Rabu, 31 Desember 2008

Let It Flow


"Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda", demikian bunyi sebuah pepatah. Pertanyaannya bagaimana jika kegagalan terjadi berulang kali ? Kapankah, buah perjuangan bisa dipetik sementara usia semakin bertambah. Logikanya, semakin uzur, semangat semakin berkurang, ditambah dengan usaha yang berujung kekecewaan mau tidak mau niat untuk maju kembali melorot. Mengutip kalimat dari bukunya Kang Abik, "Takdir berada di ujung usaha", apakah gagal berarti kurang usaha ? Atau gagal berarti tidak ditakdirkan di jalan yang itu ?
Pada akhirnya kehampaan semakin melilit jiwa. Sekian banyak penghiburan tak mampu menepis mirisnya hati. Kata-kata manis bertujuan memberi 'follow up' kian memperburuk kegalauan. Menyepi menjadi jawaban sementara untuk mengobati luka. Benar kata orang, waktu adalah penyembuh yang tepat.
Let it flow......kalimat ini sering kali muncul dari bermacam-macam keadaan. Biarkan semua mengalir, jangan dibiarkan menumpuk menjadi penghalang lainnya. 2008, Januari hingga Desember yang senantiasa kelabu, tinggallah di belakang. Simpan dan tutup rapat semua kepedihan. Jangan sampai berhenti berharap. Tata diri bersiap menyambut tahun yang baru. Susun resolusi untuk tahun yang akan datang. Menyambut kembali Januari dengan ceria dan semangat baru. Menjadi pribadi baru yang siap untuk berubah dan mengalami perubahan. Amin.

Senin, 29 Desember 2008

Happy New Year


Tahun 2008 rupanya cukup spesial, tahun ini diakhiri oleh dua sistem penanggalan yang berbeda. Yang satu tentu saja menurut kalender Masehi, dimana angka 8 akan berubah menjadi 9 dua hari lagi. Merunut peristiwa selama setahun ini, banyak peristiwa penting yang sebagai catatan. Sesuai tradisi, berbagai macam kaleidoskop pun digelar sebagai renungan untuk menyambut datangnya tahun baru. Dominasi hal-hal buruk macam krisis global yang melanda seluruh negara di dunia, terungkapnya berbagai kasus di Senayan, isu global warming yang kiranya belum ditangani secara serius, beberapa aksi terorisme hingga demo berbuntut ricuh mengisi lembaran peristiwa. Sepertinya tahun baru 2009 belum memunculkan gambaran cerah. Walaupun harga premium dan solar akhirnya diturunkan, ada anggapan hal ini merupakan upaya mencari simpati menjelang Pemilu. Sebagian rakyat bahkan harus memulai hidup dari nol. Bagaimana tidak, gelombang PHK menyebabkan angka pengangguran meningkat, rentetan kebakaran massal dan banjir meluluhlantakan aset yang dimiliki, penggusuran pemukiman maupun lapak-lapak liar tanpa solusi ke depan semakin menambah jumlah rakyat miskin. Ironisnya, potret buram penderitaan tertutup oleh kemilau gaya hedonis. Tercatat, angka turisme ke luar negeri meningkat di liburan akhir tahun ini. Pusat-pusat perbelanjaan elit ramai diserbu konsumen yang giat memborong barang-barang mahal berlabel 'on sale'. Belakangan ini jalan-jalan utama dipenuhi dengan baliho-baliho yang menjual tampang para caleg. Bayangkan, berapa dana dkucurkan untuk memasang iklan sebesar dan sebanyak itu. Gengsi wisata luar negeri menjadikan sepinya daerah wisata lokal. Di Sumatera misalnya, liburan panjang ini tak menjadikan kawasan Danau Toba ramai pengunjung. Tak sedikit pedagang orang yang mencari nafkah di kawasan ini terancam gulung tikar. Malangnya !
Akhir tahun ini juga bertepatan dengan akhir tahun menurut penanggalan Hijriyah. Tahun baru Hijriyah dimulai hari ini, nyaris bersamaan dengan tahun baru Masehi. Seperti tahun Masehi, pembukaan tahun 1430 Hijriyah diwarnai peristiwa tragis yang menimpa Palestina. Dua negara timur tengah yang terus berkonflik, memulai tahun baru dengan ekstrim. Penyerangan jalur Gaza oleh Israel menjadi sorotan dunia saat ini. Seruan protes dan desakan perdamaian dikumandangkan sebagai wujud simpati atas rakyat sipil Palestina yang menjadi korban. Dalih pertahanan diri Israel tak cukup sebagai alasan untuk menyerang negara lain. Apalagi sasaran yang diperkirakan sebagai sarang teroris ternyata pemukiman sipil. Mungkin ada alasan lain di balik penyerangan itu ? Ataukah itu sebagai wujud arogansi Israel semata ? Begitu berani Israel menentang kecaman, mengacuhkan himbauan dari berbagai pihak untuk gencatan senjata. Bahkan semakin membabi buta hingga korban sipil semakin bertambah. Apakah keberanian itu karena sokongan sebuah negara adidaya ?
Apapun itu, tak selayaknya tahun baru dimulai dengan awal yang buruk. Mengapa kita tak bisa hidup berdampingan dengan damai ?

