselingi dengan surfing di dunia maya, memejamkan mata ditemani alunan melodi nan menenangkan, menghabiskan energi dengan berkaraoke ria sampai serak hingga memancangkan mata di depan televisi melalap satu demi satu koleksi film, dorama dan animeku, membaca selalu menjadi prioritas utamaku. Tak heran jika predikat kutu buku melekat padaku ^^.
Beruntung aku memiliki seorang sahabat yang juga doyan membaca. Berkat rengekan terus menerus akhirnya meskipun tak sempat bertemu setumpuk bacaan tipe kesukaanku sampai juga di rumahku (ko map sum ni da ^^). Penuh semangat kuserbu judul demi judul novel berseri tersebut. Merasa enggan di awal, seperti biasanya setelah larut dalam cerita semangatku berkobar hingga kecepatan membaca pun meningkat. Walhasil bacaan yang sempat kuprediksi akan selesai minimal dalam waktu 4 bulan ternyata bisa kuselesaikan hanya 3 minggu saja ! Yah memang belum seberapa jika dibandingkan frekuensi membacaku dulu ketika semua kesibukan melelahkan ini menghabiskan energiku untuk membaca. Namun lumayan untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal yang tidak menyenangkan.
Usai penasaran dengan serial Wolf Brother yang belum ada kelanjutannya, aku pun mulai merambah ke trilogy Black Magician. Aku sudah tertarik dengan buku ini sejak aku melihatnya terpampang di toko buku yang kukunjugi sewaktu lawatan perjuangan di kota pelajar kurang lebih tiga bulan lalu. Namun entah sejak kapan keputusanku untuk mengoleksi sebuah buku menjadi terbalik yaitu harus membaca isi buku tersebut barulah aku bisa memutuskan akan menambah judul tersebut dalam rak bukuku atau tidak. Jadilah meskipun aku sedikit tertarik ketika membaca sinopsis Magician Guilds yang merupakan buku pertama dari tiga buku lengkap, aku tidak merogoh kocek saat itu juga. Aku pun mengontak sahabatku untuk meminta rekomendasinya. Beruntung (meskipun sudah kuduga ^^) buku-buku yang ingin kubaca telah menjadi koleksinya pula, dengan segera aku pun menodongnya untuk tak lupa menenteng buku tersebut kali dia pulang. Halaman-halaman awal yang kubaca belum menggugah ketertarikanku. Maklumlah sejak petualangan Harry Potter usai, belum ada buku sejenis yang membuatku antusias untuk mengoleksi. Barulah di buku kedua trilogi ini, aku mulai meningkatkan ritme membacaku. Konflik yang cukup rumit mulai muncul yang mendasari inti cerita hingga mengambil titel Black Magician Trilogy. Aku pun semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan buku ketiganya. Saking penasarannya, aku pun mengintip akhir cerita ! Dan rupanya itu keputusan yang amat sangat salah. Tidak hanya aku terkaget-kaget dengan akhir petualangan Sonea anak pemukimam kumuh yang mempunyai kekuatan sihir besar tersebut, namun tak urung kejengkelan akan akhir cerita yang termasuk 'sad end'. Aku yang terlanjur jatuh hati akan sosok Akkarin si ketua tertinggi dari wisma penyihir harus gigit jari ketika membaca dan melihat ilustrasi detik-detik terakhir hidupnya. Heuuuu.....meskipun kalimat-kalimat perpisahan guru murid sekaligus pasangan kekasih tersebut tidak cukup untuk membuatku mennitikkan air mata, hal ini cukup membuatku tersendat untuk merampungkan kurang lebih dua pertiga bagian akhir buku ini. Kejengkelan yang cukup mengurungkan niatku untuk mengoleksi trilogi ini tak bisa dipungkiri dipengaruhi oleh kekecewaanku akan akhir sebuah dorama yang membuatku menangis darah ketika menyaksikan episode terakhir. Maksud hati memperoleh hiburan setelah beberapa hari menguras air mata meskipun hanya dengan mendengar themesongnya dengan menenggelamkan diri dalam petualangan sihir ternyata berujung sama. Demikianlah hingga detik ini aku belum memutuskan layak tidaknya trilogi tersebut menjadi penghuni rak bukuku. Namun di tengah kebingunganku, yang pasti buku ini harus antri menjadi nomor sekian jauh di belakang. Peringkat satu kini telah terisi oleh tokoh kesayanganku lainnya siapa lagi kalau bukan Robert Langdon dalam Lost Symbol. Bulan January, meskipun berlalu dengan cepatnya dan cenderung tak bermakna, ada hal-hal berkesan untukku. Sedikit tak sabar menunggu datangnya akhir bulan, ketika tiba waktunya untuk isi ulang ^^ dan siap merencanakan apa yang harus dilakukan pada bulan berikutnya.

