Kamis, 11 Maret 2010

Tantangan Baru

Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi. Seperti biasanya usai melaksanakan kewajiban terhadap Yang Maha Kuasa, aku kembali menghempaskan diri ke tempat tidur, menyalakan televisi menyimak berita terkini seputar tanah air diselingi dengan meneruskan membaca buku yang belum selesai kulahap. Volume headphone kupasang maksimal, memfokuskan indra pendengaranku dengan alunan musik oriental di pagi hari. Mendadak gedoran keras terdengar di pintu, mendengar suara yang samar-samar kukenal dengan segera aku pun bangkit dari posisi berbaring untukmembuka pintu. Tak dinyana kedatangan bos besar di sela kegiatan jalan paginya seolah menjatuhkan bom di sekelilingku.
Akhirnya tiba juga waktuku untuk berkemas, bersiap menjelajahi area baru di lokasi nun jauh di sana. Bingung, gelisah, khawatir tak tentu arah bercampur baur di kepalaku. Aku yang terbiasa hidup tenang mengikuti arus kini harus melawan gelombang. Bukan hanya tanggung jawab yang lebih besar menanti, namun lebih kepada ketidakpastian akan apa yang menjadi tugasku nanti. Meskipun sang bos sudah cukup jelas menyatakan posisiku, sedikit kekacauan di awal mulai terjadi. Demikianlah aku harus mulai dari nol, berusaha semaksimal dan sekuat kemampuan pikiranku saat ini untuk mempelajari hal yang baru. Mencoba untuk belajar mengambil langkah yang tepat, bekerja sama dengan rekan-rekan baru yang sama tidak pahamnya dengan diriku akan tugas yang menanti.
"Mampukah aku bertahan ?", pertanyaan ini tak bisa kuhilangkan dari benakku, membuatku kehilangan ketenangan yang sulit untuk dijauhkan meski aku dikelilingi penyejuk hatiku selama ini. Yah, usai meninjau lokasi seharian penuh, kegalauan semakin menjadi-jadi dalam diriku. Jika semula aku mengkhawatirkan kehidupan yang kelak terisolir dari peradaban modern, kini aku lebih memikirkan apa yang harus kumulai disana. Tanpa bantuan dari seseorang yang telah berpengalaman di bidangnya, hanya bersama segelintir rekan yang masih sama amatirnya, aku sama sekali belum mempunyai gambaran akan apa yang harus dilakukan. Setelah memeriksa kondisi tempat yang baru yang benar-benar masih kosong melompong, meskipun aku tahu secara garis besar pekerjaan baruku nantinya, tetap saja aku kebingungan bagaimana menjalankannya nanti. Pikiranku benar-benar kusut dengan rencana-rencana yang saling tumpang tindih. Mempelajari hal di luar kemampuanku, mengorganisir sesuatu yang masih abstrak, mencari akomodasi yang layak, menjawab berbagai pertanyaan yang aku sendiri tak tahu benar jawabnya hanyalah sedikit dari sekian banyak benang ruwet di pikiranku.
"Sabar Mba, jalani saja dulu, semoga sukses,.......... ", ya semua harus dilalui setahap demi setahap. Mengingatkanku akan nasihat bijak seorang Shigure, "Jika ada banyak cucian di sekitarmu jangan memikirkan kapan selesainya, cucilah sehelai demi sehelai dimulai dai yang ada didekatmu, dan lama-lama semua akan tercuci bersih". Hmmm, dengan dukungan kerabat dan sahabat aku mencoba untuk meneguhkan hati, memantapkan tekad untuk berbuat sebaik-baiknya menjawab tantangan baru. Entah berhasil atau tidak, aku mencoba untuk menabahkan hati yang selama ini terlalu lembek dan penuh dengan ketakutan untuk keluar dari cangkang yang nyaman. Semoga...........