Jumat, 26 Desember 2008

Hemat

Beberapa waktu lalu, aku menyaksikan sebuah berita yang membuatku tergelitik. Sementara krisis global terus berlanjut dan diperkirakan akan mencapai puncak pada tahun 2009-2010, anjuran pemerintah untuk berhemat pun dicanangkan. Wapres Yusuf Kalla mengajak rakyat Indonesia untuk menghemat energi, dan menggunakan produk dalam negeri. Ironisnya, saat itu Wapres justru memakai sepatu impor alih-alih sepatu buatan dalam negeri. Tanpa malu, Wapres yang berbusana batik mengakui sepatu impornya dan berjanji akan segera membeli sepatu lokal. Liputan berita berlanjut seputar kelangkaan minyak tanah dan elpiji di berbagai daerah. Ya, tanpa disuruh pun rakyat sudah berhemat sejak dulu. Bagaimana tidak hemat jika bahan untuk dihemat pun tak ada ^^. Susahnya jadi rakyat yang hanya mengikuti arus, ketika pemerintah menggalakkan konversi minyak tanah ke elpiji rakyat semakin dibuat bingung. Jangankan menghemat, anggaran belanja bahan bakar justru semakin membengkak. Akibat subsidi minyak tanah dicabut, harga per liternya menjadi naik nyaris dua kali lipat. Suplai minyak tanah yang dikurangi menjadikan minyak sulit didapat dan sesuai hukum penawaran dan permintaan, harga berada di level mahal. Pembagian kompor dan tabung gas 3 kg gratis, tak mampu menyudat pengeluaran bahan bakar. Mengikuti jejak minyak tanah, distribusi elpji pun tersendat. Tak urung harga per tabung melonjak drastis. Nah loh, bagaimana ini ? Minyak langka, gas pun tak ada. Walhasil, sebagian rakyat yang mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Serbuk gergaji kayu, arang hingga kayu bakar menjadikan rakyat "back to the nature". Tapi bagaimana nasib mereka yang sama sekali belum pernah menggunakan bahan tradisional tersebut ? Apa mau dikata, meski harga luar biasa terpaksa berburu minyak dan gas kemana-mana. Buntutnya penghematan berubah menjadi pemborosan besar-besaran.
Untunglah, berita gembira akhirnya disampaikan oleh Dirut Pertamina. Setelah melakukan operasi pasar di beberapa tempat, sidak di tempat tertentu aliran minyak tanah dan gas kembali normal. Dengan tegas kelangkaan kedua bahan bakar tersebut akan benar-benar teratasi di bulan januari mendatang. Kenapa harus Januari ? Kenapa tidak berbulan-bulan lalu sehingga rakyat tidak harus megap-megap dengan harga BBM yang meroket ? Namanya juga manusia, ada salah tidak ada apa lagi. Seperti turunnya harga premium dan solar baru-baru ini. Meskipun bersyukur, gaung ketidakpuasan terdengar dimana-mana. Maklum turunnya harga BBM belum diikuti dengan turunnya tarif angkutan. Kecurigaan adanya maksud tersembunyi karena menjelang Pemilu tak urung mencuat. Alasan penurunan harga BBM yang mengikuti turunnya harga minyak dunia pun dirasa sangat dangkal. Pertanyaannya jika harga minyak dunia kembali merangkak naik, apakah pemerintah akan menaikkan BBM kembali ? Apapun dikata, anjuran Wapres agaknya perlu dilaksanakan. Hemat menjadi salah satu jawaban untuk bertahan di saat krisis. Tidak hanya hemat energi, budaya konsumerisme pun perlu dikurangi. Sudah saatnya, kita bangga akan produk Indonesia. Bukankah buatan sendiri tak kalah dengan produk impor ?