Minggu, 17 Januari 2010

Masalah Baru

Beberapa hari belakangan ini hampir semua program televisi yang menghadirkan kabar terkini tentang dalam dan luar negeri dipenuhi dengan liputan tentang Pansus Century dan sosok pembunuh berantai sadis yang mengaku membantai beberapa anak jalanan. Berita pagi, siang dan sore tak pernah ketinggalan untuk menyangkan meski hanya singkat mengenai kemajuan kerja wakil rakyat yang bernaung di bawah bendera Pansus Century. Yah tak sedikit masyarakat yang menantikan hasil kinerja pertama anggota dewan periode baru ini dalam mengungkap tabir Bank Century yang telah merugikan negara hingga mencapai trilyunan. Sebuah keberhasilan dalam mengungkap kebenaran yang tidak dipengaruhi unsur-unsur penyimpangan niscaya menjadi poin penting untuk menjawab kepercayaan rakyat yang telah diberikan kepada mereka untuk mewakili rakyat di Pemilu lalu. Sayangnya kinerja pansus tersebut akhir-akhir ini lebih disorot pada bagian buram. Dengan tingkah laku kurang etis yang dilakukan salah satu anggotanya, kinerja Pansus menjadi dipertanyakan kembali. Optimisme akan keberhasilan tim ini yang semula ada bisa dikatakan menjadi berkurang akibat tindakan negatif salah satu anggotanya. Memang benar misi tim ini adalah mengungkap kebenaran akan larinya dana bailout serta ketepatan dari tindakan bailout tersebut. Sayangnya cara-cara yang digunakan cenderung sedikit menyimpang dari etika jika tidak bisa dibilang melecehkan. Lihat saja bagaimana cara mereka mencecar tokoh-tokoh penting yang diduga berperan dalam kisruh bank Century ini. Kendati tokoh-tokoh yang diundang notabene adalah tokoh penting yang berpengaruh dihadapan anggota tim ini, mereka layaknya pesakitan yang sedang menjalani pemeriksaan. Satu demi satu tokoh yang dianggap berperan dipanggil dan dilakukan pemeriksaan terbuka. Ibarat seorang mangsa yang dikelilingi pemburu-pemburu ganas dalam ruang tertutup. Hanya seorang yang bermental baja yang mampu menghadapi cecaran pertanyaan yang bertubi-tubi tersebut. Mau tak mau rasa salut muncul kepada mereka yang dengan tenang menjawab pertanyaan, diinterupsi di tengah penjelasan dan kemudian disudutkan dengan serangan bersama-sama. Nah sikap demikianlah yang menjadikan opini masyarakat tentang etika tim pansus berkembang luas. Ditambah dengan kelakuan satu anggota yang menyebabkan keributan tidak hanya sekali namun diulang lagi pada kesempatan berikutnya menjadikan pertanyaan akan keseriusan tim ini mencuat. Bagaimana masyarakat tidak pesimis jika sebuah tim justru saling berseteru di dalam dan menunjukkan kelakuan yang tak mencerminkan etika kesopanan yang berpendidikan. Belum lagi dengan komentar santai seolah permasalahan akan etika dalam ruang sidang ini adalah hal sepele yang tidak perlu diributkan apalagi ketika menghadapi kasus besar. Arogansi yang demikian inilah yang bisa menimbulkan apatis masyarakat akan keberadaan tim. Pada akhirnya masyarakat hanya bisa menunggu hasil kerja tim ini dan berharap agar tidak ada konflik kepentingan yang menambah kisruh dan berlarut-larut masalah mengenai Bank Century ini. Tidak hanya karena dana miliaran yang sudah digelontorkan demi menguak kasus ini namun agar satu masalah cepat selesai dan membiarkan pemerintah mengerjakan apa yang menjadi tantangan selanjutnya bagi masa depan negeri ini.