Sabtu, 06 Maret 2010

Di Dalam Kisruh Di Luar Ricuh

Menyesuaikan diri dengan namanya yang bermakna satu abad kasus bailout Century yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan masih jauh dari titik terang. Gembar-gembor tuntutan untuk meminta pertanggungjawaban dari orang-orang yang dianggap bertanggung jawab atas kerugian yang ditanggung negara akibat pengucuran dana talangan terus menggema. Kerja senilai kurang lebih lima milyar yang dilakukan pansus Century pun telah dilaporkan dan diputuskan dalam sidang paripurna DPR dua hari lalu. Mengikuti sepak terjang pansus dalam menggunakan hak angketnya untuk menyelidiki kasus Century sangatlah menarik. Seperti sebelum-sebelumnya, kelakuan para anggota dewan yang terhormat dalam ruang sidang kompak benar dengan apa yang terjadi di luar gerbang senayan. Berawal dari keputusan sepihak ketua DPR sekaligus ketua sidang menutup rapat dengan alasan tidak ada agenda penting lagi yang harus dibahas, sekali lagi keributan di ruang sidang terulang dengan begitu jelas di layar kaca yang sedang siaran secara 'live'. Hujan interupsi berujung kaki entah milik siapa yang naik ke meja maupun podium, pelemparan botol air minum hingga nyaris terjadi adu fisik seakan menjadi acara rutin setiap sidang dewan yang membahas topik sensitif. Kumandang shalawat yang diperkeras pun tak mampu meredam emosi yang terlanjur memuncak akibat benturan kepentingan berbagai pihak. Tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di dalam ruangan, di luar massa dari berbagai kalangan baik pro dan kontra pun ikut menggila. Kontan aksi anarkis dalam skala kecil berlangsung dengan cepatnya, menjadikan petugas keamanan harus bekerja keras untuk membendung kerusakan lebih lanjut. Sementara pemerintah masih bersikap 'cuek' dengan hasil rekomendasi pansus yang pada akhir keputusannya memenangkan opsi c dengan cukup mutlak.
Ada apa dengan negeri ini ? Stabilitas nasional yang dulu demikian kokoh sehingga rakyat betul-betul merasakan kenyamanan dan keamanan kini berbalik drastis. Kelakuan wakil rakyat yang kurang beretika semakin sering dipertontonkan, demikian pula kelakuan siswa tertinggi yang dulu berjasa menelurkan sebuah reformasi kini tak lebih dari sekedar omong besar layaknya anak kecil yang harus dituruti kemauannya dan akan menjerit, meronta dan membuat kerusakan jika kondisi bertentangan dengan kehendaknya. Di tengah hiruk pikuk kasus Century yang tidak hanya merugikan negara namun juga para nasabah yang hingga kini belum jelas nasibnya, amatlah wajar jika rakyat menuntut untuk pengusutan tuntas dan menggiring pihak-pihak yang bertanggung jawab ke ranah hukum. Namun demikian, jika diperhatikan dengan seksama kasus ini seakan terlalu dipolitisir, masalah tidak terselesaikan justru semakin meruncing dengan 'perang saudara' di kalangan atas. Percuma saja segala penyelidikan berlarut-larut diselingi perang mulut antar anggota yang beberapa waktu lalu menjadi sorotan jika pada akhirnya hanya menghasilkan sebuah rekomendasi yaitu opsi c alias kebijakan bermasalah. Orang awam bahkan kasarnya seorang anak kecil pun bisa tahu bahwa kebijakan Century memang bermasalah. Tak perlu meminta persetujuan dewan yang justru menimbulkan goncangan politik yang berdampak negatif di berbagai bidang. Terlalu dangkal rasanya jika harus mengucurkan dana sekian milyar hanya untuk sekedar menunjuk satu dua nama orang-orang yang dianggap (sekali lagi dianggap) bertanggung jawab atas kebijakan bermasalah tersebut. Penemuan fakta yang pada akhirnya digunakan sebagai senjata untuk saling serang di ranh politik. Mengapa rakyat harus disuguhi dengan hal-hal demikian ? Rakyat tidak membutuhkan perebutan kekuasaan, masa bodoh dengan 'kawin cerai koalisi', membenci aksi-aksi anarkis egois yang merugikan. Rakyat hanya butuh jaminan keamanan dan kenyamanan dalam hidup. Rakyat memerlukan wakil-wakil yang murni memperjuangkan hak mereka, bukan sekedar pro rakyat di permukaan namun individualis di dalam.
Sungguh malang bagi mereka yang selama ini terus dipojokkan. Memang sebuah resiko bagi seorang petinggi dalam mengambil keputusan. Sebuah perjudian yang membawa keberuntungan berlimpah jika mendapatkan kartu yang tepat namun kalah habis-habisan jika salah mengambil langkah yang mungkin waktu itu dirasa paling tepat. Agaknya rakyat masih harus menunggu lebih lama lagi untuk melihat akhir kasus Century ini. Tidak hanya sekedar menyaksikan pertanggungjawaban petinggi waktu itu, namun harapan lebih ke arah siapa saja yang memperoleh keuntungan dengan kucuran dana talangan ini untuk dimintai pertanggungjawabannya. Cukup sudah waktu rakyat dicekoki dengan perang pernyataan di media. Cukup sudah demonstrasi tak berujung pangkal yang akhirnya hanya merusak mental dan fisik. Rakyat cukup lelah dengan berita-berita kerusuhan baik di dalam maupun di luar ruangan. Sebuah situasi yang jauh dari akal sehat bagi mereka yang dianggap sebagai orang yang berintelektual di atas rata-rata namun rupanya mempunyai taraf rendah dalam hal mengendalikan emosi dan berpikir jernih.