Kamis, 25 Desember 2008

Messiah Conspiracy

Walaupun tidak merayakan Natal, setiap tahunnya aku selalu larut dalam suasana perayaan hari kelahiran Kristus tersebut. Bagaimana tidak, semua stasiun televisi menayangkan program-program berbau Natal. Bukannya tidak suka, aku justru selalu menantikan acara-acara tersebut. Mulai dari film-film bertema Christmas yang sebagian besar enak ditonton, konser Natal hingga siaran langsung Misa dari Vatikan. Jangan heran, sejak dulu aku penggemar lagu-lagu klasik, biasanya salah satu stasiun tv memutar sejam bersama Three Tenor, sayangnya beberapa tahun terakhir kebiasaan tersebut sudah hilang. Meskipun demikian penampilan penyanyi macam Samuel, Delon, Mike cukup menghibur telinga. Natal tahun ini pun tak jauh beda dengan sebelumnya, deretan film berlatar belakang white Cristmas bahkan aku mendapat ucapan Merry Cristmas ^^ (Aku sampai kaget lho). Melengkapi suasana Natal ini, aku membaca sebuah novel bergense fiction-thriller berjudul Messiah Conspiracy. Melihat dari judulnya, sudah pasti isi buku ini menyinggung masalah agama Nasrani. Tagline "Ksatria Templar, Vatikan dan Injil Kristus:Misteri Injil Tulisan Tangan Kristus Sendiri" semakin menguatkan muatan yang terkandung dalam novel ini. Prolog buku ini menceritakan tentang pelarian ksatria Templar ketika perintah pemusnahan datang dari gereja. Berlanjut ke bab-bab berikutnya, Raymond Khoury pengarang novel ini menjalin cerita tentang perampokan museum The Met yang sedang memamerkan benda-benda bersejarah yang beberapa di antaranya berasal dari Vatikan. Perampok yang berjumlah empat tersebut menunggang kuda dan berdandan ala Ksatria Templar. Hal ini membuat Tess, arkeolog yang menjadi saksi mata tergelitik untuk menyelidiki alasan di balik perampokan tersebut. Tess berhasil menemukan fakta bahwa alat pemecah kode yang dicuri merupakan kunci untuk memecahkan rahasia harta karun Templar. Harta Templar dikabarkan hilang bersama tenggelamnya The Falcons di perairan Yunani. Seperti teori konspirasi lainnya, harta Templar diduga berkaitan dengan bukti-bukti yang bertentangan dengan konsep keilahian Kristus. Tess dan Reilly(FBI yang mengusut kasus ini) terjun dalam petualangan mendebarkan dan bertaruh nyawa untuk sebuah kebenaran yang mengejutkan.
Layaknya novel-novel bermutu lainnya, buku ini memuat beberapa testimoni dari pihak ketiga. Politiken Denmark menyatakan "khoury berhasil mengalahkan Dan Brown dengan kisah parahistorisnya yang lebih mengagumkan". Bagi yang sudah membaca karya-karya Dan Brown tentu merasa penasaran seberapa dasyat kontroversi dalam buku ini. Usai membaca keseluruhan buku ini, menurutku ada sebuah perbedaan besar antara Khoury dan Brown. Khoury lebih mengutamakan jalinan cerita antar tokoh daripada membahas fakta-fakta yang melatarbelakangi cerita. Sebaliknya dengan Brown, ia mengedepankan penemuan dan sejarah melalui tokoh ciptaannya. Jika Brown sukses menggiring pembaca untuk percaya dengan apa yang ditulisnya (tak heran sebuah karyanya meledak dengan bebagai pro dan kontra) maka Khoury mengajak pembaca untuk hanyut dalam konflik yang menimpa tokoh-tokohnya. Berbagai fakta fenomenal yang disodorkan meskipun sama dengan apa yang ditulis Brown memberikan efek yang berbeda. Ditambah dengan beberapa bab yang menceritakan perjalanan ksatria Templar selama pelarian, menjadikan buku ini murni rekaan belaka. Walaupun dokumen seperti gulungan Nag Hammadi, artefak dan sejarah Templar benar adanya, bahkan pernyataan tokoh Kardinal dalam buku ini tentang kebenaran sifat manusia dari Yesus tidak mampu meyakinkan pembaca. Khoury yang dengan berani mengusik wilayah rawan dari agama besar di dunia (Katolik dan Islam) cukup berhasil dalam menulis novel parahistoris. Namun, sepertinya beberapa testimoni tersebut agak berlebihan. Meskipun pandanganku ini sedikit bias karena sedikit banyak aku lebih menyukai gaya penulisan Dan Brown yang tidak bertele-tele, Messiah Conspiracy menjadi selingan menarik di pengujung tahun ini.