Sabtu, 16 Januari 2010

QSD Mania


Sejak salah satu stasiun tv swasta kembali menayangkan serial drama asal korea maupun taiwan, minatku untuk tetap memelototi layar kaca semakin bertambah. Di tengah sekian banyak acara monoton nan membosankan, ditayangkannya dorama-dorama tersebut membawa angin segar bagiku untuk sejenak melepas penat seusai beraktivitas sehari penuh. Satu serial yang kini sangat kugemari sehingga tak mampu untuk melewatkannya begitu saja tak lain adalah Great Queen of Seon Deok. Sejak popularitas Dae Jang Geum beberapa waktu lalu, aku begitu menantikan serial kolosal klasik serupa asal negeri ginseng tersebut. Tak dinyana keberanian stasiun tv untuk menayangkan serial anyar yang menempati rating pertama di negeri asalnya membooming dengan begitu cepatnya. Begitu menyaksikan jadwal tayangnya, aku pun menarik nafas lega. Maklumlah kesibukanku saat ini membuat kesempatanku untuk bersantai di depan televisi lebih pendek dari waktu sebelumnya. Melihat latar belakang serial yang akrab dengan singkatan QSD tersebut yang mirip dengan era Dae Jang Geum serta merta membuatku tertarik. Aku memang menggemari serial maupun film-film berlatar belakang zaman kerajaan, entah itu produksi Taiwan, Jepang, Korea bahkan Hollywood sekalipun semua serial ataupun film dengan tema kuno selalu mendapat tempat di hatiku. Demikian pula dengan serial QSD, serta merta aku pun mengontak my little sister untuk mencari dvd versi lengkapnya.
Di awal cerita, ketertarikanku akan serial ini sedikit memudar. Mungkin karena aku belum memahami inti cerita dengan baik, ditambah begitu seringnya pemeran tokoh-tokoh dalam serial ini berganti seiring dengan pertumbuhan si karakter. Namun lama-kelamaan aku semakin hanyut dengan perkembangan cerita. Munculnya aktor-aktor berwajah enak dipandang semakin menambah nilai plus untuk terus mengikuti serial ini ^_^. Bersama dengan seorang sahabat yang sama-sama maniak dorama, aku pun terus memburu keping-keping dvd serial ini, tak sabar untuk menyimak kelanjutan hingga akhir cerita. Nyaris setiap malam aku begadang, mencermati dengan penuh perasaan liku-liku perjuangan ratu pertama Shilla tersebut. Tak peduli keesokan harinya, aku melakukan rutinitas tanpa semangat alias ngantuk berat akibat kurang tidur ^_^. Dari sekian banyak kelebihan serial ini yang membuatku takbisa lepas barang sekejap ada satu magnet terkuat yang terus menarik perhatianku akan serial ini. Yah kemunculan tokoh yang pada akhirnya menjadi karakter penting di serial ini pada episode 21, membuatku semakin terpesona dengan QSD. Meskipun pada awalnya aku masih kekeuh sebagai fans berat Alcheon, pada akhirnya aku pun takluk dengan kenyentrikan tokoh sentral Bi Dam. Hmmm pada dasarnya aku memang selalu tertarik dengan pesona cowok-cowok sedikit bad boy ^_^. Keunikan Bi Dam yang merupakan perpaduan sifat licik sang ibu Mi Shil dengan kebijakan guru Munno membuatku dan sebagian besar penggemar wanita serial ini terpesona. Didukung oleh kepiawaian Kim Nam Gil menghidupkan karakter Bi Dam, tak heran tokoh ini menyedot begitu banyak perhatian. Tak terkecuali aku, di tengah kebosanan dengan rutinitas yang sama, aku pun bersenang-senang di dunia maya untuk mencari sebanyak mungkin informasi tentang serial ini pada umumnya dan pemeran Bi Dam pada khususnya.
Kerumitan jalinan cinta segitiga antara Deok Man- Bidam dan Yu Shin membuatku semakin lekat dengan serial ini. Sayang keputusan penulis skenario yang juga menggarap skenario Dae Jang Geum untuk membuat akhir yang tragis membuatku amat sangat kecewa. Mau tak mau aku sedikit malas untuk melanjutkan menonton serial ini ketika mengetahui akhir kisah cinta Deokman dengan Bi Dam. Bagaimana tidak kecewa jketika aku mendapatkan cinta Deokman dan Yushin yang kandas, aku mulai menebak-nebak mungkinkah Deokman mendapatkan cinta sejati dengan tokoh kesayanganku (saat itu serial ini belum tamat di negeri asalnya), tak dinyana tokoh favoritku pun harus kandas dengan akhir yang menyedihkan ! Meskipun demikian dengan setia aku melanjutkan menonton serial ini yang menurutku kualitas cerita sedikit menurun dengan tewasnya Mi Shil satu karakter penting yang berhasil diperankan dengan baik oleh Ko Hyun Jung. Demikianlah nyaris setiap episode aku menitikkan air mata, meratapi pahitnya jalan hidup yang ditempuh Bi Dam. Semakin lama aku menyimak semakin dalam aku terhanyut akan jalinan cinta mereka yang indah meskipun berakhir dengan menyedihkan. Saat ini, kendati usai sudah aku mengikuti serial ini, entah mengapa kilasan adegan tertentu terus melekat dalam pikiran. Ketika sepi menggelayut, dan alunan lagu tema serial tersebut kusenandungkan tak terasa mataku seketika berkaca-kaca. Begitu dalamnya kisah sedih ini menjerat hatiku, aku sendiri tak mengerti mengapa. Adakah yang bisa membantuku untuk menjawab ? Apakah melodi lembut nan membuai ini tak hanya mengingatkanku akan Bi Dam namun lebih kepada kenangan yang hingga kini belum bisa tersingkirkan ? Fiuhhhh............