Senin, 01 Maret 2010

You're Beautiful

Ihdaeroh dolaseolgeomyeon sarajil geomyeon pieonaji anaseo
(If like this, I turned my back on Idisappeared It wouldn't come into bloom)

Sepenggal lirik Wind Flower yang merupakan original soundtrack dari sebuah drama kolosal nan mengharu biru tersebut membuka kembali kembali ingatanku yang sudah lama tersembunyi di antara kenangan lain yang mengisi pikiranku dan benakku selama ini. Aku yang memang mudah seklai terhanyut dalam sebuah kisah entah itu kenyataan atau rekaan, kali ini pun aku tak kuasa menahan tangis ketika menyaksikan adegan-adegan romantis, dtamatis dan tragis selama 62 episode drama yang sukses mengharu biru penonton tersebut. Kesedihan usai menyaksikan seluruh episode yang berakhir tragis tersebut membuatku tak bersemangat berhari-hari. Setiap kali aku mendengarkan lagu-lagu yang mendukung keindahan kisah tersebut, tiap kali pula mataku berkaca-kaca, teringat kegagalan akan dua orang untuk bersama meskipun jelas-jelas cinta terpancar dari keduanya.
Cinta, sebuah kata yang begitu disukai oleh banyak orang . Meskipun tak jarang yang berakhir pahit dan menimbulkan luka, tak sedikit orang yang mendambakan datangnya kata cinta pada dirinya. Kebutuhan untuk mencintai dan dicintai rupanya menjadi salah satu kompponen penting di tengah perjuangan untuk menemukan hidup yang berkualitas. Cinta, itulah topik utama obrolanku belakangan ini dengan sahabat-sahabat baikku. Berbagai kisah yang dilatarbelakangi kata berawalan c tersebut tak pernah bosan untuk diperbincangkan. Aku dan sahabat-sahabatku berbagi rahasia terdalam yang ingin ditutupi dari keingintahuan orang lain. Dengan usia yang semakin bertambah, obrolan tentang masa depan dengan seseorang semakin sering diperbincangkan, saling meminta pendapat dan saling mengutarakan pikiran meskipun tak jarang sikap malu-malu muncul ketika membisikkan perasaan yang diri sendiri pun belum mengerti dengan jelas. Yang satu merasa galau dengan pertanyaan tentang apakah dia benar-benar 'falling in love', yang lain mencurahkan penyesalannya akan cinta yang akhirnya berlalu tanpa ada perjuangan untuk meraihnya, yang ini menceritakan kebahagiaan akan pilihannya, dan yang disana merasa lelah dengan keharusan untuk segera menemukan belahan jiwanya.
Lalu bagaimana denganku ? Tak berbeda jauh dengan mereka, aku pun menghadapai problema tersendiri dalam konteks cinta tersebut. Meskipun aku cenderung menutup rapat persoalan hati ini, pada akhirnya aku tak mampu lagi menyimpannya untuk diriku sendiri. Kegelisahan yang terus menerus membuatku ingin menumpahkan sedikit rahasia hatiku pada seseorang yang kupercayai, yang mau mendengarkanku dan mampu memberi sedikit kesegeran untuk menjernihkan pikiranku yang mulai menginjak daerah rawan. Dan lambat laun aku pun mulai membagi sepenggal masa lalu kepada seseorang meski tidak semuanya kubeberkan dengan gamblang.
Imoto chan, ingatkah kau ketika aku bercerita tentang mimpi-mimpiku ? Dimulai dengan ceritamu akan detak jantung yang meningkat tajam, aku yang pada awalnya tak sengaja bercerita akhirnya memuntahkan sebuah pengakuan yang selama ini tak ingin kupercayai. Aku sendiri tak mengerti apa yang terjadi pada diriku ini. Seolah tak menghiraukan kenyataan yang sudah terpampang untuk sekian lamanya, namun mengapa mimpi itu selalu datang ? Membuatku tak ingin terbangun untuk beberapa saat, menyebabkanku membuka mata di pagi hari, terkadang dengan seulas senyum di bibir dan tak jarang dengan air mata meleleh di sudut mata, menjadikanku kembali teringat pada perjalananku lebih dari sepuluh tahun lalu, mengembangkan kembali harapan yang seharusnya sudah lama mati.