Senin, 22 Desember 2008

Warisan Budaya


Dua hari terakhir, aku menghadiri resepsi pernikahan dua orang temanku. Tak kusangka, dua pasangan yang mengadakan resepsi di dua hari yang berbeda ini memiliki sebuah persamaan. Keduanya sama-sama menggunakan baju pengantin adat jawa model "basahan" ala keraton. Apakah baju kebesaran tersebut sedang menjadi tren saat ini ? Entah mengikuti tren atau tidak, penggunaan baju tersebut beserta tata caranya menjadi nilai plus tersendiri. Di zaman serba praktis sekarang, kukira jarang orang yang melakukan upacara pernikahan secara adat yang lengkap. Padahal, meskipun kelihatan ribet setiap tahap dalam upacara pernikahan secara adat menyiratkan pesan-pesan untuk kedua mempelai. Semuanya merupakan warisan budaya luhur yang perlu dilestarikan. Salut untuk kedua temanku yang berkenan mempertahankan adat Jawa di hari bahagia mereka.
Indonesia memiliki aset budaya yang luar biasa banyaknya. Berlatar belakang bermacam-macam suku, menjadikan Indonesia sumur budaya yang tak ada habisnya. Ahli-ahli sejarah budaya Indonesia pun bermunculan tidak hanya dari dalam namun juga luar negeri. Baru-baru ini, aku menyaksikan sebuah acara bertajuk Barometer. Program penelusuran milik SCTV ini mengupas tuntas peristiwa yang terjadi di Indonesia. Pada edisi terakhir di penghujung tahun 2008, Barometer membahas sebuah peristiwa memalukan yang mencoreng nama Indonesia. Pencurian dan pemalsuan sejumlah arca dari museum Radya Pustaka beberapa waktu lalu akhirnya terbongkar. Tentu saja hal ini menggegerkan banyak kalangan, apalagi ketika diketahui pencurian benda-benda purbakala ini dilakukan oleh orang dalam dan sudah terjadi berkali-kali. Kasus pencurian dan pemalsuan ini pun menyeret nama Hasyim, kolektor Indonesia yang dituduh sebagai penadah. Barometer berhasil menghadirkan sosok Hasyim untuk meminta keterangan dari pihaknya. Hasyim menyatakan kegeramannya atas pencemaran nama baiknya sebagai kolektor ternama. Dalam keterangannya, beliau menjelaskan bahwa arca-arca yang belakangan diketahui sebagai cagar budaya diperolehnya secara legal. Beliau pun menampik tuduhan bahwa ia tidak mendaftarkan koleksi miliknya sehingga ia terancam pelanggaran atas benda cagar budaya dengan denda sekitar sepuluh juta rupiah. Beliau dengan tegas mengatakan berani membeli beberapa arca dari Museum Radya Pustaka itu karena adanya dokumen-dokumen resmi yang salah satunya berasal dari keraton Surakarta ditambah jaminan dari seorang ahli budaya asia ternama asal Belanda. Namun demikian pihak keraton membantah telah mengeluarkan dokumen tersebut. Pihak keraton yang diwakili oleh GRAy Koesmurtiyah menyatakan bahwa dokumen tersebut palsu dengan menunjukkan bukti-bukti tertentu. Hasyim , adik dari capres Prabowo ini