Selasa, 24 Juni 2008

Good Bye


Bulan Juni sebentar lagi terlewati, akhirnya satu bulan penantian selesai sudah. Jumat, 21 Juni dengan harap-harap cemas aku menunggu keluarnya hasil ujian akhir. Sudah menjadi keputusan bersama bahwa kami para guru di sebuah smp swasta berjuang untuk mengantarkan anak didik terakhir kami. Terakhir ? Ya benar, tidak hanya di sekolahku, banyak sekolah swasta lain di daerahku mengalami nasib serupa yaitu kekurangan murid. Sudah lima tahun terakhir sekolahku mengalami penurunan jumlah siswa, dan setahun lalu kami bahkan tidak kebagian murid. Apa mau dikata, tahun ini kami pun hanya mendidik murid kelas tiga, itupun hanya beberapa orang saja. Semua guru di sekolahku, selalu bertanya-tanya mengapa sekolah yang dulu jaya bisa sekarat begini. Aku tak sampai hati mendengar cerita para seniorku yang dulu berjuang untuk membesarkan sekolah dan kini harus menelan pil pahit, meratapi hasil keringatnya yang terus meredup. Tak kurang-kurang kami berusaha untuk bangkit, mencoba bertahan di masa suram dengan harapan meraih emas di masa mendatang. Meski dicemooh disana-sini, kami bersatu demi sebuah nama yang sempat tersohor di masa lampau. Kini, tangis kami pun pecah saat harus mengucap kata perpisahan.
Aku merasakan betapa berat menjadi guru di sekolah swasta. Sudah menjadi rahasia umum bahwa murid-murid di sekolah swasta merupakan 'anak buangan' , sisa-sisa dari sekolah negeri. Diibaratkan ampas yang yang sudah diperas habis, itulah kualitas anak didikku. Tidak hanya otak yang kurang 'encer', perilakunya pun istimewa. Apalagi sudah tertanam di pikiran mereka asal ada uang semua bisa diselesaikan. Semakin kuingat, semakin getir kurasakan, betapa aku harus menahan emosi, bersabar walaupun dalam hati ingin memaki bahkan memukul ! Sekolah kami tidak bisa mengeluarkan begitu saja anak-anak yang kelewat batas, maklumlah semakin sedikit murid semakin kering dana yang dimiliki sekolah untuk biaya operasional yang kian mencekik. Setiap kali aku mengkikuti pertemuan guru, kadang aku merasa minder. BAyangkan saja, guru-guru lain memiliki murid yang banyak, pintar meski sedikit nakal, dan yang pasti kesejahteraan mereka lebih terjamin. BAru kali ini aku benar-benar memahami bahwa guru itu "Pahlawan tanpa tanda jasa". Setiap hari aku berangkat dengan penuh semangat, sampai di sekolah harus tarik urat syaraf dengan kelakuan murid-muridku, sore hari aku bersusah payah memberi tambahan tanpa imbalan, semua kulakukan demi mereka dan tentu saja demi sekolah. Aku selalu merasa khawatir, akankah murid-muridku mampu melewati "neraka terakhir" dengan sukses dan hasil yang baik. Berkali-kali para staff guru melecut semangat mereka, namun tak kunjung menampakkan hasil. Tetap saja mereka santai, tak peduli apakah lulus atau tidak, tak peduli berkali-kali mereka dinasehati, dipaksa dan dimarahi agar mau berjuang demi masa depan mereka sendiri.
Jumat malam, dengan jantung berdebar aku datang ke sekolah. dengan khidmat aku dan rekan guru menyimak penjelasan kepala sekolah. Akhirnya, beban kami lepas sudah. Walau separo murid tidak lulus, tetap saja itu hasil yang di luar dugaan ! Berlawanan dengan prediksiku yang sangat pesimis, hasil ini betul-betul mengejutkan. Untuk semua muridku, selamat ! Kami bersyukur, kalian mampu melewati semua melebihi harapan kami, untuk yang belum berhasil jangan putus asa masih ada kesempatan berikutnya
Sebuah awal pasti ada akhir, bukan untuk berpisah tapi memulai perjalanan baru lagi. Kuharap tidak lagi ada sekolah lain yang mengikuti jejak sekolahku. Semoga pemerintah mendengar teriakan kami komunitas sekolah swasta. Betapa tidak, setiap hari satu demi satu sekolah swasta ambruk karena kekurangan murid. Bukan karena sekolah yang tak bermutu, tapi mereka kalah bersaing dengan sekolah-sekolah negeri yang terus bermunculan di pelosok, belum lagi sekolah bernafaskan religi yang menjamur. Seandainya pemerintah dan dinas yang terkait mengawasi dengan ketat, tentu kejadian seperti ini dapat ditekan. Banyak sekolah-sekolah negeri yang menerima murid di luar batas dengan alasan keterbatasan dana. Bukankah sekolah negeri mendapat bantuan dari pemerintah ? Lain dengan swasta yang swadaya. BUkan salah si anak yang memilih pergi ke sekolah negeri yang sedikit lebih murah, dan lagi banyak teman di sana. Belum lagi kecurangan yang terjadi saat ujian penerimaan siswa baru. Beberapa sekolah bekerja sama mencari murid sehingga tidak menyisakan jatah untuk sekolah lain. Tak heran sekarang 'money politik' berperan dalam mencari murid. Semakin banyak menggandeng anak, semakin banyak fee yang didapat. Langkah pemerintah mendirikan sekolah di pelosok memang menguntungkan warga sekitar yang tidak perlu lagi bersusah payah keringat dan uang untuk bersekolah. Namun, sekolah khususnya swasta di kota yang terkena imbasnya
Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, mungkin sudah waktunya sekolahku untuk berhenti berjuang. Hanya, saat kulihat gedung megah, fasilitas lumayan yang kini harus menganggur aku merasa sayang. Harus bagaimana, apa yang harus kami lakukan agar aset ini terus berjalan, bagaimanapun sekolahku tetap berperan dalam mendidik penerus negeri ini

1 komentar:

Anthurium mengatakan...

perjuangan seorang guru memang tidak kenal lelah, aku salut pada guru yang mendidik anak-anak dengan sabar dan ikhlas...
www.didink.blogspot.com