Dan saat ini ketika telingaku dipenuhi dengan lantunan lirik yang menggiris hati, aku tak bisa mengendalikan air mata yang spontan mengalir keluar. Meskipun aku meyakinkan diri rasa sakit yang menusuk tersebut karena teringat kisah tragis dalam drama itu, jauh di dalam hati aku menyadari bahwa lirik-lirik lagu ini membawaku ke dalam masa lalu, membuatku teringat akan dia yang kini telah hilang, merasakan kembali penyesalan akan kebodohanku dulu dan sekarang. Kilasan kenangan yang mungkin tak berarti baginya , namun selalu kusimpan baik-baik bermunculan satu persatu. Dia yang membuatku mengalami manisnya 'love at first sight, dia yang begitu ramah dan baik padaku, dia yang dengan riangnya menyusuri indahnya pegunungan bersamaku, dia yang mengisi waktu bercerita denganku, dia yang demikian sering kupandangi dari jauh, dia yang perasaanku padanya selalu kusembunyikan di balik cerita tentang orang lain, dia yang tangannya kugenggam erat-erat selama sekian menit di malam itu, dia yang pada akhirnya kuabaikan karena keadaan, dia yang entah kapan berubah dan begitu jauh denganku, dia yang pada akhirnya hanya bisa kulihat di sebuah gambar, dia yang kini menjadi milik orang lain, dia yang aku tak pernah tahu apa yang dipikirkannya tentang diriku, dia yang selalu terlihat cantik di mataku, dia yang belum bisa tergantikan di hatiku dan dia yang selalu hadir di mimpiku hingga kini.
Begitu lekatnya kenangan tersebut membuatku benar-benar ingin untuk mengubah waktu. Ya, jika pada akhirnya harus begini lebih baik aku berbalik dan menghilang, tak membiarkan semuanya tumbuh dengan begitu indahnya, hanya untuk luruh ketika lelah untuk terus berbunga. Itulah mengapa aku selalu menyukai kisah-kisah romantis, tak kuasa menahan haru akan kesedihan ketika harus melepas seseorang pergi yang berakhir dengan kebahagiaan. Itulah mengapa aku berusaha menjauhi kisah-kisah sedih, dan kesal bukan main ketika melihat, mendengar atau membaca cerita tentang dua orang yang tidak bisa bersatu. Betapa inginnya aku untuk lepas dari bayang-bayangnya. Betapa besarnya aku membutuhkan bantuan dari seseorang untuk bisa keluar dari jerat ini. Betapa hausnya aku akan seseorang yang mau memukul kepalaku, menertawakan kebodohanku dan membuatku sadar akan keharusan melihat masa depan. Betapa aku ingin melepasnya dan bisa melihatnya dengan rasa sayang akan orang yang pernah mengisi memori indahku. Betapa aku berharap suatu hari menatap dan menyapanya tanpa ada sesuatu yang lebih dari pertemuan antar teman. Ingin sekali aku bisa mengucapkan "Even if you find another person that makes you smile, even the painfull farewell, I'm glad that it was you. My love that I can't reach, now I have to send you away."
Tapi.... saat ini....

Eoddeokajyo, eoddeokajyo geudaega ddeonaganeyo
(What should I do, what should I do, you're leaving )
Eoddeokajyo, eoddeokajyo nadulgo ddeonaganeyo
(What should I do, what should I do, you're leaving me)
Saranghaeyo, saranghaeyo, mongnoa bulleobojiman
(I love you, I love you, I cry out to you)
Geudaen deutji motaeyo gaseumeuroman woechigo isseuni
(But you can't hear me because I am only shouting in my heart)
Haruonjongil jiwobojiman ddo ddeoolla
(All day long I try to forget you, but I think of you again)
Haruonjongil ibyeolhajiman ddo dasi ddeoolla
(All day long I try to say goodbye, but I think of you)
(What should I do by Jang Geun Suk)