pun meradang, merasa dijadikan kambing hitam dalam peristiwa ini. Beliaupun merasa kecewa, niatnya untuk menyelamatkan warisan leluhur agar tidak keluar dari negeri ini justru menghantarkannya ke pengadilan. Donatur tetap Museum Radya Pustaka ini justru dituduh terlibat dalam pencurian dan pemalsuan benda purbakala milik museum ini. Sungguh ironis, mungkin itulah yang terbesit dalam benak pemirsa Barometer saat itu. Tanpa memihak antara kedua pihak yang berseberangan, poin penting dari peristiwa ini adalah pudarnya nasionalisme dari pelaku pencurian yang sekarang sudah tertangkap aparat. Yang menjadi pertanyaan bagaimana mungkin pelaku justru berlatar belakang pengetahuan budaya itu sendiri, apalagi menjadi salah satu pengurus museum tersebut. Bukankah semakin mengenal maka semakin dalam rasa sayang yang timbul ? Dimana kecintaan mereka akan warisan leluhur sehingga tega menjual benda-benda peninggalan yang terdaftar sebagai cagar budaya ? Kiranya uang berdiri di atas segalanya. Demi ratusan juta hingga milyaran rupiah, pelaku tanpa segan melego benda-benda tersebut padahal negara dan lembaga-lembaga masyarakat berusaha menjaga agar warisan leluhur tetap berada di tempat yang seharusnya. Sudah kewajiban kita semua untuk melestarikan nilai-nilai luhur budaya Indonesia, melindungi agar peninggalan purbakala tidak keluar dari rumahnya.
Sekedar informasi yang kudapat dari sebuah komik yang kubaca saat ini, kasus pencurian dan jual beli benda-benda bersejarah di black market acapkali terjadi. Benda-benda dari berbagai museum dicuri dan diperjualbelikan melalui black broker. Sayangnya, meskipun benda tersebut curian, pihak berwenang tidak bisa menyita untuk dikembalikan ke asal. Hal ini karena pihak pembeli adalah bonafide third party. Mereka berhak menuntut haknya atas pembelian benda-benda tersebut jika menyatakan tidak mengetahui bahwa itu adalah benda curian. Untuk mengantisipasi hal tersebut diberlakukan unidroit treaty yaitu perjanjian internasional dimana saat penerimaan barang, penerima wajib memeriksa apakah itu barang curian sehingga jika terbukti benda tersebut ilegal, maka bisa dikembalikan ke asalnya.
Menyikapi kondisi tersebut, kiranya perlu diadakan perombakan terhadap pengelolaan museum Radya Pustaka. Inventarisasi perlu dilakukan mengingat banyaknya benda-benda purbakala milik museum yang belum terdaftar secara jelas kepemilikannya. Pertikaian antara kedua belah pihak pun hendaknya diselesaikan dengan semestinya dengan tujuan yang yang sama yaitu menjaga agar warisan budaya tidak hilang dari tangan kita. Kesadaran akan pentingnya menjaga budaya agar tetap lestari perlu digalakkan di setiap kalangan. Warisan budaya adalah milik kita semua, kewajiban kitalah untuk menjaganya agar tidak pudar.

