Rabu, 03 Desember 2008

Jangan Salah Ya




Siapa bilang kalau orang menjadi bodoh kalau sering membaca komik ? Yang membuat pernyataan demikian tentunya mereka yang pengetahuan tentang komik yang terbatas. Akhir-akhir ini tema dan genre komik begitu beragam dan tak sedikit komik-komik yang memuat informasi terkini dan ilmu pengetahuan yang diramu dalam sebuah cerita fiksi memikat. Cobalah untuk membaca komik-komik karya Motohiro Katou dijamin tidak akan rugi justru sangat bermanfaat. Komik pertama buatan Motohiro Katou yang terbit secara legal di Indonesia adalah QED (Quod Erat Demonstrandum). Meskipun banyak komik bertema detektif yang telah diterbitkan oleh pemegang lisensi komik disini, QED mempunyai daya tarik tersendiri. Jika tokoh detektif selama ini digambarkan sangat cerdik dan terlibat dalam kasus-kasus rumit yang sebagian besar pembunuhan, tidak demikian halnya dengan QED. Toma, detektif SMA dalam komik ini, diceritakan sebagai anak jenius yang sering dimintai tolong jika ada masalah pelik. Kasus tidak melulu orang yang terbunuh, tapi juga masalah pencurian, kehilangan hingga masalah penipuan biasa. Ciri khusus dalam QED adalah penyelesaian masalah tanpa menyudutkan si pelaku. Dalam penjelasannya, Toma akan memaparkan analisisnya berdasarkan bukti-bukti yang ada sehingga mencapai kesimpulan tentang si pelaku. Berbeda dengan komik detektif lain yang langsung menunjuk orang yang bersalah dengan hipotesanya. Satu lagi keistimewaan QED, meskipun kasus yang diceritakan beragam sebagian besar cerita mengandung unsur matematika. Mungkin karena Motohiro-sensei menggambarkan karakteristik Toma sebagai anak jenius matematika jebolan MIT. Walhasil setelah membaca komik ini, pembaca akan mengenal teorema matematika tingkat tinggi yang dijelaskan dengan cara praktis sehingga pembaca yang bukan ahli matematika dapat sedikit memahami teori tersebut. Motohiro-sensei rupanya sudah mencapai taraf novelis bermutu dibuktikan dengan sebuah karya lainnya yaitu C.M.B. Komik ini rupanya masih berhubungan dengan komik sebelumnya ditandai dengan munculnya tokoh Shinra yang diceritakan sebagai sepupu Toma. lain halnya dengan QED yang mengumbar matematika, C.M.B memuaskan keingintahuan pembaca akan sejarah. Shinra (lagi-lagi usia anak sekolah) diceritakan sebagai pewaris tiga cincin milik tokoh besar British Museum. Menyinggung masalah museum, pastinya komik ini mengambil latar sejarah sebagai plot. Serupa dengan QED, komik ini bertema detektif amatir dengan kasus-kasus yang berpangkal dari sejarah. Komik yang hingga kini baru mencapai volume 4 ini, menjanjikan petualangan historis di seluruh dunia. Dengan membaca C.M.B, di akhir cerita pembaca akan menambah pengetahuannya mengenai suku Aztec, perbedaan antara Colosseum dan Forum Romanum, asal mula tembok ratapan di Yerusalem dan masih banyak lagi yang lainnya. Mengingat C.M.B yang terbit baru mencapai volume awal, bisa dibayangkan sejarah apalagi yang bisa diserap dengan membaca komik ini. Nah, masih ngomong kalau komik itu merusak ?

3 komentar:

MARS mengatakan...

dari sudut pandang objektif "bukan penggemar komik" sepertiku. Komik itu kayak pengaruh televisi. Ya tergantung kita milih channelnya, sama sama komik tergantung milih jenisnya..ehehe kayaknya sih

Anonim mengatakan...

ah iin, padune sing gawe CMB juga gawe QED. Naksir kan????

Anonim mengatakan...

btw sing komen aq looo....
gkwee