Senin, 22 Februari 2010

Doramania


Rupanya demam dorama asal negeri ginseng masih bercokol dalam diriku. Setelah sempat mereda dikarenakan perhatianku teralih pada kegemaranku yang lain, belakangan ini hobi menonton dorama kembali menguar. Diawali dengan dorama Great Queen of Seon Deok yang benar-benar mencuri perhatianku, aku pun mulai tergerak untuk mencari judul-judul dorama lainnya. Jadilah setiap hari ku isi dengan berselancar di dunia maya, menelusuri riwayat sinematografi khususnya aktor ^_^ yang mendadak kuidolai. Lambat laun aku pun mulai mengenal nama-nama aktor dan aktris Korea yang pengetahuanku dulu hanya terbatas pada pemeran serial All About Eve dan Endless Love. Penelusuran berhari-hari sempat membuatku terperangah. Aku sungguh tak menyangka bahwa produksi dorama yang disini bisa disamakan dengan sinetron demikian tinggi. Dorama dengan dengan berbagai tema dan setting demikian bertabur membuatku bingung untuk menentukan mana yang layak untuk dijadikan koleksi. Tak pelak lagi ingatanku dibuat kacau dengan deretan nama-nama asing yang hingga kini tak bisa kusebutkan dengan benar dan kubayangkan seperti apa rupanya ^_^.
Berhubung pada dasarnya aku menggemari serial kolosal, maka perburuan utamaku pun berkisar pada dorama-dorama klasik. Dan lagi-lagi aku harus terkejut ketika mendapatkan sederet judul yang kubaca dari sinopsisnya terkesan menarik dan cukup layak untuk dikoleksi. Sayangnya sesuai dengan tema kolosal yang diangkat dari cerita-cerita pada zaman kerajaan, dorama-dorama tersebut sebagian besar berdurasi lebih dari 20 episode. Meskipun aku nmaklum karena terbiasa menonton serial-serial sejenis, panjangnya jumlah episode membuatku harus berpikir ulang untuk memburu keping-keping dvdnya. Ya, sesuai informasi yang kuperoleh dari 'imoto-chan' judul-judul tersebut tidak bisa terangkum dalam satu keping disk melainkan paling tidak aku harus siap mengeluarkan uang untuk membeli minimal lima keping untuk satu judul saja. Waduh, dengan pendapatan sekian dan pengeluaran kebutuhan rutin sekian, mau tak mau aku harus cermat untuk memilih mana yang akan kubeli jika tidak ingin berpuasa jajan selama sebulan ^^. Demikianlah mulai saat ini aku memperoleh tambahan daftar koleksi selain novel dan komik yang harus kuperhitungkan masak-masak urutan prioritasnya.
Meskipun setiap hari aku selalu bergelut dengan wiki-d.addicts, hingga kini aku belum merasa bosan. Aku semakin asyik membaca sinopsis berbagai dorama yang ada. Dan semakin jauh aku menggali informasi, aku semakin kagum akan kreatifitas sineas Korea ini. Setelah jemu dengan dunia sinetron tanah air yang monoton dan menurutku lebih menonjolkan hedonisme sebagi nilai jual utama, tidak demikian rasanya ketika aku menonton sederet dorama baik yang rutin ditayangkan di layar kacam maupun dari koleksi pribadi yang berhasil dikumpulkan secara patungan dengan sahabat baikku. Ide-ide kreatif sekaligus menarik seolah tak ada habisnya ditampilkan oleh sineas Korea. Mulai dari tema cerita yang lucu, tragis, romantis, hingga cerita yang jelas-jelas tak mungkin terjadi di dunia nyata divisualisasikan dengan baik di layar kaca. Aku tak habis pikir bagaimana sebuah cerita yang terlihat sepele bisa menjadi jalinan cerita yang disusun apik dalam beberapa episode. Tema-tema yang diusung pun demikian beragam, tak melulu berpijak pada kondisi pasar. Di sebuah dorama bercerita tentang kehidupan seorang chef, di dorama lain menceritakan tentang dunia fashion, tak ketinggalan dorama-dorama kolosal yang menampilkan berbagai tokoh sejarah yang digarap dengan tambahan fiksi yang tak merusak sejarah sebenarnya, dan masih banyak ide cerita lain yang sebenarnya biasa saja dan cenderung pada kehidupan sehari-hari. Bandingkan dengan sinetron yang menurutku cenderung latah, sehingga tanpa malu menjiplak habis ide cerita sebuah dorama yang pada akhirnya dibuat menjadi tidak keruan yang berbuntut tidak adanya tulisan 'tamat'. Kepiawaian para aktor dan aktris dalam memerankan sebuah lakon membuat sebuah dorama semakin menyedot perhatian pemirsa. Tak jarang aku yang demikian mudah terhanyut dalam sebuah kisah, begitu terpesona pada seorang tokoh dalam dorama yang menjadikan aku menjadi penggemar baru pemerannya.
Dorama serasa candu yang terus menerus membuatku ketagihan. Meskipun mata lelah dan kurang istirahat akibat terus menerus begadang menyelesaikan satu judul dorama dan dilanjutkan dengan judul lainnya, meskipun cukup lumayan menguras pundi-pundi ku untul mendapatkan koleksi dorama, meskipun aku harus merelakan player baruku yang kini menjadi barang rongsokan akibat terlalu spartan berkerja ^^, untuk saat ini dorama menjadi hiburan nomor satuku hingga titik jenuh datang dan mengalihkan aktivitasku ke selera asal alias membaca buku ^^.