Rabu, 17 Desember 2008

Perfume The Story of Murderer


Terbujuk oleh rayuanku, akhirnya sahabatku nekat membeli sebuah buku di bookfair. Dalam hati aku bersorak girang, akhirnya aku bisa membaca gratis. Wah, dipikir-pikir licik juga aku ya ^^. Sekedar membela diri, kami berdua seringkali membagi tugas dalam membeli buku kok, jadi semua puas. Sesuai dengan rekomendasi dari adikku, ketika menyimak review dari buku Perfume The Story of Murderer seketika aku tertarik untuk membaca buku ini. Dalam buku ini Patrick Suskind mengangkat kisah seorang pembunuh berdarah dingin. Buku yang sudah difilmkan ini menceritakan perjalanan hidup Jean Baptiste Grenouille, seorang anak haram yang dianugerahi penciuman luar biasa. Grenouille yang lahir di masa kacau menjelang revolusi Prancis, nyaris tak bertahan hidup karena dibuang oleh ibunya. Tumbuh di panti asuhan, Grenouille membuat takut setiap orang dengan tingkahnya yang tertutup dan aneh. Grenouille sanggup mengidentifikasi aroma setiap benda konkrit maupun abstrak, melalui indera penciumannya ia mempelajari banyak hal. Ia bisa membedakan bau tanah, udara, kulit manusia bahkan jenis pohon berdasarkan baunya , memilah-milah seluruh bau yang ada. Anehnya tubuh Grenouille tidak menebarkan bau meski bau kecut keringat. Dengan kemampuannya ini Grenouille berhasil menjadi ahli parfum berkat bantuan dari Baldini, ahli parfum terkenal yang mempekerjakannya. Naluri pembunuh muncul ketika Grenouille mencium aroma gadis perawan yang dirasakannya sangat nyaman. Grenouille berambisi menciptakan parfum dari aroma perawan yang dibunuhnya terlebih dahulu. Terhitung ada 25 perawan yang dibunuhnya dengan diambil rambut dan kulit kepalanya. perbuatan Grenouille ini sontak membuat resah penduduk Grasse dan sekitarnya. Penyelidikan pun dilakukan sampai akhirnya Grenouille tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Pada awalnya, aku mengira buku ini akan menuturkan sebuah pencarian yang menegangkan. Usai membaca keseluruhan isi buku, sedikit banyak aku merasa kecewa. Sesuai dengan judulnya, The Story of Murderer, buku ini betul-betul menceritakan kisah si pembunuh Grenouille. Aku yang terbiasa membaca buku-buku suspense yang menegangkan tentu mengharapkan liku-liku pencarian jejak yang membutuhkan konsentrasi khusus. Meskipun demikian ada sebuah pelajaran yang bisa dipetik dari buku ini. Suskind mencoba menuangkan buah pikirannya dalam wujud Grenouille, anak haram yang tak mengenal cinta dari sesama. Grenouille yang tak berbau menciptakan sebuah parfum beraroma manusia untuk dipakai olehnya sendiri. Berkat parfume ini, Grenouille yang biasanya tak dianggap kini setiap orang akan menoleh padanya. Parfume beraroma keringat membuat Grenouille yang semula tak ada menjadi sosok nyata. Ya, pada dasarnya manusia ingin dianggap oleh sesamanya. Manusia ingin diakui keberadaannya oleh yang lain. Entah itu dalam bentuk kekaguman atau penghinaan, cukuplah jika seseorang dapat menarik perhatian sehingga mata tertuju padanya. Ambisi Grenouille menciptakan parfum terhebat dari bagian tubuh korban-korbannya pun tak lepas dari keinginan Grenouille untuk dicintai sesamanya. Kekosongan batinnya berubah menjadi keinginan untuk membalas dendam, memegang kendali atas manusia dengan parfum ciptaannya. Jika membaca buku ini, dijamin akan terbengong-bengong dengan penyelesaian ala Suskind. Sungguh akhir yang tidak terduga untuk sebuah drama pembunuhan. Walaupun rasanya mustahil sebuah aroma bisa menyebabkan sebuah tragedi, buku ini lumayan sebagai referensi untuk dibaca. Pada akhirnya semirip apa pun dengan aslinya, tiruan tetaplah tiruan. Sebuah tiruan hanya memberi kepuasan sesaat, hingga akhirnya kekosongan yang berlarut-larut akibat kekecewaan yang bertumpuk.

Minggu, 14 Desember 2008

Where is Shin ?