Kamis, 07 Januari 2010

Dingin


Kelabu, suram dan dingin adalah kata-kata yang pas untuk menggambarkan kondisiku baik secara mental maupun fisik di penghujung dan di awal tahun baru ini. Alam dengan cuacanya yang tak bisa ditebak semakin memperkuat kesan dingin dalam hidupku yang mulai merambat ke tahun berikutnya. Bermula dari kabar buruk yang terus menerus sampai ke telinga hingga rencana yang hancur berantakan akibat kejadian yang hingga kini terus membuatku jengkel pada seseorang. Penghujung tahun senantiasa dinantikan oleh sebagian orang. Demikian pula dengan penghujung tahun ini. Liburan panjang kedua setelah lebaran yang digadang-gadang akhirnya datang juga. Meskipun aku tidak merayakan dan tidak pula mendapat kesempatan untuk libur panjang liburan yang menandai akhir sekaligus awal tahun baru ini sangatlah kunantikan. Sebuah kesempatan untuk bertemu lagi dengan sahabat lama menjadi momen penting yang kutunggu-tunggu. Sayangnya kegembiraan akan berjumpa lagi dengan sahabat harus pupus begitu saja. Meskipun waktu yang tersedia terbilang cukup panjang, namun nyatanya tidak bisa dimanfaatkan untuk sebuah temu muka meskipun hanya sekejap. Urrrgghhhhhgg........kesal tak terkira diriku. Hanya gara-gara ucapan seseorang yang sudah bawaannya tidak bisa lihat orang lain senang ( subyektif pribadi niy ^^) rencana yang sudah kususun rapi untuk melepas kangen dengan sahabat gagal total. Gara-gara orang itu pula aku tidak bisa istirahat barang sejenak setelah bekerja full time. Satu kejadian tak menyenangkan rupanya berbuntut pada kejadian tak mengenakan berikutnya. Tanpa ampun emosiku terombang-ambing naik turun, sebentar menangis sebentar tertawa dan tak lupa amarah meledak-ledak yang membuatku harus mengalami keadaan terisolir sekali lagi (bukannya aku menolak, setelah dipikir-pikir kondisi ini jau lebih menyenangkan ^^). Pada dasarnya aku masih menyimpan dendam dengan'oknum' tersebut. Efek dari kejengkelan yang terus kupendam sekian lama hingga jerawat segede bisul dalam arti harafiah tak mau hilang dari mukaku menjadikan peristiwa di akhir tahun itu memicu ledakan kemarahan tak terkira dari dalam diriku. Huuhhhhhhfffftt......................
Beruntung aku mempunyai sebentuk pelampiasan untuk meredam emosi. Meskipun kantuk mendera, aku tetap bertahan di alam fantasiku bersama tokoh-tokoh yang lebih hidup dalam diriku dibanding mereka yang ada di dunia nyata. Ya, di tengah musim dingin di jiwaku aku sangat bersyukur mempunyai mereka yang mau mengerti aku atau setidaknya mau mendengarkan keluh kesahku. Bersama mereka aku memperoleh kembali tawa lebarku yang akhir-akhir ini semakin jarang terukir di wajahku. Merekalah yang sedikit meringankan beban di hatiku. Mereka yang selalu setia untuk berbagi suka dan duka, tak peduli betapa sering aku merajuk, tak menghiraukan betapa sering aku mengganggu waktu mereka dengan sempalan cerita-cerita membosankan. Tak terkira besar terima kasihku untuk mereka yang bersedia mendengarkanku, menguatkanku dan terus memberiku semangat ketika aku jatuh.
Meskipun rencana di akhir dan awal tahun tak satupun terwujudkan, setidaknya aku masih berkesempatan untuk
bercanda riang di tengah kawan-kawan lama. Sungguh dua jam kebersamaan yang penuh arti, mengingatkan betapa beruntugnya aku memiliki mereka yang hingga kini tetap seperti dulu. Walaupun waktu terus berjalan, walau kehidupan terus mengalir, walau kami telah menempuh jalan masing-masing, namun kami tetap meluangkan waktu untuk bersama meskipun hanya sekejap setelah sekian lama berkutat dengan perjuangan masing-masing. To all my best friends, thank's a lot. Di awal tahun ini kucoba untuk kembali berjuang hingga kesempatan terakhir datang. Aku akan kembali berusaha untuk memenuhi satu demi satu catatan yang terlewatkan tahun lalu. Dan aku akan selalu ada untuk kalian.