Selasa, 16 Februari 2010

Buon Compleanno Vale !!


Hari ini seperti biasa aku menghabiskan waktuku di siang hari dengan duduk manis menerima dan menghitung lembaran-lembaran rupiah, mengobrol di dunia maya dan tak lupa headset terpasang di telinga, menghibur dan menenangkan emosiku dengan alunan musik oriental nan menghanyutkan. Euforia tahun baru Cina alias Imlek rupanya masih membekas dalam diriku, walhasil hingga hari ini aku tak lepas dari senandung penyanyi bertalenta Jay Chow. Demikianlah hari ini, seperti biasa aku membuka dan membaca berbagai status yang terpampang di jejaring sosial di mana aku menjadi salah satu pengikutnya. Begitu membaca status dari 'kakak' nun jauh disana, serta merta aku terperangah. Dengan cepat aku mengetikkan sebaris kata kunci, mengecek kebenaran status tersebut. Ouww...ternyata benar jika hari ini menjadi hari istimewa di bulan Februari. Bukan karena hiruk pikuk hari Kasih Sayang yang bagiku tak berarti apa-apa ^^ namun karena hari ini tanggal 16 Februari adalah hari lahir salah satu publik figur favoritku. Ya hari ini tepatnya 31 tahun lalu telah lahir seorang legenda di dunia balap motor. Valentino demikianlah namanya yang amat tepat disematkan pada orang yang lahir di bulan Februari. The Doctor itulah julukan yang melekat padanya berkat kepiawaiannya di dunia balap motor. Rossi itulah nama keluarga yang lebih dikenal di kalangan penggemar balap motor dan orang pada umumnya.
Tak pelak lagi aku pun dengan segera mengubah status di akun FB-ku, sekedar mengucapkan kalimat selamat ulang tahun padanya, meskipun orang yang kutuju tidak mengetahuinya ^^. Meskipun usia Vale (panggilanku untuknya ) sudah beranjak tua, bagaimanapun aku tetap mengharapkan penampilan terbaiknya di balapan musim ini yang akan dimulai pada bulan April nanti. Bukan sekedar angan-angan kosong jika aku mendoakan agar Vale tak tergilas pendatang-pendatang baru yang berbakat. Dengan sepenuh hati aku tetap berharap agar sang legenda tetap bertahan dan kembali menorehkan namanya untuk gelar juara kesekian kalinya, hingga sulit bagi penerusnya untuk menyamainya. Buon compleanno, Vale ! King of Moto GP .