"Perlukah alasan ? Aku tak tahu alasan orang untuk membunuh. Tapi tak ada alasan logis untuk menolong !"





Seperti biasa, hari Minggu adalah saatnya memanjakan diri dengan menonton deretan anime terbaik di televisi. Setelah minggu kemarin absen karena ada kepentingan yang menyangkut nasib, minggu ini dengan semangat aku menantikan datangnya hari Minggu. Meskipun masih mengantuk gara-gara begadang nonton bola, aku menyeret kakiku ke depan televisi. Dimulai dengan anime spesial Inuyasha, aku pun memuaskan diri menyimak jalan cerita animasi di Hari Minggu. Mendekati pukul setengah sembilan, rasa was-was menghinggapiku. Ya, biasanya setengah sembilan berarti Detective Conan, salah satu anime favoritku. Namun minggu pagi itu jarum jam sudah mendekati pukul sembilan dan anime kesayanganku belum juga dimulai ! Kutunggu dengan sabar siapa tahu jadwal molor seperti yang sudah-sudah. Mukyaaaa.....ternyata hingga tiba saatnya anime favoritku berikutnya, serial Detective Conan tak kunjung diputar ! Lagi-lagi stasiun televisi itu memutus tayangan tanpa pemberitahuan. Jengkel bercampur sedih, aku tak sabar datangnya minggu depan, berharap hanya kali ini serial Conan absen.
Mengapa aku sebegitu mirisnya ketika harus melewatkan serial ini sekali saja ? Sejak mengenal tokoh Conan dengan membaca versi komiknya, cowok fiktif ini mempunyai tempat tersendiri dalam hatiku ^^. Detektif Conan bercerita tentang perjuangan detektif SMA Shinichi Kudo membongkar organisasi hitam yang mengecilkan tubuhnya dengan obat APTX. Menyamar menjadi Conan Edogawa, anak kelas satu SD iya menjadikan detektif amatir Kogoro Mouri terkenal dengan menyelesaikan kasus di balik layar. Lambat laun kasus yang melibatkan anggota organisasi misterius itu pun bermunculan dan selangkah demi selangkah Conan mendekati titik permasalahan. Shinichi, identitas sesungguhnya Conan betul-betul menjadi gambaran cowok ideal. Pintar, baik hati, selalu ingin tahu, gentleman, setia meski tak luput dengan kekurangan yaitu sifatnya yang tidak sabaran menjadikan sosok Shin kadang hadir dalam mimpiku ^^. Melalui Shin, yang seringnya berwujud Conan aku mendapatkan sesuatu yang berharga. Tidak hanya hal-hal umum yang menambah wawasanku, tapi juga kalimat-kalimat bijak yang terucap darinya. Hingga volume 52 sekarang terhitung ada beberapa adegan yang membuatku terharu. Salah satunya ketika Shin berkunjung ke Los Angeles dan menjumpai kasus pembunuh berantai. Di tengah rintik hujan, dengan wajahnya yang sendu namun tegas Shin melontarkan kalimat yang tidak hanya membuat sang pembunuh terpana namun juga semua yang membacanya. Yah, setiap melakukan sesuatu yang buruk beribu alasan menjadi sebuah pembenaran diri. Namun untuk menolong, rasanya tidak perlu alasan untuk melakukannya. Duh, membaca kalimat ini membuatku iri pada tokoh Ran yang berada dalam dekapan Shin ^^.
Berulang kali aku membaca serial ini dari awal, berulang kali pula aku terpesona pada tokoh Shinichi Kudo. Tak heran, aku memutuskan untuk mengoleksi seri komik lengkapnya. Berhubung aku mulai berlangganan dari volume 39, bisa dibayangkan betapa beratnya perjuanganku yang masih mengandalkan anggaran dari ortu. Hari Minggu pun menjadi hari yang kutunggu untuk bertemu dengan Shin dalam bentuk anime. Sayang, dua minggu ini aku tak bisa menyaksikan kegemilangan Shin dalam memecahkan kasus. Dan mungkin saja untuk selanjutnya serial ini berhenti tayang. Hiks...where is my Shin ?