Senin, 06 Juli 2009

Cari Jodoh

Belakangan ini banyak bermunculan lagu-lagu nyleneh di industri musik tanah air. Meskipun terkesan nyleneh baik dari segi syair maupun nada, musik jenis itu justru digemari pendengar. Sebut saja band nyleneh Kuburan dengan lagu Lupa-Lupa Ingatnya, Mbah Surip yang beken dengan Tak Gendongnya, dan masih banyak lagi grup band maupun penyanyi solo dengan lagu-lagu bertipe unik kalau tidak bisa dikatakan nyleneh.
Nah dari sekian banyak lagu nyleneh tersebut ada satu lagu yang dibawakan oleh band bernama Wali yang cukup menarik perhatian. Ada banyak alasan yang menjadikan band ini dikenal masyarakat dengan singlenya Cari Jodoh. Penggarapan video klip yang atraktif dibarengi dengan frekuensi pemutaran yang tergolong sering baik di radio maupun televisi menjadikan anak-anak pun hafal dengan lirik lagu tersebut. Sesuai dengan judulnya lagu ini menceritakan tentang seseorang yang sibuk mencari jodoh. Hal yang menggelitik dari lagu ini yaitu inti cerita yang pas dengan realita yang terjadi di masyarakat saat ini. Seseorang yang sudah merasa mapan baik secara fisik maupun batin pada akhirnya akan mulai mencari tujuan tingkat lanjut yaitu berkeluarga. Stigma yang melekat di masyarakat yang berkaitan dengan umur dan status pun menjadi satu alasan kuat bagi seseorang untuk menempuh hidup bersama dengan pasangan. Kegelisahan akan usia yang sudah memasuki waktu untuk berkeluarga diiringi dengan label yang cenderung negatif bagi mereka yang belum juga memiliki pasangan maupun status 'pernah menikah' mendorong seseorang untuk mendaftarkan diri pada even-even yang bertema cari jodoh.
Nah baru-baru ini ada sebuah acara televisi dengan konteks serupa yang merupakan saduran dari acara asing berjudul sama. Program yang tergolong reality show berjudul Take Me Out Indonesia ini berisi tentang sekumpulan wanita yang berkompetisi mencari pasangan. Acara yang terhitung telah tayang sebanyak tiga kali ini dengan setia kuikuti. Mengapa ? Ya acara ini mampu membuatku terbahak. Adapun penampilan nyentrik peserta pria yang acapkali membuatku mulas akibat kebanyakan tertawa. Kadang aku merasa heran mengapa pria-pria yang akan diperebutkan memilih berdandan di luar wajar yang justru mengakibatkan tak ada satupun wanita yang memilih mereka. Aku pun semakin terpingkal ketika melihat aksi emosional mereka yang gagal mendapat pasangan. Acara yang dipandu Chokky Sitohang ini pun berhasil menampilkan area kontak jodoh dalam versi yang lebih segar. Tak masalah apakah pasangan yang terbentuk bisa bertahan atau tidak. Pada intinya kecocokan dalam memilih pasangan memang tidak bisa ditentukan hanya dalam waktu sesaat. Dari acara ini kita dapat belajar bagaimana mengenal watak seseorang dalam waktu singkat yang menjadi dasar seorang wanita memilih pria atau sebaliknya.
Akhir-akhir ini aku merasa jenuh dihujani dengan pertanyaan yang sama. Maklum menginjak usia yang pas untuk membina sebuah rumah tangga, mau tak mau setiap orang yang kukenal pasti menanyakan hal yang sama. Anaknya berapa ? Kapan mau nikah ? Calonnya orang mana ? Adalah pertanyaan wajib dari mereka yang kukenal ketika bertemu. Aku nyaris merasa lelah untuk menjawab pertanyaan tersebut hingga saking jenuhnya aku pun memberikan jawaban ngawur ^^. Tak jarang aku melontarkan sederet alasan seputar hal tersebut. Sayangnya sedikit dari mereka yang alih-alih memahami akhirnya memberikan nasehat dan dorongan untuk segera. Waduh, kenapa sih mereka terus mengungkit-ungkit hal tersebut sementara aku sendiri masih santai dan merasa ini belum waktunya karena masih banyak hal-hal yang ingin kulakukan dan tujuan yang belum terlaksana. Demikian pula dengan hari ini. Berondongan olok-olok yang menjurus semakin membuatku jengah sekaligus terperangah saking bingungnya mau menjawab apa lagi. Walhasil aku pun hanya tersenyum kecut sembari berlalu diiringi gelak tawa ledekan teman. Yah, mau orang bilang apa aku percaya bahwa semua ada waktunya.

1 komentar:

MARS mengatakan...

pertanyaan orang-orang mungkin juga pesan titipan Tuhan untuk mengingatkan kita, in..tanggapi saja dengan santai tapi juga tetap membuat kita untuk memikirkan "nya"