Buram

Akibat terlalu sering bermandikan air hujan di malam hari membuatku memiliki cukup waktu luang untuk bermalas-malasan di rumah. Meskipun kepala terasa pening, tak membuatku surut untuk memanfaatkan waktu untuk membaca setumpuk buku yang menanti untuk kulahap satu demi satu. Tubuh lemas, tenggorokan kering dan rasa pahit di mulut membuatku tak punya pilihan selain membaringkan diri di kursi favoritku. Bosan dengan acara televisi yang monoton, aku pun memutuskan meneruskan aktivitasku sebelum virus menyerang, apalagi kalau bukan membaca maraton novel-novel yang belum sempat kuselesaikan. Usai membaca petualangan terbaru Robert Langdon, aku pun mengambil sebuah judul dari sekian banyak novel dari tiga macam genre yang menumpuk di tepi ranjangku. Berbeda dengan bacaan sebelumnya yang benar-benar mewakili kesukaanku akan pengarang luar negeri, kali ini aku kembali mengulang membaca kisah hidup seorang anak melayu Belitong yang terkenal berkat tetralogi Laskar Pelanginya.
Sebenarnya ketiga buku yang ditulis oleh Andrea Hirata ini sudah kubaca setahun lalu. Berhubung seri pamungkas tetralogi ini diterbitkan dengan jarak waktu yang cukup lama, aku pun memutuskan untuk mengulang dari awal sebelum membaca Maryamah Karpov , judul terakhir petualangan Andrea, anak melayu yang sukses menggapai mimpi-mimpinya. Ya keempat buku ini rupanya mampu menembus idealismeku akan menarik atau tidaknya sebuah bacaan. Aku yang lebih menggemari fiksi terjemahan, untuk kedua kalinya aku mengakui kemampuan penulis dalam negeri. Setelah sempat kecewa dengan karya-karya Kang Abik yang menurutku tidak seindah Ayat-Ayat Cinta, baru kali ini aku menemui penulis tanah air yang mampu mempertahankan ketertarikanku akan karyanya. Andrea dengan gayanya yang sedikit aneh dalam memadankan sebuah perumpamaan, sukses membuatku terus menekuri kata demi kata hingga mencapai halaman akhir tanpa rasa bosan. Kisahnya mulai dari masa kecil yang mengingatkanku akan peliknya dunia pendidikan di Indonesia, hingga kegigihannya sehingga mampu menginjakkan kaki di tanah Eropa (benua yang sangat kukagumi) hingga pencariannya akan cinta pertama (meskipun agak sedikit absurd menurutku) membuatku terpana dan mau tak mau semangat untuk terus dan berani mewujudkan impian. Kisah menarik yang mampu menimbulkan inspirasi bagi pembaca, itulah pendapatku akan tetralogi Laskar Pelangi ini. Meskipun si pengarang menyatakan bahwa dia bukan penulis, bagiku dia adalah penulis hebat yang membuat kejutan dan terobosan baru dengan ciri khasnya di tengah gempuran buku-buku bermuatan ringan yang menyebabkanku enggan untuk berurusan dengan buku karya anak negeri ^^.
Itulah aku, begitu cintanya aku akan membaca buku-buku fiksi, membuatku tak menghiraukan apapun selagi asyik larut dalam petualangan yang tertuang dalam kata. Walhasil beberapa hari ini, mataku merasakan akibatnya. Buram dan pedih selalu menghampiri ketika aku meraih sebuah bacaan dan mulai membaca ^^. Mungkin aku harus sedikit mengerem kecepatan membacaku, mengistirahatkan indera penglihatanku untuk sementara. Namun lagi-lagi aku terbentur akan kesukaanku yang satu ini. Karena dengan membacalah aku bisa mengalihkan perhatian dari kejenuhan, berada di duniaku sendiri yang demikian kunikmati. Ah, mengingatkanku akan sebuah kalimat di Maryamah Karpov. : " Penyakit gila No. 16. Berada di dunia sendiri, menciptakan masalah sendiri dan menyelesaikannya sendiri", demikian kira-kira ^^

Sabtu, 06 Februari 2010

Koleksi Terbaru


Akhirnya tiba juga saat mendebarkan untukku sebagai seorang kutu buku. Sebuah judul novel best seller yang telah lama digadang-gadang bakal menjadi penghuni tetap rak bukuku pun kelar diterbitkan dalam versi Indonesia. Beruntung buku ini diluncurkan menjelang hari 'isi ulang' membuatku tak perlu menunggu terlalu lama untuk segera larut dalam petualangan terbaru simbolog fiksi yang dua buku sebelumnya telah berhasil memikat kekagumanku. Ya, semenjak aku mendengar info akurat akan kehadiran tokoh Robert Langdon dalam karya teranyar novelis Dan Brown, jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan dana tersendiri untuk membeli buku yang pastinya mengalami lonjakan harga setelah kesuksesan buku-buku seri Langdon sebelumnya. Sembari menunggu terjemahan buku yang berjudul The Lost Symbol ini, aku yang demikian antusias dan penasaran sibuk mencari informasi di berbagai situs, sekedar membaca sinopsis maupun testimoni yang dilampirkan di cover belakang buku tersebut ini. Kata kunci Freemason yang menjadi dasar petualangan Langdon kali ini semakin menggelitik antusiasmeku. Ditambah dengan secuil informasi bocoran yang menyinggung masalah kitab suci semakin meyakinkanku untuk segera membaca buku ini. Jadilah kali ini aku berlaku di luar kebiasaaanku, tanpa pikir panjang lagi tak menghiraukan isi kantung yang dengan cepat menipis aku yang biasanya pantang membeli buku sebelum membaca terlebih dahulu tergiur untuk membeli novel dengan harga di luar jangkauanku tanpa embel-embel potongan 50% ^^. Seingatku hanya serial Harry Potter yang mampu membuatku dengan segera memburu seri terbaru tanpa menunggu buku ini dipajang di 'bookfair'. Itupun berlaku mulai buku kelima Harry Potter and The Order Of Phoenix, dimana aku sudah demikian keranjiangan dan penasaran dengan perjalanan nasib penyihir cilik itu. Bisa dibayangkan resiko apa yang kuambil dengan membeli buku terbaru Dan Brown ini tak lama setelah hari pertama beredar.
Meskipun lelah dan mata tak mau diajak kompromi, aku tetap menguatkan diri menelusuri 150 halaman pertama dari buku yang baru sehari di tangan dan telah kudata serta kusampuli dengan rapi ini. Namun entah mengapa halaman demi halaman terlewati, ketegangan dan keterkejutan yang selalu muncul di dua buku sebelumnya tidak kurasakan. Aku bahkan harus menahan kuap dan beratnya kelopak mata yang selalu ingin mengatup. Wah, pertanda kurang baik, demikian pikirku yang akhirnya menyerah dan mengistirahatkan diriku ketika waktu menunjukkan tepat tengah malam. Malam berikutnya aku kembali membuka halaman terakhir yang kubaca, kembali diam dan berkonsentrasi di antara untaian kata dan simbol-simbol yang sebagian sudah kukenal. Memasuki setengah bagian buku, aku pun menambah sedikit pengetahuan akan Washington, DC dan sesuai ciri seri petualangan Langdon aku memperoleh sedikit tambahan informasi mengenai korelasi antara agama modern dengan kisah kuno tentang dewa-dewi. Menjelang dua pertiga bagian aku merasakan sebuah kekecewaan. Bagian yang seharusnya berada pada titik ketegangan jika menilik dua buku sebelumnya, aku tidak menemukannya pada buku ini. Walhasil kisah tentang Robert Langdon yang berusaha menyelamatkan mentornya, master dari perkumpulan rahasia Freemason yang terkenal itu terkesan biasa-biasa saja. Pengungkapan ritual inisiasi Mason, ataupun perjalanan Langdon dalam memecahkan kode berlapis Mason untuk menemukan Misteri Kuno yang secara mitos adalah Kata yang Hilang yang dapat mencerahkan atau disitu dikatakan mengubah manusia menjadi Tuhan atau dewa kurang menunjukkan greget tersendiri. Meskipun Dan Brown menunjukkan kejutan di akhir cerita seperti biasanya, ketika aku menyelesaikan kalimat terakhir buku ini, tak ada keheningan yang selalu muncul ketika aku menyelesaikan sebuah buku yang menurutku sangat menarik. Tujuh ratus sekian halaman yang semula menjanjikan petualangan seru, pada akhirnya menjadi satu hiburan ringan di sela rutinitasku.
Walaupun aku tak menyesali keputusanku untuk menjadikan buku ini salah satu koleksiku, tak urung sedikit ketidakpuasan menyelip ketika usai membaca buku ini. Kegairahan yang terpupuk mulai dari tahun lalu tidak terbayar dengan lunas. Entah karena topik yang tidakbegitu kontroversial seperti dua buku sebelumnya, atau aku yang tanpa sadar mulai jenuh dengan tulisan Brown, atau memang intrik yang kurang berliku dan informasi yang tidak begitu mendetail pada kenyataannya aku kurang setuju dengan berbagai testimoni yang memunji-muji buku ini. Tentu ini hanya sebatas pendapatku yang notabene hanya seorang kutu buku yang tidak bisa menelaah sebuah isi buku dengan benar dan hanya sekedar untuk hiburan dan menambah pengetahuan di kepalaku namun pada kenyataannya di luar sana ada yang sepakat dengan pendapatku.